Namaku Maurin, mengapa Maurin? Masih kata ayahku, karena ibuku menyukai mawar sehingga dia memberiku nama Maurin Bramantyo. Ibu meninggal setahun setelah aku menangis untuk dilahirkan ke dunia fana ini. Ibu mengalami kecelakaan kereta api saat bertugas ke luar
. Namanya Indira Bhaskoro. Wajah ibu cantik sekali, menurut ayah. dia mewariskan hidung mancungnya padaku serta rambutnya yang tebal dan lurus itu. Hanya saja kulit ibu sedikit gelap khas orang jawa pribumi. Ayah mewariskan keberaniannya serta kulitnya yang terang itu padaku, ayah keturunan jawa
Aku sudah merapikan semua rumah lengkap dengan memasak masakan kesukaaan ayah kare kambing yang masih sangat muda. Semalam Bu Asri membantuku untuk meracik bumbunya, dan pagi ini aku yang memasaknya dengan keringat bercucuran karena panasnya dapur. Dan siang ini juga aku harus menyetorkan skripsiku pada seorang dosen tua yang sangat pelit dengan nilai. Tapi aku membutuhkannya. Namanya Erwin, dosen nyentrik yang suka pake rambut wig karena kebotakan yang menyerangnya. Kini giliranku untuk membungkus kue tiramisu kesukaan Erwin dengan kemasan yang sangat cantik, dan semoga ini bisa membantuku untuk mendapatkan nilai A minim B+. aku kesal sekali, aku tidak pandai membungkus. Satu jam yang lalu aku menghubungi Roby, tapi sampai sekarang dia belum juga bangun. Menyebalkan!!!.tiba tiba saja ada yang mengetuk pintu rumahku dengan kasar, aku menggumam pelan seperti lebah ‘paling juga orang tidak penting!’ tapi sepertinya orang itu tidak menyerah, dia terus saja mengetuk pintu rumahku sedikit lebih keras, hingga dia keletihan dan langsung berhenti. Tapi kini aku dikagetkan dengan muka yang menyebalkan keluar dari kaca jendela dapurku, tepat didepanku berjarak setengah meter. Wajah yang tanpa dosa itu memamerkan gigi barunya yang bersih dari karang gigi.
“dooorrrrrrr!!!, sial kau sengaja rupanya membiarkan aku mati berdiri mengetuk pintu selama setahun dibawah sinar matahari yang menyengat. Buka pintunya!” dia membentakku dengan kesal dan penuh amarah, tapi aku tahu itu palsu. Dia hanya berpura pura menakutiku. Karena itu aku memasang muka manis dengan senyuman indah sambil mengeryitkan hidung saat membukakan pintu untuknya.
“aduh sudah jam berapa ini dan kau belum siap, bau lagi” hidungnya didekatkan kearah punggungku seperti mencium aroma keringat yang tidak sedap keluar dari tubuhku. Sedangkan dia sudah harum dan sangat rapi walaupun hanya mengenakan kaos dan celana jens.
“gara gara kamu, aku jadi belum mandi, bungkus ini saja aku mau mandi dulu, kalau kau mau sarapan piringnya ada di rak, kau tinggal ambil dan kare kambingnya ada diatas kompor itu, cuman belum mendidih dan matang. Tunggu lima menit lagi” aku menunjuknya pada sebuah panci diatas kompor dengan api kecil
“ahh, mandi dulu sana , gampang! Serahkan semua padaku!” Roby memukul dadanya dengan tangan mengepal mirip seperti gorila. Dan aku lari berhamburan menaiki anak tangga masuk ke kamarku. Satu jam persis aku meninggalkannya di dapur dengan beberapa pekerjaan rumah yang aku tinggalkan. Dan ketika aku turun dapurku sudah bersih dengan noda minyak, santan, dan beberapa sampah dapur yang berceceran di lantai. Ketika aku kembali menemuinya, dia sudah duduk manis diatas meja makan dengan sepiring nasi dan beberapa potongan tulang iga kambing dan dua potong daging kambing. Aku menghampirinya dari belakang dan mengacak ngacak rambutnya. Roby diam saja, padahal biasanya dia akan kesal dan marah bila aku mengacaukan dandanan rambutnya.
“enak?” nadaku sedikit pelan dengan nada pasti. Aku mendapatkan dua jempol tangannya yang penuh dengan warna kuning kunyit. Aku senang sekali dia datang membantuku meskipun dia terlambat satu jam. Tapi hasilnya cukup memuaskan aku. “kau pintar, thanks ya?” mataku menyapu semua arah dapur yang bersih dan harum bebas karat dan noda. Dan dia membungkus tiramisuku dengan pita cantik yang dia bawa dari rumah. “terimakasih juga ya Tiramisunya” Roby hanya mengangguk sibuk menikmati kare kambing. Yah dia semalam membelikan kue itu padaku, aku tidak tahu berapa harganya. Katanya si Erwin sangat suka sekali makan Tiramisu. Dulu pria itu adalah dosen pembimbingnya, hingga sedikit banyak Roby mengetahui seleranya dan membocorkannya padaku agar aku mendapatkan nilai yang bagus seperti yang dia dapatkan dua tahun yang lalu.
“jam berapa ayahmu pulang” karena mulutku penuh dengan nasi aku tidak langsung menjawabnya hingga aku benar benar menelannya dan meminum beberapa teguk air putih.
“sebelum jam makan siang aku harus sampai bandara, tapi aku takut aku terlambat menemuinya,kau tahu sendiri bagaimana Erwin!” aku berharap dia bisa membantuku untuk menjemput ayahku.
“aku saja yang menjemputnya” aku tersenyum ”bukannya itu yang kau harapkan” sahutnya kesal. Aku hanya nyengir malu karena ketahuan
“kau mengantarku ke kampuskan?” aku memastikan itu
“yahhh!”
Setengah jam kemudian kami berangkat, captiva hitam sudah menunggu kami didepan, Bu Asri berada diluar butiknya membawa beberapa bungkusan untuk seorang pelanggan, hingga sampai didepan mobil pelanggan tersebut. Aku hanya berpamitan dari dalam mobil dengan melambaikan tangan ditambah Roby membunyikan klaksonnya dengan keras hingga tanpa sadar membuat wanita itu terkejut, dan buru buru merubah gurat wajahnya yang marah itu dengan senyum saat matanya memandangku.
“bye, ma!”
“hati hati, jangan lupa jaga adikmu” teriak ibunya dari halaman rumah. Aku tahu siapa yang dia maksud siapa lagi kalau bukana ku yang dia maksud
“apa mungkin kau yang jelek ini adikku? Oh tuhan aku tidak mau punya adik sejelek dia!” aku kesal sekali padanya saat mendengarkan. Apa matanya buta tidak bisa melihat gadis cantik disebelahnya. Atau matanya sudah mengalami trachoma.
“setan!” dan dia hanya tertawa sambil menutup kaca mobilnya sambil membuang puntung rokok yang baru saja dihisapnya satu menit yang lalu”
Dia mengantarku hingga kekampus, mobilnya terparkir dihalaman luar kampus. Melepas kacamatanya yang hitam itu, yah tentu saja dia masih terlihat keren tanpa mengenakan kacamata buta itu. dan dia sangat begitu sadar dengan kelebihan pesona yang dia miliki
“aku turun dulu” suara ku terkesan datar
“yah, aku menunggumu, tapi kalau kau lama aku akan meninggalkanmu disini lalu pergi menjemput Pak Tyo. Setuju. Dan kalau aku lama, kau bisa pulang naik taxi atau numpang sama salah satu mahasiswa disini yang mau mengantarmu pulang. Eitss…tapi aku tidak yakin bila mereka mau mengantarmu…hahhaha” kedengarannya mengejek. Tapi aku tidak perduli, aku tidak pernah mendapat kesusahan tentang hal itu. aku hanya membanting pintu mobilnya, aku bersyukur kalau kacanya tidak ada yang pecah. Aku memastikan ponsel kami menyala sehingga memudahkan kami untuk berkomunikasi. Aku langsung saja menuju ke kelas yang diperintahkan Erwin padaku. Hanya ada aku dan dua orang mahasiswa yang ada dalam kelasku. Di meja depan sudah ada dua kado yang terbungkus rapi, aku tidak bisa menebak apa isinya, satu mahasiswa lagi yang masuk menyusulku, dia seorang mahasiswi yang tidak terlihat membawa sesuatu. Wajahnya manis, sedikit pendek dan terlihat centil, tapi aku terpaksa memberinya senyuman palsu ketika dia duduk disebelahku “apa bangku ini kosong?” dia bertanya dengan sopan dan aku hanya mengangguk. Aku sengaja memilih kursi depan sesuai dengan perintah Roby. Beberapa menit kemudian Pak Erwin datang membawa buku hitam besar yang terlihat seperti agenda dengan satu I-pad berwarna putih “morning class” dia menyapa kami dengan aksennya yang bersuara bass. “morning sir” kami menjawab bersamaan. Gadis yang duduk disebelahku langsung berdiri dan mendatanginya dengan membawa sebuah kotak kecil sebagai hadiah. Aku menduga itu adalah kotak yang berisikan jam tangan mewah. Wah aku mulai tidak percaya diri, mungkin benda yang aku bawa bernilai paling murah, itupun pemberian Roby. Mereka berdua berbicara sebentar hanya beberapa menit dengan diakhiri jabatan tangan yang erat ‘thanks’ itu kata yang aku dengar dari mulut Erwin. Gadis itu kembali duduk manis disebelahku. Kami mendapatkan pengarahan, hingga penyeleksian bahan skripsi, aku mendapat giliran nomer tiga itu mendekati sepuluh menit arah jarum jam Roby meninggalkan aku. aku tidak bisa berkutik untuk menjawab panggilannya Roby ataupun mencoba menguhubungi keberadaan ayahku. Ketika aku mendapatkan giliran maju, dia membiarkan aku menelan ludah beberapa kali hingga saat dia memberikan tanda titik merah di bagian bahan yang aku tulis, keringat dingin membanjiriku. Mataku hampir saja terlepas dari lubangnya saat dia membalik ke halaman berikutnya, dan dia terus saja memberiku tanda merah yang sama. ‘astaga’ teriak dalam hati. Aku sedikit frustasi dan tiba tiba saja dia menanyakan sesuatu padaku.
“apa judulnya?” suaranya terdengar ketus tanpa sorotan mata yang menatap tajam. Kepalanya tertunduk dengan kacamata yang hampir jatuh. Dia mengetukkan tangan kirinya beberapa kali hingga membuatku semakin terasa gugup
“selling up, Sir?”
“good, nice,perfect! Berapa nilai yang ingin kau dapatkan” kini matanya menyorot ke arahku seperti lampu proyektor. Aku bingung, hanya tersenyum, lidahku terkunci tidak bisa terjulur. ‘mati aku’ aku hanya menggeleng
“jadi kau tidak mau nilai? Bodoh!sekali lagi aku bilang, good ,nice,perfect! Berapa nilai yang ingin kau dapatkan?” kalimat itu diulangnya dengan suara lebih keras dan flat.
“B plus!” aku menjawab tanpa percaya diri, yah mataku sudah melihat beberapa tanda merah, jadi apa mungkin B itu pantas untuk aku dapatkan. Dia hanya mendesah sambil menutupi pekerjaanya dengan sebuah buku. Agar aku tidak melihat huruf apa yang dia berikan padaku.
“apa kau yakin pantas mendapatkan nilai tersebut?” dia kembali melihat halaman pertama, dan mengganti titik merah itu dengan coretan paraf tanda setuju ‘baiklah kau lulus, semuanya bagus, lanjutkan dengan skripsi, aku tunggu dua minggu kedepan! Kau sanggup?” aku mengangguk”aku yakin kau mampu” aku senang sekali mendengarnya, dia menjabat tanganku dengan hangat, bergegas mengemasi barangku dan meninggalkannya berdua dengan gadis manja itu. “good luck!” aku pamit ”thank you!” gadis itu menjawabku.
Astaga ternyata ada tujuh panggilan roby yang tidak terjawab, aku bergegas mengahmpiri halaman gedung, berlari sambil berharap agar dia masih menungguku, aku beruntung Erwin tidak lama menahanku. hingga aku bisa kembali beruntung karena Roby masih sabar menungguku di atas kap mobilnya yang mengkilat itu. entah berapa batang rokok yang dia habiskan. Tanpa basa basi kami langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kampus.
“maaf lama!”
“yah aku tahu, bukan masalah. Aku libur kok!”
“ponselnya aku silent!”
“yah, aku bodoh kenapa juga aku menghubungimu, bagaimana Erwin? Tapi kau termasuk cepat! Dulu dia menahanku empat jam”
“aku beruntung hanya setengah jam, dua jamnya untuk Tanya jawab saja! Semua sukses, tentu saja berkat bantuanmu!” aku mengucapkan nadanya dengan lembut dengan dibumbui ucapan senang atas bantuannya. Tapi dia justru besar kepala. Kami terus berjalan menuju kepadatan kota menuju bandara. Aku takut terlambat, aku takut ayah sudah lama menunggu, tapi semalam aku sudah memberi tahu kalau aku akan terlambat menjemputnya.
“semoga kita tidak terlambat” katanya dengan cemas. Aku sebenarnya juga cemas, tapi sudahlah, aku mencoba untuk santai, aku percaya semua akan berjalan baik, setengah jam kemudian kami sampai di parkiran bandara.
“keluarlah dulu, aku akan menyusul, aku mau mencari carport”
“baiklah”aku bergegas turun dari mobilnya
“aku akan menyusulmu di tempat biasa ya, tunggu saja disana sampai aku menemuimu?” teriaknya, dan aku menoleh ke belakang sambil mengangguk dan berlari kencang. Aku berlari dengan tidak sabar. Terus menerobos pintu masuk, hingga aku memaksakan diri untuk berjalan cepat, aku tidak ingin terlihat seperti anak kecil. Saat semua mata memandangku aku terlihat seperti orang tolol, aku takut ada penampilanku yang konyol mengundang mereka untuk memperhatikan aku, aku menoleh ke berbagai arah, kembali mengawasi pandangan yang aneh itu, beberapa orang tersenyum padaku, hingga aku merasa harus mengimbangi mereka dengan senyum. Itu membuatku haus, aku meraih kaleng soda yang aku simpan dalam tas, aku meminumnya sambil berjalan. Terus berjalan dengan kencang tanpa memelankan langkah kakiku. Tanpa sengaja aku menabarak seseorang dan menumpahkan air soda ke bajunya yang putih itu. gara gara aku tertabrak seorang ibu muda yang membawa anaknya yang sedang menangis, tanpa sadar wanita itu menabrakku hingga aku hilang keseimbangan dan hampir saja terjatuh, seorang pria bertubuh besar menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Sebagian kecil percikan air soda itu mengenai wajahku tapi sebagian besar tumpah pada bajunya, menyisakan noda lebar pada bajunya yang putih cemerlang. Kalengku lebih dulu dilantai lalu disusul I phone 4s ku yang jungkir balik dilantai.
“awasss!” dia berteriak “syukurlah!”
“emmm maaf Pak, saya tidak sengaja, maaf saya begitu terburu buru hingga…”
Pria itu tersenyum manis, dan ketika kacamata hitamnya terlepas, wajahnya lebih terlihat menarik. Aku bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa. Pak ataukah kakak. Dengan berat hati aku putuskan memanggilnya Pak. Kini dia melepaskan lenganku dengan pelan, aku merasa sedih dia melakukan itu. aku seperti tidak rela dengan kejadian ini yang terlalu usai begitu cepat.
“bukan masalah, saya juga seharusnya memperhatikan jalan” tangannya menyodorkan sebuah sapu tangan yang masih kering dalam kantong celananya untukku.
“terimakasih” tubuhku terasa lengket dengan air soda jadi aku putuskan untuk mengambilnya dan tanpa bla bla bla. Dia membimbingku duduk disebuah kursi pengunjung di ujung dinding. Aku berjalan pelan dengan bimbingannya, aku heran aku begitu saja terpesona melihat wajahnya, dia hampir mirip seperti ayah “anda WNI?” pertanyaanku terdengar bodoh. Dia mengangguk. Jam tangan yang Dia kenakan begitu keren dan sporty, iklannya sering aku lihat di majalah Cosmopolitan. Elegan sekali, aku tafsir harganya sekitar empat jutaan.
“astaga!” dia terkejut saat melihatku berteriak, hampir saja dia tersedak oleh minuman oksigennya. “emmm maaf, saya seharusnya menjemput ayah!”
“oh, yah silahkan, sekali lagi saya minta maaf nona, emm aku Irsan!”
“ah yah, Maurin!” aku menjabat tangannya yang hangat dan meninggalkannya begitu saja tanpa menoleh lagi ataupun melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Karena begitu banyaknya orang, aku tidak lagi menangkap bayangannya sejak delapan langkah aku berjalan untuk meninggalkannya. Ketika aku menghentikan langkah yang kesembilan lalu berbalik menatap kursinya, dia sudah lenyap. Begitu juga senyumku yang mendadak hilang lenyap. Aku memupus perasaan kecewaku untuk mencari ayah, aku berjalan di ruang tunggu terminal C, disana aku mengenal bayangan baru yang aku rindukan. Yah mereka sudah duduk berdua sambil mengobrol dengan akrab, melewatkan aku begutu saja, Robby menatapku sedikit kesal, sedangkan ayah berdiri dan berjalan ke arahku dengan tangan terlentang.
“ayah!” aku berteriak seperti anak kecil “apa yang kau bawa untukku!”
“spesial, untuk gadis ayah yang tercantik di dunia!”
Dua jam kemudian kami sampai di rumah, roby meninggalkan kami. Ayah nyaris saja menggendongku hingga masuk kedalam rumah, tapi karena aku berteriak, dia mengurungkan niatnya. Yah aku malu saja, ayah selalu menganggapku seperti gadis kecilnya,meskipun dia tahu umurku sudah menginjak kepala dua.
“koper baru?” mataku berbicara sebagai tanda bahwa aku menanyakan koper yang belum pernah aku lihat. “ungu!”
“yah! Bukankah itu favoritmu?” secangkir teh hangat aku berikan padanya sedikit dengan bubuk kayu manis dan irisan lemon “terimakasih sayang? Terimakasih juga kau sudah menjaga rumah ini dengan baik?”
Aku tersenyum berkata dalam hati meskipun tidak puas dengan hasil kerjaku yang tidak maximal!
“yah, ayah tahu, pasti mereka berdua membantumu! Benarkan kata ayah” aku mengangguk. Ayah benar Roby dan tante Asri pasti punya andil dengan ini semua. Ayah mengajakku ngobrol dimeja makan sambil menikmati masakan buatanku yang tidak asli. Ayah menceritakan pengalamannya di London dengan beberapa teman barunya yang biasanya hanya ngobrol lewat internet, tapi dalam acara khusus kemarin mereka mengobrol face to face. Aku memeluknya karena memang aku merindukannya dengan sangat. Ayah memberiku sebuah tas berwarna putih gading lengkap dengan blaser dan sepatu stilettos berwarna putih “cobalah”. Aku meninggalkannya sepuluh menit lalu kembali menemuinya dengan mengenakan barang pemberiannya. “cantik sekali anak ayah!” pujinya
“benarkah”
“tentu sayang, aku yakin banyak pria yang mengantri untuk mendapatkanmu!” aku malu mendengarnya.
“oh Tuhan, ayah membuatku malu”
“sayang, tolong berikan ini untuk Roby dan Ibunya, hanya souvenir kecil, semoga mereka suka”
“baik!”
Malam itu akupun mengunjungi rumah Roby dengan beberapa barang titipan ayah, kebetulan Bu Asri ada diantara karyawannya yang belum pulang, tapi sayang dia masih ada tamu. Aku menunggunya di ruang tengah ketika dia memintaku untuk menunggunya sebentar.
“dimana Roby?” tanyaku pada pegawainya
“Tuan Roby sepertinya sedang bersepeda dengan clubnya, mbak!”
“oh..!” aku mengambil juz apel yang disediakannya untukku, aku mengamati beberapa majalah batik terbaru, membalik beberapa halaman hingga aku berhenti saat menjumpai sebuah artikel remaja. Aku membaca dengan keras tapi sayang mataku tertegun disebuah paragraph pertama tanpa mau berpindah ke kalimat berikutnya. Mataku tetap menatap tapi aku tidak bisa membaca. Pikiranku menerawang. Pikiranku tidak lagi tenang. Aku mencoba mengingat beberapa wajah baru yang aku temui hari ini, hingga mantap aku kembali teringat dengan sosok wajah yang menawan.
“maaf sayang, tante membuatmu lama menunggu!” suaranya yang lembut menarikku ke alam nyata. “dia pelanggan baru yang meminta dua kodi untuk dikirim ke srilanka!”
“wah maaf kalau saya mengganggu”
“oh tentu tidak sayang”
“oh yah, ini titipan ayah hanya souvenir kecil dari London, saya tidak tahu apa isinya karena ayah sudah membungkusnya dengan rapi, sebenarnya saya mencari Roby, tapi sepertinya dia tidak ada dirumah, jadi sebaiknya saya langsung pulang saja menenmani ayah di rumah. Dan tolong berikan yang stau ini khusus untuk dia!”
“wah… duduklah sebentar, ada sesuatu untuk kalian” wanita itu meninggalkanku, aku kembali ditarik ke dunia khayalan membayangkan kejadian siang tadi ‘Irsan’
“siapa dia?” kembali mengejutkan aku.
“ah tidak, apa ini tante?”
“bukalah, yang ini sutra baru untukmu, dan yang ini kue kering keju kesukaanmu, dengan aroma durian! Aku baru membuatnya tadi sore! Masih crispy!”
“terimakasih” aku mencium kedua pipinya, lalu pergi meninggalkannya, berjalan beberapa langkah menuju teras rumah. Disana ayah sudah menungguku dan menyapa
“cepat sekali?”
“yah aku tidak ada keperluan khusus, aku hanya menyampaikan pesanmu. Oh ya ini ada kue keju kering dari Bu Asri, apa Ayah mau aku buatkan coklat panas untuk menemani obrolan kita?”
“kalau kau tidak keberatan tentunya?”
“baiklah”
Kami mengobrol dan bercerita kesana kemari, pengalaman ayah satu bulan di London sangat membuat dirinya semangat, tentunya jabatannya menjadi lebih baik menjadi seorang Vice president. Aku menuntutnya menaikkan uang belanjaku untuk keperluan dapur terutama untuk membelikanku I phone5 dan Imac. Dengan berat hati ayah menyetujui permintaanku, dengan perjanjian bahwa aku harus lulus tahun ini. Semoga dengan senyum yang aku berikan dia mengerti akan maksudku. Sebenarnya tanpa ayah minta, aku juga ingin lulus tahun ini. Ada satu cerita yang aku sembunyikan dari ayah, karena aku sendiri belum yakin soal tadi siang. Tentang orang baru yang baru juga aku temui.
Seminggu kemudian, ketika aku menjemur baju yang baru di cuci ayah, aku menemukan sapu tangan dicelana jeans milikku. Aku tidak yakin itu milik ayah, apalagi milik Roby, dia tidak pernah membawa barang seperti ini, Roby lebih suka mengusap keringatnya dengan kain yang menempel di lengan bajunya, jorok! Termenung sesaat, Roby melempar punggungku dengan sebuah gulungan handuk, lumayan mengejutkan.
“sial!”
“haha… jemur donk jangan melamun, sini aku Bantu”
“heh, kemana saja kau seminggu ini, ponselmu juga mati, bahkan ibumu menanyakanmu padaku, seperti kau ini suamiku saja?”
Tawanya terdengar nyaring menggemaskan, apa masalahnya pagi ini, beraninya dia membuatku kesal. Aku membanting timba yang aku gunakan untuk menjemur, aku meninggalkan dia duduk di teras belakang. Disana aku terdiam, lima menit kemudian dia menyusul, kali ini dia hanya menyusul tapi tidak mendekati aku. Kami terdiam lama, hingga dia pasrah dan membuka mulutnya untuk menyapaku.
“sorry Mou! Kau marah ya” nafasnya terdengar panjang, dan aku masih terdiam. Aku sendiri bingung apa yang sebenarnya aku permasalahkan, soal roby tingkahnya juga tidak terlalu menyebalkan, justru kalau dia tidak menyebalkan aku yang kebingungan. Berarti itu ada masalah buruk yang menimpanya.
“Mou…kau marah ya aku tinggal! Ayolah, aku sudah menyelesaikan pekerjaan rumahmu. Jadi kau jangan marah ya!” aku bangkit dari tempat dudukku, berjalan tiga langkah mengintip dari jauh, yah dia mengatakan yang sebenarnya. Semua jemuran bajuku sudah berbaris rapi di setiap barisan. Aku tersenyum dan itu membuat Robby lega, kini dia mendekatiku aku dan mencoba menjabarkan semuanya.
“kau tahu, sebenarnya aku tidak marah denganmu, aku sendiri bingung dengan apa yang aku pikirkan sekarang!”
“halah…soal Erwin jangan kau pikirkan, aku yakin kau lulus tahun ini, biar nanti malam aku chat, aku akan mengatakan kalau kau adikku, dan kalau perlu akan aku katakan kalau kau ini istriku! Bagaimana? Setuju!
“GILA!”
Jujur dalam hatiku bukan itu yang sedang menggangguku, aku sendiri juga yakin kalau aku akan lulus dengan baik. Pria yang aku temui dibandara itulah yang sedang aku pikirkan. Dan saputangan itu pasti miliknya yang lupa aku kembalikan. Kemana aku harus mengembalikannya. Aku hanya tau namanya saja, tidak yang lain.
Sebulan kemudian, aku bertemu dengan pria yang sama, yah benar dia Irsan, aku meminta ibunya Robby untuk menungguku di sebuah café, aku akan segera menyusulnya, tapi itu tidak aku lakukan kali ini, aku justru sibuk mencari orang yang menyerupai Irsan. Aku mencoba memburunya hingga masuk kesebuah dapur Chinese restaurant, kali ini aku gagal dan harus sabar. Aku kembali menyusul Bu Asri yang sudah satu jam aku biarkan sendirian. Alibiku sakit perut saat wanita itu menanyakan keberadaanku. Aku menyadari saat ini kalau aku tertarik padanya.
Tiga bulan berikutnya aku menjadi tempat curhatan Roby dengan mantan kekasihnya, mereka putus kemarin malam. Anehnya justru Roby merasa lega. Baru aku ketahui tentang beberapa bulan yang lalu, kalau Robby sedang bersamanya di Bali, pantas saja dia tidak mengaku. Aku marah, marah sekali kenapa dia tidak jujur.
“jadi kau bohong?” aku membuang muka dari wajahnya
“tidak, aku tidak bohong?”
“lantas apa artinya kalau kejadiannya terjadi?”
“Mou, aku hanya belum menceritakannya padamu… karena aku tidak yakin. Di bali memang kami berdua, tapi tidak seperti yang kau pikirkan?”
“apa maksudmu!” aku balik bertanya dengan suara keras
“yah tentu saja kau memikirkan kalau kami tidur satu ranjang?”
“heh…bodoh, apa perduliku kalau kalian tidur bersama, itu bukan urusanku. Aku hanya tidak suka kau menyembunyikan cerita dari aku. Kita sudah berjanji akan jujur” yah walaupun pada kalimat terakhir aku menyadari kalau aku sendiri sebenarnya merasa bersalah telah menyembunyikan satu nama dari Robby. Persetan soal itu, itu tidak ada hubungannya. Aku marah, karena dia tidak jujur padaku, aku sengaja mendiamkannya beberapa hari, hingga malam wisuda. Aku hanya ingin ditemani ayah, tidak Robby, meskipun dulu aku pernah menemaninya ketika wisuda. Aku tidak akan menuntut waktunya soal itu.
Tapi sesampainya di aula kampus, aku kembali menyakan pada ayahku tentang keberadaan Robby, bahkan aku mencoba menguhubungi rumahnya dan tidak ada yang menjawab, ponselnya juga berada diluar jangkauan. Aku malu bila aku harus menyakan pada ibunya. Sebenarnya hari ini aku sudah tidak lagi marah padanya, aku ingin sekali berfoto dengan mereka berdua.
“sayang, sebentar lagi acaranya akan dimulai, coba rapikan kembali make up-mu!” ayahku mengusap keringat yang menempel di bawah hidungku. Ayah begitu romantis, aku tidak malu pada semua mahasiswa bila mereka mengatakan aku seperti anak kecil. Aku mencari kotak make up didalam tas pesta ku, hanya berisi lipstick dan kotak bedak serta botol parfum yang berisi sepuluh mili.
“sebenarnya kali ini kalian berdua kenapa?” ayah mengejutkan aku, aku seperti orang dungu
“ahh..apa. tidak. Tidak ada apa apa?”
“tidak mungkin, apa kalian saling cemburu?”
“apa maksud ayah?”
“yah kau taulah, bagaimana muda mudi zaman sekarang, kalian sudah lama kenal, siapa tahu?”
“ah aku tidak tau maksud ayah” aku meninggalkan ayahku di depan sebuah meja coffee break. Ayah tidak mengejarku, malah dirinya sibuk mengobrol dengan wali murid yang lain. Aku mencoba mencari air putih kemasan yang disedikan disebuah sudut meja. Aku sibuk mencari Robby siapa tahu dia tiba tiba saja berubah pikiran lalu mau datang menemuiku, aku ingin dia mengatakan aku cantik
“kau cantik?” ada suara seorang pria memujiku, dan membuatku senang, aku pikir itu dia ternyata bukan
“Rob…ehh?” aku sepertinya tidak mengenalnya, ya meskipun aku tidak yakin juga.
“kau pasti lupa?” tanganya mengulur untuk menjabat tanganku. “apa kau ingat soal Erwin, dosen pembimbing kita? Kita sekelas saat itu. aku senang akhirnya kita bisa bertemu kembali” senyumnya begitu ramah menyapa, tubuhnya tegap, rambutnya hitam kecoklatan, kulitnya kuning langsat, sepatunya mengkilat, dia melepas topi toganya dan aku baru ingat siapa dia, yah wajahnya pernah aku jumpai.
“ah..ha yup, I know you?”
“thanks God! Erick”
“Maurin, senang bertemu denganmu, ahh.. yah, kau hebat tampak terlihat hebat aku nyaris tidak mengenali wajahmu” aku mencoba berkamuflase, dari keadaan yang sebenarnya adalah aku memang lupa tentangnya. Pria ini tampan sekali, kataku dalam hati, dia memberiku sebuah kotak coklat.
“kau pasti belum makan?” nadanya penuh selidik “karena lipstickmu masih mengkilat!”suaranya terdengar spontan membuat diriku canggung malam ini. Aku mengambil dua coklat yang masih terkemas rapi dengan kertas mengkilat berwarna emas. Tapi dia masih menyodorkannya kembali. Satu coklat sudah aku masukkan dalam mulut, terlumat dengan rasa nya yang cukup manis dan lekit, satu bungkus coklat sengaja aku sisakan untuk ayah.
“thanks!”
“oh ya Maurin, ambil saja semuanya, aku masih punya satu kotak kecil utuh dalam kantong bajuku, ambillah. Coklat bagus untuk mengembalikan mood. Emmm kecuali kalau kau memiliki program diet, tapi jangan khawatir coklatku lebih banyak cocoa dan free sugar! Ambillah”
“benarkah, semua?” dia mengangguk melihatku malu, aku mengamati, coklat ini bukan buatan Indonesia , ini coklat import made in swiss. Lezat sekali didalamnya ada selai kiwi yang melumer saat kita menggigit batang coklatnya. Dari kejauhan aku melihat ayahku melambaikan tangannya padaku. Erick mengamatiku, lalu dia membalikkan tubunya.
“sepertinya pria itu memanggilmu?”
“yah, dia ayahku! Baiklah Erick terimakasih atas coklatnya, sekali lagi senang sekali bisa mengenalmu!”
“yah,…begitu juga denganku. Sampaikan salamku pada ayahmu!”
“see ya!”
“follow twitter ku Erick Bryan Tenggara”
Dia terus berteriak seperti anak kecil dan ketika aku berbalik wajahnya kembali merekah. Namanya unik ‘tenggara’. Aku menghampiri ayahku, aku kembali sedih karena Robby masih belum datang, diam diam aku kembali menghubunginya
“sayang siapa pria tadi?”
“ohhh Erick, emm bryan !”
“selingkuhanmu?” ayah terdengar menggodaku,
“sejak kapan aku memiliki pacar, dan kini tiba tiba ayah mengatakan aku berselingkuh!”
“yah..yah ayah bercanda!” ayah buru buru mengkoreksi kalimatnya ketika melihat reaksi kemarahanku. Aku sedikit menjauh beberapa sentimeter, aku mengulagi speed diel nomer tigaku. Aku mencoba menghubunginya. Thanks God akhirnya nada sambung sudah terdengar, aku kesal dia tidak juga menjawab. Ayah mengamatiku tapi itu tidak membuatku risih, yah aku ingin menangis, mengapa dia melupakan kemenanganku.
“kenapa wajah ayah?” aku bertanya penuh tuntutan. “kenapa”
“apa kau mencariku?” siapa pria dari arah belakang punggungku. Aku ingin sekali menjejali mulutnya dengan coklat pemberian Erick. Sumpah aku ingin sekali melakukan itu.
“kau ini, keterlaluan…” aku tidak berani melanjutkan kalimat itu, semua menertawakan aku, yah tapi tawa mereka meruntuhkan kemerahanaku, Ibunya memelukku setelah menjabat erat tangan ayah, begitu juga Robby yang meledekku.
“aku sengaja mematikan ponselku seharian. Yah aku tahu kau pasti akan menyesal. Kau merindukanku? Itulah intinya”
“Robby!” ibunya terdengar sedikit membentaknya, aku senang ibunya mendukungku, sedangkan ayah hanya tersenyum. “selamat ya sayang, malam ini kau hebat, tante senang kau mengenakan brokat itu, kebayamu sexi, boleh tante Bantu mengenakan baju togamu?”
“tentu saja” aku segera menarik tangannya menuju ladys room. Disinilah dia membantuku, aku merasa senang, walaupun ini bukan kenyataan. Aku telah menemukan sosok ibu pada dirinya, aku senang sekali, sangat senang. Kehadiran mereka malam ini sangat membantu menyemangatiku dan menyinari malam menambah gemerlapnya hidupku. Setengah jam kemudian aku sudah duduk di deretan kursi yang tertata begitu panjang membentuk sebuah barisan. Aku menoleh ke arah kanan, mataku tertumbuk pada wajah Erick, yah diapun terlihat malu saat aku memergokinya. Aku kembali menoleh ke pandangan awal, kembali mengamati urutan absensi yang akan dipanggil dekan, jantungku berdegup kencang, tanganku berkeringat, aku merasa canggung ketika membawa saputangannya. Bayangannya seolah olah seperti nyata berdiri didepanku sembari tersenyum. Ya tuhan pengaruhnya begitu kuat. Aku hanya tersenyum. Berikutnya adalah Erick dia mahasiswa yang hebat, dia lulus dengan gemilang dengan nilai yang bisa dikatakan super, Erick menyandang gelar cumeloude. Bisik bisik mengatakan dia lulus dengan usia yang masih muda, bahkan sangat muda, ternyata dia masih berumur dua puluh dua dengan gelar dokter. Wah mengesankan, ternyata pria itu usianya lebih muda dariku. Aku ingin tahu siapa keluarganya, tapi tidak ada yang terlihat khusus mirip sepertinya atau mungkin aku yang kurang bisa telitiu mengtamati para undnagan satu persatu. Maklum saja malam ini penuh dengan lautan manusia. Kini dia berdiri diatas podium,memberikan ucapan selamat atas dukungan moral keluarganya, dari sini aku tahu bahwa nasibnya hampir sama denganku, hanya dia dan ayahnya saja, beberapa tamu undangan memberikan tepuk tangan yang cukup meriah. Terlihat dari pidatonya, kalau dia sangat memuja ayahnya. Sama sepertiku. Urutan ke tujuh belas setelah Erick aku berdiri diatas podium memberikan kesan dan pesanku untuk semuanya. Robby terlihat berdiri menepukkan telapak tangannya untuk sambutan yang meriah disusul yang lainnya tingkahnya memang sangat memalukan. Kini giliran Erick yang berdiri menyusul Robby. Aku hanya tersenyum ketika aku melihat sapu tangannya yang aku genggam. Malam ini kebahagianku terasa lengkap. Malam ini terkesan sempurna. Kini giliran Pak Erwin yang menyapaku dan memberikan kecupan hangat. Ah aku sedikit risih dengan dosen ganjen ini. Tapi sudahlah dia memberiku nilai yang cukup tinggi. Aku lulus dengan nilai bagus cukup mengesankan walaupun tidak sebagus nilai yang mereka berikan pada Erick.
Sejak malam pelulusan kami , hubunganku dengan Erick terlihat lebih dekat, terlebih aku punya teman bila Robby tidak bisa menemani aku, kini Erick bekerja disebuah rumah sakit swasta milik salah seorang menteri luar negeri Indonesia . Kini dia resmi menjadi seorang dokter yang hebat, tahun depan dirinya kembali berencana sekolah kembali untuk mencapai master di Harvard, anak sepandai dia masih merasa berkecil hati soal Harvard. Aku hanya bisa memberikan dukungan. Untuk minggu pertama kalinya Erick tidak berkunjung ke rumah,sepuluh hari yang lalu dia mengatakan akan menemui ayahnya, dia hanya tidak mengatakan dimana ayahnya tinggal. Dan hari ini aku ada janji pergi bersama Robby menonton bioskop. gilirannya mengantri membeli karcis. Aku hanya duduk manis sambil menikmati muffin yang aku beli di toko roti di lantai dua. Kami terpaksa menyembunyikannya rapi, takut kalau bodyguard bioskop melarang kami masuk saat membawa makanan dan minuman dari luar. Karena ada larangan keras melakukan hal tersebut.
“breaking down part two, D5 D6… jam tayang pertama tolong berikan aku sebungkus bubble gum” suaranya terdengar memerintah meskipun dikatakan sopan.
“ini, kalau mau minum nanti saja” perintahku “baiklah sepuluh menit lagi kita naik. Studio berapa?”
“satu!”
“masuklah dulu, tolong bawakan tas ini, berat sekali. Aku mau ke toilet sebentar sebelum antri!” dia terdengar menggerutu dan mengikutiku, ya! dia tidak pernah tega membiarkan aku berjalan sendiri bila tidak terpaksa. Tiga menit kemudian kami sudah ada dalam bioskop duduk dikursi yang sudah kami pesan. Aku heran kenapa dia tidak mengajak ke bioskop biasanya. Dia mengajakku ke bioskop yang biasa digunakan orang berkencan. Tentu saja ini tempat yang salah bagi kami, karena kami bukanlah pasangan kekasih. Tapi tidak masalah, sofanya lebih empuk, pelayannya lebih ramah plus ada bantal dan selimutnya yang tebal dan halus, sedikit campuran kain beludru. Hari ini dia tidak banyak bicara seperti biasanya, dia sedikit murung, tapi ketika aku bertanya tentang sesuatu hal, dia hanya tersenyum tanpa mengatakan satu patah katapun. Aku tidak mau larut dalam masalah ini, aku berkonsentrasi penuh menantikan setiap adegan, aku berharap lebih sering melihat Edward cullen karena memang dialah idolaku. Sosoknya begitu tenang, lembut dan romantis meskipun wajahnya tidak terlalu tampan, tapi dia berkharisma bagiku itu sudah cukup. Matanya begitu teduh. Hingga film ini berakhir, Robby masih terlihat murung. Hingga aku terpaksa bertanya padanya.
“kau ini kenapa, sakit gigi atau merana putus cinta?”
Kami duduk disebuh kedai kopi disudut jalan dekat dengan sungai yang menyewakan perahu. Kembali lagi aku mengulang pertanyaan yang sama. Dan dari tadi dia terus menerus menggandeng tanganku. Aku sudah menganggapnya sebagai orang kakak, dan aku sangat mencintainya. Aku tidak tega melihatnya murung seharian.
“kau ini kenapa, apa mau aku antar ke dokter?” aku berusaha melucu hingga terlihat idiot, aku berusaha memberinya beberapa lagu metal yang biasa dia putar bila dia lagi stress hanya untuk mengembalikan moodnya yang sering meghilang.
“By ngomong donk…ahh, bila aku berbuat kesalahan tanpa aku sadari! Please aku tidak suka kau perlakukan seperti ini, kau tahu aku menyanyangimu”
Keadaan ini membuat aku pasrah atas keputusan yang belum dia ambil. Aku masih menggenggam sapu tangannya. Aku merindukannya, aku tidak pernah bertemu sosoknya untuk ketiga kali, bahkan aku tidak yakin bisa mengembalikan sapu tangan ini padanya. Aku sadar sikapku salah, aku tidak ingin membuat Roby tersinggung, jadi aku kembali memasukkan benda ini dalam tasku.
“Mou…aku ingin berbicara serius!” wajahnya terlihat serius begitu juga dengan suaranya. Aku berhenti melucu, bahkan aku sengaja mematikan ponselku begitu juga dengan dia yang juga mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan kami. Aku pikir ada masalah serius pasti tentang dia dan Ibunya.
