Kembali ke Demitri, ketika itu table kami bersebelahan, table 16 dan 17. salah satu waiter yang menghampiri mejaku memberi kami secarik kertas dan boxy, bila mungkin kami menginginkan request sebuah lagu pada bintang tamunya yang kebetulan kali itu bintangnya adalah syaharani dan bubi chan . aku dan teman temanku kompak untuk merequest lagu milik George Benson Nothing Gonna change mylove for you. Lantas salah satu teman Demetri memanggilku “sorry Mrs, bolehkan saya numpang merequest song. Kalena….kami sama sekali tidak menemukan secalik keltas untuk merequest lagu “pinta pria yang berbadan tinggi besar dengan rambut berwajah setengah bule.aku menebak nebak saja sepertinya memang dia bule karena logat indonesianya juga tidak faseh ketika menyebut ‘R’. aku hanya mengiyakannnya dengan mengganggukkan kepala tanda tidak keberatan. Ntah kenapa ketika itu pandangan mataku tak bisa kutepiskan ketika aku melihat teman bule itu.dia berwajah pribumi cukup gagah ,tampan dan sepertinya lebih sopan penampilannya yang kelihatan rapi. Namun sayang sepertinya sejak awal aku perhatikan dia sangat sibuk dengan laptopnya. Uuhh..menyebalkan. baru kali ini aku merasa kecewa dengan obyekku. Tak pernah aku diacukan oleh seorang lawan jenisku. Bukannya aku merasa besar kepala,aku juga tidak pernah merasa tebar pesona tapi ntah kenapa aku juga tidak mengerti hal apakah yang bisa menarik lawan jenisku untuk memperhatikan aku dan tak bisa Kupungkiri aku selalu merasa senang bila aku diperhatikan, tentunya dengan catatan jangan berlebihan dan dalam konteks tidak mengganggu kenyamanan prifasiku. Tapi kali ini sama sekali aku kecewa. Selang beberapa menit si bule tadi memberikan kertas yang tadi aku pinjamkan. Setelah kubaca nampaknya dia menuliskan dua request lagu milik grup Elvas singer’s ‘Selamat malam’ dan lagu satunya milik Earth Wind and Fire berjudul change your mind. Lalu si bule itu menawarkan diri untuk memberikan kertas request kami kepada penyanyinya langsung, tentu saja aku dan yang lain setuju tanpa ba-bi-bu . “hei ladys, aku Jeremy. biar saya saja yang memberikannya. Ok?” tawarannya sambil menjabat tangan kami berempat. Temanku Vera bilang “ok,no problem”sambil senyum ramah. Hahh… tentulah setelah itu Kami semua saling berkenalan. Dan sampailah pada giliran aku dijabat oleh tanganya serasa seperti ada aliran setrum yang memaksa aku berdiri kaku menatap wajahnya sesaat. “Demitri”sapanya sambil menjabat lembut tanganku. “dessy” sapaku dingin untuk menciptakan sedikit jarak agar aku tidak terlalu berharap dia manis menyambutku. Ntah ada hal apa tiba tiba saja dia menyatukan table kami menjadi satu lalu memanggil seorang waiters untuk membantu menggabungkan meja meja kami, dibantu dengan pria pria itu. Posisi kami berubah dan mulai membaur satu dan yang lainnya. Karena kursi dibagian kanan adalah jenis sofa panjang yang paten dan tidak bisa dirubah lagi letaknya jadi kami hanya bisa merubah kursi dibagian kiri . kami menempati duduk masing masing. Sepertinya si bule jeremmy yang tadi menyapa kami, sudah duduk mendekati Vera. Bayu mendekati lidya, kini tinggal dua pria yang duduk disamping kanan dan kiriku. Sengaja aku memilih sofa karena aku ingin lebih sedikit relax menikmati Friday night. Demetri dan alex, kulirik ternyata demetri sudah menutup laptopnya dan merapikannya agar tidak berantakan,yahh !! mungkin karena menu makanan yang dia pesan sudah habis. Si alex pamit pada ku kalo dia hendak pergi ke male rest room. “silahkan anda mencoba menu ini?” tegurnya padaku tiba tiba.”oh tidak terimakasih,saya sudah memesan menu sendiri?” jawabku sedikit tegas tapi tetep tersenyum walaupun aku sedikit bete karena dia… hadehhh
Bila kuperhatikan Demetri bkanlah tipikal pria yang membosankan. Tapi justru sebaliknya, sehingga aku merubah karakterku agar lebih manis. “ anda sering berkunjung kemari?” tanyanya dengan sopan sambil memotong kecil kecil bagian Calzone pesanannya dan menusukkan garpu lalu dimasukkan ke mulutnya. “tidak juga”jawabku simple sambil menyambut dengan rasa tidak sabar kedatangan waiter yang tengah membawakan Claypot-ku. Kini giliran lagu yang aku request tadi telah dinyanyikan oleh penyanyinya. Dan aku dengan tidak sadar ikut menirukan pelan lagu tersebut. Memang aku amat menyukai lagu ini. Kudapati dia telah melirikku sambil tersenyum….tapi astaga! Kenapa aku jadi ingin berlari. Oh Tuhan… apa ini namanya? tanyaku dalam hati . “apa anda tidak ingin merequest lagu lagi nona?” tanyanya”Dessy!” jawabku tegas ,barangkali dia lupa menyebutkan namaku. “ya saya masih ingat jelas siapa nama anda Dessy!” jelasnya dengan senyum manis.semakin dia tersenyum dia semakin manis dan semakin senyum membuat aku semakin terhipnotis pesonanya. Teman kami yang lain sedang asyik sibuk mengobrol dengan pasananganya masing masing. Ohh malangnya nasibku,tergantung dengan hal ini…. Beberapa menit kemudian Alex temannya yang cina itu kembali bersama seorang gadis cantik yang berdandan casual.dan bila diperhatikan baju mereka seperti senada ,yah tentu saja sepertinya T-shirt yang mereka beli adalah sepasang hanya bawahan jeans mereka saja yang tidak sama. Alex mengenakan jins bewarna biru levis dan gadis yang diperkenalkanya bernama Mery ini memakai rok mini biru levis. Mery mengambil posisi duduk disebelahku dengan alex disebelah kirinya. Namapaknya mery ini mengenali semuanya. Bahkan vera temanku sempat ngobrol akrab dengannya. Kudengar dari percakapan mereka, Mery adalah salah seorang PR di hotel Hyatt. Pantas saja, kalo dia kelihatan charming dan clever walau hanya memakai rokmini dengan t-shirt sederhana. Yang menarikku adalah stilettos-nya. Merypun ngobrol dengan akrabnya bersama Demitri ,sepertinya mereka sedang membicarakan proyek yang aku tidak jelas apa itu gerangan… memusingkan. Aku bangkit saja dan pergi ke rest room tanpa meminta izin pada siapapun.tapi ketika aku berdiri “mau kemana des?” tanyanya dan aku hanya meliriknya lantas kutinggal begitu saja. Aku bosan dengan mereka ,aku pergi ke rest room yang berdekatan dengan lobby. Disana aku hanya berdiam diri depan cermin sambil merapikan scraft-ku ,menyisir rambutku .memang agak sedikit gerah ketika aku duduk direstoran tadi.maklum saja hari ini sepertinya fully booking jadi hawa dinginnya air conditioner tidak bisa menghandle para guest. Riuhnya …wuiihh.. aku meninggalkan tas kosmetikku di meja counter lalu aku masuk kamar kecil untuk buang air kecil.baru saja ketika aku masuk, kudengar bunyi ketukan sepatu wanita sambil memanggil namaku,dari nadanya aku sama sekali tidak mengenalinya apakah itu Vera atau Lidya.”Des apa anda didalam?”Tanya wanita itu sambil membunyikan kran air.”yahhh…” jawabku lalu aku pergi keluar menemuinya…ohh ternyata dia Mery pacar Alex. “maaf kalo aku membuat anda tidak nyaman?” aku bingung menangkap pembicaraannya ”nyaman??tidak nyaman? Soal apa?” tanyaku sedikit penasaran menuntut penjelasan Mery. “soal obrolanku dengan Demetri? “ tegasnya sambil tetap menatap cermin mengawasi wajahku yang juga berada disebelahnya. Kami saling melihat didalam cermin mengamati penampilan masing masing. Ya ampun kok dia bisa tau sih,terang ku dalam hati. “oh no problem,kan kalian teman” yah aku maklum saja terangku sambil berbohOng menutupi rasa eneg yang menghinggapiku tadi.”yah tapikan anda kekasihnya?,jadi aku berekewajiban untuk menjelaskan tentang alasan anda meninggalkan meja!”. Sontak saja aku kaget ,sambil berpikir masa iya sih kayak orang pacaran,setahuku tidak .” oh mery aku baru mengenalnya sejam yang lalu ,jadi tidak mungkin kita berkencan?” jelasku saat aku mencoba memungut penjepit rambut yang baru saja aku pasang lalu terjatuh karena aku kaget dengan kalimat Mery yang menyatakan kalo aku dan Demetri adalah sepasang kekasih,dan ketika mendengar penjelasanku, Mery tertawa keras”masa sih?kupikir kalian adalah sepasang kekasih,karena ketika aku ngobrol disamping anda tadi Demetri sempat memegang Rambut anda yang tergerai sambil menaruh lengan tangannya disandaran sofa? Jadi ya kusimpulkan secara implisit kalo Demetri memperkenalkan anda kepada saya sebagai kekasihnya heheheh ?”terkekeh seperti nenek lampir ,aku hanya mengeryitkan dahi sambil nyengir ”masa iya, aku tidak merasakan ada pendaratan kulitnya di anggota badanku? Sama sekali aku tidak merasakan sesuatu?kalo dia kurang ajar” terang ku pada Mery antara perasaan kaget,senang,malu jengkel. Merypun nampak kelihatan bingung dengan penjelasannya,antara ingin menenangkan dan merevieuw barisan kalimat untukku. Tapi sudahlah biarkan saja toh sudah terjadi dan aku memiliki perasaan sedikit menyukainya.jadi sedikit membuatku tenang. ”ahh sudahlah Mer,kita kembali saja! Tenang saja aku ke rest Room sama sekali tidak ada kaitanya dengan Demetri. Murni hanya karena aku ingin buang air kecil?” sambil memunguti semua kosmetikku ke dalam harmes tosca-ku. Merypun ikut apa kataku dengan tertib ”maaf kalo aku sudah salah sangka?” jelasnya .aku hanya tersenyum sambil kembali berjalan memasuki restoran yang tadi kutinggal sebentar.dari arah pintu masuk aku mendapati mata Demitri tertuju kearah kami,ntah siapa yang dia amati,jelasnya bukan aku.tapi aku mulai ragu dengan pandangan yang aku yakini,karena baru saja Mery mendahuluiku berjalan menuju ke table kami. Sempat aku melihat kearah belakang punggungku memutar badan 60derajat. Hehehh…tapi sama sekali aku tidak melihat ada orang dibelakangku. Ya Tuhan…dia memang mengamatiku…. Aku mencoba mengambil nafas panjang sambil mencari tempat duduk yang tadi aku tingalkan.badanku kaku melihat dia terus mengamatiku sampai aku mendapati kursiku kembali. ”lama sekali saya menunggu anda?” tanyanya sedikit murung dan sebelum aku menjawab,Mery sudah mendahuluiku” tenang Dem,aku sudah menjaganya” dia tersenyum cantik sambil mengerlingkan mata kirinya ke arahku.dan aku hanya tersenyum”benarkah?”. Semua orang yang duduk manis dimeja kami nampak kulihat begitu akrab seperti sudah lama bertemu padahal kamu baru pertemu beberapa jam yang lalu,selain Merry yang memang salah satu teman mereka, dan Vera yang merupakan teman lama ketika mereka bekerja di Bali.
Yah itulah awal perkenalanku dengannya yang kini sudah menjadi tunanganku. Kami sudah saling mengenal masing masing keluarga, dan tidak ada satu orangpun yang tidak menyukai hubungan kami. Sejak malam itu semuanya terasa indah begitu komplit begitu mengesankan buatku. Meskipun dia bukan pacar pertamaku. Dan aku bukan pacar pertamanya.bahkan bisa dibilang akulah tunangan keduanya dan pacar keduanya setelah kekasih sebelumnya meninggal karena ginjal. Itu sudah lama lama sekali dua tahun sebelum aku dan Demetri bertemu.hubungan kami lebih dekat karena jasa Mery. Yang aku tahu Mery adalah sahabat baik mantan kekasihnya,sehingga Mery turut prihatin dengan kondisinya yang belum bisa menemukan pengganti Imelda. Kata Mery meyakinkan aku ,kalo Demitri orangnya romantis,setia,dan sedikit workcoholic. Dan setelah beberapa lama aku resmi menjadi kekasihnya. Semua, apa yang dikatakan Merry tidak ada yang salah. Semuanya benar,aku senang. Bertahun tahun tak pernah kami marahan terlalu lama, mungkin karena dia selalu bisa memenangkan hatiku dengan kesabarannya. Tak pernah kudengar gossip gossip soal wanita diseputarnya. Walupun sering kulihat banyak wanita yang meliriknya ketika kami berjalan berdua. Tak jarang aku merasa minder bila berjalan dengannya, serasa aku berjalan dengan seorang pragawan yang sedang memamerkan busana para designer dengan apiknya. Oohhhh Tuhan , begitu banyak wanita cantik yang berusaha mengodanya dengan semua pesona yang mereka miliki. Tapi jiwanya selalu bisa menenangkan aku kalau dia tidak pernah bisa mengedipkan matanya sedikitpun pada wanita lain selain aku. Aku sangat percaya dengan bukti yang aku lihat dan aku amati ,kalo dia memang sangat setia. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Selama aku berkencan dengannya aku merasa sangat diperhatikan dan selalu dituruti apapun kemauanku…semua…semuanya! Waktunya sesibuk apapaun selalu akan bisa dia pushphone kalo aku yang memintanya. Bahkan tak jarang orantuanya sendiri sering meminta bantuanku untuk merayunya agar Demitri bisa berlibur untuk beberapa hari. Karena memang dia sangat susah untuk diajak berlibur selama satu minggu penuh.
Bunga,coklat,selalu dihadiahkannya padaku setiap kami hendak special dinner ataupun disaat aku sedang berulang tahun. Dia begitu romantis, sangat…sangat romantis. Banyak teman wanitaku yang iri dengan kami,mengapa kami begitu langgeng begitu romantis,begitu ideal begitu… Apa saja kata mereka sehingga aku sendiri lupa dengan pujian pujian mereka atas hubungan kami. Seandainya dia putus dariku mungkin banyak wanita yang mengantri…hehhehehe geli membayangkannya. Apakah aku bisa merefleksikan bayangan itu. Ntahlah… sejak pertama aku melihatnya yang aku tahu aku sudah tertarik, dan tanpa kusadari diapun tertarik untuk memperhatikanku tanpa bisa kumengerti kapan saat dia menyukaiku tanpa permisi. Tapi jelasnya sudah banyak sekali perhatian yang aku dapat darinya,banyak souvenir yang dia berikan padaku walupun disaat aku tidak sedang berulang tahun. Aku menyukai keromantisan yang dia suguhkan. Bahkan sebuah mobil Audy TT 2.0 T FSI Quattro warna biru muda yang kini terparkir digarasi rumahku adalah pemberiannya di ultahku yang ke 28 tepat disaat kami bertunangan. Itulah hadiah termahal yang pernah aku terima selain perhiasan,baju,maupun souvenir manca Negara lainnya ketika dia pergi keluar negeri. Tapi sungguh aku mencintainya sejak awal, bukan karena dia terlihat seperti pesohor ataupun biilionare yang ingin aku porotin. Dari awal aku sudah tertarik karena penampilannya yang santun dan rapi dibanding temannya yang lain. Sungguh semua karena budi pekerti yang santun dan bisa menghargai kelemahan dan kekurangan orang lain. Karena kami seiman dan karena dia bukanlah smoker. Memang pada awalnya aku tidak mengetahui semuanya.tapi berangsur angsur aku meyelidiki semua infomasi yang menjadi syarat mutlak untukku. Pertama adalah kami seiman yang akudapat informasinya dari Vera yang ketika itu sudah menjadi kekasih Jeremy. Kedua ,karena dia bukan smoker,aku amati dia dan aku dapatkan info patennya dari Mery, sesetres apapun dia tidak pernah merokok. Ketiga karena dia tidak bertato, aku cukup risih dan jijik melihat orang bertato walaupun itu untuk seni. Ntahlah aku memang tidak menyukai hal itu. Aku mengetahuinya ketika kami pergi ngegym rame rame lalu berenang rame rame disalah satu pusat fitness yang disuguhkan oleh aparteman tempat Mery tinggal. Walaupun aku dan sebagian lainya bukan anggota club apartemen tersebut. Tetap saja kami bisa menikmati sarana apartemen atas persetujuan tuan rumah. Kala itu dengan sengaja aku perhatikan setiap inchi dari bentuk tubuhnya apakah ada secenti tato yang menghiasi kulitnya. Aku punya pemikiran ,bahwa setiap pria yang bertatto pastilah tattoo itu akan ditaruh dibagian tubuh dimana semua mata bisa melihat seni yang mereka tampilkan. Karena tidak mungkin seorang pria bertato dibagian tubuh yang selalu tertutup seperti pantat. Nyaris tidak mungkin. Dan ketika aku mendapatinya dengan kostum renang, aku sangat senang dengan pandangan yang aku dapat, karena tidak ada tattoo sedikitpun menghiasi anggota tubuhnya. Lalu kuputuskan saja ketika itu untuk menerimanya menjadi kekasih setelah sebulan dia mengatakan semua isi hatinya padaku malam itu di black angus ketika dinner. Menggelikan bila semuanya aku bayangkan…… seperti film yang terlalu jelas adaptasi alurnya…
Sudah dua minggu ini aku tidak bertemu dengannya,dan ntah kenapa kali ini aku tidak merindukannya.bahkan ketika aku mulai memikirkannya aku mulai menepiskan begitu saja. Aku hanya menjawab telphonenya ketika dia menelphoneku. Aku menjawab pesannya ketika dia mengirimkan pesan untukku. Dia begitu meluap luap, tapi sayangnya aku hanya datar datar saja. Aneh kebalik 180 derajat dari delapan tahun yang lalu dimana aku berusaha menarik perhatiannya. Terbalik ketika saat awal awal dia terlambat mengatakan “hi” maka aku akan sedih luar biasa menunggu dengan tidak sabar kapan dia datang menemuiku dengan membawakan aku sebuh buket bunga mawar ataupun sekotak kecil coklat. Anganku masih menerawang sambil membayangkan seseorang…. Tapi kali ini bukan Demitri. Sudah jam 18.30 aku belum juga pulang dan masih sibuk menjawab beberapa email dan merapikan file file yang belum sempat kurapikan empat hari ini….uhhh mataku sudah terasa panas dan perih sekali. Kudengar ada yang mengetuk pintu ruanganku..”masuk!” jawabku. Ternyata Lidya yang menghampiriku sambil membawakanku secangkir capucino.”buatku kah?” langsung kuminum tanpa ba-bi-bu dan dia hanya tersenyum ketika melihatku kehausan…aku hanya tersenyum,lalu srrruutttt…..bunyi air yang sudah habis kusedot. ”kau tidak pulang?” tanyaku. Lidya hanya menggelengkan kepala “aku menunggu Reno menjemputku!”. Tak lama kemudian aku mendengar ponselnya berbunyi, lalu ”sorry Dess,aku pulang dulu ya. Reno sudah dibawah.kamu buruan pulang.hati hati!” sambil tergopoh gopoh “oke”jawabku singkat mencium pipinya. Lalu berjalan keluar dari ruanganku, beberapa langkah lalu kembali lagi sambil” Dess!!” aku hanya mendongakkan kepalaku melihat wajahnya yang sebagian besar tertutup dengan layar laptopku ”yaa?” . lalu dia tersenyum menggoda” kau tidak sedang janjian dengan doi kan?” terkekeh “siapa? tanyaku penasaran,sambil menggigit bibir dan memutar mutar rambutku dengan jari. “benarkah kau tidak paham dengan siapa,maksudku?” tanyanya lebih retoris kearah setengah memaksa dengan gaya diplomatisnya. “kalau yang kamu maksud itu Mirza! Tentu tidak sayang.Aku masih setia dengan Demitri!” tegasku. Lalu dia hanya tersenyum lantas melemparkan gulungan Tissue kecil kearah mukaku sambil “good girls”. Sialan desahku,….sebelum aku menjawab ,dia sudah nyletuk ”karena kulihat di ruangannya dia juga belum pulang…hehehehhe!”terdengar bunyi pintu brrakkk…!!. Aku kembali dengan pekerjaanku merapikan file. Lalu kupasangan audio playlistku dengan lagu milik Sting, album the best of Sting. Entah apa yang sebenarnya aku tunggu akupun tidak tahu. Aku hanya malas untuk pulang, padahal semua kerjaankupun sudah beres semua,aku hanya berusaha mencari cari kesibukan kantor. Tapi bisa kuselami isi hati ini,payahhh….. . semenjak kepergian Demitri baru kali ini aku mencobanya untuk menelphonnya. Sudah kucoba tigakali tapi sepertinya tidak berhasil tersambung. Hanya voice mailbox “hi I’m Demitri, still busy,just leave your message and I’ll call you later”. Tak satupun pesan suara maupun tertulis aku tinggalkan untuknya. Aku seperti mati rasa…..
Kusarungkan kembali i-phoneku ke dalam leader casenya. Ketika mataku disibukkan dengan tampilan yahoo movie yang sedang kuputar. Aku menangkap seklebat bayangan orang lewat. Hanya saja aku tidak tau. Paling si OB yang lagi bersih bersih ruangan, hiburku dalam hati ,akupun juga tidak penasaran dengan siapa orang tersebut. Tapi ketika aku berusaha mencari gagang telephone buat intercom ke ruangannya , sosok bayangan yang kembali lewat menghampiri ruanganku dan berhenti didepan pintu sambil membuka pintuku dia tersenyum memperlihatkan separuh badannya menyapaku “hi” .tapi ketika dia membuka pintu ,terdengar suara telephone berbunyi di ruangannya yang sekarang sedang aku hubungi lewat intercome tut..tut..tut…suara bunyi dering diruangannya terdengar sampai ditelingaku karena sepinya kantor kami.”apa dirimu yang menelphone?” tanyanya lalu dia masuk dan aku hanya mengganggukkan kepala mengiyakan pertanyaanya. Ya ampun betapa malunya aku kali ini.”kau tidak pulang tanyanya” sambil membolak balik majalah cosmopolitan yang aku baca tadi sebelum sempat aku rapikan kembali.”ya,belum…sebentar lagi!” jelasku tanpa berani menatap wajahnya,yang kulirik tampak dia masih mengamati halaman majalahku.
