Ini terjadi padaku , dan sejak itu semua mempengaruhiku. Semua terjadi tanpa masuk di akal.
Saat rasa itu menyerang, aku benar benar jatuh cinta padanya. Rasa senang, sedih, tertawa dan menangis selalu menghiasi masa remajaku. Hidupku penuh dengan puisi atas namanya. Aku sadar aku benar benar jatuh hati padanya meskipun aku tidak pernah mengerti tentang rasa luka dan sakit akibat aku terlalu mencintainya. Dengan sangat….
Hari itu, aku terburu buru ke sekolah, gara gara aku terlambat satu menit untuk mendapatkan bis. Itu berarti aku akan kebagian bis selanjutnya dengan menunggu setengah jam kemudian. Benar, setengah jam kemudian aku baru mendapatkan giliran bis selanjutnya. Begitu masuk dalam bis aku mmnyebar pandnagan untuk mendapatkan satu bangku kosong. Dan hari itu minggu ke empat dari bulan july 2000. aku benar benar benci saat aku harus duduk dibangku tengah, aku tidak suka diapit terlebih bila diantara pria perokok. Oh…matilah aku! Kala itu ada dua bangku kosong, satu disebelah kanan ada seorang cewek yang aku perkirakan umurnya hampir sama denganku, gadis itu juga seorang pelajar. Tapi aku tidak suka, dandanannya terlalu menor, mungkin dia bersekolah di jurusan kecantikan. Rambutnya berwarna highlight, sepatunya memakai tali berwarna pink dengan sepatu berwarna oranye. Warna yang kontras, dandanan yang norak. Tapi dia terlihat manis walaupun tidak anggun. Sedangkan dibangku sebelah kiri ada tiga kursi yang ditengahnya masih kosong. Aku memutuskan unutk duduk disitu. Seorang wanita setengah baya duduk disamping kanan sebelah kaca, wajahnya datar tanpa senyum saat melihat aku mendekati bangku kosong sebelahnya. Sedangkan pria muda yang tampan dan mengenakan celana jeans biru dengan jacket hitam yang bertuliskan LOS ANGELES itu hanya melihat dengan senyum biasa saat aku menyapa dan mengatakan permisi untuk lewat dan duduk disebelahnya. Karena sempit dan sedikit berjejal aku sedikit berusaha keras untuk melangkah dalam himpitan. Salah satu kaki pria itu keluar dari bangkunya unutk sekedar memberiku jalan masuk untuk duduk. Hampir saja kamus bahasa jepangku jatuh mengenai pahanya. Tapi untung saja aku cepat. Saat aku duduk aku nyaris tidak merasa nyaman. Maklumlah ini angkutan umum, tidak seperti naik mobil pribadi. Seperti biasa sekedar mengisi waktu saat naik bis, aku belajar menulis huruf katakana dan hiragana, maklum saja aku baru mengenal bentul tulisan semacam ini sebulan yang lalu, dan hari ini aku ada tes menulis huruf kanji jepang. Sebenarnya aku senang dengan obyek yang baru ditangkapa oleh mataku. Pria yang duduk disebelahku ini cukup tampan, wajahnya bersih, kulit asianya mnenarikku, rambutnya hitam mengkilat, dan yang jelas dia tidak merokok. Sesekali aku melirik kearahnya, dan saat aku kepergok melirik aku buru buru kembali pada buku catatanku. Diantara kami tidak ada percakapan sama sekali, hingga asaat aku akan turun, sweaterku tertindih oleh pahanya, sekedar untuk berkata sopan. “ maaf mas!” sambil aku melirik kearah yang aku maksud hingga dua kali. Dia masih cuek, dan tidak menoleh sama sekali. Karena aku kesal dan takut terlambat maka aku memaksa setengah berdiri lalu menarik sweaterku sendiri. Mungkin dia terkejut melihatku setengah marah, maka dia merangkai senyumnya yang lebih Indah dibanding beberapa menit yang lalau, sambil mengatupkan kedua tangannya denga kata sorry. Otomatis senyum itu membuatku meleleh. Tapi tentu saja tidak, aku tidak