“yah aku siap. Katakan saja jangan terburu buru”
“Mou aku bingung harus mengatakan darimana, lidahku terasa kaku, ini..ini tidak semudah membaca Koran!” tingkahnya seperti oran g kebiingungan, semuanya serba tidak terlihat normal
“astaga, kau membuatku tidak karuan! Apa masalahmu?”
“masalahku?”
“yah.. tentu saja bodoh!” dia masih terkesan lembut saat aku mengatainya bodoh. “sumpah aku tidak percaya, wanita mana yang membuatmu terlihat tolol seperti ini. Sudah aku katakan. Carilah wanita yang pintar agar kau lebih terlihat menawan dan berdedikasi!” sengaja aku masih terlihat ketus. Dan dia hanya tersenyum. Ini tidak biasa. Tiba tiba saja dia menanyakan kabar Erick padaku. Tentu saja ini normal, meskipun aku tahu dia tidak terlalu menyukai Erick. Seperti saat Yuda mendekatiku waktu SMU. Aku memeluknya, dan dia terlihat pasrah dalam pelukanku, yah aku tahu ada beberapa mata memandangi kami, mungkin mereka mengira kami sedang berbuat mesum yang pasti aku merasa terlalu mendramatisir semuanya.
“pikiran kotor, lepaskan aku!” bisiknya
“bukankah kau yang memelukku erat?” aku hampir saja tidak bisa bernafas”kau ini kenapa. Apa sengaja ingin membunuhku!” aku membentaknya pelan dan menggigit kecil bahunya. Hingga membuat dia berteriak kesakitan
“dengar kau bukan Bella Swan, kalau kau butuh darah biar aku belikan dia bank darah” aku hanya tertawa kecil melihatnya begitu kesal sambil mengelus elus bekas gigitanku.
“sorry! Habisnya kau menggemaskan. Erick…dia baik saja, sepertinya dia sedang sibuk mencari informasi untuk mengambil gelar masternya. Seminggu yang lalu dia mengatakan padaku kalau dia akan menemui ayahnya” mendadak wajahnya berubah kesal “yah..yah…aku tau kau membencinya?” dia menyeringai sinis.
“tidak aku tidak membencinya, sok tahu!”
“mulut dan hatimu berbeda. Tapi matamu tidak pernah sanggup untuk berdusta padaku!” nadaku terdengar kesal hingga harus mengatakan yang sesungguhnya. “aku membencimu!”
“sejak kapan kalian jadian?”
“rahasia donk”
“ah sudahlah tidak usah dibahas, lupakan saja, kau kini sudah berbeda”
“katakan padaku ada masalah apa denganmu hari ini!”
“lupakan!”
Baiklah kami melupakan topic sore ini, kami bergegas pulang kerumah. Sesampainya dia mengantarku di depan rumah, Robby tidak berbicara apa apa padaku, dia memacu mobilnya dengan kencang hingga ban mobilnya berdecit seperti suara tikus yang sekarat akibat tabrakan. Aku tidak memahaminya, dan aku tidak mengerti pola pikirnya. Robby banyak perubahan, yah mungkin ada pekerjaan yang mengganggunya. Atau mungkin dia sedang merebutkan seorang wanita dengan pesaing yang cukup tangguh. Aku mencoba melupakan sejenak. Aku ingin mengingat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu di bandara, aku merindukan pemilik sapu tangan ini. Aku melayangkan pandangan dan ingatanku sejaug dan semaksimal aku bisa melukiskan wajahnya meskipun Besok aku ada psikotest di sebuah eksport import perusahaan amerika. Kata ayah tempat itu sangat bonafide. Aku mencoba menghafal beberapa istilah yang menurutku penting dan berhubungan dengan tesku besok. Dan aku mengehentikan bacaanku ketika ayah mengetuk kamarku. Ayah membawakan segela coklat dengan muffin keju yang aku beli tadi siang.
“masuklah!”
“boleh ayah masuk, apa ayah mengganggumu” ayah mengitari sudut kamarku, mengintip jalan dari balik jendela kamar, lalu memutuskan untuk duduk dimeja belajarku, sambil membuka majalah yang Robby belikan untukku kemarin.
“seminggu ini kita tidak pernah mengobrol ya sayang!”
“maafkan aku Ayah!aku sibuk mencari pekerjaan, doakan aku agar lancar mengikuti tes besok pagi!” ayah mengangguk
“topic majalah ini keren ya!” aku hanya tersenyum, aku penasaran akan topic yang dia bawa hingga dia menyempatkan masuk menemuiku dikamar “sayang boleh ayah bertanya sesuatu?”
“yah tentu!”
“ayah mohon kau berkata jujur, anggap saja ayah ini temanmu. Agar kau bisa bercerita dengan tenang”
“tentu, tanyakan sesuatu!”
“baiklah, ayah perhatikan beberapa pria yang menemui anak ayah cukup variatif”
“maksud ayah!”
“ayah rasa Robby menyukaimu!”
Aku tertawa geli” tentu saja ayah, kalau tidak mana mungkin kita bersahabat sejak lama”
“sayang maksud ayah lebih dari itu, dia menyukaimu sebagai perasaan seorang pria secara khusus pada wanita pujaannya!”
“dia memiliki pacar ayah!”
“ayah tahu, itu juga dalam pengamatan kacamata lensa ayah. Coba mengertilah sedikit. Ayah rasa dia cemburu pada Erick teman barumu itu. Oh ya apa dia juga menyukaimu?”
“siapa, oh ya dia pernah mengatakan padaku dua bulan lalu!”
“emmm apa kau menerimanya!”
“belum!”
Percakapan kami terhenti setelah aku memikirkan mereka berdua, sesuai dengan apa yang ayah ceritakan padaku, ayah menunjukkan beberapa kejadian khusus yang tidak tertangkap oleh penglihatanku. DUA PRIA ITU MEMANG MENARIK, aku lama mengenal Robby andai dia menjadi jodohku, baik buruknya dia sudah terekam kuat dalam ingatanku, dan soal Erick dia pria yang tergolong seorang romantis gayanya sensional, pintar, hanya saja belum sepenuhnya aku mengenalnya apalagi untuk jatuh hati padanya. Profesinya sebagai dokter memberikan nilai plus tersendiri. Aksen dan gayanya aku suka.terkadang terpikir olehku untuk menerima cintanya, tapi masih ada keraguan lainnya. Erick belum pernah membawaku untuk mengunjungi kediamannya, dia lebih sering datang kerumah ataupun menemuiku di sebuah mall dan restaurant.
Sebulan kemudian Erick datang kerumah ketika ayah sedang mengobrol dengan Roby, mereka bertiga terpaksa terlibat percakapan mengenai piala dunia, ayah tidak terlalu hebat soal ilmu bola, yang aku tahu dia jago dalam Film box office ketimbang olahraga, kalau Roby dia memang pecinta bola, sedangkan Erick aku baru tahu kalau dirinya juga ahli soal tersebut,meskipun awalnya aku hanya tahu kalau dia salah satu penikmat olah raga balap mobil. Kimi raikonen salah satu idolanya.pernah dua kali aku menemaninya di sebuah sirkuit liar yang diciptakan beberapa kelompok pecinta racer, aku suka saat melihat aksinya dengan kecepatan yang super, soal ini Robby kalah. Apalagi ayah.
“silahkan diminum kopinya!” aku menyapa mereka semua, dan hanya ayah saja yang tidak melihatku membawa nampan yang penuh dengan makanan dan minuman “ini kue buatan tante asri, cobalah Rick! Aku jamin lezat!”
“ohh tentu, mamamu pandai sekali memasak!” pujinya pada Robby, tapi sayangnya Robby hanya tersenyum sinis, ayah mencoba menenangkan suasana saat Robby sama sekali tidak menyentuh suguhan yang aku suguhkan.
“bagaimana Rick? Kau suka?”
“Yah, lezat!”
“tentu saja, karena lezatnya, putranya sendiri tidak sanggup berkata apa apa mengenai kelebihan cita rasa ini!” kami mencoba tersenyum lepas agar membuat hati Robby melunak. Meskipun usaha kami tidak berhasil sepenuhnya untuk membuatnya tertarik dengan percakapan ini. Malam ini, pertama kalinya kami berempat duduk dalam satu meja mengobrol dan menikmati acara televisi bersama, aku duduk disamping Erick sedangkan Ayah bersebelahan dengan Robby, matanya kini melirik tajam kearah kami, aku tidak suka dengan pandangannya yang sinis, aku merasa segala tingkahku diperhatikan dalam kondisi yang tidak sewajarnya. Hingga terpaksa aku mengajak Erick keluar mencari kebebasan menghirup udara. Kami pindah di teras depan, aku membawakan cangkir kopinya dan satu toples kacang kulit asin. Disana kami mengobrol lebih luas walaupun sesekali teriakan Robby mengejutkan kami. Tertawanya seperti dibuat buat, aku rasa Ayah paham terhadap suasana ini.
“dulu, aku pikir dia itu kakakmu? Ternyata kalian hanya sahabat! Pernah juga aku pikir dia kekasihmu, lalu aku kembali menebak kalau kalian hanyalah kakak beradik”
Kami tersenyum dan saling menatap, wajahnya begitu hangat, dia memandangku begitu dalam lalu membingkai bayanganku dengan sebuah frame yang sangat manis. Hingga aku merasa kikuk dibuatnya.
“oohh..itu, banyak yang berfikir begitu!”
“yah, aku tahu! Besok aku ingin mengajakmu kesebuah museum kesehatan? Apa kau suka!”
“tentu saja!”
“kau pernah kesana?”
“hmm belum!” aku merasa malu saat dia terus mengamatiku dengan dalam.
“aku ingin membuat denah rumah, tapi aku butuh beberapa inspirasi yang bisa menguatkan karakter bangunan rumahku kelak!meskipun aku bukan seorang arsitek aku cukup tertarik dengan sketsa semacam itu” aku tidak bisa berfikir apa hubungan antara pernyataannya barusan dengan jalan jalan besok.aku enggan menanyakannya sehingga aku hanya bisa tersenyum manis padanya. Aku memberanikan nyali unutuk menatapnya kembali, aku amati sepintas. Ternyata wajahnya memang tampan, hampir sama tampannya dengan Robby, hanya saja tubuh Erick tidak terlalu seatletis Roby. Tapi pria yang aku temui dibandara dulu sangat terlihat lebih sempuran dibandingkan mereka berdua. Aku merindukannya, aku sangat merindukannya. Aku hanya berdoa pada Tuhan agar suatu saat nanti aku dipertemukannya kembali. Dan saat kami bertemu nanti aku ingin bisa lebih lama berbincang dengannya.
“hmm…ehemehem..apa ada kalimat tidak sedap dariku?” wajahku mendadak merah karena pertanyaannya. Aku kebingungan mencari kalmat. Kuputuskan untuk sekedar menggelengkan kepala. Menutupi rasa penasarannya dengan senyum. “aku masih berbicara denganmu?”
“oh…yah, aku dengar. Bukan hal penting. Tidak tidak sama sekali tidak tentangmu”
“syukurlah, well SAYANG!” suaranya terdengar mesra ditelingaku,hingga mengejutkan tingkat kesadaranku karena aku tidak terbiasa dipanggil sayang oleh orang lain selain ayahku sendiri. Ini untuk yang pertama kalinya. Dia tersenyum saat aku menoleh dan terkejut, Erick memberi senyum manisnya yang paling manis. “aku minta izin pulang. Besok akan kujemput tepat pukul sepuluh pagi, aku harap kau tidak lupa?” dia mengatakannya dengan jelas tanpa aku perlu bertanya kembali. Erick meninggalkan aku menemui ayah dan Robby di ruang tamu, aku tidak mendengar jelas apa yang mereka bertiga bicarakan, dua menit kemudian, ayah keluar bersama Erick menemuiku diteras, lalu mereka berjabat tangan saat Erick hendak meninggalkan kami melesat bersama mobilnya saat kami berdua melambaikan tangan padanya. Ayah menatapku dengan senyum, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang aku dan Erick. Aku mengikuti ayah masuk kedalam, kami betiga kini bergabung menonton pertandingan bola yang masih berlangsung, Robby tidak seperti biasanya, dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku, padahal aku sudah duduk satu sofa dengannya. Ayah pergi meninggalkan kami, mencoba memberikan kami sedikit privasi. Dan saat ini…
“Rob, tidak biasanya nonton bola kau diam tanpa berteriak seperti orang gila! Oh ya Rob…eemmm besok aku akan pergi bersama Erick jadi kau tidak perlu sibuk seharian menenmaniku. So kamu punya kesempatan panjang untuk menambah koleksi wanitamu!” aku menyentil telinganya dengan kuku jariku. Tapi dia masih tidak beraksi. Robby hanya diam dan begitu dingin tanpa komentar dan balasan jahil. Meskipun bingung aku masih tetap menggodanya dan menjailinya lebih kasar, hingga aku menendang kakinya, menjambak rambutnya. Dia masih diam. Kini aku tidak punya pilihan lain untuk tidak menggigit bahunya keras keras. Kuhitung dalam hati’satu…dua..tiga..go!’ dan saat itu juga aku hampir bebarengan jatuh dilantai bersamanya, aku terkejut ketika melihatnya terkejut dan melancarkan aksi beladirinya.
“sial! kau ini kenapa?menganggu aku terus terusan!”
“heh…bodoh aku sedang berbicara denganmu tadi, apa kau sudah menjadi tembok!”
“kau pikir aku tuli!”
“lantas kenapa kau tidak menjawabku tolol!”
“apa matamu tidak melihat kalau aku sedang menonton televise!”
Aku diam, hari ini dia begitu kasar, aku tidak tahu. Belum pernah dia sekasar itu padaku walaupun biasanya dia juga kasar. Tapi tidak seperti itu bentuknya. Aku beharap semoga ayah tidak mendengar pertengkaran kami. Aku kesal dibuatnya, ketika aku menyadari akan segera menagis karenanya, maka aku berjalan meninggalkannya. Pergi ke kamarku tanpa mengatakan hal lain dan berlalu begitu saja. Semoga dia menyesali gaya bicaranya padaku. Sayangnya,ketika aku menunggunya memanggil namaku dia malah berbalik keluar rumah tanpa mengatakan sesuatu padaku untuk berpamitan. Dia terlalu sombong untuk meminta maaf, aku nyaris tidak mengenalinya lagi. Aku menangis seorang diri dikamar, aku mencari buku album fotoku bersamanya. Aku tidak suka sikapnya hari ini dan beberapa hari yang lalu, aku dianggap seperti orang asing. Apa begini rasanya saat persahabatan sedang diuji dengan kehadiran orang lain. Aku terus menerus membalik foto foto yang sudah kami susun beberapa tahun yang lalu, disetiap adegan foto aku kembali diingatkan imajinasiku tentang pengalaman kami berdua saat itu. semua terasa begitu dekat dan seolah olah seperti semuanya baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Aku merindukan Robby yang dulu, aku masih mengingatnya saat dia mengajariku bersepeda BMX, aku juga masih mengingat saat dia membelikan aku kue untuk Pak Erwin agar nilaiku bagus.aku masih ingat saat kami berlomba menjaili orang yang sedang mencoba merayu orang tua kami. ‘oh..Roby. kenapa kau berubah, aku sangat menyayangimu. Aku merindukan banyak hal tentang kebiasaan kita’. Aku terus menerus menangis saat mengamati koleksi album yang usang ini. Bagiku semua koleksi ini cukup berarti. Aku pergi mengintip dari balik jendela kamarku, mengawasi kamarnya yang jendelanya masih terbuka,meskipun lampunya mati, dia tidak biasa melakukan itu. dia tidak suka mematikan lampu, berarti dia tidak sedang berada di kamarnya. Dia kemana? Tapi aku melihatnya meninggalkan rumahku, kalau dia pergi jauh, kenapa aku tidak mendengar suara mobilnya!. Uhh! Aku letih memikirkannya, aku mencoba berfikir jernih. Yang penting kesalahan tidak ada padaku. Aku berfikir kalau dia sedang patah hati pada seorang wanita yang sedang ia kencani… hehhe dia biasa melakukan itu. yah aku mengakui kalau dia memang menarik untuk wanita. Bahkan ada seorang guy yang pernah mengatakan cinta padanya, dan saat dia mengatakan itu dulu. Aku tertawa terpingkal pingkal nyaris perutku terasa kram unutk beberapa detik. Rasa geli menyelimutiku tentangnya. Dia seorang kakak yang sangat aku cintai. Bagiku dia sudah seperti kakakaku sendiri walaupun kami sama sekali tidak ada pertalian darah. aku mencoba melupakan kejadian barusan. aku tidak lagi perduli soal dia, aku harap besok kami sudah berbaikan kembali. Kini aku kembali merindukan seseorang hingga dia menemaniku dalam mimpi yang begitu indah lewat pertemuan yang begitu akrab. Hanya saja dalam mimpiku dia tidak terlalu banyak bicara.
“pagi ayah!wow… nasi goreng lengkap dengan selada, telur, tomat dan ayam goreng. Semuanya membuatku terbangun dengan rasa lapar yang begitu menuntut, ayah!”
Ayah hanya tersenyum, ini semua hasil kerjanya tadi pagi, dapur kami masih terlihat kotor, kulit bawang berserakan dilantai, sebagian cangkang kulit telur ada diatas meja dapur, tergeletak seperti sampah yang berserakan. Aku menggelengkan kepala saat dia mengerucutkan bibirnya.
“baik..baiklah aku akan membersihkan nanti! Ternyata kau cerewet juga ya!”
“ayah!” suaraku terdengar lebih keras. Lalu kami saling tersenyum, yah ini hanyalah gurauan. Tapi harus aku akui aku suka masakan ayah pagi ini
“apa ayah menggunakan margarin dan oregano? Emmm apa ayah hanya menggunakan kecap saja tanpa sauce sambal?”
“yah..dan hanya memakai merica dan cabai merah agar lebih sedap…yah tentu dengan bawang putih!”
“enak! Sangat enak, terasa nyaman saat meleleh dilidahku!”
“erick jadi menjemputmu?” aku hanya mengangguk.
“sisakan untuk dua piring bila Erick dan Robby mau sarapan di meja kita!” aku mengangguk saat ayah mengatakan itu,
“thanks..Om !” entah darimana dia datang, yang jelas dia sudah duduk manis bersama dengan kami di meja makan. Ayah hanya tersenyum, begitu juga denganku yang sangat begitu terpaksa tersenyum. Ayah meninggalkan kami, sepertinya dia terlalu terburu buru unutk kek kantor. Setelah menicum kedua pipiku dan aku mencium tangannya yang sudah meulai keriput. Berjalan memutari meja hanya untuk menepuk bahu belkang Robby, aku senang karena ayah berhasil membuatnya tersedak nasi. Robby hanya melambaikan tangan kanannya, dengan berusaha menggerakkan tangan kirinya untuk menganggkat segelas air sebelum telinga dan hidungnya panas karena tersedak makanan pedas. Kini giliranku untuk meninggalkan dia sendiri.
“kau kemana, aku belum selesai sarapan?” aku senang dia sudah mulai mau berbicara denganku, walaupun dia tidak meminta maaf, karena sebenarnya dia juga termasuk tipikal orang yang sombong untuk meminta maaf tanpa ada paksaan.
“memangnya kau siapa?” aku terus berlari menaiki anak tangga menuju kamarku untuk bersiap siap. Aku tidak ingin Erick datang saat aku elum siap dengan segala hal. Apalagi ini sudah jam tujuh. Aku mendengar Robby meneriakkan sesuatu hanya saja aku tidak tahu apa yang sedang dia katakan, aku hanya menjawab ‘ya! Ya!’ berulang ulang kali. Hah..suhu kamar membuatku gerah, hingga aku terpaksa menyalakan AC untuk membuat keringatku berhenti bercucuran. Hampir dua jam, dan barulah aku siap. Aku mengenakan sandal wedges, dengan celana jeans dan kaos berwarna orange berkrah menutupi leher, sedikit aksesoris kalung panjang yang terbuat dari batu batuan kecil asli dari Kalimantan . Aku menuruni anak tangga. Dan ketika aku memeriksa dapur, wah..alangkah senangnya sudah dalam kondisi bersih dan wangi bau karbol yang begitu segar khas aroma pohon cemara. Begitu juga meja makan yang sudah rapi, hanya segelas air putih yang tertutup dan sepiring nasi goreng buatan ayah untuk Erick!. Aku mencari Robby untuk mengatakan terimakasih. Aku berhasil menemukannya di halaman depan, sibuk memasukkan bola basket dalam ringnya, dari ruang tamu aku mengawasinya dengan teliti, tersenyum kecil saat dia meleset memasukkan bola dalam ringnya.
“hei…kau sudah selesai!” suaranya terdengar datar dan tidak meninggi seperti semalam, terdengar sedikit ramah walaupun bibirnya masih mengerucut dengan bahu keatas.
“yah…oh ya. Terimakasih kau mau membersihkan dapurku sampai wangi”
“itu sudah pekerjaanku bukan!”
“yah, tentu saja, berikan bola itu, aku mau bergabung sebentar saja!” aku menarik lengannya hingga dia gagal memasukkan dalam ring. Kini giliranku berjalan memutari halaman sambil menggiring bola basket. Robby hanya berkacak pinggang, saat aku berhasil membuatnya terkesan memasukkan bola sebanyak lima kali, dia melempariku dengan sebuah donat dalam plastic putih bertaburan permen manis berbentuk sparkling berwarna warni
“ahh..thanks!” aku berhasil menangkap donat itu
“asyik…kau masih pintar! Jam berapa dia menjemputmu!”
“Erick”
“Ricky”
“Erick”
“Ricko”
“Erick bodoh…”aku kesal hingga terpaksa berteriak
“kemana kalian pergi! Boleh aku ikut!”
“menyebut namanya saja kau tidak bisa, kenapa kau harus ikut!lagipula kami akan mengunjungi museum, dan bukan untuk menonton film action sekelas Rambo, die hard ataupun lithel weapon ataupun bad boys!”
“ah…lupakan saja permintaanku!”
Percakapan kami berhenti ketika mobil Erick membunyikan klakson, lalu membuka kacanya untuk menyapa Robby. Aku mengawasi Robby yang sedang terpaksa tersenyum saat mataku memberondongnya dengan kekesalan.
“turunlah, ayo kita main beberapa putaran, sebentar saja, toh apa enaknya pagi pagi mengunjungi museum saat mereka baru saja membuka tempat tersebut, hawanya pasti terlalu pengab!” Robby berbicara dengan sedikit lebih kencang agar Erick mendengar, tapi tidak dalam kondisi marah
“turunlah!” aku mendukungnya
“well… baiklah, aku memang akan turun dari mobilku!”
Kini kami bertiga saling menyapa dan berebut bola untuk memasukkan kedalam ring. Mataku tidak pernah lepas mengawasi mereka. Hingga beberapa menit kemudian aku mundur dari arena.
“Rick…kau sudah sarapan?”
“hanya segelas teh panas!”
“mau nasi goreng, jangan khawatir rasanya enak, aku dan Robby menghabiskan dua piring?”
“aku tiga piring” sahut Robby
“baiklah kedengarannya begitu nikmat sekali, emmm kalau boleh aku makan di mobil saja kalau kau tidak keberatan!” aku mengangguk saat dia menoleh padaku. Aku segera ke dapur mencari tempat makan dengan penutupnya yang rapat, segelas orange juz dan beberapa potongan keju aku tambahkan pada nasi goreng Erick paling tidak biar terlihat sedikit spesial. Saat aku kembali menemui mereka, semua sudah selesai dan Robby membuka kap mesin milik Erick, entah apa yang mereka amati, mana mungkin mobil Erick mogok, bahkan mobilnya masih tergolong keluaran terbaru milik perusahaan jepang.
“ikutlah dengan kami Rob!” ajaknya, Robby membantuku membuka pintu mobil, akupun berusaha unutk mengajaknya, tapi dia terus menggeleng.
“hati hati membawa Maurin, kalau sampai dia lecet, kupenggal kepalamu!” Robby mengatakannya dengan serius. Erick hanya tersenyum”aku berjanji!” jawabnya sesekali menepuk bahu Robby dengan mantap
Dan sejak hari itu, hubungan kami kembali membaik, meskipun ada beberapa hal yang tidak lagi bisa kembali seperti dulu. Ada beberapa batas cerita yang aku sembunyikan dari Robby, begtu juga dengannya. Tanpa aku paksa untuk bercerita tentang sesuatu, diapun tidak akan mengatakannya dengan hati senang lagi seperti dulu. Kenyamanan tidak lagi seperti dulu. Tapi yang jelas, aku dan Erick sudah mulai dekat hingga kami merayakan hari jadi kami untuk yang pertama kali tepat di acara ulang tahunku. Erick memberiku sebuah gelang yang begitu indah walaupun tidak terlalu terlihat mahal. Berinisial M.E yang menjadi singkatan nama kami Maurin Erick. Kali ini Robby memberiku sebuah kacamata milik Lee cooper berwarna merah maroon, aku suka warna dan modelnya, bahkan aku terus mengenakannya. Ukuran lensanyapun sesuai dengan kacamataku sebelumnya. Dan tepat pada ulang tahun Robby, aku memberinya sebuah kamera yang dibelikan ayah di singapura. Sedangkan Erick memberinya sebuah IPAD terbaru berwarna hitam lengkap dengan leather case berbahan kulit sapi berwarna coklat. Aku iri sekali pada Roby, karena Erick memberinya sebuah IPAD yang menarik sedangkan saat ulang tahunku, dia hanya memberiku sebuah gelang, itupun acaranya bertepatan dengan hari jadi kami. Seharusnya aku mendapatkan dua kado sekaligus tapi tidak pada kenyataannya. Ayah tidak keberatan dengan hubunganku dan Erick, meskipun ayah belum pernah secara lugas mengatakan pada Erick untuk memintanya secara resmi melamarku. Ayah hanya mengatakan agar aku tidak terburu buru untuk menikah. Yah tentu saja, pikirku. Meskipun sudah lebih dari satu tahun aku belum pernah bisa melupakan sosok pria yang aku temui di bandara. Aku masih berharap agar Tuhan memberikan kami kesempatan untuk bertemu kembali. Yah aku selalu berdoa untuk itu. tahun ini Erick mengatakan pada ayahku kalau dirinya hendak ke Amerika untuk mengambil masternya. Tepatnya esok hari aku kan menemaninya di bandara soekarno hatta. aku akan meninggalkan Surabaya untuk beberapa hari, berlibur kejakarta untuk beberapa waktu sebelum Erick berangkat ke amerika. Erick mengajakku untuk menemui ayahnya yang duda itu. orang tuanya sudah bercerai, dan ibunya menikah dengan pria lain. Sedangkan ayahnya masih hidup seorang diri sama seperti ayahku. Aku ingin sekali bertemu dengan ayahnya, dalam bayanganku. Pria tua itu tidak jauh beda bila dibandingkan Erick. Like father like son. Sebenarnya hubungan Erick dan ayahnya tidak terlalu akrab. Maklum saja mereka baru saja hidup satu atap ketika Erick berumur lima belas tahun. Sejauh itulah yang masih dia ceritakan padaku. Selebihnya belum. Erick tidak pernah menceritakan soal ibunya. Karena setelah keluarganya bercerai, dia terpaksa tinggal bersama neneknya di Bangka belitung. Baru setelah besar dia berusaha menemui Ibunya hanya saja pertemuan yang dia harapkan tidak berjalan menarik dan membuatnya sedikit geram. Sejak itu Erick memilih untuk tinggal bersama Ayahnya di Jakarta, lalu berkuliah di Surabaya .
Sesampainya di Jakarta, aku diajak Erick mengunjungi sebuah rumah saudaranya, wanita itu sangat cantik, sayang kata Erick dia tidak memiliki anak setelah umur pernikahan dua puluh lima tahun. Karena kondisi tersebut mereka mengangkat seorang anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan milik keluarga mereka. Usia anak itu masih remaja, cantik, sedikit berkulit gelap dengan rambut berwarna hitam mengkilat, hidung mancung untuk ukuran standart hidung orang asia tenggara. Aku sempat bermain catur dan berenang bersamanya. Yah dia menarik untuk aku sapa. Gayanya yang girly mengingatkan pada aku saat usia remaja. Yah itulah yang membuatku merindukan Robby kembali dan bergegas ingin mendengar suaranya di telephone. Hari kedua aku dan Erick tinggal disebuah hotel yang tidak terlalu mahal, sengaja kami menyewa sebuah hotel berbintang tiga, aku tidak mau bila Erick harus mengeruk tabungannya untuk hal hal yang tidak penting. Kami mengelilingi kota kota yang menyajikan hiburan malam, kali ini aku memilih untuk menikmati sebuah pagelaran seni budaya di taman izmail marzuki, sepertinya ada beberapa gabungan kesenian budaya dari china. Saat aku begitu senang menikmatinya, justru Erick terlihat kurang nyaman. Sepertinya dia tidak menyukai pertunjukan ini. Dan untuk pertama kalinya aku kurang senang dengan sikapnya. Hari ini dia sedikit acuh, bahkan aku memanggilnya dua kali baru dia menoleh ke arahku. Padahal kami hanya memiliki waktu hingga delapan belas jam saja untuk bersama. Karena besok dia sudah harus meninggalkanku untuk pergi ke negeri paman Sam.
Kurang lima jam lagi aku akan melepasnya. Hari ini perlakuannya kembali membaik. Aku menemaninya ke bandara lebih awal, rencana kami adalah akan bertemu dengan ayahnya di bandara. Jantungku terasa berdegup kencang. Sangat kencang, tubuhku mengeluarkan keringat dingin,hatiku tidak cukup untuk tenang. kerongkongankupun terasa kering. Astaga aku benar benar gugup. Aku takut ayahnya tidak menyukaiku. Yah meskipun, Erick sudah menenangkan hatiku. Kami menunggunya di sebuah café yang ada dalam bandara.
“kau gugup” kedengarannya terlihat bodoh bila dia menanyakan sesuatu yang terlihat oleh matanya. Aku tidak suka ketika dia mengejekku.
“apa ini kurang jelas? Sebenarnya aku hanya takut kalau ayahmu tidak menyukaiku. Untuk selebihnya tidak sama sekali!” dia tersenyum seolah olah mengejek.
“sebenarnya aku juga bingung kenapa sampai sekarang, wajahnya tidak juga muncul padahal penerbanganku akan segera tiba. Aku sangat merindukan ayahku!” aku tersenyum “kau tahu,aku sangat menyayangi ayahku akhir akhir ini, aku baru sadar kalau dia sangat memperhatikan aku!”
“bukankah itu sudah kau lakukan sejak lama?” aku bertanya dengan nada tidak yakin
“tidak, dulu aku pernah suka lalu aku membenci profilnya yang tidak pernah hadir saat aku membutuhkannya, hanya figure nenek yang menjadi orang tua saja yang aku miliki. Tapi disaat aku remaja, ayah banyak perubahan. Rasa sayangnya ternyata begitu besar padaku. Aku tahu ketika aku mendatangi apartemennya di Swiss bersama nenek. Disana ayah masih menyimpan foto ibuku yang sudah lama bercerai dengannya. Beberapa foto yang dikoleksinya disebuah album pigora yang memajang lengkap tentang perkembanganku sejak bayi hingga aku remaja saat itu, selama ini ayah merahasiakan kasih sayangnya dariku. Ayah lebih suka membuatku benci pada awalnya. Aku diperlakukan seperti itu, karena ibuku melarangnya untuk mengunjungiku dengan ancaman. Bahwa suaminya akan menceraikannya bila ayah terus menerus mengunjungi aku. Karena itu. ayah tetap memperebutkan aku di persidangan, dengan bermacam alasan. Hingga hakim memenangkannya. Karena keputusan itulah ayah menerima hak asuh atas diriku. Tapi nenek merawatku dan ayah bekerja. Saat itu ayah sudah mencari pekerjaan di Indonesia sayangnya tidak ada yang cocok dengan penawaran yang dia ajukan. Sebagai imbalannya.” Dia terdiam lama, sesaat menyelipkan senyum manis yang mengharukan. “ayahku sangat mencintai ibuku, meskipun ternyata ibuku tidak pernah mencintainya. Bisa kubayangkan betapa sakitnya!”
“anyway, jangan kau buat susah ayahmu! Kau harus sukses”
“yah..tentu tentu akan aku lakukan, apapun yang dimintanya akan aku lakukan. Aku tidak ingin melukai hatinya. Apapun itu! pasti akan aku lakukan!”
Aku sedih mendengarnya, ternyata hubungan mereka tidak sebaik yang aku pikirkan. Aku masih beruntung, ayah sangat mencintaiku dengan kasih sayang yang luar biasa tanpa batas. Begitu juga dengan kasih sayang yang aku dapatkan dari beberapa orang yang mencintaiku tanpa ikatan darah. Aku terharu hingga menitikkan airmata. Mungkin karena aku menyayanginya, mungkin juga karena kami akan menjalani hubungan yang beda benua dengan samudra yang menghampar luas. Ayahnya tidak sempat menemui kami karena beberapa alasan penerbangan yang tertunda, aku tahu Erick kecewa. Dia sangat berharap akan kedatangan ayahnya. Hanya saja sepertinya Tuhan belum ingin mempertemukan mereka berdua. Aku sedih atas semuanya, aku tidak bisa membuatnya tertawa, Erick hanya mendekat dan memelukku erat sangat sangat erat. Aku tidak menahan emosiku yang mulai berat melepasnya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa Erick, benar kata ayah kalau aku sudah berpaling pada pria lain. ‘kau membagi cinta ayah dengan Erick, bahkan Robby sudah kau nomer duakan’ teringat kalimat ayah, aku sedikit tersenyum. Begitu tersadar, akupun semakin erat memeluknya.
“Erick!”
“ya sayang!”
“apa kau mencintaiku?”
“selalu, you have my words!”
Dengan pelan kami saling melepaskan pelukan.bibirnya yang lembut menyentuh kulit pipiku yang hangat, karena cinta. kami jadi saling menumpahkan pada sebuah ciuman yang begitu mesra dan hangat dan kami kembali saling berpelukan hingga dengan terpaksa kakinya berjalan mundur menatapku,bibirnya masih menciumku meskipun dari kejauhan, gayanya terkesan kekanak kanakan, tapi aku suka. Tangannya melambai ke arahku hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang. Aku malu melihat gayanya. Air mataku kini mongering meninggalkan senyuman manis. Kami terus menatap dari jauh tanpa berkedip, hingga dengan terpaksa kami terhadang oleh tembok pembatas. Wajah tampan itu kini menghilang dari jarak pandangku. Aku berbalik arah, berjalan sambil tersenyum mengenang semua waktu yang sudah kami habiskan. Kembali teringat saat kami bertemu pertama kali di kampus, dilanjutkan dengan pertemuan kami kedua saat acara wisuda. Dia berhasil menggoda dan menarik hatiku dari seseorang yang belum pernah aku kenal secara utuh, meskipun aku sadar pernah dan masih jatuh hati pada pria itu. hanya saja tuhan tidak pernah mempertemukan kami kembali, ayahku menghubungiku menayakan keberadaanku. Bramantyo merindukan kehadiranku sebagai seorang anak gadisnya. Aku berjanji akan datang besok dengan tiket penerbangan pagi pukul delapan. Aku kembali menyusuri beberapa terminal penerbangan. Sesampainya di hotel, aku mengemasi beberapa pakaianku, dan beberapa barang milik Erick yang tertinggal tanpa sengaja. Aku menyimpannya dalam trolly bag. Malam ini terasa sepi tanpa kehadiran Erick yang biasanya selalu melucu dan menggodaku. Aku merindukannya. Belum genap dua puluh empat jam tapi aku sudah kembali menitikkan air mata karena rindu. Kami akan mengalami hubungan jarak jauh dengan kepercayaan dan kesabaran yang luar biasa extra. Pasti tuhan akan menguji cinta kami. Dia berjanji akan kembali dan menikahiku suata saat nanti. Seuntai senyum cerah aku sematkan dalam hatiku, aku mencoba menghibur diri. Rasanya aku ingin sekali segera pulang menemui ayah bersandar pada bahunya yang selalu tangguh untuk menahan air mataku, aku merindukan Robby yang cerewet. Apa kabarnya dia. Aku lupa aku belum membelikan mereka sebuah souvenir! Ohh apa itu penting? Ini hanya Jakarta , mereka sering kemari. Aku tidak sedang di luar negeri seperti ayah jadi aku merasa tidak perlu melakukan itu.
Aku menempuh penerbangan pertama tepat pukul sembilan nanti pesawatku akan mendarat di bandara juanda. Aku sengaja tidak memberitahu ayah dan Robby, aku tidak ingin mereka menjemputku seperti biasanya. aku kembali gundah ketika menuruni anak tangga pesawat. Pikiranku kembali menerawang di suatu masa lalu yang sangat aku kenang, tidak tahu mengapa jantungku kembali berdetak saat aku mendekati sebuah ruangan yang pernah aku lalui saat dulu, tempat dimana aku bertemu pemilik sapu tangan ini. Ya tuhan pesona pria itu masih tertancap jelas di otakku, aku tidak bisa melupakannya. Sapu tangan ini seperti peghubung bagiku. Kakiku terasa berat dan tubuhku terasa lunglai. Aku takut menelan kekecewaan yang begitu pahit soal pemiliknya. Terus saja aku menggenggam benda ini. Andai…andai…andai saja. Aku tidak ingin kecewa dengan ini, aku bergegas membunuh semua fantasi dan anganku tentangnya, sebelum semua terlanjur dengan percuma. Aku mampir ke sebuah café, hanya sekedar untuk duduk santai menikmati coklat panas dengan sebuah pancake saos strowbery. Aku menyalakan mp3 berisi dengan beberapa list lagu terbaru top chart amerika. Laguku tiba tiba saja berhenti
“kau dimana sayang, ayah merindukanmu?”
“sabar…aku masih dijakarta, nanti maurin kabari bila sudah sampai di surabaya , pesawatku delay, ayah masak apa hari ini! Aku harap itu akan membuatku semakin mencintaimu, dad”
“cepatlah pulang, kau akan tahu kalau ayah sangat merindukanmu, apa sejauh ini kau belum yakin kalau ayah sangat mencintaimu sayang?”
Aku hanya tertawa lepas memalingkan pandanganku ke sebuah jendela kaca yang begitu lebar tanpa sekatan dinding. Yah aku dan ayah terkadang seperti kekasih yang saling merindukan. Tak lama kemudian Robby menghubungiku
“monyet, kau dimana?kenapa lama sekali belum sampai”
“setan, kau panggil apa aku? Dasar kingkong!” suara tawanya terdengar menggelegar setelah mendengar kalimatku yang menggambarkan kekesalan. Dan dia terlihat menyesal, padahal aku hanya berpura pura marah.
“aku minta maaf, tapi aku sangat merindukanmu. Kau tahu itu, selama ini kau tidak pernah meninggalkan aku begitu lama, tapi sekarang kau melakukannya padaku. Kau lupa!”
“ya…maafkan aku. Tapi kau tahu alasannya”
“YA YA YA YA, jangan ceritakan soal dia padaku, aku risih sekali mendengarnya. Berjanjilah kau akan segera pulung untuk aku”
“ YA YA YA YA, BYE!”
Aku meninggalkan tempat ini, cukup bagiku untuk meninggalkan kenanganku yang tidak terlalu jelas ujung pangkalnya. Walaupun masih ada harapan kecil menghantuiku. Kenagan ini membunuh karakterku. Aku berjalan menuju sebuah sebuah tempat yang diatasnya tertulis EXIT dipapan berwarna hijau. Begitu banyak kerumunan orang dari arah yang berlawanan dengan bawaan yang cukup banyak, bahkan diatara mereka tak jarang juga yang membawa trolly dengan tas yang bertumpuk. Seorang anak kecil tanpa sengaja menabrakku hingga aku terpelanting dan terjatuh di atas lantai, bokongku terasa sakit sekali, anak nakal itu hanya meringis melihatku kesakitan. Tapi dia masih baik padaku dengan mengulurkan tangan sekedar untuk membantu agar aku bisa bangun. Setelah itu gadis kecil itu memutuskan kembali meninggalkan aku. Aku membungkuk memunguti bedak,lipstick dan ponsel yang jatuh berserakan. Aku takut bila ponsel ini terinjak oleh salah satu kaki para pengunjung. Secepat mungkin aku meninggalkan tempat ini dengan sedikit rasa kesal, aku berdiri di depan halaman bandara yang banyak terparkir mobil berjajar di sepanjang jalan. aku sedang menunggu taxi yang begitu sulit aku dapatkan. Aku dan yang lain saling berebut taxi. Aku bukan tipe orang yang suka berebut jadi aku terus saja kalah. Setengah jam kemudian ada taxi yang lewat dari arah samping ada orang yang juga mengincar taxi yang sama denganku. Astaga berat bila aku harus berebut taxi dengan seorang pria yang berbadan kekar dan tinggi, mana mungkin aku bisa menang, sekali dorongan saja pasti aku terjatuh lagi. Aku hanya mencoba berlari menghampiri taxi tersebut. Berjalan begitu cepat hingga tanpa sadar sebuah cheverolet berwarna merah hampir saja menabrakku, secepat kilat pria itu menangkapku dan menarik tanganku. Aku terdesak dan terkejut hingga jatuh di atas jalan yang beraspal. Pria itu membantuku berdiri sambil melepas kacamata coklatnya. Jantungku berdetak kencang, aku tidak percaya. Satu menit kegiatan kami cukup untuk membuat orang kesal melihat tingkah kami berdua yang seperti artis sedang sibuk syuting. Tapi aku benar benar ingin pinsan,
“apa anda bisa bangun! Mari saya Bantu!”
