Hidup dikota besar perlu waktu untuk menyesuaikan diri dari dan banyak hal penuntutan agar kita menjadi besar tidak dalam arti harfiah saja. Sepuluh tahun aku mengemban misi yang membuatku hampir gila hingga aku menghilang dari orang orang yang aku cintai. Mencari kedamaian di tanah lain, mencari rasa dan nilai estetika yang sangat aku butuhkan. Kala itu aku pergi dengan amarah yang luar biasa penuh luapan kesedihan serta harga diriku yang terkoyak. Hanya itu yang bisa aku pungut. Tidak untuk yang lain,bahkan nyaris seperti sapi perah ataupun kambing congek. Sepuluh tahun yang lalu hatiku di runtuhkan begitu saja oleh seorang wanita yang aku cintai. Kedengarannya munafik, awalnya semua terasa begitu berat dan menyesakkan bagiku untuk melupakan wanita itu. Tapi sekarang, aku nyaris tidak mengenali segala hal tentangnya. Bahkan gurat wajahnya saja aku sudah lupa. Aku merelakan dia menjadi istri adikku. Mungkin
bagi Tuhan Pria itu lebih membutuhkannya dibanding aku, meskipun aku tidak pernah terima dengan perlakuan mereka berdua. Karena banyak wanita disekitarku, banyak cerita dan banyak Maklum dari banyak wanita yang silau dengan gemerlapnya berlian, hijaunya uang, dan tebalnya kantong celana, mewahnya mansion yang aku miliki. tapi Dulu, aku bukanlah apa-apa! Sekarang aku sudah menjadi seseorang, dengan ciri khas hidupku sendiri. bisa dikatakan aku sudah menjadi bintang yang menghiasi salah satu planet yang bernama bumi. Aku tidak lagi susah, kini aku seorang milyader, tidak ada satu orang wanitapun yang menolakku. Tanpa aku perlu berkata ‘susah’ untuk mendekati jenis mahluk yang bernama wanita, justru mereka yang mencuri waktu agar bisa dekat denganku. Ironis!!. Kembali, pada kepribadianku. Banyak yang mengatakan kalau aku ini diibaratkan seonggok berlian, ada yang mengatakan aku ini penjahat wanita, ada yang bilang aku Casanova. Don juan sejati, banyak juga yang bilang aku ramah dan penuh pesona. Intinya aku adalah seorang pesohor wanita. Benarkah? Aku bertanya dalam hati, meyakinkan semua kalimat yang pernah aku dengar dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya aku putuskan untuk tidak memperdulikan itu semua. Aku hanya banyak mempelajari karakteristik wanita yang pernah aku dekati, lutut mereka mudah ditekuk hanya dengan memberikan sebuah cincin, ataupun seuntai kalung, bahkan hanya dengan memberi beberapa jumlah uang prepaid maupun collect, rekening perempuan mana yang tidak pernah aku transfer bila mereka sudah mau meluangkan waktunya bersama aku di sebuah tempat yang bisa aku katakan private. Mulut mereka selalu berkata ‘REMEMBER ME’ tapi jujur aku selalu melupakan nama mereka, bahkan satu menit setelah berkenalan dengan salah satu diantara mereka aku tidak pernah bisa mengingat huruf depan dari nama mereka, aku selalu tersenyum tipis setiap itu terjadi padaku. Tapi aku merasa itu bukan masalah bagi mereka selama aku bisa memenuhi keinginan mereka, dan bukan masalahku juga bila harus memenuhi keinginan mereka selama mereka bisa membuatku senang dan menuruti apa kataku. Meskipun itu sesat dan sesaat. Aku dikenal sebagai raja pesta, ibuku berharap aku bisa berubah menjadi baik seperti dulu, seorang pria yang sopan dan baik, serta pekerja keras. Meskipun aku sadar aku belum pernah merasa ‘BAIK’ Tapi maaf Ibu, aku sudah terbiasa dengan ini semua, dan ini seperti candu bagiku, sehingga aku susah sekali meninggalkan semuanya. Jawab ibuku ringan saat itu ‘aku doakan suatu saat kau akan berubah jauh lebih baik’ hanya menghela nafas setiap memikirkan hal itu. aku masih mengingat apa yang sudah beliau katakan. Inilah duniaku saat ini SERVE IS YOUR SELF UP artinya get fresh and ready for fun and sex up.
bagi Tuhan Pria itu lebih membutuhkannya dibanding aku, meskipun aku tidak pernah terima dengan perlakuan mereka berdua. Karena banyak wanita disekitarku, banyak cerita dan banyak Maklum dari banyak wanita yang silau dengan gemerlapnya berlian, hijaunya uang, dan tebalnya kantong celana, mewahnya mansion yang aku miliki. tapi Dulu, aku bukanlah apa-apa! Sekarang aku sudah menjadi seseorang, dengan ciri khas hidupku sendiri. bisa dikatakan aku sudah menjadi bintang yang menghiasi salah satu planet yang bernama bumi. Aku tidak lagi susah, kini aku seorang milyader, tidak ada satu orang wanitapun yang menolakku. Tanpa aku perlu berkata ‘susah’ untuk mendekati jenis mahluk yang bernama wanita, justru mereka yang mencuri waktu agar bisa dekat denganku. Ironis!!. Kembali, pada kepribadianku. Banyak yang mengatakan kalau aku ini diibaratkan seonggok berlian, ada yang mengatakan aku ini penjahat wanita, ada yang bilang aku Casanova. Don juan sejati, banyak juga yang bilang aku ramah dan penuh pesona. Intinya aku adalah seorang pesohor wanita. Benarkah? Aku bertanya dalam hati, meyakinkan semua kalimat yang pernah aku dengar dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya aku putuskan untuk tidak memperdulikan itu semua. Aku hanya banyak mempelajari karakteristik wanita yang pernah aku dekati, lutut mereka mudah ditekuk hanya dengan memberikan sebuah cincin, ataupun seuntai kalung, bahkan hanya dengan memberi beberapa jumlah uang prepaid maupun collect, rekening perempuan mana yang tidak pernah aku transfer bila mereka sudah mau meluangkan waktunya bersama aku di sebuah tempat yang bisa aku katakan private. Mulut mereka selalu berkata ‘REMEMBER ME’ tapi jujur aku selalu melupakan nama mereka, bahkan satu menit setelah berkenalan dengan salah satu diantara mereka aku tidak pernah bisa mengingat huruf depan dari nama mereka, aku selalu tersenyum tipis setiap itu terjadi padaku. Tapi aku merasa itu bukan masalah bagi mereka selama aku bisa memenuhi keinginan mereka, dan bukan masalahku juga bila harus memenuhi keinginan mereka selama mereka bisa membuatku senang dan menuruti apa kataku. Meskipun itu sesat dan sesaat. Aku dikenal sebagai raja pesta, ibuku berharap aku bisa berubah menjadi baik seperti dulu, seorang pria yang sopan dan baik, serta pekerja keras. Meskipun aku sadar aku belum pernah merasa ‘BAIK’ Tapi maaf Ibu, aku sudah terbiasa dengan ini semua, dan ini seperti candu bagiku, sehingga aku susah sekali meninggalkan semuanya. Jawab ibuku ringan saat itu ‘aku doakan suatu saat kau akan berubah jauh lebih baik’ hanya menghela nafas setiap memikirkan hal itu. aku masih mengingat apa yang sudah beliau katakan. Inilah duniaku saat ini SERVE IS YOUR SELF UP artinya get fresh and ready for fun and sex up.
Siang ini aku menggelar sebuah pesta pribadi dengan beberapa teman dan para kolega disebuah pantai di pulau pribadi milikku, disana aku membangun sebuah hotel mewah sekelas bintang tujuh kalau di los angeles . Sengaja aku biarkan seratus kamar vip untuk aku kosongkan dua hari sebelumnya. Khusus untuk para tamu. Dua wanita liar yang sebelumnya sudah pernah hidup bersamaku, kini saling bersitegang mencari sensasi mencoba menstimulisasi suasana dengan gaya liar yang sudah menjadi karakter mereka. Satu diantaranya adalah seorang model yang berkiprah di garis nusantara, dan dikontrak eksklusif dengan salah satu majalah pria dewasa. Tubuhnya sintal, sexi tapi sayang terlalu money oriented. Satu lagi seorang public figure yang mulai terkenal dikalangan pejabat, pernah menceraikan suaminya yang juga pejabat gila dan hanya demi aku. Uhhh romantis, sayangnya ketika mereka bercerai aku sudah bosan dengannya. Bagiku wanita ini lebih terkesan hyper sex. Kebanyakan wanita yang aku kenal bermuka dua, tidak ada cinta sejati didalamnya, dan tidak ada ketulusan dalam menjalin hubungan. Setiap malam yang aku lewati tidak pernah sepi dari wanita, dan hidung belang. Aku bisa memiliki salah satu pulau yang sangat eksotis ini, juga bantuan dari seorang wanita yang kala itu dia menjadi simpanan seorang pejabat trendy yang terkenal dengan kasus tipikor. Tapi aku mengambil untungnya saja. Karena mereka juga, usaha milikku berkembang luas, dan karena mereka juga aku bisa melupakan DIA. Siang ini banyak kerumunan wanita yang melingkari kolam renang dengan gaya busana swim suit. siang yang panas, mulai dari gothic corset, leopard red bra, flirty garter semuanya ada disini. Pipi merona, gincu tebal yang smoothie, warna kulit mulia dari yang black suit,exotic hingga putih seperti porselin semua lengkap. Sebagian orangku juga sudah menyiapkan mulai dari room service excellent hingga bar service yang lengkap. Semua gaya dan selera tinggi ada disini. Silky hand job, candle wax,bitchy directions, bossy badass semua serba kinky. Mulai siang ini akan jadi spesial untuk para wanita hingga larut malam dan menjelang pagi, bagaimana tidak spesial. Bila jumlah undangan pria hanya sebanyak empat puluh dan sisanya enam puluh adalah peserta wanita. Coz to night Women are born to be adored. Malam ini penuh kejutan yang sifatnya memang sedikit mengeksplorasi wanita. Malam ini penuh dengan tawaran emotional tool kit. Semua seperti menikmati malam, satu pria bisa membawa tiga ataupun dua wanita. Tapi ada juga sosok pria yang hanya membawa satu wanita. Dia pria yang setia dengan satu pasangan hanya saja sifatnya terlalu posesif. Aku mengenalnya sebagai partner bisnis, dia berdarah dingin, menghalalkan dan melegalkan berbagai cara untuk memenuhi ambisinya. Tangan besinya terlalu sering menyakiti para bisnisman, tidak terkecuali para karyawannya. Malam ini dia menjadi tamuku. Senyumnya yang selalu sinis bekerja sebagai pembunuh mental yang multifunction. Yah benar…dia bernama Michael, pria warga keturunan. Aku berkeliling mengamati dan mengecek semua fasilitas yang aku janjikan mewah, aku tidak mau ada omongan dibelakangku aku juga tidak mau ini menjadi boomerang buat bisnis baruku nantinya. aku punya banyak misi malam ini, banyak sangat banyak sekali.
“siang pak!” seorang general manager menyapaku dengan ramah, siap menemaniku double check
“hei buddy, kau sudah siapkan semua!” aku menyapanya tanpa menatap matanya
“siap pak, semua yang anda minta dalam daftar list satu bulan yang lalu sudah saya kerjakan.sisanya akan rampung digarap dalam tempo tiga jam”
“terima kasih atas kerjasamanya, satu lagi tolong kosongkan dua kamar president suite untukku, satu untukku pribadi dan satu lagi untuk berjaga jaga!” lalu dia mundur dua langkah.
“tentu Pak. Sudah saya kerjakan.tinggal menambahkan satu kamar president suite saja” kedengarannya dia membisikkan sesuatu pada orang disebelahnya,hingga orang itu pergi mendahului kami setelah pria itu menyapaku “permisi Pak!” dia menyapaku dengan khas ala hotelier. Aku menoleh kebelakang mengembangkan senyum dan melambaikan tangan secepat kilat. Kini hanya ada aku dan Stefen. Aku menuju ruang kerjanya, melihat lihat neraca yang ada di dalam komputernya, diatas meja ada foto istri dan anaknya yang super girly, dia hanya tersenyum melihat reaksiku. Aku iri melihat kebahagian dari gambar ini.
“your family is beautiful” aku tidak tahan melihat senyum yang ada dalam pigora itu. anaknya begitu cantik dan terlihat cerdas, sedangkan istrinya terlihat biasa biasa saja.
“terimakasih!” sahutnya riang gembira.
“sepertinya anda punya banyak fans,Pak Damar!” jawab Stefen. Dan aku hanya bisa tersenyum. Tapi dalam hati aku tidak suka dengan pujian semacam itu. Aku bosan..muak..
“oke, aku sudah selesai di ruanganmu, tolong besok siang kau kirimkan sekertarismu untuk mengantarkan laporan neraca bulan ini!” aku meninggalkan dia begitu saja
“baik Pak Damar!”dia membukakan pintunya
“jangan lupa besok!”
“pasti, dengan orang dan data yang sama sesuai yang anda minta!” jawabannya begitu lengkap mewakili. Aku tersenyum dan menepuk bahu kirinya. Sengaja malam ini aku melewati dapur cool kitchen dan hot kitchen di restoran china milikku, aku memberi nama restaurant ini dengan nama WUSHU aku suka dengan kandungan maknanya. Mereka tampak terkejut ketika melihatku yang datang tiba tiba inspeksi mendadak. Aku mencolek salah satu dressing sauce yang dibuat oleh seorang koki cantik. dia sepertinya takut saat melihat ekspresiku. Entahlah apa yang dia takutkan, padahal aku hanya berpura pura tidak menyukai saucenya. Aku masih suka memaksanya untuk terpojok dengan ekspresiku, dan salah seorang temannya memberitahunya tentang siapa aku. Sedikit berbisik
“siang pak!” suaranya terdengar terpatah patah
“siang Pak” sapa suara sopran dari arah belakangku
“siang chef, saya hanya kebetulan lewat, bagaimana dengan beberapa menu yang sudah saya minta satu bulan yang lalu, apa kalian sudah siap menyajikannya malam ini, bahkan untuk menu sarapan besok pagi!”tanyaku penasaran
“semua sudah siap dihidangkan di meja para tamu di ruang gala dinner malam ini” sahut chef Muchlis diplomatis. Jabatannya saat ini adalah chef de partie.
“siapa dia?” aku melirik pada seorang wanita yang menjadi anak buahnya malam ini. Uniformnya yang putih itu banyak terdapat bercakan noda berwarna kecoklatan, bercampur noda minyak. Apapun yang mengotori bajunya itu, dia masih terlihat cantik dengan nilai standart.
“Dita! Karyawan baru anda Pak Damar, lima bulan yang lalu anda merecrutnya!”
“ooohhh!” sahutku datar, dan mengucapkan namanya berulang ulang dalam hati agar aku tidak segera melupakan namanya, tekstur wajahnya manis seperti ikan gurami saos madu yang dia masak.
“apa anda tidak menyukainya!”
“tidak tentu saja tidak,…tolong pertahankan dia untukku!.maksudku dia sanagt cantik…Emmm aku hanya menggodanya tapi sayang rasa takutnya terlalu berlebihan sehingga kelihatan dengan jelas! Sampaikan permintaan maafku chef!” aku meninggalkan mereka begitu saja, begitu juga dengan Dita. Beberapa chef berdiri dan berbaris dengan gaya seperti menjaga station yang ada didepan mereka. Aku hanya suka melihat karyawanku yang cantik cantik, walapun aku sudah berjanji untuk tidak mengencani salah satu dari mereka yang sudah menjadi karyawanku. Aku tidak ingin merusak hubungan yang sudah kami jalin secara bilateral. Hanya saja dorongan untuk tidak merespon wajah cantik mereka itu sangat teramat susah untuk aku tahan. Terlebih sekertaris Stefen, uhhh tubuhnya sexi,kulitnya yang gelap tidak mengurangi kesan sensational ala wanita tropis. Dua jam sudah aku mengadakan ekspansi, itu cukup untuk membuatku menjadi gerah sebelum berpesta. Aku memutuskan untuk belok masuk ke dalam lift dan naik menuju kamarku. Aku memasang ‘DO NOT DISTURB’ pada handle pintu. Aku tidak ingin ada orang yang menggangguku sementara waktu hingga aku benar benar siap diganggu. Aku mencabut beberapa line kabel telephone dan faximile yang ada dikamarku. Phone options flight mode aku setting agar mereka tidak bisa menghubungiku walaupun menekan tuts ponsel hingga jari mereka putus. Aku menenangkan diri tanpa wanita dan segala sesuatu kesenangan dunia. Aku berendam dalam bak mandi air hangat dengan aroma sandal wood dan sedikit aroma ginger spice dan beberapa tetes miyak kayu putih asli dari toraja. Aroma yang bisa membuat tubuhku sedikit hangat tanpa segelas whiskey. Berendam membuatku sedikit tenang iringan lagu look away milik Chicago sayup sayup terdengar menemani kesepianku, hingga aku kembali memikirkan kondisi ibuku yang sangat merindukan aku. Lama kami tidak bertemu, terakhir setahun yang lalu ketika dia dan adikku lelakiku pergi ke Amsterdam , aku ikut senang mereka sudah memiliki seorang anak, dan kini aku sudah menjadi paman. Hanya saja terkadang aku belum bisa terima, bila dia meninggalkan aku karena kondisiku saat itu, tapi sekarang semua bertentangan. Dulu aku sampah, dulu sekali ketika mereka baru menikah, aku masih suka menggoda istrinya. Tapi sekarang tidak lagi, justru semuanya kembali terjadi seperti Ironi diatas ironi yang aku mainkan. Tidak ada orang yang tahu bila semua yang aku lakukan adalah berpura pura menjadi orang yang buruk. Aku tidak ingin berbuat terlalu baik bahkan sekedar baik saja aku tidak ingin, aku juga tidak ingin banyak orang berharap pada orang baik tentang hal hal baik yang terkadang sulit untuk aku lakukan secara normal. Terkadang ada sesuatu yang menekanku hingga membuatku merasa bosan, dan segera ingin membuka topeng dan berganti peran yang selama ini aku mainkan. ‘push up’ itulah usahaku ketika aku sedang high voltage dalam arti sesungguhnya tapi aku tidak ingin melakukan hubungan ranjang dengan wanita manapun saat ini. Ibu benar, aku memang merindukan cinta kasih yang sesungguhnya! Tapi siapa, aku belum menemukan sosok seperti itu, Tuhan belum memepertemukan aku dengan sosok yang memiliki cinta sejati, apa aku masih pantas dengan segala sesuatu yang bersifat murni. Aku merasa kotor dengan cinta semacam itu. Hasrat ini belum bisa aku kendalikan, bahkan dia masih bekerja di luar kendaliku. Aku menenggelamkan tubuhku dalam sebuah jakuzi, ketika aku merasa tidak mendapatkan kesegaran air dalam bath tub. Telanjang bulat membuat tubuhku terasa ringan, tidak ada yang mengawasi membuatku semakin nyaman melihat wajahnya. Aku tidak yakin siapa dia dan siap yang membawanya kesini karena aku tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya. Kuraih sebuah teropong dan piyama handuk pergi mengawasinya lebih dekat, tentu saja mencari tempat yang tidak bisa dilihat orang lain, aku tidak ingin aksiku mengundang banyak tanya dari beberapa mata yang melihat. aku mengamati wajah gadis itu, pakainnya lebih sopan dibanding perempuan lainnya, dia mengenakan celana hot pants berwarna hitam dengan balutan mini skirt berwarna biru dengan atasan seperti baju senam berwarna biru. Kini dia menjatuhkan dirinya kedalam kolam renang yang belum terlalu dipadati para tamu, aku merasa keasyikan mengamati kegiatannya. Beberapa menit kemudian dia kembali muncul dalam permukaan air, menepikan diri, rambutnya yang panjang kini terlihat basah kuyub, sekujur tubuhnya terlihat lebih sexi, nyaris pakaian dalamnya tembus oleh mataku sedikit merangsang testosteron, seorang waiter yang berpakaian rapi memberinya segelas fruit punch, tangannya meraih minuman itu dengan tangan kanannya yang indah. nyaris setiap detail inchi tubuhnya tersorot oleh pandangan lelaki. Tangan kirinya sibuk dengan sebuah buku, judul bukunya tidak terlihat. Kini gadis itu bersantai disebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu jati berwarna kecoklatan. ‘Ahhh, sial!’gumamku Aku tidak bisa melihatnya, seseorang pria menutupinya dengan punggung besarnya, membuatku susah menemukan bayangan gadis itu. Merasa aku, sedikit di awasi, dengan segera aku masuk ke dalam ruangan. Segera berbenah diri,memilih busana yang sudah menjadi dress code acaraku kali ini ini. Aku bergegas merapikan penampilanku dengan busana pantai, aku memilih warna terang dengan corak yang begitu ramai dan cerah, aku memilih celana putih berbahan licin,itu membuatku lebih terangsang ketika seorang wanita sengaja menempelkan kulit mereka pada tubuhku. Sensasinya berbeda dengan yang lain, yah meskipun sensasinya tidak sehebat di daerah frenulum. aku kembali meraih ponsel dengan membangun kepercayaan diriku secara penuh. Menuruni lift hingga menyapa beberapa orang tamu hotel lainnya yang tidak terrecord dalam tamau undangan pesta. Hufftt suara pesta begitu riuh sangat sangat bising dengan tingakah laku orang dewasa yang tidak lagi membuatku berkacak pinggang ataupun tertawa histeris. Aku sudah biasa dengan gaya mereka yang lebih dari kata threesome. Kini mereka menyambut kehadiranku dengan bertepuk tangan , seseorang diantara mereka membuka satu botol champagne dan menyemprotkan ke semua orang yang berdiri disekitar. Sepintas lalu aku melihat bayangan gadis itu kembali, tapi begitu cepat dia menghilang lagi diantara kerumunan para tamu. Lalu berganti Michael yang menyapaku dan mengulurkan tangannya
“hei buddy! Mana wanita barumu!” sahutnya dengan senyum cemerlang!” hidung beonya yang membuatku risih
“kau sendiri bagaimana?” aku menyahutnya secara diplomatis dengan menebar pandangan seolah olah aku tidak menghiraukannya, karena mataku juga belum menemukan wajah kekasihnya. Dia menoleh kesamping tapi sayang, sepertinya yang dia cari tidak ada disampingnya. “apa dia menghilang!” sahutku tertawa berkelakar dan dia hanya tersenyum tipis”jangan salahkan aku bila nanti aku menemukannya!lalu mengencaninya” dia semakin menggeram. “sial kau!kau masih saja kurang beradab” kami tertawa bersama, kini giliran Willy dengan dua wanita yang ada dalam pelukannya menyapa kami satu persatu, aku baru mengenal salah satu wanita yang ada dipelukan kanannya, yah benar! Tidak salah lagi. Dulu dia mantan teman tidurku di Den Haag, matanya berkedip sedikit nakal denganku, sayang Willy tidak menyadarinya, aku melupakan namanya, tapi aku tidak melupakan caranya menservice. Aku tersenyum tipis menjawab kedipan matanya. Pesonanya tidak secerah dulu. Tangan willy merayapi tubuhnya yang mulus itu, sepertinya wanita itu tidak menampakkan kegelian. Yah tentu willy tidak sepintar aku. Michael menyapa Willy dengan “senang berkenalan dengan anda!” mereka saling berjabat tangan “yah,begitu juga dengan saya!”. Aku menyahut singakat dengan tertawa “ahhh…sudahlah kalian terlalu resmi!malu dengan baju yang kalian kenakan” kami berhamburan meninggalkan Willy. Michael mengajakku duduk di sebuah meja yang sepertinya ada dompet milik kekasihnya.tapi wanita itu tidak sedang ada ditempatnya.
“kau hebat, bahkan lebih terlihat hebat di pesta ulang tahunmu! Tumben sekali tidak ada dayang dayang yang menemanimu!” sahutnya.”aku dengar hotelmu yang di singapura berkembang pesat, apa disana juga ada casino?” suaranya terdengar penasaran. Dadanya sedikit membusung lalu menganggkat gelas minumannya untukku.
“tidak aku tidak pernah memiliki casino, kalaupun ada casino didalam hotelku seperti yang kau lihat di las vegas , itu bukan milikku, hanya milik seorang teman yang mengadakan kerja sama, itupun hasilnya tidak masuk dalam kantongku!” aku menyahutnya tanpa melihatnya, aku sibuk mengawasi gadis yang membuatku penasaran. Kacamata hitam yang aku kenakan cukup membantuku terlihat agak nyaman, tanpa Michael bisa mengawasi gerak bola mataku.
“yah aku tahu soal itu! By the way apa prospekmu kedepan!project apalagi yang kau sumbangkan ke dunia malam”
“entahlah, aku hanya ingih menata hidupku menjadi lebih baik!”
“jangan katakan padaku ini soal wanita!terdengar klise” sat dia meragukan itu, semuanya tertawa mengejekku tanpa terkecuali
“belum!” aku menyahut dengan menjawab seadanya sesuai kondisiku. Dia hanya tersenyum dengan nada tidak yakin. Aku masih mengamati wanita itu, dia pandai sekali berenang, beberapa pasang mata lainnya pun mengawasinya, mungkin mereka sama penasarannya denganku tak terkecuali Willy, Doni dan Prapto. “ohhh mana kekasihmu!” tanyaku penasaran
“nanti kau akan melihatnya, kami akan menikah beberapa bulan lagi, dan kuharap kau tidak melewatkan pesta kami, kau akan masuk dalam daftar list nomer satu tamu spesialku!”
“aku menunggu!” Michael tersenyum tapi tidak memandangku, entah dengan siapa senyum busuknya itu. Yang jelas itu bukan senyum khas yang biasa dia gunakan saat bersamaku, tapi mataku tetap masih mengawasi gadis itu, aku merasa kesal ketika seorang pria tanpa sengaja menyentuh kulitnya saat seorang wanita lain yang mengenakan bikini bermotif red leopard hampir saja terpeleset dan masuk kedalam kolam, gadis itu menolongnya dan pria itu berkesempatan meraih lengannya. Aku dan Michael melirik orang yang sama, yah aku belum yakin dengan ini semua, tapi yang jelas perasaanku mulai tidak enak, tapi aku senang bisa membuang waktuku melihat sosok yang mencengangkan dengan senyumku yang tulus. Astaga, aku tidak mengira senyumku begitu mudah memancingnya sejauh ini, langkahnya semakin mendekat berjalan melewati kerumunan gadis gadis berbikini dengan animal print bermotif phyton,chita ataupun cougar dan tigris. Uuhhh, gerakannya begitu dinamis nyaris sama seperti model yang berjalan diatas catwalk, tidak berjalan melambai. Yah benar…dia terlihat tidak seperti wanita yang biasa selalu bersamaku, kini tinggal beberapa langkah lagi berada didekatku, tapi aku berusaha keras menahan nafsuku untuk tidak mendahuluinya menyapa ataupun meraih tangannya yang sudah sedari tadi begitu ingin aku raih. Come..come..on my lady kataku dalam hati tidak bergeming, pikiranku sudah mulai nakal membayangkan tingkah lakunya. Baru kali ini jantungku berdetak ketika ada seorang wanita yang akan menghampiriku, beda! Dia beda!sangat berbeda. Kini arah pandangan itu tidak lagi lurus menuju ke arahku, meskipun kakinya terus melangkah kedepan, dan ke kiri sedikit miring ke arah kanan, terus teratur dan pasti, aku tidak menoleh ke arah mana dia menghampiriku. Karena aku masih saja berpura pura dingin seperti mayat hidup, tapi yang jelas dan sudah pasti dia tidak akan datang menghampiri kursiku, semuanya telah lewat begitu saja bersama angin. Yah kini dia sudah ada dalam pelukan Michael dan… bangsat!! Sial…
“sayang, kenalkan dia teman bisnisku, tepatnya dia sahabat kecilku!”
“halo Damar, senang bisa mengenal anda, Aida” tangannya lebih dulu “hotel anda sangat mewah!” jawabnya seolah olah gaya bicaranya mengatakan kalau dia sudah memenangkan pergulatan emosi bersamaku
“yah kita serasa tinggal di Miami !” sahut Michael menghirup napas dalam dalam dan mencium leher gadis itu.
Aku hanya bisa tersenyum lemas, aku sakit hati yang mulai meradang. sangat susah mengakui kekalahanku walaupun aku belum kalah secara garis besar. Dengan terpaksa aku menjabat tangannya tanpa nafsu, melepas kacamataku, aku mengizinkan dia untuk mengangumi ketampananku. Semoga ada sihir yang bisa menjebaknya dalam pelukanku.
“senang berkenalan dengan anda Aida” aku menyahut dengan suara datar, aku akui aku sedikit frustasi, ternyata aku salah menggambar mangsa. “silahkan kalian menikmati, semoga ini bukan acara yang mengecewakan , anggap saja semua milik sendiri. Tidak ada syarat dan ketentuan untuk mencobanya”
Mereka tersenyum, dan seseorang dari belakang menyapaku langsung lalu merangkul pinggangku. Aku lupa siapa namanya hanya sekedar berpura pura, tapi aku mengingatnya.
“hallo Dam ,ternyata kau disini, aku pusing mencarimu”
“oh hey manis!” aku mencoba mengambarkan dengan mengeryitkan dahiku mengingat namanya tapi gagal.dia terlalu pintar
“PAULA!”nada suaranya begitu ditekankan, mungkin dia tahu kebiasaan burukku mengingat nama. Memori pendekku tida ada dalam daftar ini. Aku terpaksa merangkulnya balik. Mencoba membunuh pikiranku tentang AIDA. Yah ternyata satu menit berlalu aku masih mengingat namanya. “ayo Paula kita cari minum, jangan ganggu mereka” aku mengedipkan mata pada Michael, dan Aida oh sayang aku susah sekali meninggalkanmu. Berat sekali.
“thank you, bersenang senanglah kau!” tertawanya meledak ledak, Aida mencubit perutnya, mungkin dia risih mendengarkan percakapan kami. Atau mungkin dia risih melihat penampilan Paula yang seperti gadis Hawai dengan bikini yang sangat minim dengan motif pow prints warna putih. Bagiku itu sudah membosankan. Paula menggiringku berhenti disebuah meja bar yang tertata didekat ujung kolam arah keluar menuju pantai.
“whiskey on the rock, double? Masih ?” Paula menanyakan hal yang biasa aku lakukan. Dan dia mengatakannya pada bartender dengan arah mata nakal menatapku.
“triple sayang!”jawabku berusaha menjelaskan
“ada masalah?” dia berusaha menjelasakan rasa penasarannya.
“tidak, tentu saja tidak!” aku berusaha membohonginya “apa aku hanya boleh minum bila ada masalah?”tanyaku sedikit retoris. Meskipun aku tidak tahu apa masalahku sebenarnya. Kami lama mengobrol, dan sedikit flash back tentang kisah kami sepuluh tahun yang lalu. Awal aku mengenalanya Dia adalah seorang model kesayangan disebuah rumah mode di singapura. Tapi sekarang dia sudah memiliki rumah mode di korea . Dia menikah dengan seorang pengusaha berskala besar di dunia fashion. Yang pasti mereka belum memiliki anak. Paula banyak bercerita tentang jatuh bangunnya hingga sekarang dia bisa meraih keberhasilannya. Sesekali aku menggodanya tentang kegiatan ranjang kami dahulu, dia paling nakal diantara yang nakal yang pernah aku kenal. Aku terkesima, perjuangan yang hebat walaupun memalukan untukku
“kudengar kau semakin banyak koleksi?” sahutnya
“gossip! Aku hanya pekerja keras,banting tulang!”
“hohoho…benarkah?ooohhhh I see! Wuuhh…kau masih pria yang aku kenal dulu, yah walaupun hatiku pernah terluka!”
“ah…kau tidak menyukaiku, aku hanya mainan untukmu?” aku menyahutnya, aku tidak yakin kalau dulu dia mencintaiku. Meskipun aku sempat tergoda ingin menikahinya. Tapi aku justru mundur teratur dan pasti.
“kau membosankan!”
“kau juga!kau tahukan saat itu aku masih lugu!” seketika itu dia memuntahkan tequilanya ke bajuku”sial!” desisku. Aku marah kecil, tapi langsung tertawa kencang.
“mari kita keruangan yang sedikit tenang!” aku mengajaknya meninggalkan kegaduhan.