mau membalas senyuman itu semanis yang dia berikan. Itu kesalahan dia bukan aku. Aku terus berlalu dengan pura pura kesal, dan saat aku menoleh kebelakang, ternyata aku kecewa dan menyesal atas sikapku sendiri. Pria berjacket LOS ANGELES itu sama sekali tidak menoleh ataupun menatapku seperti tadi, wajahnya hanya tertunduk. Mungkin dia mencari uangnya yang jatuh atau menemukan berlian yang lepas dari salah satu wanita yangmengenakan cincin kawin mereka. Jika itu benar beruntunglah pria itu. pantas saja dia mengacuhkan aku. “STOP…PAK!” aku mengatakan sedikit kerasa pada sopir bis, sopir itu langsung mengangguk dan menekan remnya agar berhenti tepat didepan sekolahku. Aku bergegas turun melupan yang terjadi dan berjaan sedikit kencang menuju gerbang depan sekolah, satpam hampir saja mengunci pagar besar itu. tapi beruntung dia mau bermurah hati padaku pagi ini. Aku berlari kencang meninggalak pria tua itu tanpa mengatakan terima kasih. Aku lupa api aku terus saja berlari hingga aku mendapatkan kelasku dan langsung duduk dbangku. Semuanya sudah duduk manis. Berutung lagi guru satra ku belum datang, jai kelas kami kosong dua jam. Diantara teman sekelasku ada yang meninggalkan kelas ke kantin, ke perpustakaan, tapi yang palingbanyak justru kami ngobrol bersahut sahutan. Fajar temanku menutup pintu kelas lalu menutup gordiyn kelas. Sebagian besar menertawakannya. Dan sebagian lagi hanya diam dengan muka sinis. Mungkin mereka yang sednag sinis tidak suka menikmati jam kosong dengan kegaduhan semacam ini. Terus terang saja akupun sedang tidak berminat mengikuti kegaduhan yang cukup berisik dan tidak bermutu. Aku tidak biasanya seperti ini. Biasanya aku malah paling antusias. Tidak untuk kali ini.
Satu bulan kemudian aku bertemu kembali dengan pria berjacket itu, tapi aku pura pura tidak pernah melihatnya, aku memilih untuk duduk dibangku yang masih kosong. Beberapa hari berikutnya aku kembali melihatnya lagi dalam bis, dan aku masih tidak mau satu bangku dengannya. Begitu juga beberapa hari setelah itu. entah sudah berapa kali kami berada dalam satu bis tanpa bertegur sapa. Yah jujur saja aku enggan menyapa orang asing terutama pria. Menurutku itu tidak baik.
Suatu ketika, aku merindukan kehadirannya dalam sebuah bis, dan aku sudah lama tidak bertemu denganya. Aku merasa ada yang kurang. Dan aku sering kesal bila kami tidak bertemu, pernah juga aku merasakan kekesalan yang lebih saat aku naik bis yang berbeda dengannya dan kami bertemu di persimpangan jalan, senyumnya yang terukir manis itu mulai kujawab dengan senyuman. Meskipun aku merasa tidak puas dengan hanya sekedar senyuman. Pengamatanku selama ini, dia pria yang diam dan begitu keren, wajahnya terlalu terilah segar meskipun matanya terkadang terlihat merah. Beberapa temanku sering bercerita tentangnya. Kata mereka pria berjacket itu bernama Sony. Dan diapun menitipkan salamnya untukku. Entah mengapa mendengar cerita Anna dan Gita aku sedikit malu.
Pertemuan berikutnya, aku memilih untuk lebih dahulu tersenyum padanya meskipun aku masih memilih duduk sendiri daripada disebelahnya. Aku masih berusaha menjaga jarak. Aku tak pernah membayangkan cerita kami terus berlanjut dan saling menyapa berawal dari senyuman hingga kami terlihat akrab sejak dia memberanikan pindah bangku untuk duduk disebelahku. Awalnya aku terkejut, tapi aku senang. Ini awal dari rasaku yang berubah menjadi rasa senangyang sedikit berlebih dari teman.