Suaranya begitu akrab ditelingaku, dia sama sekali tidak menyadari kalau aku sangat menantikan ini semua. Aku kebingungan mencari jawaban, hanya memaksakan leherku agar mau bergerak pelan ke kanan dan ke kiri.
“anda baik saja?” suranya terdengar mengejutkan aku kembali, sopir taxi hanya mendongak dari jendela sambil berteriak , tapi aku tidak bisa menangkap suara sopir tersebut.
“maaf nona, apa anda bisa berdiri?” aku bisa mendengarnya tapi tenggorokanku seperti tersekat. Dua orang yang hampir menabrakkupun turun dari chevroletnya. Dua wajah itu tampak kebingungan. Hingga aku memutuskan untuk bangkit dengan bantuannya. Mereka tampak tersenyum melihat aku masih tersadar tanpa cacat dan goresan. Hanya mantelku saja yang kotor terkena bekas air hujan yang menggenang dan kotor juga jahitan sampingnya sedikit sobek.
“tidak…tidak apa apa, terimakasih” aku menahan rasa sakitku saat aku tersentak kaget hingga terjatuh
“kami akan membawa anda ke dokter?”
“oh tidak, tidak perlu. Saya saya baik baik saja”
“ikutlah, aku akan menemanimu” aku terkejut mendengarnya, wah ini kesempatanku untuk lebih dekat, tapi sungguh aku tidak apa apa. Jadi aku merasa tidak perlu untuk check up. Aku hanya tersenyum dan menggeleng. Bersyukur aku bukan korban tabrak lari.
“tidak, saya tidak terluka. Jadi saya pikir anda tidak perlu membawa saya kedokter” aku hanya merasa sedikit nyeri di bahu lenganku, tapi aku yakin itu bukan karena aku terjatuh, tapi karena cengkeraman tangannya yang kuat seperti cakar elang.
“baiklah nona, ini kartu identitas saya, bawalah dan ini kartu nama saya. Saya tidak ingin anda mengalami sakit sedikitpun tanpa saya ikut bertanggung jawab. Sungguh saya sangat menyesal dengan ini semua. Maafkan saya!” pria itu memohon dengan sangat. Dan wanita cantik yang ada disampingnya menjabat tanganku setelah mencari beberapa lembar uang dari dalam tas hitamnya. Aku menolak pemberian itu, aku merasa mereka tidak perlu berbuat demikian.
“terimalah” jawab wanita itu “ini hanya tanda permintaan maaf kami, dan ucapan terima kasih kami atas kebaikan anda, nama saya Lidya dan ini suami saya Argo!”
“Maurin!” jawabku singkat
“baiklah, terima saja tanda permintaan maaf mereka. Saya rasa ini wajar” aku heran, kenapa dia tidak mengenalku setelah beberapa menit yang lalu, atau dia benar benar lupa dengan aku.
“sudahlah Argo…Lidya kalian tidak perlu melakukan ini, saya akan menyimpan kartu nama anda, dan saya berjanji akan menghubungi kalian berdua bila saya merasakan rasa sakit. Saya berjanji. Apa ini bisa dianggap tanda perdamaian?”
“baiklah, terimakasih Maurin. Kami akan menunggu kabar dari anda. Kami berdua permisi. Sekali lagi kami mohon maaf”
“ya..ya terimakasih!”
Mereka berdua pergi melintasi kami, dan kini tinggal aku dan dia yang masuk ke dalam taxi yang sama dengan tujuan yang belum jelas akan kemana. Yang pasti aku hanya mencoba menebak tentang ingatannya tentangku. Apakah masih sebagus ingatanku tentangnya, ataukah dia benar benar lupa dalam arti sesungguhnya. Sopir taxi tampak bingung memperhatikan kami berdua, dia hanya memperhatikan kami dari balik kaca spion. Aku melirik sopir itu hingga dia tertunduk dan kembali berkonsentrasi ke arah jalan. aku perhatikan dia hanya duduk sedikit menjauhku beberapa inchi.
“maaf pak, tujuan kita kemana ya pak?” suaranya terdengar bingung. Kontan aku menjawabnya dan kebetulan kami mengatakan sesuatu bersamaan.
“kerumahnya!” kami saling menengok dan tersenyum lalu tertunduk malu
“baik pak, tapi kita akan ke alamat mana!”
“bagaimana kalau anda tolong antarkan kami ke sebuah café di dekat perempatan jalan yos sudarso!” dia tidak merespon dan aku anggap dia menyetujuinya. Dia hanya tersenyum melirik ke arahku. Dan sepertinya pipiku merona karena malu hingga jadi salah tingkah dengan kontan.
Sesampainya kami di sebuah café sederhana di perempatan yos sudarso, seorang pelayan menyapa dan mengantarkan kami ke sebuah meja di dekat jendela depan jalan raya. Bawaanku begitu banyak sehingga aku sedikit terganggu dengan penampilanku. Sedangkan dia hanya membawa satu tas ransel yang melekat dibalik punggungnya. Pelayan itu meninggalkan kami dengan dua buku menu untuk lunch. Aku begitu salah tingkah dan tidak bisa berbicara, sedangkan penampilannya terus menerus membuatku terpesona. Singkat kata kami saling mengobrol dan mencoba mengenal satu sama lain. Dari sinilah dia mulai mengingatku, tentang awal kejadian kami bertemu. Aku memaksa dengan sangat halus agar dia mau memberiku nomer ponselnya. Dan sepertinya dengan berat hati diapun bersedia memberi apa yang aku harapkan. Senyumnya sungguh luar biasa memikat.
“apa anda masih kuliah?”
“oh saya baru saja lulus satu tahun yang lalu, saya sudah bekerja!”
“oh pantas saja anda masih sangat terlihat muda” kedengarannya ini sangat aneh ditelingaku. Aku tidak suka dia berfikir seperti itu meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang aku. Dia begitu susah saat aku mintai keterangan sedikit pribadi. Aku jadi merasa tidak nyaman. Aku memaksakan diri untuk mendahuluinya pergi. Keihatannya seperti ironis, karena awalnya justru dialah yang mengajak pergi meninggalkan tempat ini. Aku begitu kesal, tiba tiba saja hujan mengguyurku. Aku meninggalkannya dengan senjumlah kesal yang mendalam. Sepertinya dia memanggilku dan mengejarku hanya saja aku tidak mau menghiraukan panggilan itu. sopir taxi terus membawaku pergi hingga sampai dirumah.
Sebulan sejak kejadian itu, aku terus memikirkannya. Berjuta kali aku menghindari bayanganku dan berjuta kali pula aku terus memikirkannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa melupakan dia. Aku takut pria seumur dia sudah memiliki keluarga. Tentunya dia sudah menikah dan memeiliki beberapa orang anak. Aku tidak percaya dia bisa membuatku gila. Perasaan ini aku pendam sendiri tanpa aku ceritakan pada ayah ataupun Robby. Mana mungkin juga aku membagi cerita ini pada Erick. Astaga aku juga mulai merindukan Erick,meskipun masih dalam kondisi wajar. Sebulan Erick di amerika sudah memberiku satu souvenir yang begitu indah. Setiap hari dia menyapaku lewat email ataupun lewat pesan di situs social. Beberapa foto teman barunyapun dia perkenalkan padaku lengkap dengan hoby serta kegemaran mereka. Erick mulai terbiasa hidup disana tanpa satu orangpun yang dia kenal sebelumnya. Bulan ini hubunganku dengan Robby mulai aku dekatkan kembali. Kami saling mengisi waktu berbelanja bersama hingga mencari hiburan atau bahkan kami saling mengantar jemput satu sama lain. Kami menggunakan satu mobil. Tentunya bergantian. Kecuali kalau salah satu diantara kami sedang ada acara kantor. Seperti hari ini, aku terpaksa membawa mobilku sendiri kalau Robby sedang ada lembur seperti sekarang. Sebenarnya dia memintaku untuk menunggu sebentar satu jam saja dikantornya. Tapi aku enggan, aku lebih suka meninggalkannya berlama lama dikantor. Padahal aku sendiri tidak sedang ingin pulang tepat waktu. Aku ingin sekali mencari hiburan meskipun hanya minum teh ataupun secangkir kopi. Aku merasa kesepian. Semua karyawan sudah sejak tadi pulang hanya aku dan beberapa office boy yang masih hilir mudik. Aku jenuh melihat aktifitas mereka yang hanya membersihkan lantai, membawa minuman dan memfoto copy beberapa file secara terus menerus tanpa ada kegiatan lain.. pusing sekali, memikirkan banyak hal tapi ujung ujungnya pikiranku kembali memikirkan dia. Hatiku tiba tiba saja berubah menjadi riang ketika ponselku berbunyi.
“hai kunyuk, ada apa kau menelphoneku. Pasti kau ingin dijemput ya, bukannya kau akan pulang dengan bis!”
“heh… jemput aku donk sayang! Aku lapar jadi tolong kau belikan aku kue sebentar di toko roti sebelah kantormu, jangan lupa sampaikan salamku pada pegawai mereka yang bernama Linda!”
“sial, kau pikir aku kurirmu!”
“ayolah! Tolong jemput aku ya, tenang saja aku tidak akan menyuruhmu naik ke ruanganku, aku akan siap di depan jalan dipinggir trotoar. Jadi kau tidak perlu masuk. Aku akan traktir kau makan malam, dimanapun”
“baiklah, sejujurnya aku kesepian tanpamu!” nada suaraku yang pelan ini tersambar oleh guncangan suara tawa yang begitu menusuk ke gendang telingaku. “on the way!” jawabku singkat. Kututup dan kulemparkan ponselku ke dalam tas. Aku menyambar semua barang milikku dan segera pergi menjemputnya. Tentu saja setelah membeli satu kantung muffin chocolate kesukaanya. Aku tidak mau menyampaikan salam pada Linda seperti yang dia minta. Aku hanya memperhatikan gadis itu, dia masih sangat mudah, aku hanya menaksir kalau umurnya dibawahku jauh. Mungkin dia belum berumur dua puluhan. Seperti yang pernah Robby ceritakan, gadis itu manis sekali, wajahnya begitu hangat. Pantas saja Robby sering datang kemari. Malam ini jalanan kota tampak ramai, aku tidak bisa berjalan dengan cepat karena setiap melewati perempatan selalu mendapat giliran lampu merah. Aku kesal dan kali ini juga lebih membuatku kesal, Robby terus menerus menghubungiku sedangkan jalanan menuju kantornya cukup padat dan hanya bisa merayap. Maklum saja setiap jumat malam selalu saja banyak event di setiap tempat hiburan tidak terkecuali mall yang banyak menjual barang dengan harga discount yang menggiurkan. ‘tunggu bodoh, aku pasti kesana’ aku terus menggerutu tiap dia menghubungiku. Hingga karena kesalnya aku menaikkan volume audioku dan memasukkan ponselku di dalam dashboard, agar mata dan pikiranku bisa kembali berkonsentrasi dengan lalu lintas. Satu jam sudah akhirnya aku sampai di depan kantornya, persis sesuai dugaanku kalau orang yang berdiri dibawah pohon asam itu adalah dirinya, menjinjing tas laptop dan ransel besar yang melekat dipunggungnya, kedua telinganya tertutup dengan boom handset yang disambungkan pada sebuah ponsel yang ada dikantong celana sebelah kiri. Aku mengejutkannya dengan dua kali menekan clakson mobil. Dia sama sekali tidak terkejut, tentu saja aku salah. Bagaimana dia bisa mendengar bila kedua telinganya terkunci oleh beberapa lagu yang berteriak keras di telinganya. Aku terpaksa membuka jendela mobilku lalu mengeluarkan sebagian kepalaku untuk menerobos dan melemparkan satu gumpalan tissue bekas ke arahnya. Dan saat dia terkejut aku tertawa kecil.
“lama sekali, kau sengaja menjemurku ya?”
“maaf, macet sekali tadi di jalan cokroaminoto, ini pesananmu, segeralah masuk aku lapar sekali!” dan dengan cepatnya dia memutar ke arah depan sambil membuka pintu memasukkan tas ranselnya terlebih dahulu. Kami langsung berjalan menuju sebuah bar di jalan Kartini, disanalah kami mengobrol beberapa jam, tepat di jam dua belas kami pulang kerumah. Ayah dan ibunya sudah menunggu di depan rumahnya, sempat terlintas dalam pikiran kami kalau ada sesuatu diantara kedua orang tua kami. Yah meskipun saat itu ada beberapa karyawan ibunya yang menemani kebersamaan mereka. Jujur saja aku tidak keberatan bila mereka memang ada ikatan yang spesial, tapi tidak dengan Robby. Dia kurang suka bila itu terjadi diantara mereka. Dan hari minggu pagi Robby mengajakku jogging di sekitar daerah kantor gubernur yang biasa ramai dikunjungi banyak penduduk. Karena banyak interaksi para penjual dan pembeli yang mentransaksikan banyak kebutuhan yang harganya sangat terjangkau. Tidak, tujuan kami bukan unutk menjual ataupun membeli sesuatu. Tujuan kami datang kemari, karena Roby ingin mengatakan sesuatu tentang kami. Aku biasa saja menanggapinya, tapi tidak dengan dirinya, wajahnya terlihat sedikit murung dan itu membuatku semakin penasaran. Hanya berfikir sesaat kalau ini ada hubungannya dengan apa yang kami lihat tadi malam. Aku hanya nagkat bahu bila kami berbeda pendapat dengan masalah itu. dia memintaku unutk menunggu di kursi depan air mancur beberap menit yang lalu, aku melihatnya masih mengantri membeli lontong pecel khas blitar. Aku tidak sanggup mengantri dengan banyak orang, tapi dia selalu memberi apa yang aku inginkan. Setngah jam kemudian robby sudah datang dengan membawa dua bungkus daun pisang yang berisikan lontong pecel. Dan aku sudah siap dengan dua botol air putih dan sekantung plastik teh hangat.
“baunya sedap sekali Rob?”
“kau tahu, aku benar benar cocok dengan bumbu masakannya, sedap sekali! Ini punyamu ada sayur tambahan dan beberapa potongan mentimun!” kali ini dia lembut sekali, tidak seperti biasanya. dia tidak duduk disebelahku seperti biasa, justru dia ada didepanku persis dengan mata tertunduk, seolah olah sedang menikmati menu yang cukup enak dan mahal.
“yah kau benar, sedap sekali. Rasa pedasnya serasa menendang! Ngomong ngomong apa yang ingin kau bicarakan, kenapa kita tidak berbicara saja dikamarmu ataupun dikamarku seperti biasa!” wajahnya menatap tajam dan saat aku melihatnya balik, justru dia kembali menunduk, seperti menyadari sesuatu.
“makanlah dulu, kita bicarakan setelah perut kita kenyang”
Baiklah aku bersabar. Lagipula sepertinya itu tidak terlalu penting, kalau ada hal penting pasti tidak akan dibicarakan ditempat yang seramai ini. Suaranya begitu gaduh dengan banyak suara lagu dengan sound system yang cukup besar, belum lagi suara orang yang menjadi pemandu acara lomba, ditambah lagi bunya mesin kendaraan bersaing dengan suara bel sepeda. Gaduh gaduh sekali.
“pedas sangat!”
“yah ini ukuran kita, kalau tidak pedas mana enak! Baiklah apa bisa kau mulai sekarang, ayolah. Kalau ini tentang orang tua kita, tolong berlaku adillah dirimu. Jujur aku tidak masalah bila mereka bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan, dan aku akan menjadi adik tirimu yang sangat kau cintai” aku mengatakannya dengan senang, tapi raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi kegembiraan sama sekali. “apa aku salah bicara!” sahutku mencoba menjelaskan dan bertanya dengan sedikit nada retoris. Robby terlihat batuk, dan sedikit menahan sesuatu yang tidak biasa.
“dengarkan aku. Dan tolong jangan bicara sebelum aku menyelesaikan semua kalimatku” nadanya tegas cukup untuk membuatku bergidik dan mengangguk saat dia terlihat marah.
“Maurin… jika aku boleh jujur aku bukannya tidak menyetujui hubungan kedua orang tua kita. Entah sejak kapan aku merasakan sesuatu yang berbeda dengan semua yang terjadi selama ini” sesat dia terdiam sambil sesekali menatapku dan membuang muka ke arah lain. Aku masih bingung. “ aku tahu aku mengatakan diwaktu yang salah, tapi lebih baik terlambat sebelum aku benar benar menyesali semua ini. Ini tentang kita. Aku mencoba menepis, dan melirik wanita lain agar aku tidak mencintai orang yang harus kuubah statusnya dari sahabat menjadi kekasih” dia kembali terdiam membuatku menarik alisku ke atas, aku bingung tapi aku mulai meraba raba apa tentang siapa yang dia bicarakan. “apa kau mulai mengerti?” dia menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang aku pikirkan ‘SIAPA’
“tidak” aku menggeleng dengan bingung
“apa hatimu buta!” dia menggerutuiku tapi aku pura pura tidak mendengar jelas. “dengar maurin aku tahu kau dan Erick saling mencintai?” bagaimana dia tahu bila aku mencintai Erick, padahal bukan Erick yang menjadi prioritas cintaku. “aku sangat menyesal bila aku harus merubah hubungan dan persaanku padamu”
“tolong langsung pada pointnya, siapa yang kau maksud! Aku bosan mendengar basa basimu terlalu lama” aku menanyakan dengan suara keras saat aku mendekatinya. Aku mulai khawatir ketika dia hendak mengatakan orang tersebut. Aku takut, aku belum siap meskipun sedikit banyak aku mulai merasakan gejolaknya
“aku mencintaimu sejak lama!” matanya begitu tajam menatapku , bayanganku terpenjara dalam bola retinanya. Aku tersentak kaget, tapi aku berusaha setenang mungkin dan pura pura bodoh dengan apa yang dia katakana dengan bergaya seperti orang bodoh dan tuli.
“yah…tentu saja aku tahu kau sangat mencintaiku, tentu saja sebagai adikmu. Bukan begitu?” aku mencoba menghiburnya, secara tidak langsung arti kalimatku itu adalah penolakan halus.
“dengar, aku benar benar sedang jatuh cinta padamu, hanya saja aku tidak tahu bagaimana awal mulanya penyakit asmara ini melandaku. Aku hanya ingin berterus terang, dan aku ingin mengatakannya padamu sebelum kau dan Erick benar-benar dalam ikatan pernikahan. Tapi jujur aku ingin memaksamu agar kau menerima cintaku dan meninggalkan Erick” kami lama terdiam dan saling menunduk “aku akan memberimu waktu untuk menjawab semua ini. Sebelum orang tua kita melangkah lebih jauh menempuh takdir mereka”
Oh tuhan apa yang harus aku katakan pada Robby, ini terlalu berat. Apa yang sedang menguji hubunganku dengan Erick. Apa yang sedang aku alami. Dimanakah sesungguhnya cintaku berlabuh. Terkadang aku sedikit cemburu bila Robby sedang bersama wanita lain. Tapi aku tidak mau kalau perasaan sayang yang selama ini seperti hubungan saudara berubah menjadi sebuah percintaan dengan agenda pernikahan di suatu hari. Apa yang harus aku katakan pada Robby tentang perasaan ku yang sesungguhnya kepada Erick. Benar kata ayah dulu, kalau Robby menyimpan perasaan yang khusus kepadaku lebih dari seorang saudara angkat. Aku bingung harus mengatakan apa meskipun bibirku mulai berucap tapi tenggorokanku seperti tertahan saat akan mengatakan sesuatu. aku ingin menceritakan semua yang aku rasakan. Dengan siapa yang aku sapa setiap harinya di ponsel, meskipun aku jarang menerima respon positif darinya.
“tenang, aku tidak memintamu untuk menjawab sekarang! Maafkan kesalahanku sebagai seorang kakak dan sahabat yang mulai jatuh hati pada adik dan sahabat kecilnya. Tapi sungguh ini masalah hati yang tidak bisa dibuat atau diputuskan bahkan dibinasakan begitu saja,seperti kita yang bosan membaca sebuah halaman buku yang mudah begitu saja kita robek. Kau tahu maksudku!”
“yah aku paham! Aku tidak mempermasalahkan hal itu, tapi bukan berarti aku bisa menerima ini begitu saja!”
“baik, aku sangat mengerti”
Aku berat sekali memberi tahu padanya bahwa tentu sangat jelas kalau aku tidak bisa menerima cintanya. Bukan aku tidak percaya tapi aku sudah mencintai orang lain tepatnya aku sudah membaginya pada dua orang pria. Seseorang menghubungi ponselku, rasa terkejut mulai tampak dan Robby menyadari itu, kelihatan kalau dia menyangka bahwa Erick telah menghubungiku,
“aku akan memberikan kalian waktu pribadi!” Robby mengatakan sambil meninggalkan aku pergi ke sebuah kedai jus “aku tunggu kau disana!” aku mengangguk. Seseorang yang aku rindukan telah memberiku sebuah pesan atas jawaban ‘SELAMAT PAGI’ dari pesanku dua hari yang lalu. Kesal dan menyesal ternyata hanya itu saja yang dia kirimkan padaku tanpa ada gambaran senyum dari emoticon mail. Ataupun pertanyaan umum. Aku ingin sekali menjerat lehernya. Aku tidak lagi ingin membalas pesan ini. Dia terlalu dingin,tapi aku suka bahkan hanya dia yang bisa membuatku lupa dengan Erick. Ataukah dia sedang bersama istrinya, astaga aku mengganggu suami orang. Atau dia sedang mencuri waktu untuk menghubungiku. Kalau begitu pasti dia juga mencintaiku. Atau! Emmm jangan jangan yang membalas ini adalah istrinya…astaga!! Ayah pasti akan marah besar denganku. Yang bisa aku lakukan hanyalah duduk diam termenung. Merenung…merenung dan diam. Susah sekali! Beberapa detik kemudian dia menghubungiku. Jantungku berdegup kencang, aku seperti menggigil kedinginan. Bagaimana kalau istrinya yang menelphoneku. Apakah aku harus mengangkat. Apa yang akan dia tanyakan? Apa yang akan aku katakan? Astaga Tuhan, apakah ini akan jadi malapetaka. Haduhhh aku ini kenapa…apapun itu aku harus menerima panggilan ini.yah harus!
“halo selamat pagi?”
Astaga, suaranya keren sekali ayah!aku begitu gugup ketika akan menjawab. Aku hanya bisa mengangguk seperti kambing dungu.
“halo Maurin, apa anda disana. Maaf mengganggu liburan anda!”
“oh..hei..hai..yah hari yang indah. Senang bisa mendengar suara anda!”
“terimakasih, saya sedang jogging dan sepertinya saya melihat anda persis didepan saya berjarak sepuluh meter dari tempat duduk anda, hanya saja saya tidak yakin apakah itu anda, yang saya lihat hanyalah punggung dengan warna kaos hitam berlogo JOGGER dengan celana ketat berwana fushia, kaos kaki dan sepatu berwarna putih. Apakah benar itu yang anda kenakan?”
Aduh mati aku…dimana dia, aku belum siap, aku akan terlihat jelek dengan kaos basah yang dibanjiri keringat. Ohh Tuhan…
“apakah benar itu anda”
“sepertinya begitu”
Aku mendengar suara tawa yang meneduhkan tapi sungguh itu membuatku cukup gemetaran. Aku mencoba mencari bayangan Robby,tapi tidak aku temukan. Baguslah kalau Robby tidak disini. Aku mengumpulkan semua sisa sisa energi dan aura yang aku miliki secara natural. Tidak mungkin juga aku merapikan dandananku. Terlebih tidak ada sisir,lipstick,bedak ataupun blush on. Aku pura pura tenang dengan gayaku, hanya saja jari tanganku tidak mau bekerja sama,kulit ariku terus mengeluarkan keringat dan begitu dingin, sedikit gemetar seperti orang mengidap tremor. Aku siap dari segala arah, aku membayangkan dia akan berdiri dari arah belakang lalu memukul punggungku dan mengatakan ‘HAI’ tapi bisa jadi dia menemuiku dari arah depan siap mengkonfrontasi mataku dan membunuhku dengan tatapan matanya. Entahlah! Pikiranku sangat buntu tidak ada jalan selain pasrah. Sekilas bayangan yang cepat mendarat tepat disebelahku, darahku terasa mengental dan oksigen berhenti sebelum sampai ke otak. Pembuluh darahku seperti membesar. Aku sedang berusaha membuat penampilan sempurnaku agar mendapat nilai A darinya aku menyudutkan tubuhku ke kiri tepat agar aku dan dia bisa berhadapan dengan sempurna menampilkan elemen yang kami miliki. Wajahnya yang tampan itu mengurai senyum yang sempurna disisipi dengan decakan kagum walaupun terkesan samar. Senyumnya seperti menusuk kedalam tulang membuatku meradang. Aku tidak bisa berkutik sedikitpun. Jantungku berirama disco siap untuk mengehentakkan tubuhku naik ke atas langit lalu turun dengan curam ke atas bumi.
“kini saya yakin kalau ini anda!” tangannya terulur, sihir matanya membuatku patuh dengan apa yang diperintahkan olehnya. “saya tidak menyangka bisa bertemu di tempat yang sesederhana seperti ini. Saya pikir anda hanya menyukai tempat fitness yang mewah ataupun gym yang cukup terkenal di dunia kebugaran” suaranya begitu halus, sedikit serak. Oh tidak itu bukan suara biasanya. dia sakit
“apa anda sakit? Oh ya saya suka kemari terkadang bersama ayah” aku begitu khawatir tapi enggan untuk aku tunjukkan.meskipun akhirnya aku tidak bisa berbohong. Susah untuk aku sangkal
“oh tidak saya sepertinya terkena wabah flu biasa saja, temperature minggu ini sedikit lebih rendah. Oh benarkah? Ayah anda masih sangat muda sekali. Tadi saya pikir dia adalah kekasih anda?” terlihat dari nada yang begitu khawatir apakah ini bermakna bagus?. Aku terkesan, ternyata dia memperhatikan aku juga. Berarti dia memperhatikan aku dari tadi, astaga tadi aku memeluk Robby, si jelek itu juga mencium tanganku. Astaga. Pantas saja dia menyindirku
“oh dia bukan ayah saya, dia sahabat saya lebih tepatnya dia kakak saya!”
Dia tersenyum, sepertinya tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Robby sialan! Aku mendesis. Aku harap tidak seekor semutpun mendengar desisku.
“sungguh dia hanya sahabat!”
“nona…saya tidak mempermasalahkan itu, baiklah senang bisa bertemu deggan anda, sampaikan salam saya pada teman anda tadi!” melihat dia akan meninggalkan aku, spontan aku menarik tangannya. Kami saling terkejut, terlebih aku. Bagaimana mungkin aku begitu agresif. Dia hanya tersenyum lalu kembali duduk dengan teratur.
“maaf, saya hanya ingin mengobrol!”
“iya”
“emmm, saya bingung bagaimana cara memanggil anda, dan tolong panggil nama saya saja” sambil tersenyum aku mencoba mengamati senyum manisnya yang luar biasa.
“panggil saya Irsan saja, anda masih ingat bukan?” ahhh aku susah kalau hanya menyebutkan nama, dia terlalu tua untuk sekedar aku panggil namanya. “santai saja!” sahutnya, seolah olah dia mendengar apa yang sedang aku perdebatkan dalam hati. “maaf Maurin, saya baru sempat menjawab pesan anda sejak dua hari yang lalu, saya sedang ada evaluasi karya ilmiah. Lain waktu akan saya sempatkan untuk langsung menjawab panggilan ataupun pesan anda. Emm…Maurin”
“oh…terimakasih” kebahagiaan menghujani hatiku dan memulihkanku dari rasa gundah yang baru saja menyerang.
“kalau ada waktu, saya ingin mengajak anda makan siang. Tentu saja kalau semuanya tidak mengganggu rutinitas Maurin?”
“kapan!” aku terlalu semangat hingga mengejutkan. Dadaku seperti semburan kembang api dengan cahaya warna warni.
“waktu tempat dan menu serta selera saya serahkan pada anda, saya berjanji akan menepatinya” tanpa sengaja matanya melirik ke arah kantung celanaku. Aku tidak tahu apa yang dia perhatikan. Aku tidak sedang penasaran dan terburu buru untuk memalingkan mataku darinya. Bagiku tidak ada yang penting untuk aku amati selain menatap wajahnya dalam dalam. “apa anda bersedia mengatur semuanya!” kembali kini aku yang terkejut.
“yah akan saya hubungi anda besok!”
“baiklah kalau begitu, sampai ketemu besok” kami berdiri bersamaan, kakinya melangkah meninggalkan bayanganku.
Ingin sekali pagi ini aku menceritakan semuanya pada ayah, tapi ayah sedang menemani ibunya Robby ke suatu tempat, Robby sendiri sibuk melatih taekwondo di markasnya. Karena kesendirian ini, membuatku semakin liar memikirkan Irsan, bayangannya seperti menyatu disepanjang cermin ataupun lantai dan air yang memantul. Aku merasa malu, geli, dan begitu senang. Tapi lama lama aku kembali memikirkan apa status yang sesungguhnya telah dia sandang. Apakah dia seorang suami, apakah dia pria lajang yang menua. Ataukah dia seorang duda? Lantas berapa anaknya!. Aku takut aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Kalau dia pria beristri mengapa dia mengajakku makan siang dengan begitu berani. Tapi….ahh sudahlah kan kita tidak berselingkuh. Kami hanya teman baru. Yah teman!!
Begitu sampai dikantor pagi ini, aku mengirimkan pesan padanya. Dan tidak sampai satu menit ada pesan balasan.
Pagi Irsan,
Siang ini apa kita bisa makan siang bersama?
Pagi juga Maurin,
Tentu saja saya bisa, saya sedang tidak ada kegiatan. Dimana kita bisa bertemu.tolong segera beritahu saya
Irsan, apa anda suka ketenangan atau ketempat yang sedikit riuh, saya punya dua tempat dengan suasana dan interior yang berlawanan. Café jendela atau Bentar restaurant
Dua duanya saya suka, dimana kantor Maurin. Saya akan menjemputmu, atau kita bertemu saja di reastaurant. Bagaimana kalo Bentar
Bentar bagus, saya suka. Tapi kalau anda bersedia ke Jendela café. Tentunya saya bisa berjalan kaki dari kantor saya. Tapi semua terserah anda, mungkin Bentar lebih cocok dengan suasana hatimu saat ini.
Baiklah, saya akan menunggu anda di jendela café. Sampai bertemu tepat jam 12.00 wib
Sejak pesan terakhirnya aku sudah tidak sabar menunggu jarum jam berputar. Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Beruntung hari ini tidak ada yang banyak aku kerjakan secara deadline. Dan beruntung tidak ada email masuk yang membawa masalah pekerjaan begitu berat. Aku merapikan bajuku, yang memang sengaja sudah aku pilih untuk menemuinya. Aku mengenakan baju berbahan sutra dengan potongan leher V, dengan lutut tertutup rok, highills tujuh sentimeter membuatku lebih percaya diri dengan bentuk tubuhku yang tidak tinggi. Tepat pukul dua belas siang, aku berjalan keluar kantor menuju ke Jendela yang hanya butuh waktu tujuh menit. Restaurant ini sudah penuh dengan para tamu. Aku harus mengamati setiap meja satu per satu, memaximalkan jarak pandangku hingga aku menemukan subyek dan obyek yang aku cari.
“selamat siang, anda cepat sekali sampai, padahal disini begitu macet bila membawa kendaraan roda empat anda akan mengalami kesulitan”
“silahkan duduk, satu jam setelah obrolan kita berakhir, saya langsung meluncur kemari. Silahkan anda memesan menu, maaf saya sudah terlebih dahulu memesan makan siang”
Aku hanya tersenyum dan mengamati daftar menu. Aku memutuskan untuk memesan satu steak ayam dengan saus jamur dan segelas jus strawberry. Pelayan itu sibuk mencatat menuku, dan satunya sibuk mengantar makanan milik Irsan, satu keranjang roti welcome bread baru diantar mereka dengan dua gelas air putih dan beberapa slice butter.
“kita memesan menu yang sama!”
“benarkah?”
“hanya saja saya memesan kelapa muda sebagai minumannya!”
Kami mengobrol dari awal pertemuan hingga semua kejadian yang kami alami. Aku baru tahu kalau dia adalah seorang duda dan memiliki seorang anak laki laki. Sayangnya untuk sementara waktu mereka terpisah, karena sang anak sedang bersekolah di amerika. Mendadak hatiku mulai lebih bebas untuk mendekatinya, aku berharap semoga dia benar dengan apa yang dia katakan. Tapi aku yakin kalau semua itu benar. Meskipun aku baru mengenal sosoknya. Irsan sepertinya ramah, hanya saja dia sedikit pemalu, entah ini hanya reaksi awalnya saja atau mungkin dia tidak ingin kehilangan kharisamanya saat bersamaku. Acara pertama kami siang ini bisa dibilang sukses. Aku mencoba mengajaknya di acara berikutnya meskipun ini belum final. Karena dia hanya mengangguk dan tersenyum dia mengantarkan aku ke kantor dengan berjalan kaki, mobilnya diparkir di belakang gedung mall yang ada dibelakang restaurant, tentu saja kalau kami menggunakan mobilnya pasti akan memakan waktu lama untuk mencari jalan alternative. Singkat waktu hanya berjalan kaki. Aku senang sekali dia mau mengantarku. Aku semakin menyukainya. Aku nyaris selalu melupakan Erick bila bersamanya, bahkan hari ini aku tidak menjawab panggilan Erick seperti biasanya, pesan dan emailpun belum sempat aku jawab meskipun aku tidak sibuk dengan pekerjaan di kantor. Aku hanya memiliki kesibukan baru untuk mendesain jelas dalam bayanganku dengan sosok yang bernama Irsan. Aku terpesona pada kharismanya sejak pertama kali aku melihatnya. Aku harus terus meyakinkan pilihanku, aku mencoba menyelesaikan permasalahan ini stau persatu dan sebagai tahap awal, aku mencoba menjawab perasaan Robby beberapa waktu yang lalu, aku sengaja mendatangi rumahnya dan langsung menemuinya yang sedang sibuk dengan siswanya. Awalnya terasa berat untuk aku ungkapkan karena aku sangat mencintainya sebagai kakak tidak sebagai kekasih untuk mengarungi samudra kehidupan. Semua terasa aneh seketika itu juga. Tapi dia memelukku dengan erat lalu mencium keningku. Aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya, kali ini tidak ada nafsu, hanya unutk menenangkan hati kami masing masing. Lambat laun sejak saat itu Robby kembali mengajakku pergi, tapi kali ini kami sering membicarakan tentang kebersamaan kedua orang tua kami, kami menduga kalau ada sesuatu yang terjadi.
“apa kau keberatan bila kedua orangtua kita terikat dalam pernikahan! Jujur aku berharap itu terjadi” aku mendesaknya agar dia menyetujui pendapatku. “kau tahu bukan, ibumu juga ibuku, ayahku anggap saja ayahmu. Kau masih ingat kalau kita melarang orang lain mendekati orang tua kita?”
“yah aku ingat, dan kau selalu mendukungku untuk memberi mereka pelajaran agar jera?” tawanya mendadak meledak,mengundangku untuk mengikutinya. Aku melihat ada signal yang bagus tentang persamaan pendapat.
“so…apa jawabanmu dari semua ini?”
“bagaimana menurutmu!”
“kau harus mengatakan iya untuk ini semua, dan berjanjilah kau melakukannya dengan ikhlas dan satu lagi, kau akan selalu mencintaiku sebagai adikmu!” dia tersenyum walaupun terasa berat, yah mungkin saja. Karena dia harus melawan perasaan yang berat diantara kami.
Sore ini giliranku untuk mengatakan sesuatu pada ayah tentang semua yang terjadi, hanya saja aku belum siap bila aku harus menceritakan sosok Irsan pada ayah. lagipula antara kami juga belum sedekat yang aku inginkan. Kami mengobrol ditemani dua gelas teh hijau dan satu piring pisang goreng saus vanilla coklat. Wajah ayah lebih terlihat hidup,mungkin ini ada kaitannya dengan kehadiran seseorang. Aku berencana untuk menanyakannya sore ini.
“ada yang ingin ayah bicarakan padamu sayang”
“iya, ayah aku juga ingin menceritakan sesuatu. Aku rasa kita lama sekali tidak saling mengobrol”
“baiklah, putri ayah saja yang harus memulainya”
“tidak, aku lebih suka bila ayah yang menceritakan semua terlebih dahulu”
“baiklah tanpa mengurangi rasa hormat ayah pada putri ayah tercinta. Emm mohon maaf sebelumnya kalau ayah tidak sengaja mencintai wanita yang menurut ayah sangat special. Sungguh ayah merasa sangat luar biasa sejak kehadirannya” ayah tampak ragu saat akan mengatakannya. Aku hanya bisa tersenyum karena sedikit banyak aku mulai mengetahui sosok wanita mana yang sedang ia bicarakan. “sayang, ayah merasa tidak nyaman bila ayah tidak membagi cerita ini padamu. Tapi hati ayah tidak bisa berbohong kalau dia sangat menginspirasi ayah. bukan maksud ayah untuk…kau tahukan “
“ayah sudahlah, aku tidak masalah soal ini, aku suka ayah seperti sekarang. Aku bahagia ayah!”
“sayang dengarkan ayah, kami ini saling mencintai, tapi sungguh tanpa restu dari putra putri kami, kami tidak akan melanjutkan hubungan yang sudah terjalian antara kami. Tolong katakan pada ayahmu yang sudah tua ini sayang, ayah hanya berharap kalian bisa bermurah hati pada kami untuk menjalani sisa hidup ini”
“astaga ayah, berhentilah memohon. Dengarkan Maurin ayah, aku sangat berharap ayah bisa jatuh cinta lagi pada wanita lain selain ibu, hanya saja satu yang aku minta tolong jangan lupakan ibuku saat ayah menikahi wanita itu. dan bila wanita yang ayah maksud itu adalah ibunya Robby, aku sangat bahagia menerimanya menjadi ibuku”
“ya Tuhan darimana kalian bisa tahu?” wajahnya yang bingung terlihat seperti menambah garis tuanya. Aku hanya tersenyum sambil memeluk tubuhnya yang besar. “tolong katakan pada ayah, sayang. Dan satu lagi ayah ingin menanyakan padamu mengenai bagaimana perasaanmu terhadap Robby, karena sungguh ayah dan Asri tidak ingin merusak suasana hati kalian bila cinta kalian lebih bersemi. Aku dan asri rela mengubur harapan indah kami demi kalian”
“oh ayah, kau sangat mencintaiku. Tapi sungguh ayah aku memang mencintai Robby hanya sebagai kakak dan sahabat saja, aku tidak bisa mencintainya lebih dari itu. dan sungguh aku sangat tulus menyayanginya. Meskipun Robby sudah pernah berterus terang tentang rahasia hatinya tentangku. Tapi aku mengatakan hal yang sama seperti apa yang aku katakan pada ayah. aku menolaknya”
“maurin, kau sangat cantik. Masalah penolakan dan keputusan jauh cinta akan lebih sering kau alami, karena kau sangat manis.pintar. jiwa ibumu terpancar begitu jelas dengan aura yang sama. Ayah sangat mencintai kalian berdua. Bagaimana menurutmu tentang apa yang pernah ayah katakan mengenai Robby?itu benar bukan!”
“benar, aku memang tidak memiliki naluri yang tajam”
“kau mencintai Erick. Itulah jawabannya!” aku hanya tersenyum menelan kalimat ayah yang sesungguhnya aku tidak mencintainya. Dan selama ini aku memang tidak terlalu mencintainya sejak awal.
“ayah, aku ingin sekali jujur padamu. Bahwa sesungguhnya sedari awal aku tidak terlalu mencintai Erick. Aku hanya mencoba menjalaninya bersama waktu. Kelak suatu saat nanti aku akan menceritakan semuanya. Tidak malam ini. Jangan tanyakan kenapa. Yang jelas untuk hubungan ayah dan tante asri, aku dan Robby menyetujui bila kalian terikat dalam sebuah pernikahan” semua perkataanku diterimanya dengan jelas, kami berencana akan segera mengadakan pertemuan keluarga besar untuk pernikahan ayah dan tante asri.