“apa aku harus mencuci bajumu?” nadanya terdengar menggoda
“aku lebih suka bila kau membersihkan tubuhku dengan lidahmu yang sexi itu!” aku balik menantangnya. Dan sepertinya kami tergoda untuk mengulangnya. Kami berjalan menerobos masuk kearah taman menuju lobby, dengan percaya diri yang penuh, Paula melenggang bak model yang berjalan diatas catwalk, walaupun hanya mengenakan bikini tanpa kain selembarpun untuk menutupi g-string yang dia kenakan. Semua mata pria memandangnya, hanya karyawan saja yang enggan menatapnya. Mungkin Karena aku berdiri disampingnya. Dan kebetulan sekali Hans lewat didepan kami ketika kami ingin masuk ke dalam lift yang sama. Hans menepi dan ingin mundur dari pintu lift, mungkin dia sedikit enggan. “masuk saja Hans, biasa saja, kami cuman teman! Sahabat ” aku menjelaskan. Paula tidak terima aku mengatakan itu”teman ranjang”sahutnya. Hans tersenyum malu“baik Pak!mari bu!” dan Paula menggeram sambil meremas pantatku “kau!awas” dia berbisik sedikit menggeram. “apa aku harus menjelaskan pada Hans kalau kau teman ranjangku, atau istri pengusaha yang sedang ke Indonesia untuk mencari mantan selingkuhannya?” aku berbisik pelan, dia semakin meremas pantatku, sepertinya Hans risih mengamati suara kami lewat pendengarannya, walaupun matanya tidak melihat. “maaf, saya sudah sampai” sahutnya saat pintu lift terbuka, dia keluar sambil tersenyum ramah. Secepat kilat aku memojokkan Paula di sebuah sudut lalu kulumat habis bibirnya yang sexi hingga dia sedikit mengerang saat aku mencium dadanya. “astaga, kau masih seliar dulu” dia terus membalas ciumanku dengan lebih agresif, tapi saat lift terbuka, salah satu kancing bajuku terlepas, dan salah satu tali celananyapun terlepas, kami sibuk membetulkan pakaian, ketika ada seorang Guest masuk kedalam lift, kami terpaksa menahan tawa saat guest tersebut matanya terbelalak melihat bagian tali celana Paula yang terlepas,wanita tua itu nyaris lemas dan terlihat terburu buru keluar dari pintu lift. Beruntung dia tidak mengenalku. dan ketika wanita tua itu keluar tawa kami langsung meledak ledak. Gairahku tiba tiba saja kembali meningkat, seperti torpedo yang bergerak di dalam air, begitu kencang dan kuat. Aku suka adrenalin seperti ini. Aku meminta seorang waiter yang kebetulan lewat di koridor depan kamarku, “tolong hidangkan dua lobster pedas dengan caviar yang paling mewah, bilang pada chef mu, Damar memesan ala thanksgiving amerika! Ingat jangan salah!” waiter itu sibuk menaruh trollynya di sebuah sudut, tanganya mencatat rekaman bibirku yang baru saja dia dengar ke sebuah buku kecil yang ada didalam saku bajunya. “kau paham?” sahut Paula sambil tangannya menyambar sebotol brandy yang masih utuh bersegel diatas trolly. “very well madam!” sahut waiter itu dengan senyum. “satu lagi, jangan kau kirim menu itu sebelum aku memintamu untuk mengirimnya, dan satu lagi hidangkan ketika panas dan asapnya masih mengepul, aku tidak suka masakan dingin. Dan tolong jangan ada yang mengetuk kamarku satu semutpun” aku sedikit membentaknya, mungkin karena aku mabok. Kami meninggalkannya pergi menuju dapur. Yah aku mengajaknya ke kamar president suite yang telah aku pesan pada Hans tadi siang. Paula langsung berhamburan kedalam tanpa busana melepas bikinya satu persatu, dia begitu bebas berjalan tanpa rasa malu, dan aku hanya langsung menidurkan tubuhku ke atas ranjang yang besar, membiarkan Pula membelai tubuhku. Disanalah kami mengeksploitasi semua gaya untuk memuaskan hasrat kami, hanya sekedar ‘REUNI’ itulah hubungan kami saat ini. Tidak ada cinta yang jelas. Hanya rasa rindu saat kami memainkan permainan lama.
“kau akan puas denganku, dan aku yakin kau pasti sangat merindukannya!”
“you know me so well baby!”
Tidak ada lagi kata kata setelah itu, hanya gerakan yang sangat energik membangkitkan gairah kami semakin dalam, kami menggali terus menggali dan menggali area G-spot. Dia memang panas, gadis terpanas yang pernah aku kenal, tidak salah bila suaminya memberikan apa saja keinganannya kalau servicenya semacam ini, dia sama sekali tidak memberiku waktu untuk bernafas. Aku suka, aku geli saat dia merayapi tubuhku dan menjelajahi setiap inchi kulit dengan potongan ice cube. Kami bergantian memberikan stimulus. Dan kini giliranku. Aku tidak mau kalah dengannya, aku meneteskan satu gelas sake yang berisikan madu diatas tubuhnya, aku memintanya agar dia patuh, ketika aku membersihkan madu itu dengan lidahku, dia hanya bisa mengerang tanpa bisa bergerak karena kedua tangan dan kakinya sudah kuikat dengan underware kami. Aku tertawa lepas,ketika dia berteriak dan semakin mengerang minta ampun, sata aku kembali menggigitnya pelan dan sedikit demi sedikit hingga tubuhnya menjadi merah, astaga semoga itu tidak membekas!. Aku kembali tertawa, dan mengabulkan ampunan.
“Dam…Dammy stop it please, Dam…lepaskan,aku tidak lagi bisa menahan ciumanmu! aKu mohon Dammy”
“ayolah sayang, aku masih punya banyak sesi disetiap adegan”
“please, aku seperti kehabisan nafas.kau bisa membunuhku”
Sambil tersenyum pelan aku melepaskan ikatan itu satu persatu, tapi dia justru membalasku, dia kembali duduk diatas perutku siap kembali mengikat kedua tangan dan kakiku seperti yang aku lakukan sebelumnya
“jangan protes!ini balasan” bentaknya, dia meninggalkan aku berlari menuju ruangan lain entah apa yang dia cari, aku berteriak memanggil namanya dan dia hanya menjawab ”tunggu Dammy, kau pasti menyukainya” pikiranku kembali membayangkan apa yang akan dia lakukan padaku. Ternyata dia kembali membawa beberapa jepit baju dan langsung menjeputkan pada dua puntingku “sial!” desisku, dan dia tersenyum”ternyata kau masih menyimpan barang ini”, aku masih ingat kau akan selalu kegelian dengan cara yang seperti ini, Paula kembali mengenakan sepatu high hiilsnya dan langsung meletakkan satu kakinya ke arah perutku tanpa rasa sakit, karena dia tidak menekankan beratnya, dia hanya menggerak gerakkan arah kakinya dengan pelan sehingga itu menggundang rasa geli yang luar biasa bila dia menggerakkan diatas pahaku. Yang tidak terpikirkan olehku darimana dan kapan dia menaruh jepit baju yang biasnaya dia gunakan dulu. Lima belas menit dia berjalan diatas tempat tidur dengan gaya yang menantang, serasa aku budaknya yang siap dia cambuk bila aku menolak ajakannya. Dia kembali berganti gaya dengan menuruni ranjang dan mengambil beberapa cutlerys yang sudah di rendamnya kedalam mangkuk perak yang penuh dengan ice cube dan meletakkan begitu saja ke beberapa bagian tertentu disekitar area vitalku. Benar benar sensasi dingin yang membangunkan Mr happy.
“kau pasti suka yang satu ini!” dia senang ketika aku benar benar menggeram “dingin sayang?” sahutnya puas “yah itulah yang aku harapkan!”. Aku hanya bisa terdiam menahan ketika dia terus merangsangku. Kukunya sibuk menggaruk paha, ketika sendok, garpu dan pisau yang sudah sangat dingin itu diletakkan pada kulitku, rasanya seperti mengejang. Aku berhasil melepaskan ikatan tanganku tanpa dia sadari, dan aku langsung menerkam dan membantingnya di ranjang, aku melakukannya tanpa ampun, dan sepertinya teriakannya cukup kencang ketika aku menjambak pelan rambutnya, dan terus menyerangnya, hingga beberapa menit kemudian kami sama sama puas dan terdiam dalam pelukan. Kami tidak berbicara, aku menghujaninya dengan ciuman. Hanya nafas kami saja yang berlomba mencari udara, detak jantung kami berdetak begitu kencang, cukup kencang. Nafas tersengal seperti orang yang baru saja lomba lari. Kami letih,berkeringat, dan beberapa aroma parfum dan keringat juga sperma bercampur jadi satu, tubuhku terasa lengket, aku malas untuk bangun, aku tidak tega saat melihat tertidur dalam pelukanku. Aku mendengar suara geteran ponsel, entah suara ponsel siapa yang bergetar, aku tidak mencoba untuk meraih dan mengecek siapa yang sibuk mengganggu kami. Mataku terasa berat, dan kami tertidur.
Ketika aku terbangun, aku sudah tidak melihat batang hidungnya. Dia tidak meninggalkan satu pesanpun, hanya saja satu menu hidangan lobster dan caviar sudah ada di meja. Dia menyelimutiku dengan selimut hangat, aku rasa dia meninggalkan aku setelah aku tertidur pulas, aku yakin dia meninggalkan aku. Ketika aku berulang kali meneriakkan namanya, dan dia tidak menjawab satu kalipun. Aku meloncat untuk kembali mencarinya ke setiap sudut kamar, yah sebelum pergi dia sepertinya terlebih dulu mandi dan meniggalkan bikininya dia atas meja makan. ‘DASAR’ kelakukannya belum berubah meskipun sudah punya satu anak gadis dari suaminya yang kedua. Wajah anaknya secantik wajahnya, tapi sayang bola matanya sangat sipit seperti ayahnya. Maklum ras china memiliki gen yang lebih dominant. Aku membuang bikininya ke tempat sampah yang ada di ujung pintu kamar mandi, aku tidak perduli walaupun bermerk PRADA, aku hanya menikmati hidangan caviar dan lobsterku dengan tenang, dan sesekali mengecek email, sudah ada seratus sepuluh email yang masuk dan belum aku jawab sejak tadi siang. Aku hanya menyensor beberapa email yang terformat penting, aku hanya ingin membaca email dalam konteks bisnis bukan yang lain. Satu email membuatku terkejut ketika dia memberiku ucapan selamat ulang tahun, dan ketika aku buka. Aku hanya bisa membaca tanpa berusaha untuk menjawab emailnya walaupun sebatas ucapan terima kasih. Cukup ‘thanks’ dalam hati karena engkau masih mengingat hari ini adalah ulang tahunku. Lama terdiam didepan I-mac membuatku menjadi pusing, aku kembali mengamati para tamuku yang sudah kembali sibuk dengan gaya dan busana yang berbeda dari sebelumnya, malam ini semua terlihat resmi, tentu saja dengan baju pesta dan perhiasan yang serba mewah dan mengkilat. Sekian banyak wanita mengenakan perhiasan yang terlalu over, dengan baju panjang dengan yang memamerkan belahan dada yang padat ataupun sobekan kain disekitar paha. Menggiurkan. Aku masih disibukkan mencari wajah Aida, astaga aku masih mengingatnya setelah beberapa jam berlalu. Untuk pertama kalinya aku mengingat nama wanita lebih dari beberapa jam setelah nama Utari, bahkan nama Paula baru siang tadi aku benar-benar paham nama panjangnya. Mungkin karena ‘SERVICE’ yang fantastis. Aida dimanakah kau berada, kenapa Michael lebih dulu mengenalmu daripada aku. Karena dikejar rasa penasaran, aku kembali merapikan diri, dan sengaja aku memilih tuxedo berwarna putih lengkap dengan atribut selembar kain yang aku sisipkan di saku atas sebagai pemanis. Dan kupilih warna biru mengkilat berbahan sutera. Aku memilih koleksi HUGO BOSS mulai dari tuxedo,sepatu , jam tangan hingga kacamata. Aku hanya ingin terlihat lebih sederhana dari penampilan glamour yang biasa aku tampilkan.
Sambil berjalan santai aku sibuk mengawasi dimana Aida terdiam, kupasang radar yang cukup tinggi untuk mencari bayangannya, tidak cukup bila aku hanya menggunakan GPS. Aku kembali bertemu dengan Paula, yang super sexi malam ini. Yah dia mengenakan stilettos berwarna blue ice dengan baju yang super mini berwarna biru menyala, lipstick merah yang mengkilat, dan rambut yang tergerai, dan tiba tiba saja dia….
“hello my prince, happy birthday to you, aku sudah memberimu hadiah yang sangat memuaskan bukan, maaf bila aku menelantarkanmu!” dia berdiri tepat didepanku,memamerkan pahanya yang licin. Segelas anggur di sodorkan padaku, diwaktu yang sama aku kembali menangkap bayangan Aida dari kejauhan, persisnya dia berdiri didepan ice carving bertuliskan namaku. Mataku tidak sanggup bergeser sedikitpun. Dia berdiri mengenakan gaun cocktail berwarna bright white berbahan brokat, tubuhnya terbungkus sexi, rambutnya tersanggul rapi. Hatiku sibuk memanggilnya, tapi sepertinya dia tidak mendengar.
“aku lebih menyukai white wine!” sahutku dan aku meninggalkan Paula begitu saja, berusaha mencari jalan pintas untuk mendapatkan Aida. Sayang gagal, ditengah jalan ada wanita genit memanggilku.
“Damar…Damar sayang…tunggu, aku lelah mencarimu” dan kini tangannya sudah ada diatas bahuku, dan membalikkan tubuhku begitu tangkasnya.
“halo, Mitha sayang. Kau tampak cantik malam ini!” jijik aku mengatakannya, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak ingin terlihat kasar dimata perempuan
“kau kemana saja,namaku pinky bukan Mitha!!! sudah dari tadi pagi aku sibuk mencarimu, dan kau menghilang begitu saja ditelan bumi”
“astaga..kedengarannya terlalu seram!sekarang aku sudah didepanmu,apa yang kau inginkan Mitha! Oh..pinky sayang” mataku masih mengawasi Aida yang kini sudah berpindah memperhatikan aku, alangkah senangnya hatiku. “anyway,nikmati saja pesta ini,anggap saja ini pestamu juga! Baiklah sayang,tolong berikan aku jalan!” kali ini aku melewatkan wanita itu begitu saja.
“tidak..kau harus berdansa terlebih dahulu denganku,sebelum kau mencari wanita lain!”
“oh sayang,tidak ada wanita lain…aku hanya sibuk menjamu tamu, so please berikan aku waktu. Katakan berapa nomer kamarmu” senyumnya mulai merekah ketika aku mengatakannya “upss! Aku tidak bawa pena, tolong kirimkan pesan !berapa nomer kamarmu” aku mencium bibirnya, sedikit melumat lipstiknya sebelum aku meninggalkannya untuk mencari Aida. Ahh Pinky terlalu nafsu malam ini,membuatku muak. Oh Aida cepat sekali kau menghilang,kau dimana sekarang, ayolah aku ingin bicara sebelum Michael menemuiku. Ketika orangku mencariku aku ingin mereka mencari tahu dimana keberadaan Michael dan siapa Aida.
“ingat, jangan sampai Michael mencium ini semua. Kalian aku pecat kalau itu sampai terjadi”
“baik Tuan!”
“pergi sana !”
Mereka meninggalkan aku begitu cepat, mungkin sibuk mencari setan.
Sosok Aida sudah kembali aku temukan, kini dia berdiri di sekitar dance floor, namun dia terus berjalan melewatinya, aku mencoba mengikuti langkahnya, Aida berjalan maju hingga dia memasuki area lobby dan kini berjalan menuju gallery lukisan, disana begitu sepi, karena kebetulan tidak ada guest yang menikmati pameran. Aku sengaja pergi menghampirinya. Sekedar untuk mengobrol dan menikmati keindahan duniawi. Nampaknya dia sedikit terkejut akan kehadiranku.
“seharusnya anda berada ditengah tengah para undangan. Ini pesta anda. Harusnya anda membaur” sapanya bernada retoris.
Aku tersenyum lebih cerah, suaraku menggema di dalam ruangan. Aku tidak sadar kalau dia menyadari bahwa aku telah mengikutinya. Aku terkesan
“aku hanya ingin memastikan,kalau anda nyaman dengan jamuan makan malam”aku meneruskan kalimatku sebelum dia berhasil menjawab.
Punggungnya berputar dan berjalan ke arahku, aku siap bila dia hendak menciumku, sayangnya dia berjalan melewatiku dan berhenti disebuh ujung lukisan karya basuki abdullah.
“saya sangat nyaman dengan pesta anda,emmm.. hanya saja saya kurang senang dengan hiruk pikuk pesta, terlebih kalau saya seorang diri”
“benarkah” dimana Michael, aku mulai memikirkan itu. “bukannya anda berdua”
“Michael! Oh yah kami berdua, tapi dunia kami berbeda, begitu juga dengan selera kami. Seleranya sama persis dengan anda?”
“benarkah” aku begitu penasaran dengan ini semua, betapa bodohnya pria itu, tunanganya dibiarkan berkeliaran seorang diri. Rusa cantik seperti ini tidak bisa untuk tidak aku simpan. Tapi ini rusa pintar, dia tidak mudah untuk ditangkap, aku tidak yakin kalau aku lincah melompat, pastinya nilai lompatannya pasti superior terlebih ada harimau seperti aku yang berdiri tenang menunggu kelengahan. Ini pasti mengesankan buat teman gulat “harusnya kau menemani tunanganmu”. Dia hanya tersenyum sinis saat aku mengatakan kalimat itu. Dan kembali mendekatiku
“kata Michael, anda memiliki banyak kekasih dan penggemar yang membuat anda susah bila harus memilih salah satu diantara mereka?”senyumya merekah tapi sinis dan begitu flat aku terkejut mendengar kalimatnya dan sungguh membuatku geli hingga aku kesusahan menahan tertawa.
“dan kau percaya!” aku kembali bertanya sinis
“aku sudah melihatnya” suaranya terdengar antara kagum dan jijik.
“kau hanya mengetahui luarnya saja, kau belum mengenalku. Jangan terlalu melihat sesuatu dari covernya saja, dimana anda mendalami ilmu, saya dengar anda seorang archeolog” wajahnya kini menatapku begitu melekat, mungkin dia mulai tertarik dengan pertanyaanku.
“oh ya, ternyata dia menceritakannya pada anda!” sanggahnya
“ah tidak, saya pernah melihat foto anda disalah satu media massa . Tajuk keren ini banyak mengeksploitasi penemuan anda. Bahkan saya pernah membaca kalau pemerintah jepang menginginkan beberapa benda purbakala yang mereka claim atas nama laksamana Maeda untuk dikembalikan dengan kebijakan pemerintah Negara kita” dia tersenyum, dan senyumnya sangat manis, membuat bulu kuduku berdiri, bajunya begitu sopan, make up terlihat natural tapi glossy yang jelas dia sangat terlihat segar, aku mencium aroma orange HUGO BOSS. “brokat anda terlihat mewah,anda terlihat anggun malam ini dan anda sangat terlihat sporty tadi siang” pujiku sesuai dengan apa yang aku lihat. Dan sepertinya dia malu atas pujian itu.
“terimakasih pujiannya, penampilan anda juga terlihat sempurna untuk sebuah obyek?”
“oohh…biasa saja” aku merasa tinggi atas pujiannya
“oh..tentu harus didukung penampilan sempurna bila ingin meraih beberapa wanita disebuah pesta yang megah”
Ah sial, ternyata dia menyindirku sinis… Bengis. Aku mencoba mencairkan suasana bersamanya
“apa kita bisa merubah topic”
“bagaimana kalau kita kembali ke pesta, sepertinya saya merasa kehausan, sedikit buah plum bisa membuatku terasa segar” dia berjalan meninggalkan aku, dan aku hanya bisa mengikuti langkahnya menuju garden party. Kami berjalan beriringan. Sesampainya disana aku tidak lagi bisa menemui Aida, dia menghilang begitu saja, ketika seorang DJ memanggil namaku, beberapa sorot lampu kamera membuatku silau. Disana aku memberi beberapa ucapan terimakasih untuk para undangan. Mereka bersorak sorai, dari atas panggung tidak aku jumpai Aida, seharusnya dari atas sini aku mudah menjumpai bayangannya. Tapi tidak dalam wujudnya. Willy sibuk dengan dua wanitanya, Paula, Pinky, Hendra, Tony, dan semuanya, beberapa aktifitas telah aku jumpai, hingga beberapa menit kemudian aku menjumpai Aida berada satu meja bersama Michael. ‘sial’ mereka sudah bersama. Sial juga bagiku, kenapa aku tidak bisa meninggalkan bayangan Aida. Aku berhamburan turun dari panggung, bergabung di beberapa meja panjang, yang memang menuntut kehadiranku untuk menjamu para tamu, dan ketika aku sampai pada kursiku, segerombolan chef membawa beberapa menu utama di masing masing meja. Dan gadis yang aku jumpai tadi siang di hot kitchen kini sekarang berada disampingku, menaruh sebuah piring besar berisikan lobster yang cukup menggiurkan dengan aroma khas butter dengan bumbu saos merah yang dari baunya saja sudah terasa begitu pedas sempurna. Yah baru aku ingat kalau namanya adalah Dita,ketika aku membaca name tag yang di pasang pada dada sebelah kirinya.
“thank you Dita” aku berusaha menyapanya, agar dia tidak tampak terlihat tegang dan terlalu serius. Sorot mata willy mengarah kepada Dita dan kami hanya saling tersenyum, aku memberikan kode agar dia tidak menggoda Dita. Willy hanya menggeleng sambil mengumpat ‘shit’
“selamat menikmati Pak Damar” dia pergi, dan tanganku sudah tidak bisa menjangkau lengannya, aku hanya ingin meminta tambahan butter untuk lobsterku. Tapi Muchlis, sepertinya tahu apa yang aku inginkan. Dia menyodorkan dua buah butter di sebuh piring kecil untuk main dish.
“thanks!”
“your welcome sir” sahutnya. Kami tertawa terbahak bahak,di mejaku masih ada beberapa kursi kosong, dan secara resmi aku meminta agar Micheal dan Aida bisa menemaniku, tentu saja itu memudahkan aku melihat tunangannya. Yah rencanaku berjalan mulus ketika mereka bersedia pindah satu meja bersamaku dan yang lain. Aku juga meminta Paula untuk kembali duduk bersamaku, seharusnya itu tidak penting, tapi aku tidak mau dikatakan lelaki bodoh itu saja, aku juga tidak mungkin menyuruh Dita mengganti seragam kerjanya dengan gaun pesta yang glommy untuk duduk disampingku, bukan aku bila aku harus mengencani salah satu karyawaku sebagai teman ranjangku. Aku tersenyum membayangkan kegelian ini. Aku berusaha untuk tidak tampil bingung atapun tidak nyaman,meskipun itulah kondisiku sebenarnya. Kami tertawa dan saling bercerita dengan banyak pengalaman hidup, yah canda tawa begitu riuh, hanya Paula saja yang bisa menarik perhatian banyak Pria yang ada dimeja ini, tentunya selain otaknya yang pintar dan culas dia juga sangat sexi dan sintal, terlebih banyak pengalaman yang luar biasa yang sedang dia ceritakan malam ini, meskipun terkadang dia terksan terlalu mendramatisir cerita. Yang jelas dia tidak sedang menjatuhkan aku. Dan bila itu terjadi aku tidak akan segan-segan meninggalkannya ditengah hutan yang sudah aku sebari ratusan serigala untuk mengoyak tubuhnya yang mulus itu. Sesekali waktu aku hanya memperhatikan Aida yang hanya tersenyum tipis dalam tampilannya yang anggun, dia bersinar seperti dewi malam menerangi meja yang temaram. Oh kenapa semua terasa berbeda, dia bisa membuatku tertunduk malu. Michael sibuk menikmati vodka yang ada didepannya, aku hanya tersenyum jijik melihat tingkahnya. Aku tidak menyangka bila Michael teramat sangat menyukai Vodka.
“oke guys, nikmatilah malam ini, kalau ingin hiburan malam yang sesungguhnya silahkan datang ke basement menikmati dirty dancer, aku menyewa mereka dari maroco,dan beberapa menu ala nyotaimori. Untuk menu sushi aku jamin masih sangat segar dan untuk gadis gadisnya aku datangkan dari scotlandia, mereka salah satu pegawai club di Scotland milik Abraham. Dan hiburan for ladys, silakan menikmati beuty spa di LADYS KINGDOM . Temukan saja gaya kalian malam ini”
“woaahhh…cool” semua tertawa dan bertepuk tangan semeriah mungkin, aku tersanjung dengan riuhnya malam ini
“well selamat menikmati, pilihlah kamar yang kalian mau, to night is yours!”
“mereka pelacur yang sangat laur biasa servicenya, benar benar kinky!” aku hanya mendengar, tapi aku tidak tahu persis siap yang berbicara,kalimat pelacur terdengarannya kasar.
“mereka bukan pelacur”sahutku, aku kurang suka dengan kalimat itu “mereka hanyalah wanita pecinta gaya hidup dan gairah dunia malam” hampir semuanya tertawa bersamaku kecuali Aida.
Beberapa orang berhamburan ke tempat yang sudah aku tawarkan, Paula hanya tersenyum dan meninggalkan aku, Michael mengucapkan perpisahan lalu meninggalakannya seorang diri dengan satu kecupan mesra di bibir merahnya. Membuatku merasakan mulas. Aku masih terdiam mengawasi Aida yang masih duduk menghabiskan rum dalam gelasnya. Dari kejauhan Michael berteriak memanggilku
“Dammy..aku menunggumu di basement”
“aku akan segera menyusul kalian” aku meneriakkannya dari jauh. Aku tidak yakin aku mau menemaninya. Aku lebih memilih menemani tunangannya di dalam sebuah ruangan yang cukup private ataupun dalam ruangan kecil dan pengab sekalipun. Aku ingin belajar mengenal sebidang sarkofagus dan tentang ilmu prasejarah ataupun tentang beberapa fosil dan punden berundak undak. Aida tersenyum,mungkin dia mengejekku. Ternyata tidak.
“satu hal yang tidak aku suka dengannya adalah dia terlalu menyukai striper”
Aku trediam mendengarnya, tidak ada yang bisa aku komentari. Accentnya terdengar kaku. Ternyata selama ini aku juga salah tentang Michael, dia bukanlah pria yang setia seperti yang aku duga. Suaranya terdengar pilu saat menarik nafas begitu panjang sebelum dia mengeluarkannya pelan-pelan.
“maafkan aku!” aku menyesal
“bukan masalah, anda adalah tuan rumah, dunia anda adalah entertainment, dan itu wajar. Saya tidak menyalahkan anda. Dan ini juga bukan urusan pribadi saya.maaf bila membuat anda terasa membosankan”
“hmm, senang bila bisa menjadi teman anda. Bagaimana kalau kita menjauhi gemerlap malam ini. Emmm, tenang saja…saya masih punya tempat nyaman yang saya yakin anda pasti menyukainya”
“oohh benarkah, senang bila anda tidak keberatan untuk menunjukkannya pada saya segera mungkin” dia menarik kursinya lalu berdiri menerima ajakanku melihat tempat yang aku janjikan. tentu aku hendak mengajaknya kesebuah bangunan baru yang sebenarnya bangunan itu sendiri masih dalam tahap penyelesaian, atapnya belum terlalu sempura untuk dinikmati. Bangunan ini berada diluar gedung hotel, dan letaknya masih dalam satu area. Aku mengajaknya mengendarai mobil, aku tidak mau bila kakinya lecet saat mengenakan stilettosnya, aku begitu merasa frustasi bila tidak sanggup menyetuh punggung tangannya. Sebenarnya kami bisa melewatinya lewat sayap hotel sebelah kiri, tapi tidak. Aku lebih senang menempuh jarak jauh bersamanya walupun harus bertelanjang kaki. Awalnya mulutnya terdiam dan terkunci, aku yakin suasana hatinya tidak terlalu nyaman bersamaku, tapi sejauh ini aku selalu sopan, aku juga tidak berniat untuk memperkosanya. Meskipun aku sangat memujanya malam ini. Lima menit kemudian kami sampai disebuah gedung besar yang sudah aku janjikan. dan seorang bellboy menghampiri mobil kami dan membukakan pintu untuknya, aku melempar kunci mobil begitu saja kearahnya.
“terimakasih” sapanya pada bellboy
“malam Pak Damar” dia menyapaku dengan ramah, aku menggandeng tangannya seperti sepasang kekasih. Beruntung dia tidak melakukan pemberontakan sedikitpun.
“anda mengenakan HUGO BOSS!”
“begitulah!”
Dia tersenyum ketika aku menjawabnya datar, aku sengaja membuatnya sedikit penasaran, kini kami memasuki bagian dalam ruangan, sesampainya disini dia melepasakan tanganku, matanya menyapu setiap sudut ruangan, dan memuji beberapa koleksi baruku. Yah tentu saja dia menyukainya. Aku tahu
“wahhh bangunanmu bergaya bizantium, dengan indigo yang cukup mewah. aku serasa seperti memandang langit dengan mata telanjang, begitu indah begitu mengesankan” tangannya menjelajahi beberapa dinding yang sengaja aku ukir dengan model tulisan paku “oh Damar…aku seperti sedang berada di tengah taman Hamurabbi. Apa benar ini model tulisan hierogrip” Aida meyakinkan dirinya sendiri.Hatiku bergetar ketika dia menyebut namaku begitu sempurna, nadanya terdengar seperti simphoni.
“oohh..syukurlah kalau kau menyukainya” aku mengikutinya dari belakang, aku ingin sekali memeluknya, dan melemparkannya ke langit lalu segera mungkin aku raih saat dia jatuh dan kuhujani dengan ciuman mesra. Kepalanya mengangguk, dan dia terus menjelajahi dindingnya dengan arah memutar hingga dia menemukan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati berukiran khas dari daerah jepara. “siapa yang mendesign?” dia bertanya dengan nada penasaran
“aku!”
“oh,aku tidak percaya. Tapi aku sangat terkesan”
“terimakasih, mari aku tunjukkan yang lain” aku membuka sebuah pintu besar yang masih tertutup, yah… sedikit berat. Dan ketika dia masuk kedalam mendahuluiku, dia berteriak sekeras mungkin sambil menutup mulutnya, suara teriakannya menggema begitu keras dan kencang “aaaaaa….cantik sekali. Oh Mar..! Aku tidak bisa berkata kata lagi”
“eemmm, bangunan ini belum selesai,jadi kau belum bisa memujinya”
“tidak,tidak Damar, ini cukup mewah dengan gaya model bangunannya yang kau campur. Aku tahu ini memiliki unsur penggabungan beberapa kebudayaan timur tengah dan asia , disini aku merasa seperti sedang berdiri di Negara spanyol. Apa sebenarnya fungsi bangunan ini”
“yang kau pijak ini akan aku jadikan bangunan theather bergaya romawi, sedangkan ruangan yang ada didepanmu tadi, akan aku fungsikan sebagai mini museum dengan menampilkan beberapa benda benda purbakala yang bisa aku dapatkan secara legal, yah… meskipun aku merasa kesusahan berhubungan dengan MENPARPOSTEL. Dan ruangan yang ada didepanmu nanti dari penghubung pintu yang tadi kita lewati, akan aku gunakan sebagai ballroom yang bisa difungsikan sebagai gedung pernikahan dengan gayanya sedikit dramatis, niatku untuk lebih menekankan pada gaya arsitektur dan memunculkan unsure suci dan sakral”
“mengesankan”
“benarkah” aku terkejut ketika dia menarik tanganku begitu cepat, ada aliran listrik yang sepertinya siap membunuhku seketika bila aku atau dirinya tidak ada yang melepaskannya. Dia tidak menyadari itu. Aku sedikit menggeram menahan gejolak dalam darahku, ada unsur yang tidak biasa aku tahan, tapi kali ini aku harus kuat menahannya apapun yang terjadi.
“Mar, apa gedung ini sudah pernah dimanfaatkan sebagai fungsi yang sesungguhnya?”
“emmm,belum tidak ada guest yang berkunjung selain dirimu, yah hanya beberapa karyawan yang bertanggung jawab atas bangunan ini” aku mencoba menjelasakan yang sesungguhnya
“tapi ada beberapa bellboy didepan”
“aku menduga kau pasti menanyakan ini, mereka sebenarnya bukan bellboy, dan yang jelas mereka adalah security yang aku tugaskan untuk mengamankan suasana di daerah ini, mereka aku sewa dari angkatan darat”
“wow, yah kau harus melakukannya, sayang bila barang antikmu itu hilang”
“hmmm, aku sudah mengasuransikannya, aku juga sudah mengamankan surat suratnya, ada beberapa sensor yang berfungsi sebagai pengaman yang menghubungkan pada alarm dan monitor ke ruang departemen keamanan hotel” dia tersenyum, senyumnya menarik. Malam ini aku bertugas sebagai tour guide wanita cantik. suatu Kehormatan bila aku bisa menemaninya. Dia lebih terkesima ketika melihat gedung yang berfungsi sebagai gedung perkawinan, yah aku sengaja mendesignnya dengan gaya Maroco dengan banyak pilar yang aku liliti tanaman anggrek yang merambat di setiap pilar dan tembok. Kekagumannya membuatku bersemangat untuk menyelesaikan bangunan ini. Aku beruntung pernah mengajaknya mengenali bangunan ini.
“aku harap kau bisa merahasiakan tempat ini dari tunanganmu”
“tentu, tanpa kau memintanya aku akan tetap menutup mulutku tanpa imbalan satu peserpun”
“kau teman yang baik hati”
Kami tertawa bersama, dan aku mengajaknya duduk tenang disebuah mini perpustakaan yang mengoleksi beberapa buku biografi tokoh tokoh penyebaran agama islam dan kristiani, aku juga memiliki beberapa koleksi kasusastran pujangga serta beberapa syair dan gurindam cinta. Dia melihat cover koleksi dan mengamatinya satu persatu, hingga membuatku semakin mengaguminya. Aku merasa kami sedikit memiliki kesamaan soal selera. Tapi aku belum yakin dengan ini semua. Penyesalanku bertambah,kenapa bukan aku yang mengenalnya terlebih dahulu, andai aku bisa mengenalnya lebih dahulu daripada mengenal Utari, pasti aku sudah menikahinya dari dulu, dan tidak perlu menghabiskan keperjakaanku dengan banyak wanita dari penjuru dunia. Kami duduk disebuah kursi baca yang begitu empuk dan nyaman, aku menyalakan api unggun kecil, untuk menghangatkan kami, aku membuatkannya secangkir capucino dengan banyak taburan coklat granule dan sedikit bubuk kayu manis. Sepertinya dia nyaman, yah sangat terlihat nyaman ketika sepasang stilletosnya terlepas dari kaki dan mengangkat kaki tersebut ke atas kursi lalu menyembunyikannya ke bawah bokongnya. Aku hanya sibuk mengamati matanya, tanpa dia sadari. Aida terlalu asyik menenggelamkan diri dibalik buku syair William shakespare.
“Yah buku itu aku dapat ketika aku berjalan jalan ke London menemani seorang gadis tunarungu, dia sahabatku yang mengajari aku cara hidup yang sesungguhnya, dia mengajarkan aku banyak ilmu, aku mengenalnya ketika kami tanpa sengaja bertukar tas di bandara CHANGI. Kini dia meninggal dunia akibat kanker yang menggerogoti otaknya. Aku selalu mengenanganya dalam hatiku, dia wanita hebat yang bisa hidup dalam kekurangan fisik dan mempertahankan harga dirinya ketika seorang pria brengsek memperkosanya. Cukup pedih bila aku mengenang cerita hidupnya”.
“ohh maaf , aku tidak bermaksud membiarkanmu sedih!”