Ketika kami mulai dekat dia meminta nomer telephone rumahku, dan diapun memberikan apa yang tidak aku minta,meskipun aku sesungguhnya sangat berharap agar aku mendapatkan nomer telephone rumahnya. Semakin hari berlalu kami semakin dekat bahkan saling menunggu agar kami bisa duduk dalam satu bis. Ada saja obrolan yang kami bicarakan. Kedengarannya menggelikan ketika dia menyakan beberapa hal yang tidak aku mengerti. Maklum saja aku hanya seorang pelajar yang termasuk anak rumahan jarang mendapatkan hiburan dunia luar. Orangtuaku terhitung cukup ketat saat melihat perkembanganku. Banyak hal yang tidak diperbolehkan, terlalu banyak larangan dan aturan. Sedangkan aku hanya bisa mengiyakan meskipun aku tidak menyukainya. Hati inigin berotak tapi ragaku tidak bisa melwan. Ruhku yang pemberontak terjebak dalam raga yang sangat pasif. Ini berlawanan dengan pria berjacket itu, jiwanya terlihat kalem meskipun sebenarnya dia cukup bebas menentukan apa yang dia mau dan dia pilih. Mungkin karena dia pria jadi orangtuanya tidak perlu terlalu khawatir seperti yang dilterapkan oleh orangtuaku. Batas jam malamku adalah kurang dari jam sembilan malam. Jadi aku merasa susuah ketika dia ingin mengajakku keluar malam. Akupun menolak saat dia ingin bermain kerumahku. Maklum saja aku bingung mecari alasan saat aku memperkenalkan dia ketika nanti bapak atau ibuku menanyakan siapa dia ini!. Ini himpitan tapi aku harus bertahan.
Saat aku yakin cintanyalah telah menyapaku, maka aku menerimanya dengan rasa senang. Siang itu dia menjemputku. Dia duduk dibatangan kayu panjang yang dibentuk menyeruai kursi balok. Ketika aku datang dia hanya menoleh dan tersenyum, aku enggan berlama lama disitu. Aku ingin seklai dia segera membewaku kabur dari sekolah. Tentu saja aku mulai menyadari kegilaanku. Dia mengajakku pergi naik sebuah bis yang akan melewati sebuah mall dijantung kota . dia menggandeng tanganku saat hendak turun. Kami berjalan beriringan seperti pasangan. Jantungku berdetak, untung tidak terlalu keras. Kami memilih duduk disebuah café bergaya amerika. Sebelumnya aku tidak pernah ketempat ini, dia memesan sebuah minuman asing yang aku tidak pernah minum, tapi karena aku ingin mengimbanginya maka akupun memilih untuk memsan minuman yang sama. Dia hanay menatapku dengan pandangan tajam. Aku tidak mengerti jadi aku putuskan saja unutk menundukkan kepalaku sedikit.
“pesan saja yang lainnya?” gaya bicaranya terdengar mendesak. Dan aku hanya menggeleng “kau suka? Kau pernah? Apa kau sering?” dia kembeli mencecearku.
“aku baru mendengar namanya, sekarang!...emmm tepatnya beberapa detik yang kalau saat kau hendak memesannya”
“pesanlah orange jus!”
“sudahhlah, aku ingin mencoba”
“baiklah kalau kau memaksa!..tapi kalau nanti saat mencoba kau tidak suka, pesanlah yang lain. Jangan sungkan!”
Tidak ada lagi tawar menawar soal minuman. Saat dia membersihkan kerongkongannya, diapun mengambil nafas dalam dalam, mengatur duduknya dengan manis, mengatur jarak pandangnya saat menatapku. Sorot itu semakin tajam nyaris mendebarkan jantungku dan mengelurkan rasa malu. Aku hanya bisa menelan ludah. Ternyata intinya dia mengutarakan isi hatinya padaku. Wah sennag sekali. Semua teras luar biasa menyenangkan. Mungkin seperti ini rasanya saat rasa cinta yang kita miliki bisa bersambut dengan baik. Hari ini resmi kami berkencan di hari minggu. Aku emmbiarkan tangannya saat menyentugku punggung tanganku. Aku justru tidak ingin dia buru buru melepaskan tangan itu. tapi justru yang aku harapkan tidak seperti yang dia lakukan. Tidak ada obrolan lain. Dna kami hanya terdiam saling menikmati minuman. Dia terlihat begitu ,menikmati jenis minuman ini, sedangkan aku. Ini minuman aneh yang pertama aku telan. Aku tidak menyukai tapi aku harus berpura pura menikmatinya. Aku tidak mau dia berpandangan miring tentangku. Tapi sepertinya dia tahu gelagatku.
“sudah aku bilang jangan memesan itu?” tangannya meraih gelas yang hendak aku minum, lalu dia memesankan aku sebuah orange jus.