“kenapa kamu tidak jadi pulang” tanyaku
“yahh,karena kamu belum pulang?”jawabnya dengan cuek sambil mengambil sesuatu dari tempat duduk dimana sekitar lima belas menit sebelumnya Lidya duduk dikursi itu. Lalu menunjukkan sesuatu. Dan astaga….!! Dompet lidya tertinggal. Aku hanya menggeleng ketika dia menunjukkan dompet itu padaku
”Bonia ini milikmu bukan?” tegurnya sambil mengambil tempat duduk depanku dan menaruh dompet itu dimejaku persis disamping kanan aku meletakkan mouse.
“itu milik Lidya” jawabku sambil membayangkan takut kalo Lidya datang dan balik mengambil dompetnya yang tertinggal. Karena biasanya dia selalu menaruh kunci rumahnya di dalam dompet. “mati aku?” pekikku.”kenapa?” jawabnya.tapi aku hanya menggeleng. Lalu terdengar lagu hearbeat milik Enrique Iglesias. Yah itu ringtones I phoneku bila Demitri menghubungiku,tanpa menunggu lama Enrique menyanyi,aku langsung menerima panggilannya
“honey…!sorry tadi aku meeting ,di amrik masih pagi nih,dua minggu lagi aku pulang ya sayang?” suaranya mendahuluik memecah kan kesunyianku.
Kulirik Mirza memperhatikan pembicaraan kami meski matanya tidak melihat secara langsung,tampak tangannya mencari mouse ku untuk mengecilkan suara speaker.
“oh …ya aku tau,aku masih dikantor”terangku pada Demitri,aku membayangkan kalo dia sedang sibuk dimeja kerjanya dengan Laptop yang ada didepannya.dan ternyata pemikiranku benar,karena dia baru saja mengatakannya.
“sorry honey,aku sedikit sibuk.nanti aku telephone ya,salam buat orang rumah.masih banyak yang harus aku tanda tangani ,ada beberapa penawaran kontrak ,semoga bisa deal!”
“that’s okey. I’m wait”
“miss you honey,…..muuuachh!!!”
“miss you too”
Mirza yang masih duduk didepanku membarikan isyarat agar aku pulang.tapi aku hanya meliriknya. Tidak tau kenapa hatiku berdegup keras bila dia ada disekitarku. Dan bila tidak ada aku selalu mencarinya.yang aku tau diapun sudah memiliki kekasih. Hubungan mereka sudah tiga tahun. Diapun mengetahui kalo aku juga sudah bertunangan,bahkan mereka pernah mengobrol ketika ada acara kantor. Maklum saja setiap acara aku tidak pernah terpisah dengan Demitri selama ini semuanya baik baik saja…..masih baik dan semoga. Aku bangkit dari kursiku mengambil tasku untuk berkemas kemas.lalu kukemasi cd Stingku, kumasukkan disknya ke kedalam laci,ntah mengapa aku merasa lebih sedikit mau pingsan karena lemas ,ketika Mirza mendekatiku dari arah belakang sambil melingkarkan tanganya ke pinggulku, ingin hati aku melemparkan tangannya,tapi tanganku tak sanggup melakukannya,pikirankupun tak sanggup melawan “dess,kau tau aku menyukaimukan,dan akupun tau gimana kau sebaliknya”aku hanya diam sambil mencoba mencari dan berfikir alasan apa yang tepat untuk menghindarinya.semakin aku sedikit berontak semakin kuat pula dia mengkaitkan lenganya kuat kuat. Oh Tuhan,Bantu aku menghindarinya,…… aku hanya bisa diam dan diam dan diam tanpa menemukan alasan yang cocok untuk berteriak. Karena sungguh akupun menyukainya. Entahlah mengapa perasaan gilaku muncul. Padahal aku masih sadar sepenuhnya bahwa tunanganku mencintaiku dan sedang sibuk diluar sana mencarikan dana untuk pernikahan kami kelak. “oh Mirza ,tolong lepaskan aku…aku hamper mati tidak bisa napas”pintaku. Tapi betapa kagetnya ketika ada seseorang tanpa permisi membuka pintu ruanganku dengan sangat tergesa gesa ,belum sempat tangan Mirza lepas dari pinggulku si wanita itu nylonong saja masuk ,kupikir diapun juga sama kagetnya dengan kita ”uuupss….!!! Sory aku tidak bermaksud mengganggu kalian.tapi sungguh aku hanya ingin melihat dompet Boniaku yang tertinggal?” ujarnya sambil tersenyum ragu sambil menatap tajam mataku. Spontan tangan Mirzapun jatuh ,dan aku berusaha membantu lidya sambil tergopoh gopoh memberikan dompetnya yang tadi sudah kusimpan dalam Hermesku. Sambil berbisik” dess,kau masih waraskan?hehehhehe” aku hanya menggelengkan kepala.”nantilah aku ceritakan yang sesungguhnya”ujarku dan dia hanya menggangguk patuh sambil menyapa Mirza”aku balik dulu Za…,sorry Reno menunggu dibawah” dengan tergesa gesa pula dia meninggalkan kami berdua. Kami semua sama malunya atas kejadian ini. Sambil menggenggam ponselnya berusaha menulis sesuatu, ntahlah siapa yang hendak dia kirimi pesan. Begitu menghilang bayangannya didalam escalator tampak bunyi pesan masuk di hpku. Setelah kubaca nampak Lidya yang menulis pesan
Dessy,jangan bermain api kalu kau tidak ingin kehilangan Demitri,dia sangat mencintaimu.jangan pernah kau mengkhianatinya.
Kepalaku semakin pusing setelah membacanya.aku dibuat tidak berdaya dengan semua ini,dengan cekatan aku memunguti mantel dan tasku serta high hillsku.keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Mirza. Sambil berjalan aku mencari kunci.dari belakang dia mempercepat langkahnya,aku terus berlari meraih pintu escalator yang mulai menutup perlahan,tapi sebelum tertutup nampak kulihat kaki kanannya sudah menahan escalator itu agar tidak tertutup.kami hanya berdua, kami tidak berbincang sedikitpun ,tangan kirinya meraih dan menggandeng tangan kananku. Aku merasa Lift ini lambat sekali jalannya ataukah karena kami berada dilantai 14 sehingga untuk mencapai lantai dasar cukup membutuhkan waktu yang serasa setahun… aku diam terpaku. Tapi dia nampak tenang,sesampainya dilantai dasar aku berjalan sedikit untuk mencapai tempat parkir sedan biruku. Mobilnyapun terparkir disebelah mobil ku. Ketika aku membuka mobilku dengan remote,dia berlari kecil membukakan pintu mobilku dan setelah aku masuk dia menutup kembali pintuku. Aku menyalakan mesin mobil meninggalkannya tanpa menunggunya sampai ke mobilnya. Aku berusaha melaju kencang. Dia sempat membuntutiku. Secara tehnik arah rumah kami berlawanan, dari arah perempatan kantor aku selalu memacu mobilku kelajur kiri dan dia ke kanan. Tapi kali ini dia mengikutiku kearah kiri. Dan terus mengikutiku kemanapun aku pergi.
Sinting benar si Mirza mengikutiku,bukannya dia harus menjemput pacarnya terlebih dahulu…tapi ahh perduli setan…terserah dia mau apa. Aku berusaha menerobos jalan mengikuti lajur dan arah kemana aku harus pulang. Sesampainya didepan rumah aku langsung menaruh mobilku ke dalam garasi,dan sepertinya dia mengikutiku hingga aku sampai rumah. Lalu diapun pergi meninggalkan rumahku. Hanya sempat membunyikan clarkson tiga kali. Mungkin itu cara dia pamit meninggalkanku. Aku hanya tersenyum melambaikan tangan sambil menggerakan bibir tanpa bersuara ”bye,thank you” ,dengan begitu saja aku merasa senang dan lega.
Berhari hari aku memikirkan kekalutan ini,aku juga menceritakan semuanya kepada Lidya,aku hanya tidak berani bercerita pada Vera karena kutakut kalo sampai Vera menyampaikannya tidak sengaja pada Mery,lantas Mery menyampaikannya pada Demitri soal ini semua. Ya Tuhan dia sudah membuat ku gila… benar benar gila. Sebenarnya dia bukan tipeku sama sekali bukan, dia perokok, dia tidak pernah rapi dalam berbusana kerja,mobilnyapun penuh dengan stiker dan stiker yang paling aku benci adalah ARMY OF SATAN oh Tuhan,benar benar pria berandalan… dia mengendari Terrano kingsroad bewarna hitam legam dan mengkilat, sekali aku naik mobilnya. Itupun rame rame ketika bebrapa teman sekantor mengajak makan siang diluar kantor. Dari Mobilnya saja aku bisa melihat betapa mencerminkan wajahnya yang garang. Nampaknya dia penggemar dari the pirates of carribean. Karena jok mobilnya bertemakan tengkorak. Dan diatas dashboardnya ada sebuah miniature the black pearl ship yang diperankan actor Johny Deep. Secara design mobilnya cukup tergolong mewah.karena 3tv flat,kecil di bagian depan satu dan dua dibagian belakang. Di kaca depan nampak sebuah mini kamera yang ditempelkan ,nyaris tidak terlihat memang… ntah apa fungsinya buat dia,sehingga sepenting itukah memasang kamera di mobil. Setiap aku bercerita kepada Vera,dia selalu mengingatkan aku agar aku cepat cepat menerima ajakan Demitri untuk menikahiku. Jujur saat ini hanya Mirza yang bisa membuat aku nyaman. Aku merasa mati rasa dengan Demitri, aku bosan dengan keromantisannya, bosan dengan perhatiannya yang berlebihan, bosan dengan sikapnya yang selalu pengertian, terkadang aku menginginkan dia cemburu tapi sayangnya dia bukan tipikal pencemburu walaupun aku pergi berdua dengan teman priaku yang lain. Demitri tidak pernah cemburu. Semua terasa terbalik aku menginginkan sesuatu yang tidak pernah aku terima. Demitri hanya suka berolah raga renang,golf dan badminton.tidak ada olah raga lain yang dia suka selain itu.Terlebih olah raga yang memacu adrenalin pria.
Mirza cenderung pria yang suka memacu adrenalin, dia suka kebut kebutan motor maupun mobil, dia suka dengan hiking, taekwondo. Dia memang suka dengan mendaki gunung.arung jeram . dan aku cukup terkesan dengan keberaniannya. Pagi ini dia menjemputku dirumah untuk berangkat kantor bersama lewat telephone jam 05.00 tadi. Aku hanya mengiyakannya dan memintanya untuk menjemputku tepat jam 08.00. semangatku seperti terpacu, hormone estrogenku lebih mengalir deras, aku berdandan secantik mungkin,sedikit lebih segar dibanding sebelumnya,aku mencepol rambutku, kukenakan satin biruku yang sudah lama tidak kupakai kupadu padankkan dengan skirt putihku. Tak lupa kukenakan stiletosku hitam beledu. Hari ni aku mengenakan aksesoris kalung mutiara pemberian mama Demitri.tak habis habisnya aku bercermin. Memutar mutar badanku sambil tersenyum. Kutengok dari jendela kamar untuk menghirup udara bebas lewat balkon,….. astaga kigsroad hitam itu sudah standby disebrang depan pagar rumah, dengan kaca terbuka kulihat Mirza melambaikan tangan kanannya padaku.spontan aku tersenyum lebar,jantungnku seperti terpompa lebih cepat,darahku semakin deras mengalir, aku beranjak turun dan pamit pada orang tuaku. “Bunda…. Hari ini aku ada acara sepulang kantor,dan aku tidak membawa mobil,mungkin aku pulang agak malam” ibuku hanya menjawab”siapa yang menjemputmu?” “ Mirza, Bun” sambil aku berlari menuju pagar rumah. Mesin mobilnya sudah menyala,dia tersenyum ramah menyapa ibuku,ibuku kembali tersenyum, dan aku melesat masuk duduk disamping kirinya. Mirza ramah menyambutku, sambil mengaitkan save beltku. “thank you!” dia hanya senyum sembari membetulkan kacamata hitamnya” tidak terlambat kan aku hari ini,berarti berikutnya aku bisa megantar dan menjemputmu kembali” sontak kepalaku bergerak ke kanan dan memlototinya. Dia hanya tersenyum dan tertawa terpingkal pingkal.”tidak!!” tukasku ketus,”semakin kamu ketus aku semakin suka dan menggilaimu,….!jujur saja kau sukakan bila aku bersamamu” dia melirikku. Ingin rasanya aku menjawab iya aku senang.tapi itu mustahil aku lontarkan,itu bisa membuatnya besar kepala. Sesampainya dikantor aku langsung keluar dari mobilnya berlari menjauhinya sebelum teman sekantorku mengamati dan menangkap kedekatan kami. Aku berlari tergesa gesa sehingga aku sama sekali tidak mendengar panggilan OB yang berusaha meneriakiku karena dompetku terjatuh di pintu masuk. Aku kembali menoleh dan ternyata dompetku sudah berpindah tangan…. Sial keluhku, dan Mirza memberikannya padaku. “jangan buru buru,kau ini seperti dikejar setan saja” aku masuk lift dengannya dan kusahut saja dompetku yang dipungutnya ketika terjatuh di lobby. Tawanya terkekeh kekeh puas Hehhehe, tawa kecil menemaniku lalu kubalas saja
“bukannya kau memang setan?”
“oh ya, aku lupa!”
“yang tidak kusukai dari mobilmu adalah army of satan”
“ohhhh…karena itu ya,oke! Fine… im done”
“bagus!” senyumku simpul saat menerobos masuk ruanganku. Mirza meninggalkan aku tanpa menoleh ke arahku sama sekali. Apakah dia marah? Aku tidak tau,perduli setan soal dia. Aku kini telah disibukkan oleh aktifitasku, hari ini benar benar sibuk. Telephone dalam ruanganku berbunyi. Ketika kuraih nampak suara yang kukenal dari ruang sebrang, lalu kujawab saja “ya Lidya,dia menjemputuku,dan aku tidak bawa mobil, kalo kau tidak keberatan aku mau numpang mobil Reno,tapi kalo kalian keberatan atau ada acara,biar aku naik TAXI saja.” Aku beruntung karena sepertinya lidya tidak keberatan dengan permintaanku. Setelah kuletakkan gagamg telephone beberapa detik yang lalu. Kini dia berbunyi lagi, sebelum sang penelphone berbicara aku sudah nrocos seperti kereta berjalan….
“Belum jelaskah penjelasanku tadi”
Si penelphone hanya menjawab dengan pelan dan merdu tapi sedikit bersuara sopran
“upss!! It’s me!”
“ahh… sorry Mirza kupikir bukan kamu”jelasku sedikit malu karena salah persepsi
“oh ya honey,maaf aku tidak bisa menemani lunch”
“jangan panggil aku honey” pintaku dengan nada tegas, selama ini yang ku ijinkan memanggilku dengan sebutan demikian hanya Demitri bukan yang lain.
“hanya Demitri ya?”
“ya!!”
“oke,bagaimana kalo sayang?”
Aku hanya diam saja mendengar panggilannya.
“ohhh tenang saja kau tidak memiliki kewajiban untuk mengantar jemput aku,atau menemani langkahku kemana saja aku pergi” jelasku secara gamblang dengan intonasi alto.
“tidak aku akan menjemputmu,cuman memang aku sedikit terlambat, maklum Big boss pagi ini mengajakku ke Tuban, buat melihat kantor baru.aku akan melaju dengan cepat untuk menjemputmu sayang!” tapi tanpa berkomentar,aku langsung saja menutup gagang telephone itu. Dia pun tidak berusaha lagi untuk menelphone kembali, tapi bodohnya aku masih mengharap dia menelphoneku kembali. Setengah jam kemudian dia kembali menghampiri ruanganku .tapi kali ini dia tidak sendiri,dia ditemani Big boss.. aku hanya pasang senyum ketika mereka masuk,lalu boss bertanya padaku sambil memberiku beberapa dokumen yang harus aku cek untuk seminar besok pagi.” Mau titip apa Des ,soalnya aku mau ke Tuban?”
“apa ya bos,aku gak tau,terserah deh apa aja?” ujarku sambil membuka laci yang berisikan toples kecil penuh dengan permen coklat. Kusuruh Mirza membawa toples itu, kuperhatikan tiap dia keruanganku, dia selalu memungutinya 3bungkus. Dan dengan senang hati juga dia membawanya tapikali ini dia hanya menyisakan aku satu bungkus saja,”sial!” celotehku padanya yang sudah lari mengejar boss. Yang tersisa diruanganku hanyalah aroma parfumenya yang WILDEST tapi aku menyukainya. Semua apa yang ada dan melekat padanya mulai menarikku perlahan lahan dan teratur yang kini bisa kuterima dengan nalar, yahh meskipun dia perokok.meskipun aku teramat benci, dia tau aku tidak suka perokok dan meskipun dia belum bisa menghindarinya, tapi nampak dia punya usaha untuk tidak merokok bila akan berhadapan denganku. Karena secara langsung bila aku mencium aroma rokok maka aku akan menghindarinya. Semakin hari aku merasa semakin crowded dengan hubungan gila yang tidak jelas. Setiap hari Demitri selalu menghubungiku ,selalu mengutarakan rasa cinta dan rindunya tanpa beban tanpa berkurang kadarnya sedikitpun. Aku haya bisa mengambil napas panjang sambil berbisik dalam hati. Aku masih sangat sadar aku masih mencintai Demitri hanya saja kadar cinta itu berkurang sedikit. Sedikitnya sudah berpindah pada Mirza. Aku suka merasa cemburu bila Mirza sedang berbicara pada Irina meskipun itu lewat telephone,meskipun dia tidak pernah seromantis Demitri ketika menelphone aku.
Justru akulah yang suka membuatnya cemburu ketika Demitri menghubungiku saat dia sedang ada diantara kami. Bila melihat Irina, aku selalu merasa akulah yang lebih unggul bila dibanding dia,baik secara fisik maupun posisi. Meskipun tidak sekantor, aku sering menjumpainya bila kami sedang mengadakan gathering ,atau outbond acara kantor. Tak jarang Lidya sendiri pernah terlontar omongan”pantas saja Mirza menggilaimu, bila dibanding Irina kamu sangat jauh diatasnya. Selera gadis itu buruk” tapi ketika itu aku sama sekali tidak menggubris karena saat itu aku sama sekali belum terkenah panah asmaranya yang memunculkan sindrom mati rasaku pada Demitri. Verapun pernah mengutarakan komentarnya ”kalo Mirza terlalu tampan untuk Irina” keluhnya ketika itu Mirza lebih cocok bila menjadi pacar Vera yang kini telah menjadi istri Jeremy teman Demitri.karena memang sempat Vera menaruh hati pada Mirza. Hehhehehe…uuhhhh CINTA memang tidak bisa diprediksikan. Ketika itu aku hanya mencibir komentar Vera.yang sama sekali sosok Mirza bukan typeku, tapi sekarang perasaan ini berbeda tentang Mirza, Sosoknya dulu tak pernah kuimpikan,berfikir saja tidak apalagi mimpi, entah sejak kapan perasaan ini mempengaruhi aku dan meracuni pikiranku. Semakin lama semakin dalam aku memikirkannya. Aku tidak ingin salah langkah bahkan salah pilih. Ahh, sudahlah aku harus bekerja. Pekerjaanku sudah menumpuk dan belum sempat kujamah sejak Mirza meninggalkan aku setengah jam yang lalu. Aku berharap dia bisa menjemputku nanti seperti kemarin mengantarku pulang, yah walapun tidak semobil.