Aku terkejut mendengarnya, dia berhasil memecahkan keheninganku. Dan aku mencoba menjelaskan apa yang sesungguhnya aku pikirkan, aku mengenang sahabatku yang sudah meninggal, aku sangat menghormatinya sebagai wanita yang luar biasa. Dia terkesan sama terkesannya denganku. Aida menurunkan kakinya ke lantai lalu menutup bukunya dan mengembalikan ke dalam susunan semula. Kini dia mencari beberapa koleksi cd milik Mozart, lalu mengajakku berdansa. Aku bersemangat meraih tangannya.
“sepertinya kau bisa berdansa dengan musik yang beda millennium”
“ah tidak. Aku hanya teringat akan sosoknya, aku..aku begitu merindukan kepiawaiannya membuat syair disalah satu pagelaran seni di London !”
“maaf membuatmu sedih”
Kedengarannya kami mulai akrab, tidak ada lagi panggilan ‘anda’ yang ada kami menyebut nama masing-masing, kami bergantian bercerita, dengan mudahnya menjadi akrab tanpa batas. Tawa kami begitu tertuang tanpa lagi tertahan, kami bertukar nomer ponsel, hingga ke alamat email. Aku mengajaknya menikmati kolam ikan dengan air terjun yang indah dikelilingi bunga teratai disekitarnya, disana terdapat gazebo yang sangat kokoh berbentuk sebagai miniature taman babylonia. Kami kembali menyatukan irama dalam dansa, hanya suara angin dan gemericik air yang membuat kami berdansa dibawah sinar rembulan, angina meniupkan aroma tubuhnya yang sangat khas. Membuatku bergidik membayangkan imajinasiku yang mulai liar. Aku memeluknya erat, dan sengaja itu aku lakukan, walaupun pada awalnya aku menolak. Dia menidurkan kepalanya pada bahuku,kami merasa begitu dekat tanpa ada pembatas, walaupun aku sadar aku sudah melanggar etika bisnisku. Aku telah mencoba merayu calon istri teman bisnisku. Aku tidak kuasa menolaknya. Aku tidak punya daya memenjarakan pikiran bawah sadarku tentang gejolak ini. Aku mulai dibuatnya pusing, dan kini aku melakukan yang lebih dalam, aku mencoba mencium keningnya dan dia mengatakan ”kau sangat romantis, kalian berbeda” itu semakin membakar pikiranku,membuat kerongkongan ini mengering. Kami tidak lagi bisa mengontrol emosi dan kami seperti melebur menjadi satu,lipstiknya yang mengkilat kini luntur, aku telah melumat habis bibirnya dengan lembut, dan memang benar-benar kulit bibir Aida sangat lembut, aku begitu mabuk dibuatnya. Dia menelanjangi pikiranku dengan pesonanya yang anggun. Aku nyaris seperti keledai dungu yang siap untuk dikuliti seorang jagal cantik. Hingga pagi buta kami kembali ke hotel.
Sejak malam itu, aku merasa mabuk kepayang dengan satu nama wanita, aku berusaha untuk membuangnya dari pikiranku, aku berhasil hanya dalam waktu satu minggu, selebihnya hati dan ragaku menuntut pertemuan untuk yang kedua kali, karena semenjak itu kami tidak lagi bertemu, beberapa orang yang aku minta untuk mengawasi mereka, telah menyampaikan beberapa informasi kepadaku. Walaupun sebagian besar aku sudah mengetahuinya. Aida bukanlah tunangan Micheal yang seperti dikatakan pria itu padaku seminggu yang lalu. Aida adalah seorang pegawai sipil yang bekerja disalah satu museum milik Negara di Jakarta. Dia seorang arkheolog yang sebenarnya banyak Negara meliriknya untuk dijadikan asset Negara. Dia cukup pintar. Michael hanya berambisi menariknya sebagai tambang emasnya. Aku belum tahu persis apa maksud dari kalimat tersebut. Seperti yang Aida katakan malam itu, dia tampak tidak terlalu mencintai Micheal, aku berusaha mengumpulkan banyak informasi tentang mereka. Dan sejak saat ini aku tidak lagi memikirkan ataupun memburu informasi tentang Utari, seratus persen aku sudah merelakannya sebagai adik iparku. Hatiku sudah terbebas dari virus cintanya.
Satu bulan sudah aku tidak bertemu dengan Aida, aku mencoba mendatangi kantornya, sekertarisnya bilang, kalau dia sedang berkunjung ke pulau Kalimantan untuk mencari beberapa sarkofagus yang baru ditemukan. Pupus sudah harapanku melihat senyumnya. Aku tidak mungkin memburunya sampai kesana. Aku hanya tidak mau Micheal berfikir buruk tentangku. Walaupun sebenarnya itulah yang terjadi. Aku terus mengamatinya, dan mengirim beberapa orang suruhanku untuk berada disekelilingnya. Aku juga meminta mereka untuk membelikanku rumah di Kalimantan , aku ingin yang mendekati kawasan hutan,berapapun harganya aku menginginkan rumah tersebut. Dan aku berhasil memilikinya hanya dalam beberapa hari. Semua dokumen dan surat-surat penting telah dalam genggamanku. Kata orang kepercayaanku, Michael sedang berada di luar negeri untuk beberapa bulan. Ini kesempatanku untuk menemui Aida. Aku mulai mengunjungi Kalimantan , tujuan utama untuk mendekati Aida, dengan alasan aku ingin melihat rumahku dan membuka lapangan pekerjaan baru disana. Aida..Aida nama itu tidak pernah lepas dari ingatanku, kata kata itu seperti sudah berakar dalam benaku, tertancap seperti duri dalam daging bila aku tidak berhasil menemuinya. Sekarat…!!!
Ternyata bagus juga rumah yang aku beli. Rumah ini bekas seorang veteran Belanda. Bangunannya masih kuno, modelnya sangat unik tapi cukup tangguhdan masih terjaga keautentikannya. Aku memindahkan beberapa hewan peliharaanku kesini, aku tidak tega membiarkan mereka tinggal di Jakarta sendirian, lagipula orang rumah tidak akan berani memberi mereka makan. Hanya Harman yang berani memberi mereka makan selain aku. Harman bekas seorang pegawai sirkus yang sengaja aku pekerjakan sebagai asistenku ketika aku membutuhkan teman tangguh untuk mendaki gunung ataupun berburu di alam liar. Dan kebetulan bekas pemilik rumah ini punya selera sama denganku. Aku menempati kamar yang cukup luas dengan sebuah teras kamar yang bisa langsung menatap ke alam bebas. Yah luas kamar ini sekitar tigabelas kali sebelas meter didalamnya sudah tersedia kamar mandi dan satu ruang kaca berukuran satu kali dua meter dengan tinggi enam meter. Yah aku gunakan kamar ini sebagai sarang ular phyton yang sudah lama aku pelihara. Aku membelinya dari afrika, dan ini legal. Didepan ruang kaca tersebut aku letakkan sebuah ranjang tua peninggalan tuan rumah. Mereka menjual rumah mereka lengakap dengan semua perabotannya. Semuanya serba kayu jati, masih sangat kokoh untuk jangka waktu yang cukup lama. Ada satu pintu besar penghubung teras kamar dengan kamar tidurku, diluarnya masih terdapat tanaman mawar liar yang masih terawat dengan baik, ada beberapa anggrek yang merambat menghiasi empat pilar lengkap dengan tanaman saga. Disana terdapat satu ayunan yang terbuat dari besi baja yang utuh, dengan empat kursi dan satu meja yang terbuat dari potongan pohon yang cukup besar tua dan tebal berjenis mahoni. Dari tempat aku duduk, mataku dimanjakan oleh pemandangan alam yang sedikit liar dengan jarak dua kilometer. Yah tepatnya rumahku berada di tepi hutan. Bila aku tidak memiliki pos keamanan yang cukup, mungkin rumah ini akan mudah dibobol oleh para perampok. dan, Hilman sudah mengelilingi listrik diseluruh bangunan ini, dan menaruh beberapa kamera pada beberapa ruang dan pada sekitar rumah berjarak sepuluh meter mengelilingi seperti pagar betis. Pos penjagaan aku letakkan didepan dan dibelakang rumah. Disini tidak ada barang mewah selain peliharaanku seperti Phyton, harimau Sumatra , canis lupus arctos atau yang sering dikenal sebagai serigala putih. Aku memiliki surat izin resmi untuk memelihara mereka semua, hanya Andrew saja yang sering aku bebasakan dari sangakarnya dan tidur bersamaku. Jadi aku maklum bila salah satu pembantu rumah tanggaku sering pinsan sehingga ke esokan harinya mereka minta untuk keluar dari pekerjaan meskipun tidak mendapat bayaran. Tentu saja tidak. aku tidak pernah tega memakan uang dari hasil keringat mereka. Itu bukan pribadiku berlaku licik pada orang lemah. Aku kembali mengelilingi kamar, dilantai atas ada dua kamar besar yang kosong walaupun tidak sebesar kamar yang aku tempati. Dan ada satu ruang keluarga yang begitu luas dan langsung tembus menuju teras depan. Tangganya begitu lebar dan tinggi berbentuk melingkar seperti ular yang melilit. Di lantai bawah terdapat sebuah kolam renang seluas tujuh meter dengan panjang sepuluh meter. Airnya begitu segar,biru jernih. Dibagian ujung belakang terdapat sumur yang jernih aku mencoba mengira ngira kedalamannya tapi sukar sekali.. “aaaaa….!!!”aku berteriak sekencang mungkin lalu memasukkan batu besar, mencoba mengamati kedalamannya dari pantulan suara gema yang aku teriakkan. Aku memperkirakan sekitar dua puluh lima meter. Pada bibir sumur itu tertulis tanggal pembuatan dan penggalian. Ahh sepertinya ini sumur peninggalan kompeni belanda. Yah rumahku seperti banteng atau bisa dibilang seperti bangunan rumah gubernur belanda. Menurutku harganya terlalu murah dengan luas dan barang serta perawatan bangunan yang masih cukup dibilang bagus. Aku sama sekali tidak ingin merubah apapun dari pemilik lamanya. Aku benar benar cocok dengan bangunan ini. Memuaskan!
Aku sudah lama tidak pernah menghubungi Aida sejak malam itu, dan itu sudah terjadi selama satu bulan lebih. Tapi kini, aku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak menemuinya. Aku meminta koki dapurku untuk membuat semangkuk besar muffin chocolate dengan taburan kismis arab dan kacang almond khas perancis. Aku meminta agar mereka menaruh dalam kemasan yang cantik dan anggun. Aku ingin memberikannya pada Aida. Aku sengaja ingin memberi kejutan untuknya, aku memang tidak memberitahu keberadaanku. Tapi dia sudah memberikan alamat tempat tinggalnya lewat email seminggu yang lalu. Hanya saja aku sengaja tidak menjawabnya. Aku ingin membuatnya kesal, aku ingin membuatnya lebih kesal lagi dan membenciku, dengan cara itu aku ingin tahu apa perasaannya sesungguhnya kepadaku.
“kuenya sudah siap Tuan!” mbok tua itu memberikannya padaku , dia pintar mengemas kue,masakan dan semua kue yang dibuatnya benar benar lezat, tidak kalah dengan chef yang aku pekerjakan di hotelku dengan gaji yang menggiurkan dan fantastis dalam jumlah dolar amerika.. Aku menghentikan sarapanku saat dia menghampiriku
“terimakasih, apa kau sudah menyisakannya buat yang lain?”
“sudah tuan, terimakasih!”
“terimakasih!”
Aku pergi meninggalkan rumah tanpa satu kawalan ataupun sopir untuk menemaniku seperti biasanya, karena aku meminta Hilman untuk memberikan makan beberapa hewan peliharaanku, aku memintanya mencari kambing yang masih muda untuk makanan mereka dan beberapa ayam betina. Kambing muda tentu saja untuk Andrew, karena hari ini dia sudah selesai dengan puasa empat puluh harinya, dan pastinya kambing muda itu akan langsung disantapnya bulat bulat setelah Andrew meliliti tubuhnya kuat kuat. Aku menyukai aksi seperti itu, hanya saja aku harus melewatkannya untuk pagi ini. Aku tidak ingin membiarkan Aida terlalu lama menungguku. Aku menyusuri beberapa meter hutan tropis menyeberangi anak sungai dan kembali masuk ke pinggiran hutan menembus jalan setapak untuk sampai ke arah jalan raya besar ke arah kota . Dua jam menempuh sendirian tanpa suara radio yang memberikan informasi kemacetan jalan. Yah informasi seperti itu tidak dibutuhkan di sini. Tidak ada kemacetan dan tidak ada polusi udara, disini tidak ada mobil sekelas sedan seperti merci,roll Royce,Honda ferio, BMW ataupun Lamborghini atau bahkan ferari seperti yang banyak bermunculan dikota besar seperti Jakarta dan Surabaya . Disini kebanyakan memakai mobil sekelas jeep yang tangguh semacam ford ranger atapun range rover yang aku tumpangi. Aku senang dengan alam liar seperti ini, membangkitkan selera mudaku. Aku bisa mendaki gunung,berburu ataupun memancing dilautan lepas.
Aku belum mengenal daerah sini sehingga aku harus bertanya pada beberapa orang untuk mencapai alamat rumah yang Aida berikan. Dan banyak kutemui ular liar yang besarnya melebihi Andrew, banyak yang bilang itu pemandnagan yang biasa terjadi disini. Sepanjang jalan sudah kutemui dua pria yang menebaskan golok mereka pada seekor ular yang cukup besar. Cukup untuk menelan satu ekor kuda nil. Satu jam sudah lamanya aku mencari alamat ini, sedikit frustasi,karena alamat yang aku cari ternyata sudah terlewatkan, sehingga aku harus memutar balik mobilku. “sial!” aku menggerutu diriku sendiri, apalagi GPS yang biasa aku gunakan sepertinya tidak bisa berfungsi dengan baik disini. Lengkaplah sudah, setengah jam kemudian aku baru sampai disebuah perumahan penduduk yang lebih padat dibanding daerah rumah yang aku tempati. Mencari beberapa block setelah aku berhasil masuk disebuh gerbang pagar yang cukup tinggi dengan melewati pos penjagaan. Mereka mencatat plat nomerku dan meminjam identitasku sebelum mereka mengizinkan aku masuk melewati gerbang
“selamat siang pak! Boleh kami meminjam kartu identitasnya” mereka mengetuk kaca sampingku dan ketika terbuka aku langsung memberikannya pada mereka.
“terimakasih pak Damar silahkan melanjutkan! maaf mengganggu waktu anda”
Aku meninggalkan mereka begitu saja dengan senyum yang tidak terlalu tulus dan menyempitkan selembar uang seratus ribu rupiah saat menjabat tangan salah satu pegawai itu. Mataku mengawasi beberapa nomer rumah yang menempel pada pagar luarnya, sepuluh rumah sudah terlewat hingga aku berhenti di depan rumah bernomer dua puluh dengan hiasan kotak surat berwarna coklat yang terbuat dari kayu mahoni. Aku menekan tombol rumah, setengah menit kemudian seekor kucing angora berwarna perak dan bermata golden brown keluar dari rumah disusul tuan rumahnya yang cantik, wajahnya begitu terlihat segar, sayang sekali mukanya tidak terlalu ramah saat menyadari kehadiranku. Dia datang mendekati pintu pagar, dan ketika aku tersenyum untuknya, sama sekali tidak ada respon positive. Dia membiarkan aku berada diluar pagar dengan terik matahari yang panas, yah meskipun tidak sepanas Jakarta .
“halo cantik, maaf terlalu lama menunggu”
“sial, kenapa kau datang! Kau seharusnya tidak datang hari ini”
“kenapa?”
“yah aku sudah tidak lagi membutuhkanmu” dia berjalan mundur tiga langkah menjauhi pagar, aku pikir dia sedang benar benar marah denganku, kucing itu juga melingkar dikakinya yang hangat. Aku mengulurkan tanganku kedalam pagar, mengemis ngemis agar dia membukakan pintu pagarnya untukku.
“kumohon Aida, izinkan aku masuk!”
“apa kau tuli”
“tidak aku tidak tuli, jadi izikan aku masuk, kumohon Aida”
“bukannya kau terbiasa mendaki gunung, kenapa melompat pagar saja kau tidak bisa”
“bukan tidak bisa, itu hanya tidak sopan”
“apa masih ada nilai kesopanan dengan orang sepertimu”
“tentu saja, jadi kumohon bukakan pintunya untukku”, dia justru semakin melangkah mundur,lalu berlari pelan kedalam teras rumah, dan masuk kedalam bilik rumahnya, pintunya dibanting begitu saja meninggalkan suara bunyi keras hingga kacanya bergetar. Aku menggeram kesal melihat tingkahnya, baru kali ini ada perempuan memperlakukan aku seperti ini, beraninya dia berbuat seperti itu padaku.
“AIDA…AIDA…AIDA..bukakan pintunya untukku” suaraku terdengar lantang dan keras, sengaja aku keraskan agar kupingnya menjadi tuli. Aku ingin sekali memanjat pagar ini, bila dia tidak benar benar keluar, dan hanya kucing jeleknya itu yang keluar seperti meledekku, ekornya dikibas kibaskan seperti kipas, sedangkan Aida bersembunyi entah dimana
“AIDA bukakan pagarnya, aku mau masuk. Aku hitung sampai sepuluh kali kalau kau tidak membukanya aku akan membobol rumahmu. Sepertinya dia berteriak kencang “TERSERAH!!!” jawabnya dari dalam rumah
“Aida..sepuluh….sembilan..delapan…tujuh…enam…lima ” aku terdiam sebentar menggaruk garuk kepala, hatiku terasa gatal “empat…tiga…dua…dua setengah” aku menendang kerikil ke arah pagar hingga pagar itu berbunyi “baiklah Aida kau memaksaku berbuat kasar… satu” kini aku menendang pagarnya, dan tanpa sengaja pagar itu terbuka karena tendangan kakiku. Ketika aku memeriksanya terdengar bunyi pintu pagar yang terbuka pelan, sepertinya dia tidak mengunci pagar rumahnya, dia hanya sengaja mengaitkan rantai itu saja tanpa menguncinya. Aku melangkah masuk kedalam teras rumah,kucingnya menyambutku dan menyapaku meong….meonggg..meong, tuan rumah duduk manis menonton televise dengan kaki diatas meja, tanpa melirikku sama sekali dia mengatakan
“masuklah, cobalah mengatur tempramenmu. Sebelum kau benar benar marah” nadanya terdengar mengejek, dimejanya sudah terdapat satu pitcher jus apel dengan beberapa kaleng minuman bir. Mataku melotot melihat kaleng itu. Seingatku dia tidak mengkonsumsi bir ataupun alcohol lain, kecuali cocktail ataupun mocktail. Maksudku tidak benar benar pure alcohol.
“sejak kapan kau minum bir?”
“kata siapa”
“yah seperti yang aku lihat sekarang” aku melepas jaket kulit hitamku,kutaruh begitu saja dilantai bersama tas ranselku “apa penjelasanmu” aku kesal sekali dengan kebiasaan barunya.
“tidak ada yang perlu aku jelaskan” dia kembali tersenyum sinis menjawab pertanyaanku.
“Aida, aku tahu kau bukan penggemar alcohol, jadi jangan pernah untuk merubah gaya hidupmu itu, aku mohon!” aku mendekatinya dan mengurungnya dalam lingkaran lenganku membuatnya semakin tenggelam dalam kursi dan hanya bisa mendongak. Ingin sekali aku mencium dan melumat habis bibirnya. Dan ketika aku hampir mendekatkan bibirku pada bibirnya yang segar. Tiba tiba saja tangan kanannya menonjok perutku. Meskipun aku menahan rasa sakit itu. tetap saja aku tidak kuat.
“sakit?” tanyanya. Aku hanya menggeleng dan menarik lengannya hingga aku terpelanting di kursi kulit dan dia jatuh diatas pangkuanku. Aku mendekapnya tanpa memberinya ampun. Dia hanya menginjak kakiku. Tapi aku masih kuat.
“lepaskkan aku!” pekiknya.
“ternyata kau tangguh, dimana kau dapatkan jurus murahan seperti itu?” aku meledek, biar dia merasa kesal.
“bukan urusanmu?”
Lalu aku mengambil semua kaleng bir itu lalu membuangnya ditempat sampah depan. Tapi sebelum aku melakukan itu, aku membuka kemasannya dan membuang isinya dijalan lalu merusak kalengnya hingga pesok.
“puas?” nadanya terdengar menggeram penasaran di depan pintu. Dengan perlahan aku mendatanginya lalu meraih pinggulnya. Aku merayunya agar bisa mendapatkan ciuman yang menantang itu. aku ingin seperti sebulan yang lalu. Mungkin aida sadar dengan apa yang aku pikirkan, diapun pergi melangkah masuk lalu duduk manis disebuah kursi yang paling panjang. Membuang pandangannya begitu saja tanpa berani menatapku kembali.
“kapan kau datang, dihotel mana kau menginap?” suaranya terdengar masih gusar
“dua hari yang lalu, aku hanya tinggal digubuk, bukan di hotel. Tidak ada hotel disini”
“setahuku, ada hotel. Tapi itu bukan kelasmu?” senyumnya mulai merekah, saat melihat aku berpura pura jatuh diatas kursi hingga aku memutuskan unutk menggeledah ruang kamar depan.
“jangan terlalu menilaiku seperti itu. oh ya itu ada kue untukmu” aku berdiri dan melangkah lebih dalam keruangan belakang. Hanya ada dua kamar yang berukuran sedang dengan ranjang yang nyaman. Dan satu ranjang rotan yang cukup nyaman untuk kucingnya. Intinya kami menikmati minuman teh dengan campuran serai,kayu manis dan sedikit parutan jahe dengan tambahan madu. Minuman ini terasa hangat dilambungku. Aku belum pernah meminum ini sebelumnya tapi aku tahu kalau ini terbuat dari teh dan beberapa bumbu pilihan khas tropis.
“aku biasa menambahkan beberapa irisan lemon agar lebih segar!”tambahnya dan aku hanya menggeleng, aku kurang menyukai lemon, aku hanya membutuhkan lemon bila ingin menikmati tequila. Aku senang sekali bisa mengobrol dan melihatnya. Aku merindukannya. Aku sangat menyukainya. Dia gadis sederhana tapi pintar. Jauh dari kesan glamour tapi masih terlihat elegan. Jauh dari kata sex tapi dia sexy. Dan jauh dari kata modern tapi masih berbudaya.
“kenapa kau ingin menemuiku?” nada bicaranya penuh selidik. Sehingga aku harus mencari kalimat agar tidak salah dalam menjawab
“aku ingin bertemu?”
“bohong?”
“kau tidak percaya? Sekertarismu memberitahuku beberapa minggu yang lalu, kalau kau sedang ada dipulau ini. Dan jangan lupa bosmu adalah kawanku. Sehingga tidak sulit bagiku untuk menemukanmu?”
“oh…jadi ternyata kau memata mataiku”
“tentu, karena susah menanyakan itu padamu?”
“apa aku tidak salah dengar?”
“dengar Aida,….aku menyukaimu dan aku snagat merindukanmu. Jadi aku harus mencari cara untuk mendekatimu, sebelum kau menjadi istrinya? Kau tahukan, waktuku tidak banyak” tegasku. Aida mencibir mendengar ucapanku. “aku tahu aku buruk dimatamu?”
“bukan tentang itu?” sanggahnya
“lalu?” aku semakin penasaran. Aku mendekatinya lalu mengambil buku catatan yang menyibukkannya dan…dia menyahutnya kembali
“ini rahasia Negara, kau tidak boleh membacanya!” suaranya terdengar kesal “kau tahu Damar, aku milik Michael?”
“aku tahu!” sakit rasanya menelan ludah saat dia mengatakan itu.”tapi dia bukan tunanganmu?” aku terpaksa langsung membuka topik
“sok tahu? Kau berbicara seolah olah kau tahu tentang kami?”
“aku memang tahu Aida! Bahkan aku tahu dengan siapa dia di Amerika?”
“kau bohong?” dia berteriak marah, aku merasa benar saat menebak dia sedang terpengaruh kalimatku.
“kalian belum bertunangan, meskipun dia sudah melamarmu tapi kau dan keluargamu belum menerimanyakan?” tanyaku penasaran.
“dengan siapa dia di amerika?” dia kembali menyakan hal yang sama
“kau bilang, kau tahu dengan siapa dan dimana kekasihmu berada?”
“jadi kau tidak mau bicara Dam…, baik aku akan mencari tahu sendiri?”
“silahkan…! Tapi kemana kau akan bertanya?”
Suaraku berhasil membuatnya kesal. Dia marah dan meninggalkan aku diruangan pergi ketempat lain. Lima menit kemudian aku menyusul dan menemukannya di teras belakang sedang memotong tanaman liar. Aku mengambil guntingnya lalu membantunya membersihkan tanaman liar. Dia terdiam tanpa ekspresi menganggap tidak menyadari keberadaanku.
“Aida… aku ingin memberitahumu. Tapi aku takut kau tersinggung. Sungguh aku tidak ingin membuat suasana hatimu kacau. Aku akan membantumu dengan semua informasi yang kamu butuhkan.” Tubuhnya berbalik menatapku tajam, tangannya hampir saja menyemprotkan air pada wajahku. Aku menceritakan semua apa yang aku tahu tentang keberadaan Michael. tentu saja aku tahu dengan siapa dia di amerika. Karena paula sedang bersamanya. Michael sibuk dengan memainkan permainan bisnis kotornya lewat pencarian bakat model. Aku tidak tahu apakah Aida tahu atau tidak bila calon suminya sibuk mencari bintang film porno untuk film barunya yang bersetting di hawai. Ceritanya tidak terlalu bagus hanya mengeksploitasi dalam permainan ranjang. Dan yang aku tahu dia mencoba menawari Paula sebagai artisnya. Tentu saja mengencani Paula selama waktu syuting pembuatan. untuk yang satu ini aku tidak berani menceritakan semua. Paula menerima tawaran main di film rumah produksi Michael.
“kau disini tinggal sendiri?” aku mengkhawatirkan keadaannya. Aku tidak mau satu bahaya kecil mengancamnya “ini rumah Negara?” dia mengangguk. Bangunannya sangat kokoh. Aku memaksanya agar dia mau berpindah ketempatku. Paling tidak aku merasa nyaman bila dia aman.
“selama aku bertugas,ini tempat tinggal ku sementara. Disini aman” lanjutnya meskipun tidak yakin
“tinggalah bersamaku, jangan takut. Aku akan berlaku sopan” aku menjaminnya, meskipun aku sendiri tidak yakin.
“bagaimana bila dia mencariku?” lanjutnya tentang Michael
“jangan khawatir, aku bisa menjelaskannya! Ayolah Aida..paling tidak aku ikut menjagamu, ditengah hutan seperti ini cukup menyeramkan. Atau begini saja, kemasi semua barang barang keperluanmu, lalu kau ikut denganku. Kau bisa melihat lihat dulu situasi rumahku. Bila kau cocok! tinggalah sesukamu, lalu aku akan menyuruh orang untuk mengambil barang barangmu. Dan bila kau tidak suka kau harus belajar untuk menyukainya”aku tertawa sedikit kencang sambil menarik tangannya untuk lebih dekat memperhatikan aku, “sudahlah aku hanya bercanda .aku akan mengantarmu kembali kesini” aku menunggu atas jawaban IYA. “bagaimana?” aku terus mendesaknya hingga dia mengangguk. Lalu aku membantu mengemasi barangnya dan memasukkan ke bagasi mobil. Tanpa sisa, aku senang karena kemantapannya. Akupun senang karena aku tidak perlu mengirim orangku untuk membantu mengambil ataupun mengembalikan barang bawaan ini. Kunci rumahnya dia titipkan pada pos pengamanan. Dia turun tanpa aku temani. Entah apa yang mereka bicarakan tapi yang jelas. Pria dalam baju tugas itu hanya mengangguk dan melipat beberapa lembar kertas yang Aida berikan. Sisa kue yang masih tersisa lima biji, dia berikan juga pada pria itu. mereka senang menerima pemberiannya yang sebenarnya adalah pemberianku. Kami berdua berjalan menyusuri beberapa jalan setapak, lalu anak sungai dan melewati beberapa kilometer tanaman pohon pinus. Hingga satu jam kemudian aku mulai mendekati jalan setapak menuju rumahku, dari arah kejauhan aku menunjuk bangunan yang ada didepan kami.
“kau membeli benteng?” tanyanya. Kalimat spontan itu persis seperti yang pernah aku ucapkan saat aku menemukan harta karun itu. rumah itu tidak seperti rumah tapi cocok bila disebut dengan sebutan benteng. Kau hanya mengangguk. “seleramu benar benar beda dengan gaya hidupmu yang pernah aku lihat!” desisnya.”tapi kau sukakan?” sahutku. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka membukakan gerbang pagar buat kami. Seperti biasa Kitty si srigala kesayanganku berlari memnjemput dan mengibas ngibaskan ekornya menyambutku, matanya tajam menatap Aida yang masih asing dimatanya.
“tenang..tenang Kitty, dia calon nyonya rumahmu!” kitty seperti mengerti dan dia patuh tenang ketika Harman melemparinya sebongkah daging yang masih segar. Reaksinya cukup mendadak, Aida merasa ketakutan sehingga dia harus merengkuh pundakku begitu cepat dan begitu kuat, cengkeramannya begitu membangkitkan gairahku. Aku hanya tersenyum tipis,takut kalau dia merasa tersinggung, kini kitty hanya mengikuti Hilman yang terus menggiringnya kehalaman belakang,
“kau gila?”
“tidak, kitty sudah seperti anggota keluarga dirumahku!dia sama seperti kucingmu yang kau bawa itu” nadanya yang sengit itu mendadak berubah menjadi nada suara yang terpaku dengan sesuai yang membuatnya tertarik.
“kau tahu, rumah ini seperti kastil bahkan lebh cocok bila disebut benteng kolonial, dari kerajaan seorang pangeran buangan!”ujarnya berbicara seperti dalam dongeng
“bukan masalah bila aku dibuang, asal ada ratu secantik dirimu yang menemaniku dalam pengasingan” mungkin dia tidak mendengar apa yang aku ucapkan, karena sibuk mengamati banyak bentuk bangunan. Mawar liar itu menarik perhatiannya, baunya memang segar, warnanya yang merah menariknya untuk dinikmati keharumannya. “ayolah masuk?” ajakku “biar aku tunjukkan beberapa kamar untuk kau pilih, tapi jujur aku lebih suka kau tinggal satu lantai denganku!”aku menggodanya mencoba mengungkapkan yang sebenarnya
Tanpa banyak bicara Aida mengikuti langkahku menyusuri anak tangga, aku terpaksa berjalan pelan untuk menunjukkan banyak hal, dan menjawab banyak pertanyaan umum yang dia ajukan. Yang pasti, dia terpanah dengan semua yang aku miliki. Tepatnya dengan semua barang dan ruangan yang ada disini. Aida hanya tersenyum setiap menyisiri jalan setiap sudut ruangan, tangannya terus meraba setiap menemukan benda asing ataupun bangunan ruang yang membuatnya terpana. terakhir aku menunjukkan kamar yang cukup besar nomer dua setelah kamar yang aku tempati. Disini bergaya bangunan yang belum selesai, sengaja dindingnya tidak dicat oleh arsitek rumah, beberapa perabotan juga banyak yang terbuat dari kayu besar yang tua dan cantik begitu juga dengan lantainya. Gurat kayu menampilkan sisi tangguh yang begitu sempurna, atapnya masih berupa gelondongan kayu yang hanya terbagi dua, hiasan lampu kuno menambah kesan essential yang angkuh. Ranjang kuno yang terbuat dari besi berwarna kuning logam yang masih mengkilat. Sprei yang dipilih oleh Ratmi kepala pelayanku, berwarna merah blossom bermotif bunga berumbai dengan sedikit pemanis warna hijau sebagai daunnya. Kainnya terbuat dari satin dengan campuran sutra dari china. Beberapa tea pot china lengkap dengan gelas keramik diletakkan di ujung ruangan dekat teras. Kamar ini dilengkapi dengan teras, perapian dan kamar mandi lengkap dengan bath tub dan shower yang sudah diganti dengan model terbaru. Lainnya masih belum tersentuh oleh mederenisasi.
“semoga kau mau tinggal diruangan ini, karena menurutku ini yang cocok, tapi aku bersedia pindah kamar bila kau menginginkan kamarku?” aku sekedar menawarkan, tapi sungguh aku yakin kalau dia akan menolak bertukar kamar denganku bila dia tahu isi dalam kamarku. Tak jarang Kitty dan Andrew tidur diranjangku ataupun ditempat lain dalam ruanganku, kalau sangkar mereka aku buka. Mereka bebas berkeliaran diruanganku. “bagaimana menurutmu?”
“aku suka!” jawabnya singkat, kini tangannya yang lembut itu menjelajahi ranjang. Duduk sebentar lalu bangkit lagi.
“disini terlihat sedikit gelap, mungkin karena ruangan ini bergaya unfinished, tapi jangan kuatir sirkulasi udara dan pencahayaan matahari cukup menghangatkan dipagi hari, dan jangan khawatir panas, karena tanaman yang ada diteras siap untuk meneduhkan suhu ruangan!”
“yah, aku bisa melihatnya, pintu dan jendela disini tidak ada bedanya, sama sama bisa dipakai untuk melompat” sahutnya, membuatku tertawa…..”diam kau!” bentaknya. Rasanya ingin sekali aku memeluknya lalu menjatuhkannya di atas ranjang itu. menggoda sekali gayanya.
“istirahatlah! Sampai ketemu makan malam, aku ingin keluar sebentar, aku berjanji menemani kitty”
“kitty?”teriaknya tidak yakin, dia tertawa mengejek sambil memegang kepalanya dan membuang muka
“yah, yang berhasil membuatmu takut saat pertama tadi?”