Sejak hari minggu itu, dia rutin menghubungki dan menemuiku,meskipun tidak datang kerumahku. Kami bertambah dekat, obrolan kami bertambah semakin menyenangkan. Dunianya begitu baru buat aku meskipun ada beberapa tempat yang dia kunjungi aku pernah juga mengunjunginya. Aku mulai senang dan terus membayangkan serta menebak nebak apa yang akan terjadi keesokan harinya. Tapi sayang orangtuaku tidak merespon. Bahkan ibuku yang bisanya suka memberikan dukungan. Kini tidak lagi aku dengarkan vocal suaranya untuk membelaku. Aku mulai merasa susah ketika bapak mulai berperan lebih untuk menyeleksis beberapa teman yang suka menelphoneku. Aku gerah dnegan sikap bapak, tapi bagaimana lagi kau tidak berani beradu argument, aku tidak punya nyali untuk marah apalagi memberontak. Maka aku mencari akal unutk mencuri waktu saat ingin menelphonenya. Rasanya begitu luar biasa lega setelah mendengar suaranya. Kami semakin giat mengatur janji waktu kalau dia ingin menelphoneku. Itu berarti aku harus siap didekat pesawat telephone dan mengangkat langsung ketika berbunyi. Bahkan kami sempat mengobrol lebih lama, meskipun sesekali aku bertindak aneh dengan merubah topic pembicaraan yang tiba tiba. Dengan topic pelajaran ataupun ekstra kurikuler. Padahal saat itu aku sering membolos dan meninggalkan jam extra kurikuler hanya unutk menemui dia. Unutk menonton ataupun sekedar makan siang. Itu saja yang biasa kami lakukan. Maklum saja dia terhitung sebagai pria dewasa sedangkana ku baru menginjak remaja. Pemikiran kami banyak menemui perbedaan. Tapi aku berusaha untuk kembali konstan mengikuti alur pemikirannya. Semua aku lakukan karena aku memang mencintainya. Melihatnya tersenyum saja itu membuatku begitu senang dan nyaman. Bahkan aku rela menikah muda bila dia ingin mengajakku menikah. Itu bentuk pemikiranku yang paling drastis yang pernah aku pikirankan.
Semakin hari kami semakin terlihat dekat, saling berbagi dan menghabiskan waktu bersama meskipun tidak terhitung panjang. Dia sering menjemput atau mengantarkan aku pulang. Itu saja sudah membuatku puas. dia semakin sering dan suka mencium kedua tanganku daripada pipi dan mulutku. Dia snagat meghargaiku. Dan aku lebih dlam merasakan cinta yang sebelumnya tidak terlalu aku kenal. Rasa ini terlalu biasa unutk dikatakan biasa. Karena menurutku ini sangat luar biasa. Tapi sayang kebahagianku mulai terusik ketika bapak semakin sering mengawsiku dengan siapa aku sering ngobrol di telephone. Bapak membeli satu pesawat telephone baru dan diletakkan dilantai atas. Bapak bilang tidak masalah bila benda itu diletakkan dalam kamarku. Tentu saja aku sennag. Tapi ternyata ada tujuan lain dari itu semua. Bapak selalu mendengarkan pembicaraanku dnegan teman temanku termasuk dengan sony. Aku mulai kesal dan aku mengeluarkan benda itu dari kamarku. Dan aku tidah bodeh, pesawat telephone yang ada diabawah aku set suara diam bila ada panggilan masuk begitu juga yang ada diatas, lampunya hanya akan berkedip kedip bila ada panggilan masuk, maka aku siap untuk mengangkat gagang telphonenya. Setelah itu aku baru merasa sangat siap untuk mengobrol dengannya. Cara itu berajalan tidak terlalu lama hingga sampai bapak memberi kunci pengaman untuk smeua pesawat telephone. Aku kesalnya bukan main, tapi mau bagaimana lagi. Aku hanay punya tekad aku harus berani memperkenalkannya terang terangan pada keluargaku setelah aku lulus sekolah SMA.
Rasa prihatin harus aku telan sebaik mungkin bila aku merindukan dia dan tidak bisa mendengars uara atau bertemu dnegannya hanya gara gara bis terlambat ataupun aku bangun kesingan dalam hitungan menit. Aku benci bila satu hari itu tidak berjalan seperti yang aku harapkan untuk bertemu dengannya. Cara terakhir adalah aku mengurungkan niatku unutk memasuki ilmu archeology dengan memilih dunia ilmu perhotelan. Seperti yang dia geluti bersama keluargany. Aku memaksakan orangtuaku untuk menerima permintaanku. Dengan usaha keras bapak dan ibuku mau menerimanya. Meskipun terjadi argument yang cukup alot antara bapak dan aku. Aku beruntung ibu mau mendamaikan dan mencari jalan tengahnya. Tentu saja bapak marah karena aku sudah didaftarkan dan dikontrakan di Yogyakarta untuk masuk ke universitas gajah mada. Itu bukan biaya yang murah, kata bapak.