Acara launchku tidaklah menyenangkan tanpa Mirza, ohhh kenapa aku mulai gila, nampan yang penuh makanan didepanku nyaris tidak kusentuh padahal menu ini adalah menu favoritku. Vegetable salad dan Tom yam kum. Aku semeja dengan tujuh orang yang hidup dalam satu defisi dikantorku. Kali ini kami lanch didalam gedung tepatnya di cafeteria kantor . ludi yang seruangan dengan Mirza hanya tersenyum menggodaku ,aku pura pura tidak mengerti dengan tatapan dan mimik bibirnya yang seolah olah mengatakan karena Mirza ya?. Lalu EriKa sekertaris bosku bilang “neng…nglamun aja?kang Demitri masih lama ya di Amrik…ekekkek… awas loh kelamaan pesta Di Hawai?” Godanya padaku,dan akupun berpura pura berkelakar sok merindukan fianceKU. “yah aku kangen berat nih,sekujur tubuh menggigil,dan dia masih dua minggu lagi disana”. Untunglah ada Erika yang tak pernah habis berceloteh mengenai apa saja samapi gossip pribadi big bosspun dia sering ceritakan, karena setelah aku menjawabnya nampak Ludi merasa salah tafsir tentang hubunganku dengan Mirza….ohh thanks God, aku bisa escaped. Tapi Ludi tidak salah dan dia benar seratus persen, kalo aku memang merindukan rekannya, bukannya Demetri. Aku memaksa diriku untuk makan sedikit, aku hanya takut lambungku kambung. Aku bisa membodohi semua orang dimeja ini ,kecuali Lidya….sesaat aku termenung untuk melamun, dia buru buru mematahkan lamunanku dengan menginjak kakiku…aouww !!teriakku kesakitan.dia hanya tersenyum”benar kata Ludikan? kalo kau merindukan Mirza! Hadehhhhh…” mendengar kata katanya aku hanya tersenyum kecut tanpa menampilkan gaya ekspresi apapun. Kali ini semua orang dikantor pada sedikit santai, maklum saja BIG Boss tidak sedang dikantor, jadi kesempatan Lidya cukup longgar untuk mampir ke ruanganku beberapa menit untuk kuajak curhat mengenai masalah ini. Di runganku hanya kami berdua, hanya dengan Lidya saja aku berani menumpahkan semua ceritaku kepadanya tanpa ada batas. Dan berulang kali dia mengingatkanku tanpa bosan, agar aku kembali kejalan yang benar….yah tentunya kembali pada Demitri bukan Mirza. “kembalilah pada posisi awal kalian,dimana kalian adalah partner kerja tanpa affair?” begitulah pesannya sebelum dia meninggalkan ruanganku. Tapi ntah kenapa aku semakin nekad meneruskan hubungan ini,aku sudah nyaris membulatkan tekad walaupun terkadang sedikit terpatahkan. Sudah pukul 17.00 semua kantor pada pamit pulang dengan mengetuk jendela ruanganku. Sudah lebih lima belas menit dari jam pulang belum juga sikunyuk itu menelphoneku untuk menjemput. Atau sisinting itu sibuk menjemput Irinanya…ohhh siall!!. Beberapa saat aku baru sadar oh ya dia pergi ma Boss.ohh matilah aku, jam berapa aku pulang. Sesaat kemudian Lidya lewat “bareng aku gak pulangnya,si Reno dah dibawah nih?” aku kebingunngan memberi jawaban,tapi aku benernya enggan bareng siapapun selain sikunyuk itu.”lama benar sih mau jawab?” desaknya, dan sebelum sempat kujawab dia mengatakan ”satu jam lagi Mirza pasti datang Dess…kalau kamu mau menunggunya!” ketika Lidya mendekatiku ,jantungku seperti berdegup kencang karena mendengar kabar yang dia sampaikan tentang Mirza. Entah apa iya Lidya bisa mendengar kerasnya suara pompa jantungku ini. Aku pura pura saja sibuk menjawab email,”tidak pulang saja duluan, kerjaanku belum kelar” semakin bingung saja mencari alasan ketika dia mengambil tempat duduk yang ada didepan mejaku” akan aku tunggu!”. Aku semakin bingung,dengan tingkahnya. Karena sepertinya Lidya memang akan menungguku sampai kerjaanku selesai sambil bolak balik melirik Bonianya yang semakin bertambah menitnya meninggalkan pukul 17.15. tapi aku menggunakan kesempatan ini untuk segera pergi menemui Reno.”sudahlah tinggal saja aku bisa naik taxi” bujuk rayuku pada Lidya, jujur saja aku senang kalo tidak jadi pulang sama mereka. Senang…senang sekali hehheheh. Mungkin karena Lidya melihat ekspresiku yang agak berebeda,sambil berdiri dia memutuskan untuk pergi mengambil tas jinjingnya dengan mengatakan” pulang ma TAXI atau ma Mirza…..hahhahaha”.sialan jawabku ternyata dia tahu. Sebelum aku berhasill melemparinnya dengan Boxy biruku dia sudah berlari menghambur keruanganku sambil teriak ke OB”tolong jagain Dessy ya,kali aja diculik orang…wwkkwwkk!” dan si OB hanya tersenyum manggut manggut sambil mopping lantai.
Sepulang Lidya, setengah jam kemudian aku menyusul keluar meninggalkan ruanganku untuk pulang,tanpa kubereskan mejaku yang berantakan terlebih dahulu.aku lari sempoyongan sambil membawa sebotol sparkling water dan tas kerjaku,serta beberapa file yang mau kurapikan dirumah.blazer yang kubawah hampir terjatuh terinjak sepatuku. Aku berjalan tergopoh gopoh bukan main seperti orang dikejar setan. Terengah engah hingga sampai didepan pintu lift aku berhenti menunggu pintunya terbuka sambil mengatur nafas panjang, baru saja aku meregangkan lengan ,pintu lift terbuka dan seseorang dari arah dalam lift mendorongku hingga botol minumku jatuh yang disusul fileku yang ikut jatuh berantakan, rasanya mau marah tapi kubatalkan setelah mengenali wajah orang yang mendorongku tadi ,adalah Mirza yang sudah memarahiku sebelum aku punya kesempatan untuk memarahinya terlebih dahulu , tangannya yang besar sambil membantu memunguti barang barangku yang terjatuh. “darimana saja kau ,kutelphone seratus kali tidak kau angkat?” aku hanya tersenyum sambil mencari telephoneku yang nampak dilayarnya muncul keterang tujuh missed calls. “sorry aku sibuk” bohongku padahal aku sama sekali tidak mendengar panggilan masuknya. Kita harus menunggu beberap detik lagi, karena sudah ketinggalan lift. Mungkin Mirza kasian melihat aku membopong beberapa tumpuk file lalu dia putuskan untuk membantu membawakan semua bawaanku kecuali tas-ku. Begitu lift terbuka tangannya yang besar itu telah merangkul pinggulku sambil menuntunku masuk lift ”ayo sayang!” ajaknya sambil nyengir, bodohnya aku hanya diam saja menurutinya. Di lift hanya kita berdua,berdiri sembari tangan kirinya yang sudah merangkul pinggulku tadi kini terlepas. Berganti posisi dengan tangan kiri memegangi tombol lift sambil memandangiku dalam dalam hingga membuatku malu setengah mati. Ingin rasanya aku lari, tapi aku lemas tidak bertenaga. “tidak terburu buru pulangkan?” sambil melirik ke arahku tanpa menoleh
“memangnya kenapa?” tanyaku balik
“ya apa tidak”ulangnya
“kenapa?”
“jawab saja kenapasih? “
“ohhh,….” Aku bingung memilih jawaban jadi kuputuskan untuk diam.
”aku ingin mengajakmu makan atau nonton mungkin” jawabnya simple terserah. Wahhh ,senangnya hatiku. Aku merasa semakin gila dan semakin tak terbendungkan lagi. Kini sampailah kami ke tempat dimana kingsroad hitamnya diparkir di depan kantor. Mobilnya tetap hitam mengkilat walaupun sudah dia pake luar kota pulang pergi. Ketika menatap mobilnya, seperti ada sesuatu yang berbeda,tapi tak kunjung juga aku temukan apa itu gerangan. Hingga aku masuk kedalam mobilnya pun tak berhasil menemukan perbedaannya. Dalam hati aku sedikit mengeluh,kenapa ya dia tidak seperti Demitri yang selalu membantu membukakan pintu mobil bila kami hendak bepergian satu mobil. Mobilnya melaju dengan cepat “cukup enak kalo kamu jadi sopir!” gurauku memecahkan keheningan suasana, sambil memutar CD playernya dia tersenyum ”ini lagu favoritku! coba dengarkan, tapi mungkin kau tidak akan pernah suka musik beginilah….Kau dan Diakan suka Jazz!”. Tapi sayup sayup dari intronya aku mengenali lagu itu milik Colective soul” The world I know by Collective Soul” senyumku sambil meliriknya yang juga tersenyum padaku. Ya ampun senyumnya manis sekali! Hari ini dia tampak lebih rapi dari biasanya, celana jeans denim biru dipadu dengan kemeja hitam , yang pas melekat membalut tubuhnya tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil. Ditambahkan dengan aksesoris sabuk kulit bewarna coklat tua ,serta SWATCH Full Blooded yang melekat di pergelangan tangan kirinya. Ikut menambah penampilannya semakin maximal.”kupikir kau tidak kenal lagu ini” ujarnya sembari membelokkan setir ke arah kiri hingga kami terpaksa berhenti di perempatan jalan karena lampu merah. Sesaat kemudian aku sedikit memiringkan tubuhku ke kanan sambil menutup botol minum yang airnya baru saja aku nikmati “aku menyukai slow rock juga selain jazz, aku juga penikmat musik trance ataupun techno. Dan Colective soul salah satu favoritku” tegasku sedikit diplomatis, agar dia tidak meremehkanku soal music.”oh bagus,berarti kau bisa mengimbangiku dan bukannya aku saja yang mengimbangimu”. Aku terheran mendengarkan kalimatnya,apa maksudnya aku sendiri tidak tau… benar benar tidak tau. Sebelum sempat kujawab kalimat lain sudah menyusul “Dess… soal kita aku tidak main main jadi aku mohon kau juga tidak mempermainkan aku. Aku mengerti apa yang kamu pikirkan, aku mengerti apa yang kamu rasakan tentang aku. Oleh karena aku mengerti maka aku berinisiatif untuk memulai semuanya dengan benar dan jelas!” wajahnya kemabali menatapku dalam untuk sesaat sebelum dia menyadari kalo dirinya hampir saja menabrak bus antar kota yang ada didepannya persis “damn it! Shit..!” pekiknya sambil memasang rem mendadak hingga membuatku kaget.”kaget ya? Sama!heheheheh” aku hanya meliriknya sedikit marah, maklum saja aku kaget luar biasa karena kejadian barusan ”hadehhhh…!”aku menarik nafas dalam dalam. Dan dia masih tersenyum puas melihat ekspresiku” kau memang cantik ternyata,pantas saja dia menahanmu lama sekali”. Ya tuhan kenapa dia terus menerus menyerangku, kenapa dia terus menerus memperdayaiku! ”sudahlah!” pintaku tapi dia sama sekali tidak menggubris apapun, justru dia tertawa sambil melepaskan nafas sepanjang mungkin setelah menghirupnya dalam dalam” hahhhh………aku senang sekali hari ini,tentu semua karenamu sayang. Aku tidak pernah merasakan seperti ini dikala bersama Irina” desahnya. Ohh benarkah dengan apa yang barusan aku dengar ini, lantas mengapa hubungan kalian selama ini bila kau tidak mencintainya. Sayangnya lidahku tak sanggup berucap ataupun menanyakan sesuatu padanya. Tapi sebenarnya rasa penasaranku ingin aku lontarkan. “lain waktu akan aku ceritakan!” ujarnya menguatkan kalimatnya.
Kami berhenti di pos depan untuk mengambil karcis,karena kami sudah memasuki area mall. Mobilnya kini sudah sampai ke Grand city tempat dimana kami akan makan dan nonton Film seperti yang dia rencanakan, dan aku hanya menyetujuinya saja. Mobil tetap dia pacu hanya saja kecepatannya dibawah 30km/jam karena kami sudah memsauki area parker mall. Dia berhenti low Ground. Setelah mendapat tempat parkir yang berkenan , akhirnya dia memarkir mobilnya dan hanya membawa sebotol air minum yang nampak dia simpan didalam chiller mobil. Dia keluar mendahuluiku, dan tanpa membukakan pintu mobil buatku. Hanya berkacak pinggang didepan moncong mobilnya sambil menengguk habis air minuman itu. Lalu aku keluar menyusulnya untuk pergi mendahuluinya berjalan. Kudengar langkahnya dipercepat untuk menyusulku, seperti biasa tangan kirinya mendarat tepat diatas bahuku sambil tersenyum menatapku tajam. Tangannya begitu berat dibahuku. Ntah apa karena tangannya yang begitu besar atau karena aku malu membayangkan bersamanya karena aku adalah fiancé Demitri. Oh honey …sungguh aku masih bisa memikirkanmu tapi kenapa aku tidak memiliki kerinduan sedikitpun terhadapmu, justru aku mulai nyaman dengan Long distance kita sementara ini.
Kami berjalan terus memasuki area dalam mall tak kunjung kami menemukan area yang cocok untuk melepas rasa lapar kami berdua. Hingga kami memutuskan untuk pergi ke studio 21 The Premire untuk melihat jadwal film yang sedang diputar. Kami berputar putar pelan mengintari area studio setengah jam. Tapi tak satu filmpun cocok dengan kami. Akhirnya kami putuskan untuk pergi kesalah satu western restoran yang menyajikan beberapa masakan western. Melihat daftar menu aku serasa mau pinsan. Bagaimana tidak semua menunya adalah model steak macam tenderloin, sirloin, t-bone, shank,toploin,shortloin dan masih banyak yang lainnya dengan berbagai macam sausnya teriyaki, Salisbury,red onion marmalade, Dijon port sauce. Hadehhhh….. dia memang tidak tau seleraku.Parahnya lagi dia meminta agar dagingnya dimasak setengah matang … ampunnn!!! Dia benar benar karnivora, ingin rasanya aku muntah tapi aku tahan, kepalaku pusing bukan main. Maklum saja aku bukan penggemar meat. Aku tidak suka jenis daging merah. Apalagi steak. Tapi rasa ini kucoba kusembunyikan. Ketika dia menanyaiku tentang pesananku aku hanya diam sambil meneliti ulang apakah ada menu steak lain lagi selain daging merah. Tapi tidak aku temukan. Hingga akhirya aku hanya memesan friench fries dengan garlic dan shintake mushroom salad. Aku hanya tersenyum ketika dia memlototi menu pesananku yang tidak ada pada list menu. Tapi untungnya sang waiter bersedia membuatkan orderan spesialku pada chef mereka, dan chef mereka menyetujuinya. Tak lama kemudian pesanan kami datang dan kami menyantapnya, sebelum makanan itu datang aku membayangkan menunya serasa aku ingin muntah bahakan sudah dua kali aku pergi ke toilet untuk memuntahkannya karena hal yang ada dalam otakku. Namun bayangan itu tak lagi menghantuiku ketika dengan sekilas penuh kekhawatiran aku melihat menu steak itu tak terlihat seperti daging bakar yang masih merah karena darah. Mungkin dia bingung membayangkan tingkah lakuku tapi aku cuek saja. Aku menutupi hidangannya dengan tempat salt and papper yang ada di depan kami ditambah dengan sebuah vas kristal yang berisikan bunga krisan. Mirza sepertinya kelaparan sekali, pantas saja ketika aku ajak masuk kedalam café donat dia menolakku. Mungkin baginya itu kurang mengenyangkan. Satu jam sudah kami menikmati hidangan ini, sebagai penutup menu kami memilih dessert Crepes Suzette. Kali ini aku yang memilihnya, dan dia hanya menurut. Aku senang karena dia menyukai pilihanku. Lama kami ngobrol hingga tak sadar akan mendekati jam 22.00. aku mengajaknya pulang karena hari sudah larut. Dia memintaku agar aku bersedia dijemputnya untuk beberapa waktu kedepan. Sejak malam ini hubunganku bertambah semakin dekat. Kami sering bersama kemanapun kami pergi meskipun tidak selalu berdua. Lidya hanya terheran heran. Hingga Ludipun kembali mencium hubungan kami. Tapi dia tidak secerewet Lidya. Meskipun Lidya sendiri sudah pasrah dengan semua keputusanku.
Sudah lewat seminggu sejak kedekatan kami, hingga suatu pagi Mirza menelphoneku dan meminta maaf kalo dia tidak bisa menjemputku kali ini. Aku memang kecewa tapi aku tidak mau egois. Kali ini Irina lebih membutuhkan Mirza dibanding aku, karena Irina ada keperluan untuk minta ditemani ke rumah sakit dimana Ibunya telah dirawat. Irina tidak sepertiku. Irina tidak bisa mengendarai kendaraan pribadi meskipun dirumahnya terparkir Honda all new Accord milik ayahnya. Dia juga tidak bisa mengendarai Motor meskipun itu motor matic. Dia hanya selalu minta bantuan oranglain untuk mengantar kemanapun perlunya dia pergi, atau bahkan dia akan naik taxi bila semua orang tidak bisa dimintai pertolongan. Pagi ini aku mengendarai sendiri untuk berangkat kekantor.
Di mobil ini aku menaruh beberapa keperluan yang biasa dibutuhkan Demitri. Mulai dari sepasang sepatu yang sengaja dia titipkan padaku. Sebotol parfum HUGO BOSS Deep Red. Sekotak amplop , parker , note dan hands clean. Lama mobil ini tidak kujenguk. Dia hanya terdampar digarasi untuk beberapa hari. Beberapa hari terakhir aku lebih sering bersama Mirza disbanding harus membawa mobil sendiri,karena ini membuatku nyaman. Sesampainya di kantor aku meminta OB untuk mengantarkan mobilku ke carwash. Dan aku memberinya sejumlah uang dengan tips buatnya. Walaupun dia menolak aku tetap memaksanya agar dia mau menerimanya. Aku merasa tidak enak saja kalo dia sampai menolak. Untunglah dia mau menerimanya walaupun dengan malu malu.
Hari ini pekerjaanku dikantor tidak terlalu sibuk, sehingga pikiranku pergi kemana mana . aku mulai membayangkan yang tidak tidak soal mereka berdua. Aihh apa iyasih aku cemburu??... tidak tidak aku tidak mau. Biarkan saja mereka bercumbu. Toh mereka memang pacaran. Dan aku bukan!! Perasaan ini tidak bisa kuhindarkan. Aku tidak bisa konsentrasi. Lantas aku mencoba menelphonenya ,tapi sayang sepertinya nada sibuk terus walaupun sudah ku dial empat kali. Akhirnya aku berubah pikiran lantas menspeed dial untuk menghubungi Demitri. Tanpa menunggu lama dia menerima panggilanku, dia mengucapkan rindunya seperti biasa yang begitu dalam. Tapi sayangnya aku apatis dengan ini. Aku hanya berpura pura saja aku hanya membohonginya saja. Dia menceritakan kalo satu jam yang lalu dia baru saja sampai dibandara Changi. Karena dia ada keperluan penting di singapura sehingga dia tidak bisa langsung pulang ke Indonesia. Disana dia harus menemui salah satu rekan papanya yang sudah lama tidak mereka kunjungi hanya untuk memberikan beberapa foto dalam album kenangan orangtuanya semasa sekolah di UI Jakarta, sekarang orang tersebut berpindah kwarganegaraan menjadi warga singapura. Kalo dia bisa pulang hari ini pikirku dia hanya butuh waktu satu jam . dan kalupun dia langsung kesurabaya mungkin sekitar dua jam. Kali ini perasaanku sedikit berubah,sedikit merindukan Demitri, mungkin karena aku merasa cemburu pada Irina. Demitri telah berjanji padaku 2hari lagi dia akan sampai ke Surabaya untuk menemuiku. Aku sudah menawarkan diri untuk menjemputnya dibandara Juanda. Tapi dia bilang ,aku tidak perlu repot repot, dia akan meminta sopirnya untuk menjemputnya dibandara. Dan ketika akan menutup telephone dia sempat mengatakan “ Dess I love you , I miss you so much” aku hanya menjawab “ me too, back too me soon honey?” tawa kecil menghiburku “yahhh soon!” lalu kami saling menutup telephone . hari ini aku melewati waktu dengan suasana sedikit berbeda tanpa ada yang bisa kuajak ngobrol karena Lidya mengammbil cuti dua hari untuk pergi fitting baju sekalian foto pre-wedding. Erika si sekertaris Bos sedang keluar menemani istri Bos untuk mencarikan baju suaminya yang hendak ulang tahun,….hadehhh. ditambah lagi sikunyuk itu pasti asyik berduaan dengan Irina meskipun dirumah sakit. Ahhh… beratnya. Aku benar benar tidak sanggup membayangkannya. Kali ini aku hanya mencari kesibukan, hanya saja tidak ada aktifitas yang bisa membuatku sibuk, coklat panas yang aku minta pada OBpun belum datang, akhirnya kuputuskan untuk membuatnya sendiri di pantry kantor. Aku terpaksa melewati sudut ruangan dengan langkah malas dan untuk mencapai pantry aku harus melewati ruangan sikunyuk jelek itu. Baru saja lewat Si Ludy sudah teriak teriak memanggilku dan menyuruhku masuk, karena pintunya terbuka jadi kuputuskan saja untuk menerima panggilannya toh aku hanya tinggal memutar badan kekiri dan mundur selangkah saja untuk mencapai garis pintu. “hai,tumben santai?”sapaku pada seisi ruangan yang ketika itu nampak semua pada standyby depan monitor yang menampilkan berbagai macam game di masing masing meja. Ada yang main poker, cooking dash, mavia war, monopoli, ada juga yang main catur…..ketika aku menyapa semuanya hanya tersenyum ramah. Maklum saja hari ini Bos lagi ke Jakarta, jadi ya semua santai itu pikirku, toh kali ini awal bulan jadinya ya kita belum dikejar deadline maupun report report urgent ataupun komplain para customer. Ludi yang tadi menyapaku sedang sibuk main catur online dengan partnernya di dunia maya. Aku pergi mendekati mejanya untuk melihat posisi permainannya. Apakah dia sehebat yang aku bayangkan? Ahh…. Ternyata biasa saja. “hebat kau !” bujukku. “ah biasa saja” jawabnya pelan, “kemana si Mirza hari ini?” lanjutnya,yang sempat membuatku kaget karena kupikir hubungan kami hanya Lidya saja yang tau tapi ternyata ada satu mahkluk lagi yang mengetahuinya ”Oh Tuhan!!... mana akutau Lud?” aku ku terbata bata sambil menutup wajah. Dan Ludi hanya tersenyum. “wah hebat kau bisa membuatnya bertekuk lutut, hebat!”. Benarkah pikirku ketika itu, tapi karena aku tidak mau berlama lama terpaku disini akhirnya kuputuskan untuk melangkah beberapa centi menjauhi Ludi. Karena aku takut dia sedang memancingku. “kamana?” tanyanya tanpa menatapku. “pantry” jawabku singkat. Aku berjalan meninggalkan ruangan itu. Sambil menengok I-phone ku ,barangkali si kunyuk itu menghubungiku. Astaga ternyata tidak satupun Notification yang ada. Dipantry ternyata tidak ada orang , tapi setelah kutengok tengok ternyata ada Agus si OB yang tadi kumintai tolong “maaf mbak, belum sempat ngantar !” sambil membawakan nampan yang berisikan cangkir keramikku yang sudah berisikan coklat panas. “ahh gakpapa, makasih ya. Sini biar aku bawa sendiri keruanganku!” sambil kuambil cangkirku dan kukembalikkan nampan kayunya, aku merasa tidak perlu membawa nampan karena sudah ada saucer dibawah cangkirku, jadi kurasa cukup untuk menahan panas sampai keruanganku. Berjalan kembali keruanganku aku tetap harus melewati ruangannya, karena itu adalah jalan satu satunya penghubung antara paintry dan ruanganku. Didepan pintu sudah ada Ludi yang berdiri sambil memegang telephone genggamnya. Nampak dia sibuk ngobrol dengan seseorang, tapi sepertinya aku mengenal Hp yang dipakai Ludi Untuk ngobrol. Astaga…!! Benarkah dia sudah datang??? Aku menutupi penasaranku ketika akan melewati ludi. Ketika aku persis berjalan didepannya,tiba tiba Ludi memberikan Telphone itu padaku, kenapa? Untuk apa?siapa yang ingin bicara? Apa itu Irina? Sambil kuterima dan kutempelkan ditelinga kiriku. Seseorang disana sudah menyapaku
“halo sayang,aku sangat merindukanmu?”
