Figuratif
Selalu antara ombak dan langit biru
Pulau yang terlihat nampak indah
Bagai landscape yang aku ibaratkan,
Gugusan rindu yang tumbuh dan mengakar kedalam
Sebuah rasa yang tak pernah tergerus masa
Terus mengingat dan menggugah
Menelusup seru menderu rasa benci yang bersemayam paksa dihati bernyawa
Betapa gaduh ketika hati dan pikiran yang tak sejalan.
Ibarat pulau pulau kecil yang berpisah dan mematung
Meskipun bisu dalam hening penuh ketidak berdayaan
Pulau pulau itu terus berharap agar angin berkenan menyampaikan rindu
Tanpa mereka tahu bahwa angin harus melawan ombak
hingga gelombang laut untuk menghantam karang
agar kerinduan mereka yang berdetak seperti jantung
bisa menghilangkan kegelisahan
Wahai angin, berhentilah…..
Semuanya sudah tak sama
Kami bertekuk lutut melawan getir dalam sukma
Dibawah sinar matahari tropis
Pantai pasir terlihat sepi, hanya ombak dan angin yang terdengar gaduh
Aku tertatih menyusuri keindahan
Lalu membenamkan diri,
Menangkap riak gelombang laut
Begitu bodoh sepenuh jiwa
Disetiap sudut pantai,
Kutemukan serpihan rasa antara marah, penolakan, penyesalan,
Hingga akhirnya….
Angin berbisik lirih menenangkan jiwaku.
Lalu berkata sambil menampar anganku….
Hingga tersadar.
Aku hanya perlu mengingat pujaanku yang indah agar tampak tetap disampingku
Menanti, memeluk keindahan dan kebodohanku.
Duhai angin kau telah memeluk jiwaku dan menyelamatkan kewarasanku.
Hening,
Lalu
Dalam kebisuan aku merindukan keindahan.
Kembalilah aku,
sebagai pulau tropis tanpa paradoks
Tempat yang menyandarkanku seperti rumah.
Dan yang terus akan kusebut rumah.
Dimana tiap sudutnya mampu membuat kenangan baru yang hidup dan nyata
Dimana cinta tanpa syarat dan tuntutan terus tumbuh dan berkembang membentuk akar baru
Membentuk kenangan abadi terus tak terlupakan
Kita terpaut jauh dalam berbagai konteks dan frame
Ini sebuah isi dalam hanyutan.
Tags
poem