Awal masuk kedunia perhotelan semua terasa asing buat aku, semua istilah hotel baru aku kenal. Semakin hari ilmunya semakin bertambah dan semakin menyenangkan. Aku lebih yakin bila ini adalah salah satu cara dari tuhan untuk mendekatkan kami begitu juga dengan keluarga kami nanti. Aku semakin sibuk dibidang baru, aku mengambil beberapa waktu unutk kerja part time disebuh hotel bintang lima . Disanalah aku berhasil mengeruk banyak ilmi dan menerapakan semua teori yang sudah aku dapatkan. Kantongku juga mulai tebal untuk ukuran anak yang baru saja lulus SMA. Aku semakin senang dengan dunia yang awalnya aku anggap asing. Sayangnya kesenanganku tidak berjalan baik dengan harapan. Karena dia dan aku mulai jarang bertemu dan berkomunikasi. Kami seperti hilang. Aku berusaha untuk menghubunginya dirumah, tapi kata orang rumahnya dia jarang ada dirmah,kalaupun ada itu pasti pagi hari dan masih tidur. Diapun mulai jarang menghubungiku. Dia mulai enggan menemuiku. Bahkan ketika aku meminta dnegan sanagt berharap diapun tidak pernah mengabulkannya untukku. Pernah saat aku asyik mengobrol, dia justru tiba tiba mematikan telphoneku dengan alasan ibunya sedang pinsan, dan ketika keesokan harinya aku menyakan alasana tersebut, dia enggan unutk menjawab. Rasa cintaku padanya yang terus membimbingku untuk setia, aku berfikir dia hanya sibuk dan sibuk sibuk…ters sibuk. Mungkin dia melakukan itu juga demai aku agar dia cepat melamarku. Suatu ketika aku sedang asyik mengobrol dengannya dia mulai bergelagat menyebalkan bila tanpa sengaja kau menyinggunya. Dia semakin terdengar mengesalkan. Tapi aku masih bisa dengan tenag dan sabar menghadapinya. Pernah suatu ketika diharilain hari, saat aku menelphonenya aku mendengar suara gamelan khas jawa yang biasanya digunakan pada saat upacara pernikahan ala jawa. Dan ketika aku Tanya siapa yang menikah, dia hanya menjawab kalau tetangga sebelah rumahnya sedang mengadakan pernikahan. Dan dia buru buru menutup telphoneku karena salah seorang temannya telah datang. Entah siapa! Aku tidak tahu!.
Hari hariku semakin mengesalkan, aku berada ditengah keraguan tanpa kepastian tanpa npemberitahuan tanpa bukti dan tanpa keyakinan kuat. Semua hanya samara. Kami tidak lagi memiliki kebersamaan waktu yang hangat. Diapun sudah tidak mau lagi menjemputku seperti dulu. Tapi aku terus menghubunginya aku terus beraharap dan aku terus meminta agar Tuhan mau memberikan petunjuk atas semua yang telah meragukan aku. Aku tahu karena aku merasa dia sedang ada malasah, tapi aku tidak tahu apa bentuk masalah itu, diapun enggan menemuiku meskipun baru saja aku katakan kalau aku sedang berhenti disebuah halte bis dan basah kuyub kehujanan. Bahkan aku tidak lagi punya untuk sepeserpun , karena uangku habis untuk menelphonenya barusan. Kalimat yang barusan aku ucapkan ternyata tidak menggerakakna hatinya unutk menjemputku. Dibawah atap halte itupun aku duduk kedinginan dan menunggu hujan turun reda. Satu jam aku bung waktu dengan menagisinya dijalanan. Beruntung saat itu hujan karena air mataku luruh berama tetesan hujan. Hingga aku tidak perlu malu ketika orang melihat dan mengamati wajahku. Beruntung itu tidak terjadi. Hubungan kami semakin buruk dan semakin menyesakkan dadaku. Aku semakin bingung dengan statusku. Hampiri tiga bulan kami tidak bertemu dan tidak mengobrol. Hingga dibulan berikutnya saat dia akan berulangtahun aku ingin sekali memberinya kejutan., tentu saja karena aku juga snagat ingin bertemu dengannya.