“ada perlu apa” tanyaku lugas, Ludi yang mendengar hanya tertawa sambil meninggalkan aku. Mungkin dia ingin memberikan kami privasi untuk mengobrol.
“bawa saja hpku keruanganmu, Ludi sudah tau”pintanya sedikit halus nadanya dibanding intonasi awal tadi.
“oke”
“sibukkah? Aku seperti membau coklat panas diruanganmu” gelaknya
“oh ya ,Budi baru saja membuatkannya untukku!” dan tanpa kuminta informasi dia dimana sedang apa bersama siapa, dia sudah punya kesadaran tinggi untuk menjelasakannya padaku.
“aku masih graha amerta, tapi dihalaman luar, dan Irina sibuk menemani Ibunya. Aku sedang mencari udara segar disini sambil melihat para suster yang cantik cantik dengan balutan baju putih mereka yang sexiiiii….. wouww! Kerenkan” kelakarnya sambil tertawa mencoba membuatku cemburu. Oh betapa leganya aku mendengar informasi ini,ternyata dia tidak terlalu menghiraukan Irina. Api cemburukku kini sudah meredam
“ yah nikmati saja duniamu!” ujarku sedikit cuek.
“I miss you” lanjutnya
“ah sudahlah Mirza ,aku sibuk aku gak sempat meladeni gombalanmu yang membual!” nadaku sedikit marah tapi sebenernya aku benar benar senang. Jauh dalam lubuh hatiku berbicara iya Mirza aku juga merindukanmu. Dan dia hanya tersenyum kekeh mendengarku.
“ sayang tolong bantu aku lihatkan notificationku di ponsel” dia memntaku dengan ariefnya dengan serius.tapi apa maksudnya aku tidak tau kenapa dia melakukan ini.dan sebelum aku mengatakan apa yang membuatku bingung dia sudah menjawab.
“yah… karena memang dengan sengaja aku meninggalkan ponselku di laci, dan Ludi tidak sengaja menemukannya ketika dia membutuhkan hardisk. Tentunya agar Irina tidak terlalu sering menggangguku. Dan agar aku bias leluasa menelphonemu sayang…. Hehehh. Tapi tenang sebelum aku meninggalkan ponsel semua obrolan tenntang kita sudah kubersihkan” kudengar senyuman puas darinya yang sudah menyusun rapi danberhasil dengan rencananya yang aneh. Akhirnya terjawab sudah penasaranku tadi tentang alasan kenapa Mirza meninggalkan ponselnya. Dan ternyatra benar setelah kulihat Notificationya ternyata sudah duapuluh tujuh kali Irina menelphonenya dengan keterangan jam yang sudah bias kubaca. Begitu pula lima pesan yang semuanya berisikan sama dari irina yang mtelah menanyakan keberadaanya. Pikirku tanpa kucetuskan padanya dia ternyata cowok yang aneh, sebegitunya dia meninggalkan irina. Lalu kudengar kalimat susula darinya
“apa semuanya Irina?”
“ya…yahhh benar Irina dengan lima pesan dan duapuluh tujuh panggilan masuk? memangnya kau dimana dia dimana?”
“kurang jelaskah penjelasanku tadi?” jawabnya dengan sedikit kesal. Dan sebelum terlambat aku akupun segera meminta maaf.
“ aku capek!” keluhnya” begitulah Irina ,dia tidak bisa mandiri, manja. Aku suka gadis manja. Tapi yang tau tempat !!” ujarnya kesal
“ya sudah istirahat saja” saranku padanya.
“oke sepertinya , Irina sudah bisa menemukanku, aku cabut dulu ya sayang. Love you” dia tidak menutup ponselnya, begitu juga dengan aku. Sehingga aku bisa mendengar suara suara yang ada disekitarnya bahkan aku mendengar Irina memanggil Namanya dengan sebutan “CINTA” wueekkkkk… aku ingin muntah rasanya mendengar suara gadis itu. Dan aku cukup puas setelah mendengar suara Mirza yang mengatakan “dengar Irina ,aku harus kerja, kalo kau capek kau bisa minta gantian jaga dengan saudaramu yang lain dan bukan kita aja. Kau enak bisa bolos tanpa alasan. Toh itu tokomu sendiri, tapi aku !! aku kerja ikut china, tau kamu? yang jelas besok aku masuk” bentaknya meskipun tidak terlalu kasar tapi buatku itu saja sudah kasar. Mungkin karena dia menyadari bahwa ponsel percakapan kami masih nyala akhirnya dia menutup juga.setelah itu aku tidak mendengarkan suara lain kecuaia nada putus yang mengakhiri obrolan kami. telephone..tttuuuutttttttttttttttttt….iiinngggggg mengegma ditelinga serasa gendangku mau putus.
Siang ini aku melewatkan jam makan siangku. Karena kejaanku yang mendadak harus ada yang diselasaikan hari ini juga. Lagi[pula aku ingin pulang cepat hendak mampir ke Ranch market membeli beberapa kebutuhan dapur. Dan tepat pukul 17.00 aku sudah siap meninggalkan rumah. Tak lupa juga aku membawa ponselnya, aku berlari kecil berjalan kearah lift sebelum pintunya tertutup aku berebut tempat dengan karyawan lainnya. Dan untungnya aku bisa masuk, kali ini tidak ada yang bisa kuajak ngobrol yang private maklum saja aku bukan tipikal wanita yang ramah, aku hanya tersenyum saja untuk menyapa mereka, heheh maklum saja gak smeua nama aku hafal karena terlalu seringnya karyawan yang keluar masuk dan ganti team personil. Sesampainya diparkiran tepat diatas kap mobil audyku pria yang kurindukan hari ini sudah duduk manis dengan kaki menyilang mengenakan sandal slop, kemeja putih bersih dan celana blue jeans.rambutnya yang setengah ikal itu dan agak sedikit gondrong tampak melayang layang ditiup angin, yah mungkin karena sudah mendung dan mau hujan jadinya agak sedikit kencang tiupannya. Dia kelihatan masih tampan walaupun sedikit kelihatan sayup dan kucal. Dari kejauhan kutekan remote mobilku dan tanpa permisi dia masuk mobilku dari pintu sebelah kanan dan duduk persis di depan setir, aku hanya membiarkannya ,pasrah dengan apa maunya padahal itu mobilku harusnya aku memaki makinya. Karena dia sudah duduk depan kemudi akhirnya aku masuk dari pintu kiri. “mau kemana?” tanyaku macam orang bodoh, memangnya kita mau kemana toh aku belum tau dia mengajak kemana dan mau apa. Dia senyum lebar dengan puas sambil meraih tangan kananku lantas menciumnya. Tapi anehnya aku diam saja dan justru malah tersenyum bukannya marah. ”kemana saja kau mau, aku kangen berat ma kamu?”. Karena aku mulai malu akhirnya aku mencoba mengalihkan topic pembicaraan. “naik apa kamu kesini?” sapaku karena kau tidak menumakan kingroadnya terparkir didepan kantor. “ bemo!” jawabnya simple. Astaga pekikku terperangah karena tidak habis pikir sebegitunya dia escape dari Irina ”dimana mobilmu?” tanyaku penasaran sambil menerka nerka. ”graha amerta!” jawabnya “oohhh,kuantar kau kesana” aku mencoba menawarkan diri. Dan dia setuju walaupun cuman tersenyum. “kau bawa ponselku kan” tanyanya ”iya” jawabku sambil menunjukkan jariku agar dia belok kearah kanan agar lewat ke jalan Basuki Rachmat.”kemana” tanyanya pelan,”apa kau tidak langsung pulang” aku hanya menggelengkan kepala.”ternyata kau rindu juga ya ma aku,padahal belum genap 24 jam aku meninggalkanmu sayang…wkwkwkwkkwkw” haduh sialan tergambar sejelas itukah lukisan wajahku kalau sedang merindukannya. Aku hanya diam dan berfikir. Ketika sampai tepat diarah tikungan, aku mengarahkannya agar dia mengambil lajur kiri lalu belok ke Ranch market. Tujuan awalku adalah belanja, tapi karena dia kelaparan toh kebetulan disitu juga ada restoran yang menyajikan makan ringan dan menu berat lainnya. Karena didalam supermarket itupun ada restoran Eaton menu western. Kami masuk dan memsan menu, aku menawarkan diri untuk meninggalkannya sebentar dan pergi mengunjungi market,tapi dia tidak mengizinkan aku sendiri. Pemikirankusih agar bisa cepet selesai semua dengan waktu singakat. “besok aku jemput lagi ya dess?” ujarnya tiba tiba.”oh tidak usah!”jawabku sambil menjejalkan sepotong donat mint kemulutku dan menelannya. “aku jemput jam 8tepat” bantahnya sedikit memaksaku untuk menganguk, lalu tanganya yang kuat itu merengkuh lenganku dan membelai rambutku. Disaat yang sama ketika aku memberikan ponselnya. Demitri telah menelphoneku. Sebelum aku menerima panggilannya ,mendadak Muka Mirza tergambar seperti kesal karena telah mengetahui siapa yang memanggilku. Tanpa kuperhatikan lagi wajahnya aku menerima panggilan Demitri dan berdiri meninggalkannya, tapi tangan kanannya menghalangiku untuk pergi. Aku tak menghiraukannya, dan aku tetap menjauh untuk menjaga perasaannya yang terluka karena ini. Demitri hanya mengucapkan salam rindunya dan aktifitasnya pagi ini maklum saja perbedaan Indonesia dan Singapura hanyalah satujam, tidak terlalu lama mempengaruhi waktu. Lusa demitri akan kembali dan tentunya waktuku bersama Mirzapun akan lebih sempit. Karena pada dasarnya hubungan kami ada setelah kami memiliki pasangan masing masing meskipun Mirza mengaku tidak terlalu hidup di alam cinta bersama irina. Tapi apa peduliku. Demitri menghubungiku selama 15menit dan selama itu pula Mirza berulang kali batuk batuk palsu. Padahal tadi kulihat dia biasa biasa saja .tapi mendadak aneh ketika Demitri menghubungiku. Ketika aku kembali kemeja batuknya sudah mendadak hilang seperti baru saja menelan sebotol obat batuk dan sembuh seketika.”lama sekali kau !” tanyanya kaku. “demitri akan pulang lusa!” jawabku singkata dengan tegas. Dan tak kusangka tangan kirinya tergenggam kuat kuat sambil menggertakkan gigi grahamnya” shitt!!”. “ kau ini kenapasih?” tanyaku dengan bodohnya walaupun aku tau apa maksudnya, tapi aku tak menghiraukannya. Dimeja kulihat dia sudah membayar bill yang tadi kuminta. Dengan muka masam dia bangkit dari kursinya membawa kunci mobilku. Kami berjalan satu arah menuju ke market mengambil keranjang. Ketika menemaniku belanja wajahnya kini sudah berubah seperti awal, kembali menyenangkan, kami ngobrol soal pekerjaan lalu soal caranya meninggalkan Irina …hehehh menggelikan. aku mengambil beberapa keperluanku seperti bahan kue, beberapa sayur dan bumbu import yang sudah di request Bunda. Mungkin dia hendak membuatkan calon menantunya menu special, yang lama sudah tidak mencicipi masakannya. Kal ini belanjaanku tidak banyak, dan aku tidak capek membawa keranjang karena sudah ada sikunyuk itu yag membantuku membawa kereta dorong.
Usai berebelanja aku memutar arah kearah rumah sakit untuk mengantarnya kembali kepangkuan Irina. Lalu bergerak pulang kembali kerumahku dan istirahat. Tapi sayangnya malam ini aku tidak bisa tidur. Aku banyak pikiran soal mereka, aku bingung, terlebih mendekati kedatangan Demitri, aku merasa semakin hari semakin susah terlepas dengan Mirza, aku merasa kini mereka sama sama menempati jumlah porsi yang sama persis.tanpa ada yang berat ataupun ringan salah satunya. Hal tersebut membuatku semakin berat. Malam ini kulewati dengan santai di balkon teras. Secangkir coklat panas , dan satu buku The Lord Of the Rings two towers yang kini sudah sampai kehalam 115, kunyalakan cd playlistku dengan susunan lagu kompilasi dari artis dalam negeri dan manca Negara. Aku menghabiskan malamku dengan buku tebal sampai pagi menjelang. Tak kurasakan rasa kantuk sedkitpun, kutengok jam tanganku dia sudah menunjukkan pukul 06.35 dan aku belum siap sama sekali untuk ngantor.padahal biasanya aku sudah siap tinggal sarapan. Hingga Bunda datang untuk menengokku dan menanyakan keadaanku” sayang kenapa belum mandi?apa kamu cuti?” tanyanya sambil memungutku di balkon sembari membelai rambut panjangku. Aku hanya bisa menggeleng “aku mencium lengannya yang tadi membelai rambutku ”Bunda aku bingung, besok Demitri datang?” dengan mengamatiku saja mungkin dia tau kalo anaknya kini sedang dalam masalah cinta ”Bunda tau sayang! MIrza dan Demitrikan?” tukasnya.lalu dia berjalan meninggalkanku untuk mengambilkan sebuah handuk baru dari lemari sembari datang menghampiriku “ mandilah dulu , cuci rambutmu,cuci mukamu, bermake uplah berdandanlah sesegar mungkin, untuk menutupi matamu yang sembab nak!” .oh Bumdaku bener benar hebat, ternyata dia tau tanpa aku berucap jelas,aku bangkit menuruti apakatanya, dia berusaha menghiburku, sembari mengganti cd play listku dengan lagu yang sedikit ngebit, seperti biasa yang aku putar ketika aku sedang senang. Kali ini Bunda memilihkan busana kerja buatku, hanya sepotong wrap over blus yang divariasikan dengan garis lengkung di dada.bewarna burgundy , dengan dipadankan tas putih milik hermes dan sepatu putih mengkilat. Ketika aku selesai mandi , mama tersenyum agar aku memakainya, akupun menurutinya. Ketika aku melirik jam dindingku sudah mendekati jam 8, aku tergopoh gopoh, terlebih mamaku turun dan mendengar suara mesin mobil yang terparkir depan rumah. Aku menduga mungkin itu Mirza dan ketika aku mengintip dari atas ohh…Tuhan benar itu dia. Dia dipersilahkan masuk oleh mama ,ntahlah apa yang dikatakan dan diobrolkan mereka. Dengan cepat aku berdandan dan merapikan bajuku, berdandan seadanya, akan aku permak lagi dikantor pikirku singkat ketika itu. Aku tidak enak saja kalo dia menungguku lama, aku takut terlambat jugasih sebearnya. Kesempatan dia menjemputku tinggal hari ini, karena esok Demitri sudah datang. Ketika aku merasa sudah siap dengan semuanya, aku pergi meninggalkan kamarku lalu turun menyapa mereka berdua, kulihat mamaku sudah membuatkannya coklat hangat dan beberapa potong kue pisang yang ditaruhnya diatas meja didepan dimana Mirza duduk. Aku berrfikir mamaku sangat pengertian, tapi sebelum pikiran itu tuntas aku mulai terkesima dengan hal lain yang menempel ditubuhnya. Hari ini dia rapi, rambutnya terpangkas rapi, lebih kelihatan dinamis. Ntah kapan dia memotong rambutnya, karena terakhir kemarin sore kami ketemu , rambutnya masih gondrong dan sedikit ikal. Tapi tidakkali ini, dia begitu rapi,fresh, mengenakan sepatu hitam, celana hitam yang dipadukan dengan hem putih dan ditutupi jacket denim warna hitam legam. Dia tersenyum dan terpaku melihat aku melangkah menuruni anak tangga. Mamaku berdiri berjalan mendekatiku sambil memlukku lalu kucium tangan dan keningnya, disusul oleh Mirza yang kini menjabat tangan mamaku. Kami berpamitan dan meninggalkannya sendiri dirumah. Ketika berjalan mendekati mobilnya tak kulihat lagi sticker ARMY OF SATAN yang biasanya melekat di kaca belakang mobilnya. Yampun …!!! Dia mendengarkanku ternyata. Kulihat wajahnya yang tadi mendapatiku sedang sennag karena hal tersebut dia hanya nyletuk”karena aku mencintaimu!” oh semuanya semakin kompleks, dia mobil aku tidak bersuara sama sekali begitu juga dirinya. Kami hanya terpaku melihat arah depan jalan yang lalu lalang oleh mobil. Semuanya diam, hanya kudengar suara Ed Rolland yang sibuk menyanyikan the world I know bersama Collective soul. Hingga sampai kearea parkir kantor. Tak kunjung juga dia mematikan Deru mesin, dia hanya diam sambil memagang setir sambil menggigit bibirnya, tentunya aku hanya mengamatinya sambil melirik tanpa berani melihatya terang terangan. Lalu sebuah kalimat meluncur dari mulutnya “ aku ingin semua fix hari ini” kalimat itu terdengar pelan, hingga beberapa saat dia menoleh dan melihatku ,sehingga gerak reflekkupun mengikuti gerak matanya, dan sebelum kusambung tiba tiba dua tangannya merengkuhku dan melingkarkanyya kuat kuat hingga membuatku tidak bisa nafas. Mendadak arah wajahnya lebih dekat denganku hanya berjarak dua centi antara bibirku dan bibirnya yang terkatup. Tanganya semakin kuat mengikatku bagaikan ular phyton yang siap melilit mangsanya untuk meremukkan semua susunan tulangku. Jarak dua centi itu semakin samar dan sekarang bibirnya sudah menempel dan mendarat tepat dibibirku,…. Astaga akhirnya kulanggar juga larangan ini.!! Aku kaget aku merasa lemas walaupun sedikit bergairah dengan hal tadi. Perasaanku semakin bercampur aduk tidak karuan, aku menikmatinya tapi besar kemungkinan aku semakin takut menghadapi hal gila selanjutnya. Rasanya aku sudah hampir mati kehabisan oksigen. “sory!” katanya , dia hanya berujar demikian angkuhnya membuatku terdiam tak punya pilihan kata yang pantas serta patut untuk aku lontarkan padanya. Antara senang sedih kecewa aku cukup merasa sebagai pecundang yang sudah mencundangi fiancé ku sendiri. Aku merapikan bajuku yang kini nampak kelihatan kusut,begitu juga dia lalu kami keluar bersama, walupun berjalan searah. Kami tak sanggup berbicara apa apa hingga memasuki liftpun kami terdiam dia hanya menggandeng tangan kananku. Yang dingin membeku, lalu dia menghangatkannya dengan telapak tangannya yang besar. Hatiku yang kalut kini mulai nyaman, ingin rasanya kumemeluknya, tapi tak mungkin. Aku tidak ingin dikatakan kurang ajar. dia melepaskan gemgamannya lalu merangkul bahu ku, astaga!! Pekikku dalam hati ingin menyumpahi kunyuk tampan ini. Hingga terdengar seseorang memanggilku “Dess…dessy tunggu…tunggu aku” lidya nampak mengejar kami dan berhenti terengah engah, lalu tangan yang tadi merangkulku kini telah lenyap hanya berjalan beriringan bertiga hingga pada akhirnya dia menjauhi kami ketika Lidya mengatakan” Dess, semalam demitri menelphoneku, katanya dia merindukanmu ?” . sekencang mungkin dia meninggalkan kami dengan kaki seribu, aku sedihhh…!!! Tapi biarlah, Lidya hanya cengar cengir melihat Mirza “tampaknya dia cemburu Dess?”. Sialan nampaknya dia sengaja. Aku hanya diam saja degan sedikit senyum dan berpura pura tidak mempermasalahkannya. Sesampainya diruangan masing, lidya dan aku berpencar. Dan sibuk dengan aktifitas kami masing masing. Hingga jam istirahat aku belum sempat berabjak pergi ke kafetaria. Lalu telephone ruanganku berbunyi, kukenal suara siapa yang memanggilku
“Dess kutunggu dikafetaria ya? Segera!”