Setelah acara pertemuan keluarga, seminggu kemudian mereka melakukan acara pesta pernikahan di rumahku, acaranya berlangsung sederhana, begitu juga dengan para undangan. Hanya teman dan kerabat dekat, di pesta itu sengaja Robby aku perkenalkan dengan salah satu sepupuku, aku berharap mereka bisa saling menyukai satu sama lain. Ratna seorang guru taman kanak kanak, sosoknya begitu anggun dan yang pasti dia juga jago taekwondo meskipun masih menggunakan sabuk berwana biru. Aku terus mengamatinya. Dan kali ini aku kedatangan seorang tamu, pastinya inilah acara pertemuan kami yang kedua sejak makan siang itu. Robby tahu, kalau pria ini pernah ditemuinya saat kami jogging disebuah taman. Robby tidak bereaksi memberikan manuver seperti pada saat Erick berkunjung kerumahku, ayah dan istrinya hanya menjabat tangan Irsan dengan ramah saat aku memperkenalkannya pada mereka, walaupun aku tahu mata ayah sedang mengalami frustasi tentang pria yang aku perkenalkan. Tentu saja ayah lebih menyukai Erick. Aku mengajak Irsan berkeliling disetiap sudut ruangan rumahku, dia terkesan dengan taman bacaku yang berada diatas kolam ikan. Aku senang sekali bertemu dengannya setelah sekian lama. Malam ini semua berjalan dengan baik, perlakuannyapun terasa lebih hangat.
“apa kau masih menyimpan sapu tangan milikku?” aku terkejut mendengarnya ”beberapa bulan yang lalu aku melihatnya kalau kau membawanya” aku malu saat mendengar dia mengatakan itu. Akupun mencari benda yang telah kami bicarakan
“tunggulah sebentar, aku akan segera kembali!”dan saat aku kembali dari kamarku, aku membawa sekotak box perhiasaan, tapi isinya bukanlah perhiasan melainkan sapu tangan miliknya dua tahun tahun yang lalu. Kami saling tersenyum saat memandang benda ini. Aku duduk mendekatinya, badannyapun memutar persis dihadapanku.
“aku merawatnya, jadi tenang saja benda ini masih utuh”
“kenapa? Itu hanyalah potongan kain biasa. Warnanyapun tidak menarik” dia mencoba mempertanyakan pertanyaan dengan nada yang tidak biasa. Kali ini lebih terdengar retoris penuh dramatis. Aku diam dan bingung harus berkata bagaimana. Apakah ini waktu yang tepat untukku mengatakan cinta padanya. Karena sesungguhnya itulah yang terjadi. “Maurin, kau mendengarku?”. Aku menoleh, aku memberanikan diriku untuk menatap matanya dan membangun kepercayaan diriku mengungkap semua isi hatiku, masih mencoba berdoa dan menghitung dalam hati hingga kubersihkan tenggorokanku dengan batuk. Lebih tepat dikatakan kalau aku pura pura batuk kecil.
“kau masih ingat bagaimana kita pertemu pertamakali. Dan bagaimana benda ini bisa ada ditanganku?” kepalanya mengangguk, senyumnya begitu manis. “sejak saat itu hidupku berubah. Emm..yah lebih berwarna akhir akhir ini?” matanya kembali mengamatiku. Aku tidak sanggup menahan gejolak. “Irsan, aku menyukaimu!” aku berbalik meninggalkan bayangannya, baru satu langkah aku berputar lalu dia menarik tanganku. Kami berdiri di sudut teras memandang keramaian pesta perkawinan orang tuaku. Kusandarkan tanganku pada dinding penyekat teras, udara malam yang dingin meniupkan kesegaran. Perasaanku bercampuk aduk, lalu kembali terdengar suara saat dia mengambil nafas panjang. Tangannya yang besar sengaja dia sentuhkan pada punggung telapak tangan kiriku, kelihatannya aku harus menelan pil pahit bila dia menolakku, aku harus berani menahan malu ditolak seorang pria. Seumur umur baru sekali ini aku begitu agresif.
“aku ini tua, dan begitu tua, apa kau tidak menyesal ada perasaan yang begitu spesial terhadap pria setua aku?”
“kenapa kau….?”
“sstt…dengarkan aku dulu tolong, dengarkan aku. Jangan tersinggung soal ini. Please berfikirlah logika. Kau belum mengenalku!”
“Irsan, aku memikirkan ini semua…semua..semuanya tentangmu, aku berspekulasi pada diriku sendiri. Tapi itu saja tidak cukup, aku sudah berusaha mencari banyak informasi tentangmu, tentu saja awalnya aku berfikir soal perbedaan usia kita. Tapi pada akhirnya hanya rasa cintaku padamu saja yang membuat aku menerima semuanya. Asal kau mencintaiku! Itu saja yang aku butuhkan. Soal umur, tolong jangan kau jadikan beban”
“dengarkan aku, berpikirlah seratus kali untuk mencintai orang tua seperti aku, kau tahu hidupku berantakan, aku hanya seorang chef. Itu bukan pekerjaan macho, seperti yang biasa wanita suka. Aku bukan orang professional seperti ayahmu. Aku ini duda, duda dan anakku sudah besar, jadi mungkin kau lebih pantas menjadi menantuku daripada istriku”
“tolong dengarkan aku…uuhh. Susah sekali kau ini diajak bicara”
“dengarkan aku dulu,lebih baik kita hentikan ini semua, kita bicarakan lain waktu, kau sangat terlihat lelah. Biarkan aku pulang” aku sedih mendengar kalimat itu, ternyata dia tidak mencintaiku seperti apa yang aku rasakan. Mungkin aku merasa berlebihan atas perhatiannya. Aku membiarkannya berjalan dan berlalu, mungkin karena aku tidak bereaksi, diapun kembali dan menggandengku untuk menemui ayahku sekedar berpamitan. Tidak ada pembicaran sepatah katapun, hingga aku mengantarnya ke luar rumah bahkan saat dia masuk ke dalam mobilnya.mulutnya terkunci tanpa senyuman. Ketika mesin itu menderu, aku hampir saja menitikkan air mata, aku buru buru mengedipkan kelopak mataku berulang ulang untuk menyamarkan kesedihanku. hingga kaca mobilnya terbuka
“Maurin, terimakasih untuk jamuan dan undangan makan malamnya. Selamat malam!” mobilnya pergi begitu saja. Aku merasa terluka, aku melihat Robby sudah berdiri dibelakangku, sambil memelukku erat. untuk sesaat aku terdiam dan menangis lirih, hingga kami berdua pergi ke taman belakang rumah Robby yang sedikit sepi, kami berjalan berdua, dan aku menidurkan kepalaku ke bahunya.
“apa kau ingin aku menggendongmu?”aku menggeleng
“kalau begitu diamlah, jangan menangis. Aku benci melihatmu seperti ini, kau selalu menangis bila tidak mendapatkan apa yang kau inginkan!”aku hanya mendesah dan mengambil nafas panjang. Sepertinya diantara kami sudah mulai normal seperti dulu. Kami duduk di ayunan, robby mencoba membangkitkan kenangan lama kami saat kecil, dua rumah kami penuh kenangan. Aku memaksa diriku agar tersenyum. Tapi aku tetap saja murung.
“aku memperhatikan kalian berdua diatas sana ? Aku khawatir saja kalau adikku menangis. Dan ternyata benar, adikku memang menangis!” apa ternyata Robby memperhatikanku, jadi …dia mendengarkan semua pembicaraan kami! “tenang aku tidak mendengarkan, bahkan aku tidak mendengar suara kalian. Aku hanya mencoba mencari tahu lewat angin. Kuharap kau tidak sungkan mengatakan semua yang kau alami bersamanya. Bukankah kamu yang ingin agar hubungan kita lebih erat. mungkin inilah saatnya kita membuktikan. Ngomong ngomong saudaramu Ratna …emmm aku mulai menyukainya!”
“benarkah? Malam ini kalian sudah berkencan?”
“emm,belum..tapi akan aku pikirkan soal itu nanti! Jadi, mulailah berbicara”
“Rob.. aku sudah menceritakan semuanya…semua rasa cintaku pada Irsan, tapi sepertinya dia enggan menerimaku, aku… aku sangat mencintainya sejak dulu, sejak pertama kali aku bertemu dengannya di bandara. Dan sapu tangan yang pernah dan sering kau lihat itu adalah miliknya. Aku menyadari malam ini aku benar benar tidak mau melepaskan dia begitu saja, aku ingin menjerat cintanya meskipun aku harus menerima banyak cibiran berkencan dengan pria tua”
“bagaimana Erick?” hal yang sama seperti yang ingin aku katakan. Robby selalu bisa membaca apa yang aku inginkan.
“Erick? Tahun depan dia akan kembali, dan saat itulah aku akan memutuskan hubungan kami secara jantan. Atau aku bisa saja memutuskan kapan saja setelah Irsan menerimaku, aku rela dikatakan seorang pengecut. Aku sungguh ingin mengakhiri hubunganku dengan Erick, karena memang dari awal aku hanya belajar mencintainya tanpa aku bisa benar benar jatuh cinta padanya”
“lantas mengapa kau menerimanya?” roby membentakku hingga aku tersentak, tangannya memukul tiang lampu
“hah..karena aku ingin melupakan Irsan saat itu, pria asing yang baru aku temui dibandara. Sosok Irsan selalu menggelayuti pikiranku. Aku gila karenanya” aku menceburkan diriku ke dalam kolam dan menenggelamkan tubuhku beberapa menit. Robby hanya terdiam
“tidak seharusnya…kau seperti ini, dengan aku saja kau tidak pernah begini!” aku tidak melihat apa yang dia lakukan tapi tiba tiba saja tubuhnya jatuh kedalam kolam bergerak menarikku. “kau ini kenapa! Hanya pria tua itu saja yang kaupikirkan!” suaranya terdengar marah, aku hanya bisa menagis dan memeluknya. Tubuhnya yang besar terasa hangat mendekapku “aku mencintai Irsan, Rob…aku sangat mencintainya” dia hanya mengehela nafas” itu terlihat jelas dimatamu! Tapi kumohon kau jangan begini, aku berjanji akan membantumu mendapatkannya. Erick urusanku!” Robby mencoba membuatku merasa lega. Tapi itu saja belum cukup bagiku. Kami keluar dari dalam kolam dengan kedinginan karena ini. Aku menceritakan semuanya tentang Irsan, hingga aku merasa Robby mulai mengerti akan semua tekanan yang aku alami. Aku menggigil melihat reaksi pria yang aku cintai, tapi kejadian itu tidak menyurutkan perasaan ini.
“kau mulai hangat?” suaranya terdengar pelan sambil membetulkan jas yang dia kenakan ke tubuhku. Aku mengangguk dengan sedikit menggigil.
Seminggu setelah kejadian itu, aku seperti terjerembab ke dalam sebuah sumur yang dalam dan gelap tapi aku masih ingin tetap bersinar meskipun itu berada di perut bumi yang lengkap dengan permasalahannya, apa yang aku alami justru kebalikan dengan kebahagian yang dialami oleh ayahku dengan istri barunya. Setiap pagi dan malam kami duduk sarapan dan makan malam di meja yang sama dengan kebahagian yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Aku terpaksa menipu mereka, karena aku tidak tega menghancurkan kebahagian mereka, tapi Robby hanya dia yang tahu alasan apa yang membuat aku seperti ini. Dan sudah seminggu ini Irsan tidak pernah menghubungiku, begitu juga aku sebaliknya. Aku enggan memulai percakapan dengannya meskipun aku sangat merindukannya. Kini aku justru sering menjawab semua apa yang ditanyakan Erick. Aku merasa berdosa telah mengkhianatinya. Dan seharusnya aku segera menghentikan ini semua meskipun nantinya Irsan akan menolakku. Aku sering bertanya mengapa Irsan menolakku, apakah aku terlalu muda ataukah aku terlihat bodoh dimatanya. Atau aku seperti anak kecil.
Sudah sepuluh hari ini Irsan belum menghubungiku, dengan sangat terpaksa aku menghubunginya lewat sebuah pesan singkat ‘I miss you, just catch my eyes please’ aku mengirim pesan itu sejak satu jam yang lalu. Ini hari minggu yang cukup melelahkan bila aku tidak bisa menghilangkan pikiranku tentang dia, sedangkan yang lain sangat sibuk dengan aktifitasnya. Robby dan ayah sedang sibuk bermain basket, Ibu sibuk dengan tanaman anggrek dan bonsainya. Aku iri dengan kebahagiannya mereka. Kenapa aku mulai merasa merana.
“ini teh hijau milikmu, aku sudah memberinya lemon. Kata ayah kau sangat menyukainya!” suaranya halus, aku sangat beruntung dia mau menyayangiku “hei..Rob..tolong ajak ayahmu kesini, ini ada singkong keju!” kelihatannya mereka patuh dengan Ibu, ayah datang dan langsung menciumku lalu memeluk istri barunya. Begitu juga Robby yang datang langsung mencium ibunya. Dan seperti biasa Robby suka menarik rambutku lalu menciumku.
“hei jangan kasar dengan adikmu!” sahut ibunya dengan cubitan kecil yang meninggalkan luka.
“auw…pasti sakit?”aku mengoloknya dengan mencibir bibirku,
“ayah, aku ingin bicara sesuatu?” aku terlihat spontan, robby dan yang lain langsung menatapku “tapi tidak sekarang?” lanjutku.
“katakan saja! Ayah siap kapan saja kau mau?” ayah menatapku dengan pandangan menebar pada yang lain.
“Rob, bisa tidak kau temani Ibu merapikan paketan baju yang baru datang!” ibu menarik kaosnya begitu saja, hingga hampir saja anaknya tersedak dengan teh panas.dan ketika mereka berdua meninggalkan kami aku baru bisa berbicara. Ayah terlihat khawatir, aku tahu itu. tapi ayah tidak tahu semuanya dengan jelas. Aku bingung harus darimana memulainya. Hingga ayah harus mendekati aku dulu barulah aku bisa berbicara.
“sayang, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Ahh, entahlah apa saja itu tolong katakan pada ayah. apa kau kurang nyaman dengan keluarga baru kita, atau mungkin kau ada rencana lain?”aku hanya menggeleng karena bingung. Aku takut ayah marah. “ayolah sayang. Jangan buat ayahmu terserang vertigo karena ini! Seharusnya ayah lebih memperhatikanmu dan ayah melupakan itu semua. Maafkan ayah. kalau ayah terlalu egois dengan kehidupan baru ayah!” ternyata ayah salah mengerti sikapku. Aku bertanggung jawab. Ini soal perasaan.
“ayah…kumohon dengarkan aku. Sungguh itu semua tidak benar. Aku mencintai keluarga baru kita, aku suka melihat ayah lebih bahagia dan ibu selalu memperhatikan semua kebutuhan ayah. aku beruntung akan semua itu. perlu ayah tahu. Aku dan Robby sejak dulu ingin sekali agar kalian berdua menikah. Dan syukur saat ini semua doa kami sudah terjawab oleh Tuhan”
“eemmm…so, masalah apa yang sebenarnya terjadi! Jangan bilang pada ayah kalau kau menyesal telah menolak Robby!”
“GILA, seratus persen aku tidak salah dan menyesal atas jawaban itu”
“lantas!” ayah menarik nafas panjang dan mengamatiku lebih teliti “kau putus dengan Erick. Oh ya apa kabarnya dia ya sayang?”
“Erick? Oh ya dia baik saja,mungkin tahun depan dia akan pulang. Dan itu yang membuatku pusing!”
“apa ayah tidak salah dengar, kau menangis saat dia meninggalkanmu, lalu hal apa yang membuatmu pusing, apa dia mengajakmu menikah lalu kau belum siap dengan itu semua?”
“ayah… !”
“apa kau seperti ini ada hubungannya dengan tamu spesial ayah yang kau bawa pada pernikahan kami!” aku melotot saat ayah menyinggung soal itu.
“ayah…”
“sayang, sebenarnya ayah ingin menayakan ini semua padamu malam itu juga, tapi Ibumu melarang ayah. jadi ayah menunggu suaramu. Dan kebetulan kau baru berani mengatakannya sekarang!”
“ya …ayah , pria yang aku bawa dipesta pernikahan ayah. sebenarnya kita belum resmi untuk dikatakan berkencan?”
“berkencan? Maksudmu!” ayah melotot, aku tidak suka bila ini terjadi.
“ya..ya ya aku tahu dia tua, dia seumuran ayah, bahkan mungkin dia lebih pantas menjadi pamanku daripada kekasihku atau bahkan suamiku?”
“suami! Apa kalian akan menikah!”
“aku mohon dengarkan aku dulu ayah, biarkan aku menghabiskan semua yang ingin aku katakan. Dan aku mohon dengarkan dulu!”
“baik!”
“aku memang mencintainya, sangat mencintainya dan aku belum pernah merasa jatuh cinta sehebat ini sebelumnya. Aku bertemu dengannya sebelum aku bertemu dengan Erick, bahkan sebelum Erick mendekatiku. Meskipun Erick pernah mengatakan kalau dia sering sekali melihatku di sekitar kampus. Tapi tidak dengan diriku. Aku sudah mengatakan cintaku padanya. Namanya Irsan, dan mungkin dia berfikir sama seperti ayah bahwa dirinya terlalu tua untukku! Dan ketika aku mengungkapkan isi hatiku, dia sama sekali tidak merespon untuk menerima. Dia justru berbalik mengingatkan aku. Bahwa sebaiknya aku berfikir puluhan kali untuk jatuh cinta pada pria seusianya”
“syukurlah…paling tidak dia ikut memikirkan itu semua?dengar sayang terlalu jauh umur itu akan menyebabkan hubungan suami istri sedikit emosional di setiap masalah.tidak ada kesan esensial dalam hubungan jika tidak mengacu pada sebuah perspektif maka seseorang akan bertumpu pada sebuah variable mungkin harta,cinta,ketakwaan atau bahkan fisik yang juga termasuk lingkupan umur”
“sudah jutaan kali aku memikirkan masalah itu ayah, bahkan sebelum aku berjumpa kembali. Paling tidak aku masih sehat untuk memikirkan ini semua saat itu. Dan jujur yang ingin aku lakukan sekarang adalah memutuskan hubunganku dengan Erick sebelum dia meresmikan pernikahan kami. Tapi tolonglah ayah lihatlah dari kacamata dan sisi lainnya. Dia baik?”
“tentu saja baik karena kau sedang jatuh cinta setengah mati, ayah harus melihat darimana unutk mengatakan kalau dia termasuk dalam catatan baik secara variabel bukankah ayah belum pernah mengenal mengobrol dengan Irsan, dan malam itu adalah pertama kalinya kita berjumpa. Ayah hanya takut kau membuat pernyataan yang salah hingga mempengaruhi keputusan finalmu nanti. Ayah hanya ingin kau membuat penilaian terhadap satu bentuk cinta dari satu aspek yang lebih beradap ketimbang yang lain”
“lantas aku harus bagaimana! Apa maksud ayah Irsan bukan pria beradab”
“kau serius?” aku menganggukkan kepala “bawa dia untuk bertemu dengan ayah setelah dia punya perasaan yang sama seperti yang kamu rasakan! Tapi jika tidak ayah akan membawamu ke psikiater untuk menghapus semua memorimu yang bernama Irsan dot com!”
Pernyataan ayah yang terakhir membuat aku lega, ada lampu kuning yang ayah tunjukkan padaku walaupun itu masih terlihat samar. Benar kata Robby, harusnya aku beritahu dia sejak awal.
“aku pasti akan membawanya”
Rencana berikutnya aku harus bertemu dengan Irsan, aku punya keyakinan sebenarnya dia juga mencintaiku, hanya saja dia terlalu punya banyak pertimbangan yang melemahkan syaraf motoriknya untuk menggerakkan hatinya. Dia terlalu tinggi membentengi cintanya. Aku harus menembus itu semua. Karena otakku masih tegang aku tidak ingin kekantor membawa mobil sendirian, aku ingin Robby atau ayah mengantarku kekantor, dan kebetulan Robby ingin berkencan dengan Ratna, aku senang sekali mendengar kabar burung yang seperti ini. Tapi aku kesal karena Robby mulai menyebalkan saat aku membutuhkannya “ayah dan ibu sepertinya akan belanja bulanan, jadi biarlah mereka yang mengantarkanmu” lalu dia pergi secepat kilat menyambar kunci mobil diatas meja. “sayang, kalau kau mau berangkat sekarang. Kita sudah siap dan ayahmu sudah menunggu kita di depan!” aku mengangguk sambil berjalan. Tapi sebelum kami benar benar meninggalkan rumah, telphone rumahku berbunyi, aku berbalik untuk mengangkatnya.
“selamat pagi!”
“pagi, Maurin!”
“Irsan! Hei”
“hei, aku ingin menjemputmu pagi ini, apa kau bisa menungguku,tapi kalau seandainya kau akan terlambat, izinkan nanti malam saja aku menjemputmu dikantor!”
“oh yah..tentu aku bisa, aku masih dirumah, kau bisa menjemputku disini dan aku tidak terlambat!” suaraku terdengar gembira begitu juga hatiku meskipun aku tidak berani menjamin soal keterlambatan. Ibu tersenyum saat mendengar dengan siapa aku berbicara di telephone, dia lalu pergi dan melambaikan tangannya padaku “ibu berangkat ya sayang, hubungi ibu bila kau menginginkan sesuatu!”
“yah tentu bu, bye sampai ketemu nanti malam. Tolong belikan aku yogurt dan fresh milk itu saja” aku kembali berbicara dengan Irsan saat ibu menutup pintu depan lalu terdengar suara mobil ayah menghilang.
“apa kau tidak sibuk?” aku kembali bertanya ketika dia terdiam mendengarkan percakapan kami.
“tunggulah, aku akan segera datang kerumahmu. Sampai ketemu!”
Percakapan kami terputus dan aku langsung mencari kaca untuk merias kembali wajahku yang pucat, aku nampak kembali segar setelah menyemprotkon beberapa semprotan parfum milik ibu. Kemungkinan aku punya waktu sekitar setengah jam untuk tampil maximal sebelum bertemu dengannya. Aku kembali menguncir rambutku. Dan ketika aku baru selesai menyisirnya, bel pintu rumahku berbunyi. Aku tidak percaya dia hanya butuh waktu tujuh menit untuk menjemputku. Tanpa lebih lama lagi. Aku langsung pergi menemuinya. Saat aku keluar dia sudah berdiri dan bersandar pada pintu mobilnya. Dia mengenakan baju chef masih lengkap dengan apron dan pisau kecil yang disarungkan pada kantong lengan kirinya.
“cepat sekali” aku menyapanya, senyumnya begitu ramah dan menyambut tanganku dengan jabatan yang erat. oh ingin sekali aku dipeluknya.
“masuklah, kau sedikit terlihat kurus dari minggu terakhir kita bertemu! Tapi baju dan make up serta sepatu dan tas tanganmu terlihat serasi. Kau tidak terlambat bukan” aku hanya menggeleng, dan diam menahan rasa bahagia yang terlalu membiusku, aku takut terlihat seperti orang gila bila aku terus tersenyum.
“sorry, aku baru saja selesai mempersiapkan event untuk nanti sore, karena kebetulan hari ini aku libur. Jadi aku tidak ingin semua berantakan bila aku tidak sedang ada di dapur. Maaf ya kalau kau mencium bau bumbu ataupun daging?”
“oh tidak.. aku tidak mencium apapun sama sekali” sebenarnya aku berbohong
“aku hanya terburu buru dan tidak ingin terlambat menjemputmu!”
“yah terimakasih, karena hari ini aku sangat membutuhkan tumpangan!”
“wah, berarti hari ini aku beruntung. Bagaimana nanti malam. Apakah aku masih punya kesempatan untuk mengajakmu makan malam?”
“ya! Pasti. Aku akan menunggumu. Tapi aku tidak membawa gaun malam untuk acara kita malam ini!”
“begini saja sudah cukup bagiku?aku tidak sedang mengajakmu mendatangi acara gala dinner”
Dia meninggalkan aku di kantor, lalu pergi pulang. Aku belum bertanya dimana rumahnya. Karena aku tidak pernah ingin menanyakan banyak hal selain mencari cara bagaimana kita bisa bertemu bertemu bertemu dan bertemu. Undangan makan malam ini membuatku giat mengerjakan semua laporanku, tanpa ada kesalahan maupun sesuatu hal yang butuh revisi kecil. Dan aku lebih sering melihat wajahku di setiap cermin yang aku temui sepanjang ruangan kantor, bahkan hoby terbaruku adalah mengamati wajahku didalam kaca bedak hingga sore tepat satu menit sebelum Irsan kembali menjemputku persis didepan kantor dengan range rover merahnya yang mengkilat. Banyak mata memandang kami, mungkin sebagian dari mereka memuji kelebihan kami ,mungkin juga sebagian dari mereka iri dengan salah satu diantara kami atau bisa jadi mencibirku karena telah menggaet pria tua untuk aku kencani. Perduli setan dengan ocehan mereka. Irsan berkata “mereka terpesona olehmu, kau memang cantik!”. Aku tertunduk malu benarkah!. Tentu saja hanya berkata dalam hati. Aku tidak tau apa yang sesungguhnya Irsan pikirkan tentang suasana hati kami, aku berfikir dia hanya menghibur diri. Karena terlihat jelas itu berbeda dengan apa yang baru saja aku lihat. Kami tetap terdiam hingga sampai ke sebuah gedung bangunan yang awalnya aku pikir itu sebuah hotel. Dua orang pria menyapa kami,
“malam chef! Maaf menggangu!”
“yah silahkan”
Dua orang pria itu membawa alat detector untuk melakukan rutinitas pengecekan para tamu hotel. Meskipun mereka tahu kalau Irsan termasuk salah satu pegawai hotel ini.
“silahkan melanjutkan chef,maaf mengganggu!. Selamat malam nona” sapa mereka dengan nada ramah. Kamipun berlalu dari pandangan mereka.
“aku jamin, mereka pasti mengira kau anakku!” dilanjutkan dengan tertawa kecil.
“tidak lucu”aku kesal dia berbicara seperti itu. dan dia hanya tersenyum. Seorang pria membukakan pintu untuknya, dan saat aku turun, dan berlalu memasuki lobby, mereka membawa mobil kesebuah valet parking. Aku belum pernah datang ke tempat ini, mewah sekali. terlihat dari loby dan desk yang memutari tiga recepsionist cantik. Mereka menyapa, dan kelihatan kalau hubungan mereka terjalin akrab. Baru kali ini Irsan mau menggandeng tanganku dengan erat tidak seperti biasanya. belum ada rencana kami akan makan malam dimana. Tiba tiba dari arah samping seorang pria yang sangat tinggi menghampiri kami, mukanya seperti warga asing, kulitnya putih kemerahan,rambutnya hitam keabu abuan.
“selamat malam, ada acara spesial kau kelihatannya?” sapa pria itu
“oh hai.. selamat malam Pak, kenapa anda masih dikantor?”
“kantor. Ini bukan kantor Irsan..tapi hotel” mereka tertawa bersamaan. Dia melirikku, dan aku tau maksudnya, aku hanya tersenyum dan mengangukkan kepala sebagai salam.
“saya mengerti pak…oh Mauirin, perkenalkan ini Mr Hans, beliau GM di hotel ini, dan ini Maurin!”
“senang sekali bertemu dengan anda Ms Maurin, baiklah selamat menikmati acara dinner, semoga menu kami bisa memuaskan!”
“oh terimakasih Mr Hans, senang berkenalan dengan anda”
“baiklah kalau begitu, saya permisi. Sukses ya San?” tangannya yang besar menepuk bahu kirinya sambil mengedipkan mata. Apa pria itu tau kalau aku bukan anaknya. Aku belum ingin menanyakan itu. kami menyusuri beberapa koridor hingga kami memasuki sebuah restaurant china. Dia menanyakan padaku apakah aku ingin menu Chinese dengan gaya tangankhas seprti yang biasa dia peragakan. Dan aku menjawab dengan gelengan. Aku tidak terlalu suka dengan masakan Chinese ataupun jepang. Dan kebetulan semua meja di kedua restaurant itu sudah penuh dengan para tamu.
“apa kau tinggal disini?”
“yah aku tinggal disini, aku akan mengajakmu nanti setelah kita makan malam!”
“bagaimana kalau kau mengajakku terlebih dahulu. Lagipula aku belum terlalu ingin makan malam. Bagimana menurutmu?” dengan nada sedikit memaksa, aku mencoba terus agar dia menyetujui keinginanku.
“baiklah!”
Kami berbelok ke kiri lalu berjalan menuju arah pintu lift. Hanya kami berdua saja yang ada di tabung kaca ini, telunjukknya menekan tombol lantai tujuh. Tabung ini berjalan dengan tekanan yang tidak mengguncang seperti lift lainnya yang ada di kebanyakan mall. Tapi bergerak cepat dengan sangat mulus. Dan saat kedua pintu itu terbuka kami berjalan lurus melewati beberapa kamar hingga sampai ke kamar nomer 721.
“ini kamarmu?”
“silahkan masuk, maaf kalau sedikit berantakan ya!” dia terlebih dahulu mempersilahkan aku masuk. Kontan, mata ini menebar pandangan semaximal mungkin ke seluruh sudut ruang. Kamarnya berdesign minimalis. Lengkap dengan ruangan penerima tamu dan dapur yang berwarna putih, semua serba putih. Tidak ada foto yang terpajang untuk menghiasi dinding yang kosong, hanya dua lukisan yang diletakkan satu di ruang tamu dan satu lagi di atas tempat tidur. Sedangkan pigora yang paling besar di dalamnya berisikan anyaman kain ulos di letakkan di depan tempat tidur tepat diatas meja LED TV.
“silahkan duduk!” dengan patuhnya akupun meletakkan tubuhku di sebuah kursi sofa berbahan kulit lembu yang sangat halus berwarna coklat muda. Aku duduk terdiam sambil memperhatikannya.
“mau minum apa? Atau mau aku pesankan dari room service, atau kau makan disini?”
“terserah, aku belum terlalu haus” aku bangkit dari sofa mendekatinya yang tengah berdiri didepan meja mini bar dekat dapur. “apa kau akan membuat sesuatu? Kau kan chef. Bagaimana kalau kau membuatkan aku sedikit masakan simple, apa saja! Emmm aku tidak ingin makan di restaurant yang ramai?” dia tersenyum.berjalan melihat isi lemari es-nya yang penuh dengan bahan makanan.
“kau ingin makan apa? Apa kau bisa membantuku menyiapkan sayur atau bumbunya?”
“aku akan membantu, aku terbiasa memasak walaupun tidak terlalu pandai, dulu ayahku sering ke luar kota bahkan keluar negeri, aku belajar masak dengan Tante asri yang sekarang menjadi ibuku, aku dan Robby biasa di dapur, kami biasa berbagi pekerjaan rumah”
“benarkah! Dulu aku berfikir kalau dia adalah kekasihmu!”
“kau sudah pernah mengatakan soal itu, dan seingatku aku juga sudah pernah menjelaskan tentang status kami!”
Kami berdua begitu asyik didapur, soal dapur dan masakan sepertinya aku tidak sehebat dia, tangannya begitu cepat saat membersihkan semua kotoran ikan dan sayur, cara kerjanya begitu cepat, aku begitu takut kalau tanpa sengaja mata pisau itu memotong salah satu jarinya. “duduklah dengan tenang di kursi itu, tolong siapkan saja dua piring lengkap dengan peralatan makan lainnya, kalau kau tidak keberatan, tolong siapkan semuanya dengan rapi di meja makan” yah aku menyerah, aku tidak bekerja secepat tangannya, aku takut melihat kecepatan pisau itu berjalan, dan mungkin dia terganggu olehku. Setengah jam kemudian semua masakan sudah matang dan siap di tuangkan di beberapa piring yang sudah aku siapkan. Dia membuatkan steak salmon dengan Caesar salad dan saus jamur paling tidak itulah yang terlihat dimataku. Lalu dia membawa kedua gelas berisikan sparkling water dan menatanya di meja. Kembali lagi ke dapur untuk membawa dua gelas berisikan air berwarna pink dengan hiasan whipped cream dan buah semangka sebagai hiasan. Malam ini aku merasa sangat istimewa disepanjang malam malam yang pernah aku lalui selama eksistensiku dilahirkan. Aku merasa Tuhan begitu membahagiakan aku malam ini. Matanya begitu bening dan terlihat tenang, aku menirukan gaya makannya,berusaha untuk selalu tetap tenang meskipun jantungku ingin sekali melompat keluar. Paling tidak setelah acara makan malam kami ini selesai. Sedikit banyak aku ingin menanyakan kenapa dia mau mengajakku makan malam, padahal, dulu aku pernah mengajaknya dan dia menolak. Kami diam tanpa bicara hanya tersenyum. Dan ketika makan malam kami selesai, dia mencuci mulutnya dengan sebuah apel yang Dibelah menjadi dua, lalu dikupas salah satu bagiannya.
“kau mau?” saat aku tersenyum, dia langsung memberikan potongan apel itu dengan sebuah piring kecil lengkap dengan garpu buah yang ada di depannya. Lalu dia mengupas sisa bagian dan langsung memakannya. Aku sengaja tidak menghabiskannya, walaupun apel adalah salah satu kesukaanku. Aku mencoba berdiri mendahuluinya dan mengambil semua piring yang sudah kosong untuk aku bersihkan. Tangannya ikut membantuku membawakan gelas minuman yang sudah kosong ke dapur.
“taruh saja disitu, nanti ada room service yang membersihkan! Temani aku duduk menonton film” aku meninggalkan semua dan berjalan mengikutinya. Kami duduk santai di depan tv. Aku ingin sekali menonton tv dengan tiduran di tempat tidurnya, seperti yang biasa aku lakukan dirumah bersama Robby. Tapi seprtinya tidak mungkin karena dia lebih dahulu duduk di kursi yang sengaja diletakkan di depan ranjang tidurnya. karena terlalu lama kau menunggu dan tidak ada topik penting yang harus di bahas, aku pindah duduk di kursi bar.aku memainkan beberapa dua gelas dengan setengah air yang mengisi salah satu diantaranya. Dengan berulang kali kau menuangkan dan menuangkan terus menerus secara bergantian dari gelas yang penuh air itu dengan gelas kosong. Sepertinya cara itu bagus untuk mendekatkan dia padaku yang sedang memikirkan sesuatu.
“Maurin, berulang kali aku memikirkan semua, baik buruk hingga resiko terbesar yang akan kau hadapi bila kau mencintaiku” aku terus saja diam tanpa berkomentar, aku masih ingin mendengarkan semua penjelasan dan alasan yang Irsan rangkai, meskipun sesungguhnya aku bosan mendengarkan ocehan yang sama. Aku hanya butuh satu kalimat yang mengatakan kalau dia mencintaiku. Irsan terus menatapku meskipun aku tidak menatapnya sama sekali.
“dengarkan aku Maurin, aku mencoba untuk menceritakan semuanya dengan jelas agar kau tidak menyesal dikemudian hari” karena dia memohon akupun mengatur tubuhku dan mataku untuk mendengarkan dan mencoba bersabar lebih dari sebelumnya.
“sangat sulit untuk menahan diriku agar aku tidak memperhatikan atau menanggapi semua hal tentang mu dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mu itu sangat menarik hatiku. Kau seperti magnet, gerakanmu seperti rotasi bumi yang berjalan seperti susunan gravitasi. Kau mudah untuk aku tebak, dan itu membuatku menjadi lebih susah untuk menolak perasaanmu. Jangan kau pikir aku tidak pernah memperhatikanmu. Kalau aku boleh jujur sejak pertemuan kita pertama kali aku berharap bisa kembali lagi bertemu denganmu. Sorot matamu tidak pernah bisa aku hindari tanpa perlawanan yang kuat. Apa kau masih ingat juga kalau kita bertemu yang kedua kalinya di sebuah café yang ada di sebuah mall, kau bersama seorang wanita yang lebih matang dengan keanggunan yang dia miliki. Saat itu aku terus memperhatikanmu, lalu aku mengikutimu hingga masuk di café itu, nyaliku tiba tiba menjadi kecil ketika kau mulai sadar bahwa itu aku. Dan dengan pengecutnya aku lari meninggalkanmu. Tapi aku menjadi gelisah ketika kau terus mengejarku hingga kau harus menerobos seorang pegawai café yang melindungiku. Baiklah…apa kau sudah mengingat itu semua?”
Aku terkejut mendengarkan semua penjelasannya, aku tidak menyangka bila aku tidak merasakan ini sendiri. Rasa malu senang dan tidak percaya menghinggapiku. Aku haru mendengar semua ini.
“Irsan, aku sangat mencintaimu…sangat. Aku mohon jangan pernah jadikan masalah umur untuk sebuah alasan dan salah satu cara kau menolakku!”
“ya…aku tahu, aku mengerti. Sejujurnya aku menyukaimu, bahkan bisa dikatakan aku jatuh hati padamu sejak pertama kalinya kita bertemu. Aku mencoba melupakanmu setelah kejadian di café itu, aku menerima pekerjaan baru di Negara lain, tapi hati kecilku berteriak tidak puas akan sikapku. Aku mengundurkan diri ditempat lama, dan mencari pekerjaan di Indonesia , aku ingin berkumpul dengan keluargaku, aku ingin lebih dekat dengan putraku. Tapi alasan yang terkuat adalah kembali mencari bayanganmu. Itu alasan utamaku. Pertemuan yang ketiga saat kita kembali bertemu di bandara yang sama satu tahun lalu. Sungguh aku tidak ingin kehilangan moment untuk bersamamu, mengenal lebih jauh dan mengakrabkan diri. Tapi, sekali lagi aku menahan diri sekuat tenaga agar aku bisa menjaga sikap. Sedikit berhasil namun aku gagal untuk tidak mendekatimu lagi” aku semakin mengerti dengan apa yang sebenarnya aku alami walaupun aku meragukan itu.
“apa kau mencintaiku?”
“apakah kau belum mengerti dengan semua yang aku jelaskan?” suaranya terdengar retoris. Dan membuatku malu juga tidak berani menatap wajahnya.
“terimakasih kau sudah mau mengatakan semuanya! Aku senang sekali!”
“tentu saja, aku juga lebih tenang sudah mengatakan semua ini padamu, aku berharap kau tidak pernah menyesal”
“tidak…tentu saja aku tidak akan pernah menyesal! Kau tahu aku sudah menceritakan semua ini pada ayahku, bahkan Robby mendukungku dan sudah terlebih dahulu aku beritahu mengenaimu?”
“emmm…tapi kau belum tahu tentang keluargaku, kehidupanku”
“katakan saja apapun itu aku tidak akan berubah untuk tidak mencintaimu, akupun punya pengakuan yang harus aku ceritakan padamu!”
“simpanlah semua, izinkan aku yang lebih dahulu menceritakan masa laluku padamu. Hanya sekedar untuk referensi untuk merubah persaanmu terhadapku!”
“kau ini keras kepala!sampai kapanpun semua tentangmu tidak akan pernah aku rubah. Semoga kau menikmati kekecewaanmu itu” dengan gemas aku menginjak kakinya yang tanpa mengenakan alas kaki.
“kau ini wanita yang pintar,cantik sexi semua yang ada padamu termasuk dalam kategori menarik dengan nilai estetika yang lebih dibanding yang lain, sayang bila kau membiarkan kelebihanmu itu untuk mendampingi pria seusiaku. Jujur aku mengakui bahwa memang aku sangat menyukaimu, tapi kembali lagi aku mempertimbangkan semuanya tentang kita. Aku juga mempertimbangkan bagaimana perasaan kedua orang tuamu tentang kita, aku tahu…semua hal yang mungkin kau belum pernah mengalaminya. Pernikahan itu menyatukan perbedaan dan kesamaan yang sangat komplek dan tidak semua pribadi bisa memiliki penjelasan dan penyelesaian yang sama. Maksudku, saat kita benar benar nantinya akan menikah, aku tidak ingin ada penyesalan darimu!”
“apa kau sudah selesai?” aku tekankan suaraku pada intonasi yang lebih tinggi dengan muka yang sangat datar.
“sebenarnya masih banyak, aku juga mempunyai anak yang usianya nyaris sebesar dirimu. Jujur aku belum siap bila harus berterus terang padanya mengenai kita, aku malu, aku bingung bagaimana caranya nanti aku berbicara. Aku bingung harus memulai darimana. Aku…aku hanya tidak bisa mengatakan semua yang aku pikirkan dengan mudah nantinya. dan menurutku kau lebih pantas menjadi menantuku daripada istriku, andai kau mengenal putraku!”
“Irsan aku mohon, jujurlah tentang perasaan kita. Dan aku mohon dengan sangat percayalah pada ketulusanku. Aku mencintaimu tanpa syarat, aku tidak melihat secara fisik, meskipun tidak dapat aku ingkari bila pesonamu luar biasa menyerang sejak pertama kita bertemu” aku terdiam beberapa saat, aku enggan untuk mengatakan kejujuran mengenai Erick. Cuma aku tidak ingin mengawali hubungan dengan suatu kebohongan yang nantinya akan menyulitkan kami.
“lantas, kenapa sekarang kau diam!”
“emm..tidak..”
“apa kau mulai sadar?”
“apa yang kau katakan?” bahunya terangkat dengan tangan yang pasrah, lalu dia berdiri menghampiriku di teras. Aku menunduk karena bingung, apakah ini waktu yang tepat untuk berterus terang. Lengannya menarik bahuku, kami bertemu dengan tatapan mata yang sama tajam, seakan akan mata itu berbicara agar aku mengakui semua hal yang sudah aku lakukan. Pandangan itu menuntut. Aku merasa lemas tidak berdaya, aku takut angin yang kencang meniup rambutku, nantinya akan begitu mudah untuk menjatuhkan tubuhku ke dasar bumi yang gelap tanpa pertolongan.