Aku mengatur jadwal kerjaku, jauh hari. Aku mengajak Anna temanku untuk menemaniku datang mengunjungi rumah pria yang aku cintai. Setelah aku menaruh lamaran disebuah perusahaan ponsel, aku meghampiri Anna di tempat toko buku biasanya kami bertemu. Dan ketika sampai didepan rumahnya jantungku benar benar kencang ,nyaris copot kalau jantung ini bukan buatan Tuhan. Aku dan Anna ragu, kue ulang tahun yang aku bawa untuknya tidak snaggup lagi unutk aku bawa dengan kedua tanganku. Semua rasa bercampur aduk. Mungkin karena kegelian kami yang mengundang pertanya, salahs eorang ibu yang mengenakan baju gamis dan kerudung menghampiri kami. Anna menoleh dan senyum pada wanita tua itu, aku hanya datar melihat wajag wnaita itu, dia berjaalan mendekati kami dan ketika berada persis di depan kami maka diapun menyapa.
“cari siapa, mbak?” suaranya terdengar sok akrab, Anna yang ramah menjawab dengan ramah. Aku juga bingung kenapa saat itu hatiku seperti berbicara agar akus egera pergi jauh tanpa menunggu waktu lagi.
“rumahnya Sony,….Bu! cumin kami lupa nomernya, kami hanya tahu alamatnya saja cumin kurang lengkap?”
“memangnya mabak…mbak ini siapa? Apanya mas Sony? Sepertinya yang anda cari baru saja keluar, baru…baru saja”
“kami temannya Bu?”
“loh apa,mbak mbak ini tidak datang kepernikahannya beberapa waktu yang lalu?”
“APAAA?” Anna dan aku hampir bersamaan terkejut. Aku lebih memilih diam karena bingung dan berfikir, sedangkan Anna lebih suka memberi wanita itu banyak pertanyaan.
“siapa? Sony! MENIKAH?”
“YA, menikah, memangnya anda tidak tahu?”
“ohh…enggak bu…enggak kami tidak tahu. maklum kami teman lama dan kami dari Jakarta . Kami lama tidak berhubungan!”
“oh pantas saja, masuk saja mbak…didalam pasti ada ibunya mas sony dan istrinya. Masuk saja istrinya ada kok dirumah, malah lagi hamil?”
“APA HAMIL ,bu?”
Aku dna anna saling berpandangan, kami terkejut dan aku seperti disambar petir. Aku diam berdiri seperti orang yang sedang meregang nyawa dan kaku. Aku tidak lagi bisa mengatakan sesuatu atau merasakan sesuatu. Wanita itu meninggalkan kami
“ya sudah mbak, saya permisi dulu?”
“ya Bu, terimakasih infonya!”
Anna hanya bisa mengamati wajahku yang pucat. Aku hanya bisa menggeleng saat dia menyakan kondisiku. Sesunggguhnya ku sendiri tidka yakin apa aku masih bisa bertahan untuk tenang, aku hanya bisa melihat Anna yang mulai menitikkan air matanya. Tapi bagaimana aku bisa menyeka air matanya bila aku nyaris tidak bisa menggerakaan kaki dan tanganku unutk pergi dan lari dari tempat itu. zona spot itu seperti memiliki magnet yang mengunciku agar aku tidak beranjak satu langkah sekalipun. Anna terus mengguncang bahuku dan meletakkan kue ulag tahun itu diatas kap mobilnya.