“baik!” jawabku .baru saja menutup gagang telephone , Lidya sudah datang menemuiku mengajak pergi ke cafeteria kantor. Kamu berdua berjalan. Sepasang mata dari kejauhan nampak memperhatikan langkahku. Hingga aku mendekatinya, sorot mata itu nampak kuat memandangku. Lalu kupustuskan mengambil tempat didepannya persis, dudukku diapit oleh LIdya dan sekertaris bos Erika. Semua sudah siap dengan nampan masin masing yang penuh dengan menu siang mereka hari ini. Hanya tinggal aku saja yang belum memiliki nampan yang berisi makanan untuk kumakan, aku masih terpaku dan membisu meskipu orang disekitarku sibuk dengan obrolan sambil menjejalkan sendok nasi ke mulut mereka masing masing, pandangan itupun masih jelas mengamatiku. Mungkin dia masih sibuk mempertimbangkan waktu untuk siap menerkamku bila aku lengah sedetik saja. Dan kini aku mulai capek diperhatikan, maka kuputuskan untuk berdiri mengambil dan memesan menu makan siangku di kafe Bu Renggo, ya kafe ini pengelolanya istri BOSS. Sambil kumainkan dan kuperdengarkan playlistku ,kupilih menu menu yang aku bayangkan begitu nikmat meleleh dilidah dan masuk ketenggorokanku, karena jujur saja perutku kini mulai memberontak, maklum saji sedari malam hingga pagi tidak secuilpun nasipun masuk dalam tenggorokanku. Hanya air saja yang aku minum. Kini setelah kurasa cukup dengan menuku, aku kembali menjemput kursi yang aku tinggalkan, tapi sayang sekali kursi itu kini ada penghuninya, Ludi pindah tempat duduk, dan kursi yang kosong adalah sebelah kiri Lidya dan itu berarti aku harus duduk persis disamping kanan Mirza, ohhh astaga…! Cobaan apalagi sekarang. Jantungku mulai berpacu, nyaris tak mau bekerja pelan. Kerja otakkupun semakin keras untuk berfikir karena memang kupaksa untuk mencari sebuah alas an yang bias menjauhkana ku darinya, darinya yang terus menerus mengamatiku walaupun sesekali dia ikut menyahut obrolan teman kami lainnya.sembari menikmati hidangannya kini Lidyapun ikut memperhatikanku dengan penuh prihatin. Maklum saja Lidya lebih care soal aku dan Mirza dibanding yang lainnya. Terpaksalah kini aku konsentrasi dengan tempak duduk kosong itu. Mirza mempersilahkan aku duduk ”duduklah didekatku sayang, waktu kita sangat sempit?” sapanya sambil meminum secangkir kopi yang ada didepannya.”trims!” jawabku singkat. “kau tidak akan lari bukan” susulnya sembari memiringkan tubuhnya 180 derajat ke arahku, dan kuamati semuanya tertuju pada kami. Termasuk meja lainnya yang tidak terlalu jauh dari meja makan kami.”tidak!” jawabku cekatan menutupi kegundahanku. Sambil tersenyum manis kuperhatikan sosok yang berbeda dari yang biasa kukenal, hari ini dia nampak sedikit murung ntah apa yang sedang ia pikirkan aku hanya tidak tahu persis, dan bila aku bisa membedah otaknya mungkin aku bisa tahu apa isinya, tapi tentu saja aku tidak tau cara mengembalikkan otaknya tanpa ada jahitan. Aku hanya menduga duga saja kalo kemurungannya ada kaitannya dengan kedatangan Demitri besok. Kini ponselnya menyala dan bergetar dan berbunyi, sekilas ada nama Irina yang muncul dilayar ponselnya. Secepat kilat dia menyambar ponselnya sambil pergi menjauhiku menuju teras luar. Dia hanya menyentuh bahu kananku dengan lembut dan aku hanya mengiyakannya saja. Kini giliran Ludi mendekatiku duduk dibangku yang ditinggalkan Mirza. “heh kau tau dia kenapa?” katanya padaku dan aku hanya menggeleng pura pura begok.”tidak!,kenapa memang?” Ludi terlihat kaget ketika aku mengatakannya, sedangkan Lidya dan Erika pun sepertinya sudah mulai tahu dan paham sejelas mungkin persoalanku dengan Mirza. Dan apa yang dikatakan Ludi sepertinya mereka mendengar dan memperhatikan bentuk dari gerak bibir Ludi. ”Irina semalam sudah diputuskan oleh Mirza, dan sekarang nampaknya tidak bisa terima begitu saja perlakuan Mirza. Tapi sepertinya Mirza cuek dan persetan!” Erika hanya melotot sambil ”Ya Tuhan!”. Dan Lidya menginjak kakiku, walaupun aku tidak teriak tapi aku merasakan kesakitan, maklum saja bentuk ujung sepatuku terbuka,dan dia menginjaknya dengan high hillsnya ”ampun” teriak Lidya sambil nyengir. Sembari memperhatikan Mirza kini Lidya mengedipkan matanya ke Ludi memberi kode untuk kembali ke posisi semula,karena nampak Mirza akan segera kembali, tapi kali ini dia kembali dengan senyum sedikit kemenangan.dia berjalan memutar untuk mendapatkan kursinya tapi sebelum duduk dia sudah berdiri dibelakangku sambil membungkukkan punggungnya dengan posisi kedua tangan menempel diatas meja persis disebelah sisi kanan kiri nampanku.”jangan lupa, sore nanti kau masih milikku”. Lidahku tersekat mendengar jawabannya, dan sebelum aku menjawab Demitri sudah menelphonku. Dengan suara yang khas dia memanggilku “honey, I miss you so much, besok aku InsyaAllah sudah sampai di Surabaya…oh sayang aku sangat meridukanmu” sebelum aku menjawab Demitri, aku memperhatikan lingkungan sekitar. Terutama Mirza yang kini masih saja dibelakangku. Tapi berangsur angsur dia memalingkan tubuhnya menjauhi punggungku. Sedangkan Erika hanya tersenyum memandangku karena dia pamit meninggalkan meja kembali keruangannya sambil mencium pipiku dan Lidya lalu pergi dengan bayangannya. Ludi kini sudah berpindah tempat disisi Lidya. ”halo…halo…halo sayang,kamu masih disanakan?” sapa Demitri sedikit khawatir ”oh ya..ya ya…honey aku masih mendengarmu, maaf tadi Erika pamit mau balik ruangan?” jawabku dengan sedikit kalut.”oh… kupikir honey sibuk”. Sapanya sambil sedikit tertawa kecil sambil mengumbar canda sesekali mengatakan miss you. Aku sebenarnya prihatin melihat Mirza, tapi aku lebih prihatin memkirkan nasibku sendiri. Kini dia kembali murung dan akupun tidak bisa konsentrasi dengan Demitri bila ada Mirza. Aku memutar otakku untuk lebih bisa berkonsentrasi, dan kini nampaknya sudah mulai menghasilkan, mungkin untuk sementara waktu aku lebih baik membiarkan Mirza dengan pikirinnya karena itu bisa membantuku sedikit lebih mudah buat menjawab setiap pertanyaan Demitri, yang kini ikut hening di suara ponselku.
“demitri.. hallo… dem..Demi , masihkah kau mendengarku?”sapaku sedikit keras
“oh ya tentu!”jawabnya
“apakah kau sibuk”
“tidak…tidak sama sekali, dan tidak ada hala penting yang bsia menyibukkanku kini selain meikirkanmu,! Sayang aku akan sampai Surabaya sebelum sore,kita bisa lungkan waktu besok!”
“oh..oh ya ..ya tentu.. tentu,aku akan menjemputmu dibandara”ujarku sambil melirik Lidya yang sekarang mulai tersenyum dan tidak memasang wajah tegang sekitar sepuluh menit yang lalu
“thanks honey, tapi tidak usah, Sopir saja yang menjemputku,karena aku harus mampir kantor dulu sebelum aku menemuimu sayang. Aku akan bertemu dengan relasi papa yang juga akan menemaniku! Tapi sepertinya besok malam kita akan dinner buat menjamu relasi papa!”
“oh ya, terserah honey saja, apa kau ingin aku membeli atau memesan sesuatu untuk acara kita besok”tanyaku sedikit bingung dengan rencana Demitri yang nyaris tidak bisa diserap oleh otakku, karena mulai terganggu dengan pandangan Mirza yang kini menulis sesuatu ntah apa yang akan dia tulis, dan untuk siapa pesan itu.
“oh tidak sayang,aku sudah membelikannya untukmu disalah satu Boutique di LA,
The Golden Triangle dari Rodeo Drives kau pasti akan suka, aku sudah membelikannya untukmu sesuai dengan ukuran dan seleramu sayang”
“trims” ujarku sembari memperdengarkan senyumku kepadanya.
Kini Mirza berhenti menulis lalu berdiri dan menghampiri Lidya sembari memberikan secarik kertas yang tadi dia tulis. Lalu pergi meninggalkan kami.
“your welcome honey, see you soon tomorrow. I love you”
“yahhh me too honey!” sembari membaca kertas Mirza
“love you…love you…love you”ulang Demitri
“love you too, cant wait to see you soon sweatheart” jawabku untuk menenangkan hati Demitri. lalu kami saling menutup ponsel, aku hanya takut kalo Demitri mennagkap semua kejanggalanku selama kami berkomuikasi di telp. Aku takut dia menyimpulkan semua hal, yang belum sempat aku ceritakan.
“dess.. ini buatmu, kurasa dia cemburu!” tegas lidya sambil mengajakku keluar dari kafetaria. Ludi yang kini masih terpaku dikursinya hanya bisa menggeleng gelenggkan kepala menyaksikan kecemburuan Mirza. Ketika Ludi menatap Lidya,Lidya hanya senyum dan hanya mengangkat bahu. Dan mereka sama sama beranjak menjauhi meja, dengan patuh menuruti apakata mereka. Sembari berjalan menuju ruangan Ludi memegang dan menepuk nepuk bahuku” dengar ya des, andai kata aku jadi kau aku tetap akan memilih Demitri!” ujarnya yang begitu tiba tiba tapi begitu tegas.lidyapun tak mau kalah”aku setuju, heyyy…bukane kamu teman baiknya? Ada apa kau jadi membelaku?” desaknya pada Ludi”yah …its normal Demitri lebih save dibanding Mirza yang tempramen!” aku bingung apa yang dimaksud SAVE ,tapi sebelum kutanyakan kubaca lagi surat kecil Mirza yang bertuliskan
Aku sangat mencintaimu dan aku benar benar sadar telah jatuh cinta padamu. Jangan permainkan aku. Tepat jam 5sore kita pulang nanti aku menunggumudi mobil
Mirza
“buang saja kertas itu, jangan sampai Demitri tau!” desak mereka. Dan aku hanya mengangguk.
Kini aku telah berada diruanganku seorang diri tanpa ada yang bisa kuajak bicara. Aku hanya memandangi layar monitor . ragaku memang disini tapi tidak jiwaku. Ntah aku bingung dengan semua yang aku pikirkan, aku bingung mengambil keputusan. Jiwaku berkecamuk, tidak tau apa yang harus aku perbuat dengan Demitri ataupun Mirza. Aku mengaku salah, tapi membuat pengakuan kepada Demitri aku lebih takut. Aku belum siap dengan semua ini. Aku takut kehilangan Mirza, tapi nampaknya aku lebih takut kalo kehilangan Demitri. waktuku tinggal sedikit bahkan mungkin tidak ada 24jam lagi Demitri sudah memelukku. Setelah Demitri dating tentu waktuku bersama Mirza akan terbatas. Aku bingung dan sulit untuk menyelami jiwaku. Aku takut kehilangan Demitri, bukan karena dia Borjuis, bukan karena finasialnya yang sangat melekat dengan keroyalannya. Aku hanya takut kalo Mirza tidak sbaik hatinya Demitri. sudah sewindu lebih aku mengenal Demitri, tapi kami nyaris tak pernah bertengkar,meskipun pernah dan sering berbeda dalam argumentasi. Tapi sungguh kemarahan tak pernah melanda kami lebih dari 24jam. Tapi selama aku dekat dengan Mirza aku semakin mengenal Mirza kalo dia termasuk pria yang nekad bila sudah memiliki keinginan, seringkali dia tidak pernah mau menerima saran orang lain.dan terkadang itu menbuatku jengkel tapi dia dermawan melebihi Demitri. selama aku menjadi kekasih Demitri tak sekalipun aku melihat Demitri memberi uang receh pada pengamen kecil walaupun aku sering sekali menemaninya dalam acara social. Mirza berbeda, dia sering sekali memberi uang kepada pengamen jalanan ataupun kepada orang meinta minta. Bahkan dashboard mobilnya ada uang recehan pecahan Rp.1000 sekaleng permen setiap harinya, pagi penuh malam sudah habis, terkadang masih sedikit. Begitulah setiap harinya. Dari sekian persamaan dan perbedaannya aku jadi berfikir apa iya sebenarnya aku hanya bosan dengan Demitri, lalu menerima lebih hubungan pertemanan yang ditawarkan Mirza. Ataukah aku memang jatuh cinta pada Mirza karena kekaraban kami, bahkan bisa dibilang lebih akrab ketika kami mengobrol berdua bertemu di Coffee bean tanpa sengaja. Ketika itu dia berusaha menjabarkan isi hatinya padaku, tapi buru buru juga ketika itu dia meralat bahwa semua rasa kini sudah melebur. Ketika itu aku merasa sedikit besar kepala, karena ada seseorang yang memperhatikanku tapi luput juga dari pandanganku. Yah… itulah awal mula dari semua akibat ini. Kini sebab akibat itu akan menghantuiku. Sebentar saja aku mulai beci dengan Mirza ketika aku tiba tiba mengingat kejadian tadi pagi ketika dia menciumku dengan sengaja. Tapi tidak selang waktu berganti, aku mulai menikmati ciuman itu kembali. Aku menikmati semua… yah… semua yang telah kami lakukan. Ohhh… mirza kenapa kau membuatku gila, kenapa kau begitu bodoh memutuskan Irina. Tentu kejadian itu membuatku semakin bertambah salah. Aku meraih segelas besar air putih yang memenuhi gelasku. Aku menghabiskannya aku berharap ada bertambahnya oksigen yang mengalir dalam darah menuju otakku, tentunya. Aku berharap ada sesuatu yang bisa menginspirasiku untuk mengambil keputusan tanpa ada yang menyakiti dan tersakiti. Semakin lama aku memikirkanya aku semakin pusing. Tak terasa ir mataku mulai menetes jatuh diatas buku agenda presentasiku dan membuat tintanya rusak dan tembus kehalaman belakang. Dengan sisanya waktu sebelum pertemuanku dengan Demitri, aku harus memanfaatkannya baik baik agar masalah ini jelas. Persetan dengan pendapat orang , tiba tiba dalam otakku begitu kuat tertanam kalimat bagaimanapun juga Mirza milikku terlepas dari status apapun dan malam ini akan aku jadikan akhir yang indah dari hubungan singkat kami yang hanya sebagai persimpangan saja. Demitri adalah segalanya untukku.
Kuarang lima menit lagi jarum jam akan mendekati angka lima dan duabelas. Semakin mendekati detiknya jantungku semakin berdegup kencang dan tak terkendali, rasanya aku mau pinsan. Aku memperhatikan ruangannya masih tertutup dan belum kulihat seorangpun keluar dari ruangan tersebut, tapi sebelum hatiku berhenti bicara. Kini sosok yang aku kenal keluar dari ruangannya tanpa diikuti seorangpun dibelakangnya. Berjalan begitu mantap mendekati arah ruanganku,…. Astaga!! Apa dia akan kemari!!...oh tidak tidakkk aku tidak mau dia melihat mataku yang sembap ini sebelum aku sempat merapikan diri untuk bersiap menemuinya. Kini langkahnya semakin mendekat mendekat dan mendekat kini tinggal beberapa jengkal lagi untuk samapi pintu ruanganku…ooh tuhan!!! Aku letih menatap wajahnya, tapi aku tidak mau kehilangannya. Mirza hanya lewat sambil tersenyum menatap ruanganku yang dipenuhi kaca nyaris seperti aquarium. Sambil lewat sambil bibirnya digerakkan seperti mengucapkan kalimat so come on we meet darling.ujarnya sambil mengetukkan jarinya pada kaca ruanganku. Astaga tepat waktu sekali dia menuntutku. Darahku seperti membeku ketika menatapnya, seketika itu juga hormone estrogenku kembali naik, aku secepatnya mengambil make-upku. Kurapikan diriku serapi dan secantik mungkin. Aku tidak ingin malam ini tidak maximal. Yah aku ingin semuanya berakhir dengan baik. Sehingga tidak ada penyesalan sekecil apapun dikemudian hari.sooner or later kamu harus putus aku harus kembali pada fianceku. Jam tangannku meunjukkan 17.15 . kini semakin banyak kulihat orang yang keluar dari ruangan mereka masing masing. Tapi aku bergegas secepat mungkin sebelum Lidya dan lainnya memperhatikanku. Aku berjalan secepat mungkin meninggalkan ruanganku menuju lift untuk menemui Mirza. Aku tersenyum sendiri membayangkan betapa jengkelnya dia lama menungguku. you know I really wanna be with you. To night is our last. Gumamku dalam hati. Ntah aku benar benar merasa bergairah, kucoba membayangkan wajah Demitri hanya sebagai pengingat agar aku tidak terlalu berekspresi lebih jika bersama Mirza. Tapi tak kunjung juga wajah Demitri terbentuk. Dan kini semakin ringan langkahku setelah sampai di lobby. Aku kian memantapkan langkahku menuju terrano kingsroad hitam mengkilat miliknya yang kini berada didepanku persis. Aku tidak melihatnya, tapi kupikir tentunya dia sudah standby didepan kemudi setir. Semakin aku melangkah mendekatinya aku semakin gugup, aku mengambil nafas dalam aku tidak perduli kalaupun dia memperhatikan keteganganku. Tujuanku adalah membuat malam ini menjadi beauty and shine. Besok malam aku sudah milik Demitri. lagi lagi aku bete, dia tidak membukakan pintu untukku. Setelah aku membuka dan masuk baru dia tersenyum “cepat tutup pintunya” pintanya dibalik kacamata hitamnya, aku tentu tidak bisa menatap wajahnya. Ketika aku sudah duduk manis dan memakai seatbelt , dia mengarahkan mobilnya keluar dari area parker”kau percaya padakukan?” tanyanya padaku sambil melepas kacamatanya. Oh Tuhan tampan sekali wajah ini, apa besok aku sanggup tanpa dia?aku sudah terbiasa dengannya selama ini?. “halo..halo nona cantik, apakah sudah merindukan romeo?”. Oh God, sontak aku kaget lalu tersadar”yah sory aku tadi hanya….lupakan, tentu tentu aku percaya denganmu!” ujarku terbata bata.dan dia hanya tersenyum lalu melentangkan tangan kirinya pergi mencari bahuku ,menarikuku lalu mencium keningku. Aku hanya pasrah dan hanya bisa tersenyum karena memang tak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan, akupun tak sanggup mengajukan penolakan. “aku ingin mengajakmu ketempat yang sedikit berbeda!” ujarnya sambil mengecup keningku sekali lagi.”kemana?” ujarku singkat. “java jimmy’s!”ujarnya singkat sambil tersenyum”hanya saja ini masih sore, jadi mungkin kita ke Imari dulu untuk brunch…wkwkwkkw, karena ini belum jamnya dinner”. Aku hanya menyetujui sarannya saja, kunilai itu bukan masalah besar Imari adalah jenis restoran ala jepang di salah satu hotel bintang lima dikotaku, sedangkan Java Jimmys adalah salah satu nightclub didalam hotel tersebut.hanya saja Imari dilantai tiga, sedangkan night club ada di lantai bawah tanah.mobil dia pacu kencang menuju the Westyn Surabaya. Kini kami dia diam membisu lalu dia mengatakan”kenapa tidak sedari dulu sebelum kalian bertunangan, aku menjumpaimu.” Aku bangun dari bahunya, aku ikut hanyut dalam fantasinya. Aku memeluknya walaupun hanya bisa dari samping. Kuberanikan bibirku menemui bibirnya. Menciumnya… rasanya begitu hangat, hingga tak sadar air mataku menetes. Aku tiba tiba merasa seperti pecundang. Aku telah mengkhianati Demitri meskipun bukan aku yang memulainya. “kenapa kau memustuskan Irina?”tanyaku. “karena aku letih berpura pura mencintainya?” dalam hati sebenarnya aku merasa kaget, karena sudah tiga tahun dia bisa memerankan peran antagonisnya pada Irina. Tapi kini dia letih dan melepas topengnya yang sudah melekat bersama Irina. Aku hanya diam tanpa ekspresi begitupun Mirza. After the love is gone how can you leave me on syairmilik Tommy emanuel ini cocok menggambarkan isi hatiku. Kini lagu ini begitu menusuk pikiranku, karena syairnya begitu terang menggema ditelingaku.ntah mengapa Mirza memutar lagu jazz,karena yang kutahu dia tidak menyukai Jazz. “I heart you” katanya tiba tiba”meskipun kamu tidak memperdulikan aku aku tetap perduli padamu, aku siap kapanpun kau minta waktuku?” sambil mendekap erat bahuku. Kini kami sudah memasuki area The Westyn mobilnya harus melewati pengecekan anti bom. Mendekati area Lobby kami keluar tanpa terlebih dahulu memarkirkan mobil. Karena tentu mobil kami akan diparkirkan oleh Bellboy. Mirza hanya tinggal memberikan kuncinya pada mereka. Kini kami berjalan menuju Imari, kami sengaja memacu langka kami dengan anak tangga. Dan kunci mobilnya pasti aman di area concierge office. Sedari keluar mobil hingga kini tak pernah sedetikpun tangannya terlepas untuk menggegamku.”I need to be next to you” bisiknya, aku memeriksa nampak beberapa pasang mata memperhatikan kami dari kejauhan, tentunya dengan samar. Karena meraka tentunya tidak ingin mengganggu kenyamanan para GUEST mereka. “kenapa tanganmu dingin? Tenang saja aku bukan mantan pembunuh yang hendak menghabis korbannya?bisiknya, dan kalimat itu membuatku ngeri.” Aku tidak takut, apapun profesimu!”bisikku dan nampaknya itu membuatku geli.seorang waiter mengikuti kami dari belakang sambil menunjukkan area Imari, sembari mengucapkan beberapa kalimat pada Greater yang tengah berdiri didepan pintu restoran, sehingga waiter cantik yang tengah memakai baju kimono tosca itu menghampiri kami” bisa dibantu mencari Table Bu?”sapanya padaku ramah penuh senyum.”mbak bisa tidak kita dibantu dengan table yang view nya mengarah kejalan raya?”