Aku tertawa menggoda, dan setelah sadar dengan apa yang aku maksud, dia melemparkan bantal ke arahku. Sayangnya meleset.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku bisa makan malam dalam satu meja, dan yang lebih mengesankan lagi kali ini hanya ada kami berdua dalam satu meja, hanya lilin dan suara angin serta iringan musik romantis pilihanku milik Andrea Bocelli. Ingin sekali aku mengajaknya menikmati malam yang sesungguhnya seperti malam yang pernah aku lewati bersama para gadis gadis yang aku kencani. Tapi rasanya aku enggan melepaskan nafsuku bersamanya bukan karena dia tidak sexi dan sedap. Hanya saja Aku tidak ingin kemurnian rasa ini tercampur nafsu birahi semata. Aku suka dengan apa yang dia miliki hanya saja aku tidak mau merenggut sesuatu ini sekarang. Kami hanya melepaskan kehangatan suasana di teras atas menikmati jagung bakar dengan olesan mentega dan sedikit parutan bawang dan cabai juga gula dan garam yang sudah menjadi bumbu. Suasana ini lebih membuatku nyaman dibanding ketika pesta asusila yang penuh sex,drug,money ahhhh… dan perempuan liar. Tapi malam ini Aku merasa nyaman disekitarnya, nyaman saat kehadirannya membuatku terasa hangat Jauh dari pembicaraan bisnis dan kehidupan bengis. Hanya masalah masalah kecil yang kami jadikan topik semuanya terasa seperti epic. Masalah ketika kami beranjak dewasa dengan segala kenakalan dan kejahilan anak seusia dulu. Semua terdengar nyaman di gendang telingaku. Aida memang berbeda dari wanita yang pernah aku kenal, jiwanya begitu arief anggun dan tunduk pada peraturan agama, meskipun dia tidak termasuk dalam golongan ahli ibadah yang sudah mencapai ilmu langit. Tapi dia begitu santun, malam ini dia hanya mengenakan skirt bermotif bunga berbahan tissue dengan lapisan yang tipis tapi tidak transparan, hanya mengenakan kaos dengan mantel tebal berbahan wol, sedikit tambahan scraf pada lehernya yang jenjang. Rambutnya yang coklat tua tergerai tanpa mengenakan topi. Hanya terikat dibelakang membentuk ekor kuda dengan pita warna putih berbahan bludru. Dia duduk tepat didepanku dengan kaki menyilang ala gaya feminimisme. Tangannya yang membawa jagung dipenuhi angus berwarna hitam, tapi masih asyik sibuk menggigit beberapa bagian jagung bakar yang masih utuh.
“kenapa? Ada apa?” tanyanya mengejutkan aku.
“apa maksudmu?gigimu ituloh hitam” jawabku sedikit terkejut tanpa bisa menemukan sebuah jawaban lain untuk menghindarinya.
“masasih!kenapa kau terus memperhatikan aku?”
“kau cantik?” aku menjawab singkat,karena memang sesungguhnya aku tidak pernah bisa menemukan sebuah jawaban setiap saat dia berhasil mengejutkan aku.
“kau pembohong!”
“tidak…tidak tentu saja tidak. Aku berbicara apa adanya!” sanggahku
“dengar, mungkin aku adalah wanita yang paling kuno bila dibandingkan dengan wanita wanita yang pernah kau kencani!”
“apa benar kita sedang berkencan?” aku terpanah untuk mengutarakan perasaan itu. sejujurnya aku memang berharap ini adalah acara kencan yang belum bisa dikatakan resmi. Dan nampaknya aku membuatnya terdiam. Dia meninggalkan kursi malas itu, dengan jagung yang masih tersisa diatas piring. Langkahnya yang pelan lurus terus menuju balkon. Kini rambutnya yang panjang tertiup angin, menghembuskan aroma yang wangi hingga singgah ke relung sukmaku. Aku terbius pesonanya. Aku menyadari kalau aku mulai terusik oleh kehadirannya.tidak ada lagi yang berani mengawali pembicaraan. Aku merasa diapun mulai merasa apa yang aku rasakan. Hanya saja belum terlihat jelas tertangkap dalam pikiranku.
“duduklah!” pintaku”jangan terlalu mendekati teras balkon, angin malam terlalu kencang!” kalimatku belum cukup membuatnya untuk bergeming dan patuh menuruti apa kataku. Dia masih terpaku diujung. Aku mulai tidak nyaman dan ingin segera mendekatinya. Meskipun aku sangat ingin memeluknya, tapi aku belum ingin melakukan perbuatan itu.
“apa kau merindukan dia?” tanyaku. Hanya sekedar memastikan dengan apa yang aku lihat.
“tidak… aku tidak mencintainya terlalu dalam tidak seperti yang kau bayangkan. Nanti kau akan tahu! Cintaku sudah lama luntur!” aku terkejut mendengarnya. Tapi sungguh ini peluang yang bagus. Aku hanya butuh memastikan lebih lanjut tentang semua ini. sengaja memilih diam. “orangtuaku berhutang budi pada orangtua Michael”. Nafasnya terdengar berat dan wajahnya tertunduk. Aku tahu tentu dia akan menceritakan hal yang sulit. Dan aku..aku tidak ingin merusak kenyamanan malam ini.
“sudahlah, simpan saja dulu, jangan biarkan malam ini berlalu dengan hal yang belum ingin kau ceritakan. Aku akan selalu siap kapan saja kau siap bercerita!”
“sorry kalau aku membuatmu…!”
“sudahlah! Kita bisa….!” Aku takut saat ingin melanjutkan
“berteman!” sahutnya.
“tentu, tapi jangan menutup bila terjadi peningkatan keakraban lebih lanjut” kami tertawa, dan saat kitty datang, secepat kilat tangan Aida memeluk erat. “tenang, dia jinak. Orang jepang memanggilnya Serigala Ezo atau yang biasa dikenal CANIS LUPUS HATTAI. Spesiesnya memang terbilang galak, tapi tidak dengan kitty. Dia dekat dengan semua orang yang ada disini. Jadi jangan takut!”
“bagaimana aku tidak takut, bila aku melihat moncongnya dan matanya yang besar itu, seakan akan siap menelanku bulat-bulat!” aida lebih mendekatkan tubuhnya ke arahku saat kitty semakin mendekat.
“ayo Kitty…ayo..mendekatlah, kemari manis, sayang kemarilah!” aku membelai bulu kepalanya, diapun segera melingkarkan tubuhnya pada kakiku. Gayanya hampir seperti anjing rumahan sekelas cihua-hua. Begitu aida menyadari gerakkan kitty bukan ancaman, tangannya yang halus itupun segera membelai bulu kepala kitty perlahan-lahan. Hampir satu menit kemudian kitty menoleh berhasil membuatnya berteriak karena terkejut. “Dam!” teriaknya keras…..”tenang..tenang kitty…tenang sayang,….ayolah…dia baik, dia kekasihku!” kitty patuh dan menjulurkan lidahnya dengan mengangkat satu kaki depannya untuk menyalami Aida. Akupun menuntun Aida untuk lebih tenang menjabat tangan kitty yang sebenarnya adalah kaki depannya.
Hari hari berikutnya hanya ada kami bertiga, maklum saja, Andrew masih bertapa dalam sangkarnya hingga beberapa minggu kedepan.akupun belum sempat mempertemukan Andrew pada Aida. Aida hanya tahu itu kamarku tapi dia belum pernah mengunjunginya kedalam. Padahal sudah lama aku tidak mengunci pintu kamarku sejak Aida tinggal bersamaku. Beberapa hari yang lalu aku selalu menemani Aida mengunjungi kantor pariwisata dan museum di kota . aku terkesan dengan dunianya. Tapi terkadang aku masih merindukan gemerlapnya beberapa dunia malam. Sayangnya aku tidak pernah menjumpai tempat seperti itu disini. Lagipula Aida tidak akan sudi bila aku mengajaknya kesuatu bar untuk menikmati tarian erotis. Hanya sebotol dua gelas whiskey saja aku minum untuk penghantar tidur. Dan pagi harinya aku akan sibuk membersihkan aroma mulutku agar tidak tercium aroma alcohol oleh Aida.
Siang ini, seorang pegawai pemerintahan menjemput Aida dirumahku. Dengan terpaksa agar aku tidak bersedia ikut dengannya. Aku hanya diizinkan datang bila acara mereka sudah selesai. Tapi hingga petang, Aida tidak kunjung memberiku kabar untuk segera menjemputnya. dan ketika aku menunggu telphonenya justru Paula yang sedang mencoba menghubungiku.
“apa kabarnya ibu kota ? aku sibuk dihawai pagi ini, sedang ada syuting?” tampak bila Paula berpura pura tidak menyadari sambungan pembicaraan kami. Dari dalam ponsel dia terus bercerita dan aku hanya menjawab beberapa saja.
“Paula!”
“ya sayang ini aku, nomerku baru dan kau harus menyimpannya. Kau tahu… Michael begitu terpesona olehku. Jadi akan ada jalan mudah untukmu!”
“apa maksdumu!”
“jangan bodoh Dammy! Aku tahu semua, dan kau tahu sayang… aku melakukan ini untukmu!untukmu…selalu dari dulu..dari dulu sayang”
“aku tidak menyuruhmu untuk menjadi artis porno!aku bisa mengorbitkanmu menjadi artis yang jauh lebih terkenal dan bebudaya..meskipun aku bukan sutradara”
“kau memang tidak pernah meminta itu, aku tahu kau baik. Tapi biarkan aku memainkan peranku!” suaranya masih terdengar mengejek sambil tertawa nyaring membuatku jengkel setengah mati
“dengar Paula, aku tidak mau kau membahayakan dirimu sendiri, dengar Paula. Aku tidak suka!”
“dammy…kau suka atau tidak suka atau cemburu itu bedanya tipis, setuju atau tidak aku hanya yakin kau masih susah menemukan wanita yang memiliki hand service seperti aku! Benar bukan”
“emm…yah begitulah” aku berkilah tapi aku mengkhawatirkannya. Aku merasa bertanggung jawab pada keamanan Paula. Terutama bila Michael tahu. Tapi aku berterimakasih banyak, karena dia semuanya berjalan lancar, semua tender yang aku titipkan sudah mendapat tanda tangan Michael. Begitupun atas bebasnya banyak waktu yang aku dapatkan bersama Aida. Michael menghadiahi Paula satu mobil mewah keluaran Audy Q3 yang salah satu koleksi terbarunya dimiliki oleh Thomas muller dari bayern munich . Tentunya ditambah beberapa kaluang berlian dan beberapa batu zamrud dan sapphire sudah dia kantongi. Paula begitu pintar cantik tapi juga licik dan bengis. Dia sahabat yang pintar. Tapi juga memuaskan diranjang. Mangsanya hanyalah orang orang kaya yang punya kelas dan koleksi super mewah. Bila hanya sekelas pejabat nasional saja tentu dia tidak akan mau. Apalagi pejabat yang hanya bisa korupsi makan uang rakyat. Tentu dia tidak akan sudi mengencani pria tanpa kelas dan status social yang erifat temporer dan memeras uang rakyat. Dia hanya mengencani pria yang punya jiwa dan ambisi serta orientasi bisnis dengan super power dalam skala besar. Dan sialnya lagi, dengan sengaja Paula membiarkan ponselnya tetap aktif ketika Michael datang memasuki kamarnya, dengan jelas aku mendengarkan langkahnya serta percakapan mereka hingga beberapa desahan dan suara suara teriakan serta barang barang yang jatuh. ‘sial kau Paula’ gumamku seorang diri.mereka pasti sedang beradegan ranjang. Aku tertawa geli membayangkan pertarungan mereka, apa benar Michael bisa sehebat aku kalau menghandle Paula. Hallahhh….ternyata tidak hanya dalam hitungan sepuluh menit lelaki brengsek itu sudah menyerah. Lalu terdengar Paula melakukan blow jobnya hingga Miachel berteriak teriak dan meraung raung minta ampun. Dari teriakan itu aku bisa menebak kalau Paula sudah mengikatnya rapat rapat diranjang besi yang dia gemari. ‘hanya sesingkat itu ternyata Michael, sangat tidak sesuai dengan apa yang biasa dia bicarakan’gumamku kembali. hingga Kembali aku mendengar teriakan dan tawa puas khas Paula yang berhasil mengalahkan misi ranjangnya dengan mudah. Terdengar dia kembali meneriakkan…”aku menang…aku menang,menang..ingat kau harus membayar seratus juta untuk pertarungan ini!” dan dengan suara tersengal sengal Michael menjawab”oke…babby…baik…ambil cekku dan tulis sebesar berapapun yang kau inginkan,…aku tinggal menandatanganinya ”michel terus berteriak teriak hingga” no..no…nononono…babby..stop..aku mohon stop, aku bisa mati sayang..please, tulis saja berapapun yang kau mau”…”no…no..Mickey….aku menepati janjiku, aku hanya butuh seratus juta darimu. Tapi lain waktu bila kau memintanya lagi, maka aku akan melipat gandakan!” sahut paula. Aku tidak tahu dimana Paula meletakkan ponselnya tapi yang jelas percakapan mereka nampak terdengar jelas seperti aku mendengarkan suara audio, kenapa pria itu sama sekali tidak merasa bila aksinya direkam oleh teman ranjangnya. Satu menit kemudian, aku tidak lagi mendengar percakapan mereka kembali. Dan nada pangilan masuk kembali terdengar ketika Aida datang menelphoneku, spontan semuanya buyar. Dia hanya mengatakan kalau dia akan segera pulang setengah jam lagi dan dia sedang berada dalam perjalanan menuju rumah. Aku tidak perlu menjemputnya karena ada pegawainya yang bersedia mengantarkan dia pulang. Aku khawatir tapi sayang dia tidak mengizinkan aku untuk khawatir. Aku menunggunya diteras bawah bersama kitty, sambil menjawab beberapa email yang masuk. Termasuk email berupa Video yang dikirimkan Paula, durasinya lima belas menit. Itu menampilkan video pada saat dia menelphoneku, lalu melakukan room service bersama Michael. Persis sesuai tebakanku tadi. Kalau pria itu tidak bisa menandingi kebuasan Paula. Benar benar erotis. Mungkin pria itu butuh beberapa pendidikan sex yang lebih baik. Aku hanya tertawa sedikit geli melihat aksi mereka. Michael dipaksa menandatangani kontrak oleh Paula, saat Paula melakukan service oral diranjang dalam keadaan naked. Benar benar luar biasa. Aku terpaksa menutup video itu saat suara pagar berbunyi lalu terdengar suara clarkson dari teranno kingroad yang ditumpangi Aida.. mobil yang mengantarnya pulang tanpa masuk halaman rumah hanya sampai dipagar depan, aku membiarkan Aida berjalan sendiri. Kali ini aku enggan menghampiri. Dia menyapaku hangat dan mengatakan kalau dia baru saja makan malam bersama relasinya. Aku kesal sebenarnya, karena aku sudah menunggunya untuk makan malam bersama meskipun aku dalam keadaan lapar. Jadi apa boleh buat. Aku harus merelakan waktuku terbuang sia sia. Tidak ada percakapan hangat malam ini, Aida hanya sebentar menemaniku lalu pergi kekamar membersihkan tubuhnya yang terlihat acak acakan dengan celana dan baju seragamnya yang penuh dengan tanah dan pasir.”selamat malam Damar! Aku lelah, aku mohon pamit!” aku mengangguk saat dia meninggalkan aku. rasa kesal ataukah cemburu dengan apa yang aku lihat. Pria yang mengantarnya pulang tidak berhasil aku tangkap wajahnya. Tapi aku cemburu saat Aida memberikan senyum manisnya pada Pria itu. aku meninggalkan kitty diruang teras dan melemparkan Koran yang ada didepanku begitu saja. aku pergi dengan hanya membawa laptopku dan mengambil sebotol whiskey di bar tamu depan. Aku melewati kamar Aida, dan saat aku ingin membuka pintunya, sepertinya aida menutupnya rapat rapat dan mengunci kamarnya. Hingga aku melewatkan begitu saja hari ini tanpa obrolan yang Indah seperti hari hari sebelumnya. Aku hanya meletakkan laptopku dimeja kerjaku dan membenamkan tubuhku di air hangat yang penuh aroma kayu putih dan sandal wood. Sepintas aku sangat merindukan ibuku, meskipun sepintas aku kembali memikirkan banyak hal tentang duniaku,pekerjaanku,kehidupan pribadiku sebelumnya bahkan kegagalanku dalam memelihara hubungan perciantaan. Saat ini Semua bidang bisa aku kuasai dan berhasil gemilang. Tapi untuk urusan cinta yang suci, aku tidak pernah bisa. Bahkan ketika aku benar benar jatuh cinta aku selalu dipaksa menelan pil pahit. Aku ingin bisa menangis seperti kebanyakan wanita, aku ingin bisa berubah lebih baik sesuai doa dan pengharapan ibuku. Tapi sepertinya aku belum bisa. Aku butuh seorang pendamping yang mengganggap kalau aku adalah dunianya. Maka aku bersumpah bila ada wanita yang mau mencintaiku dengan tulus aku akan menjadi lelaki yang bisa tunduk pada ajaran agama yang membimbingku. Aku berjanji untuk merubah hidupku. Kali ini aku benar benar merasakan sesuatu yang berbeda. Nyaris sama seperti saat aku menginginkan Utari menjadi isteriku. Selalu ada pria lain selain aku. Pusing sekali memikirkan semua….oohh Aida. Merokok dan minum tidak bisa membuatku berpikir jernih seperti ini. air hangat tidak bisa menenangkan pikiranku, hingga aku pusing dan tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur disini. Saat aku bangun yang aku rasakan semakin pusing yang tidak tertahan, sehingga aku beralih ke ranjang dan membenamkan tubuhku hanya berlilitkan handuk. Beberapa saat kemudian Ratmi masuk membawakan makan malam untukku.
“masuklah, aku tidak mengunci pintunya! Andrew ada dimarnya” dan ketika Ratmi masuk mebawa trolly makanan,betapa terkejutnya saat aku melihat Aida berada dibalik punggung besar Ratmi. “ah,kejutan. Aku pikir kau sudah tertidur?” kalimat itu sebenarnya aku tujukan pada Aida, tapi sayang justru Ratmi yang menjawab.
“saya Khawatir keadaan Tuan, saya perhatikan anda belum makan sama sekali malam ini” Ratmi mengomel seperti ibu kandungku, hanya dia satu satunya orang yang berani memakiku bila aku salah. Aku suka dengan perhatiannya ”satu lagi Tuan, sewaktu anda tidur tadi,nyonya menghubungi anda beberapa kali tapi katanya anda sama sekali tidak menjawab. Tapi sepertinya nyonya besar terkesan bingung.cobalah unutuk segera menghubungi nyonya biar saya sedikit tenang” tangannya sibuk menata makanan dimeja kamar. Aida membantunya dengan cekatan tangannya yang terampil tanpa bicara banyak hanya sesekali melempar senyum ketika aku mengedipkan mata. Sungguh cantik sekali kekasih Michael ini, dia mengenakan skirt panjang bermotif batik madura dengan kaos ketat berwarna putih. Sandal tipis seperti slop dia kenakan sebagai alas kaki berwarna ivory.” Ahhh…sudahlah nona, anda jangan terlalu capek. Anda juga butuh istirahat, biar saya saja yang menatanya” aida hanya menggeleng, bahkan sesekali melarang Ratmi untuk membantunya. Aku suka melihatnya.
“tolong tinggalkan kami! Ratmi” wanita tua itu hanya melongo dan dengan terpaksa dia mundur perlahan lahan lalu menganggukan kepala dan pergi sambil menutup pintu kamar pelan pelan. “besok aku akan menelphone nyonya besar” sahutku sebelum dia menutup pintu kamarku rapat rapat tentu yang aku maksudkan adalah ibuku. Kini hanya ada kami berdua di dalam kamar. Aku beranjak dari ranjang menuju lemari mengambil kemeja dan celana kain. Aida pura pura tidak memperhatikan aku. Dia masih sibuk menata meja yang penuh dengan makanan yang belum tentu bisa kami habiskan walaupun berdua. Tanpa rasa malu aku sengaja memakai kemeja didepannya. Dan tidak ada complain yang keluar dari mulutnya. Sehingga aku terpaksa menggodanya.
Tertawa sedikit cukup untuk memulai obrolan “apa kau terbiasa seperti ini?” tanyaku penasaran.
“tidak!” aku rasa dia mengerti apa yang aku pertanyakan
“lantas!”
“kau sendiri terbiasa nakedkan didepan kaum hawa?” sontak itu membuatku tertawa geli dengan fantasi yang ada di otakku, aku berharap dia datang memelukku dari arah belakang lalu mencium punggungku, tentunya dengan busana yang terlepas tanpa paksaan, aku akan sangat rela dijatuhkannya diatas ranjang atau sofa yang ada diujung corridor. Atau bahkan dikarpet sekalipun tentu tidak akan ada masalah.
“apa yang kau pikirkan!” suaranya terdengar menggerutu dan membuyarkan fantasiku. Aku hanya berbalik lalu mengancingkan kemeja dan pergi mendekatinya. Ingin rasanya aku mencium lehernya yang jenjang seperti angsa. Sangat terlihat sexi dan menaikkan adrenalinku. Aku hanya menggeleng dan menarik kursi lalu duduk didekatnya yang masih sibuk dengan dua napkin yang dibentuknya menyerupai teratai. Dan ketika aku menarik tangannya, dengan lembut dia berkata “sebentar lagi Dam” aku hanya pasrah. Maafkan aku Aida tadi aku sempat kesal karena ketidak ramah tamahanmu tentu itu hanya terucap dalam hati. Tidak dengan detik ini, kau berhasil merubah suasana hatiku.
“kau mau makan apa?” tanyanya membuyarkan lamunanku, sungguh aku masih berharap bisa menikahinya suatu saat
“apa saja, asal jangan terlalu banyak, tolong baked potato saja?” tangannya begitu terampil saat menaruh hidangan itu, aku berinisiatif untuk mengambilkan apa yang dia suka.
“kau masih mengingatnya!”sahutnya dengan malu, anggukan saja yang bisa kuberikan. Tidak ada alcohol dimeja ini, hanya secangkir kopi dan segelas susu kedelai yang di bawa untuk dirinya sendiri lalu dua gelas kecil jus strawberry dengan hiasan daun mint dipinggir gelasnya. Potongan potongan kentang kecil mulai kujejalkan dalam mulutku,begitu juga dengan bebeberapa potongan sayur brokoli yang dia nikmati. Angin dingin mulai menembus masuk dalam jeruji kamar, suasana malam mulai terlihat sempurna ketika matanya mulai berani menatapku terang terangan. Spontan aku sedikit malu. Ini beda dari yang pernah aku rasakan. Meskipun dulu saat aku masih bersama Utari. Hampir aku tersedak minuman yang baru saja aku minum. Lidahku terasa terbakar.
“kopi ini panas sekali!” aku menggerutu dan dia tertawa kecil.
“seharusnya kau tidak terlalu tegang!bukankah kau sudah terbiasa menemani wanita” nadanya terdengar ketus dan mengejek
“apa maksudmu! Aku tersedak dan kau masih saja bisa ngomel seenakmu!” sahutku tidak kalah ketus meskipun aku malu dibuatnya.
Malam yang sempurna dengan obrolan yang biasa tapi dengan wanita yang istimewa. Itu sudah cukup membuat duniaku melayang. Kini dia pergi meninggalkanku dimeja,bergerak mendekati play disk, memilih beberapa film yang ingin dia tonton.
“kau menyukai film perang!” tanyanya
“iya, black hawk down salah satu favoritku selain saving private ryan”
“apa kau memiliki film drama?”
“coba carilah, tapi aku tidak yakin kalau pernah mengkoleksinya!” kini jarinya semakin cepat mencari judul yang dia inginkan “coba kau cari judul the great Gatsby yang baru saja tayang, atau film good father yang paling terkenal itu!”
“aku tidak terlalu suka, tapi cobalah biar aku cari” tangannya masih mengaduk aduk tempat penyimpan dvd, apa kau punya film porno!” dia mengejutkan aku. Tapi seingatku aku belum pernah mengoleksi film sejenis itu selain kamasutra satu satunya yang aku punya. Spontan aku tertawa
“aku hampir tidak percaya, bila gadis sepertimu menyukai aksi porno!”
“tidak,tentu saja tidak, aku hanya bertanya, karena aku menemukan kamasutra di lacimu!”
“hanya itu saja koleksiku, yang lain murni film perang dan beberapa film-film action milik bruce wills,mel Gibson,mark Walberg, Jason statham ataupun jean claude van demme!”
“selera kita berbeda!”
“tapi banyak hal yang kita sukai!” jawabku mengejutkan. “apa kau juga menyukai film Indonesia ?thailand mungkin, atau china atau mungkin korea seperti yang biasa wanita sukai. India mungkin yang terkenal romantis dan yang terlalu dramatis menurutku. Terkadang menikmati film Thailand ataupun jepang juga seru bagiku. Hanya saja aku tidak punya banyak waktu untuk menikmatinya terus terusan”
“aku paham….kau lebih suka mengencani wanita, daripada menonton film!” aku berjalan mendekatinya setelah mengambil napkin cantik yang dia sulap menjadi teratai. Aku berdiri disampingnya dan memilih beberapa koleksi yang pastinya dia suka. Itu koleksi milik Utari yang masih aku simpan. “cobalah cari dilaci ini, mungkin ada yang kausukai dari sini!” aku meninggalkannya mengambil jus yang Ratmi letakkan dimeja untuk aku nikmati bersama sambil menonton, serta beberapa potongan udang dengan sauce mayonnaise dan champignon.
“woww, aku suka!” bibirnya mulai mengembang, seolah olah menyelipkan rasa girang yang berlebihan, lompatan kecil karena kegirangan itupun dia tunjukkan tanpa rasa malu. Ternyata dia bisa juga menjadi gadis lincah yang kekanak kanakan.
“bagaimna?” lanjutku “Apa kau sudah menemukan apa yang kamu suka?” aku penasaran saja, tidak sabar menunggu komentarnya. Hanya menoleh kebelakang sambil menggeleng dan menggaruk garuk rambutnya. “sebenarnya kau sudah dapat atau belum?” tanyaku
“ahhh..ya yayaya…aku baru dapat apa yang aku cari! Emmm sebenarnya ini milik siapa?” dia bertanya tanpa melihat. jadi selama dia tidak membalikkan punggungnya dan menatap ke arahku, maka aku tidak punya kewajiban untuk menjawab apa yang sudah dia tanyakan. “Dam…” lima menit kemudian tubuhnya berbalik lalu mendekat ke arahku sambil membawa satu dvd yang belum terbaca olehku.
“ya!” sahutku singkat,pura pura tidak melihatnya.
“ini milik siapa!” lanjutnya penasaran sambil mengambil jus yang ada di meja depanku. Dia meminumnya beberapa teguk lalu kembali menaruhnya, dan meraih satu lembar tissue yang ada di samping gelas.
“milikku…ah sebenarnya ini milik seseorang!” aku tidak ingin menyebut nama Utari saat bersamanya.
“seorang yang spesial! Apa yang kau maksud itu Paula? Sandra? Atau Yuniar!” lanjutnya mencoba menggali informasi lebih dalam. Dan mengecilkan suara audio lewat remote yang dia genggam.
“kau ini bicara apa?” aku menyanggah”pilih saja dvdnya lalu kau bisa putar dan kita bisa nonton berdua. Dia hanya melirik lalu kembali menaruh dvd pertama dan memasukkannya ke dalam optic dan memutar menseting mulai dari bahasa, audio hingga aku tidak lagi memperhatikan apa yang dia tekan kembali, satu cover film berjudul romeo Juliet dia letakkan di meja. Film itu kesukaan Utari, dulu kami membelinya, bahkan saat diputar di bioskop aku pernah menemaninya hingga tujuh kali penayangan.
“aku suka film ini!” sahut Aida membuyarkan semua, aku hanya bisa diam. Tiba tiba saja dia merapat disisiku membuatku semakin panas. Aku masih berpura pura tidak terlalu meresponsnya. bahkan hingga film itu dimulai. Kami tidak ada yang memulai obrolan. Mungkin dia masih asyik melihat wajah tampan Leonardo de caprio yang sedang duduk diatas batu karang di dekat pantai. Pria itu memang tampan tapi sayang dia terlihat kurus dan tyrus mungkin saat itu uangnya belum terllau banyak. Aku tidak bisa berkonsentrasi, entah apa ini merupakan gangguan ingatanku kepada utari, ataukah hanya karena aku sedang berdua dengan Aida. Nyaliku menciut. Tiba tiba saja ponselku berbunyi ternyata Paula meninggalkan sebuah video lewat emailku. Aku belum bisa membukanya. Tapi pasti itu video yang seperti dia perlihatkan sebelumnya. Karena Aida, aku tidak punya kesempatan untuk melihat. tapi biarlah, ini tidak terlalu penting. Kini giliran ponsel miliknya yang berbunyi. Ternyata Michael telah menghubunginya. Aida menerima panggilan itu lalu menjauh dariku beberapa meter sesudah dia menekan tombol ‘PAUSE’. Aku tidak mau mendengarkan percakapan mereka. Lagipula itu bukan urusanku. Dan satu hal aku tidak mau terlihat cemburu mendengarkan percakapan mereka. Bukan typeku untuk menunjukkan rasa cemburu. Satu menit berlalu datang lima menit, hingga beberapa menit kedepan mereka masih saja asyik mengobrol berdua, kini kesempatanku melihat video yang dikirim Paula. Persis seperti dugaanku, ternyata video itu berisi potongan potongan adegan mereka di ranjang dalam sebuah kabin kapal pesiar. Lalu beberapa hadiah yang Paula terima. Tapi yang paling aku suka adalah beberapa bukti gambar surat surat illegal dari beberapa transaksi Michael yang sudah berubah menjadi legal. ‘anjing’ teriakku. Lama lama aku kesal hingga aku selesai Aida belum juga selesai dengan Michael. Aku bisa gila melihat mereka mesra mesran ditelphone tepat didepanku. Dengan sengaja aku memutar video yang tadi sempat terpause oleh Aida, lalu meninggikan volumenya dan memperbesar basnya hingga suaranya terdengar seperti percakapan monster. Satu menit kemudian mereka menyudahi pembicaraan, lalu Aida kembali duduk disebelahku dengan pandangan menyesal
“dia?” aku sekedar menebak
“maaf, Michael baru saja menghubungiku!aku tidak bermaksud mengacuhkanmu!”
“bukan masalah!”
“aku tahu!” tentu saja itu masalah dan kamu tidak tahu. Pikirku dalam hati. Aku merasa ini gejala awal aku mulai menyukainya dengan hati. Hingga tanpa aku sadari, aku mulai merasakan bagaimana panasnya api cemburu.
“apa dia di amerika!” tanyaku
“ya, dia mengatakannya tadi, katanya bersama beberapa model dan beberapa rekannya sedang membicarakan proyek baru!”
Aku tertawa sinis, ingin sekali aku menceritakan kalau pria yang dia cintai sedang bersama wanita pemuas nafsu yang pernah aku kencani. Aku tidak bisa membayangkan kalau mereka bercumbu sambil menelphone Aida, karena seperti itulah cara Paula membuat pasangan ranjangnya bergairah. Lagipula Paula tahu kalau Michael sudah memiliki kekasih. Aku hanya diam tanpa menjawab. Meninggalkan banyak keraguan dalam pikiran Aida. Aku merasa kasihan padanya. Tidak ada lagi yang kami bicarakan malam itu. raut wajahnya tidak ada yang berubah sebelum atau sesudah kekasihnya menelphone. Tidak ada rasa kagum atau bentuk kerinduan yang dia tampilkan padaku tentang Michael. Dan hari hari setelah itu semua terjadi seperti biasanya, kami makan bersama, berenang bersama bahkan sesekali dia berkebun atau menemaniku berburu bersama Kitty. Dan dia membantu Ratmi didapur atau mengganti vas bunga dengan bunga baru yang sudah dia petik di taman. Aku semakin tertarik untuk memilikinya. Tertarik untuk membentuk hubungan baru yang sifatnya lebih intim. Hanya saja aku masih ragu dengan apa yang aku lihat. Aku bersumpah akan secepatnya mencari pengganti Utari dalam hidupku. Bila sudah memikirkannya aku susah saat menghilangkan bayangannya. Aku sudah mencoba beberapa hari ini untuk menghindari Aida, hanya lebih ingin tahu tentang kami. Hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya melanda kami. Beberapa hal yang jadi pertimbanganku, disatu sisi aku mulai terperangkap dan tidak bisa menghindar lagi. Dan Yang aku takutkan adalah aku kembali bertepuk sebelah tangan seperti apa yang aku alami saat aku mencintai Utari. Terkadang aku merasa senang bila Aida sibuk diluar sana mencari beberapa artefak atau fosil baru, disatu sisi aku merasa sangat kesal bila Aida tidak kunjung datang dan pulang untuk menemaniku makan malam ataupun sarapan pagi. Tapi bila kami bertemu di meja makan jarang ada percakapan yang intens seperti sebelumnya. Hingga aku putuskan sementara waktu kembali ke Jakarta . Dan aku meminta semua orang rumah untuk benar benar memperhatikan kebutuhannya dan menjaganya seperti keluarga sendiri. Awalnya Aida memaksakan diri untuk kembali ke rumah dinasnya. Tapi aku melarang, aku berjanji tidak akan lama.
“aku hanya seminggu, ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani, lagi pula ada beberapa tamu calon investor di hotelku yang ingin bertemu!” jelasku sedikit berbohong, sebenarnya tamuku bisa saja menemuiku disini, tapi ada alasan lain yang lebih serius kenapa aku memilih datang ke Jakarta .
“aku tidak enak dengan pegawaimu disini” jelasnya dengan nada datar
Aku tertawa kecil, sebenarnya kalau dia mau aku bisa membawanya. Hanya saja aku enggan menawarinya. Lagipula dia tidak ada perasaan khusus terhadapku jadi untuk apa.
“jangan terlalu berfikir macam-macam, anggap saja rumah sendiri, mereka tahu kau tamuku. Jadi biasa saja, aku benar benar minta maaf ini mendadak, sebenarnya aku tidak mau meninggalkanmu seorang diri. Tapi percayalah disini kau aman, kau bisa menggunakan semua fasilitas dirumah ini tanpa terkecuali, mobil manapun bisa kau gunakan, baiklah aku berangkat dulu ya, sampai ketemu minggu depan” Hilman membawakan tasku, dan bergegas mengambil kunci mobil. Aida mengikutiku hingga ke halaman depan. Wajahnya terlihat sendu, tapi mungkin itu hanyalah khayalanku. “oh ya Aida, kalau kau tidak keberatan tolong kau beritahu aku bila kau sedang beraktifitas diluar rumah, hanya sekedar agar aku bisa tenang untuk memastikan kalau kau dalam keadaan aman” kepalanya mengangguk sambil senyum tipis lalu melambaikan tangan.