“katakan, karena aku sudah mengakui semuanya tanpa ada yang aku tutupi!” kalimat itu membuatku ngeri dan ingin menelan ludah hingga tenggorokan ini kering.
“San,…awal kita bertemu aku sama sekali tidak sedang menjalin hubungan dengan seseorang, tidak mudah menggantikan kedudukan pemilik sapu tangan yang bersemayam dihatiku dengan pribadi lainnya, hingga saat itu aku menyadari dengan rasa takut dalam bayanganku, dimana aku menganggap kau adalah pria yang berkeluarga dengan seorang wanita hebat yang sangat membuatmu mencintai wanita tersebut, aku takut bila cintaku nantinya bertepuk sebelah tangan, apa kata orang bila aku merebut suami orang. Apa kata orang kalau aku merampas seorang ayah dari tangan seorang anak. Aku menunggu…menunggu dan selalu menunggu. Hingga aku memutuskan tidak mungkin lagi Tuhan mempertemukan kita kembali. Beberapa waktu kemudian, seorang pria muda yang belum pernah aku jumpai telah datang menghampiriku lalu membelai cintaku dengan sebuah pengakuan kalau dirinya sekampus denganku dan sudah sangat lama dia memperhatikan aku, berjalannya waktu kami semakin dekat dan mencoba belajar memahami apa yang sesungguhnya dia inginkan. Dia datang dengan berani dan santun mengatakan apa yang sesungguhnya dia alami bila sedang dekat denganku…emmm..”
“aku masih mendengarkanmu sayang!”
“yah saat itu aku mulai bisa menyukainya, walaupun pemilik sapu tangan itu masih merajai hatiku. Aku selalu ingat padamu , tapi aku selalu mencoba membunuh ingatanku tentangmu, segala daya upaya aku lakukan tapi semakin aku melawan semakin jelas wajahmu terlihat seperti bayangan dalam cermin. Aku mencoba untuk tenang walaupun sesungguhnya aku sangat terpuruk. Aku ingin mencarimu, tapi kemana? Aku ingin..ingin sekali. Dan saat kita bertemu di bandara untuk yang ke dua kalinya, saat itu aku baru saja mengantar kekasihku dan melepas kepergiannya ke jenjang master yang dia inginkan, sekarang dia sedang menempuh ilmu di amerika. Bukan maksud aku mengkhianati salah satu diantara kalian. Please aku hanya tidak mau nantinya aku menyesal karena tidak mencintaimu”
“terimakasih kau sudah mau jujur, tapi pertimbangkanlah kembali, aku merasa kekasihmu sangat begitu luar biasa”
“ya, aku tahu, dia sangat mencintaiku apa adanya. Hanya saja aku tidak mencintainya sebesar cintaku padamu bahkan saat sebelum kita bertemu kembali aku sudah sangat mencintaimu” kalimatku membuat kami terdiam, hanya angin yang bertiup yang menyisakan suara kencang dengan campuran berbagai suara klakson kendaraan yang lalu lalang, bahkan terdengar juga suara suara sumbang lainnya. Dia hanya diam seperti berfikir keras, aku merasakan ototnya yang mengejang,pelukan itu terasa lebih erat menyesakkan dadaku, hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata. Air mata inipun menetes pada kulit tangnnya, hingga dengan cepatnya dia membalikkan tubuhku, lalu menciumku, ciuman itu begitu hangat sangat hangat dan begitu sempurna, aku tidak mau menyia nyiakan semua ini, aku tidak tahu bagaimana caranya menolak. Ini terlalu mudah untuk aku terima dan sayang bila aku melewatkan begitu saja tanpa aku tahu kapan lagi dia mau menciumku kembali.
“sayang, aku tidak tahu harus memerintahkanmu bagaimana, hanya saja aku ada satu permintaan, tolong jangan permainkan hati kami. Aku tahu, kamu harus berbuat bagaimana. Aku menunggumu dengan pilihan keputusan apapun. Apapun itu, aku pasti akan menghormatinya. Dan selama kau yakin dengan segala keputusanmu itu benar”
Sejak kejadian malam itu, aku semakin yakin akan pilihanku dnegan segala resikonya. Aku harus mengatakan pada Erick kalau aku sudah menemukan cinta sejatiku yang pernah dulu aku katakan padanya. Hanya saja aku masih belum bisa tahu bagaimana cara memulai mengatakannya. Hingga Robby harus turun tangan mengatakan itu semua. Aku tidak mau tahu apa yang di katakan Robby padanya, tiba tiba saja Erick tidak lagi pernah menghubungiku sejak saat itu. yang dia katakan padaku terakhir kalinya adalah ‘SESEGERA MUNGKIN SAAT AKU TIBA DI INDONESIA AKU AKAN MENEMUIMU’. Aku tidak tau apa arti dari semuanya. Tapi aku mulai bisa bernafas lega. Kini Robby semakin akrab dengan sepupuku, bahkan Ibu mengatakan kalau keluarga kami akan segera mengadakan pertemuan. Akupun tidak ingin ketinggalan untuk memperkenalkan Irsan secara resmi. Awalnya ayah merasa keberatan dengan ini semua, bersyukur karena sekarang Ibu selalu mau mendukungku bahkan membantu hubungan kami untuk lebih mengenal secara dekat masing masing. Kerja keras ibu membuahkan hasil, pria yang harusnya menjadi teman seumuran ayah, kini justru menjadi sosok calon menantu dan mertua. Mereka harus belajar mengakrabkan diri demi aku, harus menjaga sikap demi aku, bahkan mungkin ayah harus berpura pura senang dengan Irsan untuk menyenangkan hatiku. Karena yang aku tahu, ayah sangat menyayangi Erick, bahkan aku pernah memergoki Erick menelphone secara pribadi di nomer ayah.
Irsan juga memperkenalkan aku pada Ibunya yang masih sehat, wajah mereka seperti tidak jauh berbeda dilihat dari umur dan penampilan, mereka lebih cocok dikatakan sebagai adik dan kakak, daripada ibu dan anak. Ibunya sangat ramah dan begitu anggun. Aku berkenalan dengannya di sebuah acara makan siang di hotel tempat Irsan bekerja. Awalnya aku begitu terasa aneh dan kaku dengan model pertanyaan yang diajukan oleh ibunya, tapi setelah aku sadar dengan kekhawatirannya, aku mulai bisa masuk dalam kehidupannya dengan begitu mudah. Inti dari kekhawatirannya hanyalah, seorang ibu tidak ingin melihat anaknya dikhianati lagi oleh seorang wanita, terlebih wanita itu masih semuda aku. Dan setelah di yakin akan ketulusanku, ibunya begitu mudah menceritakan semua hal tentang anaknya, bahkan cucunya. Aku jadi penasaran untuk bertemu dengan calon anak tiriku. Disuatu hari percakapan kami, ibunya menceritakan padaku, kalau dirinya baru saja mendapat telephone dari cucunya yang mengatakan tentang perasaan yang bahagian dengan sangat, bahwa ayahnya sudah mulai membuka hatinya lagi untuk seorang wanita. Dan seharusnya ayahnya mau melakukan itu sejak dulu, hingga dia tidak perlu kehilangan figure seorang ibu. Aku tersenyum, berita itu seperti sanjungan dan pujian yang sangat membahagiakan aku dan membuatku malu. Secara mental aku belum sepenuhnya siap bertemu dengan putranya Irsan yang kata mereka berdua umurnya tidak jauh berbeda denganku. Irsan juga sering menceritakan tentang kenangan bahagian yang selalu mereka berdua lewatkan, semua moment diantara mereka bernilai cukup mahal, karena waktu yang tidak banyak mereka miliki. Mereka berdua lebih sering berbeda Negara untuk melakukan aktifitas masing masing. Hanya Seorang wanita tua saja yang mempunyai gelar ibu yang bisa menjadi jembatan untuk menghubungkan sosok ayah dan anak lelakinya.
Tapi suatu hari aku melihat Irsan murung saat mendengar kabar, bahwa putranya tidak lagi bersemangat untuk melanjutkan studi masternya seperti rencana awal, kabar yang aku dengar, putranya juga tidak ingin terburu buru untuk kembali ke tanah air. Setelah aku amati cerita mereka aku juga merasa jengkel dengan wanita itu, aku tidak tahu masalah mereka tapi naluri keibuanku muncul begitu saja saat calon anak tiriku dikecewakan oleh seorang wanita. Meskipun aku belum pernah mengenal sosoknya. Sore ini aku mengunjugi Irsan di kamar hotelnya melalui seorang resepsionis. Dan wanita itu menyapa dengan ramahnya dari balik meja granit yang berwarna coklat muda. Yang lain hanya mengikuti senyumku saat aku menghampiri mereka
“selamat sore Bu ?”
“sore, maaf saya ingin bertemu dengan Chef Irsan di kamar 721”
“mohon ditunggu sebentar, Bu” tidak ada yang harus aku lakukan selain tersenyum dan menunggu, wanita itu sepertinya sedang menghubungi Irsan. Mungkin dia belum pernah bertemu denganku jadi harus ada pengecekan data. Nyaris apa yang dia katakan tidak bisa aku dengarkan. Nadanya terlalu pelan dan sopan.
“terimakasih sudah menunggu, baik Bu sebentar lagi Chef akan turun,kalau tidak keberatan anda bisa menunggunya di lobby”
Kami saling menggangguk. Seorang pelayan lobby menghampiriku untuk menanyakan pemesanan. Aku hanya menggeleng, karena aku tidak memerlukan apa yang sedang dia tawarkan. Hingga beberapa saat kemudian , Irsan muncul begitu saja dari arah balik kursiku,
“sudah lama? Baiklah kita langsung saja ke kamarku!” irsan memanggil waiter yang tadi menghampiriku, aku juga tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tiba tiba saja Irsan kembali menghampiriku “tolong jangan sampai satu jam , oke thanks!” sepertinya dia sedang mengingatkan sesuatu.
“apa kau sangat sibuk hari ini!”
“tidak,aku sudah selesai sejak tiga jam yang lalu, hanya saja aku belum ingin kembali untuk beristirahat kalau tidak ada dirimu” wah senangnya mendengar kalimat itu.”oh sebentar sayang, aku sepertinya ada yang tertinggal didapur. Tadi sudah mau kubawa tapi sepertiya aku terlalu terburu buru, apa kau mau ikut atau langsung ke kamarku”
“emm, biar aku tunggu dikamarmu saja”
“ini kuncinya! Aku akan segera menemuimu”
Baiklah! Kataku dalam hati, dengan gontai aku berjalan hingga sampai ke tempatnya, dan begitu masuk emmm kamarnya cukup harum seluruh ruangan. Jika aku mencoba mengingatnya, ini persis seperti aroma teraphi yang diberikan oleh istri baru ayahku. Hanya saja aku lupa apa namanya aroma ini. Aku menyukainya, tempat tidurnya cukup rapi. Tidak serapi kamarku. Tentu saja karena room service sudah membuat kamar ini menjadi rapid an nyaman. Lemari esnya penuh dengan isi buah dan sayuran. Juga beberapa ikan dan daging segar. Sepertinya dia lebih suka memasak sendiri daripada memesan masakan. Rak bukunya juga tertata rapi meskipun tidak terlalu banyak koleksi buku sebanyak koleksi film yang dia miliki. Hampir seluruh ruangan aku perhatikan, hanya sekedar mencoba untuk lebih mengenali kekasihku. Walaupun status kami belum resmi untuk dikatakan sepasang kekasih. Hingga aku merasa cukup untuk ini semua ,maka aku membaringkan tubuhku diatas ranjang yang begitu empuk dan tinggi dengan bergaya dinamis minimalis. Ranjang ini juga lebih empuk daripada ranjang baru ayahku atau bahkan untuk ukuran kenyamanan ranjang milikku dan Robby. Ini membuatku terasa nyaman hingga terasa mengantuk. Mata ini ingin sekali terpejam merasakan kenyamanan bantal bulu angsa yang sempurna.
Entah sudah berapa lami aku terbaring ditas ranjang miliknya, dan ketika aku terbangun, Irsan sudah sangat rapi dengan wangi yang maskulin. Sibuk mengganti channel televise, tersenyum saat menyadari kalau aku sudah terbangun.
“hei…mimpi indah sayang?” aku hanya menggeleng “kau sepertinya terlihat begitu letih, bagaimana kerjaanmu dikantor! Untung saja aku tidak terkunci dari dalam”
“maaf”
“tidak masalah, aku juga minta maaf karena tidak menyadari kalau dirimu terlalu lelah. Sebenarnya aku tadi mengambil shark soup untuk kita nikmati bersama selagi panas. Tapi yah, karena aku melihatmu sudah tertidur, aku tidak tega untuk membangunkan”
“kalau begitu, biar aku saja yang memanaskan soup itu”
“ah tidak, tunggu saja di meja makan, aku akan menyiapkannya untukmu!” Irsan segera bergerak ke dapur untuk memanaskan soup-nya, sebelumnya aku belum pernah makan soup jenis itu, meskipun itu sudah begitu familiar di telingaku.
“apa kau yang membawa fruit cake? Emmm kelihatannya cukup lezat”
“yah, ibuku yang membuatkannya untukmu!”
“benarkah?”
“apa aku terlihat berbohong!”
Tidak ada acara spesial selain menikmati makanan kami. Cukup mengenyangkan walaupun tanpa nasi. Kami mulai dekat dan mulai saling berani membelai rambut, bahkan aku lebih sering mendahului mencium bibirnya yang sexi, sayang bila keindahannya tidak aku nikmati. dia juga tidak pernah ada keinginan untuk menciumku. Jadi aku harus memulai memprovokasi keadaan agar dia lebih sedikit lebih berani menantangku. Aku tahu dia pria yang tidak mudah terpancing oleh rayuan, tapi aku juga bukan orang yang mudah menyerah untuk mematahkan pendiriannya. Seperti apa kata pepatah pria bagaikan seekor kucing yang bisa berubah nafsu bila ada seekor ikan segar ada dihadapannya. Jadi apa salahnya bila aku selalu ingin mencobanya.
“emm, aku suka bila kau mau melayani ciumanku. Ini selalu menjadi moments yang luar biasa untukku”
“benarkah?” nadanya terdengar tidak yakin dengan mengerucutkan mulutnya
“apa kau sama sekali tidak memliki nafsu saat berdekatan denganku, yah minimal lebih dari sekedar menyentuh telapak tanganku!oke. tentu ini kedengarannya tidak terlalu sopan…vulgar. Hanya saja kau harus membiasakan hal seperti ini. Kau calon suamiku”
“emm…ehh..aa, sebenarnya ini adalah hal yang tersulit yang harus aku lakukan. Kau tahu itu, tidak mudah bagiku untuk menghindarimu dengan beberapa kontak fisik yang sering kau lakukan. Itu siksaan” jari manisnya menghentikan mulutku saat aku hendak menyahut. “kau tahu, pria manapun yang sedang mengamatimu pastinya tidak akan rela membiarkan kau berlalu dari hadapannya begitu saja. Sama sepertiku, akupun menginginkan lebih dari yang kau lakukan, semua yang ada dalam dirimu bagaikan magnit yang siap menarikku kapan saja untuk melakukan hal hal yang menuruku tidak terpuji kalau kita melakukannya saat ini. Tunggulah sayang, bersabarlah… percayalah semua akan terasa benar benar indah saat kita menjadi pasangan suami istri nanti”
“aku tahu, tapi terkadang aku butuh sedikit ciuman yang bisa menenangkan jiwaku saat kita bertemu, menurutku itu romantis”
“Maurin, aku mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu. Tolong Bantu aku untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa aku lakukan saat ini. Bantulah aku menghindari dosa kecil, sekecil apapun itu. aku berjanji, kau akan selalu mendapatkan ciuman dariku. Tapi tidak se-hot yang kita lakukan barusan!”
“he em”
Mengamati percakapan kami barusan aku semakin memiliki keyakinan baru kalau aku tidak salah dalam memilih calon suami. Aku tahu ini tidak mudah bagi kami tapi aku percaya selama kami berdua bersama maka selama itu pula kami bahagia dalam kondisi apapun. Aku semakin ingin lebih mengakrabkan diri pada semua keluarganya, Irsan juga berjanji akan segera memperkenalkan aku pada putra semata wayangnya. Aku hanya harus bersabar untuk beberapa waktu lagi.
Malam ini ayah meminta, agar semuanya berkumpul, kami lama sekali tidak makan malam bersama, kami sedikit punya waktu antar keluarga. Terutama aku yang sering mendapat sindiran dari ayahku sendiri. “puteri ayah sekarang terlalu sibuk dengan rutinitas barunya” itu memeliki arti yang dalam, karena sekarang aku memang suka sekali menghabiskan waktu berdua bersama Irsan. Terutama setelah Irsan sudah meminta izin pada kedua orangtuaku untuk menjalin hubungan ke tahap yang lebih serius. Tapi tidak sepenuhnya benar, karena Robby sendiri juga sering keluar kota urusan pekerjaan, kalaupun dia sedang di Surabaya, maka waktunya akan dijual untuk mengencani Ratna, issue terakhir kata orang tua kami hubungan mereka berjalan lebih dekat, orangtua ratna juga sudah pernah main kerumah untuk obrolan yang mulai serius. Jadwal malam ini adalah makan malam bersama keluarga di rumah dengan menu spesial penuh dengan kerinduan. Ayah dan ibu sibuk membaca majalah dan Koran diteras belakang. Aku dan Roby mengobrol berdua diatas genting yang tidak terlalu curam. Ini mengingatkan kami pada kenakalan saat usia kami masih dikatakan kecil. Kami mengintip orangtua kami yang sedang memadu kasih duduk berdua.
“hei…ini jagung bakarmu!”
“yah persis saat kita masih kecil yah! Aku suka sekali duduk diatas kamarmu seperti ini, dan selalu bersembunyi dibalik gordyn kamarmu bila mereka berdua melihat kita” aku mengangguk, aku menggeser duduk lebih dekat menyandarkan kepalaku pada bahunya. Robby spontan merangkulku dengan tangan kirinya sambil menikmati jagung bakar yang kita nikmati bergantian “emm kau tidak memakai butter ya?” nadanya seperti protes.
“habis, ibu hanya menyimpan mentega di dapur! Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Ratna? Kau lama tidak menceritakan sesuatu tentang wanita itu padaku?”
“cemburu?” pertanyaannya terdengar menuntut.
“yah, karena kau tidak pernah melakukan dengan wanita manapun sebelum ini”
“aku sudah katakan sedari awal, kalau kau mencintaiku harusnya kau katakan dari dulu, kalau sekarang baru kau katakan kedengarannya sangat terlambat”
“bukan itu maksudku, kau masih sama seperti dulu. Apa belum berubah?”
“apa kau butuh jawaban pasti atau kebohongan saja!”
“lupakan, kau tidak ingin merusak kebersamaan kita malam ini”
“bagaimana koki masakmu itu. kata mereka kau nyaman dalam pelukannya!”
“aku tidak percaya kalau orangtuaku mengatakan seperti bahasa yang sudah kau gunakan”
“yah, aku minta maaf sudah kasar denganmu”
“tidak masalah, aku mengenalmu!”
“tadi..kau menanyakan tentang Ratna!” aku mengangguk saat Robby terdiam, kami menatap dan menghitung bintang seperti dulu lalu menundukkan kepala bila kami tidak bisa menyelesaikan hitungan “sejujurnya, aku tidak terlalu mencintai Ratna, dia hanya sebagai media buatku untuk melupakan bagaimana cara aku mencintaimu seperti kekasih agar mau berubah tumbuh rasa cinta kepada adikku sendiri!”
“Robb!”
“hehemm…jangan khawatir aku tidak akan meneruskan niatku untuk mencintaimu seperti dulu, terlebih lagi karena kita sudah dipersatukan dalam pernikahan kedua orangtua kita. Tapi Mou… Ratna bukan pengganti yang pas untuk menggantikan posisimu dalam hatiku. Dia…dia tidak sepandai ataupun selincah dirimu, dia terlalu pasif, aku tidak suka itu. intinya hatiku belum benar benar bulat untuk aku serahkan padanya dalam sebuah altar perkawinan. Pastinya kau tahu kenapa aku lebih memilih tinggal diluar pulau daripada di kota ini”
“aku tahu, itulah yang aku pikirkan, tapi sepertinya mereka berdua tidak tahu tentang perasaanmu pada Ratna yang sejujurnya. Robb..”
“yah…!”
“sejak semalam aku kembali memikirkan Erick”
“kau menyesal?”
“tidak..tentu saja tidak, aku hanya tidak tahu bagaimana caranya agar bisa menjelaskan ini semua, aku tidak tega untuk mengatakannya, kau tahu bulan kemarin dia memberiku sebuah kado. Cincin itu terbuat dari beberapa potongan bagian pergelangan jam tangan, warnanya silver crom. Dan itu sangat cantik walaupun daur ulang. dibaliknya terukir aku masih mencintaimu. Tidak sengaja aku menitikkan air mata!”
“apa kau sudah membuka kadoku?”
“yah aku sudah memakainya, sangat mewah. Terimakasih ya Rob, pasti celanamu sekarang berlubang”
“tentu saja, syukurlah kau sekarang tahu kalau aku seorang pria miskin bulan ini” aku tertawa begitu mendengar ocehannya. “tutup mulutmu, diamlah! Aku kira kau tadi menangisi Erick, ternyata palsu”
“aku serius!” aku ganti berteriak
“yah kau sekarang tahu bukan bagaimana kondisiku untuk kembali netral seperti dulu! Sebenarnya aku pikir kalau kau ini memang bodoh. Erick sangat tampan dan pintar, lantas kenapa kau mau saja dikencani dengan pria tua setua Irsan. Yah aku akui kalau dia masih tampan, hanya saja apa kau tidak punya selera dengan yang muda seperti aku dan Irsan atau bahkan Temmy anak gubernur yang pernah kau kenalkan dulu!atau si Yudhi barangkali bisa” yang bisa aku lakukan hanyalah diam lebih berfikir rasional, kesempatan Robby untuk meledekku habis habisan hingga aku menjadi terasa lapar dan ingin pinsan. Aku pura pura saja lebih terlihat lemas, agar mulutnya yang mengoceh itu mau berhenti.
“hehh…turunlah kalian dari atas sana , makan malam sudah siap. Pasti rasanya akan tidak enak kalau sudah dingin!” teriak ayah dari bawah.
“siap ayah” kami masih kompak bahkan saat kami tertawa. Aku berlomba berlari hingga dia hampir saja tersungkur ke lantai saat mengejarku menuruni tangga. Mereka hanya menggeleng melihat kelakuan kami yang masih seperti anak kecil.
“kalian masih saja sama seperti dulu” ibu terdengar mengoceh, melihat anaknya yang hampir saja tersungkur.
Kamis siang Irsan datang ke tempat kerjaku untuk makan siang bersama di restaurant milik temannya. Ternyata saat kami datang, ada seseorang yang menghampiriku dan membuatku terkejut, aku merasa sedikit kesal saat dia mengingatkan aku pada Erick. Antara rasa malu kesal marah dan juga merana bila ada seseorang yang mengingatkan hubungan kami, terlebih saat aku bersama Irsan. Namanya Rani, kami tidak terlalu akrab. aku hanya mengerti dan sekedar tahu tentang dia. Ternyata Rani adalah anak pemilik restaurant ini, terpaksa aku dan Rani pergi menikmati menu lunch ke sudut meja memisahkan diri dari kedua pria tersebut untuk berbagi cerita yang membosankan. Terlebih irsan dan ayah Rani sedang berbicara mengenai pekerjaan, dan tiba tiba saja.
“Maura…kau masih cantik bahkan awet muda sama seperti saat kita kuliah dulu?” Rani mengamatiku, aku tidak suka dengan gayanya yang berlebihan. Aku dihujani pujian yang sepertinya tidak terlalu tulus. Dia juga salah menyebutkan namaku
“ahh, kau bisa saja. Kau juga tambah cantik?” pujiku.
“bagaimana kabar Erick? Emm apa pria itu meminjam dana dari perusahaanmu?”
“siapa!”
“pak Irsan”
“oh…emm tidak juga, aku hanya menemaninya makan siang! Erick baik saja, dia sedang di amerika, sebentar lagi dia juga akan segera pulang ke tanah air” aku sesungguhnya tidak yakin dengan apa yang baru saja aku sampaikan pada Rani. Tapi aku tidak ingin dia curiga. Aku sengaja membiarkan dia untuk terus berfikir kalau aku masih menjadi kekasih Erick.
“wahh,kalian berdua romantis sekali ya, jangan lupa ya kabari aku kalau kalian nanti menikah, emmm sebenarnya aku masih suka mencari informasi tentangnya, hanya saja aku tidak pernah tahu dari dia langsung kalau kalian masih berkencan. bahkan dia selalu enggan bila aku menanyakan dia hidup dimana, hanya smile emoticon di Y-mail saja yang suka dia kirimkan padaku”
“begitu ya! Kau juga awet muda dan masih bersinar seperti dulu, bahkan tubuhmu lebih terlihat sexi!”
“oh ya. Pasti karena aku rajin menjaga kesehatan pola makan dan hidup yang cukup sehat. Aku mengikuti kelas dansa seminggu dua kali, mereka mengajariku tari salsa, belum lagi aku juga mengikuti olah raga capuera! Kau tahu, apa itu capuera!” aku hanya tersenyum saat dia berapi api menceritakan kesibukannya. “kau bekerja dimana?”
“apa? Aku! Oh aku di perusahaan perbankan milik pemerintah daerah!tapi seblumnya aku bekerja di sebuah perusahaan ekspor import”
“wah, pastinya gajimu lumayan ya!”
“ah tidak juga, sepertinya pengusaha seperti ayahmu dan kamulah yang lebih terlihat hebat dan cukup kokoh di bidang financial!” nadaku terdengar merendah dan datar, aku mencoba untuk meninggalkan dia di meja sendiri “sorry , aku ingin sekali ke kamar kecil!”
Aku pergi begitu saja di toilet, aku mengirimkan pesan singkat untuk Irsan agar dia mau secepatnya membawaku pergi dari tempat ini, aku terpaksa menelphonenya beberapa kali. Lalu aku menghampiri mereka dan duduk disebelah Irsan.
“hei, maaf kau lama menunggu” matanya memutar ke arahku lalu kembali “maaf pak, untuk pembayarannya akan saya transfer setelah pengacara saya selesai dengan surat surat penting ini!” nadanya serius, aku melihat sebuah map tebal berwarna hitam dengan beberapa lembar kertas putih dengan tempelan materai dan stempel. Aku tersenyum dan menjabat tangan seorang pria yang telah mendahuluiku.
“baik kami mohon pamit, terimakasih” sahut Irsan
“senang berbisnis dengan anda! Hati hati pak, saya harap lain waktu anda tidak perlu sungkan untuk menemui atau menghubungi saya perihal sesuatu yang kurang jelas!” mereka saling mengangguk. Sang tuan rumah mengantarkan kami hingga ke area parkir mobil. Ternyata mereka berdua sedang berbisnis. Kata Irsan dia ingin sekali membuka sebuah café lengkap dengan berbagai menu dan minuman plus ada panggung untuk manggung para band yang akan meriahkan cafenya nanti. Semacam live show. Aku setuju dengan idenya, dia ingin sekali membuka usahanya sendiri, karena sudah merasa capek untuk pindah pindah kerjaan, Irsan merasa ilmunya sudah cukup untuk membuka sebuah lapangan kerja baru persis dengan yang dia harapkan, Ricko putranya telah mengirimkan lay out restaurant untuk ayahnya. Dari gambar yang aku amati, pasti tempat ini akan sangat terlihat berkelas, karena Ricko mengusung budaya campuran barat dan timur.
“bagaimana menurutmu, denah rumahnya?”
“bagus, dari keterangan yang aku baca, kalau bangunan ini akan dihiasi beberapa ukuran ukiran kayu jati yang kalian pesan dari demak, warna chat dan interior serta model meja kursi yang akan kalian pakai juga cukup cocok. Ada campuran gaya dinamis minimalis, tapi di ruangan lain kalian juga mengusung budaya klasik layaknya kerajaan jawa”
“yah, kau benar. Aku suka unsur perpaduan budaya. Aku ingin gaya bangunannya nanti sedikit dicampuri dengan gaya bangunan model spanyol. Kesannya ada unsur islam dan gereja kuno. Bisa dikatakan kalau nantinya aku juga ingin mengusung model bangunan gaya Byzantium !”
“ohh, sayang…aku sulit sekali menggambarkan sketsanya secara detail!”
“tidak perlu kau lakukan itu, Ricko akan membantuku. Oh ya…bulan depan dia ingin sekali bertemu denganmu”
“aku tidak sabar untuk itu!” kami berlomba melemparkan senyum.
Hari demi hari hubunganku dan Irsan lebih dekat, bahkan kami sering meluangkan waktu untuk mencari beberapa gambar koleksi baju pengantin yang sederhana di beberapa website. Begitu juga dengan cicncin perkawinan yang sednag kami pesan beberapa jam yang lalu. Ayah dan ibuku hanya membantu memberikan saran, maklum saja mereka juga baru saja merayakan pernikahan. Jadinya pasti mereka punya pengalaman dan kesan yang bisa kami jadikan advice. Sebenarnya masih ada hal lain yang mengganjal pikiranku karena sebentar lagi Erick juga akan segera pulang ke Indonesia . Semalam kami baru saja mengobrol lewat chating. Sebenarnya Erick sama sekali tidak menyinggung tentang hubungan kami yang sudah usai, aku hanya risau dengan perdebatanku sendiri, aku masih tidak tega dan tidak berani bila harus bertemu dengannya kembali. Aku merasa menjadi seorang pengecut yang tidak punya nyali. Benar kata Robby dulu, seharusnya aku tidak terburu buru menerima cintanya Erick bila hatiku tidak seutuhnya untuknya. Aku suka menangisi diriku sendiri bila aku sedang mengobrol dengannya. Aku bingung dengan semua yang aku pikirkan meskipun itu tidak berarti kalau aku masih mencintainya. Aku sering tidak menyadari kekalutanku, padahal sekarang Irsan membutuhkan aku lebih banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya, karena ternyata restaurant milik ayah Rani sudah dia beli saat itu, keluarga Rani pindah ke Jakarta untuk membuka usaha baru dibidang textile. Bulan ini juga Irsan sudah secara resmi mengundurkan diri dari hotel untuk membuka restaurant. Banyak teman yang menyayangkan keputusannya. Padahal sang owner baru saja mempromosikannya menjadi seorang GM baru untuk menggantikan tugas Gm yang lama. Tidak ada saran yang bisa aku berikan, karena semua keputusan sudah dia putuskan. Sepulang kerja aku suka menghampirinya di hotel tempat dia menginap, sayang sore ini dia belum ada dikamarnya. aku hanya menunggunya dengan menonton televise saja. Dan sore itu Erick menghubungiku
“halo Maurin”
“Erick!” aku berteriak kencang karena aku memang sangat terkejut, dia tidak salah mengucapkan namaku seperti Rani yang salah ketika menyapaku dengan nama Maura.
“hei…emmm apa aku sedang mengganggu?” dia terdiam untuk beberapa saat.
“tentu tidak, aku sedang beristirahat saja, emmm aku santai menonton televise, apa kabar? Kau dimana! Kapan kau akan kembali!”
“kedengarannya kau sudah sangat merindukan aku yach! Oo… jangan khawatir, aku akan segera terbang ke Indonesia ,karena aku sendiri sudah sangat sengsara saat merindukanmu. Apa nanti kau akan mau menemaniku…hahahhaha! Sayang sekali aku tidak ingin membuatmu takut, dengar! Aku masih menghormati keputusanmu jadi kau tenang saja aku bukan tipikal pria yang suka memaksa!...” tiba tiba saja Irsan sudah duduk dari arah belakangku dan memelukku, bibirnya menyentuh kulit bahuku cukup unutk membuat tubuhku langsung mengejang seperti orang yang sedang menemui ajalnya. Irsan terus saja duduk dibelakangku lalu mencium punggungku, sontak aku lebih terkejut saat menyadari sikapnya tidak seperti biasanya, aku bingung harus bagaimana menjawab panggilan Erick yang terus memanggil namaku.
“Maurin,….maurin…Rin…halo halo, apa kau disana?” dengan tergagap gagap aku menyahut dan menimpali kalimatnya dengan singkat.
“yah…tentu. Aku masih mendengarmu”
“apa kekasihmu sedang bersama denganmu?”
“emmm…tidak tidak”
“tidak…tidak kau berbohong! Baiklah sampai jumpa!” ah untuk pertama kalinya aku merasa kesal dengan Irsan, apa dia tahu kalau itu Erick, jadi dia berusaha membuyarkan konsentrasiku. Astaga kenapa aku tidak menyadari kedatangannya. Sejujurnya aku memang ingin bertemu dengan Erick.
“kenapa kau tutup telphonenya?” aku tidak ingin terjebak dengan pertanyan Irsan yang berusaha menyelidikiku.
“emmm, sepertinya temanku sedang sibuk dengan orang yang ada dibelakangnya!”
“ohh…benarkah!”
“tentu saja!”
Aku mengambil segelas air putih untuk menenangkan syarafku. Mata Irsan terus mengamati tingkahku. Aku hanya berpura pura tidak mengerti, aku bersembunyi di paintry mencari beberapa roti dan selai nanas yang biasa dia pakai. Sebenarnya aku hafal dengan letak benda yang biasanya dia simpan, hanya saja aku tidak ingin buru baru menemukannya. Aku ingin mencarinya ditempat yang lain. Lalu Irsan mendekatiku dan memberi toples kaca yang berisikan selain nanas lengkap dengan parusan parmesan yang biasa aku minta.
“aku tidak mengerti, kenapa tempat yang begini kecil saja kau susah sekali untuk menenukan tempat selai. Padahal letaknya hanya satu meter dari tinggi perutmu”
Aku hanya tersenyum,pura pura bodoh “wajahmu pucat seperti baru bertemu dengan setan!”
“benarkah, apa aku terlihat sakit?” aku bergantian menanyakan apa yang tidak aku sadari.
“tidak sayang, kau hanya terlihat pucat, wajahmu berubah saat kau menyadari kedatanganku” aku terus terdiam, hanya mengolesi roti dengan banyak selai dan keju lalu memanggangnya di dalam toaster. Aku begitu gugup, sehingga aku tidak mau terlihat diam tanpa pekerjaan apapun yang bisa aku lakukan untuk menyembunyikan ketakutanku.
“dengar Maurin, aku tidak masalah dengan apa yang kamu lakukan barusan!”
“apa maksudmu!”
“apa kau tidak tahu”
“memangnya apa yang kau ketahui!”
“baiklah, aku tahu kau baru saja menelphone Erick dan langsung menutup pembicaraan telephone itu saat kau menyadari kehadiranku. Sayang aku bukan pria kolot yang melarang kekasihku untuk mengobrol dengan pria lain ataupun dengan mantan kekasihnya sekalipun. Aku tidak cemburu. Justru aku merasa bersalah,kalau membuat obrolan kalian terputus”
“sudahlah, aku tidak apa apa!”
“dengarkan aku” tangan Irsan menarik tanganku begitu cepat hingga pisau dapur yang ada di sampingnya hampir saja jatuh mengenai kakiku. “sayang percayalah, aku bukan pria pencemburu. Aku mencintaimu dan memberikanmu kepercayaan yang penuh”
“maafkan aku, aku tidak menceritakannya”
“sayang, tadi aku sama sekali tidak tahu dengan siapa kamu berbicara di telephone, aku juga tidak berniat untuk menggodamu, aku tadi sengaja datang mengendap endap untuk memelukmu dari belakang. Hanya ingin sedikit sentuhan mesra saat kita berdua sedang bersama. Maafkan aku” penuh permohonan, menyipitkan mata. Sepertinya dia benar benar menyesal telah membuatku marah.
“dia yang menelphoneku!”
“sudahlah kita lupakan saja kejadian hari ini”
Hari ini aku tidak ingin bertemu dengan siapapun selain anggota rumah. Aku mulai stress, dua hari terakhir Irsan tidak bisa menemuiku, dan kalau aku memaksa untuk bertemu, aku harus mengunjungi tempatnya. Aku tinggal dirumah sendiri,meskipun Robby berjanji akan segera pulang sore nanti, ayah dan ibu sedang pergi mengunjungi saudara di denpasar sejak lima hari yang lalu. Dirumah aku hanya tinggal dengan seorang pembantu muda yang ternyata sibuk berkencan dengan pegawai tetangga sebelah, aku mengamati mereka dari teras atas, mereka hanya duduk berdekatan dengan makan gorengan dan membawa sekantong plastic es teh di tangan mereka masing masing. Mereka berdua masih sangat terlihat muda. Mereka bercanda tanpa suara hanya suara tawa yang datang tiba tiba diantara mereka dan terdengar keras, tapi tidak ada yang mengganggu mereka. Aku jadi teringat sama Erick yang suka duduk ditempat yang mereka duduki. Dulu dia suka bermain basket bersama Robby, dan saat letih Erick lebih memilih duduk diatas trotoar yang ada di depan rumah, kakinya selalu digosokkan pada rerumputan itu baru dicuci dengan air yang sudah diberi sedikit garam. Kebiasaan buruk itu selalu dia lakukan setiap dia habis berolah raga. Satu lagi kebiasaan yang tidak pernah aku lupakan, kalau dia suka sekali membawa sekotak garam untuk mencuci kakinya selepas berolah raga. Andai saja aku bertemu dengannya lebih awal pasti aku tidak membuat hatinya terluka seperti ini, dan seandainya aku tidak pernah bertemu dengannya mungkin dia juga tidak akan seperti ini, sehingga aku tidak perlu merasa terlalu berdosa telah menyakitinya. Saat Robby menghubungiku dan mengatakan kalau dirinya tidak bisa pulang dalam minggu ini, tapi ayah dan Ibu akan segera pulang sore ini. Rasanya aku ingin marah pada semua orang kenapa aku tidak lagi diperhatikan seperti dulu. Aku membanting tubuhku di atas ayunan yang sudah dilapisi dengan busa. Karena aku merasa tidak ada hal yang lain yang bisa aku lakukan, aku memutuskan untuk pergi menemui Irsan. Tentu malam ini dia tidak ada di hotel, dan kemungkinan dia sedang ada di tempat barunya. Aku memarkirkan mobilku di bawah pohon, aku enggan masuk kedalam, semua karyawannya yang lelaki berkumpul di sebuah meja, sepertinya mereka sedang breafing.
“aku masih meeting, nanti aku akan menghubungimu!” suaranya terdengar kaku,saat aku mencoba unutk menelphonenya.lalu dia menutup telphoneku begitu saja, sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku, padahal dari dalam mobil aku begitu jelas mengamatinya dari jauh, dari arah paintry ada dua orang wanita yang berpakaian seragam menghampirinya, salah satu diantara mereka menumpahkan gelas minuman yang dia bawa mengenai bajunya. Spontan dia langsung berdiri, dan wanita itu menyatukan kedua telapak tangannya dengan memasang wajah penuh permohonan maaf, hari terakhir saat aku mengunjungi restaurantnya. Aku sudah merasa kurang suka dengan wanita itu. aku merasa wanita itu terlalu genit bila Irsan melewatinya. Intinya malam ini aku cemburu memperhatikan setiap detail kejadian barusan. Irsan terlihat marah lalu memmanggil salah satu captain untuk melanjutkan tugasnya, pergi meninggalkan ruangan. Sesampainya di teras, Irsan kembali menghubungiku.
“sorry sayang, tadi aku sedang memberikan pengarahan, aku akan segera ketempatmu”
“yah, tapi itu tidak perlu. Lihatlah kedepan karena mobilku sudah terparkir tepat di arah kanan sebelah mobil accord warna putih yang ada di bawah pohon” dia mencari ciri mobil yang baru saja aku sebutkan
“baiklah, aku tahu kau dimana” nada suaranya terdengar kesal begitu juga raut wajahnya yang terlihat sedikit marah, aku yakin itu ada hubungannya dengan kejadian yang baru saja aku lihat. Langkah kaki dan tangannya berayun begitu cepat dan bergantian hingga hanya dalam hitungan detik dia sudah sampai didalam mobilku. Dan mendaratkan bibirnya pada pipi kananku.
“kenapa kau tidak masuk saja?”
“tadi aku sudah mencoba, tapi sepertinya kau keberatan!”
“kapan aku mengatakannya…ooo, tadi! Maaf aku tidak tahu kalau kau sudah ada didepanku”
“kau mau kemana?atau mau aku antar kemana”
“terserah!”
“bagaimana kalau aku membawamu ke tempat hiburan stripstis” aku tertawa saat mengatakannya, tapi wajahnya mendadak marah dan ingin muntah. Sepertinya dia tidak menyukai tarian wanita nakal seperti itu “setahuku,kebanyakan pria menggemari jenis tarian seperti itu!”
“aku tidak termasuk salah satu diantara mereka yang menggemari hiburan wanita murahan yang mereka sebut pelacur!”