“ sadar…sadarlah, aku sudah pernah memperingatkanmu sedari awal, tinggalkan dia, dia mulai tidak beres sejak lama. Aku antar kau pulang….” Aku hanya menggangguk, aku sedih. Sedih yang luar biasa tapi aku tidak bisa mennagis seperti anna. Aku tidak bisa berteriak dan berbicara. Tapi rasanya hati ini seprti etrcabik cabik. Aku hanya bisa berfikir dan kembali mengingat beberapa kejadian yang sepertinya sudah memnunjukkan sesautu akan hal yang menjadi rumit. Seharusnya dulu ketika aku mendengar suara gamelan jawa, harusnya aku mengerti kalau dia sednag mengadakan ritual pernikahan. Dan ketika saat aku mmendengar ibunya pinsan harusnya aku tahu bahwa ibunya sedang mengalami shock akibat kehamilan pacranya itu. ya tuhan…berarti selama ini aku mencintai suami orang, berarti selama ini aku hanyalah pelabuhan sesaat, berarti selama ini pengorbananku tidak ada arti baginya. Seharusnya aku tahu, aku tahu dari awal. Anna mengantarku hingga sampai kekamarku, dan membuatkan aku secangkir teh hangat. Dia memaksaku utnuk minum tapi aku enggan, aku malas sekali. Tapi Anna terus memaksaku. Cangkir itu nyaris terjatuh karena tangkisan tanganku. Tak lama kemudian aku menangis tanpa bisa teriak. Dadaku terasa sesak seprti ada batu besar yang menindih dadaku. Pelukan hangatnya tidak cukup untuk menghiburku. Aku merasa telah sakit karena pengkhianatin Sony. Aku mencintainya tapi dia mencintai oranglain bahkan sekarang istrinya telah hamil tujuh bulan dan mereka sedang menunggu kehadiran kelahiran anak hasil hubungan mereka. Ini benar benar menyakitkan. Harusnya aku tidak sebodoh ini, harusnya aku mengerti. Tapi sebenarnya aku sudah mersakan ada orang diantara hubungan kami, kau merasa dia mulai tidak nyaman bersamaku, aku merasa….merasa banyak hala dan menangkap keanehan. Hanya saja aku tidak punya bukti dan aku tidak mau meragukan dia. Tapi kenapa kepercayaanku dipermainkan seperti ini. Setalah aku merasa tenang dikamar, Anna meninggalkan aku dan berjanji kalau besok pagi dia akan mengambil cuti kerja untuk menemaniku. Tapi nyatanya, sore menjelang malam Anna dan Gita sudah mengetuk kamarku, tanpa menunggu jawaban. Gita langsuk masuk dan memelukku erat, aku belum pernah melihatnya mennagis tapi kali ini dia menangis. Kami bertiga menangis.
“aku sudah tahu apa yang telah terjadi, sebenarny a aku pernah memikirnkan masalah ini beberapa wkatu yang lalu, ketika aku tahu kau kehujanna saat menunggu dia, ketika aku tahu kau selalu gagal dengan acara yang sudah kalian rencanakan. Tadi aku datang kerumahnya bersama Anna” suara Gita terdengar marah
“apa kau tau yang dia katakana pada kami?” sahut Anna, aku hanya datar sambil berkaca kaca
“sudahlah…tinggalkan dia, berkencanlah dengan orang yang mnecintaimu”
“dia tidak cukup baik untuk kamu bandingkan dengan beberapa yang berani mengatakan cinta padamu?”
“kau tahu, dia tidak menyuruh kami masuk ke dalam rumah, dia malah mengajak kami berdua ngobrol di jalanan. Aku ingin sekali menamparnya dnega jurus karateku. Aku kesal. Aku tidak terima bila kamu diperlakukan seperti itu. dia bajingan,brengsek”
“sudahlah Git….jangan buat semakin bingung” anna terdengar mengalihkan kemarahan Gita agar aku tidak terbawa suasana.
“dengar Ann…apa tadi kamu tidak melihat ternyat dia emmang sengaja membuat sahabat kita seprti ini. Dia bilang kalau dia masih mencintai kamu dan akan meninggalkan istrinya setelah anak itu lahir. Bukankah itu berrati dia pria brengsek yang mau enknya saja dengan perempuan. Aku tidak suka Anna. Dan tadi aku menonjok wajahnya buat kamu. Aku kesal”
Aku cumin terdiam dan terus terdiam dan menangis dan terus menangis. Aku masih sadar kalau aku mencintainya.