“apa aku boleh mengantarmu ke bandara?” aku terkejut, karena memang itu yang sebenarnya aku harapkan dari tadi.
“kau tidak sedang sibuk?” hanya memastikan kalau schedulenya tidak terlalu padat.
“aku yang bertanggung jawab dengan ekspedisi ini, jadi aku yang mengatur sibuk atau tidaknya diriku!” sahutnya lugas dengan senyum menggoda, tentu sjaa smeua menarik perhatianku
“baiklah, masuklah! Aku tidak mau ketinggalan pesawat hari ini, Mr Lee sudah menungguku di Jakarta , dia akan segera kekantor jam 10.00.” dengan cepatnya kakinya yang Indah itu meloncat kedalam CBU HUMMER H2 warna merah. Dengan cepatnya sang sopir yang juga orang kepercayaanku menyusuri jalan setapak menuju ke bandara yang membutuhkan waktu selama dua jam. Aku berusaha meraih tangan Aida. Dan tidak sedetikpun dia menolak. Kulitnya terasa hangat saat menggelayuti anganku. Jiwaku semakin tidak terarah. Nyaris aku tidak berani menatap wajahnya. Mukanya berpaling kearah jendela. Dia sendiri sibuk mengamati hutan, sibuk mengamati pohon berjalan mengalihkan perhatian. Dan aku sibuk memikirkan bagaimana mencari kesempatan untuk menciumnya. Karena sejak awal aku belum punya kesempatan untuk melakukan itu. hingga akhirnya kami sampai juga dibandara. Dia mengantarku keterminal domestik, hanya kami berdua. Berjalan bergandengan tanpa takut orang yang mengenal kami datang untuk menegur. Tetap saja meskipun berdua aku masih tidak punya nyali untuk menciumnya. Aku enggan, aku malu tapi aku sangat menginginkan itu terjadi semuanya bercampur aduk. Baru kali ini aku malu pada perempuan. Dengan Utari saja dulu tidak seperti ini. kami hanya melepas ucapan untuk saling menjaga diri baik baik, mulai dari kesehatan hingga….tidak ada pesan spesial selain kata kata keep in touch
“apa aku boleh menelphonemu?” dia membalikkan punggungnya saat mengatakan itu. betapa bahagianya aku mendengar kaliamt yang keluar dari mulutnya tanpa paksaan.dan spontan aku menjawab” telphonelah, sesering yang kamu mau Aida, aku tidak akan menolak”
“terimakasih sahutnya” sambil melambaikan tangan.
Sesampainya di Jakarta. Aku langsung menuju kantor menemui Hans. Ternyata dia sudah siap diruang meeting bersama sekertarisnya dan beberapa tamu. Begitu juga dengan Sandra sekertarisku, yang selalu terlihat erotis disetiap penampilannya. Sandra menyapaku dan membawakan tasku. Dia duduk disebelah kananku, dan dikiriku sudah duduk Hans bersama sekertarisnya. Aku lupa siapa namanya, sekertaris Hans sangat berbeda dengan Sandra, dia sedikit kuno tapi sangat dinamis. Mr lee datang bersama beberapa orang seperti Mr chen, dan Mr Zao mereka bertiga membawa beberapa tawaran dan kerjasama. Serta bersedia menanamkan modal dan saham di perusahaanku. Tentunya dengan beberapa tanda tangan kontrak yang lengkap dengan beberapa persyaratan yang kami ajukan. Syukurlah meeting hari ini belum bisa menemui kesepakatan bulat jadi aku masih punya waktu unutk menghindari Aida. Sehingga harus kami lanjutkan besok. Sandra dan Hans menemaniku untuk menjamu mereka disebuah tempat hiburan malam, ada beberapa wanita cantik yang disewa Hans untuk menghibur tamu dari China itu. sayang Mr chen menolak wanita malam yang disewa oleh Hans, dari sinilah aku tahu gaya hidup yang sesungguhnya,ternyata dia salah satu pengusaha pecinta pria alias metrosexual. Seorang wanita yang seharusnya milik Mr chen dengan senang hati dia berikan pada Mr Zao yang kelihatannya sangat menggemari wanita wanita penghibur. Mendadak kepalaku sangat pusing ketika menemani mereka,sindrom Aida mulai menyerangku. Tidak biasanya ini terjadi.sehingga aku harus mencari satu alasan yang sangat pas agar tidak menyinggung perasaan mereka. Sandra mengerti apa yang sedang aku alami. Meskipun sesungguhnya dia sama sekali tidak tahu.
“hei…boss…apa anda baik baik saja?” Tanya Mr Chen yang sesekali memperhatikan aku mondar mandir ke rest room. Dan saat Sandra mengeluarkan beberapa tissue untukku. Mungkin mereka mengira kalau aku sedang tidak enak badan. Aku hanya menggeleng sambil menahan rasa sakitku.
“pak apa perlu saya antarkan pulang?” jawab Hans
“Pak Damar, tidak masalah kalau anda pulang untuk beristirahat, apa perlu saya mengantarkan anda kekamar?” sahut Zao “ya..ya..ya benar” jawab Chen.
“terimakasih, iya benar kalau tidak keberatan saya ingin mohon diri, kau bisa temani tamu kita kan Hans?”
“tentu saja Pak?” jawab Hans dengan senang hati
“Pak Hans, saya sudah mempersiapkan semua keperluan para tamu dan kuncinya sudah saya titipkan receptionis dibawah! Saya diminta Bapak untuk mengantarnya!” jelas Sandra sesuai dengan yang aku katakan tadi
“baiklah” sahut Hans pada Sandra. Aku menjabat tangan mereka dan memberikan pelukan bisnis, aku berjanji akan meeting besok pagi siap dengan beberapa kontrak yang jelas akan menambah nominal digit dalam rekeningku. Aku melirik tangan Sandra yang hampir saja ditarik sedikit nafsu oLeh Mr Zao. Aku hanya bisa tersenyum, tapi sandra menolaknya dengan halus. Tentu saja Sandra takut bila dia kasar maka aku akan memecatnya karena bisa menggagalkan misiku. Maklum Zao terlihat mabuk berat. Diapun tidak ada sungkannya saat menggrayangi dua wanita yang ada dalam pelukannya, tanpa sungkan hingga beberapa bagian baju mereka hampir saja rusak. Sandra terlihat jijik. Meskipun biasanya kami sering melakukan hal yang sama diluar kantor. Aku hanya geli dibuatnya, sungguh nyaris saja kancing bajunya yang paling atas terlepas hingga hampir terlihat tali bra-nya yang berwarna merah. Sandra memang mengantarku pulang kerumah. Kali ini tidak ada sopir, dan karena aku sedikit sakit dan mabok,maka sandralah yang menyetir.
“kau bisa?” tanyaku setengah mabok
“ya sayang aku bisa, hanya saja aku takut bila galardo mu ini beset?” jawabnya sambil membuka blasernya, kini dia hanya mengenakan baju sebatas dada, sedikit menunjukan kemolekan dadanya yang sintal tanpa sungkan, itu biasa terjadi bila hanya ada kami berdua. Pahanya yang mulus bebas untuk aku sentuh begitu juga dada dan tubuhnya yang sintal dan penuh isi. Tapi tidak untuk saat ini, karena aku tidak benar benar nafsu menikmati pesona tubuhnya yang masih mengkilat dan mulus.
“istirahat saja, sebentar lagi sampai, kita lewat tol” jelasnya dengan detail tanpa menoleh kearahku, dan biasanya kalau aku yang menyetir dia sudah duduk didepanku tanpa sungkan, kami pasti bercumbu hingga dia berhasil memuaskan aku. Lipstiknya yang glossy biasanya hilang karena luntur, dan dadanya pasti penuh dengan kecupan warna merah, tak jarang celana dalamnya ataupun branya terlepas begitu saja. oleh tanganku, tak jarang juga dia suka telanjang dengan sukarela tanpa paksaan dan itu sangat membuatku hidup. mungkin malam ini dia mencoba untuk membuatku bergairah. Dia hampir berhasil tapi sepertinya dia harus lebih bekerja keras. pasti dia berfikir kalau aku benar benar mabok. Aku hanya bisa berpura pura tidur tanpa menghiraukannya. Hingga sampai didepan rumah, seorang pembantu membukankan pintu rumah, dan Sandra sibuk membantuku hingga sampai kekamar.
“tolong siapkan air minum hangat ya dikamar, sama satu baskom air hangat” pinta Sandra pada perempuan itu. “sayang kita sudah sampai dikamar! Bangunlah!!” dia sibuk membantu melepas sepatuku dan blaserku , dasiku dia lemparkan begitu saja. “kau sepertinya mabuk berat. Kau tidak biasnaya seperti ini kecuali kalah tender.” gerutunya.
“enggak,cuman sedikit saja!”sahutku dengan nada pura pura mabok. Aku memang benar benar sedang tidak ingin melayani nafsunya malam ini.”pulanglah, bawa saja mobilku, atau minta tolong saja sama parmin untuk mengantarmu!” tapi sepertinya dia masih saja sibuk membuka kemejaku bahkan kini celanaku, tanpa sungkan. “pulanglah!” aku terus menyuruhnya pergi “pulang saja,kepalaku pusing sekali”
“baik..baik..baik aku akan pulang setelah membersihkan tubuhmu!”suaranya terdengar kesal,tapi aku tidak perduli dengan kemarahannya yang tidak biasa itu
“tidak, kau pulang saja sayang, kita ketemu dikantor besok pagi.oke!sorry aku tidak mengusirmu. Tapi kepalaku benar benar pusing”
“baiklah..bos, aku pulang” akhirnya dia pasrah menuruti kehendakku, setelah menciumku penuh nafsu dan meremas Mr happy ku. Aku terperanjat untuk melayaninya. Mungkin ini reaksi alcohol yang mempengaruhiku. Aku buru buru menghindarinya ,dan mendorongnya dengan pelan,sedikit rayuan dan cumbuan yang sebenarnya aku risih untuk melakukannya kali ini. “pulanglah sayang, ini sudah jam dua pagi,kau harus beristirahat. Aku tidak ingin melihat matamu merah dengan kantung mata yang berwarna hitam. Aku sedikit meremas pantatnya saat dia menungging diatas perutku ,hanya sekedar agar dia tidak melihat perubahan sikapku. Ingin rasanya aku gulingkan tubuhnya berbalik memutar. Tidak..tidak aku tidak bisa melakukan itu.
“baiklah sayang, aku pulang, sampai ketemu besok di ruang meeting” dia kembali menciumku, dan menggodaku
“sudahlah pergi sana , kepalaku pusing sekali, maaf ya aku tidak bisa menjamumu malam ini!”
“emmm…kau jahat, aku pikir tadi kau pura pura sakit, hanya untuk berdua saja denganku!” suaranya terdengar merengek dan kembali mendekatiku “baiklah, sampai ketemu ya sayang, I love you!”
“sudahlah…pulanglah, hati hati ya sayang!” aku tarik selimut tebalku. kusembunyikan wajahku hingga dia meninggalkan kamarku. Langkah kakinya semakin menjauh hingga tidak lagi terdengar ketukan sepatunya yang runcing. Nampaknya dia sudah pergi bersama erangan mesin.
“Jo..,apa Sandra sudah pergi?” tanyaku pada security yang berjaga malam ini.
“sudah pak !baru saja satu menit yang lalu Bu Sandra pulang,bersama parmin!”
Kini aku tenang, aku mulai sedikit jengah dengan tingkah Sandra, meskipun aku biasanya terbiasa dan meresponnya. Sejenak aku ingin menghubungi Aida, tapi aku takut mengganggunya jadi aku putuskan untuk menghubungi Ratmi.
“malam Ratmi”
“selamat malam tuan!”suara Ratmi terdengar letih,mungkin dia terbangun dari tidurnya yang lelap. Dan aku berpura pura unutk tidak menghiraukannya
“kenapa kau belum beristirahat? Kau sudah makan,apakabar Aida?”
“semuanya sudah makan Pak, Nona Aida baru saja selesai makan, dan sekarang sedang berenang!”
“pagi buta begini?”teriakku mengejutkan Ratmi”gila! Gadis gila” teriakku
“bukannya Tuan juga sering melakukan itu?” sahut Ratmi,membuatku malu.
“baiklah, terimakasih untuk informasinya, sekali lagi terima kasih selamat malam Ratmi…emmm,oh ya satu lagi,jaga Aida buat aku Ratmi!”
“tentu Tuan, sudah kewajiban saya menjaganya!selamat pagi”
“terimakasih!”
Aku menyudahi percakapan kami. Aku pikir Aida sudah beristirahat. Berapa menit kemudian Aida menelphoneku kembali. Mungkin Ratmi mengatkan padanya tentang sesuatu.
“hallo!” sapanya dengn lembut
“malam malam begini kau masih saja berolah raga, apa kau tidak takut masuk angin?” aku mengomel dengan nada penuh khawatir. Tapi dia hanya tertawa dan terkekeh. “kau ini, apa kau tidak tahu aku mengkhawatirkanmu!”
“ya,baiklah…aku sudah selesai, aku hanya sedikit ingin menenangkan diri?lagipula ini pagi bukan malam. Aku terbangun karena aku baru saja selesai sholat malam”
“apa?kenpa?apa kau ada masalah? Apa ini tentang kekasihmu!”
“tidak, aku baik baik saja, aku hanya sedikit gundah. Aku hanya tidak bisa tidur. Tapi baiklah aku akan segera tidur. Buktinya kau sendiri belum juga tidur,bagaimana pertemuanmu!”
“hahahha…semuanya masih berjalan baik! Doakan ya semoga ini berhasil!”
“tentu, baiklah aku mau mandi dulu, aku juga mau tidur,mungkin besok aku meminta izin untuk istirahat!”jelasnya, yang membuatku mendadak khawatir
“kenapa? Apa kau sakit?”
“tidak,aku hanya letih!”
“baiklah Aida, istirahatlah, mintalah Ratmi untuk membuatkan soup sehat sedikit tambahan ginseng. Semoga kau kembali sehat!”
“ya terimakasih! Akan kucoba meminta padanya beso pagi”
“kau jangan sungkan”
“iya,terimakasih!”
“baiklah Aida Selamat malam ya, secepatnya setelah urusanku selesai aku akan kembali ke Kalimantan !”
“aku akan menunggu. Dan kau jangan lupa mandi ini sudah pagi bukan malam. Jam tanganku hampir saja jam empat pagi”
Aida memutuskan obrolan kami. Aku sedikit sedih, semalam aku masih melihatnya membaca novel didepan perapian. Tapi kini kami terpisah pulau. Nampaknya aku merindukannya meskipun belum genap dalam hitungan 24 jam. Aku segera mandi seperti apa yang Aida perintahkan. Aku berendam dalam air hangat dengan campuran sandal wood dan minyak kayu putih. Aku membayangkan Aida yang juga sedang mandi, pasti dia juga akan terlihat sexi. Dia wanita cantik dan anggun,lebih anggun dibandingkan dengan Utari. Lebih pintar, dan sangat dinamis. Tapi ada sisi lain dari Utari yang masih sering aku rindukan. Aku belum yakin bila Aida bisa seperti dia. Aku terus menerus memikirkan mereka,mempertimbangkan semua perasaanku. Mempertimbangkan semua harapanku yang harus segera aku pupus, aku ingin harapan yang lain. Aku ingin dicintai seorang wanita dengan tulus. Aku bosan jadi berandalan, aku bosen dengan semua yang bersifat hura hura.
Letih memikirkan itu hingga aku tertidur, aku tidak tahu pasti yang jelas kepalaku sudah terasa berat. Dan saat Parmi masuk ke dalam kamarku.dia sudah membuka semua gordyn yang ada dikamar lalu membawakan aku sarapan dan beberapa baju yang baru saja dia ambil dari laundry. Suara Parmi terdengar melengking saat memanggil namaku, dan aku pura pura tidur didalam bath tub, seluruh ruang kamar dia lewati untuk melihat apakah aku masih hidup ataukah mati tiba tiba ,karena mabok semalaman. Hingga dia putuskan untuk menerobos kamar mandi yang sengaja tidak pernah aku kunci, bahkan biasanya tidak pernah aku tutup. Parmi terkejut melihat aku telanjang dalam kondisi basah, beruntung banyak busa yang menutupi tubuhku, tapi kaki kananku sengaja aku keluarkan saat aku mengetahui dia akan masuk.
“astaga, ya Tuhan! Syukurlah anda disini!” suaranya yang terdengar terkejut itu membuatku merasa iba dan sedikit geli. Aku jadi tidak ingin melanjutkan untuk membuatnya mati berdiri dengan berpura pura sedang mati karena over dosis. “maaf Tuan, kalau saya mengejutkan anda, saya tidak tahu kalau anda sedang berendam.saya sendiri juga terkejut” parmi buru buru keluar, dan meninggalkan kamar. Sial jadi, Dia pikir aku benar benar mati, wajahnya mendadak pucat seperti orang yang baru saja bertemu setan. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Dia sedikit penakut dibanding Ratmi. Padahal usinya jauh lebih muda. Wajah Parmi sangat manis,mungkin kalau dipermak sedikit saja dia sudah seperti nyonya besar. Mungkin dia banyak juga yang menyukainya. Buktinya mata willy melirik saja ketika aku mengajaknya kerumah beberapa minggu yang lalu. Mungkin lain waktu aku bisa lebih teliti melihat kelebihan parmi yang masih terlihat gadis desa dan sangat kuno, tapi aku berani menjamin kalau dia masih perawan. Ibuku sendiri suka dengan Parmi. Dan pernah memintaku untuk mencari gadis desa saja seperti Parmi, dibandingkan dengan Paula yang pernah dia jumpai saat menginap dirumah ini. jantung ibu hampir saja lepas ketika melihat Paula sedang tidur telanjang dikamarku hanya dengan mengenakan selimut, sejak kejadian itu ibu jarang sekali mau kerumahku di Jakarta . Kalau perlu dia hanya mau berkunjung di hotel. Sekarang giliran Sandra yang menggangguku pagi pagi, dia sudah menelphoneku sebanyak sepuluh kali. Pasti dia ingin bertanya apakah aku sudah dalam perjalanan kekantor atau belum. Tentu saja aku belum, bahkan aku belum mandi ataupun sarapan.meskipun sudah jam sepuluh pagi dan seharusnya aku sudah siap dengan acara pertemuan yang sudah ada dijadwal agendanya.
“morning darling” sapaku hanya sekedar untuk meredakan amarah Sandra semalam. Pastinya dia sedang kesal digoda oleh Tao.
“Pagi pak, bapak dimana?” pertanyaan itu jelas menandakan kalau dirinya sedang duduk diruang meeting. Nafasnya tersengal sengal. “bapak seharusnya sudah tiba, dan para kolega sudah datang dan menanyakan Bapak”
“maaf honey, aku lupa kalau hari ini kita ada pertemuan, tolong jadwalkan ulang sehabis makan siang saja. dan satu lagi beri saja hiburan apa yang mereka butuhkan, jangan khawatirkan soal harga. Jangan sampai mereka merasa kecewa. Tolong berikan handphone-mu aku ingin berbicara dengan Hans sebentar”
“baik Pak!”
“selamat pagi Pak” jawah Hans, tanpa waktu lama akupun menjawab
“hans, tolong kau Bantu Sandra agar dia tidak terlalu pusing dengan keanehan para tamu. Aku akan datang jam satu siang saja, selesai makan siang kita akan segera meeting”
“baik Pak”
“oke,thank you!”
Aku segera merapikan penampilanku dengan kemeja yang sudah ditaruh Parmi dikamar setengah jam yang lalu. Rasanya aku ingin sekali mengucapakan kata selamat pagi pada Aida tapi sayang sudah berapa kali aku menghubunginya tapi dia tidak menjawab, aku enggan bila harus menelphonenya lagi. Aku hanya meninggalkan pesan pada YM , aku ingin menelphonenya. Dan tepat pukul dua belas siang aku sampai dikantor ketika semua orang sedang sibuk dengan makan siang. Justru aku yang baru datang menyelesaikan kesibukan. Aku mencoba melihat meja kerja Sandra yang sangat berantakan dengan beberapa file yang belum sempat dia rapikan. Mungkin tadi pagi dia kesiangan datang ke kantor.hingga belum sempat merapikan meja. Tepat jam satu siang aku kembali memimpin meeting setelah setengah jam kami bercerita yang tidak penting hanya sekedar untuk berbasa-basi dalam ramah tamah. Tentu saja dengan alasan utama agar mereka mau menambah jumlah modal yang lebih dari yang aku harapkan. Dan semuanya berjalan sempurna dan sangat menjanjikan. Kalau ini berhasil aku bisa membeli satu pulau pribadi lagi dan membangun satu hotel mewah berbintang enam. Aku tidak sabar ingin bertemu Aida dan menceritakan semuanya. Tapi tidak ini belum saatnya, baru kemarin lusa aku meninggalkannya. Jadi tidak mungkin aku kembali secepat ini untuk menemuinya. Aku belum ingin dia tahu tentang semua hal menyangkut diriku.
Sepuluh hari sejak aku meninggalkan Aida baru hari ini aku benar benar tidak bisa membendung perasaanku. Tapi aku belum yakin dengan ini semua. Dan ketika aku ingin menemuinya,mendadak ibu memanggilku agar aku segera datang. Bayu adikku kembali mengalami serangan jantung. Dan kini harus dirawat dirumah sakit secara intensif. Itu berarti ibu menuntut kehadiranku segera mungkin untuk pulang ke Surabaya . Aku tidak suka dengan ini. satu hal yang sebenarnya ingin aku hindari. Aku benci situasi seperti ini. aku enggan, aku muak bila harus terlibat cerita lama. Karena rasa pusing yang menuntutku terlalu keras hingga aku hanya bisa mencari sedikit hiburan dengan cara menguhubungi Aida kembali. dan Kali ini dialah yang sedang menghubungiku. Rasa senang kembali menghiburku. Suaranya yang merdu menyapa gendang telingaku dengan manis. Terasa seperti coklat swiss yang meleleh dimulut. Rasanya benar benar manis.
“apakabar Damar? Maaf tadi pagi aku tidak mendengar panggilan masuk, sepertinya aku tertidur pulas”
“tentu saja, kabarku baik. Kamu sendiri bagaimana?”
“aku baik saja, kau kapan pulang?”
“sebenarnya aku ingin pulang hari ini, tapi sepertinya aku harus ke Surabaya ? Urusan keluarga, mendadak”
“orangtuamu baik sajakan?”
“tentu, ibuku baik, dan ayahku sudah lama meninggal!”
“oh maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu gusar!”
“tidak,tidak Aida. Aku tidak sedang marah aku hanya bingung, jadi mohon maaf aku belum bisa balik Kalimantan dalam waktu dekat”
“oh, baiklah kalau begitu, aku sebeneranya ingin menunggumu Damar, tapi sayang sepertinya kau sibuk, dan aku harus segera ke bali besok pagi. Tapi karena kau tidak bisa datang hari ini, maka pemesanan tiket baru saja aku majukan nanti sore dan kalau jadwal penerbangan lancar, maka aku akan sampai di bali sebelum jam sepuluh malam” suaranya terdengar menyesal atas penjelasanku.
“ada urusan apa kau ke bali?” aku kaget setengah penasaran “apa misi liburan? Atau..emmm ada yang lain. Aku akan menyusul kesana bila smeua urusanku dengan keluargaku selesai”
“ya, Michael memintaku untuk ke Bali , hari ini dia sudah mendarat di bali. Baiklah kalau begitu sampaikan salamku pada keluargamu ya, semoga harimu menyenangkan!dans epertinya aku tidak jadi menyusulmu ke bali” pembicaraan kami terputus oleh jempol tanganku. Aku tidak perduli apakah dia tersinggung ataupun marah. Yang jelas aku dalam keadaan cemburu mendengar kedatangan Michael,mungkin Aida pikir aku dalam acara liburan. Aku tidak habis pikir si bangsat itu kembali begitu cepat. Bahkan Paula tidak memberiku kabar sama sekali. Dan saat aku menghubunginya, selalu hanphonenya dalam keadaan mati. Dengan cepat pula aku meminta Sandra agar dia mencarikan aku tiket penerbangan ke Surabaya dengan jadwal yang paling cepat. Dan aku mendapatkannya.
Sampainya dibandara juanda, sopir ibuku sudah siap menjemputku dan membawaku menemui Bayu. Keadaan Bayu sangat parah, Utari duduk disampingnya dengan wajah pucat pasi,sayu dan sangat lembab, sepertinya air matanya terus menerus tumpah, dan ibu hanya bisa duduk termenung sambil menatap anaknya yang tengah terbaring koma, penuh dengan selang infuse. Penampilan ibu terlihat kacau, rambutnya sudah banyak yang berwarna perak, tangannya memegang tasbih. Seperti inikah ibuku sekarang. Aku memperhatikan mereka dari kaca jendela pintu yang kecil. Dan tanpa mengetuk pintu akupun langsung masuk kedalam. Seperti biasa ibu langsung berdiri dari duduknya yang menegangkan, lalu memelukku setelah aku mencium tangannya
“kau terlihat kurus” ujarnya sambil memelukku seperti bocah hilang yang baru saja dia temukan dipasar tradisional “terimakasih kau mau datang untuk ibu, ibu tidak sanggup sendirian melihat bayu seperti itu!nak” aku hanya diam dan memeluknya erat, aku memang merindukan ibu. Kami lama tidak bertemu meskipun belum satu windu tapi rasanya sudah satu abad. Aku setengah melirik menatap Utari yang kini mulai berdiri seakan akan ingin menjabat tanganku erat. sepintas lalu aku mulai bertanya dalam hati, apakah dia masih merindukan aku setelah sekian lamanya kami tidak pernah bertemu. Ibu masih belum rela melepaskan pelukannya yang erat. meskipun tubuhnya lebih kecil dariku tapi dia kuat sekali seperti akar pohon. Meskipun usianya bertambah tua.
“ya..bu,mungkin aku kurang memperhatikan makananku” saat ibu melepaskan pelukanku, aku berjalan mendekati Utari, jantungku terasa mau lepas, ketika aku amati langkah kakinya maju selangkah, meskipun langkah yang kedua hampir saja terjadi. Tapi niatnya diurungkan setelah melihat aku mendekatinya dengan agresif.
“apa kabarmu Utari?” spontan hanya kalimat itu yang bisa aku keluarkan untuk mengawali obrolan “kau terlihat kurus”aku melanjutkan kalimatku
“kau juga kurus!” sahutnya. Dan seharusnya dia tahu, kenapa aku terlihat kurus. Ini semua karenanya Karena aku merana memikirkan cintanya yang terenggut oleh bayu. “duduklah!” dia berdiri dan memintaku untuk menggantikan tempat duduknya.
“tidak apa, kau saja yang duduk. Kau terlihat lemas! Sorry aku baru tahu kalau Bayu sakit”
“tidak apa, kau kan jauh, aku juga baru memberitahu ibu kalau adikmu sakit!”
“jadi selama ini kau merahasiakannya?” kepalanya tertunduk,matanya berkaca kaca. Mungkin pikiranya terlalu berat. Banyak beban yang harus dipikulnya dan dia tidak bisa untuk berbagi cerita. Aku hanya bisa diam tanpa menenangkan dengan kata kata. lalu kutepuk bahunya tiga kali. Aku juga masih membatasi diri dengan beberapa hal yang tidak berani aku lakukan. Walaupun jujur akupun merasa berat melihat kondisinya. “sudah hampir sepuluh tahun,kita tidak bertemu!” jelasku dengan nada datar. Aku ingin memastikan bahwa dia masih ingat dengan apa yang dia perbuat padaku dulu.
“ya” suaranya terdengar datar. Lalu diam tanpa suara dan tatapan. Akupun terdiam karena aku merasa kalimat terakhirku itu sudah berhasil menusuk jantungnya. Lalu ibu mendekati kami, sedikit banyak ibu sangat tahu apa yang aku alami bersama Utari. Jadi ibu berusaha untuk mencairkan suasana ketegangan antara kami. Dan saat ibu mulai mengatakan sesuatu “nak,…!” telphoneku berbunyi. Sandra memintaku untuk segera membaca email yang dia kirim agar aku memberikan perintah untuknya. Ini kesempatanku untuk menghindari Utari mencari hawa segar diluar ruangan. “sebentar Bu, sekertarisku sedang butuh sesuatu!” jawabku sambil lalu berjalan keluar dengan cepat tanpa menyisakan suara sepatu. Dengan berpura pura menelphone Sandra, maka mereka tidak akan tahu kalau sebenarnya aku menghindarinya. Aku hanya mencari café yang ada dalam rumah sakit. Letaknya ada disudut rumah sakit sebelah Utara dekat dengan ruang tunggu utama pasien. Aku memesan secangkir kopi double ekspreso dengan dua muffin coklat bertaburan choco chips. Rasanya enak, tapi tidak seenak buatan ratmi. Aku merindukan wanita tua itu. aku merindukan masakannya. Aku tidak bisa berpikir sehat ketika gambaran Aida kembali menyeruak dan membayangiku. Aku tidak memberikan perintah apapun pada Sandra. Aku hanya membalas emailnya ‘sandra sayang, putuskan saja sendiri. Aku percaya dengan keputusanmu, bertanyalah pada Hans bila kau merasa tidak percaya diri dengan keputusanmu. ‘Thanks’. Hanya emoticon smile saja yang terkirim sebagai balasan. Aku berusaha untuk mengendorkan otot sharafku. Aku ingin tenang, dan tidak terlibat emosi lamaku bersama Utari. Aku mencoba menguhubungi Aida beberapa kali tapi dia tidak menjawab. Pasti dia sibuk bercinta dengan Michael. Aku mulai kesal dengan diriku sendiri, kenapa aku tidak pernah memiliki satupun wanita yang loyal dan bisa mencintai aku dengan tulus seperti bayu yang mendapatkan cinta Utari. Kusandarkan sejenak kepalaku pada punggung kursi yang sangat nyaman,kainnya lembut tapi justru warna merah kursi ini tidak bisa membuatku tenang. Dari arah balik aku melihat ibu menghampiriku.
“darimana ibu tahu aku disini!”sapaku tanpa menatap kedua matanya, justru aku mengamati sepatunya yang berwarna putih penuh dengan hiasan manik manik
“aku tahu dimana tempat yang kau hampiri bila kau sedang kesal, ibu tahu apa yang ingin kau makan dan minum ketika kau kesal. Dan beruntung baru kali ini ibu melihat kau tidak sedang memegang leher botol minuman whiskey” aku memaksakan diri untuk tersenyum. Dan ibu hanya berbalik tersenyum datar dan tipis. Kami berbicara banyak hal tentang masa lalu dan masa kini, tapi sayang aku tidak berani menanyakan sesuatu yang ingin sekali aku tanyakan. Ini tentang Utari. Utariku yang dulu tidak seperti Utari yang sekarang. Banyak hal yang berubah pada dirinya. Dalam obrolan itu ibu sama sekali tidak membahas Utari. Semuanya tentang aku. Justru ibu banyak menanyakan banyak hal padaku, bisnisku,karierku, teman temanku kehidupanku dan yang terakhir, dia menanyakan tentang Paula. Spontan aku merasa ingin tertawa geli. Dan akhirnya terpingkal pingkal. Bagaimana tidak bila Ibuku benar benar tidak menyukai Paula. Mungkin dia cemburu dengan keseksian Paula.
“tubuhnya seperti biola spanyol, dia cantik,sexi, dan benar benar cerdas…untuk urusan kesukaan pria dia tidak mungkin diragukan lagi” aku membelanya habis habisan. Kalau Paula tahu pasti dia sudah menghujaniku dengan bibirnya yang tipis dan imut itu siap membuatku untuk basah.
“tapi dia gadis yang nyaris jauh dikatakan beradab dan bermoral!” suara ibu
“apa ibu cemburu?” aku menggodanya. Aku yakin kalau ibu bertemu dengan Aida dia akan menyukainya. Atau kalau dia bertemu dengan asisten chef Muchlis pasti dia juga akan tertarik dan memintaku untuk segera meminangnya.
“pikiranmu dekil sekali kalau kau pikir ibu cemburu dengan dia.ibu tahu, kau selalu menghabiskan waktumu dengan wanita wanita cantik tapi tolong berhentilah, sampai kapan kau akan terus seperti itu. ibu mengkhawatirkanmu. Apa kau tidak ingin menata hidupmu lebih baik dimata Tuhan” aku terdiam ketika ibu terus memberikan mata kuliahnya. Pelajaran itu aku sangat mengerti akupun ingin berubah hanya saja aku tidak bisa dan belum bisa sepenuhnya menghilangkan bayangan Utari, meskipun aku nyaris berhasil ketika Aida menyapa hidupku. Tapi sekarang! Buktinya dia sibuk bercinta dengan si bangsat Itu. dan Paula, dia sudah berhasil meraih keutungan dari pria yang dirayunya. Tapi apakah mungkin aku harus memintanya cerai dari pengusaha korea itu. tidak mungkin. Ibu bisa menggorok leherku bila aku menikahi Paula. Soal Paula, dia tidak pernah meminta apa-apa padaku. Tidak pernah menyinggung soal materi, bahkan dia sering menolak bila aku memberinya sesuatu. Yang dia inginkan dariku hanyalah permainan ranjang yang panas dan liar. Aku masih terdiam ketika ibu terus mengeluarkan perasaannya dengan iringan kesedihan dan rayuan seorang ibu pada anaknya, tapi justru aku sibuk dengan bayanganku tentang wanita-wanita yang hidup disekitarku. Hingga aku membuyarkan pikiranku begitu juga ibuku segera berhamburan keluar café bersamaku. Kami mendengar kalau kondisi Bayu semakin melemah, dan harus segera dioperasi tanpa ditunda lagi. Kami berlarian menuju kamar tempat dirawatnya bayu, tubuhnya semakin membiru. Bibir dan wajahnya terlihat pucat dan dingin.utari terlihat takut dan gemetar, seorang dokter dan beberapa perawat membantu memacu jantungnya dengan sentuhan listrik yang ditempelkan ke dadanya. Aku sebenarnya takut, aku tidak mau kehilangan bayu, aku belum sempat meminta maaf padanya. Aku mencoba menghubungi beberapa kolega kolegaku yang punya kenalan dokter spesialis jantung. Aku ingin menerima banyak info soal transplantasi jantung atau apalah yang bayu butuhkan. Dan ketika aku kembali memasuki ruangan, aku terkejut melihat Utari tiba-tiba pinsan. Ibu berteriak dan hampir jatuh saat menahan tubuh Utari yang oleng, secepat kilat aku menyambar tubuhnya sebelum keduanya terjatuh. Seorang suster langsung memintaku untuk membaringkan Utari ke ruang sebelah yang kebetulan ada kamar kosong. Aku berjalan cepat dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan lebar yang hanya satu meter. Dengan cepat suster itu memeriksa tubuhnya.