. Bisikku pelan pada waiter tersebut”mohon maaf Ibu, table 11 sudah reserved!” permohonan maafnya begitu santun. Dan yang kulihat ternyata memang tidak ada lagi table yang punya view selain table 11. tanpa berfikir, akhirnya Mirza mengajakku kelantai paling atas di hotel ini dimana Ada sebuah restoran ala western bernuansa sangat romantis, exotis katanya. Setelah sampai di restoran yang mereka sebut Pavilliun Internasional Restaurant gaya designnya bercorak budaya barat indulge at the extensive buffer and treat luscious a la carte menus. Ada juga barbeque cooking station dengan fresh selesactions daily. Sebenarnya kalo dibilang tempat romantis tidak juga. Tapi aku tidak mau berdebat argument dengannya. Kami memesan menu ala carte. Sambil memsan menu ,aku mengamati sekelilingnya, aku jadi malu sendiri.hehhehe… ternyata benar apa yang dikatakan Mirza tempatnya benar benar romantis designnya bergaya sedikit Byzantium, pilarpilarnya menjulang ke kubahnya, awarnya putih gading sedikit bercorak keemasan, benar benar design yang mewah. Kursinyapun bergaya eropa degan corak ukiran besi yang berwarna hitam. Kini aku berhenti mengamati seisi rungan ini,”anyway kau nampak begitu kelihatan sedikt beda hari ini, yah maksudku , apa kau tak pernah dibawanya kemari?” katanya padaku,mugkin melihat keanehanku yang memeng baru pertama kali ini berkunjung ke restoran ini”iya,Za…tempat ini benar benar mewah”ocehku dan ketika itu pula aku menghentikan pengamatanku. “kau pintar pilih tempat” pujiku padanya. Dan dia hanya tersenyum sambil mencium tanganku yang sudah sedari tadi dia genggam. Kini aku tidak lagi merasa canggung,nervous,ataupun tidak nyaman. Tapi justru sebaliknya, kini aku percaya diri dan benar benar total. Aku berharap malam ini akan berakhir dengan indah. Sengaja menu yang kami pesan bukanlah menu yang berat kami takut itu bisa mematikan selera ngobrol kami. Karena memang sejujurnya kami hanya btuh tempat yang nyaman uutk merayakan perpisahan kami. Kami hanya memsan satu menu maincourse Seafood Brochette with Dill and Capers Emulsion dan menu desert pudding chipolata dengan tiramisu cake. Kali ini kami benar benar membuta benar benar melebur malam ini sesempurna mungkin bahkan melebihi rasa ilusi. “jangan tolak permintaanku hanya untuk malam ini, aku janji aku takkan minta lebih!”pintanya pelan sambil mentapku tajam dan itu membuatku gerah dan lunglai, tanpa bisa berontak. Sesungguhnya aku memang benar benar meikmati gairahnya malam ini. “i’m gonna miss you more than anything” bisiknya ditelingaku sembari membelai rambutku. Kontan aku kali ini tertawa tanpa bisa kutahan,karena kalimatnya tidak rasional”dengar Za,.... aku tidak akan kemana mana,toh kita masih satu kantor dan kau bisa mengunjungi ruanganku kapan saja kau mau, kau bisa menelphoneku, kau bisa mengajakku lunch,kita juga bisa double dating bila kau memiliki pasangan lagi sebagai penggantinya... oke!” aku menjelasakan panjang lebar tapi dia hanya mencibirku,tatapannya kini meredup. Kini mengambil nafas dalam dalam sembari memakan kue yang tadi sudah kupotongkan untuknya. Kini aku kembali merasa pilu, sepertinya aku tidak sengaja telah mengucapkan kalimat yang salah.”maafkan aku Mirza!” pintaku tulus”no problem”jawabnya singkat. Kini kami kembali ngobrol dengan hangat tapi tidak begitu intens karena kini kami hanya saling menceritakan awal perkenalan masing masing bersama pasangan kami sebelumnya, dan sempat sedikit kusindir ketika memasuki tahap Irina. Tapi nampaknya dia sudah bulat tidak ingin membina hubungan dengan Irina lebih dari teman. Dalam hatiku sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin kuajukan padanya hanya saja aku merasa enggan. Aku takut membuat suasana ini menjadi buruk.jadi terpaksa semuanya aku urungkan. “kau bisa dansa?”tanyaku padanya sedikit ragu.”ya!”jawabnya. aku belum pernah berdansa dengan pria manapun selain Demitri, dialah yang mengajariku. Kini aku akan berdansa dengannya walaupun hanya sekali. “shall we dance?” pintanya dengan lembut sembari meminta lembut tanganku kini lagu michaele buble everything. Kini kami bergabung dengan guest lainnya yang sudah sedari awal berada dilantai dnsa bersama pasangan mereka masing masing. Kini tangan kirinya merangkul pinggulku tangan kanannya menggenggam tanngan kananku. Tangan kiriku memegang punggungnya dan kutidurkan kepalaku di dada kirinya, kami hanya bergerak sedikit kekanan kekiri. “kupikir kau tidak bisa dansa...”tanyaku”memang!”jawabnya singkat”tentu aku tidak sepandai Romeomu!”oh Tuhan kenapa kau begitu sensitif sehingga membandingkan dirimu sendiri dengan Demitri.”malam ini kau romantis!” ujarku mengalihkan pembicaraan tadi sambil mencium keingku”kau suka?” tanyanya sembari menghentikan gerak dansa kami.”ya,...!”jawabku,karena memang aku menyukainya”Za... tak kusangka kau seromantis ini,pantes Irina begitu mencintaimu!” kami tetap berdansa meskipun lagunya kini berganti Careless whisper,kemudian disusul nothing gonna change my love for you milik Gerge Banson.ketika lagu ini diputar tiba tiba ingatanku pada Demitri kembali menampar wajahku, sontak aku terkaget karena aku merasa dari depan pintu masuk Restoran Demitri menatapku dengan senyum penuh pengertian, tapi aku justru merasa malu. Begitu spontannya aku mengankat kepalaku dari pelukan Mirza.tapi anehnya kejadian itu mebuat Mirza tersenyum sembari memelukku erat erat”yah aku tau,lagu ini mengingatkanmu pada Demitrikan?”. Aku hanya terdiam sembari menahan agar air mataku tidak jatuh, akupun tak ingin kelihatan rapuh didepanya aku tak ingin membuat kepalanya besar. Hehhehe.... aku tertawa kecil dan sengaja aku perdengarkan agar bisa mengelabuhinya. Tapi tidak, ternyata ini semua tidak bisa menutupiku darinya”menangislah sayang,menangislah... aku tau bagaimana dan seperti apa perasaanmu sekarang. Aku tau posisiku. Percayalah aku telah mencintaimu tanpa permisi,jauh sebelum kita dekat. Jauh sebelumaku punya nyali mengekspresikannya” . kini aku tenang untuk merebahkan kepalaku kembali ke dadanya.”za... maafkan aku dengan semua ini, jadikan aku kekasihmu meskipun hanya semalam!”. Kini dia semakin erat memelukku” sometimes it hits me like car crash and to late to reverse. Ooohh my love, i have tried eith all my being to gasp a form comparable to thine own and i just have a great way to make your love feel happy!” kalimatnya benar benar membuatku nyaman, kini dia membimbingku kembali ketable, dia mendekatkan kursinya ke sebelahku. Tak lagi didepanku, seoranga waiter datang menghampiri kami sambil membawa bill didalam map kulit berlogokan singa terbang. Diberikannya mapa hitam itu pada Mirza, dan ketika aku melirik, nampaknya matanya menangkapa basah mataku. Dan tidak diperkenankan aku untuk melihat nominal tagihan menu kami.” Apa kau masih mau disini atau kita pindah ke club?”ujarnya sambil membubuhkan tanda tangan dan mengambil beberapa uang cash untuk membayar.”kita ke java jimmys aja?”ujarku, aku ingin suasana yang sedikit berbeda, sebenarnya akupun sama sekali belum pernah mengunjungi nightclub meskipun itu dengan Demitri, terlebih dia tidak pernah menyukai musing yang banyak sekali dipengaruhi dengan gebrukan Drum yang keras. Diapun tidak menyukai musik Rock,meskipun itu Rock Alternative. Selera musiknya berbeda dengan Mirza,yang lebih menyukai musik keras dan beat up.kini kami meninggalkan Table pergi dengan bergandengan tangan penuh dengan percaya diri, aku merasa ingin terbang aku benar benar menikmati malam ini, aku hanya masih belum kuat untuk membayangkan esok hari,dimana fianceku akan pulang. Dan Mirza akan menjadi temanku seperti sediakala tentunya tidak sedekat dan semesra kini.aku ingin malam ini adalah bentuk souvenir yang cantik buat kami. Memory yang mengesankan. Kami turu ke lantai bawah menuju Jjs nightclub. Sebenarnya busana kerja yang aku pake tidaklah cocok bila dipake mengunjungi sebuah club, yang notabene banyak sekali wanita yang berbusana casual dan tidak ribet sepertiku. Tas yang aku kenakanpun cukup tidak cocok. Yah maklum saja karena awalnya dia tidak membocorkan kemana rencananya kami akan menghabiskan malam. Malam ini aku benar benar merasa hidup lebih sedikit berbeda, selama ini belum ada norma norma tatakrama yang dia langgar, kalo hanya sekedar ciuman dan pelukan aku masih menganggapnya lumrah. Perasaan ini semakin lama semakin kuat. Kali ini kami kembali menggunakan lift, hanya kami berdua disini tanpa ditemani waiter, jam tanganku menunjukkan tepat pukul 22.00. ntah kenapa aku kembali merasakan keringat dingin membasahi telapak tanganku, jantungku semakin berdegup kuat, aku hanya takut kalo kalo jantungku melompat keluar dari susunan organ tubuh lainnya. Aku benar benar tidak bisa menguasainya justru aku semakin merasa dialah yang menguasaiku hampir sempurna.kuperhatikan kini matanya semakin dalam menatapku hingga tanpa dia sadari kini aku sangatlah malu ,aku ingin lari bercermin, apakah benar aku sudah seperti udang rebus yang merah merona.kini dia menghimpitku hingga ke sudut ujung pintu lift sebelah kiri, dan aku hanya bisa bersandar lunglai karena kurangnya oksigen di otakku, aku bingung, aku tak sanggup menolak dan tak sanggup berkata apa apa, kini kedua tangannya memagariku agar aku tidak lari, tangan kirinya sempat kulirik kalo tangannya itu sedang menahan pintu lift agar tidak terbuka...ohhh Tuhan... tolong kirimkan malikat Jibril untuk menolongku. Nampaknya , doaku tidak didengar olehNya. Kini dia masih tepat di pose yang sama, sambil mengatakan...
“kau takut sayang? Tenang saja aku bukan mantan pembunuh, aku dukan demon atau devil atau jenis yang lainnya! Aku hanya mencintaimu dan berharap ....?” kalimatnya berhenti begitu saja, kini suasana semakin hening. Akupun hanya terpaku disudut initak ada makhluk lain yang bisa menolongku, aku hanya butuh pengampunan pria ini. Malam ini dia begitu tampan,tampak begitu hebat dengan busananya begitu pintar untuk membodohiku. Aku bagai keledai kecil yang siap dia telan hidup hidup. Siap ditelan dengan hanya sekejap mata...
“tanganmu dingin sayang”
“ac”bohongku padanya
“benarkah? Kupikir karena kau nervous” tawa kecilnya keluar
“buat apa aku harus begitu?”
“karena akulah!”
“gr...kasien deh!”
“terserah,.....tapi tak perlu kau utarakan kalo memang kamu malu,toh..aku bisa membacanya dengan jelas”
Kini aku memalingkan muka dari padangannya, agar aku kelihatan datar. Tapi ternyata susah,ketika aku buang muka tangan kanannya menarik daguku agar tetap membalasa tatapannya. Aku hanya patuh untuk kembali menurutinya tanpa syarat. Kulirik tangannya masih menahan pintu lift agar tidak terbuka.
“one time!” pintanya dengan berbisik. Kini telunjuk kanannya merabah garis bibirku membelai wajahku dan merapikan rambutku, semakin lama bibirnya ikut mengimbangi gerak telunjuknya, jantungku kini lebih berdegup,tapi tangannya yang hangat bisa membantuku dari hawa dingin yang mengalir dalam darahku, aku sengaja membiarkannya untuk menjelajahi bentuk garis bibirku, tapi tak kunjung juga dia menyentuh bibirku dengan bibirnya. Kini aku kembali sedikit tenang , aku merasa mulai ada sesuatu yang membimbingku sejak dia mengatakan one time . aku merasa gila malam ini, semakin malam semakin menggila. Jatung yang tadinya keras berdegup justru mulai stabil, tapi aliran hormon estrogen semakin membanjiri darahku, kini akulah yang bergerak aktif dan tak lagi berdiam diri sebagai patung,tak lagi malu dengannya. Tak lagi canggung memvisualisasikan emosionalku. Kini kujemput tatapannya yang semakin dalam itu, dan sekarang dialah yang sedikit menundukkan kepalanya melihat sepatu atau melihat uang jatuh dilantai,heheh... barangkali kantong celananya lubang sehingga dia harus mencek ulang bawaannya. Hahahhha, kini aku bisa tertawa, dan dia tersenyum kecut padaku, munngkin dia malu, mungkin juga dia pura pura.tapi yang jelas kini kami sudah saling berciuman berpelukan erat, semakin lama semakin erat, ciumannyapun semakin meleleh dibibirku. Kami sepert melayang dan melayang bersama pikiran kosong idak ada sesuatu yang menganggu, kedua tangankupun kini sudah mendekap lehernya.kini ciumannya semakin dalam,....ohh tuhan...lengkaplah sudah malam ini. Tanpa ada yang menyadari pintu liftpun terbuka.... aduh asataga! Scepat kilat dia menyadarinya dan menahan kembali pintu itu agar dia tidak terbuka begitu saja tanpa permisi ketika Tuannya sedang asyik memadu kasih. Gelak tawa kami terlontar begitu saja hahhahhahhah..........
Kami merasakan tidak adanya beban dalam otak kami.kami hanya berkonsentrasi bagaimana caranya membuat malam ini menjadi tak terlupakan walaupun waktu berjalan singkat. Dan hari inilah kami terakhir menjadi romeo juliet walaupun pada akhirnya kami tidak mati. Dan tak lagi menjadi sepasang kekasih dalam bentuk apapun dan dibelahan dunia manapun look so strange. Aku benar benar menikmatinya degan sangat total, ciumanya begitu lembut,bisa menghangatkan jiwaku, aku mengimbanginya ,aku tidak ingin buru buru menyudahi ciuman ini. Akupun masih berharap agar bisa terulang lagi dimenit menit kedepan.
“oohhh...Mirza, maafkan aku!” pintaku karena akulah yang merasa semakin memburunya.aku menghentikan ciumanku, begitupun dia patuh denganku. kini liftpun terbuka kembali tentunya seizin Tuannya. Didepan pintu NightClub kami disambut dua orang Pria yang membukakan pintu buat kami.
Suasana disini beda, pencahayaan lampu tidaklah seterang di pavilliun tadi, disini gelap,penuh asap rokok,bising sekali, disini waitersnya mengeakan celana jeans potongan hot pants dengan kemeja warna hijau turqoise. Semua pelayan disini begitu bergaya sporti. Mereka tidak mengenakan high hills tapi mengenakan sepatu kats. Dengan rambut dikuncir ekor kuda. Mereka cenderung tomboy. Tidak sepert di pavilliun, mereka sangat feminin, anggun, rambut disanggul cepol, dibalut dengan stelan jaz hitam dengan hem dalam opputih dengan dasi kupu kupu. Kami memilih duduk dimeja bar persis didepan station bartender. Awalnya Mirza memsan Diet coke buat berdua,tapi aku menolak
“pink lady please...”pintaku opppada bartender sambil senyum...padanya, dia hanya memandangku sedikit aneh”what!”aku hanya merengek”please, just one time” desakku.lalu diapun memesan “long island ...please” lalu kami saling tersenyum. Tak lama kemudia menuman kami telah dihidangkan dimeja bar, kami pergi turun kelantai dansa, malam ini sepertinya ada life music yang didatangkan dari luar negeri, lagu lagunya seperti mengundang seseorang untuk lebih lincahmenari dilantai dansa. Yah sesat kemudian baru kusadari artisnya medicene avenue dengan lagu lamanya dont callme babby. Ketika kamu menuruni lantai dansa , aku hanya masih merasa bingung ketika banyak orang yang ada dilantai dansa karena itu membuatku sedikit pusing.”shall we?” pintanya padaku sambil memegang tangan kananku lalu dengan cepatnya aku sudah terjatuh kembali di dadanya. Oh malam... janganlah engkau lekas berlalu pintaku dalam hati.”oh malam janganlah engkau lekas berlalu, i love you des”bisiknya padaku. Rasanya jantungku mau copot karena terheran, bagaimana mungkin kami bisa meminta hala yang sama pada malam. “oh darling,....get on the floor” terias salah satu bartender yang kini mengajak seorang waiter ikut berdansa diatas counter mereka. Banyak orang yang meriuhkan tepukan tangan menyemangati wanita tersebut bahakan Mirza sendiri” dia canti,tapi dia gila...hahh” ketawanya sinis. Ampaknya dia tidak menyukai adegan itu. Aku hanya tersenyum saja . yang jelas malam ini akan menjadi souvenirku yang paling indah.”Mirza...”sapaku dlantai dansa sambil tetap tenngelam dalam pelukan tanpa memandang wajahnya.”ya sayang...”jawabnya sambil mencium keningku.”terimakasih untuk semuanya”.dia hanya tersenyum sambil kembali mengjakku berciuman , kali ini kami benar benar berciuman mabuk asmara. Akupun tak perduli dengan sopan santun. Aku menarik tubuhku spontan ketika aku kembali terbayang wajah Demitri.”kenapa? apa kurang ciumanku?” terkanya padaku dan kembali memelukku erat erat. Oh Tuhan... apakah Demitri merasakan sesuatu! Tanyaku dalam hati. Maafkan aku Demitri,kau terlalu lama meninggalkaku,sehingga aku bermain hati dengan Mirza. Maafkan aku honey...please maafkan aku,aku berjanji aku tidak akan mengulangi lagi. Teriakku dalam hati, dan aku berharap Demitri tidak mencium kalo aku menduakannya. “ada apa,melamun?”suara Mirza memecahkan lamunanku, aku hanya sanggup menggeleng dan menipunya dengan senyumku.”Mirza aku ke rest room bentar ya!”pintaku ,karena Demitri menelphoneku.”oke, aku tunggu!”. Aku pergi meninggalkanya dilantai dansa. Aku pergi mencari rest room. Ladys room. Aku masuk ternyata ada 3missed call dari Demitri dan satu pesan yang bertuliskan
selamat malam,
have a good dream honey
I miss you so bad darling . maaf mengganggu tidurmu....love you sweat heart.
Ketika membaca pesan ini rasa bersalahku kian menumpuk. Tapi bersikeras aku tepiskan. Malam ini aku miliknya bukan milikmu . lalu aku pergi membasuhi muka didepan kaca aku lama memandang wajahku sendiri hingga akhirnya kuputuskan untuk tersenyum menghibur diri walaupun setetes air mata sempat membasahiku. Aku mencari bedakku untuk merapikan make-upku. Kurapikan ulang bajuku. Kini setelah aku merasa siap bertemu dengannya. Kumantapkan langkahku kembali kelantai dansa. Kuamati semua sudut tak kudapati dia berdiri.maklum saja pencahayaan disini teram,at sangat kurang. Kulirik jam tanganku sudah pukul 24.00 seharusnya aku sudah beristirahat dirumah, tapi tidak malam ini. Aku menemukannya dimeja bar, dia sibuk mengaduk aduk long islandnya dengan stirer. “hey!”sapaku. lalu tangan kananya meraih pinggulku”lama sekali sayang” .”maaf!”dia hanya tersenyum. Sebenarnya aku sudah gak betah ditempat ini,aku merasa kurang nyaman jadi kuberanikan diri untuk mengajaknya keluar. “Mirza aku gak kuat dengan asap yang mengepul disini”nampaknya dia setuju”kita keluar sayang, aku tidak mau membunuh fiance orang”jawabnya sembari mengeluarkan dompet untuk membayar tagihan Billnya. Sambil berjalan aku bertanya “Mirza apa kamu marah?” tapi dia hanya tertawa kecil”untuk apa?” tanyanya kembali.”tentu saja karena aku mengajakmu keluar!”dia hanya menggeleng.”aku akan ajak kamu lihat balapan mobil liar!kamu mau?” secercah aku melihatnya kembali senang kami kembali berjalan cepat melewati lift menuju lobby untuk menunggu mobil kami yang telah siap diambil seorang bellboy. Aku duduk tenang di lobby. Mirza berdiri didepan pintu masuk hotel. Lalu seorang bellboy datang memberikan kuncinya pada yang empunya. Lalu Mirza memanggilku untuk segera mendapati kingsroadnya. Kali ini dia membukakan pintu mobil untukku. Ohhh indahnya..”silahkan masuk tuan putri...” sapanya yang berhasil membuatku malu. “thank you”. Kini dia melajukan langkah mobilnya menuju arena balap liar. Larinya begitu kencang.”hari ini aku semangat sekali”ujarnya sambil menghirup napas dalam dalam. Aku tidak menjawabnya. Aku merasa sedikut pusing entah karena apa aku sendiri tidak mengerti. Karena memang sejak semalam aku tidak tidur. Pusingku ntah karena alcohol ataukah karena aku pusing dengan suasana malam ini. “pusing?” tanyanya”ya”jawabku singkat. Tidurlah, aku akan memperlambat lajuku.”thanks”. mataku berkunang kunang . aku mencoba merebahkan kepalauku pelan pelan bersandar. Kini semakin berat untuk kupaksa membuka kelopak mata. Jadilah kubiarkan fikiranku sedikit beristirahat. Akupun merasakan dia begitu pelan melajukan kendaraanya. Mungkin dia takut membangunkan aku. Ntah sudah berapa lama aku tertidur. Akupun sebenarnnya tidak ingin tertidur begitu lama. Antara pusing capek dan letih nyaris menjadi satu. Hanya karena dia saja malam ini aku bisa bertahan. Dan kteika aku terbangun jam tanganku sudah menunjukkan jam 02.15 ,kulihat diluar jendela mobil ada suara gaduh dengan banyaknya kerumunan orang,terutama pria. “kau sudah bangun?” sapanya sambil memberikanku sebotol sparkling water .”yah..thanks!”kuambil botol itu,kuteguk isinya yang kini sudah membasahi keringnya tenggorokanku”hahh...segar sekalii” lanjutku”yah,...itukan merck favoritmu. Ayolah kalo kamu sudah oke kita keluar!”ajaknya sambil membuka seatbeltku sambil mencium bibirku.tapi aku masih enggan sebenarnya.”ayooo...”ajakku malas malasan.keluar dari mobil dia menggandengku memelukku. Tiba tiba dari arah belakang ada seseorang yang memangilnya “Mirzaaa....nongol juga kamu malam ini,well..well...siapakah nona cantik ini”tangan pria itu kini menjabat tangan kami satu persatu. Dia begitu tampan wajah khas pribumi yang manis tapi matanya sipit walaupun dia bukan cina. Mirza melepaskan pelukannya, mendekati pria tadi. Pria tersebut kini menunjuk salah satu mobil MITSUBISHI Lancer evo 8 coraknya menarik mirip dengan mobil balap. Penuh dengan stiker stiker khas pembalap.pria tersebut membawa seorang wanita, dan ya ampun wanita ini memakai baju kulit warna hitam yang mengkilat. Potongan bajunya sangatlah minim. dia hanya mengenakan potongan bra kulit yang benar benar memperlihatkan potongan dadanya yang cukup penuh dan sexi,....wuiihh....aku yang perempuan saja merasa sedikit whao....dia mengenakan sepatu kulit warna hitam, dan rok mini yang juga berbahan dasar kulit. Aku begitu terhanyut melihat penampilane yang begitu berani, tiba tiba Mirza kembali membuyarkan perhatianku.