Sejak kejadian itu, aku terus mennagis etiap harinya, aku lebih suka menjauhi keramaian, aku lebih suka lembur klerja aku lebih suka berjalan kaki sejauh munkin dan aku lebih suka mabok sendiri. Kebiasaan baruku adalah menghindari banayk percakapan dengan semua orang bahkan keluargaku sendiri. Aku lebih suka menikmati anggur dan whiskey. Tapi setelah itu aku kembali menangis didalam kamar mandi dibwah shower. Aku masih belum terima dengan perlakuan itu.aku belum bisa menerima apa yang sudah aku korbankan dan aku pilih. Sejak saat itu pula aku tidak pernah ingin memeprtanyakan kenapa wanita itu hamil, kenapa dia menikahi wanita itu. kenapa mereka hamil diluar nikah. Yang aku pikirkan saat itu adalah Gita pernah berkata kalau anak itu lahir Sony akan segera menceraikan wanita itu. itu berrati aku dan dia bisa kembali berkencan seperti dulu, dan anaknya akan menjadi anakku juga. Sekilas senyum menghiasi wajahku untuk pertama kali, sejak itulah aku kembali berharap agar dia segera hadir dan kembali manyapaku. Aku menunggu waktu itu unutk segera terjadi. Aku merindukan dia. Aku melupakan masalah besar yang terjadi antara kami. Meskipun sejuta pertanyaan terususn rapi dalam otakku sesuai alphabet. Tapi aku tidak pernah bisa menghindari masa masa sulitku selama ini yang sudah terjadi lebih dari satu tahun. Aku ingin keluar dari masa gelapku, aku ingin keluar dari lubang hitam yang menyiksaku. Tapi seandainya aku belum bisa keluar dari lubang hitam ini aku hanya berharap agar tuhan memberiku cahaya atau bahkan menjadikan aku cahaya agar aku tetap terlihat baik dalam kehitaman. Aku terlihat bersinar dalam kegelapan. Dan aku memutuskan untuk keluar pelan pelan dari kemelut ini. Aku merubah penampilanku aku merubah pola pikirku aku merubah kehidupanku. Aku tidak lagi ingin mabok, aku tidak ingin terpuruk dalam kehidupan yang menyedihkan. Aku ingin banyak teman, aku ingin kehidupan normalku yang dulu. Meskipun aku sesekali menyesali kenapa aku memilih dunia perhotelan.
Dengan izin Tuhan, kehidupanku kembali membaik meskipun aku bukan lagi yang dulu, aku mulai membuka diri unutk mengenal beberapa teman baru, aku mulai senang dengan keramaian dan acara pesta. Aku justru takut bila aku sendiri disuatu tempat. Karena itu akan membuatku terseret keduaniaku yang lama. Aku akan kembali menangis. Aku masih suka mennagis dalam setiap doaku, aku masih snagat mengingatnya, bahkan rasa sakit yang dia berikan masih teramat sangat membekas. Rasa ekcewa dan sakit itu mempengaruhi pikiranku hingga detik ini. Bahkan ketika aku memutuskan untuk berkencan dengan seseorang yang baru aku kenal dalam hitungan bulan, aku masih suka memnceritakan pria berjacket itu padanya bila aku kembali terkenang dengan semua hal tentang semua masalahku.
Aku harus memahami apa yang sudah terjadi padaku dan aku masih terus mencari jawaban kenapa dia mencintaiku tapi memmghamili dan menikahi wnaita lain selain aku. Dan sayangnya aku tidak pernah mendapat jawaban itu hingga bertahun tahun bahkan setelah aku memutuskan menikah di tahun 2006 dan punya anak di tahun 2007 dengan seorang pria yang sangat mencintai aku dan mau mengerti tentang aku, mau membimbingku dan mau melakuakan segala galanya demi aku atas nama Tuhan. Berkat dia yang melamarku tahun 2005, aku berhasil menjauhi alcohol. Berkat dia tidak ada lagi tangisan yang dulu selalu menghampiriku. Meskipun aku masih merasakan cambukan rasa sakit dari pengorbananku. Sejak saat itu juga aku menepis rasa kesalku dengan semua yang sudah ditakdirkan Tuhan padaku. Aku menepis rasa cintaku yang bertepuk sebelah tangan, aku menepis rasa rinduku yang tidak terjawab, aku menepis rasa sedihku yang sudah menenggelamkan aku. Tapi jujur aku tidak pernah bisa melupakan dia, bahkan aku masih ada ruang yang menghidupkan aku tentangnya, kenangan yang menyenangkan tentangnya meskipun kenangan itu tidak sebanyak rasa sakit yang dia berikan padaku. Pernah sesekali waktu dia menelphoneku ataupun mengunjungi kantorku unutk sekedar mengatakan ‘HALLO APAKABAR’ tapi aku merasakan enggan walaupun aku suka. Aku merasa dipermainkan. Aku masih merasakan sakit atas sebuah kepercayaan besar yang sudah aku berikan padanya dulu. Bila mengingat itu rasanya sakit sekali, bila teringat perlakuannya aku tidak pernah bisa untuk tidak menangis. Aku selalu menitipkan doa agar dia menemukan wanita yang dia cintai. aku menitipkan doa agar dia menemukan apa yang dia harapakan. Karena aku yakin kalau bukanlah wanita yang diharapakannya meskipun saat itu aku sangat mencintainya. Biarlah hanya Tuhan dan malaikat yang tahu tentang keyakinan cinta yang pernah aku miliki atas namanya. Aku mencintainya tanpa syarat meskipun dia penuh syarat saat melukai perasaanku.
Tags
short story