“oke, baiklah aku tahu kau marah, aku hanya tidak mau menjadi pelampiasan kemarahanmu”
“sayang, aku tidak marah denganmu, kau hanya mencoba menjelaskan kalau aku tidak menyukai hal semacam itu. jadi kumohon tolong jangan salah persepsi”
Aku masih tertawa saat aku menguhubungi ayahku. Irsan hanya menyuruhku berpindah tempat, dia kurang suka bila saat kami berdua aku yang menyetir mobil. Lalu membuang baju kemejanya ke belakang, dan dia hanya mengenakan kaso dalam berlengan dan terlihat tipis dan lentur. Ohh…itu snagat menggoda nafsuku. Hingga sedikit menggambarkan bayangan fantasi yang panas.
“kau ini kenapa masih di jalan malam malam begini, jangan katakan pada ayah kalau kau sedang menyetir sendirian” ayah terdengar marah, hingga terus mengomel dan membuatku kesusahan saat menjawab pertanyaannya.
“ayah, aku baru saja dari tempat Irsan dan sekarang aku ingin pulang, dia sedang bersamaku.jadi ayah tenang saja ,oke!”
“oh, ayah lega mendengar itu”
“apa ayah ingin berbicara dengannya” aku menyakan pada ,mereka berdua, spontan ayah mengatakan tidak berulang kali, dan kepala Irsan menggeleng begitu keras. Aku tahu alasan mereka sungkan saat mengobrol.
“ayah, aku hanya minta Izin kalau aku mengajak Irsan tidur dirumah, dan dia akan menggunakan kamar tamu. Aku takut dirumah sendirian, terlebih Robby tidak jadi pulang malam ini”
“baiklah, jangan lupa kalian harus jaga sikap dan tata krama”
“hmmm!”
Jadi malam ini untuk pertama kalinya Irsan resmi tidur dirumahku. Aku menata kamar tamu yang kosong untuk dia gunakan beristirahat, kamar ini sedikit lebih besar dibanding kamar yang lainnya, karena sesungguhnya kamar ini adalah ruangan bekas garasi mobil kami. Ayah memfungsikan tempat ini, sejak ayah menikah. Rumah milikku dan Roby di rombak dan digabung menjadi satu bentuk rumah baru. Begitu masuk kamar, Irsan langsung begitu saja menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, aku mengamati perubahan wajahnya, meskipun aku tidak menunjukkan itu. sepertinya ada yang salah dengan ranjang tidurnya, oh tentu saja, ranjang dikamar ini meskipun terbilang baru, pastinya tidak akan senikmat ranjang hotel yang biasa dia gunakan.
“aku tinggal sebentar ya, aku akan mencuci bajumu yang terkena noda!” aku hanya mendapat satu kecupan agar aku segera meninggalkan kamarnya. Aku bergegas mencarikan piyama ayah yang bisa dipakai untuknya malam ini, lalu mencuci semua bajunya agar bisa dia gunakan besok pagi.
“biar saya yang mencucinya non!”
“apa kau tidak ngantuk, tidak apa apa ini tidak terlalu banyak. Kau istirahat saja sana !” aku menyuruh Ika pergi, tapi anak itu masih saja ingin mengerjakan semuanya. Aku kasihan kalau sampai dia keletihan melakukan pekerjaan rumah sebanyak ini.
“saya cuman duduk dan menunggu cucian ini selesai non, nanti biar bisa langsung saya jemur dan rapikan pagi pagi.
“baiklah, aku mau mandi dulu ya!”
“iya non!”
Aku meninggalkan Ika sendiri di tempat cucian tanpa menunggu dia menyelesaikan kalimatnya, aku merasa cukup gerah saat di dalam mobil, sepertinya mobilku suhunya sedikit terasa panas, mungkin waktunya ke bengkel. Aku mengambil piyama ayah yang baru saja disetlika Ika sore tadi, aku rasa piyama ini cukup untuk dipakai ditubuh Irsan, tinggi mereka hampir sama, Irsan lebih sedikit berdada bidang dan agak lebar dibandingkan ayah. dan saat aku ingin mengguyur tubuhku dengan air, sialnya air dikamarku tidak mau menyala, jadi aku terpaksa hanya mengenakan secarik handuk lalu memeriksa colokan listrik pompa air, padahal air didapur dan di kamar lain bisa menyala, hanya kamarku dan kamar tamu saja yang tidak terkunci, jadi aku memutuskan mandi dikamar yang ditempati Irsan, aku terpaksa mengenakan baju kembali meskipun terlihat berantakan. Aku mengetuk pintu kamarnya dan masuk begitu saja tanpa permisi. Sejuta aksi peran aku mainkan untuk menarik perhatiannya, aku sengaja masuk ke kamarnya hanya dengan mengenakan baju mandi, tanpa alas kaki ditambah rambut panjangku yang terurai dengan sedikit basah, tubuhku terasa lembab karena udara panas. Mataku menyebar begitu cepat menyapu setiap pojok ruangan. Hingga kelopak mataku tidak berkedip sama sekali. Aku berhasil menemukan orang yang aku cari keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan piyama. Dia lebih terlihat sexi dengan dada sedikit terbuka.
“astaga, sorry aku tidak tahu kalau kau ada dikamar ini” menyadari kehadiaranku yang begitu mengejutkan baginya. Tapi itu tidak terjadi padaku, aku hanya berdiri dan terdiam tanpa mendekat, stuck! Itulah yang aku lakukan. Sambil berkata dalam hati oh sayang, mendekatlah padaku jangan buat aku mati berdiri menunggumu
“air dikamarku mati, jadi aku mau mandi dikamarmu saja!”
“yah, silahkan, tapi lain waktu kenakanlah baju yang menutupi badanmu”
“aku terburu buru!” aku susah untuk berbohong, aku berjalan mendekatinya yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi. Aku berharap kain handuk yang membelit tubuhku ini mau jatuh ke lantai, tapi tidak tau kenapa meskipun aku berjalan sedikit cepat handuk ini sama sekali tidak mau jatuh. Dia pria tersopan yang pernah aku kenal. Sama sekali dia tidak bergerak sedikitpun untuk mendekatiku. Aku sedikit merasa malu, sebenarnya aku hanya ingin selalu berduaan dengannya saja, aku sangat mencintainya. Beruntung malam itu tidak terjadi apapun antara kami, dia hanya menciumku setelah aku meminta maaf padanya, dengan sederhananya dia hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun selain I HEART YOU MAURIN.
Pagi pagi sekali aku bangun lalu ingin menyiapkan sarapan seadanya buat Irsan, tapi terlambat. Dia lebih dulu didapur dengan meja makan yang sudah menyajikan sarapan. Aku temui saat dia sedang mencuci penggorengan yang baru saja dia gunakan untuk menggoreng kentang. Emm… betapa bahagianya aku nanti mendapat suami yang pintar masak dan mengurus rumah. Begitu sederhana, sangat berwibawa dan satu lagi yang sangat aku suka. Dia bukanlah lelaki yang mudah menyajikan sebuah intrik untuk menutupi rasa cemburunya meskipun itu dengan mantan kekasihku. Lalu kami sarapan berdua di teras agar suasana tidak terlihat kaku, maklum saja perabotan rumah tangga di rumahku tidak terlalu istimewa bila dibandingkan peralatan memasak yang biasa dia jumpai ataupun yang sudah dimilikinya. Dua jam berlalu aku segera berangkat ke kantor lalu mengantarnya balik ke hotel.
“kurang berapa hari lagi , kamu harus meninggalkan hotel itu?”
“seminggu lagi!”
“sukses ya”
“baiklah sayang, nanti malam mampirlah ketempatku kalau kau tidak sibuk, aku punya kejutan untukmu!” dia mengatakan saat aku hendak menyalakan kembali mesinku, pagi ini Irsan terlihat beda, dia lebih berseri daripada biasanya.meskipun kejadian semalam membuat dia sedikit marah, aku memintanya agar dia memecat anak buahnya yang penggoda itu, aku kurang suka. Selain itu wanita tersebut membuatku cemburu
“apa imbalannya?” aku menggodanya,semoga dia masih mengingat kalau aku menginginkan surat pecatan untuk wanita itu.
“ayolah sayang, dia masih butuh pekerjaan. Kau tahu itu”
“oke bye….!” Aku berlalu dengan kencang. Aku kesal sekali dengannya. Apa kelebihan pegawainya itu. ini awal mulanya aku dan Irsan berselisih paham. Aku menahan rasa kesalku hingga sampai jam kantor berlalu. Irsan tidak sedetikpun menelphoneku walaupun dia sudah mengirimkan lima pesan yang tidak aku jawab satupun. Seharusnya dia penasaran, tapi itu tidak terjadi. Justru rasa penasaran ini menyerangku. Aku hanya mengulang ulang untuk membaca pesan yang dia kirimkan padaku sejak tadi pagi.
INBOX
MY LOVE IRSAN
have a nice work sweatheart, love you a lot
09.45
MY LOVE IRSAN
Have a good lunch sweatheart,
12.12
MY LOVE IRSAN
Live rightly think rightly of course we have the best rightly.
Just breath my name
02.45
MY LOVE IRSAN
Don’t capitulate sweatheart
I’m so sorry about this girls. Trust me nothing happen between us
My love just for you.
Please resend me your smile. I miss you. Listen, give me a second chance
if she’s not good in action for her job, I’ll be take a fire
Please say it once…. if you agree
Say it….please
5.15
MY LOVE IRSAN
Trust me
I’ll take my risk
I love you
5.21
Sebenarnya aku tidak tega melakukan ini semua, sebenarnya aku menyetujui persyaratan yang Irsan ajukan. Cuman aku tidak ingin terlihat mengalah dimatanya dengan terang terangan. Aku tahu ini mutlak bukanlah kesalahan Irsan, hanya wanita itu saja yang ingin mencari waktu luang untuk bersamanya. Aku selalu memikirkan masalah ini hingga perjalanan. Tiba tiba saja ada pesan masuk satu lagi. Awalnya aku menyangka kalau orang itu Irsan yang kembali berusaha mengirimku pesan. Aku langsung saja menjawab pesan pesan yang tadi
OUTBOX
I’M ON THE WAY, FOLLOW ME AT MY HOME
Hanya gambar senyum dalam pesan saja yang aku dapat darinya. Sepertinya dia sibuk, itu biasa yang dia lakukan bila aku menghubunginya. Ada hal lain yang membuatku terkejut saat aku berhenti di perempatan jalan, seseorang menelphoneku kembali setelah ayah yang menelphoneku.
“hallo…!” sepertinya aku pernah mengenal suara itu. tapi aku lupa. Tidak biasanya dia menggunakan nomer telephone tanpa nama. Itu yang membuatku ragu “sedang menyetir mobil!” lanjutnya
“hei…yah!” aku mencoba untuk tetap akrab meskipun dalam keadaan bingung. Mencoba lebih keras berfikir
“thank God, kau masih mengingat suaraku, malam ini aku sudah sampai di singapura. Sesampainya di Surabaya aku akan menemuimu! Aku berharap, semoga kau tidak keberatan dengan ini!”
“oh tentu, tentu tidak Rick!” aku berhasil mengingatnya” yah tentu…tentu saja!”aku begitu gemetaran mendengar keterangan itu. aku belum siap meskipun sangat ingin bertemu. Masalah lain akan kembali muncul. Aku bertanggung jawab untuk menjelaskan semua hal.
“I miss you so much Maur,… I catch your eyes, soon”
“yah…I’ll be spend my time a half special for you”
“nice sound, oke see you soon babe, nice drive!”
Air mataku menetes sedikit, aku tidak percaya dia masih baik kepadaku, meskipun aku telah mengkhianatinya. Aku pulang dengan menahan emosi dari pelampiasan rasa sedih seorang pecundang gagal sepertiku. Aku memarkirkan mobilku didepan teras dengan buruk, aku langsung menerobos masuk tanpa ada kata kata, padahal aku rindu sekali bertemu dengan ayah. mungkin mereka berfikir kalau aku sedang ada masalah dengan Irsan. Kedengarannya pasti buruk. Aku menunggu waktu untuk ini. Aku punya kewajiban penjelasan. Ini hutang yang akan segera ditagih oleh Erick. Hingga larut malam aku tidak bisa tidur. Dan saat Irsan menghubungiku, aku sama sekali tidak ingin berbicara banyak hal, aku hanya mengatakan kalau aku setuju dengan apa yang dia katakan tadi sore. Aku juga tidak berani mengatakan kalau Erick akan segera datang. Aku tidak tahu harus berbagi cerita dengan siapa lagi, selain Robby. Tapi kali ini dia tidak bisa untuk aku hubungi, pekerjaan barunya sangat menyita waktunya. Tidak ada waktu khusus lagi buat aku seperti dulu. Aku tidak mungkin juga bila harus bercerita dengan orangtuaku. Irsan terus menemaniku ngobrol walupun sesekali dia harus meninggalkan aku untuk packing barang, tujuh hari lagi dia akan segera pindah, seharusnya aku membantunya sore tadi. Mobilnya masih ada di bengkel, besok lusa baru bisa diambil. Irsan butuh tumpangan untuk memindahkan semua barangnya beberapa kali. Oh…Erick kenapa kau harus kembali sekarang, seharusnya kau tetap disana dan mengencani gadis amerika. Aku terjaga hingga fajar menyingsing. Udara segar pagi ini tidak bisa aku nikmati. Mungkin aura wajahku juga menghitam tidak sesegar udara pagi. Hari ini aku berencana untuk mengambil cuti sekedar menenangkan pikiran. Aku bermalas malasan di halaman belakang dengan menenggelamkan kakiku dalam kolam ikan, membiarkan ikan ikan kecil menggigiti telapak kakiku….
“hei…tumben sekali, kau belum mandi!” ayah menyapaku dengan membawa secangkir kopi. Aku hanya menoleh tanpa mengatakan apapun. “nanti malam ada acara live music di concert hall. Kelly Clarkson! Behind the hazel, ayah dapatkan tiketnya dari Robby?”
“apa dia sudah pulang?” aku kegirangan menyahut
“tidak! Dia menitipkan pada temannya, kemarin sore Andi datang membawa dua ticket untuk kau gunakan bersama Irsan”
“tidak bisa, semalam dia mengatakan kalau Ricko datang, dan dia harus menjemputnya di Jakarta !”
“ohh…bagaimana kalau ayah yang menemanimu, sayang kalau tiket ini tidak digunakan, mahal sekali loh!”
“aku tahu!” aku pergi menghindari ayah. berpaling begitu saja tanpa alasan membuatnya bernafas panjang. Erick tidak menguhubungiku, aku tidak tahu kapan dia datang menemuiku, aku takut kalau saat Irsan datang bersamaan dengannya. Itu saja yang aku takutkan. Meskipun aku sudah menceritakan semuanya pada Irsan. Tapi tidak pada Erick.
Seharian aku diam dirumah, tidak melakukan apapun. Tidak ada yang menghubungiku, bahkan Irsan. Mungkin dia sedang sibuk bersama putranya. Aku tahu aku paham soal itu. sedikit melegakan hingga malam ini Erick juga tidak berkunjung kerumahku ataupun kembali menghubungiku. Kemarin malam dia hanya mengatakan ada hal penting yang ingin dia lakukan di singapura. Apapun itu, aku tetap saja risau dengan ini semua, meskipun tidak separah kemarin malam, paling tidak sore ini aku bisa tidur dengan tenang. Hingga hari berganti aku masih dalam kondisi aman. Itu yang membuatku tenang. Hari ini aku punya selera sarapan pagi setelah Irsan menghubungiku satu jam yang lalu. Dia menceritakan pertemuannya dengan Ricko….
“pagi sayang!sarapan ya”ibu menyapaku saat melihat aku menuruni tangga dnegan baju kantor yang rapi
“siap kekantor! Kenapa kau tidak mengambil cuti untuk beberapa hari! Sayang kalau cuman satu hari!” lanjut ayah
“yah Bu, aku minta roti bakar saja. selai srikaya sedikit parmesan!” tidak lama roti bakar yang aku minta siap mengisi perutku.
“enak sayang?”
“tentu, bu!” aku mengernyitkan hidungku, lalu ibu menghampiriku
“coba liat ikat pinggangmu, oh sebentar sayang ibu ada telephone!”
Mendengar bunyi telephone aku rasanya menggigil, secepat kilat aku berpamitan sambil menyambar tas dan I pad, lalu pergi bersama mobilku.
“kau aneh akhir akhir ini” ayah meneriakkan kalimat itu saat aku meninggalkannya begitu saja setelah mencium pipi kanannya.
Hari hariku seperti mencekam, ingin rasanya berteriak histeris. Tapi ini bukan tempat yang cocok untuk melakukan semuanya. Di hari keempat Irsan kembali menemuiku saat jam makan siang, berada disampingnya membuatku tenang dan melupakan Erick untuk sesaat. Rasa nyaman muncul begitu saja, tapi rasa mencekam kembali menghampiriku setelah Irsan tidak lagi berada di sisiku. Hanya usaha untuk tetap tenang yang selalu gagal hingga tiga hari kemudian. Aku tidak dapat lagi menghindari rasa takut saat Erick bermain ketempatku malam ini. Malam ini Irsan membatalkan niatnya untuk bermain ketempatku, katanya ada urusan penting yang harus dia lakukan malam ini dengan owner hotelnya. Saat kami bertiga menonton film di ruang keluarga, tiba tiba saja ada orang yang mengaku tamu ayah.
“siapa?” Tanya ibu pada Budi sopir Ibu
“dari kantor perusahaan batik!”
“oh pasti anaknya ibu Mahendra!” jawab ayah.
Ibu bergegas meninggalkan kami menemui tamunya, lama sekali mereka berbincang bincang, hingga budi harus membawakan dua cangkir teh untuk mereka. Lalu ayah menyusul mereka
“cemburu ya sama yang muda muda?” aku menggoda ayah, pria tua itu hanya nyengir saja mencubit pipiku. Satu jam mereka mereka masih bersama membuat aku semakin penasaran hingga aku menanyakan pada Budi yang saat dia kembali lewat didepanku dengan membawa satu cangkir kopi untuk ayah.
“siapa?”
“ganteng banget non, masih muda! Hehhe…saya lupa namanya!”
“ahh, ya sudah sana pergi!”
Satu menit kemudian ayah dan ibu menemuiku dengan berat hati mereka mengatakan secara bersamaan
“Erick menunggumu!” spontan aku terkejut, sekujur tubuhku dingin seperti es, lidahku kaku, jantung berdetak cepat, langkah kakiku begitu berat saat aku memaksanya untuk berjalan.
“sayang, maaf bukannya ibu ingin mencampuri urusan kalian, tapi apakah tidak sebaiknya kalian bertemu untuk berbicara. Dia baru saja datang dari amerika bukan?” ibu mencoba menenangkan hatiku,meskipun itu tidak cukup untukku
“yah?” aku pergi menemuinya.
Oh tuhan..apa yang harus hamba lakukan, berikanlah aku sedikit kesipaan untuk menemui pria sebaik Erick. Badanku terasa lemas, jantungku semakin berdebar saat mendekati ruang tamu. Aku membayangkan wajah Erick yang sedikit cemberut. Aku mengintipnya dari balik pilar yang mengapit ruang tengah. Pria tampan itu sekarang kurus, sedikit lunglai tidak kekar seperti saat dia meninggalkanku di soekarno hatta dulu. Aku kebingungan menyusun kalimat sapaan, dan saat dia menyadari kehadiranku, Erick berdiri dari kursinya lalu tersenyum hampa,
“hei…” sapaku pelan
“hei…” dia menyahut, langkah kakinya maju satu langkah. Baju yang dia kenakan lebih keren dibanding yang pernah aku lihat saat kami masih bersama, sepatunya mengkilat, celana jeans warna hitam dipadu dengan kemeja berwarna merah maroon. Dia masih mengingat warna favoritku. Saat aku sadar dengan apa yang aku amati, aku bergerak lebih dekat. Tangannya seperti ingin memelukku, tapi aku menghindari gerakan itu. dan dia malu dengan sedikit tertunduk
“emm…duduklah, lama sekali ya kita tidak bertemu!”sapaku perlahan lahan
“heem.. kau tambah cantik,persis seperti yang aku bayangkan selama ini? Semoga kehadiranku tidak mengganggu istirahatmu!ohh mana Robby?setua apa dia sekarang!”
“tidak, sama sekali tidak!kebetulan sejak sebulan yang lalu dia pergi ke jambi, katanya ada proyek baru”
Lama sekali kami berbincang bincang, padahal cuma satu jam saja aku menemaninya mengobrol, hingga merasa ada ketidak nyamanan diantara kami,Erick akhirnya memutuskan untuk berpamitan. Aku sungguh menyesal karena tidak bisa menjaga sikap. Aku tidak seharusnya berbuat seperti ini, aku bahkan tidak mengantarnya hingga sampai ke tempat dimana mobilnya masih terparkir di halaman rumahku. Ayah menghampirinya sambil melambaikan tangan hingga mobilnya berlalu dari hadapannya. Ayah dan ibu tidak mengatakan apapun soal ini,mereka juga tidak menanyakan apapun kepadaku mengenai pertemuan kami. Syukurlah kalau begitu, semuanya membuatku sedikit lega dan tenang, tidak ada hadiah khusus yang dibawakan Erick untuk kami, selain buah tangan berupa parsel buah buahan. Tentunya dengan sedikit hiasan bunga dan pita yang cantik. Malam itu aku tidak dapat tidur, aku tidak bisa mengehentikan pikiranku untuk tidak memikirkan Erick, meskipun semua sudah berlalu. Sikapku terlalu berlebihan padanya, malam ini aku ingin sekali meminta maaf, tapi tidak! aku rasa ini bukan waktu yang tepat kataku dalam hati. Nyaris dua hari setelah kejadian itu aku tidak bisa berfikir jernih. Semua selalu terhubung pada Erick dan Irsan. Padahal malam ini aku sudah berjanji pada Irsan akan segera bertemu dengan putranya untuk sebuah acara makan malam.
“sayang, kenapa kau tidak bisa? Apa kau sakit? Atau mungkin kau sedang sibuk?”
“oh tidak….tidak aku sehat,hanya saja ada pekerjaan yang hampir mendekati deadline, bahkan aku belum menyentuhnya sama sekali. Aku harap kalian bisa mengerti!”
“yah, tentu … tentu saja. aku paham. Baiklah apa ada yang bisa aku Bantu?”
“tidak, Bantu saja aku dengan doa agar cepat selesai!”
Aku juga merasa enggan untuk menemui Irsan, perasaan ini selalu muncul karena rasa bersalahku pada Erick, jalan satu satunya adalah aku ingin sekali meminta maaf padanya. ‘Hei Erick?’ Bagaimana ya cara memulainya aku hanya bingung sambil menggaruk garuk kepala. Emm atau.. ‘hallo Er..aku ingin minta maaf aku tau aku salah tapi sungguh…’. Ahhh tidak tidak mungkin , itu terlalu kekanak kanakan, atau bagaimana kalau ‘hei rick, bagaimana gadis amerikamu, apa sudah ada satu yang kamu koleksi’ ahh tidak lucu,itu terlalu menyakitkan. Percuma bila aku hanya berfikir tanpa tidak melakukan apapun sama sekali. aku hanya ingin terbebas dari misteri ini
“malam rick….”
“uhh, kejutan! Ini benar engkau Maurin?”
“yupe! Benar, ini aku..your x!”
“hemm, kau salah! Kau tidak pernah menjadi X bagiku, sampai sekarang aku masih merasa masih mencintaimu dan belum memutuskan hubungan kita, meskipun itulah yang terjadi antara kita. Tentunya sepihak”
“Erick, ada waktu ? kapan !aku ingin bertemu!”
“sekarangpun aku siap!”
“baiklah, aku tunggu di candi bentar, tepat pukul 7malam. Kau masih ingatkan meja yang pernah kita gunakan dulu!”
“tentu saja!”
“sampai ketemu satu jam lagi. Bye”
Irsan, aku sengaja meminta waktu tiga hari darimu bukan untuk menghindarimu, tapi aku ingin menyelesaikan masalahku lebih dahulu. Aku punya tanggung jawab moral pada seorang anak manusia yang pernah aku permainkan hatinya. Aku akan selalu merasa berdosa dan bersalah bila aku tidak pernah mendapatkan maaf darinya. Malam ini kami berencana untuk bertemu di candi bentar. Aku berjanji akan menceritakan semuanya padamu setelah urusan kami selesai. Saat itulah aku akan selalu tenang dan bahagian berada disisimu tanpa penyesalan…. Kau pernah mengatakannya dulu. Kau yang membuatku sadar akan semua ini. Aku mengerti kenapa kau meminta untuk menemuinya. Terimakasih sayang, kau selalu mengerti apa yang sedang aku butuhkan. Terimakasih untuk waktu dan kepercayaan yang sudah kau berikan padaku selama ini. I LOVE YOU
Erick lebih dulu sampai di tempat yang aku sebutkan. Senyumnya begitu hangat, kali ini ada rangkaian bunga lily yang dia berikan padaku, baju yang dia kenakan cukup nyaman menempel pada tubuhnya, terlihat mewah, rapid an berkelas . Padahal ini bukan acara makan malam yang harus membutuhkan setelan tuxedo, terlebih aku hanya mengenakan baju kantor biasa saja. dia menyapaku dan menarik kursiku dengan sopan, serasa itu bukan gayanya yang dulu, atau dia mulai terserang demam romantis ala orang orang barat. Apapun yang mempengaruhinya, dia memang lebih terlihat tampa n walaupun sedikit tyrus. Harumnya bunga lily membius hidungku, dua kali ini Erick memberiku bunga, dulu mawar ketika kami masih menjadi sepasang kekasih. Malam ini Kami berdua sengaja tidak memesan menu lengkap hanya dua dessert dan minum dari menu ala carte.awalnya tidak ada pembicaraan yang berat setelah Erick menarik kursi itu untukku.
“tadi, aku hampir saja tidak mengenalimu dari jauh?” sekedar basa basi, tapi sebenarnya itu nyata
“oh ya, seperti itukah aku sekarang bagimu!”
“tidak, bukan itu maksudku. Hanya saja Kau tampa k terlihat charming dengan model tuxedo seperti itu. kau juga terlihat begitu luar biasa. Lagipula dulu kau belum pernah berpenampilan seperti ini saat bersamaku, jadi wajar, kalau aku meragukan sosok yang aku lihat dengan sosok yang pernah aku kenal!”
“kau juga masih terlihat cantik, meskipun aku harus mengakui kalau dandananmu yang sekarang terkesan old fashion dan seleramu sedikit jelek. Kurang up too date!” kedengarannya dia sedang memaki “satu lagi, caramu berpakaian, hampir juga tidak aku kenali, dulu kau begitu casual, begitu glamour kalau acara makan malam ataupun di suatu acara festival, tapi sekarang dengan semua apa yang aku lihat kau tidak masuk dalam dua kelas yang telah aku sebutkan tadi!”
“apa itu akan menjadi masalah bagimu!”
“bagaimana menurutmu?”
“apa kau ingin kita bertengkar disini?”
“ada perlu apa kau mencariku!” dua menit membuat kami sama sama bungkam, lalu mencoba untuk mencairkan suasana. Tentunya ku yang harus memulai.
“bagaimana kabar ayahmu? Tentunya kalian pasti sudah menghabiskan banyak waktu bersama!” Erick menimpali senyumku dengan sinis. Diteguknya segelas fruit punch yang ada didepannya pelan pelan. Mungkin berfungsi untuk membasahi tenggorokannya yang mulai mengering. Memainkan jari jarinya seperti yang biasa dia lakukan saat sedang bingung.
“kau masih ingat, saat kau mengantarku di bandara dulu?”
“yah, tentu saja!”
“kata ayah beberapa jam kemudian dia sampai di bandara itu, dia menungguku lima jam, dia pikir aku masih menunggunya. Malamnya ketika aku sampai di bandara changi, aku baru bisa menghubungi ayah. aku mengatakan kalau kau sudah mempersiapkan semuanya demi unutk bertemu dengan ayahku tersayang. Aku juga merasakan kekecewaan. Hingga ayah hanya bisa merasa bersalah dengan kita dan meminta maaf padaku juga padamu. Tentunya lewat aku. Hubungan kami menjadi lebih baik seperti sebelumnya, setelah aku mengganggap hal itu bukanlah masalah besar yang perlu kami perdebatkan”mulutnya terus berceloteh meskipun sesekali waktu tangan kirinya menusukkan garpu pada pizza calzonenya lalu tangan kan an menjalankan alat pemotong pizza. “intinya ayah begitu penasaran ingin segera bertemu denganmu lagi, ayah berjanji akan segera menemuimu saat aku menyelesaikan studiku. Kami berencana untuk melamarmu. Sayangnya Tuhan berkata lain, dan kita putus seperti saat ini. Sampai sekarang aku masih berfikir, apa yang membuatmu berubah, apa aku telah melakukan kesalah besar sehingga tidak ada kata maaf ataupun klarifikasi hanya untuk suatu pembelaaan yang menjadi hakku.” gelombang suara itu terdengar jauh dan begitu berat untuk sampai ke dalam gendang telingaku. Tapi meskipun pelan, suara itu cukup untuk menusuk.
“Rick, maafkan aku. Bukan kau yang bersalah. Ini masalah hati. Apa enaknya kalau kita menjalani suatu hubungan tanpa ada dasar yang kuat”
“yah hanya karena kau bertemu kembali dengan dia, bukan begitu”
“tentunya kau mengerti aku, kau mengerti dengan apa yang pernah aku katakan. Kau terlalu pintar untuk bisa aku pintari. Aku tidak mencintaimu, dan mungkin itu lebih baik bila kita bersahabat?”
“aku tahu, kamu memiliki hak veto”
“kumohon Rick, maafkan aku. Aku tidak ingin lagi berdebat soal ini, aku tidak ingin menyakitimu, aku tidak ingin…”
“stop Maurin, stop!! Hentikan. Sebenarnya aku sama sekali tidak terima atas perlakuan yang pernah kau perbuat. Aku mengantarkan cinta suciku padamu dengan niat baik dunia akhirat, harusnya dari awal aku sadar kalau kau tidak mencintaiku. Aku tahu itu. aku hanya pura pura buta tidak melihat apa yang dilihat oleh hatiku. Aku kecewa, marah.. tapi apa bisa aku memaksamu untuk kembali. Jujur Maurin , ak u hanya ingin tahu siapa sesungguhnya lelaki itu. setelah itu kita bisa jalani kehidupan kita masing masing dengan tenag. Tanpa beban!”
“suatu hari aku akan memperkenalkan kalian berdua, dia sudah tahu tentangmu. Meskipun hanya lewat cerita”
“dan aku tidak tahu sama sekali tentang pria tolol dan perebut itu?”
“dia bukan perebut, dia tidak tolol!” aku tidak terima bila Irsan dijelek jelekkan seperti itu.
“ooo..ho hohoho.devotion….sang capulet tidak terima atas perlakuanku, benarkah mont aque mencintaimu?”
“iya.kami akan menikah!”
“kau gila!” suaranya terdengar lebih keras tidak mau kalah denganku ‘aku menyesal menceritakan tentangmu pada ayahku, aku terlalu memujamu seperti dewi, tapi kau memeperlakukan aku seperti punggawa yang haus perang!”
“aku tidak pernah memperlakukanmu seperti itu, dari awal aku juga sudah mengatakan padamu, kalau aku sudah mencintai oran g lain, kalau hatiku tidak seutuhnya untukmu” aku sudah tidak dapat menahan rasa kesalku, aku pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam atau hangatnya sebuah jabatan tangan. Aku terus berjalan dan berlari bahkan aku hampir saja membanting pintu kaca restaurant ini, Erick juga sama sekali tidak mengejarku. Semua oran g hampir memperhatikan kami.
Malam ini aku benar benar kesal dengan perlakuan Erick, tidak seharusnya dia berbuat seperti itu. dan saat aku menceritakan semua yang aku alami pada Irsan, diapun hanya memintaku untuk tetap tenang dengan menjaga dan menahan emosi. Hanya itu saja. dia tidak menenangkan aku, apa masalah pria pria itu, seharusnya mereka berfikir normal. Bila cinta bertepuk sebelah tangan, yang perlu mereka lakukan hanya meninggalkan wanita itu, lalu menggantikan dengan cinta yang lain. Aku tau itu tidaklah mudah, tapi setidaknya mereka harus belajar realistis.
“sudahlah sayang, tenangkan saja hatimu, datanglah ketempatku aku janji akan menyalakan auramu yang penuh nuasa cinta. Percayalah padaku!”
“yang ingin aku lakukan hanyalah membanting setir lalu membalikkan mobilku, hanya saja aku belum siap untuk mati hari ini!” aku langsung saja menutup dan membanting telfonku. Membayangkan Irsan yang terus menerus membeo. Aku letih dengan semua ini, aku tidak membayangkan kalau ini memancing kemarahan Erick. Aku masih terima bila dia menjelek jelekan aku. Tapi aku tidak terima bila aku terus menden gar dia memaki maki Irsan padahal mereka berdua belum pernah bertemu. Aku memang sudah tidak bisa menghindar lagi, mungkin ini sudah saatnya antara aku dan Erick begitu juga dengan Irsan harus bertemu. Kelihatannya ini lebih baik terjadi sekarang daripada setelah aku menikah dengan Irsan nanti. Aku terus melajukan mobilku dengan kencang. Hingga sampai didepan rumah. Didepan teras rumahku, sudah terparkir mobil hitam milik Erick, mereka mengobrol bertiga di teras. Mereka semua menyapaku dengan ramah, begitu juga Erick. Datang tanpa mengenakan tuxedo yang ia kenakan tadi saat bersamaku, seolah olah kami tidak pernah bertengkar hebat seperti satu jam yang lalu. Karena dia memainkan sandiwaranya begitu sempurna, maka itu membuatku melakukan hal yang sama.
“malam sayang, larut sekali hari ini?” ibu menyapaku sambil tersenyum melambaikan tangan, agar aku ikut bergabung bersama mereka
“ya, mengejar dealine!” aku melirik kearah Erick yang juga menatapku tajam, ayah mendekati ibu dan mengajaknya kedalam. Mungkin mereka memberikan waktu luang untuk kami lebih sedikit pribadi.
“jangan sungkan” katanya sambil menepuk bahu Erick. Aku tidak menghiraukan ayah, yang seolah olah mulai memusuhi anaknya sendiri. Aku memang duduk bersamanya, tapi aku menjauhkan diri sepanjang tiga meter mencari kursi yang terjauh yang ada di ruangan itu. aku masih kesal dengan sikapnya.
“aku tahu kau marah,untuk itulah aku meras perlu kemari” dengan suara pelan dan muka tertunduk, aku hanya bisa membuang muka,menahan rasa muak. “Maurin, aku minta maaf soal kejadian tadi. Aku menyesal telah berkata kasar, itu bukan aku yang sesungguhnya, aku mohon jangan terlalu serius dengan yang tadi. Aku benar benar menyesal. Please, kumohon, mungkin aku masih terbakar rasa cemburu dan rasa tidak terima atas sikap dan perlakuanmu. Harusnya aku menyadari semuanya, harusnya aku mengerti, paham dan tahu. Tapi itu butuh proses tidak secepat yang kau harapkan”
“yah.. aku tahu”
“apa itu berarti kau sudah memaafkan aku?” suaranya terlalu mengiba, membuatku tidak tega untuk tidak mengatakan tidak padanya. Karena sesungguhnya aku juga ambil andil dalam masalah ini. Jadi berat rasanya kalau aku harus terus egois. Aku tidak mau bermandikan dosa. Aku harus berani mengakui semuanya.
“tentu, kenapa tidak” Erick kembali mengejutkan aku, pelukannya begitu erat menghentakan tubuhku, dan aku membiarkannya melakukan itu semua dengan mudah. Dalam pelukan itu aku kembali menyadari, bahwa sesungguhnya aku memang merindukannya selama ini.
“itu berarti kita masih bisa bersahabat seperti dulu?”
“yupe! Pasti”
“terimakasih, ini terlalu mudah terjadi, tidak seberat yang aku pikirkan sepanjang perjalanan tadi! Baiklah. Kalau begitu, ur usanku sudah beres malam ini. Aku mau pamit dulu ya. Kau juga terlihat letih, salam buat orangtuamu!”
“nanti pasti aku sampaikan, hati hati ya!” kami berjalan beriringan, aku mengantarnya sampai ke halaman depan. Rasanya begitu lega setalah kami berbaikan kembali. Aku ingin dia kembali menjadi sahabatku. Detik terus berjalan disusul oleh menit dan menit berlalu berganti jam. Jam terus berputar bersama hari, haripun tergantikan minggu hingga mendampingi bulan. Hubungan diantara kami menjadi lebih baik walupun tidak sedekat dulu. Tentu saja itu terjadi karena hubungan yang kami jalani saat ini sedikit berbeda. Tapi paling tidak dengan kehadiran Robby, itu sangat lebih berarti bagi kami yang siap mencairkan suasana saat kami terlibat ketegangan dalam api hingga mencair seperti gunung salju. Berjalannya waktu aku mulai mengerti sesungguhnya tentang semua kejadian yang menjadikan aku semakin dewasa. Mungkin inilah persia pan Tuhan untukku sebelum aku menemani Irsan hingga akhir hayat kami. Hingga kematian kembali merenggut jiwa kami sebelum raga kami kembali menjadi bongkahan tanah.
Irsan tidak pernah khawatir bila aku keluar bersama Erick, menurut dia hubungan kami harus dilandaskan kepercayaan yang tinggi. Kami hanya saling percaya dengan apa yang sudah kami sampaikan dan kami dengar dengan rendah hati. Hanya tuhan yang mengetahui semua kebenaran dengan semua pendustaan yang mungkin kami sembunyikan. Kepercayaan harus terus dibangun hingga kami menikah nanti. Semua yang aku lakukan bersama Erick masih dalam batas wajar seorang sahabat, terlebih Robby sering ada diantara kami.
Erick terus membujukku agar aku mau bertemu dengan ayahnya meskipun diantara kami sudah tidak lagi berhubungan sebagai layaknya sepasang kekasih. Aku belum siap, karena aku merasa malu harus bertemu dengan oran gtua dari anak yang pernah aku khianati demi lelaki lain. Apa pendapatnya nanti. Aku tidak mau lagi menden gar cercaan dan makian seperti yang Erick lakukan padaku. Tapi aku tidak sanggup lagi berbohong dan menghindar. Aku pasrah dengan apa yang Erick rencanakan. Padahal nanti aku sudah berjanji pada Irsan kalau aku akan bertemu dengan Ricko anaknya. Aku tidak enak bila harus menolak undangan makan malam itu, terlebih Irsan juga mengajak Ibunya. Aku berusaha mencari alasan, tapi ponselnya dalam keadaan mati. Hanya mailbox saja yang menjawab nada panggil. Hingga aku kehabisan pulsa saat Erick hendak menjemputku. Aku juga belum membelikan sesuatu untuk keluarga Erick. bukan main kebingungan. Aku duduk dengan tidak tenang dalam mobil Erick sesekali aku memperhatikan jalan tapi sesekali juga aku memperhatikan bicaranya seperti aku menden gar dan menyimak semua yang dia ceritakan. Meskipun sesungguhnya apa yang dia katakan sama sekali tidak terekam dalam otakku
“gugup?” Erick bertanya sedikit mengejutkan
“apa semua begitu jelas terlihat olehmu?” kepalanya hanya mengangguk seperti boneka afrika gundul yang berwana hitam dengan pakaian jerami. Lalu tangannya menyentuh tanganku dan berbisik pelan “dingin sekali jarimu, tenang saja. ayahku oran g biasa. Bukan turunan seorang raja ataupun president. Dia manusia biasa sama seperti aku” senyum simpulnya mengguncnag pikiranku dan membuayrkan lamunanku
“tapi Erick?” aku membantah
“tenang saja, aku sudah menjelaskan pada mereka, kalau kita sudah tidak berkencan lagi, jadi kau tidak perlu memainkan sandiwara bersamaku dihadapan mereka! Percayalah! Ini hanya makan malam biasa?”
“bisa tidak kita tunda lain waktu?”
“Maurin tempatnya sudah kita pesan sejak dua minggu yang lalu” dia terus membantah dan beragumen, tanpa memberiku kesempatan untuk melarikan diri. Aku terus mengirimkan pesan pada Irsan agar dia bisa menunda, tapi kali ini sepertinya Irsan juga tidak mau mengalah, tempat yang mereka sewa sama seperti tempat yang disewa oleh Erick. Aku membeku seperti gunung es, Erick dan Irsan sama sama menyebalkan. Cobaan apa lagi ini. Sesampainya di Jade Imperial, mataku memaksimalkan pandangan sejauh kapasitas dan seluas yang bisa aku lihat, sepertinya mobil Irsan belum meluncur kemari, terbersit dalam hati, bagaimana kalau Irsan menggunakan mobil ibunya, atau bahkan mobil milik Ricko yang belum pernah aku kenali plat nomernya. Kini Irsan membalas pesanku. Dia hanya mengatakan ‘lima belas menit lagi aku akan sampai disana, kau dimana?’. Itu berarti mereka masih dalam perjalanan.
“sepertinya akn terjadi perang’ aku hanya menggumam
“siapa? “tanya Erick “ayo kita turun, kita sudah sampai!”
“yah, Rick…boleh aku pinjam ponselmu. Aku ingin menelphone ayah, aku lupa mengatakan kalau aku membawa kunci mobilnya, maksudku. Aku hanya berjaga jaga kalau ayah membawa mobilku. Bensinku tadi kehabisan!”