“aku gak menyangka kau suka memperhatikan perempuan sexi?” tanyanya padaku sambil memelukku dari belakang.akupun terkaget, aku hanya tidak pernah ke arena balap mobil liyar. Aku hanya takut bukan dia yang memelukku, tapi pria iseng yang menjailiku. “oh kau mengagetkaku saja!” bentakku.dia tertawa kecil sambil mengajakku maju beberapan langkah kedepan melihat lebih dekat sambil menunjukan mobil lancer yang tadi kuamati. “kau lihat lancer repsol merah itu”tunjuknya padaku.”yah,...kenapa?”jawabku.”itu milik temanku jhony yang tadi menyapaku dan memanggilmu cantik, ternyata bukan aku saja yang terpikat wajahmu” terangnya padaku”kau bisa saja, lalu siapa wanita yang berdiri disampingnya yang dipegang pantatnya itu, dasar pria kurang ajar?” ketika aku bertanya dia hanya tertawa “namanya Martha, dia anak spg salah satu rokok,yang jadi teman kencan Johny sejak setengah tahun lalu. Ya lebih dari kencan tentunya. Karena semua kebutuhan johnylah yang memnuhi kebutuhannya.yah sama sama dapatlah...sama sama puas!”jelasnya yang semakin membuatku risih dan jijik”astaga!”. “sayang kalo kau tidak nyaman aku bisa membawamu pergi dari sini!”. Aku menggeleng dan memohon”jangan...aku suka disini”.karena kali ini aku memang benar benar suka,disini benar benar malam yang hidup. Aku mencoba menarik Mirza ketempat yang kulihat aman”Za ....kita kesana yuk”tunjukku pada salah satu tempat dimana disitu tidak terlalu sesak dengan lautan manusia.”jangan sayang, mereka gank obat bius, aku hanya kenal biasa saja.tapi aku gak mau mendekati mereka” jelasnya membuatku bergidik.”oohhh...”. kini 3 mobil berjajar slah satunya adalah mobil johny disisi kiri dan ditengah ada sebuah honda civic yang sudah dimodivikasi untuk balapan lalu disusul sebuah honda jazz warna biru yang nampaknya dikemudikan oleh Martha si cewek yang tadi kuperhatikan dandananya. Kini mereka bertiga beradu jalanan kejar kejar menenpuh garis finish yang kembali dijalur start. Semuanya bersorak, taruhan jika menang akan membawa uang 5juta rupiah cash.Mirzapun ikut mendukung kemenangan Johny. Dan dia terus menyuarakan nama Johny. Nampaknya Johny punya banyak Fans. Kata Mirza susah mengalahkan Johny, tapi Mirza pernah sekali mengalahkan Johny ketika itu taruhannnyapun cukup besar dengan uang cash 10juta rupiah,separuh dari taruhan malam ini. Tapi sejak itu Mirza tak pernah ikut drag race lagi. Sudah setengah jam mobil balapan itu belum mencapai garis finish.aku berdiri didepan Mirza yang kini bersandar di mobilnya, aku membiarkan dia mencium dan membelai rambutku. Malam ini gelap sekali bila tidak ada pencahayaan lampu lampu mercuri dan pancaran bulan purnama yang membuat suasana malam sedikit romantis. “kau suka mengajak Irina kemari?” tanyaku padanya dan dia hanya menggeleng. Wah senangnya diriku, hanya aku yang pernah menemaninya ke balapan liyar ini.pantas saja johny mengiri aku kekasihnya .yah walaupun benar aku hanya kekasihnya malam ini saja. Dari jarak lima meter disampin kami ada seorang pria membawa yang memutarkan lagu lagu khas dunia malam. Beraliran techno,trance begitu khas ala Dj. Tanpa sengaja aku mulai ikut bergoyang ketika aku mendengar musik milik Dj frank tiesto squeeze it salah satu soundtrack dari step up. Aku benar benar mengenal musik ini. Kini badanku terasa ringin, tak lagi kurasakan pening yang hebat. Disekitar boombox itu penuh dengan muda mudi yang berpasangan saling bergoyang panas, ada juga yang menggerakkan tubuhnya bak penari modern dance amatir. Tapi gerakannya begitu mempesona para pengunjung balapan, wanita ini begitu sexi, dia tinggi dia mengenakan celana khaki model kulit dengan kaos yang begitu besar dengan mengenakan aksesoris khas penari modern dance,kepalanya meakai bandana, rambutnya yang ikal semakin membuatnya terlihat menarik, dia mengenakan kaos kaki warna warni bermotif garis dengan sepatu yang keren,jika kuamati kalo tidak salah itu adalah keluaran NIKE terbaru.”dia benar benar incredibled” bisikku pada Mirza, “yah, dia mantanku lima tahun lalu”jelasnya padaku dan itu membuatku menoleh langsung padanya”what???” protesku.”relax...kami sudah putus 4tahun lalu, dia perokok, sam sepertiku, dia pergaulan bebas,itulah yang tdak aku suka!” jelasnya padaku dengan santai.pantas saja wanita itu ketika mnari pandangannya mengarah ke arahku. Pikirku dalam hati”namanya alexa! Cantik bukan,kini dia lesbian”terangnya penuh jijik”hidupnya berantakan, itulah alsannya kenapa Irina tidak mau bila kuajak kesini!”. Aku hanya tertegun sembar memandang perempuan itu, tak ada hal aneh yang kutangkap yang menunjukkan kalo dia lesbian. “kau tidak bohongkan?”tanyaku pada Mirza.”tidak ,aku putus dengan Alexa karena dia selingkuh dengan Johny, dia mengeruk harta Johny.bukan hanya selingkuh biasa,tapi mereka tidur dan alexa hamil, sayangnya bayi itu di aborsi. Awalnya Johnypun tak tau kalo aku pacar Alexa, Johny minta maaf padaku,karena itulah walaupun Johny kurang ajar.selama wanita itu milikku dan aku cintai makan Johny tidak akan pernah menjamah atau melirik permpuan yang bersamaku,terutama kekasihku belahan jiwaku” jelasnya sambil membuang muka ketika dari 5meter Alexa mengamati kami,mungkin gadis itu tau,kalo dirinya sedang kami bicarakan. Aku semakin tertarik mendengar pejelasannya Mirza”tapi Jujur des, aku lebih menyukai Alexa dibanding Irina, walaupun kini aku sangat mencintaimu melebihi dia, wanita yang aku nilai lebih berbudi.bisa dibilang Irina pelarianku melupakan Alexa, bila hanya merokok dan pemabok,aku bisa mengerti,tapi bila dia tidur dengan pria lain aku tak pernah bisa torerir. Aku jijik melihatnya”. Aku diam mendengar kalimat terakhirnya.aku hanya berfikir apakah kau tidak sadar bahwa aku tidak jauh beda melakukannya antara Demitri dan Kamu.”kenapa aku merasa aku seperti alexa?”tanyaku padanya.”yah kita melakukan kesalahan. Tapi kita tidak berbuat hingga hubungan badan layaknya suami istri,tidak sekalipun aku menginginkan itu!”. Tiba tiba aku merasa trenyuh,”percayalah padaku, aku mencintaimu murni,kesalahanku adalah aku merayu fiance orang. Aku tidak akan merusak hubungan kalian selama kalian bahagia. Tapi bila ada kesempatan sekali saja, aku akan langsung meminangmu” dia mencium kepalaku,ohh Tuhan malam ini begitu berbeda dengan malam sebelumnya, aku tak pernah akan menyesali semua kejadian ini. Bagiku malam ini Mirza begitu lebih hebat, dia tidak seburuk pengamatanku sebelumnya, pantas saja Irina menangis ketika pria itu memtuskannya. Aku tak sanggup membayangkan wajah Irina, betapa begitu sedihnya dan porak porandanya dia .dan dibalik kesedihannya kini aku bersenang senang dengan mantan kekasihnya. Oh hidup....kini aku berusaha membuang kuat kuat pikiranku. Oh Tuhan Kini Alexa mendekati kami.berusaha memperkenalkan diri ”hai lady” dia menyapaku, dan Tangan Mirza menjabat tangannya yang halus bak porselin ”halo lexa “sapanya. Alexa pun kembal menjabat tangan Mirza beberapa detik dan sedikit membuatku cemburu.”kenalkan dewiku malam ini , Dessy......dessy ini Alexa mantan kekasihku !” sapanya saling memperkenalkan kami satu sama lain. Alexa tersenyum padaku. Dan semakin aku memandangnya aku semakin merasa jelek ,Alexa begitu menggemaskan dibanding Martha yang berpenampilan sronok. Aku lebih menyukai penampilannya, bajunya bak penari aerobik.”hallo lexa,senang mengenalmu” sapaku basa basi. “nikmati malam ini bersama Zeusmu, dia begitu sopan dibanding semua pria yang ada disini!”tawa kecilnya mencairkan suasana.tapi tak kulihat Mirza tergoda oleh penampilannya. “oke, have fun. Aku tinggalkan kalian berdua. Senang bisa mengenalmu Des, kamu cantik dan begitu anggun,mungkin lain waktu kau tak perlu datang dengan gaya formal!”dia mengingatkanku, dan tampaknya dia juga memperhatikan penampilanku, dan aku hanya tersenyum tapi sebelum aku menjawab.” Dewiku, selalu nampak cantik dengan busana apapun1” tukas Mirza pada Alexa tentang penampilanku.”thank you Alexa, terimakasih. Selera anda cukup bagus” aku mencoba lebih merendah daripada membantah walapupun aku sedikit sebal. “ok...cauw” pamitnya pada kami. Dia berjalan bak pragawati dia atas catwalk. “dia pragawati” jelas Mirza padaku ”oohhh..pantas dia begitu seksi”. Kini nampak dari kejauhan tampak mobil lancer Johny mencapai garis finish disusul dengan civic lalu jazz milik Martha kekasih johny. Orang orang mengerumuni mobil Johny dan marthapun mendekatinya ,seseorang yang bertindak juri memberikan hadiah amplop coklat yang kemungkinan berisi uang. Amplop itu adalah hak seorang pemenang balapan malam ini. Tak lama setelah menerima amplop,johny menghampiri kami”bro” sapanya pada Mirza.”ayolah kita main ada restoran western didekat sini, kau pasti menyukainya” ajaknya pada kami ”bawalah dewi cantikmu ini untuk bergabung, kami sudah memesan tempat ini sejak sore tadi, ayolah bertambah dua orang tidak akan terlihat”bujuknya. Tapi kali ini aku mencubit pinggul Mirza itu adalah bentuk kodeku agar dia tidak bergabung. Dan untungnya dia pintar mengartikan cubitanku ”sorry Johny, malam ini aku absen,aku hendak mengantarnya pulang” bujuknya sambil menciumku. Benar kata Mirza, Johny benar benar sopan kepadaku. Mungkin karena dia tidak ingin berselisish paham lagi dengan Mirza soal perempuan. “oke,brother i do not bother you. See you soon. Take care for me ” dia melirikku sambil tangannya mendarat pada pundak Mirza. “with pleasure!”sambungku, Mirza memeluk Johny yang sedang menggandeng Martha, lalu merangkulku dan kamipun bergerak meninggalkan mereka.
Kembali menyusuri jalan yang nampaknya mulai akan terbit fajar. Dia melajukan terranonya dengan kencang menyusuri jalanan yang hanya diterangi lampu mercuri. Aku hanya beringsut dari tempat dudukku pergi memandangi wajahnya yang tenang,tampan dan sedikit sayup. Ingatanku melayang pada pagi hari kemarin ketika dia menjemputku unutk yang terakhir kali, dan mungkin setelah ini kami tidak akan pernah lagi berada dalam satu mobil tanpa ditemani orang lain. Mustahil bila kami masih bisa berdua, benar benar mustahil. Aku mulai skeptis dengan yang satu ini. Demitri tentunya akan ada dan siap untukku sore ini. “tidurlah!” perintahnya dengan halus sambil membelai rambutku yang kugerai. Aku hanya menggeleng, aku tidak sanggup lagi tidur. Dan dia hanya tersenyum. “mau kuantar pulang sekarang?” aku hanya menggeleng menatapnya dengan sayup berharap waktu bisa memperlambat detiknya.”so...kau mau mandi dan merapikan dirimu dimana?atau kau mau mandi dirumahku” tanyanya yang sontak membuatku kaget lalu bergerak memlototi wajahnya. Tapi sebelum aku berhasil menemukan kalimata untuk menjawabnya”tenang, aku bisa membawamu di apartemenku, bukan dirumahku, dan kujamin tidak ada orang yang mengenalmu. Kecuali kalo kau sudah pernah masuk sebuah majalah bisnis atau koran bertajuk utama soal bisnis bersama pangeranmu?” ketusnya sambil melirik ke arahku. “bajuku?” karena jujur aku sama sekali tidak membawa baju satupun, bahkan underwareku sudah sejak tadi pagi belum kuganti.”astaga!” dia tersenyum, dan itu membeuatku malu. Aku takut dia mengiraku jorok karena seharian tidak ganti baju. Aku mencoba menghubungi Lidya, tapi nampaknya dia belum bangun untuk menjawab pesanku. “sudahlah kau ikut aku saja, tenang aku tidak akan memperkosamu atau apalah itu namanya, toh disana kaupun bisa beristirahat sebentar sebelum jam kantor menuntutmu”. Tanpa persetujuanku diapun membanting setirnya bergerak ke lajur kiri mengambil perempatan depan lalu memotong jalan kekiri menuju apartemen yang dia ceritakan. Kini dia berjalan dia kecepatan 90km per jam. Ngebut seperti setan yang lari ketakutan menjelang fajar. Hingga aku mengejang kaku, dia hanya memegang tanganku sekedar untuk menenangkanku. Tak lama kemudia kami bergerak masuk kesebuah bangunan yang berada di dataran yang lebih tinggi, dengan halaman depan yang begitu luas sebelum kami memasuki halaman utama menuju bangunan sebuah apartemen yang bercatkan putih dengan model bangunan bergaya dinamis disekitarnya penuh dengan pemandangan hijau dengan tanaman tanaman cantik. Hingga kami melewati empat orang penjaga. Yang berusaha memberi salam. Dan salah satu dari mereka mendekati mobilnya “ pagi Pak?” dia hanya membuka cendelanya lebar lebar lalu tersenyum, karena aku takut ada dari salah seorang mereka yang mengenalku. Jadi kuputuskan unutk pura pura tidur dengan mengenakan kacamata hitamnya yang baru saja ditaruh diatas dashbord beberapa jam yang lalu. Dua orang dari satpam itu pergi ke arah belakang mobil sembari membawa alat detektor anti bom yang biasa diapake disebuah hotel dan mal mal serta tempat umum lainnya.”terima kasih pak. Silahkan masuk. Maaf mengganggu kenyamanannya!” jelas satpam yang ada didepannya. Kaca mobilpun kembali tertutup. Hingga pintu mobil terbuka ketika kami samapi didepan sebuah lobby. Entah mengapa aku tiba tiba merasa kaku sedikit mengejang tapi seolah oleh aku kembali merasa bila adrenalinku kembali terpacu. Ketika tangannya menggandeng tangan kananku. Dia tersenyum dan melemparkan kunci mobilnya pada seorang bellboy yang sedang bertugas. “beres bos!” begitu jawab bellboy yang menerima lemparan kuncinya. “kau takut?”tanyanya ketika kami berada disebuah lift menuju kelantai delapan. Aku hanya tersenyum kecut berusaha menutupi kegalauanku yang mulai menjalar di otakku. Kali ini dia semakin memelekku erat. Mendekapku tanpa melepaskan aku sedikitpun hingga pintu lift terbuka. Dia kembali mencium keningku. Lalu mengeluarkan sebuah card untuk membuka pintu apartemennya. “this is my room, small paradise just for me?” celotehnya. Aku merasa sejuk ketika memasuki ruanngannya. Apartemennya begitu cool dengan desain serba coklat. Serba simpel dan begitu kuat kesan priannya. Penampilannya memang cuek, tapi gaya desain ruangan ini cukup mengagumkan, walalupun tidak semuanya serba mewah menurut ukuranku bila dibandingkan dengan kepunyaan Demitri. Yah ... aku memutar bola mataku menebar pandanganku hingga keseluruh penjuru ruangan. Apartemen ini tidak terlalu besar, tapi lengkap dengan ruangan dapurnya. Aku terus menerus memandangi ruangan ini, aku tidak perduli dengan penilaiannya. Aku begitu kaget ketika melihat ada sebuah lukisan besar yang diletakkan persis didepan tempat tidurnya yang empuk itu. Aku merasa trenyuh tapi aku tidak berani meyakinkan diriku bahwa gadis yang ada dalam lukisan itu adalah AKU. “kau suka?” tanyanya dari arah punggungku, aku tak berani menatap wajahnya, aku tak berani berkata apapun, sekonyong konyongnya. Kali ini aku merasa semakin serba salah aku susah menahan emosi jiwaku. Aku merasa dia sangat mencintaiku bahkan sangat mencintaiku, tapi entah mengapa aku sama sekali tidak bisa membuang bayangan Demitri begitu saja. Aku semakin takut. Aku diam terpaku ketika dia mendadak merangkulku setelah menaruh segelas orange juice instan di meja bar yang berdiri cantik sebelah kiriku. “itu dirimu!”kata katanya menusuk jiwaku siap membuatku mati berdiri tersiksa oleh susunan kalimatnya. “aku mencoba mengekspresikan ingatanku tentangmu. Maaf kalo tidak secantik aslinya. Tapi sungguh aku sangat mencintaimu, bayangan tentangmu begitu kuat menancap dalam semua fantasyku. Aku tak pernah bisa melupakannya. Maaf bila aku sudah lancang mencintaimu sebelum aku mengatakannya padamu. Bahkan sebelum aku dekat denganmu. Aku sudah jatuh hati padamu.” Dia memelukku erat, suaranya mendadak parau seperti orang yang baru saja live show selama 24jam. Dadaku sesak mendengarnya, aku merasa terombang ambing dibawa ombak. “sudahlah, aku tidak ingin merusak suasana hatimu. Kita masih bisa bersahabat . itu sudah cukup untukku” dia membimbingku untuk duduk disebuah kursi sofa yang empuk dan nyamn berbahan oscar berwarna coklat. “minumlah!”. Akupun meminumnya pelan pelan sambil megatur nafasku yang sedikit tersengal sengal karena isakan tangisku. Dia memungut sebuah tissue lalu menempelkan pelan pelan di pipiku. “thanks!”ujarku dengan pelan. Dia tersenyum, lalu memlukku sebentar sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku sebentar. “aku mencarikanmu sebuah hem dan beberapa potong baju kerja yang masih baru, semoga belum ada yang mengambil!” teriaknya dari balik sebuah lemari besar yang tertata disamping tempat tidurnya. Ntah baju siapa yang akan dia pinjamkan padaku. Aku hanya takut membayangkan kalo aku akan mengenekan bajunya. Tapi sudahlah aku pasrah. Aku terus berusaha menghubungi Lidya untuk kesekian kalinya sejak kemarin malam. Tapi layar hanphoneku masih belum juga menunjukkan irfomasi jawabannya. Kutekan kembali favourites dialku. Kutunggu lama sekali.hingga baru kudenngar suaranya dari tempat lain
“jam berapa sayang kau menelphoneku, mengganggu saja”pekiknya
“sorry Lid, bawakan aku beberapa potong bajumu ya nanti pagi,please!!”
“kau ini kenapa, apa belum bayar laundry! Astaga jangan kau bilang kalao kau menjalani rencana gilamu itu!”
“yah aku bersama Mirza sekarang!”
“astaga...naga gila kau!”
“yah...please, i need your help to helping me. Nanti aku ceritakan semuanya?”
“kau masih perawankan?”
“yah sampai detik ini aku masih perawan, ntah beberapa jam lagi”
“gila kau....! jangan kau buang Demitri... but’s okey harus kuakui Mirza memang tampan. Tapi please, Demitri mencintaimu sayang!”
“bla...bla...bla..bla...aku telp lagi kau nanti, aku tidak enak dengan Mirza!”
“halo..halo...halo...setan kau!” lidya teriak sesuka hatinya
Aku menutup telephone ini menghampirinya yang masih saja sibuk mencarikan baju untukku. Kuamati masiha da dalam peperbag yang masih rapi terbungkus sebuah plastik. Aku mengamatinya dengan teliti,kuperhatikan ada beberapa baju yang masih tertera harganya, tapi sebagian barcode harganya ada yang sudah terlepas. “cobalah!” pintanya padaku “atau mandilah dulu, sudah kusiapkan air hangat dalam bath tub, kuncilah rapat rapat pintunya bila kau takut aku menganggumu!” tanpa melihatku dia masih terus mengaduk aduk lemarinya yang rapi menjadi berantakan. Agar aku tidak menganggunya maka aku menuruti saja apa kemauannya. Aku berdiri di sebuah cermin, sepintas lalu dia sempat mengamatiku sebentar, dan buru buru juga dia kembali menenggelamkan dirinya dalam tumpukan baju. Aku sengaja berlama lama didepan cermin untuk melepaskan sepatuku, melepas jam tanganku, dan beberapa aksesories yang aku kenakan, sempat terpikir olehku aku melepaskan baju kantorku didepannya lalu berjalan menuju kamar mandi hanya dengan mengenakan underware seperti biasa yang aku lakukan dalam rumah. Pikiran ini sempat meracuniku, untuk mempesonanya dengan penampilanku. Samar samar aku kembali teringat akan penampilan seksi Alexa. Tapi niat gila itu aku urungkan. Ketika aku kembali teringat Demitri saat menatap cincin pertunangan kami. Kepalaku pusing. Tanpa menatapnya kembali aku pergi menuju ke kamar mandi. Disanalah aku membuka semua busanaku hingga aku benar benar telanjang. Aku tak perduli seandaikata ada sebuah kamera yang sengaja dia pasang untuk melihat penampilanku. Aku tidak perduli,aku menenggelamkan diriku pada kedalam bath tub yang penuh dengan bau stroberry kesukaanku, dan sedikit aroma teraphy khas lavender. Disini aku begitu relaks, sayup sayup kudengar lagu dari album Colective soul. Air hangat ini begitu merefleksikanku. Kamar mandi ini serasa congkak dan sedikit mengejekku. Seolah olah dinding ini berbicara bahwa aku begitu jahatnya memperlakukan dua orang pria dengan seenak hatiku, aku diam ketika mereka mengolok olokku, aku mencoba menenangkan jiwaku yang bergemuruh.