“bagaimana keadaan dia Sust?” aku gelisah menanyakannya, suster masih saja memeriksa detak nadinya di tangan, dan memompa lengannya dengan alat pengukur tensi darah.
“hanya merasa tertekan pak, Nyonya bayu pinsan. Tensinya turun. Sepertinya dia terkena tekanan darah rendah” jelasnya dengan hati-hati sambil memeriksa kembali apa yang baru saja dia kerjakan “sebentar lagi akan ada dokter yang memeriksa ulang, akan saya ambilkan obat sebentar!”
“syukurlah, baiklah!saya akan menjaganya” tapi aku masih tetap mengkhawatirkan kondisi orang yang aku sayangi, perawat itupun pergi mengambilkan obat untuk Utari. Astaga ,bagaimana jadinya bila aku berdua saja dengannya tanpa ada yang mengawsi. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak sanggup untuk tidak mencium bibirnya yang kecil ini. dulu bibir itu selalu aku lumat hingga aku puas. tapi sekarang nyaris semuanya mustahil karena dia istri dari adikku. Kugenggam tangannya yang lemas itu tanpa memberontak. Matanya masih terpejam rapat, jantungnya masih berdetak meskipun pelan. Hidungnya masih bernafas. Lalu perawat tadi pun kembali datang bersama seorang dokter wanita yang sudah mulai terlihat tua tapi masih terlihat cantik. Tanganya yang putih itu sudah terihat berkeriput.dia mengenakan banyak acsesories yang ramai dan sedikit menimbulkan suara berisik.
“selamat sore Pak?” sapanya dengan ramah, dia bergegas menempelkan stetoskopnya ke bagian dada Utari. Aku berdiri sambil memperhatikannya saat memeriksa. Lalu dia berkata sambil tersenyum “tidak ada yang perlu bapak khawatirkan. Dia hanya sedikit mengalami depresi” jelasnya dengan tegas sambil tersenyum dan membelai dahi Utari dengan lembut.
“syukurlah dok” jawabku, suster itu memberikan sebuah catatan yang tadi dia tulis lalu menunjukkan pada dokter wanita itu.
“selamat ya Pak, sepertinya istri anda hamil muda” tangannya terulur sambil menjabat erat tanganku. Aku hanya bisa mengangguk dan terkejut. Masih mencoba tersenyum meskipun dokter itu sudah salah mengenal hubungan kami. Suster tidak mencoba untuk mencari penjelasan ataupun menjelaskan mengenai hubungan kami pada dokter tersebut.padahal suter itu tahu siapa kami. Atau Mungkin mereka tidak tahu dan hanya menduga saja.
“terimkasih dokter untuk informasinya” sahutku dengan nada kecewa
“saya akan memberikan resep baru, dan nanti suster Lia yang akan mengantarnya!”
“baik!” jawabku singkat
“baiklah kalau begitu, saya pemisi karena masih banyak pasien yang harus saya periksa?”
“semoga hari anda menyenangkan dok”
“terimakasih!” jawabnya sambil berjalan memutar badannya yang masih terlihat bagus dan sintal meskipun tidak bisa dipungkiri kalau garis tua dibawah dagunya terlihat.
Sesaat kemudian ibu datang menghampiriku, sambil berkata pelan menepuk bahuku dari belakang
“bagaimana kondisi Utari, sayang?”
“kata dokter dia memang sedikit depresi! Dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan!”
“syukurlah!” jawabnya singkat. Otakku masih saja berputar, hingga aku mengatakan pada ibu apa yang baru saja disampaikan oleh dokter
“tapi dia hamil Bu!” jelasku. Dan ibu tidak terkejut untuk mendengarnya. Bahkan gurat wajahnya mengisyaratkan rasa senang atas berita yang aku sampaikan. “jadi ibu senang dengan berita ini! oh ya…tentu saja ibu senang, lagipula Arjuna butuh teman dirumah ketika orang tuanya tidak bisa bersamanya ketika liburan”spontan aku kembali mengungkapkan rasa tersinggungku pada Ibu, dan ibu sedikit kecewa melihat kemarahanku
“ibu mana yang tidak senang bila anak atau menantunya memberikan cucu sebanyak banyaknya untuk menemani janda tua seperti aku ini” suaranya terdengar seperti bentuk pembelaan
“ibu,..ibu berbicara apa. Ibu masih cantik walaupun sudah tua. Aku tidak suka ibu mengatakan janda tua, janda ya janda saja, tua ya tua saja. jangan digabungkan dua kata itu bersamaan. Aku risih mendengarnya!”
“jadi kamu malu!”
“tidak ini bukan soal rasa malu. Aku sangat mencintai ibu!”
“kau pembohong. Lalu kenapa kau belum menikah dengan gadis selain Utari untuk kau jadikan istri! Ibu ingin cucu darimu, Damar” suaranya parau menahan tangis. Membuatku sesak. Aku merunduk memeluk ibuku lalu mengajaknya duduk dikursi yang nyaman. Aku genggam erat tangannya yang keriput itu, otot tangan yang berwarna biru kehijauan itu terlihat jelas. Aku tidak pernah bisa berbohong dengan wanita yang biasa aku panggil ibu.
“ibu. Ini bukan hanya sekedar menikah….INI SEUMUR HIDUP!” sahutku dengan menahan emosi dan kesedihanku “ dengarkan aku ibu, tolong jangan desak aku. Aku belum bisa menikahi wanita lain bila dia masih bersemayam dalam hatiku”
“jadi kau masih mencintai Utari?” aku tersentak tanpa berani menatap aku tidak berani menjawab karena memang aku tidak berdaya dengan serangan kalimatnya. Hanya membisu” apa benar kau masih mencintai Utari” pertanyaan itu kembali diulangnya. Kepala ini rasanya pecah. “jawab pertanyaan ibu Nak, bersumpahlah atasa nama Tuhan, apa kau masih mencintainya?ibu bersumpah tidak akan memarahimu” kami terdiam ,hingga beberapa menit kemudian aku memberanikan diriku untuk menjawab pertanyaannya.
“iya, meskipun tidak sebanyak dulu. Aku selalu ingin melupkannya tapi aku belum PERNAH berhasil dengan apa yang aku harapkan!” tegasku, malu rasanya aku mengakui kelemahanku.
“apa karena dia, kau jadi seperti ini” wajah ibuku mendadak tampa k berubah menjadi lemas
“tidak,tentu saja tidak, aku hanya ingin mencari hiburan. Ini murni bukan karena Utari!”mungkin ibu tahu dimana letak kebohongan yang aku sembunyikan
“kau pembohong!”
“jika itu lebih baik, aku rela menjadi pembohong besar asal adikku tidak mati karena serangan jantung!” aku sedikit gusar mendengar ibu yang terus memojokkan aku.
“sebenarnya akupun berhak atas dosa dan beban yang anakku tanggung. Ibu sudah mengecewakanmu. Ibu sudah membuat duniamu seperti ini. ini juga salah ibu!”
“kenapa ibu berfikir seperti itu. ini sama sekali bukan kesalahan ibu.ini pilihan hidupku”
“tidak nak, ibu salah, ibu berhak disalahkan! Harusnya ibu tidak memintamu untuk mengalah mendapatkan Utari demi Bayu, agar dia selamat. Ibu terlalu pilih kasih, meskipun ibu tidak dengan sengaja melakukan itu. ibu hanya minta belas kasihanmu saat itu. ibu berfikir kau akan lebih mudah mendapatkan wanita wanita lain yang kau inginkan karena kau jauh lebih sehat dan tidak menggalami kekurangan fisik!bahkan kau anak ibu yang lebih tampan”
“sudahlah, jangan diteruskan, nanti bayu dan Utari mendengarnya! Aku mengerti apa yang ibu pikirkan. Jadi sudahlah jangan terlalu merasa terbebani. Aku hanya belum ingin berkomitmen dengan pernikahan”
“ibu mengerti!doa ibu selalu bersamamu nak”
“terimakasih,emmm Bu..seperti apa wajah Arjuna. Sudah sebesar apa keponakanku itu. apa dia sudah sekolah?”
Ibu tersenyum. Kesedihannya mendadak sirnah mendengar nama Arjuna kusebut. Kata ibu arjuna sehat lincah dan selalu aktif. Sepintas lalu mirip Utari, terkadang mirip Bayu. Tapi bila diperhatikan secara khusus, ada kemiripan wajahku pada Arjuna. Astaga aku tidak percaya. Tapi seingatku aku dan Utari tidak pernah melakukan hubungan intim selama kami berpacaran dulu. Aku semakin penasaran dibuatnya. Aku meminta pada dokter agar Utari dan bayu diletakan dalam satu kamar. Tentunya itu memudahkan kami saat menjaga keduanya. Agar aku dan ibu bisa bergantian pulang menjaga Arjuna. Kasihan bila anak itu dibiarkan seharian penuh bersama seorang pembantu. Aku juga tidak menyukai cara didik anak seperti itu. dan dokter yang menangani bayu sepertinya tidak keberatan untuk menyetujui permintaan kami, aku meminta ibu untuk pulang dan beristirahat dirumah. Tapi dia menolak. Aku mengkhawatirkan kesehatannya. Tapi percuma bila sudah berkeras kehendak menyuruhku pulang untuk menjaga Arjuna. Akupun pulang meminjam mobil itu tanpa sopir. Aku meminta sopir ibu untuk menemaninya dan berjaga jaga bila ada sesuatu yang sangat gawat. Aku juga memintanya untuk menelphoneku tanpa sungkan, sesampainya dirumah seorang anak lelaki kecil membukakan pintu rumahnya untukku, anak itu memperlihatkan wajahnya secara penuh dan menyembenyikan separuh badannya dari balik pintu. Tangan kirinya bergelantungan dan bertahan dihandle pintu lalu tangan kirinya memegang sebuah robot besar miniature dari optimus prime. Aku ingat kalau dia ini pasti Arjuna anak Utari dan robot yang ada ditangannya itu adalah robot yang aku hadiahkan diulang tahunnya setahun yang lalu. Sandra yang membelikan hadiah itu. katanya keren
“cari siapa?” pertanyaannya terdengar kritis dan sinis dengan pandangan bergaya bak pengamat kasus pembunuhan
“kau lupa denganku!” aku bertanya seolah olah dulu aku pernah dan sering bertemu meskipun bukan itu yang sebenarnya” arjuna terus mengamatiku dari atas kebawah lalu kembali dari bawah keatas “tenang buddy, kamu temanku!” dia menggaruk garuk kepalanya seperti tidak yakin dengan penjelasanku. Lalu dari arah belakang seorang wanita muda,menghampiri kami
“selamat malam tuan, mari silahkan masuk” gadis itu memintaku masuk dan membawakan bawaanku.”Arjuna, ini namanya Paman Damar, kakaknya ayahmu!” jelasnya,lalu arjuna kembali memperhatikan aku,kali ini dengan senyum sebelum dia menjabat dan mencium tanganku. Dia menarik lenganku dengan kencang lalu mengajakku masuk. Kali ini penuh keakraban. Dia mengajakku berkeliling ruangan dan memperkenalkan semua nama mainan yang tersebar diatas lantai diruang keluarga. Seolah olah dia pemilik rumah dan aku belum pernah tinggal disini. Sehingga dia perlu menunjukkan banyak hal agar aku tidak tersesat dan salah kamar. Malam itu aku putuskan untuk tidur bersamanya. Kamarnya penuh dengan poster robot yang ada di film transformer. Bahkan semua pernak pernik dikamar berupa miniature robot. Walpapernya berhiaskan urutan tata surya dan beberapa planet lengkap dengan warna dan betuk yang timbul. Dia bercerita banyak hal sebelum tidur, dan karena setiap sabtu libur aku berencana untuk mengajaknya menengok orangtuanya. Jadi pagi pagi sekali dia sudah siap bangun dan mandi bersih juga harum, bersiap untuk membangunkan aku dengan kasar. Sambil membawa megatron dia mengejutkan aku dengan suara erangan dan omelan Bubblebee yang sengaja sudah diletakkan didekat bantalku dan menjalankannya dengan remot control yang dia sembunyikan dibalik kaosnya.
“kau nakal ya!” aku bangun dan mengejarnya berpura pura marah menangkapnya lalu menggelitiki tubuhnya yang sudah kuletakkan diatas tempat tidur
“ayo bangun, aku tidak mau terlambat, ayo paman…ayooo!” dia merengek terlalu keras,matanya mulai berkaca kaca, dan sebelum dia benar benar menangis aku menyudahi semuanya
“oke..oke. biarkan aku mandi sebentar lalu kita pergi menengok mereka”
“baiklah, aku menunggumu di meja makan. Kita harus sarapan sebelum berangkat”
“baiklah…baginda!” jawabku kesal
Dia terkekeh sambil berlari lari memungut megatronnya yang terjatuh saat aku menggodanya. Sepuluh menit kemudian aku sudah siap dimeja makan dengan celana jens belel dan kaos putih yang berkrah. Dia mengatakan aku keren meskipun aku tidak terlihat hebat. Jempolnya yang kecil itu berhasil membuatku kikuk. Setelah sarapan pagi kami bergegas kembali kerumah sakit. Dan Utari sudah terlihat sehat. Mungkin semalam dia sudah tersadar. Aku terkejut ketika Bayu tidak ada dalam tempat tidurnya. kata ibu Bayu sedang ada diruang intensif. Menurut jadwal dokter, bayu akan dioperasi nanti siang. Aku terkejut
“kenapa ibu mengizinkan dia dibedah dengan dokter local, aku sudah memesan rumah sakit jantung di Canada dan singapura. Tinggal utari dan ibu mau kemana, aku mengenal dokter yang ahli. Reputasinya tidak perlu diragukan”
“dengar sayang, ibu senang kau membantu kami. Pikirkanlah kesehatan Utari, dia tidak mungkin bisa menemani suaminya yang kritis, bagaimana nantinya Arjuna”
“ibu tidak mengerti, disini terlalu bahaya!dan aku siap andai kalian tidak bisa mengantar bayu sekalipun”
“tidak berbahaya bagi ibu, biarkanlah takdir yang menentukan. Kita berusaha!”
“apa menurut ibu saya tidak berusaha maximal!”
“bukan itu maksudku nak!”
“Sudahlah,batalkan sekarang! kita akan menyewa pesawat pribadi!”
“tidak…tidak boleh, biarkan dokter sini yang menangani bayu, apa kau pikir dokter Indonesia bodoh bodoh, begitu maksudmu, dengar bukan tangan dokter yang membuatnya hidup. Tapi tangan dan mukjizat Tuhan. Jadi biarlah takdir yang berbicara”
“ibu…” aku terkejut dan tidak percaya,kenapa ibu tidak lagi bersikap seperti biasanya.
“Sudahlah Damar, kau akan mengerti suatu saat! Lagipula Bayu harus segera dioperasi. Jantungnya semakin melemah. Utari sudah menemukan orang yang bersedia mendonorkan jantungnya untuk adikmu!”
Aku diam tanpa bisa menjawab, aku tidak mengerti apa yang ibu pikirkan. Baru kali ini ibu seperti pasrah dan tidak menyetujui saranku. Seharusnya ibu menurut apa yang aku usulkan toh selama ini semua hal tentang bayu selalu nomer satu. Dan mengapa Utari tidak membantuku untuk mendapatkan penjelasan. Kami pun menunggu diruang tunggu operasi. Bayu mendapatkan empat dokter yang ahli dibidangnya. Arjuna terus memainkan robot robotnya tanpa bersuara, hanya sesekali saja robot itu terjatuh karena tabrakan yang sengaja dia mainkan. Utari diam disamping Arjuna. Dan ibu hanya bisa menutup mata sambil bergumam dan terus menerus memainkan tasbih yang ada dalam tangannya. Aku meminta Sandra dan hans untuk menghandle semua urusan kantor, dan aku memberitahu mereka bahwa ponselku akan mati dalam kurun waktu satu har sejak pagi ini. Hatiku tidak bisa tenang, begitu juga dengan yang lain. Tapi tidak bagi Arjuna. anak itu terus menerus bermain tanpa henti dan berteriak teriak sambil berlari lari dengan bebas tanpa ada yang memperhatikannya selain aku. hingga Pamanku mengajak bocah itu mencari makan. Dan aku mengikuti mereka untuk membeli beberapa gelas kopi panas dan es coklat. Satu jam kemudian kami kembali. Tapi ruangan operasi itu masih tertutup rapat dan terkunci. Hingga empat jam kemudian. Barulah dokter yang bertanggung jawab atas operasi Bayu itu keluar dan memeberikan penjelasan padaKu dan Utari
“Nyonya Bayu?” sapa dokter yang bajunya penuh dengan percikan darah dan bau obat penisilin
“iya, saya dokter, bagaimana keadaan suami saya?”utari bergegas bangkit dari kursinya menemui dokter yang baru saja muncul itu.
“bagaimana keadaan adik saya dokter!” aku datang mendekat
“alhamdulillah operasinya berjalan baik, hanya saja pasien masih dalam keadaan belum sadar karena pengaruh obat. Dan untuk sementara kami akan menaruh pasien keruangan intensif tanpa dampingan keluarga. Semoga Tuhan cepat memberikan kesembuhan buat pak Bayu”
“terimakasih dokter” jawab kami bersamaan. Utari menoleh ke arahku. Lalu ibu menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya sambil berkata ‘amien’.
“bagaimana kalau kita mencari makan!” suara ibu terdengar mengajak, dan nadanya sudah terdengar sedikit tenang. Utari masih terlihat berat meninggalkan suaminya.
Kamipun bergegas pergi dan mempercayakan Bayu sepenuhnya pada dokter. Akupun merasa tenang mendengar bayu sudah berhasil dengan operasi tranplantasi jantungnya. Ketika mereka sedang asyik makan, akupun segera keluar memisahkan diri dari mereka. Duduk sambil merokok didekat taman diluar cafeteria. Kembali aku mengaktifkan ponselku. Sudah terdapat beberapa notification diantaranya nama Aida muncul dengan beberapa panggilan tidak terjawab. Tapi sebelum aku memeriksanya. Utari datang mendekatiku. Langkahnya semakin terdengar semakin dekat hingga kami berdiri dan bersandar pada sebuah pilar
“kau masih suka merokok? kalau bisa kau kurangi saja kebiasaan buruk itu” katanya yang terdengar tiba tiba memulai sebuah topik
“beginilah aku” aku tertawa kecil “banyak hal yang masih belum bisa aku rubah, bagaimana kesehatanmu! Jagalah kesehatanmu. Kau dan bayu hanya mengalami cobaan dalam pernikahan. Jangan sampai karena cobaan ini. kau melupakan Arjuna” aku mencoba untuk bersikap tenang dan tidak terbawa emosi
“tentu saja tidak, terimakasih kau sudah mengingatkan aku. Terimakasih kau juga mau ada diantara kami” suaranya terdengar lirih dan bersahaja, meskipun telingaku terasa panas saat menden garkan kalimatnya.
“bukan masalah besar dan memang seharusnya aku harus ada ketika keluargaku sedang susah apalagi adikku sakit!” aku tidak suka menutupi rasa kesalku tapi mau bagaimana lagi. Ini semua menuntutku untuk bersabar.
“baiklah kalau begitu, aku mau menemani ibu dulu!” aku belum ingin dia pergi, secepat kilat aku menyambar pergelangan tanganya, Utari tersentak kaget tanpa berusaha berontak. Lalu aku berdiri dihadapannya. Aku ingin bertanya banyak hal. Yang selama ini aku perndam seorang diri,pertanyaan yang selalu menuntutku untuk mendapatkan sebuah jawaban. Dan aku menuntut sebuah jawaban pasti meskipun aku sudah pernah mendapatkan kepastian atas jawaban yang pernah aku tuntut.
“ada apa kau menarik tanganku?” suaranya terdengar gemetar dan tidak percaya diri.”apa kau tidak takut ibu mengawasi kita”
“TIDAK!” jawabku singkat dan aku hampir saja menggertakkan gigiku bersamaan “dulu kau menolakku karena aku miskin, dan Bayu sudah menjadi seorang konsulat. Jadi kau melihat penghasilan dari pekerjaan kami. Apa itu! dan sekarang kau bisa lihat, aku tidak semiskin dulu Utari. Andai saja kau mau bersabar” aku lega setelah mengungkapkan perasaanku itu. karena selama ini aku belum pernah memiliki kesempatan untuk bertanya ataupun mengatakan sesuatu.
“sudahlah Damar. Jangan membuatku bertambah pusing!. Kau tahu aku memang mencintai kalian berdua. Itupun tanpa sengaja. Tapi hatiku memang lebih memilih bayu murni bukan karena pekerjaannya”
“tapi itulah kenyatannya Utari”
“itu menurutmu!”
“tentu saja!” dia semakin kesal dan mulai terpancing
“pernahkah kau berfikir yang lain tentang rasa kemanusian!” mendadak wajah kesal itu berubah menjadi marah dan meneteskan air mata. Aku merasa bersalah telah membentaknya
“jadi kau mengorbankan cinta kita demi jantungnya agar tetap berdetak sampai sekarang!” aku hanya menerka sebuah jawaban yang bisa menutupi kesalahanku
“kasar sekali kamu Damar”
“kau yang membuatku kasar!”
“dengar Damar, jangan kau pikir kalau aku mempermainkan perasaanmu. Demi tuhan aku mencintaimu. Dan rasa cinta itu masih hidup dalam hatiku jauh dan besar dari yang pernah kau bayangkan, cintaku padamu bernyanyi dalam jiwaku. Apa kau pikir aku tidak sakit. Aku tidak bisa menceritakan semuanya saat ini. aku harap kau mengerti posisiku”
“baik…baik..baiklah. aku paham. Kau berlagak seolah olah kau benar dan terpaksa melakukan ini…gesekan kohesi. dan bila kau terpaksa menikahi Bayu tidak seharusnya kau mengandung janin itu lagi. Dan seharusnya rahim mu itu terisi benih dariku. Seharusnya arjuna itu anakku darahku nadiku bahkan nyawaku dari belahan jiwaku sendiri…itulah yang bisa disebut ketertarikan antar unsurbukan pengakuan palsu seperti yang kau tunjukkan”
“diam…diam kamu Damar! Kau gila…kau sudah sinting”
“iya..tentu aku gila…aku gila karenamu Utari, aku sudah lama mati dan kau tahu ragaku lama tidak memiliki jiwa. Tidak ada Damar yang sesetia dulu” aku terus berteriak meskipun dia terus berlari dan tidak kembali masuk ke dalam cafeteria menemui mertuanya. Aku tidak perduli bila ibu akan menegurku. Persetan dengan ini semua. Kutendang bangku besi yang ada didepanku hingga terjatuh dan tanpa sadar aku mengundang perhatian semua orang untuk memperhatikan kegilaanku. Aku tidak habis pikir apa yang sudah terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Rasa sakit yang dulu kini keluar dan kembali menguat karena letupan letupan emosi. Hidupku kembali kacau. Sebenarnya aku telah menyesali dengan sikapku barusan, tidak seharusnya smeua itu terjadi. Dan aku tidak bisa segera menghindar dari sini selama Bayu itu belum bisa berjalan dengan sehat. Kenapa dia yang cacat banyak diperhatikan daripada aku. Kenapa bukan aku saja yang cacat. Kenapa…kenapa. kujambak rambutku sekencang mungkin agar aku mati karena kepalaku terputus dari lehernya. Sayang malaikat tidak mau membantu mencabut nyawaku. Aku benar benar masih menggilai Utari,jadi beginikah kebodohanku selama ini... Belum ada yang bisa mengubah pikiranku. Dalam hatiku aku ingin menangis karena masih mencintainya,aku tahu diapun menangis tentang diriku begitu juga sebaliknya denganku dan sepertinya kami menjadi saling melukai dan terluka.bahkan mungkin kami saling mengumpat. Wanita itu terlalu dalam menancapkan luka pada jantungku. Tapi aku butuh seorang wanita yang menemaniku melanjutkan hidup. Setelah tersadar Aku mulai malu ketika banyak orang masih memperhatikan aku. Sedikit khawatir kalau mereka mengira aku seorang pasien jiwa yang mencoba melarikan diri. Apalagi warna kaosku hampir sama dengan baju pasien jiwa yang dirawat. Dari kejauhan ibu mengamatiku,mungkin sudah sedari tadi dia memperhatikan kami. Wajahnya terlihat datar tanpa komentar. Tapi aku yakin hatinya pasti terbakar melihat kelakukanku menggoda menantu kesayangannya. Apa kata orang disekitar bila aku masih menggoda istri adikku sendiri. Perduli setan kata orang. Orang lain tidak akan tahu persis apa yang terjadi diantara kami. Hari ini aku menghilang dari peredaran mereka hingga hari kedua, aku tidak berkunjung kerumah sakit dan pulang kerumah. Aku membuka kamar disalah satu hotel di pusat kota . disini jauh lebih baik untuk bernafas. Sandra biasa memesankan kamar untukku. hotel ini terlihat mewah bahkan lebih mewah daripada yang di Bangkok dan dikota inilah salah satu cabangnya di indonesia , seorang recepsionis menawariku seorang teman wanita. Sepintas aku menginginkan pelayanan itu tapi tiba tiba saja sosok Aida datang tepat didepan wajahku sambil memasang muka kesal dan cemberut yang biasa dia lakukan saat dia marah. Jadi aku batalkan penawaran itu. aku hanya meminta dua botol scott whiskey lengkap dengan ice cube untuk diantarkan ke kamarku. Dan aku meminta mereka untuk menelphone sekertarisku untuk segera datang kesini hari ini juga. Akupun meminta salah seoarang room service untuk menemaniku minum. Dan ketika pelayan itu datang dengan dua botol whiskey dengan beberapa gelas. Aku memintanya kesediannya menemaniku. Aku tidak menututnya untuk mabok. Aku hanya minta ditemani saja. awalnya dia keberatan dan menolak meskipun aku sudah menawarinya dengan tiga juta rupiah sebagai pengganti jam kerjanya.
“duduklah, tuangkan aku empat gelas whiskey on the rock! sekaligus”
“baik Pak” dia patuh
“kau sudah menikah?”
“belum pak, tapi kami sudah bertunangan”
“bagus, apa kau mencintainya!”
“sangat pak”
“bagus, apa dia mencintaimu?”
“ya…dia memminta saya untuk segera menikahinya!”
“kau yakin itu yang dia minta? Apa dia tidak sedang hamil dan memintamu untuk bertanggung jawab. Emmmm maksudku apa dia tidak ada pria lain selain dirimu?”
“tidak pak!”
“kau yakin sekali ya!” mungkin aku sudah mulai terdengar tolol dan terlihat mabok. “siapa namamu?”
“Aris,Pak!”
“apa jabatanmu disini?”
“room service untuk tamu VVIP , pak!”
“oh, pusing sekali aku hari ini! Aris…namamu ariskan”
“benar pak, mungkin Pak Damar sudah terlalu banyak minum.lebih baik stop dulu. Apa perlu saya panggilkan seseorang dari beuty spa untuk memijat bapak. Paling tidak bisa meredakan kecapekan karena perjalanan jauh biar sedikit relaks”
Dia sudah menemaniku lama. Hingga aku tertidur karena rasa kantuk dan pusing yang luar biasa melandaku. Aku tidak tahu sewaktu aku tertidur apa dia tetap dikamarku ataukah dia meninggalkan aku sendiri. saat setengah sadar dan terbangun dia sudah duduk manis diatas kursi yang ada didepan televise sambil membaca majalah.
“apa aku mengigau? Jam berapa kau pulang”
“sama sekali anda tidak mengigau Pak Damar, jam kerja saya sebenarnya sudah habis sejak tiga jam yang lalu”
“sorry Aris, aku mengganggu jam kerjamu, terimakasih kau mau menemaniku minum, meskipun kau sama sekali tidak meneguk minuman itu satu tetespun”
“senang bisa melayani tamu sebaik anda Pak. Dan sudah menjadi tanggung jawab kami untuk membuat tamu nyaman”
“terimakasih Aris”
“kalau begitu saya mohon diri” dia pergi, dan aku menoleh kearah meja tamu, disana masih ada amplop putih yang tertinggal tanpa dia sentuh. Dia berjalan meninggalkan amplop itu begitu saja.
“tunggu Aris.Sepertinya kau melupakan sesuatu” dengan setengah mabok aku mengambil dan memberikan amplop yang berisikan uang itu untuknya.
“terimakasih pak” dia menolak pemberianku. Dia benar benar menolak
“tidak terimalah, aku senang karena kau sudah menemaniku,meskipun kau tidak menuruti apa yang aku minta. Tapi itu hakmu untuk menolak dan aku tidak memaksa karena aku mengerti. Aku mohon!”
“jumlahnya terlalau banyak pak”
“ambilah, ini halal. Aku tidak melakukan bisnis gelap ataupun pengedar narkotika!”
“saya mengenal anda Pak”
“so..ambilah! anggap saja kau sudah menang lotre ataupun undian yang lain. Ini hanya tanda terimakasih walaupun nominalnya tidak terlalu besar”
“tapi empat juta sudah terlalu banyak bagi saya. Ini lebih dari gaji saya satu bulan”
“sudahlah, ambil saja. aku senang mengenal orang sepertimu” aku memberinya sebuah kartu nama “simpanlah kartu itu. aku harap kau tidak akan sungkan menguhubungi aku bila kau membutuhkan pekerjaan baru”
“tentu akan saya simpan PAK, terimakasih atas perhatian anda!” dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. lalu pergi berlalu, setengah menit kemudian dia kembali dan mengetuk pintu kamarku. Tapi ternyata aku salah. Yang mengetuk pintu kamar bukanlah Aris yang kukira akan meminta pekerjaan baru padaku. Tapi justru Sandra yang datang mengenakan baju kantor bergaya sway ala koleksi baju pesta dengan model bustier dress berbahan satin sutra berwarna putih lengkap dengan atribut wanita yang berfungsi untuk mempercantik penampilannya,dia mengenakan blaser berwana pink white. Sepatu wedgesnya yang mengkilat membuat kakinya semakin terlihat sexi.
“hallo bos!” sapanya. Langsung aku menarik pinggulnya tanpa basa basi aku mendorongnya ke atas ranjang. Dan melucuti semua pakaiannya. “kau mabok sayang!” sambil menciumku dengan agresif
“aku letih menunggumu! Kau terlalu lama. Kau harus bertanggung jawab karena sudah berani membuatku menunggu!” aku tidak mau lagi menunda apa yang harus aku lakukan bila Sandra sedang menemaniku di atas ranjang. Dia tidak sehebat Paula. Tapi dia sudah sangat sempurna untukku malam ini. aku tidak mau membuang waktu lagi. Karena aku sudah lama tidak melakukan olah raga seperti ini. kami terus saling merangsang dan memberi sentuhan yang lembut dan menggairahkan. Hari ini sandra begitu cantik dan lebih lembut dari biasanya. gerakannya benar benar pelan dan menggoda. Hingga kami harus terus menjaga ritme dan begitulah diantara kami sudah merasakan kepuasan maka kamipun tertidur karena rasa lelah. ketika aku terbangun, Sandra masih tertidur pulas dan telanjang tanpa selimut, tubuhnya yang kuning langsat dan juga mulus itu tampak mengkilat. Bau rambutnya masih wangi walaupun semalam basah karena keringat. Aku menciumnya dengan lembut dan kembali aku melakukan serangan. Ternyata aku belum puas, dengan rasa kantuk yang masih menghinggapinya, Sandra hanya bisa pasrah saat aku mencium dan meraba dadanya yang menggiurkan. Dia benar benar tidak berdaya dan tidak sehebat tadi malam. Gayanya monoton meskipun aku terus memintanya berganti gaya . Hingga aku terpaksa menyudahinya karena rasa illfeel yang mendadak menyerangku. Aku meninggalkanya tanpa mengurangi rasa romantis seperti biasanya. aku hanya mempercepat dan menciumnya sebagai penutup. Aku pergi membersihkan diri dan meninggalkannya dikamar. Saat aku meninggalkannya dikamar dia kembali tertidur.
Ketika aku memasuki restaurant hotel, ibu menghubungiku dan menanyakan kenapa aku tidak mengunjungi bayu. Kata ibu Bayu sudah mulai siuman. Itu berarti satu atau dua hari lagi aku bisa meninggalkannya dan kembali ke Jakarta bersama Sandra. Seorang pelayan restaurant memberiku secangkir kopi dan soto ayam lengkap dengan bumbu poya dan kerupuk udang. Sebagai jusnya aku minta campuran wortel dan apel dengan tambahan sedikit perasan lemon. Setelah acara makanku selesai aku kembali menemui mereka dirumah sakit. Bayu memang sudah sadar, tapi masih ada dua selang infuse yang terpasang pada tubuhnya, dia terus memandangku dengan sayup. Utari berpindah duduk disofa bersama Ibu, sedangkan Arjuna duduk dikursi dekat tempat bayu berbaring.
“bagaimana?kau jauh lebih baikkan?” aku bingung dengan apa yang aku tanyakan. Dan bayu menarik tanganku yang sengaja aku letakkan pada bahu Arjuna. Bayu hanya mengangguk tanpa berbicara, mulutnya masih tertutup dengan alat berwana bening transparan.aku tidak tahu apa itu namanya yang jelas ada alat berbentuk slang yang dimasukkan disekitar mulutnya. “kau pasti akan sembuh!” lanjutku. Lalu dia mengangguk. “sorry, bay semalam aku tidak bisa kesini, aku sedang ada converance meeting! Jadi aku harap kau mengerti!” dia mengangguk dan saat aku melirik ke arah Utari, wanita itu hanya tertunduk tanpa melakukan apapun. hingga Kemudian saat seorang dokter dan dua perawatnya datang untuk memeriksa bayu, kami semua diminta keluar kamar untuk memudahkan pemeriksaan dokter hanya beberapa saat. Lalu aku meninggalkan Ibu dan Utari untuk mengajak Arjuna berbelanja. Tapi kali ini kami hanya naik Taxi. Arjuna ingin sekali bermain di timezone, karena dia sedang mengumpulkan banyak sticker untuk ditukarkan PS terbaru.
