Ketika cinta tidak bersifat biasa,
tanpa tendensi maka….
Wujud kerinduan manusia akan begitu membunuh, mengancam, membelenggu serta menginspirasi khayalan penuh ilusi.
Disisi lain masa lalu akan begitu hidup seperti arwah yang gentayangan.
Namun diantara manusia itu sendiri tetap saja akan berdiri kokoh sebuah ego
Ego yang dipertahankan untuk memperkuat bahwa
pendapat dan idealis merekalah yang benar,
hal demikian akan membutuhkan sebuah validasi orang disekitarnya,
untuk menilai
Siapakah yang lebih dominant dalam sebuah hubungan.
Karena perbedaan keyakinan serta pendapat sering diperdebatkan.
Maka diantara mereka
yang mengalami masalah rindu akan semakin menjauh satu sama lain
memilih jalan yang berbeda meskipun hati mereka tidak bisa menolak.
Hal demikian
Begitu terasa mengusik pikiran yang semakin meragu.
Dan terkadang mereka yang mengalaminya akan merasakan sensasi hukum
Murphy Law
hingga akhirnya kita berpikir untuk melakukan Falklands Law.
Harusnya semua scriptnya sudah tersusun dengan baik.
Apa yang sudah digariskan Allah Subḥānahu wataʿālā
Meskipun ada cinta lain yang datang membelai menyusup pikiran.
Tentu cinta yang lama hadir itu akan berusaha keras menyulutkan api penuh gairah
Dan memaksa pelaku bersumpah untuk melanggar sumpahnya sendiri.
Begitulah manusia yang tak pernah sadar akan perannya di dunia untuk apa….
Karena sejatinya kita hanyalah pemain dari narasi Sang Sutradara kehidupan.
Ali Bin Abi Thalib,
beliau pernah mengatakan...
“Lidahmu adalah penerjemah akal dan pikiranmu"
Bahwasanya lidah hanyalah daging kecil yang lembut, namun ia mampu merusak ikatan paling kokoh dan menghancurkan hubungan yang paling kuat.
Dan tidak ada yang lebih pantas untuk dipenjarakan selain daripada lidah.
Saat lidah seseorang tenang dan ramah
maka hatinya menjadi shaleh dan bersih.
Rumi pun berkata
“THE ONLY LASTING OF BEAUTY IS THE BEAUTY OF THE HEART. BE SILENT…. ONLY THE HAND OF ALLAH CAN REMOVE THE BURDENS OF YOUR HEART”
Dan siang itu
Aku berdiri didepan cermin besar berbingkai kayu jati yang terdapat ukiran rumit berwarna coklat tua pekat, meja rustic yang diatasnya terdapat vas bunga Kristal bening dengan Anggrek Dendrobium hibrid Nobile didalamnya. Saat ini adalah kali kedua aku berdiri ditempat yang sama menggunakan baju adat pernikahan, namun dengan suasana yang lebih menerima dibanding dua tahun lalu yang dahulu aku mengenakan baju pengantin dengan perasaan carut marut dan hati yang pilu, air mata tak henti berderai mengumpat takdir hidupkan yang telah dikorbankan oleh orangtuaku sendiri sebagai jaminan pembayaran hutang organ dan nyawa atas keluarga kami berdua.
Aku pandangi wajahku saat ini dimana kebanggaan terwujudnya atas doa yang aku panjatkan, Takdir tidak pernah salah, jodoh tidak pernah tertukar. Bila itu salah, perihal itu hanya pikiran kita yang terlalu overthingking dari sebuah imajinasi yang kita ciptakan, tidak dengan narasi kehidupan yang sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz.
Dirinya hanyalah pria yang mencoba menghentikan dendam antar keluarga, berusaha begitu keras namun tak terlihat meskipun itu dalam bayangan, Dua tahun rumah ini seperti penjara bagiku, namun tampaknya aku telah salah karena rumah ini juga penjara bagi dirinya juga. Meskipun dialah seorang pengendali pikiran atas rutinitas dan adat istiadat dirumahnya sendiri. Dulu aku membencinya sangat, ingin sekali menghambil jantungnya lalu mencungkil matanya yang selalu menatapku tajam penh cela dan ras ketidak percayaan dengan apa yang aku sampaikan. Tapi sekarang kami terbakar bersama….
I close to you, burned it all
Tags
Coretan