“ada telphone untukmu? Kau dengar itu?”
“apa ?”
“ada telphone, ponselmu berbunyi?”
“siapa?angkat saja kalo Lidya”
“kalo Demitri apa aku juga boleh mengankatnya?”
Bebrapa saat aku terdiam tanpa menjawab pertanyaanya. Aku pasarh ketika dia mengatakan itu, akupun menyerahkan jawabanku padanya. Iya atau tidak itu keputusannya. Tapi diapun diam tanpa mengulang kembali, hingga ponselku masih saja berteriak teriak memanggilku, aku semakin yakin ketika suara ringtones itu kembali berbunyi pastilah Demitri. Aku bergegas keluar dengan balutan handuk denganbanyaknya busa sabun yang menempel dibadanku. Aku pergi begitu saja meraihnya, hingga aku lupa kondisi rumah sesuangguhnya. Aku lupa bila aku tidak sedang berada didalam kamar pribadiku, aku lupa dengan siapa aku sekarang. Ketika aku tersadar semuanya sudah terlambat. Aku merasa begitu seksi ketika dia menatapku dengan begitu menariknya, entah apa yang dia pikirkan tapi yang jelas kami sama sama saling memandang, aku berdiri terpaku memegang ponsel yang sudah tidak lagi menggangguku. Jantungku berpacu cepat ketika dia hendak menghampiriku. Akupun berharap dia segera menghampiriku, langkahnya begitu pelan, sangat pelan. Dia bagaikan singa yang siap melumat domba yang merasa ketakutan menghadapinya. Sorot matanya tajam, nafasnya masih tersusun rapi. Kini kami berdiri saling berhadapan. “kau seksi!” tuksanya lugas dengan nada sedikit menggoda dengan kedipan mata. “benarkah?”...”yah!begitulah!” dia mencium pipiku. Tapi ntah apa yang akan dia lakukan ketika dia tiba tiba jongkok didepanku lalu berdiir kembali memunguti handukku yang terjatuh...”astaga!maaf aku..ak..aku?” mukaku merah padam malu bukan main dipermainkan oleh sebuah handuk yang lepas dari lilitan tubuhku. Dengan sopannya Mirza membantuku melilitkan kembali handukku yang lepas.”Mirza..aku..ak.ak..tidak bermasud mengg...”. dia tersenyum”sudahlah aku tau kau seperti apa,aku masih menghormati cincin itu?”
Matanya melirik kesebuah meja tempat diamana aku menaruh perhiasan PEMBERIAN Demitri. “relaks!”sergahnya membimbingku kembali,dengan penuh rasa malu aku meninggalkannya sendirian diruangan pergi menuju kamar mandi. Tersipu malu itulah aku saat ini. Dia tersenyum menatapku, senyumnya masih menenangkan jiwaku. Aku hanya berfikr bahwa dia benar benar pria baik yang tidak pernah sengaja memanfaatkan waktu unutk merayuku ke sesuatu yang buruk melebihi kondisi buruk saat ini. Aku mulai skeptis dengan masalah ini. Ini begtu foundamental untuk kami. Aku ingin setelah semuanya berakhir kami masih adalah teman selamanya....didalam bathtub aku hanya tersenyum sendiri membayangkan handuk gila yang jatuh tanpa permisi. Aku malu, bahwa ada pria yang melihatku telanjang tanpa mengenakan apapun. Aku sungguh berterimakasih bahwa ketika semua berlangsung Mirza masih sopan dalam konteks yang lazim.
Ketika aku selesai mandi, dia sudah siap didepan meja bar depan meja dapurdengan sepiring nasi goreng lengkap dengan omlet dan beberapa roti selai.”semoga kau suka?”tanyanya padaku sambil tersenyum. “oh ya, diatas tempat tidur bisa kau pilih beberapa kemeja dan celana ataupun skirt rok yang bisa kau kenakan sementara?”. Pelan kuayunkan kakaiku menghampiri beberapa tumpukan kemeja. Kupilih dan kuamati masing masing , aku hanya berjuang kerasa memikirkan, baju siapa ini sesungguhnya???...nyaris tidak kutemukan jawaban selain baju Irina. Apakah aku muat dengan bajunya, padahal dia lebih kecil dariku. “itu bukan baju Irina!”. Jawabnya lantang yang sepertinya bisa mendengar suara hatiku. “benarkah?” tanyanku menyansikan jawabannya. “adikku sering tidur diapartemenku, bila dia sedang ribut dengan Nyokap, so...kurasa itu miliknya, yang dibeli tapi lupa untuk dipakainya” aku tersenyum lega mendengar penjelasannya, karena aku merasa lucu saja kalu ternyata baju ini milik Irina. “dan coba kau amati kemeja biru xavier itu! Itu sengaja kubelikan untukmu beberapa hari yang lalu tapi sayang aku belum sempat memberikannya, dan jins denim yang putih itu, juga sengaja kubelikan untukmu, hanya saja aku tidak tau apakah ukurannya pas ditubuhmu” dia diam sesaat menatapku ketika aku menjatuhkan pilihan yang dia tunjukkan bahwa itu sesungguhnya untukku.”thanks!”.
Dia mendekatiku sambil menunjukkan sebuah peperbag milik victoria secreat berisikan dua underware bermotif renda berwarna merah merona, “kurasa ini milik Vita juga?” dia meringis menggaruk garuk kepalanya.”adikmu?” . “yah dia adikku satu satunya” dia tersenyum saat melihatku kembali tenang mendengar jawabann siapa Vita sesungguhnnya.”jadi aku tidak tau bera..paa..u ku ran lingkar dadamu?so ...coba saja?”. Mukaku memerah malu dibuatnya. Kulihat ukurannya pas denganku, dan kebetulan aku suka juga motifnya. “turn around!”diapun pegi memunggungiku”pergilah mandi!”teriakku. “fine..!”.
Aku mencobanya didepan cermin ketika aku merasa nyaman untuk melepaskan lilitan handukku. Warna merah ini melekat pas pada dadaku, aku merasa nyaman dibuatnya, akupun mengenakan setelan jins dan kemeja yang dia pilih.capek berputar putar didepan cermin. Kujatuhkan tubuhku ditempat tidurnya. Kamar ini membuatku ngantuk, aku nyaman sekali dengan desain interiornya. Kurasa warna favoritnya adalah coklat. Kudengar gemricik air dari kamar mandi, kudengar diapun menyanyikan lyric lagu yang nyaris tidak jelas dipendengaranku, aku mulai terkantuk hingga aku benar benar tidak mendengar suara apa apa lagi disekitarku.
Kudengar suara telphone yang kembali membangunkanku, ntah ponsel siapa yang berbunyi, ketika aku bangun Mirza telah tertidur juga nampaknya disebuah sofa panjang yang diletakkan didepan tempat tidur didepanku. Kuamati matanya yang tertutup rapat. Wajahnya begitu tenang, tampan, penuh wibawa. Tidak ada kesan cuek seperti yang biasa aku lihat. Pantas saja banyak wanita yang terpikat olehnya termasuk aku. Dia terpejam rapat, tertidur dalam posisi yang sepertinya tidak nyaman untuk meletakkan kakinya yang panjang. Dibiarkan menggantung di tangan kursi. Kuperhatikan nafasnya begitu teratur,wajahnya begitu tampan menarik. Hatinya ternyata lembut dibalik kesan arogannya. Dia menyembunyikan sifat aslinya, menutupinya rapat rapat ntah dengan alasan apa dia melakukan itu. Dia bukanlah pria yang kukenal dulu, Mirza yang dulu begitu cuek,sombong,angkuh. Tabiatnya buruk. Walaupun sering juga dia berbuat baik dengan yang lain. Hanya denganku saja dia sangat sombong tidak memperdulikanku sama sekali. Itu dulu... Dulu sekali. Tapi sekarang dia sudah bisa membuat hatiku meleleh. Menatapnya terlalu lama membuatku semakin ingin mendekatinya, perlahan kurentangkan selimut yang kuambil dalam almarinya,lalu kukecup pelan dahinya.
Astaga!! ... dia terbangun dan sunggup membuatku tersentak kaget diliputi rasa malu menyelimutiku karenanya. Aku tak sanggup berkata kata, begitupun dirinya, kini tanganya sudah melingkar di leherku siap untuk mendaratkan kecupan di dahiku. “kau mulai mencintaiku?”katanya”yah...tidak salah lagi!”. Aku hanya bisa diam meskipun hatiku berkecamuk penuh dengan namanya yang bertabrakan dengan Demitri. Diamku tidak bisa bertahan lama, aku ingin mengucapkan sesuatu, aku ingin bertanya banyak hal, aku ingin memastikan semuanya sebelum aku mengambil keputusan. Aku bangkit dari lantai setelah membungkuk untuknya beberapa saat, Mirza merenggangkan pelukannya “ada yang salah?”. Aku hanya menggeleng seperti memandang sesuatu yang kosong lalu kuputuskan untuk duduk disebuah sofa persis didepannya. Melhat ku termenung, diapun bangkit dari tidurnya, dan duduk manis sama sepertiku. Kami berpandangan hingga “kenapa dulu kau memmbenciku?”. “tidak!” di raihnya segelas air didepannya”aku tidak pernah membencimu, tidak sama sekali?” nadanya pelan tangannya mengejang, pandangannya tajam kearahku.”hanya saja aku takut jatuh cinta padamu, dan terakhir yang ku tahu bahwa dirimu sudah memiliki fiance. Tapi ntah kenapa aku tidak bisa memudarkan pesonamu,meski sudah kucoba untuk tidak memperdulikan perasaan ini” semuanya terdengar lirih di telingaku, tapi justru membuatku sedih. Sedih karena aku sama sekali tidak menyadarinya sejak lama.ingin aku memeluknya, tapi tubuh ini tak mau bergerak. Aku hanya diam mematung. “sudah sejak lama aku mencintaimu Dess!”lanjutnya. aku menoleh dan menatapnya tajam”kenapa?”. “kau sendiri kenapa mencintaiku?”dia balik bertanya, dan bodohnya aku sama seklai tidak punya jawaban atas pertanyaannya. “ketika cinta dan benci bertabrakan maka hatipun mulai resah mencari jalan penyelesaianya dan hanya waktu yang menjelaskan?”lanjutnya sembari senyum”aku takkan menuntutmu untuk mencintaiku, tapi pernahkah kau tau, menyatakan cinta kepadamu sangatlah sulit bagiku, butuh nyali besar mengutarakannya!”. Aku berdiri meninggalkannya , kukenakan sepatuku kurapikan rambutku didepan cermin. Tak ada lagfi yang bisa kurapikan soal baju kotorku, Mirza sudah terlebih dahulu merapikannya. Dan memasukkan kedalam papper bag victoria secreat. Aku berdiri didepan cermin aku merasa Demitri berdiri didepanku dan mengatakan aku sangat mencintaimu sayang, dibanding dia. Aku tersentak kaget, seperti orang yang baru saja terpental ombak. Aku diam sembari berpikir mengapa ketika aku memikirkan Mirza Demitri selalu muncul tapi pabila aku memikirkan Demitri, bayangan Mirza tak pernah berani mengusikku. Apakah ini pertanda? Pertanyaan ini hanya kugemakan dalam hatiku. Setelah kusadar dengan lamunan ini. Mirza sudah berdiri dibelakangku “aku suka penampilanmu selama ini, tapi yang kali ini aku lebih menyukainya. Simpel...!”.”terimakasih!” tak ada kata lain yang bisa kupilih selain kalimat ini. Untuk sementara ini aku berusaha meminimalkan percakapan. Tangannya kembali merangkulku, sengaja kubiarkan karena ini pasti yang terakhir buat kami berdua. Dia tersenyum , senyumnya begitu tampan”izinkan aku menciummu,jangan menolakku!” kurekahkan senyum sebagai tanda bahwa dia sudah mengantongi izin dariku. Sedetik kemudian bibirnya sudah menempel dibibirku siap untuk melumat habis kedua bibirku. Cukup lama tapi sayang kecupannya kali ini sudah membuatku hambar, tak lagi berkesan seperti sebelumnya. Tubuhku tak lagi bersentuhan dengan listrik seperti biasanya. Aku cukup tenang dan percaya diri mengimbanginya. Aku tyak ingin membuatnya tersinggung, aku tak ingin membuatnya kehilangan harga diri atas penolakanku. Biarlah semua berhenti hari ini juga. Bisik hati kecilku burn baby burn.
Sesampainya dikantor, seperti biasa Mirza memarkirkan mobilnya didekat tempat biasanya aku mermarkir audyku. Sayangnya hari ini tempat itu kosong. Kami saling melempar senyum berjalan beriringan tanpa saling bergandengan. Dan sejak inilah kami kembali menjadi teman seperti sebelumnya, meskipun tidak lagi semuanya sama seperti dulu. Harus kuakui, dia pria yang bisa membuatku berpaling untuk sesaat dari Demitri. Sesampainya didepan ruanganku dia hanya menyempatkan untuk menyentuh jariku dengan jarinyalalu tersenyum sebelum akhirnya dia meninggalkan aku didepan pintu, tak ada kalimat istimewa untukku. Tapi aku bersyukur karena kali ini aku tidak mengharapkannya. Memasuki ruanganku aku hanya tersenyum dengan semua yang kualami akhir akhir ini. “kau belum gilakan untuk tersenyum sendiri?atau saraf otakmu sudah ada yang putus?” sapaan Lidya begitu ketus. Aku tau apa maksudnya, dan apa yang akan dituntutnya dari ku hanyalah cerita soal kami tentang semalam. Mungkin dikiranya aku sudah tidak perawan lagi. Aku hanya tersenyum kembali itu membuatnya gila ketika menuntutku dan aku masih juga tak kunjung menceritakannya. Aku mnuntutnya untuk berdiri dari kursiku. Bersyukurlah aku karena tanpa aku kasari dia sudah berinisiatif unutk memindahkan tubuhnya dikursi lain. Kubuka laptopku, kumulai membuka jurnal yang kemarin pagi kususun dan dengan santainya kumulai juga meceritakan semua hal yang kami alami sejak kemarin hingga menit terakhir kami berpisah didepan pintu ruanganku. Lidya mempercayai semua hal dan sangat mudah sekali meyakinkannya bahwa aku masih sadar tentang tunanganku, walaupun aku sempat meragukan ketulusanku. Setelah puas mendengarkan ceritaku, Lidyapun pergi beranjak dari kursinya “Dess, kubawakan kau beberapa setel baju kantor pilihlah sendiri, ada satu setel underware yang baru kubeli seminggu yang lalu...discount!”matanya memicingkan satu sembari sedikit mencibirku sedikit tidak rela kalo itu diberikan gratis untukku “discount??? Oh ya walaupun discount aku masih tau berapa harga akhirnya!” dia tersenyum paham”percayalah, dia sudah memberiku semua, bahkan itu baru, milik Victoria secreat!” jawabku tanpa memandangi wajahnya. Karena jengkel olehku diapun langsung mensobek halaman koran lalu menggulungnya lalu melemparkannya diatas mejaku dan itu membuatku tertawa.lalu dia membanting pintu sebelum dia kembali membukanya lagi dan berkata”Mirza sialan!”. Aku tertawa terpingkal pingkal.
Jarum jam memutar dengan cepatnya, waktu menuntutku untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Demitri yang sudah lama meninggalkanku.hari ini aku sangat sibuk super sibuk. Bahkan aku tidak perlu mencari alasan unutk berpura pura sibuk. Kuamati diapun begitu sibuk diruangannya. Ntah apa itu asli atau palsu. Ntahlah aku tidak mau tahu lagi. Demitri terus membayangiku, serasa seperti ada kontak bathin, diapun menyapaku lewat ponsel
“halo sayang, sibuk sekali?”
“maaf tadi aku dikamar mandi!”
“yah...kata ibu kau tidur dirumah Lidya. Jadi kuputuskan saja untuk menghubungimu lewat ponselmu”
Astaga tiba tiba jantungku kembali berdetak mendengar kebohonganku yang begitu berhasil dengan gemilang dan memakan korban. Sedihnya kenapa Demitri begitu mempercayaiku begitu saja.
“halo..adakah orang disana?halo!are you there sweatheart!”
“aa..yahh.i am!”
“sibuk?...hank! apa aku mengganggumu?”
“tentu tidakk!”pekikku kebingungan sambil berharap Demitri tidak menyadarinya
“aku sudah sampai di Surabaya sayang, kalo kau tidak bawa mobil. Nanti aku akan menjemputmu!”
“yah...berita bagus, sekarang kau dimana?”
“aku ada di lobby kantormu!”
Alangkah terkejutnya aku, tidak tau harus kegirangan ataukah susah. Rasa ini begitu samar, tak ada lagi kesusahan memutuskan kepada siapa cintaku kembali berlabuh.
“aku akan segera turun?”
“tak perlu buru buru sayang, aku sabar menunggumu!”
Suasana hatiku berubah dengan cepat, secepat mungkin kuraih ponsel dan handsfreeku. Kutingalkan ruanganku dengan seribu langkah mendapatkan lift yang bisa membawaku secepat mungkin menemui Demitri. Aku ingin memeluknya, ingin meminta maafnya atas semua yang sudah kulakukan, tapi beranikah kuutarakan?. Tentu saja tidak, aku terlalu pengecut untuk membicarakannya. Sesampainya di lift kusempatkan melihat ruangannya sebentar sebelum pintu besi ini tertutup, tapi tak kunjung juga kulihat batang hidungnya memperhatikanku. Benarkah semudah ini bisikku dalam hati. Lift ini begitu cepat menghantarku menemui Demitri. Begitu pintunya terbuka, Demitripun siap menyongsongku dengan sebuket bunga dan pelukan yang hangat. Dia terlihat segar bugar senyum yang ramah dan penuh pesona. Dia tak pernah meragukanku, “hallo sweatheart i misssss youu so bad. You looks so beautiful baby?”. Aku menagis mendengar kalimat ini, pujian ini tak layak kudapatkan taukah kau Demitri,....aku sudah mengkhianatimu. Kenapa kau masih sebaik ini? Gerutuku pada diri sendiri yang semakin menguras air mataku. Aku malu pada Demitri sangat sangat malu “sudahlah sayang,jangan menangis, gadisku tidak serapuh ini.” Tangannya membelai rambutku ”penampilanmu sangat mengesankan, sangat berbeda, semoga penampilan ini benar benar untukku?”. Aku berhenti menagis, dan menyesali semua yang terjadi “yah sayang ini untukmu, aku hanya ingin berbeda?”. Pelukannya semakin erat hingga buket bunga yang kubawa sampai terjatuh dan tanpa sengaja Demitri menginjak mawarnya. “sorry!” bukan masalah kataku dalam hati. Dosamu tidak sebesar dosa yang sudah kulakukan sayang.
Pelukan kami terlepas ketika orangtua Demitri menelphonenya. Ntah apa yang mereka bicarakan tapi itu memberiku kesempatan untuk mendongakkan kepalaku ke lantai atas. Seperti yang kuduga sebelumnya. Dia mengawasiku dari atas, pandangannya tidak setajam biasanya, kali ini begitu tenang. Jiwanya cukup besar memahami keputusanku. Hanya senyum kecil yang kurekahkan untuknya, semoga dia mengerti dan memahami arti senyum yang kuberikan. Dadaku sudah idak merasa sesak melihatnya seperti ini. Entah apa aku yang terlalu kejam ataukah mereka yang bisa sangat mengerti aku, aku beruntung dicintai dua pria yang sangat mencintaiku. Walaupun aku nyaris susah membuat pilihan sebelum aku menjatuhkan keputusan.
“menikahlah denganku !” tangannya memeluk punggungku dari belakang sofa yang kutempati. Kalimatnya lugas. Yah aku suka itu...
“percepatlah sayang!”
“benarkah , terimakasih. Bagaimana kalo satu bulan lagi?”
“seminggu lagipun tidak masalah buatku”
“wooww...aku suka keputusanmu sayang”
Detik itu juga aku tak lagi berani mendongakkan kepalaku ke atas, nyaliku hilang, aku hanya berharap dia tidak mendengar apa yang Demitri katakan. Karena yang aku sadari suara Demitri cukuplah lantang ketika dia mengetahui jawabanku. Anehnya aku senang melihatnya senang. Aku bersyukur Tuhan memberiku Demitri, akupun masih bersyukur Tuhan sempat memberikanku bonus waktu untuk mengenal Mirza. Dua sosok yang berbeda kiblat tapi saling memiliki kharisma. Kini baru kumengerti batas cintaku kepada mereka. Sekarang aku sudah mengambil keputusan Demitrilah hidupku. Karena aku hanya memiliki sebuah kapal maka Demitrilah Nahkodaku, tidak mungkin satu kapal memiliki dua nahkoda.
“kau melamun sayang?”
“yah...sedikit, hanya tentang kita?”
Demitri tersenyum tipis mengamati lukisan wajahku. Aku merasa sudah setahun tidak bertemu dengannya, betapa hebatnya dia dimataku. Semua masih terlihat sama seperti yang pernah kukenal beberapa tahun silam. Kami kembali beradu pandang,melepas rindu mengobarkan asmara nyaris kami berdua lupa bahwa kami sedang berada di sebuah gedung perkantoran dan bukannya berada disebuah hotel berbintang enam.
Sejak itulah aku kembali mencintai Demitri secara utuh, tapi akupun tidak ingin melupakan semua yang aku alami bersama Mirza. Sebulan kemudian kami menikah dan tinggal di Jakarta, sejak itu juga aku tidak pernah berhubungan dengan Mirza, aku hanya mendengar sedikit kabar tentangnya bahwa dia telah resign dan membuka sebuah showroom mobil. Pesan terakhir darinya yang kutrima sehari sebelum aku dan Demitri menikah dia memberiku sepucuk surat yang bertuliskan
Terimakasih kau sudah mengizinkan aku menyatakan dan mengungkapkan perasaan yang sama sekali sebelumnya tak pernah berani kuungkapkan.Aku senang bila kau senang dan aku percaya kau akan bahagia bersama Demitri.
Aku akan selalu mencintaimu selalu dan selalu. Kapanpun kau membutuhkan aku, kau tahu dimana tempat yang bisa kau datangi saat mencariku. I love you i love you i love you always always and always
Tags
short story