“tentu!” sebenarnya aku tidak enak harus menggunakan ponsel Erick untuk menelphone Irsan, tapi mau bagaimana lagi, aku kehabisan pulsa.
“Rick…aku ke toilet sebentar ya”
“yah, tak perlu sungkan bila kau harus menghubungi kekasihmu!” suara tawanya menggelegar semakin mengecilkan nyaliku saja terdengar seperti sindiran khusus aku tidak memperdulikan apa yang baru saja dia ucapkan. Keberadaannya tidak aku hiraukan untuk sesaat, aku terus berjalan mencari ladys room. Salah seorang staf restaurant menunjukkannya padaku. Memudahkan aku menemukan ruangan yang sedang aku cari. aku belum pernah ke restaurant ini sebelumnya, jadi susa h bagiku untuk mengenali setiap sudut ruangan. Sebuah ruangan yang ada di ujung koridor sepertinya adalah ruangan yang aku cari, ah…sial tiba tiba saja ponsel milik Erick berbunyi keras sekali. Benar dugaanku. Ternyata ayahnya yang menelphone, karena aku merasa tidak punya kepentingan dan sedikit rasa takut, aku tidak bern iat untuk menjawab panggilan itu. aku bingung harus bicara apa dengan ayahnya. Tapi dia Terus saja menghubungi putranya hingga tiga kali. Seorang wanita dan anak kecil memandangku dengan pandangan aneh. Mungkin mereka berfikir aku sipencuri handphone. Kini giliran hanphoneku yang berbunyi, astaga Irsan… aku sedikit berteriak kecil mengimbangi rasa terkejutku
“kau dimana? Kenapa baru sekarang kau menghubungiku!” aku berteriak sekencang mungkin” sudah sedari tadi aku ingin mengumpatnya lebih lama dan banyak, tapi belum sempat terjawab kalimatku, ponselku lebih dulu mati karena low batt…ahh brengsek!!. Ambil nafas dalam …dalam…dalam, yah, tenang…stay cool….sepertinya hari ini aku mulai gila, aku hanya berdoa agar tuhan tidak memutus salah satu syaraf otakku. Baiklah aku membulatkan diri untuk menghubungi nomer Irsan dan mengatakan kalau ponselku mati. Semoga Erick tidak melacak nomer telephone ini, aku hanya takut kalau ponselnya dilengkapi dengan call tracking system dan GPS yang super. Matilah aku kalau itu sampai terjadi. Aku menuliskan satu persatu nomer Irsan. Sepertinya aku harus menulis kata katanya dulu, nomer ur usan gampang
Malam sayang,
Maaf aku tidak bisa menjawab panggilanmu, ponselku mati.
Dan ini aku terpaksa menggunakan nomer temanku.
Maaf ya. Doakan aku agar oran gtuanya tidak marah denganku
Love you and kiss you
Setelah kurasakan lengkap,baru aku menuliskan nomer telephone Irsan, lalu aku menyimpannya kembali di tasku. dan Kutinggal begitu saja diatas meja toilet, lega aku bisa buang air kecil yang sudah lama aku tahan karena rasa gugup yang tidak terkalahkan, aku biarkan saja hanphonenya berteriak teriak dan bern yanyi. Pasti itu ayahnya lagi, tuh betul! Ini memang ayahnya. Hadeh ribet sekali sih oran g ini. Tidak sabaran,aku jadi kesusahan menghubungi Irsan, padahal rencanaku adalah mencoba menghubunginya. Hampir setengah jam aku berada dalam rest room, beruntung disini dilengkapi dengan fasilitas yang bisa tetap membuat make up ku agar tidak luntur. Kembali aku mendial nomer yang sama, astaga ternyata ayahnya kembali menelphone. Apa maunya oran g tua ini! Hadeh!please tutup dulu donk bapak! Saya mau pinjam ponsel anak bapak sebentar saja…sebentar! Please.
Ponsel itu kembali diam, dan aku kembali mendial ulang, tapi kali ini aku mengawasi dengan mata penuh ketelitian dan hati hati. Sepertinya aku kembali salah menekan nomer, karena tetap nomer ayah Erick yang keluar. Kembali lagi aku tekan ahh sial!!! aku butuh konsentrasi yang cukup. Kembali lagi aku dial up, kali ini aku benar benar penuh kepastian jangan sampai salah memencet tombol. Padahal ini sudah touch screan. Pelan..pelan..pelan…pasti… pasti…081…1…18..8..8..88. bener kok, ini sepuluh digit tidak salah, aku kembali mendial up….oh Tuhan …ini tidak mungkin ini hanya kebetulan tidak… tidak mungkin,mustahil!!!
Mata ini membelalak selebar mungkin,mulut rasanya terbakar dan menganga. Jari jemariku bergetar, kakiku rasanya tidak lagi bisa menopang anatomi tubuhku.bagaimana mungkin ini terjadi, bagaimana mungkin tuhan mentakdirkan aku berhubungan dengan pria pria yang sedarah. Tidak mungkin aku telah mengencani dua pria yang punya hubungan darah sebagai ayah dan anak. Ini gila gila!gila!! oh tuhan salah apa aku seumur hidupku. Apalagi ini!. Tapi ini tidak mungkin bohong. Erick tidak tahu siapa Irsan dan Irsan belum tahu siapa Erick, anak Irsan bern ama Ricko bukan Erick, tapi aku tidak pernah tahu siapa nama ayahnya Erick. Aku seperti hidup diantara ambang batas dunia yang berbeda, aku lemas menggigil dan sangat telihat seperti oran g ketakutan di dalam kaca, bagaimana aku bisa menghadapi ini. Aku lama terdiam dalam ruangan ini, rasanya ruangan ini sudah tidak memberiku udara segar, aku merasa kehabisan oksigen seperti orang berpenyakit asma. Dari luar aku mulai menden gar suara pria memanggilku
“maur…maurin, kau masih didalam? Maurin!”
“ohh…oh yah yah Rick aku masih disini, peru tku sakit sekali”
“kau tidak apa apa?”
“enggak, aku baik, aku cuman mulas saja” mencoba berbohong sebaik mungkin tanpa ada kejanggalan. Oh begitu susah untuk aku lakukan
“kau mau aku carikan obat, atau bagaimana? Dokter mungkin!”
“thank!”
“baiklah aku tunggu di meja saja ya sayang!”
“yupe!”
Aku tidak bisa lagi menahan rasa takut yang membuatku semakin bergemetaran, kali ini giliran dia yang menelphoneku
“kau dimana?” aku mengenal suara itu, ternyata apa yang aku dengar adalah suara dan orang yang sama. Oh tuhan, aku tidak bisa berkata kata lagi. Aku hanya bisa menangis dan menitikkan air mata ungkapan emosi jiwa dari kejadian yang aku alami. “dengar, aku tidak tahu apa yang sudah terjadi antara kita semua, aku tahu kau bingung,begitu juga dengan aku. Aku…aku…ahh…sudahlah marilah kita berbicara, aku tunggu kau di ruangan vip lantai dua, disana ada balkon yang bisa kita gunakan. Kau dengar sayang!”
“he em”
Aku tahu dia segera datang ketempat yang dia sebutkan tadi. Aku hanya mengikuti apa yang dia perintahkan, aku menyusuri setiap ruangan yang penuh dengan banyak pengunjung, seorang pegawai kembali menghampiriku lalu mengatakan kalau seseorang sudah menungguku di ruang vip dandelion
“nona Maurin? Silahkan anda sudah ditunggu di ruangan VIP dandelion”
“terimakasih!”
aku mempercepat langkahku hingga sampai keruangan itu, tanpa mengetuk dan tanpa permisi aku langsung saja masuk kedalam ruangan itu, wajah itu sama sepertiku sama juga seperti yang aku bayangkan, dia mengalami ketegangan yang luar biasa, ini tidak pernah masuk dalam pikiran kami kalau kami terlibat hubungan asmara yang terlalu rumit untuk kami mengerti secara wajar. Aku mendekatinya yang sudah terlebih dahulu duduk.tidak ada goresan senyum yang biasa dia berikan padaku, tidak ada sambutan hangat selain menatap wajahku,meskipun tidak sedalam tatapan yang biasa dia gunakan.
“jantungku terasa berhenti saat aku mengetahui apa yang terjadi diantara kita!”
“itulah yang aku rasakan tadi, sama sepertimu. Aku belum siap untuk memberikan penjelasan tentang ini semua!”
“tapi kita harus melakukannya!” aku berteriak sedikit kencang
“aku tahu, sayang! Hanya saja tidak malam ini!”
“jika tidak malam ini, kapan!”
“apa kau siap dengan semua ini, apa kau punya penjelasan yang bisa diterima akal sehat! Kita beri penjelasan apapun kepadanya dia tidak akan pernah mau mengerti apa yang sesungguhnya terjadi! Aku mengenalnya lebih baik darimu sayang?” nadanya kian memelan, nyaris tidak terdengar olehku pada kalimat terakhir.”aku tidak siap dengan ini semua, andai kau mengatakannya. Andai aku tahu siapa mantan kekasihmu”
Aku hanya bisa menangis dan mencurahkan semuanya, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk sementara waktu.
“kau bilang namanya Ricko, kenapa namanya Erick!”
“namnya Ericko Tenggara , ak u dan mamanya suka memanggil Ricko. Tapi ternyata di Indonesia namanya lebih terkenal dengan sebutan Erick!.mana aku tahu”
“astaga, kenapa aku tidak pernah menanyakan nama lengkapnya kepadamu! Aku tidak pernah berfikir hubungan kalian adalah ayah dan anak!”
“aku juga tidak pernah berfikir kalau aku jatuh cinta pada kekasih anakku. meskipun kalian sudah berpisah. Parahnya Ricko tidak pernah menceritakan namamu padaku, bahkan ciri fisik atau apapun yang ada kaitannya denganmu. Dia hanya bercerita tentangmu dalam pujian syair dan lukisan gambaran cinta dari jiwa. Kepalaku rasanya panas rasanya ingin meledak” jarinya yang besar itu menjambak rambutnya dan memegang kepalanya kuat kuat yang akan mau lepas
Aku terus menggigil ketakutan, aku takut, aku takut kehilangan Irsan, aku takut kehilangan mereka berdua. Oh tuhan berat sekali cobaan ini. Aku rasanya ingin mati saja
“aku mencintaimu Irsan!” aku berbicara dengan nada suara yang paling pelan dengan tingkat emotional yang tinggi namun kucoba untuk menahan pada titik emosi yang paling rendah. Irsan tidak menjawab, aku semakin takut dia mengalah pada cinta putranya, aku tidak tahu kenapa bisa berpikir seperti itu. itu tiba tiba saja muncul dari dalam hatiku. Rasanya seperti tertumbuk batu besar dadaku ini dan tersungkur di ujung tebing aku hanya menunggu waktu untuk diselamatkan ataupun dibinasakan. Karena tidak ada jawaban, akupun berdiri dari kursiku mendekati jendela besar ,pergi menjauhinya sementara sampai mulutnya mau menganga. Berdiri sebentar disini bisa membuatku sedikit bern afas, meskipun hatiku masih terguncang malam ini. Air mata ini terus menetes, mendadak aku mengalami kilas balik semua kejadian yang pernah kami alami bertiga beberapa tahun yang lalu.
Aku ingat pada awal aku bertemu dengan Erick, awal aku bertemu dengan Irsan dan kejadian kejadian yang kami lewati saat itu hingga aku memutuskan sesuatu keputusan sepihak pada Erick demi Irsan yang ternyata adalah ayah kandungnya. Aku tidak pernah tahu bila semua kejadian ini bersifat misteri. Tubuhku tiba tiba saja menghangat, aku tidak lagi membeku ketika tangan oran g yang aku cintai menghampiriku dengan pelan lalu memelukku dan mencium punggungku dengan sempurna.
“maafkan aku sayang, aku hanya terlalu shock, aku hanya tidak menyangkanya…aku merasa saat ini hubungan kita menjadi rumit. padahal Hubunganku dengan Ricko belum genap satu windu ini baru bisa dinyatakan membaik”
“aku tahu itu, dia pernah menceritakannya padaku! Tapi aku tidak pernah tahu kalau kalian adalah ayah dan anak!”
Kami merenung, terus merenung dalam pelukan. Kami tidak perduli bila ada pelayan restaurant yang menegur. Itupun bila mereka berani.
“tenang saja, tidak ada yang masuk selain pelayan, restaurant ini milik temanku”
“aku percaya”
Kami menerawang jauh agar banyak mendapat gambaran apa yang harus kami lakukan pada Erick, terlebih Bu Mariam tidak akan merelakan aku menjadi manantunya bila aku sudah pernah mengencani cucu yang paling dia sayangi selama ini.
“mereka pasti mencari kita!” kataku pelan
“aku sudah bilang pada ibu, ada perlu!”
“tapi tidak selama ini tentunya”
“aku tahu, aku tahu sayang!”
“aku mohon katakan padaku ada apa dalam pikiranmu dengan adanya kejadian ini apakah kau masih bisa mengganggapku sebagai calon istrimu? Maksudku dengan apa yang sudah aku perbuat pada anakmu!”
Kedua tangannya terlepas dari pinggulku,itu membuatku khawatir. Dada ini berdebar menantikan jawaban tulus. Aku menyakan hal yang berat, aku sadar itu. tapi aku juga butuh jawaban yang pasti,meskipun apapun itu jawabannya nanti tidak akan dapat merubah cintaku pada Irsan. Tubuhnya berputar balik kembali ke arahku setelah melangkah sebanyak tujuh langkah. Dengan langkah kaki yang cepat kini tubuhku sudah ada dalam pelukannya lagi, pelukan erat ini semakin kuat hingga aku tidak sanggup bern afas dalam. Tulangnya begitu kuat serasa ingin meremukkan tubuhku yang jauh lebih kecil darinya. Dia mendorongku terus hingga badanku menyetuh tembok. Bibir kami bergemetar saat ingin berucap, tidak ada lagi suara yang bisa aku dengar selain suara jantungnya yang berdegup bagai genderang perang.
“apapun itu, apapun yang terjadi,siapapun itu yang harus aku hadapi aku akan selalu mencintaimu, aku sadar bagaimana caramu mencintaiku dan caramu mencintainya, itu cukup berbeda dan terlihat jelas dimataku, andai dia bukan anakku aku sudah mencium bibirmu dengan mesra didepan mata dan kepalanya. Mungkin sudah takdir Tuhan seperti ini agar kita semakin dekat satu sama lain, tidak semuanya yang mendapatkan cinta dengan jalan mulus, justru kita lebih beruntung seperti ini karena dengan jalan berliku kita bisa tahu tentang kekuatan yang sesungguhnya…..aku mencintaimu Maurin jangan pernah meragukan ketulusan itu dalam keadaan dan bentuk apapun”
Tiba tiba saja, terdengar suara pintu yang membentur tembok lalu diikuti suara sepatu yang pelan keluar dari balik pilar yang menghalangi pandangan wajahku. Ketika tubuhku terjerembap dinding tubuhnya, bibirnya yang manis itu mendarat tepat dibibirku, sayang sekali aku tidak memiliki gairah seperti sebelumnya, aku nyaris tidak merasakan kehangatan aliran derasnya darah kami yang mendidih. Mataku begitu saja melirik mencoba mengamati dan menangkap bayangan seseorang yang ada dibalik pilar. Dan sungguh itu membuatku tersentak kaget ketika aku mulai mengenal siapa yang ada dihadapan kami, aku mendorong tubuhnya begitu saja hingga dia tersentak kaget dan melotot.
“ayah! ya tuhan…apa ini. Ada apa ini. Apa mataku tidak salah dengan apa yang aku lihat!”
Irsan menghentikan ciuman manisnya itu, segera membalikkan tubuhnya dan mengamati siapa yang berani menegurnya dangan tidak sopan”
“Rick…ricko” nadanya memanggil terdengar keras, cukup keras dan menggema di ruangan yang begitu besar
“ayah! ak…aku..!aku tidak menyangka kalau Maurin dan kita ….”tapi berbeda dengan dia, yang suaranya masih terdengar shock dan sangat terguncang
“Rick…sungguh aku baru tahu semua ini..baru hari ini, satu jam yang lalu!”aku tergopoh gopoh menjelaskan permasalahannya meskipun aku sama sekali tidak bisa melanjutkan dengan kalimat yang lain.
“Ricko…kita harus bicara… ayo kita keluar” dia menghampiri Erick lengannya yang besar berusaha menenangkan anaknya saat mencoba meraih telapak tanganku kembali dan menarikku agar mengikuti langkah kakinya. Erick terus menahan amarahnya, aku tahu itu akupun hanya bisa tertunduk kaku melihat lantai yang seakan akan mulai miring. itu yang biasa dia gunakan bila dia sedang menahan ledakan emosinya. Menjambak rambutnya kuat kuat setelah kedua telapak tangnnya menutupi wajahnya yang mulai memerah.
“tidak ayah, aku tidak mau penjelasan ini dilakukan secara sepihak ataupun personal, aku ingin kita bertiga berbicara dan memahami semuanya, aku tidak mau penjelasan hanya diberikan dari ayah, aku ingin dia yang bertanggung jawab atas semua tindakan yang sudah dia ambil, tidak ayah…tidak aku tidak mau lagi buta seperti dulu tanpa mengetahui alasan yang akan dia ajukan. Andai kalian tahu bagaimana hancurnya hatiku kini malah kepingan itu menjadi butiran pasir tanpa onggokan” sindiran itu memang ditusukkan Erick padaku tepat di jantungku, aku tahu tidak ada alasan apapun bagi Erick untuk memahami sikapku. “Maurin, aku tidak menduga kau melakukannya pada kami berdua! Kau sengaja!” dia berteriak keras sebelum aku bisa menjawab Irsanpun tidak mau kalah kerasnya dengan Erick.
“Ricko, jaga mulutmu”
“jangan bentak aku lagi ayah!”
“stop…stop…stoppp!” aku berteriak sekencnag mungkin agar mereka tidak perang mulut kembali saling dorong. Hingga Semua diantara kami membisu, dan aku pastikan tidak ada yang berbicara lagi,maka akupun mengambil kesempatan untuk berbicara.aku menyudutkan diri diantara mereka dengan pandangan yang aku rasa bisa membuatku aman. Hanya bisa menghela nafas
“aku tidak pernah membohongi satu diantara kalian, jadi aku mohon padamu Rick, berikan aku waktu untuk menjelaskan semua yang terjadi, tidak ada yang tahu satupun diantara kita, bagaimana hubungan darah diantara kalian”
“aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan” nadanya meninggi dengan membuang muka ”aku tidak percaya kau sebrengsek ini kau nyaris seperti serigala pengoyak”Erick tidak pernah sekasar itu padaku. Irsan tidak bersuara saat aku kembali menatapnya hanya sekedar memastikan bahwa pendengaran kami sama, gerahamnya seperti menahan emosi jiwanya “aku cinta padamu sejak pertama kali aku melihatmu dikampus Maurin, wanita manapun yang pernah singgah dihatiku tidak pernah sehebat dan sekeras dirimu, aku selalu mencoba bertahan meskipun kau sudah mennyatakan keputusasaanmu saat mencintaiku, tetapi aku tidak pernah putus asa setiap aku merentangkan kerinduanku padamu di setiap tarikan nafasku”
“aku tahu” aku menyahut
“tidak, kau tidak pernah tahu saat asa itu hilang dengan berjalannya waktu aku tetap mencintaimu. Tapi yang tidak pernah aku pikirkan adalah aku menaruh rindu pada seorang wanita yang akan menjadi istri ayahku. Ayahku Maurin …ayahku. Kau tahu itu!” suaranya terdengar melengking hebat, lahar panas dari gunung emosinya seakan pecah begitu saja
“aku tidak pernah tahu kalau dia itu ayahmu. Kalau Irsan ayahmu aku tidak pernah tahu” akupun berteriak sehebat yang aku bisa, hingga nadiki seakan akan terasa putus
“kau selalu memukul dadaku tepat di jantungku setiap aku menden gar kau mencintainya, itulah yang aku rasakan. Tapi rasa sakit ini baru terasa hebat saat kalian saling berciuman didepan mataku”
“Ricko!”
“ayah!” suaranya terengah engah, keringatnya mengucur, tangannya mengepal saat Irsan berteriak memanggil namanya.tiba tiba tangan Erick memukul sebuah dinding yang ada disampingnya, tangan itu memerah lalu berdarah. Aku takut dia mengalami patah tula ng di ruas jari jarinya. Irsan mendekati putranya, awalnya Erick berontak dan berteriak teriak, kedua pria itu rasanya ingin berkelahi tapi mengingat hubungan darah yang mengalir dalam tubuh mereka. pertikaian itu berubah dengan begitu lama, Irsan merobak kemeja bagian bawahnya dan melepas dasinya untuk mengaitkan ke tangan Erick yang mulai berdarah.
“kau tidak apa apa?” aku memberanikan diri untuk mendekatinya, dan saat aku memegang bahunya. Dia menghempaskan tanganku begitu saja dengan kasar, dengan memberikan isyarat pandangan, Irsan menyuruhku mundur.
“apa matamu buta?”
“lalu kami kembali duduk bertiga, Irsan keluar dari ruangan meninggalkan aku dan Erick berdua, kami lama terdiam. Aku merasa takut saat Erick mulai menatapku dengan tajam. Tapi aku tidak mau begitu saja dianggap oran g bodoh dan pecundang liar. Apapun yang dia pikirkan aku tidak perduli yang jelas aku mencintai Irsan.aku memberanikan diri untuk menatapnya kembali. kini giliranku untuk memberondong wajahnya dengan tatapan yang sama tajamnya. Dia tahu aku dan akupun sangat tahu siapa dia dari dua versi antara aku dan Irsan ayahnya.
“tiada yang bisa melebihi aku mencintaimu, dalamnya cintaku kepada dirimu Maurin…tidak ada yang bisa melakukan seperti kemampuanku”
“itukan menurutmu! Tapi tidak pada tekhnisnya, pengaruh Irsan lebih kuat dari siapapun yang pernah mendekatiku termasuk dirimu!” aku mengingatkannya dengan tatapan yang jelas
“aku tidak menyangka kau jatuh cinta pada pria tua!”
“tutup mulutmu! Aku tidak suka kalau kau mencoba mempengaruhiku dengan cara buruk”
“dengar… Maurin,….ahhh sudahlah. Kalian brengsek…brengsek..jahanam!” suaranya semakin meledak ledak penuh dengan kemarahan. Nyaris seperti volcano yang mulai meluber “ternyata kau sudah mempersiapkan diri menjadi janda muda…dengan mengawini pria yang sudah mulai uzur!”
“jaga mulutmu Erick” dia menertawaiku dengan keras dan menggelegar, rasanya hatiku tercabik cabik, aku tidak bisa membantah walaupun ingin membantah
“ouw..whoah,….apa kau lebih suka bila aku memanggilmu mami, mama..mamamia…” mulutnya terus mengoceh. Aku tidak pernah mau memastikan padanya apa yang terus dilontarkan dari mulutnya, aku yakin pasti itu adalah umpatan untuk kami. Saat seseorang mengetuk pintu aku menoleh kearah yang sama, Irsan masuk dari balik pintu besar membawa perlengkapan kesehatan, box putih yang dibawanya itu penuh dengan perban,kapas, betadine dan beberapa kan tong plastic es batu. Dia berjalan mendekati Erick yang duduk diatas kursi, Irsan sengaja berjongkok diatas lantai membersihkan lukanya, dia membuka sobekan kain yang tadi dililitkan untuk menyumbat darah yang mengalir dari tangan Erick. Anaknya menolak untuk dia obati, tangannya ikut memberontak dengan keras, Irsan memang keras kepala sama kerasnya dengan Erick, mereka saling menolak dan mengejar tanpa melakukan perang mulat hanya gerakan tangan yang saling mengunci. Irsan keluar sebagai pemenang, Erick pasrah saat ayahnya menaruh beberapa gumpalan es yang sudah dibalut dengan sobekan baru dari bajunya. Lalu menempelkan pada lukanya pelan pelan, membersihkan darah yang mulai berhenti dan membeku kemudian memberinya obat baru mengingatkan beberapa gulungan perban. Aku tahu mengapa Irsan seperti itu, jiwanya sebagai seoran g ayah begitu luar biasa. Aku melihatnya hari ini. Jarang ada pria yang mau mengalah terlebih untuk ur usan cinta. Dia seperti matahari yang selalu memberi penerangan tanpa pamrih.
“kalau masih berdarah, dan kau sakit, lebih baik kita segera ke dokter dan melakukan foto citiscan pada ruas jarimu, aku takut kau mengalami sakit atau Sesuatu yang tidak kita inginkan”
“ayah tahu, hati ini lebih sakit daripada rusuk jariku yang patah!”
Aku menoleh kearah mereka aku kembali duduk lalu mengamati mereka berdua. Irsan terdiam dan memilih kursi yang lebih dekat dengan arah putranya daripada kursi yang dekat denganku.
“aku mencintai ayah apapun yang terjadi, tapi ini bukan berarti aku bisa terima begitu saja dengan perlakuan semacam ini”
Aku memejamkan mata saat Erick kembali membuat nadanya meninggi dengan tajam, Irsan hanya bisa mengambil nafas panjang.
“tidak bisakah kita melanjutkan acara makan malam kita, sebelum nenekmu menyadari dan mengerti apa yang telah terjadi”
“memangnya kenapa kalau nenek tahu?”
“sudahlah Erick, hentikan!” aku memelankan suaraku agar aku tidak terpancing.
“hentikan mulutmu? Diamlah.. Oh…mama…!”
“Erick!” Irsan membentaknya. Lalu kami bertiga terdiam saat ada suara wanita yang memanggil nama mereka berdua. Dalam hitungan kelima wanita itu masuk, kami lebih terkejut setelah mengetahui siapa yang datang.
“Ibu!”
“nenek!”
Wanita itu mendekati meja kami, dan mengamati semua isi ruangan dengan senyum hingga langkahnya terhenti ketika matanya melihat bercak darah pada kapas dan sobekan kain yang terdampar di meja
“aku sangat lapar dan letih mencari kalian, ternyata kalian malah mainan disini!”. Oh tuhan, mainan! Mainan katanya. Kalimat itu sangat tidak tepat untuk digunakan sindiran, lebih tepatnya jika…
“oh, Maurin kau sudah datang, aku merindukanmu sayang?”
“ibu!” aku hanya bisa buru buru memburamkan pandangannya dengan senyum yang sedikit susah aku gambarkan. Karena sesungguhnya senyuman ini begitu palsu
“oh Erick kenapa tanganmu, kenapa ini Irsan, kenapa dengan anak kalian!”
“anak kalian!” Erick menoleh dan memotong pembicaraan neneknya hingga kami memperhatikan gera k geriknya “ahaii…yah tentu aku paham”
“oh Erick dia cantik bukan, dia kekasih ayahmu, harusnya kau bisa mendapatkan yang lebih cantik dari yang satu ini!kau darimana saja ? tanganmu ini kenapa. Oh ya sayang mana gadis yang tadi ingin kamu pertemukan pada kami”
Kami bertiga terdiam, aku hanya mengawasi tatapan mata mereka yang saling menatap tajam, aku hanya terus berdoa agar tuhan mau memberikan mereka ketenangan jiwa.
“ya..nenek” kami masih terus mengawasinya ”nenek duduklah saja aku tidak masalah, tadi kami hanya mengobrol sedikit seru” tangannya mengeluarkan korek dari kan tong kirinya lengkap dengan kota k rokok mild.
“sekarang kau perokok?”
“sejak aku putus dengannya, nek! Tatapan itu mengarah padaku dengan sorotan tajam, Irsan hanya bisa menelan ludah saat kejadian ini berlangsung.
“ah sudahlah, jangan mencintai oran g yang tidak mencintaimu,selama kau tampa n pintar dan berkantong tebal, maka kau tidak perlu mencari wanita, wanitalah yang akan mencarimu!. Irsan..kapan makan malam ini dimulai”
“segera, sekarang juga bisa…Bu” Irsan mendatangiku dan meraih punggungku
“maaf semua, rasa laparku hilang, lebih baik aku mencari udara segar, selam at malam semuanya!” Erick pergi meninggalkan kami semua tanpa basa basi, lalu pergi dan membanting pintu meskipun tidak terlalu kencang, aku masih terdiam saat Irsan melepaskan tangannya dari pinggulku sejak Erick keluar dari pintu itu.tidak ada yang berani berucap sesuatu antara aku dan dia, hanya Ibunya saja yang mencoba mencairkan suasana tegang ini, tanpa mengetahui inti dari masalah itu sendiri. Singkatnya malam ini kembali sedikit tenang ketika permasalahan kami tidak terungkap oleh angin. Meskipun makan malam kami terasa kurang nikmat, Irsan selalu mencoba untuk tetap tersenyum, menyeringai dan menimpali lelucon yang diceritakan oleh ibunya, akupun bersyukur Ibu juga tidak membahas sedikitpun tentang Erick. Tapi meskipun begitu jauh dalam hatiku aku juga merasakan kegundahan dengan sikap yang ditunjukan oleh Erick, hingga beberapa hari berganti aku masih saja merasa bersalah.
Aku membayangkan bagaimana bila aku dan Irsan menikah bila sikap Erick terus menerus seperti itu. aku menceritakan semua yang terjadi pada Robby dan kedua oran g tuaku. Awalnya mereka sama terkejutnya denganku, sama persis seperti apa yang kami alami dulu. Tapi tidak pada Robby. Dikatakan padaku lain hari bila suatu hari dan tanpa sengaja Robby pernah menemukan foto kedua oran gtua Erick yang disimpan pada dompetnya dan juga Ipad milik Erick yang pernah dia pinjam saat hendak menyalin lagu dan beberap koleksi film pria dewasa. Karena kelancangan Robby, dia berhasil menemukan beberapa koleksi foto keluarganya yang sempat membuat dirinya terkejut. Didalam koleksi folder foto itu ada beberapa foto Irsan dengan mantan Istrinya, lalu menemukan foto Irsan yang terbaru saat ada di Universal studio bersama Erick. Saat dia menyampaikan itu aku begitu marah dan terkejut, kenapa dia tidak menceritakan padaku. Menurutnya akan lebih baik bila aku mengetahuinya sendiri. Maka aku akan lebih tenang saat mengatasinya dibanding bila aku mengetahuinya dari oran g lain. Jika aku pikirkan kembali apa yang dikatakan Robby tentang aku ada benarnya juga. Aku tipikal oran g yang mudah terganggu dengan beberapa kejadian yang selalu membuatku mudah panik sebelum aku benar benar mengalami pada situasi yang aku bayangkan. aku takut dengan bayanganku sendiri. Tapi kini, aku mulai sedikit lega karena semua sudah mulai tahu dengan jelas. Kata Irsan, sejak kejadian malam itu Erick belum pernah pulang hingga neneknya jatuh skait memikirkan apa yang sesungguhnya terjadi.dan saat aku tahu kabar ibu sakit aku langsung datang menjenguk di kediamannya, baru kali ini aku datang dirumah yang sama tapi dengan pria yang berbeda. Dua tahun yang lalu aku datang bersama Erick, aku pikir rumah ini dulu kosong. Erick tinggal sendiri, ternyata tidak. Irsan langsung mengantarku di kamar Ibunya, ibu terbaring dengan selang infuse yang berfungsi sebagai pengganti makanan, ibu tersenyum lalu menarik tanganku agar aku mau mendekatinya. Akupun segera duduk manis disampingnya, mencium tangannya lalu keningnya, sedikit pelukan hangat semoga itu bisa memberikan spirit untuk kesehatannya. Irsan duduk disebelah kan an Ibunya, membetulkan bantal untuk menyamankan posisi duduk sang ibu.
“lama kita tidak bertemu!”
“iya Bu, maafkan saya baru sempat menjenguk Ibu yang sedang sakit!”
“tidak apa apa, aku sengaja melarang Irsan untuk memberitahumu kalau aku sakit, paling tidak itulah yang dikatakan dokter. Aku ini tidak sakit, sayang! aku Cuma rindu pada cucuku, dia nakal sekali lama tidak menjengukku!” suara ibu terdengar sedih dan pelan saat mengatakan kerinduannya pada Erick. Irsan hanya membelai punggung ibunya yang sedang menangis di bahunya. Karena sedih akupun menjatuhkan air mata yang sudah tidak sanggup lagi untuk aku bendung. Akupun meninggalkan mereka berdua, aku tidak sanggup melihat ini semua.
“saya buatkan bubur ayam ya bu!, sebentar saja. nanti dimakan ya!” aku pergi menuju dapur. Terkenang kembali saat aku menghampiri sebuah dapur mereka, Di dapur ini aku dulu pernah memasak berdua bersama Erick, ingatan lamaku tentangnya kembali muncul, aku memasak sambil menitikkan air mata. Aku tidak sabar lagi untuk menghubungi Erick, aku hanya ingin dia menengok seorang wanita tua yang sering dipanggilnya nenek sebelum dia menyesali sesuatu sebelum terlambat. Belum menghubunginya saja tangaku sudah bergemetar, aku meneguk air untuk sedikit membantu mencairkan darahku yang sudah mengental.
“biar aku yang memencet tombolnya?” tangan Irsan meraih ponsel yang kugenggam. Bunyi nada keypad terdengar berulang ulang hingga terhubung nada sambung saat jarinya menekan tombol loud speaker
“ada apa kau menelphoneku?” sahut Erick dengan tegas dan kasar “apa kau akan mengundangku di pesta perkawinan kalian?”
“tidak…tidak Rick,nenekmu sakit!”
“di Surabaya banyak rumah sakit yang buka duapuluh empat jam, kalian tahu itu”
“Erick, aku mohon pulanglah sebentar saja, nenekmu sakit!”
“apa imbalannya!”
“apa yang kau minta dari kami?”
“bukan imbalan dari kalian tapi kamu!” aku terdiam dengan menggigit bibirku kuat kuat, tangan Irsan mengepal saat aku menatap wajahnya yang terlihat kusut
“lanjutkan, tolong aktifkan loudspeakermu kembali!” bisiknya pada telingaku. Suara Erick kembali mengudara di ruangan itu, aku paham apa maksud Irsan memintaku untuk menyalakan speaker aktif yang baru saja aku matikan.
“kenapa, kau takut!” lanjutnya
“apa yang harus aku takutkan darimu, kau terima atau tidak penjelasan kami.aku adalah kekasih ayahmu, aku sangat mencintainya kau sudah lama tahu tentang itu jadi tidak bisa kau meracuni pikiranku”
“baguslah kalau itu sudah keputusan terakhir kalian”
“aku mohon padamu Rick, tolong…demi nenekmu, aku harap kau mengerti! kami akan pergi bila kau merasa jijik dengan aku dan ayahmu, tapi aku mohon jangan libatkan nenekmu dalam permasalahn ini”
“apa imbalannya!”
“kenapa harus ada imbalan!” pekikku
“lantas kenepa kau memintaku unutk mengerti?..kau setuju atau tidak!apa susahnya kau mengatakan iya atau tidak”
Irsan memandangku lalu menggenggam jariku dan menganggukkan kepala, isyarat agar aku mengatakan iya
“baiklah!” aku terpaksa menyetujuinya
“aku tahu kau pasti akan mengatakan itu walaupun terpaksa bahkan bisa dikatakan sangat terpaksa! Baiklah aku datang dengan penerbangan pesawat pertama hari ini, sejujurnya aku memang sedang ingin pulang, aku sedang ada dibandara dengan menggenggam tiket penerbangan, tolong jangan katakan pada Irsan kalau aku akan pulang, kau dimana sekarang!”
“aku dirumahmu!”
“tunggulah aku disana, sebelum jam dua belas siang, aku akan datang menemui kalian, pastikan kalau ayahku tidak sedang berada di rumah saat aku datang” Irsan mengatakannya dengan cepat aku nyaris tidak menden gar apa yang dia katakan, tapi dengan cepat juga Irsan membimbingku agar aku seger a mengatakan iya meskipun aku tidak sepenuhnya sadar. Akupun hanya mengatakan iya dengan anggukan kepala
“kau dengar aku Maurin!”
“iya, jelas!”
“sampai ketemu nanti, sayang…muacchhh!”
Aku tidak tahu harus berbuat bagaimana, yang jelas aku merasa bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan.
“tenanglah semua akan baik baik saja, aku akan segera pergi nanti saat aku perkirakan Ricko akan datang, terimakasih banyak kau sudah mau membantu aku mencarikan jalan keluar!”
“bagaimana bila dia nekad?” aku terdengar khawatir, hanya senyum dan pelukan serta kepercayaan yang sangat tinggi dia berikan padaku. Aku tahu Irsan pasti melakukan itu. tapi aku hanya tidak percaya diri mengemban misi yang dia percayakan padaku
“kau tahu sayang, aku sangat mencintaimu dengan caramu menentukan sikap, kau percaya diri dan tidak rapuh jadi tolong bangunlah kepercayaan dirimu setinggi mungkin. aku mengenal siapa kalian jadi tidak mungkin semua meleset dari dugaanku. Nah sekarang, untuk sementara bawalah teh krisan ini pada ibu selagi panas, didalamnya sudah kuberi ramuan ginseng dan sedikit madu juga campuran kayu manis. Aku juga sudah membuatkan untukmu”
“baiklah”
Saat aku kembali kekamar ibu sudah tertidur dengan memeluk album foto semasa Erick kecil, wanita tua itu teramat merindukan cucunya
“tunggulah sebentar bu, cucumu akan segera datang!” aku pelan saat mengatakan itu pada diriku sendiri
“nampa knya ibu sudah tertidur karena obat, kemarilah. Duduklah diteras bersamaku!” aku mengikutinya. Aku mengiyakan semua yang dia minta, ini demi ibu dan kembalinya Erick. Dia percaya kalau Erick akan menuruti semua apa kataku. Meskipun dia terlihat memberontak.
“aku tidak akan jauh, dua jam setelah Erick datang aku akan kembali, pastikan bahasan pokok permasalahan ini terselesaikan. Aku mohon padamu Maurin, aku sangat mengaharapkan dia kembali dalam pelukanku seperti bayi yang dulu pernah aku gendong”
Pada dasarnya Erick seorang pria yang mudah dikalahkan terutama dengan oran g yang sangat dicintainya. Orang itu adalah aku. Mendekati pukul dua belas, Irsan berpamitan pada ibunya meskipun dia tahu kalau ibunya masih tertidur pulas. Bibirnya yangmanis dan lembut itu mendarat pada kening wanita tua yang telah terkulai dalam tidurnya. Menyisakan ciuman manisnya untukku sebelum dia menghilang dari pandanganku.
Dan dengan sabar aku menunggu kedatangan Erick, seperti apa yang dia sampaikan padaku tadi. Tepat jam dua belas siang, batang hidungnya muncul tepat di depan mataku. Aku membuka pintu tanpa ragu menyambut kedatangannya. Pria yang dulu aku kencani tidak lagi memiliki kerapain dan warna kulit terang. Pria yang ada dihadapanku saat ini lebih terlihat tua dari apa yang ada dalam bayanganku. Celana jeans yang dia gunakan berlubang pada lututnya, rambutnya panjang sebahu dan sedikit terlihat ikal dengan rambut jambang dan dagu yang cukup tebal hampir menutupi bibirnya yang sangat menarik hatiku dulu. Dia mengenakan topi baret berwarna putih dengan kemeja berwarna putih yang sengaja tidak dia kan cingkan dua lubang dari atas, sehingga menunjukkan rambut yang tumbuh di sekitar dadanya, terlihat lebat dan sedikit sangar, tangannya memegang sebotol whiskey kecil dan sebatang rokok yang baru saja dihisapnya. Mulutnya mengeluarkan asap yang sengaja disemburkan asapnya persis didepan wajahku.
“masuklah!” aku mengundang pemilik rumah yang seharusnya tidak perlu aku layani layaknya tamu.
“aku akan masuk tanpa kau menyuruhku, apa kau lupa kalau ini rumahku!” tegasnya sambil berlalu dan menghambur
Aku terdiam tidak menjawab satu patah katapun. Erick terus masuk dengan gaya baru yang dimilikinya, setiap sudut ruangan tidak lepas dari penglihatannya, terus menyelidiki. Mungkin dia tidak percaya dengan apa yang sudah aku sampaikan. “ayahmu tidak ada dirumah, dia masih di restaurant!” aku menjelaskan apa yang bisa kau katakan
“aku tahu sayang, aku hanya ingin tahu bahwa dia tidak sedang memelihara anak buahnya untuk menjaga ratunya. Kau pikir aku sama sekali tidak memperdulikan nenekku! Kau salah…salah…salah besar aku sering menghubunginya meskipun aku tidak pernah mau berbicara satu katapun” aku mencoba untuk selalu tenang meksipun Erick mendekatiku.
“aku ambilkan minum dulu!”
“kau masih gugup bila aku medekatimu, sama seperti saat kita measih berkencan dulu” aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan padaku. Rasanya kepalaku terus berputar putar. Dari dalam ibu berteriak teriak memanggilku
“iya Ibu, Erick sudah datang dari tadi, dia ingin membangunkan neneknya. Tapi niatnya tidak terlaksana, dia takut kalau mengganggu istirahat ibu!”