“kau mau PS?”
“yah paman” suaranya terdengar gembira dan sangat antusias
“bagaimana kalau kita sekarang pergi membelinya untukmu!”
“aku tidak punya uang paman”
“kita membeli tidak pakai uang sayang,nanti kau tinggal tunjuk dan ambil saja apa yang kamu mau, oke buddy!kau pasti sukakan”
“siap paman!!”
Lalu dia mengajakku masuk ke sebuah toko mainan. Dimana toko tersebut banyak menjual mainan-mainan dari luar negeri yang harganya cukup fantastis menurut komentarnya. Seorang pelayan toko menawarkan beberapa koleksi terbaru mereka berupa arena track balap mobil yang terbaru keluaran produk jepang. Lalu beberapa permainan monopoli magnit yang hampir mirip miniature gedung dan rumah yang biasanya dipakai oleh seorang arsitek dan para developer pemasaran.
“mana yang kau suka?”
“aku bingung paman, yang mana? Semuanya bagus,keren, asyik!woww…apalagi yang ini paman. Ini baru ditayangkan di iklan kemarin pagi”
“ambil saja yang mana, yang kamu ingin punya!”
“aku bingung paman!”
“ambil saja semua!” terkejut dan hanya bisa melongo
“semua paman?” tidak percaya, wajahnya melongo begitu saja mendengar kalimatku.
“sudahlah, ambil saja. tadi kan paman sudah bilang. Mana yang Arjuna mau, arjuna tinggal ambil. Sini aku Bantu bawakan. Ini semua kamu sukakan?” dia mengangguk kebingungan. Ibu jarinya digigit hingga kukunya patah “jangan kau gigit jempolmu,nanti cacing yang menempel di kukumu itu hidup dan berkembang biak di perutmu! Ayo segeralah ambil, apa kau tidak lapar?”
“tapi semuanya mahal-mahal paman!”
“sudahlah ambil saja, tadi paman bilangkan ambil saja, toh kita bayar tidak pake uang jadi tidak mahal!” giginya yang gigis itu berjajar dengan rapi, menambah senyumnya semakin Indah. “nah sekarang ayo kita ambil dan tinggal kita bayar dikasir,nanti kau berikan kartu ini ke cewek yang pakai baju hijau itu, yang duduknya dibelakang layar monitor. Nah nanti dia akan memberimu semua hadiah ini. oke buddy!” dia berlari kegirangan membawa kartu debit yang baru aku berikan. Anak itu hanya tahu kalau kami membayarnya dengan sepotong kartu berwarna emas dan bukannya uang cash yang seperti dia tahu. Bukan main girangnya dia mendapatkan banyak mainan kesukaannya. Tanpa dia tahu persis berapa harga total mainan yang dia minta. Aku membantu membawa mainan yang begitu banyak dan sedikit berat. Aku mengajaknya pergi makan siang,karena Sandra sudah memesan tempat di sebuah restaurant pizza. Dan ketika sampai, Sandra sudah siap dengan satu minuman milkshake coklat untuk arjuna dan satu lemon squash untukku.
“kau tidak minum?” tanyaku padanya
“apa ini keponakanmu sayang? Hallo teman kecil siapa namamu?”
“Arjuna, tante cantik siapa namamu?”spontan saat aku mendengar lontaran pujian yang ditujukan Arjuna padanya itu aku langsung menjawab kalau Sandra adalah….
“dia sekertaris paman sayang” raut wajah Sandra mendadak kesal. Dan aku tidak menghiraukannya
“aku pikir tante cantik kekasih paman!” persis seperti dugaanku, anak ini pintar menduga duga. Nyaris benar meskipun aku tidak pernah mengakui kalau dia adalah kekasihku. Karena sesungguhnya ku tidak pernah menganggap dia wanita spesialku.
Aku tidak berusaha menceritakan sesuatu yang spesial tentang Sandra, aku juga enggan membuat citranya baik dimata Arjuna, aku hanya tidak ingin bila nantinya Arjuna bercerita banyak hal pada Utari. Aku tidak suka. Aku sayang pada Arjuna, dan sebentar lagi aku akan memiliki satu keponakan lagi. Sandra tidak bisa mendekatkan diri dengan Arjuna, dan Arjuna terlalu asyik dengan mainan barunya. Jadi apa boleh buat. Aku memikirkan Utari, aku berharap aku masih memiliki kesempatan untuk bisa bersama Utari, satu sisi jahatku aku berharap Bayu mati secepatnya. Dengan senang hati aku akan merawat dan membesarkan Arjuna menjadi orang yang hebat. Tapi terbesit satu keinginan, aku ingin bisa melupakan semua ingatanku dengan Utari dan menemukan pujaan hati yang baru. Aku berharap Utari dan Bayu bisa bahagia. Memikirkan ini semua kepalaku rasanya mau pecah. Hingga darah di otakku terasa mengental.
Hingga hari yang kelimabelas aku masih tinggal di Surabaya , aku baru saja mengajak Sandra mampir menemui ibuku. Ketika Bayu sudah diizinkan pulang kerumah. Sepintas ibu senang ketika melihat penampilan Sandra yang anggun. Meskipun belum sepenuhnya ibu mengenal dia. Di saat yang sama Utaripun memeperkenalkan dirinya pada Sandra tentunya sebagai istri Bayu bukan sebagai mantan kekasihku yang masih aku cintai. Mereka tidak saling kenal satu sama lain. Tapi saling membantu membawakan kebutuhan Bayu. Bayu masih dalam pengawasan dokter dan meminum obat secara teratur tanpa boleh terlamabat. Dan masih harus rutin control sesuai schedule cek up. Ibu mendekatiku dan bertanya sekedar memastikan apakah Sandra dan aku benar benar serius. Karena ibu sudah tidak sabar untuk menikahkan kami. Tentu saja aku menolaknya. Aku tidak pernah mencintai Sandra lebih dari partner kerja meskipun kami sudah terlalu jauh dalam pergaulan dan berhubungan intim. Ibu berpesan agar aku bersikap baik dengan Sandra. Aku sama sekali tidak memperdulikan ibu. Aku jadi merasa bersalah telah membawa Sandra menemui keluargaku. Mungkin Sandra mendengar apa yang kami bicarakan, dan sebagian besar ibu terlalu banyak memuji Sandra. Seakan akan wanita itu adalah calon isteriku yang sesungguhnya. Aku masih mengamati Utari, aku berharap dia masih menyimpan rasa cemburu padaku. Dan selama perjalanan kerumah hingga sampai di rumah,Utari hanya terdiam,meskipun Bayu mencoba mengajaknya berbicara tapi suaranya terdengar malas membuka topik meskipun senyum masih terlihat akrab. Aku menghindari acara makan siang bersama keluarga. Aku meninggalkan Sandra bersama keluargaku. Tentu saja dia tidak keberatan bahkan sangat gembira saat aku melakukan itu, dan sepertinya dia mulai besar kepala. Aku memilih mendatangi sebuah bar yang dulu biasanya aku datangi bersama Utari dan bayu ketika kami masih akrab bersahabat dan belum terlibat gejolak asmara . Seorang bartender datang menghampiriku sambil memberikan menu minuman. Tanpa membuka buku menu aku langsung meminta double scotch.aku meneguknya langsung tanpa menyisakan setetes, lalu aku kembali memintanya dan memintanya lagi hingga gelas yang ke empat. saat aku tidak menyadari telah lama aku duduk didepan meja bar. Dari arah belakang punggungku ada seseorang yang menepuk bahuku, dan sebelum aku sempati melihatnya,tangan bayu yang masih pucat itu terlihat menepuk lenganku kembali dan duduk di sampingku. Aku terkejut hingga aku hampir berdiri. Tapi bayu melarangku.
“kau tidak ingin minum inikan?” tanyaku penasaran setengah membentak karena terkejut
“satu botol sparkling water!” pintanya pada bartender didepan kami. Lalu diberikan satu botol minuman mineral yang masih tersegel “tidak usah gelas” lanjutnya. Bayu membuka segelnya lalu tutup botolnya dan meneguknya pelan pelan. Aku bingung kenapa dia kemari. Apa yang ingin dia bicarakan ditempat seperti ini. terlebih saat dia baru pulang dari rumah sakit.
“kenapa kau kesini?”
“kau mulai mabuk!” sahutnya. Iya, jawabku dalam hati. Kepalaku mulai pusing dengan satu botol scotch. Tapi aku tetap bisa duduk tanpa terjatuh.
“aku hanya minum sedikit?”
“maaf ya aku sudah mengganggu kesibukanmu” lalu kami terdiam setelah aku menggeleng karena aku tidak mengerti apa maksudnya.”bang, aku ingin meminta bantuanmu. Aku tahu abang bisa membantu. Dan aku percaya bila abang mau melakukannya untukku aku akan mati dengan tenang!” bukan main aku kembali dia kejutkan, mataku seakan akan mau lepas. Apa aku tidak salah dengar,pikirku dalam hati. “aku banyak berbuat salah dan sangat egois pada abang?”
“apa maksudmu! Aku tidak mengerti dan jangan bikin aku semakin pusing!”
“ini semua tentang Utari”
“apa hubungannya dengan wanita itu?”
“sebentar lagi aku pasti mati bang, umurku tidak lagi bisa berumur panjang?”
“tutup mulutmu, kau bicara ngawur!”
“tidak bang! Aku tahu Sandra hanya sekertarismu dan aku tahu abang tidak menyukai gadis seperti Sandra, kakinya bertato, dan kau membenci orang yang bertato! Mungkin ibu belum sadar dengan keberadaan tato itu” aku tekekeh mendengarnya. Aku tidak percaya adikku masih mengawasi kaki Indah sekertarisku. Melihat kondisinya yang seperti ini. dia masih bisa lihat yang sexi.
“aku sudah memiliki pacar!” jawabku singkat
“aku tahu… aku tahu itu, abang punya banyak gadis,gadis mana yang bisa menolakmu? tapi aku tahu yang spesial cuman hanya ada satu. Dan aku tahu siapa wanita itu!”
“sudahlah,kau ngawur!”
“tidak bang, abang masih mencintai Utari”
“kau gila!”
“tidak bang, mataku tidak buta, dan mata hatiku masih bisa membaca cinta yang masih membara antara kalian”
“bersumpahlah kau tidak akan membahas itu lagi bersamaku” aku gusar mendengar dia terus memojokkan aku, aku merasa tidak bermoral bila aku terus mengejar istri adikku sendiri “dengar Bayu, itu cerita lama, dan aku sudah memiliki kekasih, hanya saja aku belum bisa membawanya!dia seorang archeolog..kau tahu bagaimana sibuknya wanita seperti itu”
“bang dengarkan aku, aku mohon kau jangan emosi dulu”
“apa kau tidak bisa mengerti kalau istrimu sangat mencintaimu, sadarlah. Dia mencintaimu bayu. Bukan aku! Kau gila kau benar benar gila bila punya pikiran seperti itu!”
“dengarkan aku dulu. Aku mohon dengarkanlah penjelasanku!”
“apa?” aku berteriak didepan wajahnya yang mulai meredup.
“umurku tidak akan lama, aku yakin itu. dan Utari masih mencintaimu, begitu juga dirimu?”
“sok tahu!”
“aku sangat tahu bang! Kau abangku, dan dia istriku. Dulu kita bersahabat. Sebelum aku datang merebutnya darimu. Maafkan aku bang. Aku tidak tahu bila hatimu saat itu benar benar tersakiti.” Aku semakin gusar tapi aku takut bila aku marah maka jantungnya akan meledak. Meskipun kalau dia mati itulah harapanku sesungguhnya. Tapi tidak kali ini. aku tidak mau dia mati. Aku ingin dia bahagia. “bang, aku tahu operasi jantungku tidak terlalu berhasil, bahkan dokter akan menjadwalkan operasi ulang untukku. Dan sebagai permintaanku. Tolong bang aku menitipkan keluargaku padamu. Aku titip Arjuna dan Utari. Pemikiran ini tidak mudah bang. Tapi aku yakin ini yang terbaik. Aku ingin kalian menikah sebelum aku mati. Dan aku akan menceraikan Utari sebelum aku operasi!itu keputusanku bang” suaranya bergetar tangannyapun bergetar hatinya seperti terluka. Aku merasakan perih, luka lamaku kembali tersayat.
“kau akan sembuh, dan berjanjilah kau untuk sembuh! Apa kau tidak ingin melihat Arjuna tumbuh menjadi pria dewasa, pria yang hebat dan dikejar kejar banyak wanita seperti aku!” aku menepuk bahunya lalu merangkulnya. Ingin rasanya aku menangis.
“jangan tanyakan soal itu bang, tapi aku rela. Benar-benar rela bila aku menitipkan mereka ke tangan orang yang aku percaya!”
“aku bukan pria baik. Kau tahu kalau aku menyukai banyak wanita!”
“pria mana yang tidak suka digilai banyak wanita. Begitu juga aku. Tapi kau hanya mencintai satu wanita!itulah yang penting” bayu kembali mendebat. Membuatku semakin ngeri membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
“dengar aku yakin kau sembuh dan sehat. Aku juga yakin semuanya akan kembali seperti awal, kau punya istri begitu juga aku. Dan kita akan tumbuh tua dengan bahagia bersama pasangan kita anak anak kita bahkan cucu cucu kita kalau perlu cicit kita. Ibu akan panjang umur dan kita akan saling menikahkan anak anak kita. Dengar bayu, aku akan mencarikan semuanya yang terbaik untukmu. Untukmu… aku mencintaimu Bayu.dengar kau pasti sehat. Dan kau akan sembuh!percayalah”
“tapi Utari tidak mencintaiku, jadi untuk apa aku hidup lama.lagipula ini sudah takdir bang”
“diam bodoh. Kau salah! Dia mengorbankan semuanya untukmu karena dia mencintaimu. Itulah kebenarannya” tidak ada lagi yang berbicara diantara kita hingga berlama lama. Kami membisu memandangi minuman dan beberapa koleksi botol dibelakang bartender yang sedang bermain jugling. Aku berjanji untuk mengutuk diriku sendiri bila aku menikahi Utari dan membuat adikku mati. Aku berjanji pada diriku sendiri. Kami pulang dan sesampainya dirumah kami bersikap biasa seolah olah kami tidak mengatakan hal yang seserius tadi. Akupun meminta Sandra untuk segera kembali ke Jakarta mengambil beberapa berkas yang diberikan Michael. Karena dia ingin menyewa tempat untuk restaurant barunya dihotelku. Dan itu memudahkan aku untuk menemui Aida kembali. Aku merindukannya lama sekali kami tidak bertemu sejak aku meninggalkannya dikalimantan. Aku baru sempat melihat pesannya dan baru menyempatkan untuk menjawabnya. Aku sungguh menyesal ternyata dia lama menungguku di tempat yang pernah aku janjikan. Tapi percuma bila aku menjelasakan situasi ini. tentunya dia akan lebih banyak bertanya. Malam itu ketika semua tertidur, aku tidak lagi sanggup memejamkan mata. Hatiku sangat gelisah. Sudah beberapa dokter yang aku hubungi masih menyarankan agar aku membawa Bayu ke jerman. Disana Jantung lebih bisa disembuhkan oleh para ahli tapi kondisi bayu tidak lagi memungkin untuk bisa menempuh perjalan sepanjang dan selama itu. jadi aku memutuskan untuk menghubungi salah satu temanku yang menjadi dokter dirumah sakit pemerintah di singapura. Dia berjanji akan membantu sebaik mungkin. Tapi ibu tetap tidak bersedia membawa Bayu keluar negeri. Bayu sendiri tidak ingin lagi dirawat lebih intensif. Dia lebih menginginkan kematian daripada kehidupan. Aku tidak habis pikir kenapa semua berfikir semakin egois. Mereka berdua tidak memikirkan Arjuna maupun Utari. Bagaimana mungkin mereka membiarkan Utari menjadi janda diusia muda, bagaimana Arjuna sekecil itu tanpa ayah. dia akan menjadi anak yatim. Itu buruk. Meskipun aku siap tapi aku sudah tidak berminat mengisi posisi itu. aku mencintai Bayu lebih dari Utari untuk saat ini.
“apa yang kau pikirkan, kenapa kau tidak menemani Sandra pulang ke Jakarta, kenapa kau memintanya kembali!tidak baik membiarkan orang yang kita cintai sendirian dalam perjalanan” aku terkejut dengan suara Utari yang datang begitu saja. dia mengenakan baju panjang berpotongan model v berwarna biru tua dengan ikat pinggang berwarna pink.
“kau belum tidur?” tanyaku
“aku tidak pernah bisa tidur sejak Bayu sakit!”
“kau juga harus menjaga kesahatan!”
“sudah aku lakukan, hanya saja aku mulai letih!”
“Apa kau sudah mulai pasrah?” aku bertanya, aku bingung dengan apa yang aku pikirkan tentang dia, tentang sumpahku bahkan tentang kehidupanku. Satu sisi aku masih mengharapkan dia. Tapi aku tidak tega bila harus merenggut kebahagian adikku yang sudah terbiasa bahagia sejak kecil apalagi sekarat seperti saat ini.
“tidurlah!” aku berlalu meninggalkannya, tapi dengan cepat dia menarik tanganku ketika aku melewatinya
“aku ingin bicara!” aku terdiam saat dia mengatakan itu. dalam hatiku sebenarnya aku juga ingin bicara “ini tentang kita,kita semua..aku kau dan dia” ditariknya nafas dalam dalam dna panjang hingga akhirnya dia mengeluarkan sisa nafasnya pelan pelan.
“semuanya sudah takdir!” jawabku singkat. Hatiku teriris. Kepalaku rasanya pusing nyaris mual seperti orang yang hendak dipenggal kepalanya.
“aku masih mencintaimu Damar, bahkan aku tidak pernah mencintai orang lain selain kamu”
“kau sudah membuktikannya!” aku menyanggah dengan apa yang aku alami. Bahwa sebenarnya dia mengkhianatiku dengan menerima bayu sebagai suaminya “lupakan”sahutku memupus pemikiran yang tidak jelas dalam otakku.dia terus menahanku, tangannya yang kurus dan pucat itu menghalangi langkahku diantara sebuah pilar.
“aku tidak bisa. Mungkin diantara kita sudah banyak kesalahpahaman. Dan saat itu kau tidak sedang berada disini untuk menemani kami yang sedang susah. Keadaan berubah, rencanaku buyar, hidupku berantakan. Cita citaku hancur! Aku memiliki cinta yang tidak bisa aku raih. Betapa sakitnya saat aku harus menerima kenyataan menikahi orang yang tidak aku cintai. bagaimana menakutkan bila harus melewati malam pertama dengan orang yang tidak aku cintai” dan saat aku ingin bicara, dia melarangku. Dia memintaku untuk diam “aku tahu ini terlambat. Tapi lebih baik terlambat daripada aku membawa cerita kebohongan ini ke dalam liang kubur”
“apa maksudmu?”
“ini kejujuran, Damar!”
“kau mencintai Bayukan! Aku tidak ingin semua pernikahan kalian ini menyimpan banyak kebohongan. Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian. Kenapa aku semakin tidak mengenali jalan pikiran kalian!”
“iya, ini hanya tentang pengorbanan sahabat. Aku mencintai adikmu hanya sebagai sahabat. Sedangkan aku cintaku padamu berarti sebagai wanita dewasa yang mencintai lawan jenisnya!”
“kalau itu yang kamu maksud dengan mengorbankan cintamu, kau … kau bukan manusia. Kau mempermainkan perasaan kami, kau membolak balikkan perasaan kami. Bagus…bagus” aku bertepuk tangan untuk memanaskan suasana yang sudah penuh dengan kemarahan.
“tidak seperti itu Utari, seharusnya dari awal kau bilang pada Bayu kalau kau mencintai aku. Bukan dengan cara berpura pura dan menikahinya. Apa pernah kau pikirkan perasaanku. Tidak..tidak sama sekali” aku tetap berteriak keras meskipun aku tahu dia sedang menangis, bahkan aku tetap membiarkan telphonku berbunyi meskipun aku tahu Aida sedang menghubungiku. Aku tidak bisa berfikir jernih. “semua perempuan sama, hanya harta yang dicari. Dan ketika kau tahu aku kaya seperti ini,kau baru menyatakan cintamu padaku, kau mengobral cintamu…kau benar benar keterlaluan Utari,keterlaluan. Aku tidak pernah habis pikir kalau wanita yang aku dewakan sudah menjadi iblis menjelma Dewi berkaki rubah”
“kau kasar sekali Damar, aku tidak seperti itu”
“kau memang belum seperti iblis tapi nanti kau akan menjelma menjadi iblis. Anehnya sampai sekarang aku masih mencintai iblis sepertimu. Entah racun apa yang sudah kau berikan padaku sehingga itu susah sekali untuk aku hindari” Utari terdiam dan meneteskan air matanya satu persatu. Perih mendengar semuanya, rasanya aku harus mempersiapkan diri mendapat sengatan petir dan cambukan kuda nil.
“semua berbeda..berbeda. tidak seperti yang kau pikirkan. Pagi itu ibumu datang ke kantorku dan menunjukkan bukti pemeriksaan Bayu. Bayu positif mengidap jantung stadium dua. Dokter memfonis hidupnya tidak bisa berumur panjang, karena dirinya juga terkena kanker stadium dua.awalnya aku menolak untuk menikahinya. Aku tidak mau Damar…aku tidak mau, aku bersumpah aku tidak mau saat itu bahkan meskipun dia seandainya akan mati satu jam lagipun aku tidak bersedia. Tapi ibumu… ibumu terus memohon dan memohon bahkan ibu mengancam untuk bunuh diri bila aku tidak menerima lamaran itu. dan ibumu juga mengirimkan beberapa fotomu dengan beberapa teman wanitamu. Dan terakhir yang aku tahu. Wanita itu adalah teman biasa buatmu. . aku tidak suka mengingat ini semua. Tapi aku harus meluruskan semuanya denganmu. Karena selama ini kau selalu menuduhku. aku yang berkhianat” suaranya menjadi sangat parau tanpa bisa berteriak sekencang seperti sediakala
“begitukah yang sesungggunya terjadi. Setelah semuanya aku ceritakan saat ini, hatiku mulai terasa tenang, aku tidak akan pernah minta maaf padamu. Aku hanay wajib memberitahu. Smeuanya terserah padamu”
“seharusnya kau juga ada saat itu. bukannya lari”
“aku tidak lari. Tapi suratmu itu?” aku merasa tersinggung. Aku tidak habis pikir ibu berada dibalik ini semua
“surat apa? Kau yang memberiku surat. Kau meminta agar aku menyetujui pernikahanku dengan bayu. Saat itu aku berfikir kalau Kau gila…aku dan aku tidak percaya sama sekali kau menulis surat itu?”
“brengsek…brengsek…bukan aku yang menulis.justru aku mendapatkan sepucuk surat yang aku dapat atas namamu. Didalamnya kau tulis kau sangat mencintai bayu karena menurutmu bayu lebih baik dariku. Kontan aku berfikir karena pekerjaan bayu bisa membuatmu menjadi kaya dan bahagia”
“aku tidak sejahat itu Damar!”kami terdiam untuk beberapa lama. Aku mendekatinya, aku berfikir andai waktu bisa berputar aku akan menikahinya saat itu juga meskipun bayu mati terkapar. Aku tidak perduli. Jadi selama ini bukan Bayu yang merebut Utari atau bahkan Utari yang tergoda untuk mengkhianatiku, tapi justru ibu yang memperebutkan Utari untuk anak kesayangannya. Apakah sebenci itu ibu padaku. Secepat mungkin aku menghirup udara malam dalam dalam. Bernafas saja tidak cukup untuk membantu berfikir. “apa kau mencintai Sandra?” dia menanyakan Itu kembali
“tidak,tentu saja tidak. Dia hanya sekertaris pribadiku saja. tidak ada perasaan dan tidak ada cinta. Aku hanya memberi apa yang dia mau, tapi tidak dengan cintaku?”
“tapi dia mencintaimu, aku tahu bagaimana cara dia menatapmu!”
“semua wanita mencintaiku, kau tahu itu. tapi sayangnya aku tidak perduli dengan itu semua” kami kembali terdiam sesaat. Kami saling menunduk, hingga aku memilih duduk mendekatinya yang masih terlihat kacau. Wajahnya terlihat berantakan. Matanya terlihat masih berkaca kaca “apa kau tahu kalau Bayu meminta agar aku menikahimu?” aku terpaksa mengatakan percakapan kami tadi siang. Karena aku ingin tahu apa jawaban yang diamiliki sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Utari hanya terkejut tanpa bisa bersuara. Tentu saja terkejut, itu wajar. Normal. Sama seperti aku saat pertama kali bayu mengatakannya tadi siang. Ini masalah rumit, aku bersumpah tapi aku tidak yakin bisa menepatinya setelah semua alasan yang Utari berikan.
“dia tahu aku masih mencintaimu!”
“tapi sekarang kau hamil anaknya? Yang kedua” suaraku terdengar jengkel. Bagaimana mungkin itu terjadi dua kali bila dia tidak mencintai adikku.
“aku mengatakan yang sejujurnya tentang semuanya pada Bayu, dan ketika dia tahu dia marah besar. Satu minggu dia tidak pulang. Selang satu minggu dia selalu pulang dengan aroma alcohol dan beberapa bekas lipstick dalam kemejanya. Sebulan dia mabok dengan wajah berantakan. Satu bulan juga dia tidak pernah seranjang denganku. Dia tidur disofa ruang keluarga ataupun dikamar tamu, dimana saja dia menjatuhkan tubuhnya ketika dia mabok. Tapi suatu hari ketika dia mabok dia memberiku segelas jus. Dan saat meminumnya aku mendadak pusing dan tidak sadar, genap beberapa jam saat aku terbangun, kami sudah tidur di ranjang yang sama tanpa mengenakan busana! aku menangis saat itu. aku tidak tahu kenapa aku mulai membencinya dengan semua perlakuannya padaku”
“kenapa dia harus memperkosamu,kalian suami istri?hanya tinggal meminta apa susahnya?” aku ikut kesal dengan perlakuan Bayu. Dia brengsek.
“aku hanya bisa shock tanpa bisa berbicara ataupun berteriak. Aku nyaris gila. Rasa cemburunya membuat dia sakit jiwa! dia seperti memiliki kepribadian ganda sejak itu. Aku muak” malam itu suaranya semakin terdengar menyayat, bayangan kami dimasa lalu ingin sekali aku ulang kembali. Aku masih sangat menyayanginya. Aku benar benar mencintainya. Hanya dia yang membuatku bisa berubah.
“bagaimana bila aku menuruti kemauan Bayu, dan bayu berjanji akan menceraikanmu bila aku menyetujui semua?” kini tatapan itu begitu tajam, matanya terlihat bahagia walaupun kesediahan masih belum terkuak semuanya. Aku tahu dia terlalu perih memikul ini sendiri. Aku tidak ada saat dia membutuhkan pelukanku. Aku tidak pernah ada saat dia membutuhkan aku,justru Bayulah yang selalu ada buatnya.maafkan aku Utari aku salah menilai ketulusanmu. Aku salah…salah besar. “apa kau masih mencintaiku Utari?” nadaku terdengar pelan, hanya dengan bantuan angina agara suaraku masuk dalam gendang telinganya, jiwaku serasa melayang saat dia mengangguk. Dan itu berarti aku menarik sumpahku untuk janji yang tadi aku ucapkan. Aku akan membuat kesepakatan janji baru bersama Tuhan. Dan aku akan menikahi Utari. Aku memeluknya erat, aku tahu ibu melihat kami dari ruang keluarga. Tapi sungguh kali ini aku tidak perduli, bahkan bila ada serangan jantung akan menyerangnyapun aku tetap tidak takut untuk tetap memeluk Utari “tubuhmu hangat Utari, seharusnya kita sudah punya banyak anak, seperti kucing. Kau tahu kan” aku sedikit menggodanya agar dia tidak terlalu berat dalam berfikir. “Arjuna akan punya teman, dan janin yang ada dalam kandunganmu itu akan tetap aku anggap anak, percayalah”.
“aku lega sudah mengatakan ini semua Damar, aku tidak mau mati membawa cerita kebohongan”
“kau ini bicara apa! Sudahlah, kita mengikuti waktu saja, tapi maaf Utari aku tidak bisa tergesa gesa meneruskan hubungan kita ke pernikahan walaupun Bayu sudah berniat untuk menceraikanmu. Ini tidak akan semudah yang bayu ucapkan maupun semudah yang kita bayangkan. meskipun kita mengantongi persetujuan bayu”
“baiklah, aku menunggu. Aku berjanji akan menjaga semua sisa hidupku untukmu.
“aku juga berjanji untuk tidak hidup sebejat ini?”
Sejak kejadian malam itu, aku dan Utari berusaha untuk selalu tetap berkomunikasi dalam hal apapun. Bahkan hingga aku kembali ke Jakarta kami tetap menjalin hubungan. Tentu saja tanpa Ibu dan Bayu tahu. Kami tetap merahasiakan hubungan kami. Ini terlalu rumit bila kami harus terlihat didepan umum. Sejak aku kembali dekat dengan Utari, aku bisa dengan sempurna menahan rutinitas ranjangku bersama gadis gadis termasuk Sandra. Bahkan aku memindahkan meja kerja Sandra diluar ruanganku. Aku membuatkan sebuah Ruangan baru tapi tetap bisa saling melihat dan bermain mata. Aku tahu Sandra tersinggung dengan apa yang sudah aku lakukan. Tapi bagaimana lagi ini semua tentang Utari karena aku sangat mencintainya. Dan aku ingin moralku kembali naik dan punya citra yang lebih baik. Karena cintaku bersama Utari jauh lebih menjanjikan dari sekedar urusan bisnis. Dulu aku berfikir bahwa cinta dan hidup tidak harus aku mengerti dan aku miliki. Itu hanya pendapat seorang pria yang frustasi karena tidak bisa mendapatkan cintanya, tapi tidak untuk saat ini cinta harus aku raih bila aku ingin hari hariku berpuisikan namanya. Utari adalah hidupku jiwaku. Beberapa bulan kemudian Sandra mengundurkan diri menjadi sekertarisku. Aku menerima surat pengunduran diri itu tanpa perlu menahannya. Aku memberikan sejumlah uang dalam buku rekening baru yang bisa dia gunakan untuk membeli rumah mewah meskipun tidak sekelas rumah para istri pejabat daerah. Hans memberiku banyak pemikiran dan pendapat, sayang sekali bila aku harus melepaskan Sandra. Tapi tekadku sudah bulat. Dari sanalah aku tahu bahwa antara Hans dan Sandra memiliki hubungan secara khusus, bahkan setiap harinya mereka selalu melakukan hubungan sexual bila Sandra tidak sedang bersamaku. Perempuan bangsat itu ternyata memanfaatkan aku. Tapi sudahlah, keperawanan Sandra lebih dulu aku renggut sebelum Hans. Jadi impas. Aku memecat Hans bukan karena aku cemburu tapi aku tidak menyukai orang licik seperti mereka berdua. Sebagai gantinya aku menaikkan jabatan Chef Muchlis menjadi general manager dan membawahi Mulawarman kingdom hotel. aku mengganti Sandra dengan seorang Pria yang sedikit pesolek tapi otaknya sangat cemerlang. Sedikit menggelikan karena selama ini aku baru memiliki sekertaris seorang pria dengan wajah dan kulit mulus nyaris seperti perempuan. Namanya Benny. Dia mahasiswa lulusan Universitas Indonesia. Aku senang dengan pekerjaanya semuanya super.
Lama tidak mengunjungi Utari, aku mulai merindukannya. Dan saat aku datang mengunjungi mereka, justru aku datang tepat saat adikku Bayu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tenggorokanku rasanya tercekik saat membaca surat dari bayu yang ditulisnya dengan tangan
Abang apakabar?
Aku tahu, saat kau membaca ini, aku tidak sedang duduk bersamamu seperti saat kita berebut surat dari kekasih. Saat kau baca ini pasti saat aku hendak dimakamkan. Bang tolong maafkan aku ya!! Ajari arjuna ilmu karate, dia ingin sekali belajar karate, aku menceritakan keahlian karatemu. Dan dia berminat. Arjuna begitu antusias. Ajari dia bagaimana mendapatkan wanita yang cantik dan baik sebaik uTARI untuk dijadikan istri, aku ingin anakku nanti bisa menjadi idola. Dan aku yakin abang dan Utari bisa menjadikannya pria yang hebat karena kalian orang yang hebat
Permintanku yang kedua nikahilah Utari
Aku tahu kalian saling mencintai, kalian sudah banyak mengorbankan perasaan kalian demi aku agar jantungku tetap hidup untuk berdetak hingga sebelas tahun lamanya.
Aku mencintai kalian semua
Selamat jalan abangku sayang
Ibu dan Utari duduk didepan jenazah Bayu yang kini sudah mengenakan kain kafan. Arjuna mengusap air mata Ibunya hingga setiap air mata itu menetes. Air mata itu terus menetes dan berhenti saat Bayu dimakamkan dan bunga ditaburkan, ibu terlihat tegar tapi tidak dengan Utari. Usai pemakaman, saat kami menuju kearah parkiran mobil tiba tiba saja Utari pinsan dan terjatuh. Ibu menahan tubuh Utari hingga ikut terjatuh, tanpa sengaja kaki Utari berlumuran Darah, ibu terus menjerit jerit begitu juga beberapa kerumunan wanita yang ada dibelakang mereka, semua wanita berteriak histeris. Dengan cepat Teguh memintaku untuk segera membawa kerumah sakit tempatnya bekerja. Dan kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari pemakaman. Sesampainya disana Utari langsung mendapatkan perawatan medis hingga aku mengetahui bahwa Utari mengalami depresi berat yang membuat kandungannya mengalami keguguran. Beruntung Utari bisa terselamatkan meskipun janinnya tidak bisa tertolong. Aku ikut menyesal. Tapi sepertinya Utari tidak terlalu mempermasalahkan soal janinnya.