“maurin tolong bawa ibu menenmui cucu ibu!”
Erick pergi menemui kami dikamar lalu menjatuhkan topinya dan menaruh botol whiskeynya di atas meja kama r begitu saja, menjatuhkan lututnya diatas lantai lalu memeluk neneknya. Inilah best dramatic impact dari semua yang sudah aku lakukan. Harusnya semua tidak seperti ini.
“aku merindukanmu nek, sungguh aku hampir mati merindukanmu” menden gar itu jantungku serasa ingin meledak, bagaimana tidak bila saat mengatakan itu, mata Erick tertuju padaku seperti anak panah yang akan meluncur pada sasaran. Sang nenekpun memeluk cucu kesayangannya dengan erat sambil menitikkan air mata, mungkin ibu mengira kalimat yang baru dikatakan cucunya itu ditujukan pada dirinya. Aku tidak kuasa dengan semua yang aku lihat, dua oran g itu serasa menyematkan sesuatu yang tidak bisa aku kenali. Mungkin itulah gaya mereka menyampaikan suatu pesan tanpa perlu membuat oran g lain mengerti ataupun memahami bahasa mereka.
“kau nakal, tidak seharusnya kau membiarkan wanita tua seperti aku sekarat di pembaringan, ayahmu tidak sepertimu, aku beruntung karena calon ibumu bersedia merawatku dan membanjiriku dengan perhatian yang luar biasa. Lagipula sejak kapan kau menyukai alcohol dan menjadi perokok berat. Nafasmu beraroma tembakau dan campuran minuman keras…yang cukup menyengat membuat nenek sangat pusing”
“Maafkan aku nek. Aku tahu ini kebiasaan buruk yang tidak seharusnya aku lakukan. tapi ini cukup membantuku dalam menghibur diriku sendiri dari seorang pecundang handal. Satu hal lagi, pria yang mendapatkannya memang sangat beruntung nek” mata itu masih menyudutkan aku dengan cara dan gaya nya memandang, bahasanyapun setajam pedang, rasanya siap dihunuskan pada jantungku yang sudah berdarah. Rasanya sangat getir menancap dalam sukma. Meskipun begitu aku sedikit senang, karena ibu sudah mulai terlihat ceria dengan kehadiran cucunya. Wajahnya lebih berseri, tidak seperti beberapa jam yang lalu saat aku dan anaknya duduk bertiga disampingnya. Sebagian pembicaraan mereka bisa aku dengar tapi sebagian kecil lainnya aku tidak bisa memndengar, aku hanya menden gar gelombang suara saja tanpa mengetahui persis apa yang telah mereka bicarakan. Aku mengundurkan diri, mencari kesibukan lain tidak enak bila harus menikmati pandnagan yang tidak membuatku nyaman, aku juga tidak ingin dikataka pengganggu. Aku sengaja memberikan mereka banyak peluang untuk melepas rindu. Terus terang saja aku memang sengaja menghindari Erick, aku tidak ingin terlibat dalam kemelut emosionalnya terlalu dalam. Aku sudah menyakitinya, aku tidak ingin meneambah kepedihan yang lebih dramatis lagi. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan banyak hal pada Erick, sayangnya rasa takutku melebihi rasa percaya diriku yang menghilang sejak kedatangannya satu jam yang lalu. Aku menyibukkan diri di dapur. Aku hanya bisa menangis didalam dapur tanpa ada yang bisa melihatku, aku tahu aku salah. Tapi aku tidak mau bila terus menerus aku dipojokkan seperti ini apapun masalah yang sudah aku berikan padanya. Ini masalah cinta seharusnya dia tahu konsekuensi masalah percintaan. Rasanya aku ingin pinsan saja, yang lebih menjengkelkan lagi saat Irsan tidak segera datang dan Erick terus mencariku dan menyusulku hingga ke dapur. Mengejutkan aku begitu saja.
“tidak seharusnya kau bersembunyi di sini! Harusnya kau lebih berani menatapku seperti yang sudah aku lakukan. Bukankah kau calon ibuku, wahai mantan kekasihku!” nadanya terdengar mengejek sambil memainkan pisau diatas meja“ aku merindukan cara bagaimana aku dulu menyentuhmu dan menciummu, akupun sangat merindukanmu, sayang”
“aku mohon Erick, berubahlah bersikap dan kumohon jangan memperlakukan aku seperti itu!”
“apa?”
“aku mohon Erick!ayahmu sangat merindukanmu, begitu juga nenekmu. Aku mohon jangan beritahu dia mengenai apa yang sudah pernah kita lakukan. Aku tidak tega bila dia harus mengetahui apa yang telah terjadi diantara kita bertiga”
“kau ternyata pengecut! Dia mendekatkan bibirnya pada telingaku
“memang, tapi aku sudah ingin menyelesaikan semuanya. Aku mohon tetaplah ditempatmu, jangan mendekat. Jangan buat segalanya semakin terlihat tidak baik!”
“kau takut?” aku tersudut di sebuah ujung dinding aku nyaris terjatuh, dan tangannya begitu sigap saat menarikku. Kini tangannya melingkar dan menempelkan aku di dinding, batas antara hidung dan mulut kami begitu dekat, jantungku berdebar kencang sekujur tubuhku terasa mengejang, darah ini mendidih, tapi dia masih terlihat begitu santai “Maurin, tidak seharusnya aku mencintai calon ibu tiriku, dan tidak seharusnya ayahku mencintai calon menantunya seperti apa yang sudah terjadi diantara kita. Harusnya saat itu kau mencari informasi diantara kami sebelum kau benar benar masuk dalam lingkaran api yang tidak berujung”
“hentikan Erick, aku mohon…aku mohon hentikan” aku memohon hingga aku hampir saja menyudahi semuanya dengan satu ciuman agar dia segera pergi menjauhiku dan melepaskan aku dari tangannya yang kuat sebelum Irsan datang dan mengetahui semuanya. “aku mohon!” dia hanya bisa tersenyum, wajah Erick tampa k terlihat kejam, mungkin sekarang dia memang benar benar ingin membunuhku “baiklah, bila kau ingin menyudahi nyawaku, maka akupun rela mati ditangnmu, asal kau tahu, aku memang sangat mencintai ayahmu dibandingkan dirimu” mulutku terbungkam begitu saja oleh ciumannya, aku tidak lagi dapat berbicara ataupun berteriak minta tolong, tangannya begitu kuat memegangi pergelangan tanganku, dan satu kakinya mengunci kakiku, aku nyaris tidak bisa bernafas, waktu terasa begitu lama. Aku tidak dapat berfikir jernih. Hingga aku benar benar dibuat seperti wanita yang tidak punya harga diri. Aku mencoba untuk memberontak tapi semakin aku memberontak tangan dan kakinya semakin kuat mengunciku. aku tidak lagi bisa mendengar. Tiba tiba saja sesuatu mengejutkanku saat seseorang menarik tubuhnya dariku
“astaga Irsan” aku berteriak begitu spontan. Aku bahkan tidak berani menyangkal walaupun semua yang dia lihat tidak seperti apa yang dia pikirkan. Matanya memerah begitu juga wajahnya, Erick tersenyum dengan sedikit mengejek.
“tidak seharusnya kau seperti itu, ini tidak masuk dalam daftar kegilanmu yang pernah aku pikirkan tentang perlakuanmu pada seorang wanita?”
“ayah cemburu? Seharusnya aku yang cemburu. Aku masih tidak mengerti kenapa ayah tega merebut wanita yang aku cintai untuk dijadikan ibuku”
“kau mabuk Erick, ayah tidak akan membahas masalah ini” Irsan menarik tubuh Erick dan menyeretnya ke halaman luar, aku hanya bisa menangis tanpa bisa membela siapa yang harus aku bela. Erick berteriak begitu juga Irsan. Aku hanya berharap ibu tidak terbangun lalu mencari apa yang telah dia dengar. Itu terlalu bodoh. Aku bisa mati.
“apa yang kau bicarakan, kita sudah pernah membicarakan ini, bertiga sebulan yang lalu!” Irsan serasa tidak mau kalah menodongkan kalimat tanpa harus berteriak dan memaki maki seperti yang telah Erick lakukan padanya.
“Ricko ayah tahu, ayah salah, tapi tidak sepenuhnya kita semua salah. Kita hanya memerankan dari takdir yang telah tuhan berikan pada kita, nak. Ayahpun tidak mau ini semua terjadi. Dan bila ayah tahu dia kekasihmu maka ayah akan menghindarinya meskipun itu teramat sakit, ayah mohon demi keutuhan keluarga kita!”
“dengan kata lain ayah memintaku mengalah,…oh aku paham, aku mengerti….pengorbanan anak pada seorang ayah adalah menyerahkan kekasihnya untuk dijadikan ibu tiri”
“tidak…tidak…tidak Erick, aku bukan kekasihmu sejak aku mengatakan bahwa aku menjalin hubungan dengan Irsan, dan perlu kau ketahui. Irsan tidak begitu saja menerima cintaku meskipun sesungguhnya dia tidak bisa menghindariku. Jangan kau salahkan ayahmu. Kau terlalu membabi buta! Ini soal perasaan. Ini soal cinta….”
“setan…persetan dengan semua ini. Harusnya kau menikah denganku tiga bulan yang lalu. Dan perlu ayah ketahui, aku rela mati demi kekasih ayah. apa ayah tidak bisa mencari wanita lain” suaranya kembali berteriak keras. Kami tidak ingin terpancing oleh kalimat aneh seperti yang kami dengar.
Irsan hanya terdiam saat Erick mendorongnya hingga dia jatuh ke tanah. Tapi kami lebih terkejut saat ibu sengaja membantingkan vas bunganya di hadapan kami.
“rumah seperti neraka. Neraka…neraka….”
“ibu”
“nenek!”
“apa kalian lebih suka aku mati hari ini! Kalian pikir aku bodoh. Tidak bisakah salah satu dari kalian mengalah demi keutuhan keluarga ini!”
“maafkan aku ibu, maafkan aku!” irsan berlari lalu berlutut mendapatkan kaki ibunya demi sebuah permohonan maaf. Ibunya sedikit membusungkan dada sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang gemetar “aku mohon …tenanglah Bu, aku akan meneceritakan semuanya, semuanya….semuanya” aku tidak tega melihat dia terus menghibah, tapi apa daya aku tidak punya kemampuan untuk membelanya. Ini permasalahan pelik, terlebih akulah yang menciptakan semuanya. Irsan belum juga bangun dari kaki ibunya dan terus bersujud layaknya seorang pendosa yang memohon pengampunan sang ratu, Erick berjalan melewatiku dan pergi melintasi mereka berdua, langkahnya terhenti saat neneknya memanggil namanya.
“kau jangan pergi Ricko! Bangunlah San, kemarilah kau” ibu memanggil kami untuk mendekat. Erick mendahului kami duduk disebuah kursi rotan yang berbantal busa tanpa menyadarkan tubuhnya yang kaku, matanya masih mengkilat dan tajam, meskipun dia terus memperhatikan aku yang masih terisak isak. Irsan merangkulku dan duduk disebelahku, lalu ibu segera menyusul kami duduk diantara cucu dan putranya yang tengah berselisih.
“ibu sudah tahu semuanya, semuanya, semuanya…kalian tidak perlu bersandiwara lagi” kami terkejut saat dia mengatakan kalimat yang sebelumnya tidak pernah kami bicarakan, meskipun kami tidak meragukan apa yang telah dikatakannya. Lalu dia berpindah di sebuah kursi yang sudah lebih dulu ditempati cucunya, mendekati Erick yang tertunduk.
“Ricko, maafkan nenek. Irsan maafkan Ibu. Aku tahu semua yang kalian alami. aku ini ibu, aku ini nenekmu…aku punya hati tidak ada yang bisa aku bela satu diantara kalian. Hanya saja ibu mengambil garis tengah unutk berpura pura tidak tahu, dan sengaja membiarkan kalian menyelesaikan semua ini dengan baik” tangannya yang keriput dimakan umur itu menggenggam tangan cucunya kuat kuat
“sudahlah Bu!” Irsan menyela
“dengarkan ibu Irsan, ibu tahu apa yang Maurin alami, ibu mengamatinya sejak pertama kali aku bertemu dengannya”
“kalian ini semua anakku dan juga cucuku, dan siapapun yang mendapatkan Maurin, bukanlah masalah buatku. Tapi apakah kalian pernah berfikir betepa sakitnya hidup dengan pasangan yang tidak mencintai kita seutuhnya, itu akan terasa sangat meyakitkan, begitu getir. Ibu harap diantara kalian bisa berbesar hati dan menyakini sucinya cinta yang tumbuh diantara kalian!”
Erick tetap termenung dan membuang muka meskipun nenek dan ayahnya sudah berusaha mencoba memberikan senyum.
“sayang….cinta itu tumbuh begitu saja tanpa bisa kita sadari dan kita prediksi kapan dan dimana dengan siapa cinta ini bersemi, awalnya aku melihat Maurin, saat dia tanpa sengaja menabrak Irsan di bandara. Sorot mata kalian seakan mengatakan sesuatu dengan apa yang pertama kalian temui, sejak kejadian itu ibu tahu alasan yang membuat Irsan bolak balik swiss dan Ind onesia , tanpa sengaja suatu saat yang berbeda itu ibu membaca buku harian milik ayahmu, memang kalimatnya tertulis secara tersirat. Tapi ibu paham apa yang telah dia pikirkan. Dan di tahu yang berbeda nenek kembali melihat sosok gadis yang sama di Jakarta , kau masih ingat Ricko! Saat kau ingin memperkenalkan nenek pada seorang gadis, saat itu nenek memang tidak ingin menemui Maurin, karena nenek ingin sekali memperhatikan gadis yang telah kau bawa saat itu, nenek ingin memastikan. Tapi nenek tidak berhasil. Yang berhasil nenek ingat hanyalah sapu tangan yang dia bawa saat itu. itu adalah milik Irsan, hanya saja nenek tidak berani meyakinkan semuanya. Terlebih kau selalu memperkenalkan banyak wanita pada nenek”
“kenapa ibu tidak mengetakan pada kami!” Irsan terdengar menyanggah, begitu juga aku meskipun tidak sanggup untuk mengatakannya
“dengar San, kau dan Erick sosok yang berbeda ibu punya cara sendiri memenangkan hati kalian”
“apa itu berarti, nenek lebih rela kalau Maurin menjadi ibu tiriku dibandingkan menjadi Istriku…begitu?” suaranya terdengar membentak bentak, wajah memerah, tangannya mengepal, gigi gerahamnya hingga berbunyi
“Ricko sayang, bukankah kau sudah tau jawaban seorang wanita yang ingin kalian menangkan. Siapa yang dia pilih untuk memiliki hatinya. Jika dia mencintaimu maka ibu akan membujuk ayahmu untuk menjauhinya. Justru yang terjadi adalah dia lebih memilih untuk menjadi ibumu daripada istrimu, apa itu kurang jelas sayang!” wanita tua itu bersuara keras tegas dan terlihat tenang. Sehingga suaranya sanggup membuat yang lain bergidik saat mendengarnya. Sayangnya suara itu tidak berlaku unutk Erick yang masih terdengar dan terlihat menantang.
“jadi untuk apa kalian memintaku kembali, untuk apa? apa kalian ingin membunuhku dan menguburku dalam tanah dalam dalam!begitukah” sontak Erick berdiri dan menendang sebuah kursi yang ada di depannya. Semuanya terkejut dana ku sendiri merasa terpuruk.
“sayang!kembali…kembali” ibu terus memanggil cucunya, dan cucunya terus saja berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun
“maafkan saya ibu!”hanay itu yang bisa aku katakan,Irsan menundukkan kepalanya,matanya terlihat berkaca kaca menyesali apa yang sudah terjadi diantara kami. Wajahnya tidak sedikitpun menoleh ke arahku lalu berlari mengejar putranya
“sudahlah,ibu mengerti. Suatu saat Ricko akan memahami semua yang sudah terjadi, hanya saja dia membutuhkan waktu yang lebih lama. dia sangat mengharapkanmu. Ibu mengenal mereka” Irsan mengejar putranya. Hanya aku dan Ibunya yang masih duduk dan menenangkan emosi.
“saya…saya..”
“sudahlah, ibu tahu, tahu dan paham atas sikapmu. kau dan Irsan saling melengkapi, kalian begitu tampa k terlihat luar biasa bila sedang bersama, dan ibu harap kalian menyudahi semua drama ini dengan akhir yang bahagia…sayang. Percayalah pada ibu, nak, suatu saat Ricko akan datang dan menghargai hubungan kalian..percayalah!awalnya ibu memang pernah membencimu. Ibu tidak rela bila kau mempermainkan hati kedua orang yang ibu cintai , setelah semuanya terjadi. Dengan berjalannya waktu kau banyak merubah kebiasaan buruk Irsan yang sebelumnya ibu sendiri tidak bisa merubahnya. Begitu juga dengan kehidupan Ricko, dia jauh lebih baik saat bersamamu dibanding dengan kebanyakan gadis yang pernah dia kencani” ibu terdengar menghiburku dengan bersusah payah meskipun aku tahu dalam hatinya begitu sangat terpukul dan terluka
“terimakasih, ibu sudah sangat mau mengerti dan begitu bijaksana menyikapi permasalahan kami!”
“itulah tugas seorang ibu, sayang. Nanti kau akan memahaminya”
Sejak kejadian itu ada beberapa hal yang masih aku sesali tapi setelah aku merenungkannya kembali baru aku sadari kenapa Tuhan menggariskannya seperti itu. ada beberapa diantara serpihan hati yang masih harus aku punguti. Diantara kedua lelaki yang pernah mengisi hatiku dengan cara yang mereka miliki. Sungguh keduanya sosok pria yang sangat aku kagumi. Jujur atau tidak aku memang pernah jatuh hati diantara keduanya,meskipun aku menyesal pernah menyakiti seorang diantara mereka. Sisi baiknya, aku berterimakasih pada Tuhan yang telah memiliki beberapa skema yang awalnya tidak bisa aku mengerti dengan tingkat pemikiran manusia sebodoh aku. Sungguh ini luar biasa. Jika aku masih boleh berharap dan meminta aku mengingikan Erick bisa berbahagia itu saja,
Sebulan setelah kejadian itu, Erick menemuiku dengan sengaja di suatu taman kota . sikapnya kali ini begitu sederhana meskipun masih ada beberapa kebiasaan baru yang terlihat buruk dimataku. Aku merasa sebagian dari dirinya bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Disini kami bertemu untuk pertama kali sejak kejadian histeris itu. tutur katanya juga lebih tertata. Tapi entah untuk berapa lama lagi kami akan bertemu. Tentunya kami belum memiliki batasan waktu yang harus ditentukan olehnya. Meskipun aku berusaha melupakan tentang sikap yang pernah dia lakukan dan yang tidak aku suka.
“aku menyesal pernah memperlakukanmu dengan buruk, percayalah saat itu bukanlah aku yang biasa engkau kenal. Sesuatu telah meracuni pikiranku, siap membuatku menancapkan sebuah pilar yang terbuat dari pecahan kaca. Aku emang sangat mencintaimu hingga membuatku menjadi seseorang dengan rasa egois yang tiba tiba saja menjadi sebuah cash and flow tanpa aku bisa berpikir secara live rightly think rightly of course we have the best rightly”
Kalimat itu benar benar menyentuhku, dan untuk pertama kalinya sejak kami bertengkar, inilah pelukan yang aku berikan tanpa ada paksaan. Nuasa hatiku tidak lagi berkabut aku merasa kalau diapun merasakan hal yang sama
“ini bukan lagi masalah hati, meskipun harus aku akui bila akulah yang lebih berdosa atas perasaan yang masih kalian miliki” aku menitikkan air mata, tanpa bisa aku tahan lebih lama lagi. Aku ingin sekali berteriak histeris tapi lidahku susa h sekali mengeluarkan bunyi nada yang aku inginkan. Maafkan aku…sekali lagi maafkan aku atas semua yang sudah aku lakukan padamu!”
“sudahlah…semua sudah selesai tolong jangan bebani aku!”
“maafkan aku, aku tidak sengaja melakukan itu semua!”
Lalu kami terdiam dan tangannya kembali merangkul bahuku. Kamipun kembali bersikap sewajarnya seolah olah tidak pernah ada masalah yang telah terjadi. Dia kembali mengambil jarak dari tempat dudukku. Saling merekahkan senyum menikmati udara bebas yang masih bisa dikatakan segar. Tentunya ini akibat dari suasana hati yang mulai pulih
“aku sudah menemui ayahku tadi pagi! Pesawatku berangkat nanti malam, satu lagi. Tolong jaga mereka berdua untukku”
“kenapa begitu cepat, kau kemana?”
“aku ingin sekali mengunjungi Negara paman sam, satu hal lagi dulu aku pernah berjanji padamu di bandara soekarno hatta. Dan aku harap kau masih mengingatnya. Ini tentang ayahku. Ternyata benar aku memang lebih mencintainya dibanding besarnya rasa cintaku padamu. Aku akan mengorbankan segalanya apapun….apapun yang dia minta dan dia suka. Aku rela meskipun itu sulit aku akan belajar merelakan semua….hmmm satu hal lagi, jangan kecewakan oran g yang aku cintai itu juga termasuk dirimu sendiri. Buatlah aku bangga karena pernah menjadi kekasihmu”
Sekian lama aku bersama menjalin asmara dengan Erick, sungguh ini pesona terbesarnya sebagai seorang pria terlepas dari pengakuan dan penguatan apapun. Dia memiliki kebesaran jiwa yang tidak pernah ingin ia tunjukkan secara jelas pada awalnya
“kenapa kau tidak ingin bila oran g melihat kebaikanmu?” dia hanya tersenyum saat ingin mengatakan sesuatu yang ingin aku ketahui jawabannya “apa ini pertanyaan sulit bagimu?” aku kembali menekankan
“aku memang tidak ingin terlihat baik! Aku tidak ingin orang menaruh banyak harapan. Apa itu sudah jelas”
“yah…”
“aku ingin bertanya satu hal, sebelum aku mati”
“apa?”
“bagaimana dengan ciumannya?jujur aku ingin tahu”
“kau ingin jawaban jujur atau sedikit pemanis?”
“tentunya aku punya standart penilaian atas kejujuranmu, jadi jawab saja!” Erick terus menuntut jawab, dan sesungguhnya aku snagat malu saat ingin mengatakannya. Aku tidak ingin dia salah mengartikan apa yang ingin aku katakan. Jujur aku juga ingin mengatakan yang sesungguhnya tentang mereka.
“please!”
Tangannya terkatup menjadi satu seperti oran g yang sedang berdoa. Dia begitu memohon dengan tulus.
“ciumanmulah yang paling hebat yang pernah mendarat diatas bibirku, semua terasa lengkap menghipnotis sukma!”
Tanpa banyak kata, senyumannya kembali terdampar dalam anganku, itulah hari terakhir di tahun ini kebersamaan kami. Aku dan Erick tidak pernah lagi terlibat banyak percakapan penting. Bahkan tidak sedetikpun diantara kami pernah saling menyinggung kabar satu sama lain. Hingga setahun kemudian aku dan Irsan menikah. Erick sama sekali tidak muncul dalam pesta pernikahan kami. Aku sangat mengharapkan kehadirannya tanpa berani mendesaknya. Aku tahu Ibu dan Irsan merasakan kesedihan yang dalam atas cucu dan putra mereka. Kebahagian kami tidak terasa lengkap tanpa kehadiran Erick. Mungkin butuh banyak waktu untuk memulihkan luka yang pernah aku berikan pada mereka. selalu kusematkan nama mereka diantara doa doaku. Beribu kali aku mengharapkan kebahagian melapisi kehidupan Erick. Aku ingin melihatnya bahagia dengan oran g yang dia cintai kelak. Maka saat itulah dosaku akan lenyap dengan kebahagian yang kelak dimilikinya.
Setahun awal pernikahanku dengan Irsan, ini lah babak baru yang sesungguhnya, aku mulai hamil. Semua memperhatikan kebutuhanku, tidak ada yang berani menolak apa yang aku minta termasuk suamiku dan juga kakak dan sahabatku Robby yang juga baru saja menikah seminggu yang lalu degan Fitri. Aku masih ingat dulu sewaktu aku dan Robby masih lajang, kami sering berkunjung ke sebuah toko roti, dan Fitri salah satu dari pegawai mereka. Kini Robby menghadiahkan sebuah cake shop lengkap dengan mini café yang keren dengan gaya retro. Ini awal baru untuk keluarga kami lebih bahagia meskipun belum semua anggota keluarga lengkap dengan kebahagian yang sepenuhnya. Irsan masih memikirkan putranya tanpa berani menyinggung masa lalu antara aku dan Erick. Aku dan Irsan tinggal disebuah rumah yang kami sebut nyaman meskipun kenya manan yang kami miliki belum bisa dikatakan nyaman untuk beberapa oran g yang sudah memiliki kebutuhan LUX. Tuhan memberi kami seorang bayi laki laki, rasanya ini sebuah mukjizat bagi Irsan. Saat dia menanyakan apakah aku sudi memberikan nama bayiku dengan panggilan Erick. Akupun tidak pernah menolak, justru aku bangga. Maka bayi kamipun memiliki nama yang sama dengan kakaknya, yaitu Erick. Bukan main bahagiannya ayah dan ibuku juga ibu mertuaku yang sudah memiliki cicit. Mereka saling berebut mendapatkan perhatian Erick muda. Ketika usia Erick muda tepat satu tahun, Erick memberi kami sebuah paket mainan kereta api lengkap dengan miniature stasiunnya. Lucu menggemaskan, Irsan dan aku juga ibu mertuaku kembali menanyakan kabarnya, tapi sayang sepertinya Erick masih tidak ingin menjalin kontak bicara denganku. Hanya sebuah surat yang dialamatkan pada Robby untuk diberikan padaku.
LA, Feb 28,
Ini bukan masalah hati lagi, meskipun harus aku akui dosa besarku adalah masih mencintaimu
Ini hanya tentang…
Confused
Lost
Unsure
Unclear
Perplexed
Disoriented
bewildered
Ini bukan tahun tentang kebersamaan kita
Tapi…
Ternyata…
Cintamu masih bersemayam dalam lubuk hatiku,
Ini sungguh membuatku frustasi dan gila
Bayanganmu selalu menjelma seperti peri yang menyihirku dengan segala sifat dan perangaimu.
Jiwaku belum bisa berkompromi untuk ku ajak melupakanmu
Kenangan tentangmu masih begitu hidup dan membuatku lupa dengan duniaku yang sebenarnya
Aku selalu berusaha tapi aku masih selalu gagal
Aku ingin sekali mengingkari perasaanku padamu
Percayalah aku akan berjuang keras untuk kebahagianmu
Karena aku sadar kebahgian dan takdir hanya bisa berubah bila kita ingin merubah…
Aku ingin ,hanya saja….aku belum berhasil
Percayalah
Aku akan segera pulang bila aku sudah bisa menyadari semuanya tanpa ada lagi pengaruh tentang kita dimasa lalu
Aku akan pulang bila aku sudah siap memanggilmu… IBU
Yours truly,
Erick
selepas aku membaca suratnya, aku hanya bisa mengirimkan doa atas segala daya upaya yang sangat Erick butuhkan. Surat ini hanya aku dan Robby saja yang tahu. Bukan maksudku menyembunyikan ini smeua dari suamiku. Aku hanya tidak ingin menyakitinya dengan alasan apapun. Ini terlalu sulit untuk kami pikirkan kembali. Yang bisa aku lakukan adalah aku terus menunjukkan keutuhanku pada Irsan atas apapun yang pernah kami lewati dengan berat. Hari demi hari kembali kami tata, begitu juga dengan peran baru yang aku sandang saat ini, aku adalah seorang istri yang mempunyai seorang anak bern ama Erick. Nama ‘ERICK’ bagi kami mempunyai arti yang sangat dalam dengan segala permasalahannya.
Tuhan memberikan limpahan kenikmatan pada keluarga kami khususnya pada suamiku tercinta. Restaurant yang dia kembangkan sejak dua tahun yang lalu kini begitu ramai bahkan kami akan segera membuka dua cabang baru di kota besar lainnya. Hingga kami bisa menembus daerah ibu kota dan bersaing dengan restaurant papan atas lainnya. Aku juga tidak lagi bekerja di perkantoran sejak kami menikah. Aku gunakan seluruh waktuku untuk membahagiakan keluargaku. Pangeran dan rajaku lebih membutuhkan kehadiranku. Mereka lebih penting dari siapapun. Ada juga waktu keluarga yang harus kami bagi secara adil meskipun Hanya seminggu sekali kami menginap dirumah keluargaku, terutama sejak kematian mertuaku tiga tahun yang lalu. Irsan memang selalu terlihat bahagia, meskipun aku tahu dia menahan kepedihan yang begitu dalam. Dia tidak pernah ingin melihatku menangisi masa lalu dan karena itulah dia mengalah untuk menyimpan lukanya seorang diri tanpa membaginya denganku.
Hari ini tanggal 28 februari, putra kami Erick merayakan ulang tahunnya yang ke del apan, kami sengaja mengumpulkan beberapa teman yang satu kelas dengannya. Tentu saja dengan keluargaku, ayah,ibu,keluarga baru Robby. Acara sederhana ini kami rayakan di restaurant kami yang baru, sekalian acara peresmian restaurant. Sejak tadi pagi aku merasakan kebahagian yang begitu meluap luap tanpa aku tahu apa penyebabnya. Ini benar benar berbeda dari hari yang pernah aku lalui. Hidup terasa berjalan tanpa beban. Irsan meminta para keluarga untuk memakai sebuah dress code yang berkarakter bajak laut ataupun super hero dengan perlengkapan yang mereka miliki sebagai ciri khas. Ini terdengar unik. Suamiku mengenakan uniform the mustketeer, dan aku sendiri mengenakan baju milik storm perfect storm di film X-MAN, putraku Erick mengenakan baju dan kacamata yang keren ala cyclop. Ayah mengenakan seragam ala komandan Data di film star trek,begitu juga ibu yang mengenakan baju yang sama. Robby beserta keluarga mengenakan kostum wayang rama shinta, karena putrinya yang masih kecil dan belum pandai berjalan itu. mereka memberinya gaun ala putri salju. Aku kasian melihat Aqila yang sering terjatuh karena tersandung gaun yang ia kenakan.
“pestanya meriah ya!” Robby merangkulku dari belakang saat Irsan pergi mengambilkan aku sebuah minuman
“kau masih saja mencuri kesempatan seperti ini!” aku menegaskan guyonan lama seperti masa lalu, kami tertawa tergelak gela k “aku tidak pernah menyangka kau dan Irsan sebahagia ini, dulu yang aku pikirkan adalah, wajahmu akan cepat terlihat tua saat menjadi istrinya di tahun pertama kalian menikah”
“lalu apa yang kau lihat sekarang?” tanyaku balik dengan nada sinis dan penuh tuntutan. Tapi sayang sebelum pertanyaanku terjawab. Irsan sudah datang lebih awal dengan membawa dua gelas cocktail sambil berkata
“maaf Rob, tanganku hanya dua, ini untukku dan ini untuk istriku tercinta!” spontan lidahku terjulur siap meledeknya dengan kesal, Irsan hanya tersenyum puas, aku rasa suamiku telah menden gar apa yang baru saja Robby katakan padaku. Tapi sebelum Robby meninggalkan kami dia menarik bandanaku sambil berkata.
“kau masih secantik dulu!dan kau San…harus aku akui kalau kau pria yang awet muda..pantas saja dia terpesona olehmu,meskipun kau seumuran dengan ayahnya”Irsan tersenyum tipis dan segera mengambil sebuah botol plastic cola dan melemparnya tepat mengenai peru t Robby “itu pasti sakit?” ejekku. Mereka hanya tertawa terbahak bahak. mereka lebih pantas berteman bila aku menyebutkan adik dan kakak,meskipun umur mereka sangat jauh berbeda. Beberapa oran g memanggil kami berdua untuk kembali naik diatas panggung membawakan beberapa game quiz untuk memenangkan perlombaan, tentu saja pesertanya adalah para undangan anak anak teman Erick. Dan kini giliranku memanggil Erick untuk memimpin acara gamenya dengan membawa beberapa kado bingkisan untuk diberikan pada pemenangnya nanti. Berulang kali kami berdua memanggilnya tapi dia tidak juga segera datang, aku menyakan pada beberapa undangan tentang keberadaan Erick. Sayang sekali tidak ada yang mengetahui. Ayah dan ibu juga melihatnya sepuluh menit yang lalu di dapur, tapi saat aku mencarinya aku tidak bisa menemukannya, aku mendapat kacamatanya yang diletakkan di sebuah meja di ruang vip. Aku mengambilnya dan kembali aku mencarinya, Irsan segera menyusulku untuk mencari putranya. Kali ini dia tidak akan benar benar berhenti mencari anaknya. Dia tidak ingin kehilangan anaknya yang kedua untuk kedua kalinya. Kami pergi menyusuri halaman hingga halaman parkir. Ternyata dia bermain bola dengan seorang anak laki laki yang aku perkirakan umurnya masih dibawa anakku. kami sengaja melihatnya dari jauh sambil memanggil namanya
“sayang….kemarilah,gamenya akan segera dimulai!” teriak Irsan dari jauh
“Erick…erick…kembalilah sayang! Mewreka menunggumu…Erick…rick!”
“kemarilah…aku sedang asyik bermain dengannya?” sahutnya dari jauh.
Aku dan Irsan saling memandang.
“apa kau mengenalnya, apa dia anak salah satu undangan. Atau dia anak dari salah satu tamu mu?”
“entahlah?”tidak ada keyakinan
“kenapa dia tidak memakai kostum?” dia berjalan mendekati anak itu, dan aku seger a menyusulnya. Anak ini tampa n sekali, kataku dalam hati, alisnya terlukis dan terpapar dengan Indah cocok dengan wajah tampa n yang dia miliki. Irsan mendekatiku, wajahnya berubah, seperti wajah asing yang lama sekali tidak aku lihat. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, hanya satu yang aku tahu. Dia berusaha untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang dia tanyakan pada dirinya sendiri. Aku begitu terpesona dengan wajahnya, Erick begitu asyik bermain dengan anak kecil itu, aku mendekati area permainan mereka dan pura pura asyik mengikuti permainan mereka sambil menawarkan beberapa bungkus permen coklat. Mereka mendekatiku dan saling berlomba lari. Ketika Erick mengambil air kemasan yang ada disebelahku. Kebiasaan nya adalah menghabiskan air kemasan itu hingga habis, setelah dia letih berolahraga. Tapi kini kenikmatanya terenggut oleh teman barunya yang juga sangat merasakan dahaga yang cukup serius.
“kak…aku minta, aku haus juga!” pemandangan yang jarang aku nikmati ketika anak lelakiku harus mengalah dengan yang lain. Itu bukan kebiasaan Erick yang mengalah dengan begitu mudah.
“namamu siapa sayang?” lalu Irsan duduk disebelahku, sambil tersenyum dan menjelajahi wajah anak lelaki itu. anak itu tersenyum memandang kami sambil terus mengguyur tenggorokannya dengan air yang begitu menyegarkan dahaganya. Erick menggelitiki punggungnya hingga dia merasa kegelian dengan tawa yang dirasanya lucu, anak itu sedikit marah karena merasa terganggu. Setelah puas barulah dia menjawab pertanyaan Irsan yang kembali diulangnya.
“siapa ya namanya? Tendangan bolamu begitu hebat”
“papa yang mengajariku menendang om, namaku Ilcan….”
“siapa? Ilkan?” aku menyahut
“ah…ayah, dia susa h sekali berbicara, dia masih kecil, dia cadel…. Hei…kau tulis saja di buku yang kau bawa tadi, ayahku ingin tahu namamu? Atau coba kau tulis di sini dengan patahan batu merah yang kecil dibawah kakimu itu” tanagn Erick menunjukkan sebuah bangku berbatu yang telah aku duduku, lalu jarinya menunjuk pada sebuah pecahan batu merah. Anak kecil itupun melihat apa yang diperintahkan seniornya. Walapun tidak semua yang dia dengar mau dia lakukan
“iya kakak….” Anak itu berlari dengan kencang mendapatkan tas punggung yang tergeletak diatas rumput, lalu dia berlari lagi dan kembali menemui kami dengan membawa tasnya yang besar hingga terseok seok.
“bagus ya bu tasnya, THE CARS…!” Erick terdengar iri ingin memilikinya
“kau mau?” dia hanya mengangguk, wajah Irsan masih terlihat tegang seperti baru saja melihat hantu. Anak itu membuka bukunya yang dia letakkan di kursi sebelahku sebagai penopang buku. Dia asyik mencari posisi duduk yang membuatnya nyaman,lalu membalik balik halaman buku hingga dia menemukan halaman buku yang masih kosong dan putih, gaya nya menulis masih terlihat kaku dan terburu buru saat mengeja hurufnya. I-R-S-A-N
“wah namanya seperti namamu ya ayah?” kata Erick. Lalu anak itu tersenyum dan berlari meninggalkan kami pergi jauh hingga dia berhenti di sebuah parkiran mobil dan menarik oran g yang ada didalam mobil tersebut. Irsan kecil kembali dengan mengajak seorang wanita yang cantik dan terlihat anggun dengan gaya busana yang cukup sopan, wanita itu mendatangi kami. Mempercepat langkahnya hingga sampai dihadapan kami. Anak itu menarik baju Ibunya agar seger a lebih mempercepat langkahnya, dengan hati tidak sabar Irsan kecil menghampiri Erick putraku dan melempar bola yang dia bawa ke tangan Erick, suamiku hanya bisa menahan lengan Erick agar tidak menghampiri anak itu dengan cepat
“itu bola milikku ayah”
“biarkan dia yang mengembalikannya untukmu!” suaranya datar dan tegas, mulai meneliti sesuatu yang belum nampak dalam pengamatanku. Aku terus mengawasi kedua matanya yang bergerak.
Kini teman baru Erick datang membawa ibunya, kami berkenalan setelah aku terlebih dahulu menanyakannya
“maaf kalau putra saya nakal Bu, perkenalkan nama saya Andien, ini Irsan putra saya”
“saya Maurin, anak kecil lincah itu luar biasa. Bukan masalah bagi kami. Nama putra anda sama seperti nama suami saya!” kemudian Irsan mendekati kami dan ikut menjabat tangan wanita ini dengan ramah. Irsan tidak banyak bicara, dia hanya diam dengan sedikit senyum, lengan Erick kini sudah dilepasnya, dan bersamaan kami menoleh kearah belakang ketika dengan jelas kami mendengar suara khas seorang pria yang pernah aku kenal.
“mereka adalah keluargaku bu! Irsan itu adalah cucu kalian, dan Erick anak kalian adalah adikku!”
Oh tuhan…teriak ku dalam hati benarkah apa yang aku dengar ini, benarkah dia kembali.
“Erick!” Irsan meneriakkan namanya, membuat putra kami terlihat bingung.”oh sayang, kenapa kau membiarkan aku sekarat begitu lama, aku teramat sangat sakit menunggu kehadiranmu!”
“maafkan aku ayah, maafkan aku bila baru sempat membawa keluargaku untuk menemuimu. Apakabarmu Bu?” oh suara ini terdengar begitu memanggil kerinduanku pada sosoknya yang sederhana. Air mataku mengalir begitu saja tidak bisa aku tahan lagi. Dadaku terasa sesak, mungkin andien sudah tahu semua yang terjadi antara kami di masa lalu, dia mendekatiku dan memegang kuat telapak tanganku menuntunku untuk bergerak maju, kaki ini terasa berat sekali untuk berjalan, dadaku terasa semakin sesak. Kini tubuh Irsan berbalik menatapku. Sorot matanya seperti mengisyaratkan perintah agar aku melakukan apa yang semestinya seperti yang sudah dia lakukan.
“aku datang ingin memelukmu erat dengan panggilan seorang ibu dari seorang anak kesayangan ayahku!” Erick mengatakan dengan bibir gemetar. Kini langkahnya maju mendekatiku bersama ayahnya.
“oh anakku, terimakasih kau sudah memberiku seorang cucu yang tampan…” aku mencoba untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan walau tidak semuanya bisa keluar dengan mudah. Aku memeluknya begitu saja dengan erat, aku merindukan keramahannya. Aku membersihkan hidungku dari ingus. Aku malu, sungguh malu
“tidak aku sangka memanggilmu dengan sebutan ibu begitu mudah dan tidak lagi sesulit dulu…” sahut Erick “kenapa kalian menamakan dia seperti namaku?” lanjutnya pada kami. Tapi suamiku tidak mau kalah dalam menjawab.
“karena aku punya insting , kalau kau akan memberikan namaku pada anakmu dengan panggilan Irsan!”
Hahhaha….semua tergelak tawa meskipun terdengar haru. Ternyata semua berakhir dengan bahagia tentunya atas izin Tuhan. Irsan dan Erick junior kini mengetahui siapa mereka sesungguhnya dan apa hubungan baru mereka dengan oran g baru yang baru saja mereka temui. Kini lengkaplah sudah kebahagianku yang pernah hilang. Aku bahagia karena dia sudah bahagia bersama kebahagian yang baru. Kami bahagia itulah akhir dari cerita kami semua…
Tags
short story