“aku minta maaf soal kecelakaan ini, dokter hanya bilang nyawamu harus diselamatkan!” wajahnya terlihat sedih saat memeluk Arjuna
“adik menemani Ayah ya Bunda?” Utari mengangguk dengan senyum pada Arjuna,mengusap rambutnya dengan lembut aku semakin sayang padanya. Benny dan ibu hanya duduk di dalam kamar. Ibu terlihat sangat menyesal dengan apa yang dia perbuat selama ini. ibu meminta maaf padaku setelah sekian lama dia membohongiku. Ibu mengatakan alasan kenapa ibu tidak pernah menyetujui Bayu dirawat dirumah sakit.
“maafkan ibu Damar! Ibu sudah tidak berlaku adil kepada anak anak ibu, tidak seharusnya ibu memberikan kasih sayang yang berbeda kepada bayu dan dirimu. Sejak itu ibu selalu berharap pengampunan dosa dari Tuhan atas semua yang ibu lakukan”
“sudahlah, semua sudah terjadi. Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu meskipun tanpa Bayu, bagaimanapun juga dia adikku dan aku menyayanginya”
“ibu tahu nak, karena itu ibu tidak pernah menyetujui tawaranmu untuk membawa Bayu keluar negeri, bukan berarti ibu tidak sayang padanya lagi nak. Hanya itu yang bisa ibu lakukan untuk kalian”
“sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi. Semuanya akan kembali baik” ibu mencium keningku saat aku berlutut dihadapannya, Benny terlihat menitikkan air mata. Benny terlalu lembek seperti bantal saat mendengar ini semua. Jiwanya terlihat feminine. Tidak sekeren dandanannya. Hatinya terlalu sensisitif. Ibu merestui hubunganku dengan Utari, bahkan ibu meminta agar kami segera melakukan pernikahan. Aku menyetujuinya meskipun tidak bersedia melakukan tahun ini. kurang delapan bulan lagi. Karena aku menunggu berganti tahun untuk menikahi Utari. Dan sebagai pengikat, aku melamar dan memintanya pada kedua orangtuanya. Merekapun merestui hubungan kami. Delapan bulan terasa lama, tapi aku meminta Benny untuk mempersiapkan pesta pernikahan kami awal tahun. Dan saat Paula kembali menghubungiku dia bersedia untuk meminta suaminya agar bersedia mendesign baju pernikahan kami. Benny memberiku beberapa kartu nama dari beberapaa evet organizer yang punya nama besar seperti dyandra. Aku menyuruhnya untuk memberikan semua proposal ini kepada Utari. Agar dia bisa memilih semua yang Utari butuhkan. Aku sangat menunggu penuh harap dengan perasaan yang berdebar debar dan tidak sabar. Aku semakin giat saat bekerja, aku meminta agar Utari lebih mendekatkan aku dengan Arjuna mengingat aku adalah paman dan sekaligus calon ayah tirinya. Suatu saat ketika aku dan Utari pergi ke acara gala dinner disebuah undangan resepsi salah seorang anak gubernur aku bertemu dengan Michael. Mendadak rasa penasaranku kembali muncul, aku kembali ingin bertemu Aida yang saat itu aku sama sekali tidak melihat bayangannya. Spontan aku meminta agar Benny duduk menemani Utari, dan aku datang untuk menyapa Michael. Aku menyambar segelas rose wine sambil menikmatinya akupun mendekati pria itu. dari jauh pesonanya sudah memancar dia berada di tengah kerumunan kecil beberapa orang yang akrab diacara televise dunia politik daerah. Hingga salah seorang diatara mereka menyadari kehadiranku.
“ohh..hohoho….Pak Damar! Senang malam ini anda bisa bergabung” sapanya penuh keramahan. Pria tua itu masih terlihat sangat prima dan gayanya yang flamboyan itu adalah salah seorang pejabat teras di istana kepresidenan.
“selamat malam semua!” sapaku sambil menepuk pundak Michael,spontan dia menoleh kearah belakang sambil menepuk lalu memelukku. Hanya sekedar tanda persahabatan hingga semuanya bersulang untukku.
“aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini, Pak Damar akan segera menikah dengan wanita cantik, kisah lama bersemi kembali!” semua bersorak dan menyalamiku satu persatu lalu bersulang kembali.
“terimakasih semuanya, senang sekali bisa bergabung malam ini. ngomong-ngomong,kemana kekasihmu?” aku tidak yakin menyebutkan nama Aida. Belum sempat aku mengatakan nama itu karena keraguanku. Michael meminta agar aku mengikutinya.
“bagaimana kalau kita pergi mencari segelas tequila!” kami berlalu dan meninggalkan kerumunan kecil yang mulai menghilang satu persatu. Dari jauh aku masih mengamati Utara dan seseorang yang sedang membuatku penasaran. Hingga kami berhenti di depan meja bar di ujung sudut belakang meja bartender.
“calon isterimu masih sangat cantik, pantas kau masih tergila gila, apa yang membuatmu gila?” nadanya terdengar biasa dan hanya bisa membuatku tersenyum. Tiba tiba raut wajahnya menampakkan rasa penyesalan yang dalam “kau tahu, aku dan gadis yang pernah aku perkenalkan dulu….emm apa kau masih mengingat sosoknya?”
“yah!” jawabku singkat “kenapa dengan gadis itu?” aku penasaran tapi aku tidak ingin terpancing untuk menanyakannya secara langsung
“tolong beri aku satu gelas brandy!” perintahnya pada seorang bartender. Dia terlihat penuh penyesalan.
“kau ini kenapa, tadi kau terlihat penuh pesona bak bintang yang mengkilat!sekarang kau malah menjadia pangeran buangan” sahutku sambil menyambar segelas brandy yang baru saja dituangkan.
“kau brengsek.kami putus!”
“kenapa? Apa kau ketahuan selingkuh atau…!” aku mencoba memberikan tebakan “atau..dia bosan, ataukah dia kurang suka dengan beberapa karaktermu,emm mungkin!pastinya banyak kemungkinan yang terjadi” aku tidak yakin kalau penyebab mereka putus. Aku hanya menduga jika Aida mengetahui kekasihnya pergi bersama Paula.
“begitulah salah satunya!”
“apa kau sangat mencintainya?”
“tidak,…tentu saja tidak! Wanita hanyalah pendamping. Bisa dikatakan hiburan. Ini bukan soal hati!tapi kenapa sekarang kau banyak berubah. Kau memecat sekertarismu yang cantik dan sexi itu.kenapa kau lakukan itu” dia mulai terdengar mabok berat.
“aku tidak memecatnya. Tapi dia yang mengundurkan diri!” aku menyahut dan menarik gelas yang hampir saja mendekati bibirnya “apa kau tahu kabar mantan kekasihmu itu?” aku semakin penasaran. Karena dia sedang mabok, aku jadi berani untuk menanyakannya sejelas mungkin. Meskipun Michael mengatakan tidak mencintai Aida, tapi sorot mata itu berkata lain saat bibirnya mulai berbicara. Tangan kirinya menggenggam erat “sudahlah lupakan, aku tidak bermaksud membuatmu menyakiti diri sendiri!” kamipun terdiam di tengah hiruk pikuknya keramaian para tamu undangan.
“dia tahu, aku berlibur dengan wanita lain beberapa bulan yang lalu, dan dia mengatakan padaku kalau dia mencintai pria lain. Dan sayangnya pria itu….kini tiba tiba saja menghilang” aku tahu, dan aku takut kalau beberapa video yang dikirimkan Paula padaku terbaca olehnya. Tapi tidak mungkin. saat itu, Aida pergi ke Bali untuk menemui Michael. “aku mencintainya, dan aku menyesal membuatnya terluka. Tapi sungguh aku menikmatinya. Kau tahu dengan siapa aku berselingkuh” aku menggeleng “PAULA!” suaranya terdengar menekan nada, mencoba untuk mebuatku cemburu. Tentu saja tidak. Antara aku dan Paula hanya teman. “kau tahu Dammy, pantas kau menyukainya, servicenya benar benar memuaskan. Dan Aida tidak mau melakukan itu saat masih bersamaku. Dia sok suci. Pura pura suci….mungkin dia hanya menyukai pria pria sekelas pejabat penting bukan pengusaha seperti kita!oke… Oke..sekarang…aku bisa bebas tidur dan bercinta dengan wanita manapun, yah seperti dirimu” medengarnya mengejek dan menghujat Aida hatiku sedikit kesal,ingin sekali aku menendang atau meninju wajahnya. Sayang ketika aku ingin melakukannya Utari datang menghampiriku.
“sayang, aku mencarimu. Ternyata kau disini!” suaranya terdengar lembut, Michael mendadak bangun dari duduknya. Merapikan kemejanya yang berantakan dan mengulurkan tangannya langsung pada Utari.
“maaf kalau aku lama meninggalkanmu”lalu aku memperkenalkan keduanya. Michael berlaku sopan walaupun aku tahu matanya hampir saja nakal saat melihat dada Utari yang terlihat belahannya. “emm.sayang..perkenalkan dia relasi lamaku!”
“senang mengenal anda Pak Michael,maaf emm bolehkah saya meminta Damar untuk eemm…”
“yah tentu tentu saja, maaf sudah menculik calon suami anda. Ngomong ngomong senang sekali mengenal anda. Baiklah saudaraku…terimakasih atas waktunya”
“terimakasih…tapi kalau nanti kau butuh tumpangan, aku bawa mobil pribadi yang sedikit luas, daripada kau menyetir sendiri!” ajakku
“yah, akan aku beritahu kau nanti!”
Kami meningglakannya, dan aku meminta Benny untuk mencari seseorang yang aku maksud. Tentu saja tanpa sepengetahuan Utari. Aku kembali memikirkan Aida yang lama sekali tidak pernah kudengar kabarnya. Karena kupikir Aida masih berbahagia dengan Michael, tapi kenyataannya tidak.
“ben…!”
“emm..baik Pak. Saya sudah membaca pesan anda”
“bagus Ben, ternyata kau bisa diandalkan. Satu lagi Ben. Ini hanya kita berdua yang tahu. Infonya aku tunggu besok pagi. jangan kau kirimkan informasi soal wanita itu padaku lewat apapun”
“baik Pak!”
Acara malam ini menyisakan tanda Tanya besar bagiku. Aida menarikku kembali pada kenangan beberapa hari kami di Kalimantan. Sekilas tentang kenangan pertama saat aku melihat sosoknya yang cantik dan sederhana. Hingga sosok yang mengasyikkan. Semuanya membuatku terkenang.
“apa kau baik saja?” Utari menarikku ke dunia yang cukup sadar dan nyata, “bagaimana dengan gaun ini. Paula baru saja mengirimkannya padaku. Dia bilang warna ini cocok untuk kita!jujur saja aku suka dengan motif dan bahan juga corak warnanya. Sederhana tapi masih meninggalkan kesan glamour yang natural!” aku hanya bisa tersenyum mendengarkan semua keterangannya. Aku mencium keningnya dan mengisyaratkan padanya untuk segera meninggalkan pesta ini.
Sebulan sejak acara pesta itu, aku kembali tergoda untuk mencari beberapa Informasi tentang Aida. Betapa kesalnya ketika aku tahu informasi yang didapatkan oleh Benny tidak terlalu banyak. Nyaris semua yang dia dapat aku tahu dan itu percuma. dan ketika rasa frustasiku memuncak aku kembali menyadarkan diriku sendiri bahwa aku sudah berjanji untuk menjalin kompromi mengarungi sisa hidupku bersama Utari dan Arjuna. Jadi lambat laun aku bisa melupakan semua. Hingga berbulan bulan kemudian saat acara pernikahan kami kurang satu hari. Benny memberiku informasi bahwa Aida sudah kembali ke Indonesia dan bekerja di departemen pariwisata. Sebagian dari hatiku ingin sekali pergi menemuinya. Tapi sebagian lagi cintaku pada Utari masih sangat besar dan aku tidak ingin merusak semuanya. Aku membatalkan untuk pergi menemuinya. Saat pesta pernikahan berlangsung semua berjalan sempurna tanpa ada kekurangan. Aku kembali menemukan Utari yang dulu, semua telah kembali. Utari memilih acara bulan madu kami untuk berlayar di laut mediterania. Kehidupanku semakin lengkap ketika aku mengetahui Utari hamil selang tiga bulan pernikahan kami. Begitu juga dengan ibu dan Arjuna. Semua mengharapkan kedatangan bayi yang dikandung oleh Utari. Aku semakin mencintai dan menyayanginya. Aku memboyong mereka semua ke Jakarta. Pada dasarnya Utari menginginkan tinggal Di Kalimantan karena dia merindukan kitty kecilnya yang dulu, dia bilang kalau rumah itu sangat begitu unik dan begitu berkelas. Dengan halus aku menolak permintaannya dengan alasan aku tidak mau hidup lama dan tinggal disana, hanya sesekali saja kami berlibur untuk menikmati alam liar. Dan dengan berat hati Utari tidak memintaku untuk menuruti kemauannya yang satu itu. jujur rumah itu mengingatkan aku pada Aida dan semua kenangan kami disana. Rumah itu aku beli Karena aku ingin dekat dengannya saat itu. meskipun ada beberapa benda kenangan hidupku bersama Utari yang sengaja aku simpan disana. Aku tidak ingin membagi rumah itu dengan Utari untuk sementara waktu. Setahun kemudian putri kecilku Druphadi lahir tepat pada hari ulang tahun pernikahan kami. Kami memanggilnya Drew dan dia adalah gadis kecil yang sangat cantik, wajahnya mirip sekali Dengan Utari. Aku belajar untuk memakaikan popok,baju,kaos tangan dan belajar menggendong putriku. Aku tidak perlu repot repot untuk membuatkan susu formula, karena asi milik Utari benar benar ekskusif. Arjuna sangat menyayangi Drew. Setahun setelah Drew menginjak lebih besar, kami sering bepergian ke negeri tetanggasebatas benua asia,tentu saja bersama Ibu. Meskipun aku sering sekali kehilangan kesempatan untuk merebutkan beberapa tender baru. Tapi itu bukan masalah. Waktuku bersama keluarga melebihi rasa senangku saat aku menerima proyek ataupun tender besar. Bagiku anak dan istriku jauh lebih berharga daripada lainnya. Beberapa bulan kemudian ibuku meninggal dunia karena usia. Tidak ada sakit yang pernah dia keluhkan. Aku mengalami kesedihan yang dalam. Tapi kehadiran anak dan isteriku bisa kembali membuatku bangkit. Hingga suatu hari, seminggu setelah pemakaman ibuku, Utari memberikan sesuatu kepadaku. Malam itu setelah acara makan malam kami bersama anak anak.
“ratmi,tolong ajak anak anak main di pavilion, ada beberapa mainan baru untuk Drew dan Arjuna!” katanya pada salah seorang pembantu kami.
“baik nyonya muda!ayo sayang!” tangannnya begitu lembut saat menggendong Drew dan menggandeng Arjuna.mereka bertiga berjalan meninggalkan aku dan Utari diruang makan.
“sebentar sayang, aku punya sesuatu untukmu!”
“apa?” kataku saat dia pergi meninggalkan aku menaiki anak tangga menuju kamar
“tunggu saja disitu, aku belum selesai dengan buah jerukku!” perintahnya dari atas tangga. Aku hanya menggeleng dan tersenyum mengupaskan kulit jeruk untuknya,aku senang suasana hangat saat bersama istri dan anakku,semua terasa istimewa dan aku menikmati posisiku sebagai kepala rumah tangga menjadi ayah dan juga suami. Hingga beberapa saat kemudian istriku kembali dengan satu kotak kecil yang masih terbungkus rapi. Awalnya aku menduga kalau istriku memberiku sebuah hadiah jam tangan koleksi terbaru milik Hugo boss. Ternyata saat mataku mulai memperhatikan kotak itu. itu bukan kotak jam tangan. Dari luar hampir mirip dengan kotak perhiasan yang terbuat dari kayu jati yang berukir.
“maaf lama membuatmu menunggu!” tangannya yang lembut menyentuh tanganku. Lalu dia duduk disampingku sambil menyodorkan kotak box panjang yang luarnya terbuat dari kayu yang tebal dan berukir berwarna coklat tua.
“aku sudah terbuktikan. sabar untuk menunggumu kembali dalam pelukanku” dia hanya tersenyum saat aku menggodanya, wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang cukup dalam. Dan itu membuatku terpancing untuk tidak membukanya. Sengaja aku mengulur waktu melakukan aktifitas lain selain membuka kotak ini. perasaanku tidak enak.
“dia datang tadi siang mencarimu. Dia cantik anggun dan bersahaja. Rambutnya yang hitam tebal dan mengkilat itu tergerai menutupi punggungnya. menurut pengamatanku, dia sedikit terkejut melihat aku adalah nyonya rumah disini. Tapi ternyata tidak, katanya dia pernah melihat fotoku di layar monitor kerjamu. Emmm.. dia anggun. Awalnya aku mengira dia salah satu kekasihmu. Tapi dia bilang kalau kalian hanya terlibat teman bisnis” jantungku tiba tiba saja berdegup,tidak tahu kenapa tapi ini mengejutkan. Aku takut kalau yang pernah dikatakan oleh Benny itu adalah benar. “kau tahu sayang, dia membuatku terperanjat dan cemburu, dia begitu cantik. benar benar cantik.dia menitipkan benda ini. katanya, ini barang yang pernah kau buru, dan ini beberapa surat Negara yang menyatakan bahwa benda itu legal untuk kau milikki. Oh..ya kenapa kau tidak pernah memperkenalkan aku denganya! Kau harus janji padaku ya, kau harus jaga jarak. Entah mengapa aku merasa cemburu”
“apa dia punya nama?” aku menduganya
“Aida Soedirman” jawabnya”kami lama sekali mengobrol!” lanjutnya dengan bangga”bukalah kotak itu aku ingin sekali melihat benda jenis apa yang kau buru! hingga sekian lama kau baru mendapatkan. Apa itu dari jaman sejarah”
“apa yang kalian bicarakan” aku mulai terpancing, aku takut bila … tapi aku buru buru mengalihkan pembicaraannya “aku tidak bisa membukanya, dan sepertinya aku butuh orang ahli, khusus untuk membuka kotak ini, karena aku tidak mau benda yang lama aku buru rusak dalam hitungan detik! terlebih benda ini tidak ada duanya” aku mulai berbohong meskipun aku tahu harus menekan beberapa kode agar aku bisa membuka isi kotak itu dan mengetahui apa yang dikirimkan Aida padaku. Aku benar benar tidak tahu apa isi kotak ini, semua surat surat ini hanyalah palsu. Aida terlalu pintar untuk menyembunyikan hal yang ingin dia sampaikan pada orang yang dituju yaitu aku. Jadi selama ini Aida tahu kalau aku sudah menikah. Rasa penasaran Utari tidak bisa aku hindarkan dari benda ini. akupun tidak mungkin membuka benda ini. aku takut benda ini ada hubungannya tentang… dalamnya hatiku, aku merindukan Aida. Kenapa saat itu dia menghilang begitu saja. dia tidak seharusnya menghilang saat aku sangat membutuhkan kehadiaran wanita yang aku sayang. Bila dia tidak menghilang aku tidak mungkin menikahi Utari.
“sabarlah sayang, besok biarlah aku meminta Benny untuk mencarikan orang yang bisa membuka kotak ini!.sesungguhnya aku sendiri buta dengan dunia zaman sejarah dan prasejarah.mungkin kalau kau menanyakan yang lain aku pasti bisa menjawab”
“kenapa kau tidak meminta Aida datang dan membukakan ini untuk kita!”
“tidak mungkin. Sudahlah sayang aku capek, apa kau bisa menemaniku malam ini tidur lebih awal, aku merindukan belaianmu malam ini, dua hari kau tidak memberinya untukku”
Minimal malam ini aku bisa mengalihkan Utari dari Aida. Sesampainya dikantor pagi hari dengan perasaan yang sudah tidak menentu, aku mulai mencoba membuka kotak ini. seingatku Aida selalu menggunakan tanggal kelahiran ibunya dan kalau tidak salah 14111947. baiklah pelan pelan aku mencoba memutar kodenya. Kotak ini memiliki pintu yang tertutup didalamnya seperti ada roket dengan urutan angka yang bisa diputar. Nyaris seperti puzzle. Sial! berapa nomer kode ini. aku mencoba mengotak atik kembali. aku sudah salah lima kali. Berarti kesempatanku tinggal lima lagi. Pikiranku buyar ketika Benny tiba tiba saja masuk
“saya butuh tanda tangan anda segera Pak?”
“taruh saja disitu dulu!”
Hingga sepuluh menit dia masih saja berdiri sambil memperhatikan aku kembali. aku hanya melirik begitu juga dia sebaliknya. Lalu dia pergi dari hadapanku dan duduk di sofa merah dengan mengetukkan sepatu putihnya diatas lantai, semakin terlihat menyebalkan bagiku.
“dimana aku harus bertanda tangan!” Benny datang mendekat sambil menunjukkan sebuah kolom dibawah yang sudah dibubuhi stempel perusahaan.
“disini Pak” akupun segera membubuhi kolom itu dengan tanda tanganku. Matanya masih mengamati benda yang ada disebelahku. Kini kesempatanku hanya tinggal dua kali. Harapanku semakin tipis. Aku ingin sekali meminta bantuannya. Tapi bagaimana, aku tidak yakin “apa nama benda yang ada di tangan anda,Pak!”
“aku tidak tahu, tapi yang jelas seseorang memberitahu sebuah pesan untukku tanpa perlu oranglain mengetahui isi pesan ini!”
“hieroglyphic alphabet,virtual Egyptian..emmm hieroglyphic typewriter Egyptian …” kami saling melihat dan matanya seperti meragukan kalau aku mengetahui benda ini “hati hati Pak!” saat dia mengatakan itu aku semakin takut untuk meneruskan. Hingga rasa takutku lebih menguasai diriku daripada penasaranku.
“kau sepertinya mengenal benda ini!”
“tidak juga, tapi sebaiknya anda bisa menuliskan beberapa kode khusus yang anda ketahui tentunya dengan pengirim benda ini. biasanya ada hubungan yang hanya kalian berdua saja yang tahu!”aku mengulurkan benda ini, karena aku sudah bingung bagaimana cara membukanya, setiap aku salah benda ini berubah warna pada hurufnya, dan pasirnya terus bertambah. “apa anda meminta saya untuk mencobanya,tinggal berapa kali kesempatan yang anda miliki?” serius
“dua” jawabku tegas
“astaga pak, anda membuang banyak waktu”
“coba anda list dan yakinkan dulu dengan semua yang anda tulis, sebelum anda mencobanya kembali, pesan yang ada didalam benda tersebut akan rusak bila anda salah dalam dua belas kesempatan!”. Dari lima puluh kata dan tanggal yang aku tulis, ada dua kata yang aku yakini. Dan aku paling menyakininya. Utari semalam bercerita bahwa Aida menitipkan ROMEO JULIET. Aku tidak tahu apa hubungannya, tapi biarlah aku mencobanya. “Romeo Juliet”
“serius?”
“apa kau ragu! Tapi aku tidak. Cobalah?”
“bagaimana ejaannya?” tanyanya dengan yakin mungkin takut kalau dia sampai salah mengeja
“ROMA-OSCAR-MAMA-ECHO-OSCAR untuk romeo, JAKARTA-UNIFORM-LIMA-INDIA-ECHO-TANGO untuk Juliet” dengan pelan satu persatu kotak itu terbuka dari kuncinya. Jantungku berirama lebih kencang, darahku seperti mengental ditambah lagi keringat dinginku seakan akan membanjiri.
“sudah terbuka pak!” jawab Benny sambil memberikan secarik kertas kecil yang bahannya hampir mirip seperti kertas minyak berwarna transparan.
“duduklah, terimakasih kau sudah membantuku. Ben jangan katakan ini pada siapapun. Aku sadar, aku pernah mencintainya dengan tulus, hanya saja waktu kami bertemu sangat tidak tepat. Banyak kesalahan lama saat itu yang harus aku benahi. DR.Aida adalah orang yang pernah aku cintai selain istriku. Kami terpisah tanpa ada kata kata perpisahan!pesan ini singkat tapi aku sangat menyesal kenapa semuanya terlambat. Dan aku sangat mencintai Utari meskipun aku juga masih mencintai Aida”
Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Benny. Bibirnya tetap terkunci meskipun sorot matanya lurus berjalan ke arahku.lalu akupun terdiam.
Berhari-hari setelah membaca pesan itu, aku kembali memikirkannya bahwa saat itu, sebenarnya kami saling mencintai. Ada masalah lain yang mungkin bagi kami harus menyelesaikannya satu persatu. Dan setelah semua selesai, semuanya telah berakhir. Sebenarnya aku tidak ingin memikirkan ini kembali,tapi kenangan dulu kembali membangkitkan aku saat kami masih tinggal bersama dikalimantan untuk beberapa minggu. Hingga aku mencoba menjauhinya dan hingga benar benar aku terjauh darinya. Dulu aku berharap kisahku bersama Utari bisa Aku akhiri dengan cara mencintainya. Tapi…semuanya terbalik
Aku masih bertahan untuk setia mencintai Utari yang memang aku cintai sejak dulu. Tapi bayangan Aida mampu mengalahkan waktuku saat aku mencoba mengingat Utari. Ada kisah lama tentang kami yang masih aku sesali. Pencipta malapetaka ini sebenarnya adalah aku. Harusnya malam itu aku tidak harus punya pemikiran untuk menjauhi Aida. Karena kenyataan yang pernah aku bayangkan sangat berbeda dengan apa yang ditakdirkan Tuhan padaku saat ini. kehidupan cintaku memang tidak pernah bebas dalam memilih, karena begitulah kenyataannya. Tidak ada lagi ada kabar tentang Aida. Tapi aku masih menginginkan agar suatu saat Tuhan mempertemukan kami. Saat mengingat Aida bayangan Bayu selalu muncul untuk mengingatkan agar aku selalu setia mencintai Utari. Sesungguhnya ada apa dengan jiwaku saat ini. Aku susah mengendalikan semuanya. Rasa ambisi untuk mendapatkan tender baru semakin tidak aku rasakan gairahnya kembali. Hingga bertahun tahun aku hidup dalam kebodohan yang aku sesali. Oh..Aida aku sangat bingung ketika itu. bukan maksudku untuk membuatmu sakit dan terluka. Hanya saja aku tidak pernah tahu apa yang harus aku lakukan saat itu. hingga lima tahun aku hidup seperti hampa, ragaku terasa kosong tanpa jiwa.
Minggu pagi itu aku pergi memancing bersama Arjuna dikawasan pantai. Kami sengaja memilih untuk menyawa sebuah boat. Utari dan Drew menunggu kami di pinggiran pantai. Aku kembali merasakan kehangatan keluargaku yang lama sekali tidak aku rasakan. Tidak ada yang salah dari mereka. Hanya saja sikapku memang sedikit tidak biasa seperti biasanya. tidak ada kesempurnaan seperti sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun aku baru bisa pergi berlibur bersama keluargaku. Aku memilih bali. Dan pagi itu juga setelah aku mengantarkan Arjuna menemui istriku, tanpa sengaja aku berjumpa dengan Aida dihotel yang sama ditempat kami menginap. Wanita cantik yang baru saja menjeburkan tubuhnya ke dalam kolam itu adalah Aida. Tidak salah lagi bisikku dalam hati. Hingga aku benar benar ingin memastikan kebenarannya. Aku duduk menunggunya dipinggir kolam. Duduk disamping, dimana dia menaruh segelas jus apelnya.aku terus memperhatikan gerakannya. Dia sedang mengelilingi kolam itu sebanyak dua kali tanpa memperhatikan kehadiranku. Dan saat dia mulai menyadarinya…
“AIDA!!!” sapaku mengejutkan dunianya.
“Damar!kau?!” tanpa rasa sabar aku menarik tubuhnya dari dalam kolam dan memeluknya tanpa aku memikirkan kalau bajuku akan basah terkena air. Tubuhnya terasa hangat. Benar benar hangat, aku sadar aku sangat merindukan dia lebih dari saat aku merindukan Utari dulu ketika masih menjadi istri Bayu. Aku takut untuk jatuh cinta lagi dan mendustakan sumpahku. “aku merindukanmu Damar?” jawabnya dalam pelukanku. Ingin sekali aku menjawab kalau akupun juga sangat merindukannya. Tapi kini semua berbeda, aku sudah berkeluarga aku bukan Damar yang mengejarnya. Meskipun aku masih sangat menyayanginya. “sudah sejak awal aku takut bila aku jatuh hati padamu, maka aku akan mengalami patah hati dari rasa sakit yang luar biasa” lanjutnya yang lebih menusuk jantungku. Aku hanya bisa memeluknya erat tanpa bisa bergeming.
“kenapa kau kerumah?” jawabku “kenapa pesan itu baru kau sampaikan lima tahun yang lalu. Harusnya tujuh tahun yang lalu kau mengatakannya dihadapanku langsung!” aku menyesali semua keterlambatan responnya. “rumah yang dikalimantan itu sengaja aku beli agar aku bisa mendekatimu. Itu bukan rumah lama. Aku sangat mencintaimu, meskipun saat itu aku belum bisa memikirkan masalah lain, aku masih ada sesuatu…yah katakana saja itu masalah lama yang harus aku selesaikan dengan bantuanmu. Sayangnya saat itu kau pergi meninggalkan aku sendirian”
“kau yang meninggalkan aku, kau yang tidak pernah menjawab pesanku, dan kau juga yang menghindariku. Malam itu aku sengaja pergi ke Bali untuk memutuskan Michael demi kau, sayangnya kau justru menikahi gadis yang ada dilayar monitor kerjamu!kau menikahi janda mendiang adikmu. Kau menikahi adik iparmu sendiri. Aku tidak percaya bila aku termasuk salah satu daftar dari koleksi wanitamu” suaranya terdengar parau. Dan sangat menyesakkan,aku kembali memeluknya dan ingin sekali mencium mulutnya agar dia diam dan tidak berceloteh. Mungkin ini sulit untuk aku jelaskan. Terus menerus berteriak histeris dan menangis.
“sungguh sedari awal aku sudah menyukaimu….aku sangat menyukaimu Aida. Kau salah bila menilaiku seburuk itu. bahkan getaran itu masih terasa meskipun kau tidak sedang berada didekatku”
“kau bohong,pendusta!”
Kami saling terdiam menahan amarah, hanya desahan nafas yang dalam yang coba kami keluarkanuntuk menahan luapan emosi yang sangat. Tubuhnya terlihat sedikit mengejang, bibirnya bergetar.
“sungguh Aida, ini diluar pemikiran dan rencanaku sebelumnya. Aku benar benar mencintaimu saat itu, ingin rasanya aku berteriak sekencang mungkin agar kau tahu. Tapi saat itu kau terlalu dingin untuk aku dekati. Dan coba tolong bayangkan posisiku, saat itu kau milik Michael..dia temanku meskipun dia juga rival bisinisku. Dan kita juga yang merahasiakan kebersamaan kita darinya. Kau ingatkan!”
“itu semua Cuma alasan…alasanmu saja.apa kau buta, sehingga kau tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh panca indramu! Bilang saja aku hanya sebuah pelabuhan di tepian dermaga yang dimiliki oleh saudagar sekaya dirimu. Kau sakiti aku Damar, kau belah hatiku jadi dua. Aku menunggumu di rumah itu, kau janji kau akan datang setiap tahunnya. Tapi kau sama sekali tidak pernah datang di setiap tahunnya. Kau sengaja ingin memusnahkan jiwaku. Apa itu kebenarannya?” aku hanya bisa menarik rambutku kuat kuat ketika dia mengatakan itu. sungguh kau memang benar benar melupakan janjiku padanya..Aida, aku hanya bergumam dalam hati meskipun pada akhirnya ku meneriakkan suaraku meskipun tidak terlalu keras “diam Aida..DIAM”. Apa yang harus aku katakan untuk menjawab pertanyan gila itu. wanita ini sungguh benar benar membuatku gila setengah mati. “aku tidak menyangka malam malam Indah itu hanyalah jebakan untuk merenggut hatiku, kau butakan duniaku. Aku mengambil semua hal yang seharusnya tidak aku ambil. Aku meninggalkan semua yang bisa mendekatkan aku pada duniaku. Hanya untuk mendekatkan diriku padamu. Tapi justru kau menghindar lalu menghilang. Hidupku kacau Damar…sagat kacau..bahkan ketika ibuku meninggal, aku tidak bisa menemaninya menjemput ajal. Hari itu aku justru sibuk menunggumu di rumah tuamu. Mungkin semua pembantu rumahmu menganggap aku gila, justru aku mendengar bahwa kau sudah menikah dengan seseorang. Yang akhirnya aku tahu, bahwa wanita itu adalah adik iparmu sendiri, mantan istri mendiang adikmu bayu. Dan mantan kekasihmu dimasa lalu” aida terus berbicara lantang dan histeris membuatku gila aku ingin sekali melakukan sesuatu hingga aku sengaja menjatuhkan tubuhnya kekolam dan jatuh bersamaku, didalam air itulah aku memeluknya erat dan menciumnya tanpa bernafas. aku gila dengan ini semua. Terus dan terus aku menciumnya tanpa mendapatkan perlawanan. Entah angin apa yang membuatnya menjadi tenang dan penurut ketika aku hendak mengatakan banyak hal yang tidak pernah dia ketahui saat itu. tubuh dan rambut kami benar benar basah, kami berdiri ditengah kolam, aku mengalungkan lenganku disekitar lehernya. Matanya kupandang dengan tajam, disana aku masih menemukan Aida yang dulu.
“sebelumnya aku tidak akan pernah meminta maaf padamu untuk banyak hal kesalahan yang sudah aku lakukan padamu. Sungguh aku memang bersalah, tapi sungguh semua diluar kendaliku. Tolong…tolong aku mohon berikan aku satu kali kesempatan untuk menjelasakan semuanya padamu dari awal. Aku memang salah saat itu telah merahasiakan banyak hal. Tapi awalnya aku memiliki rencana untuk menyelesaikan semua masalahku sebelum aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku mencintaimu saat itu” kini dia terdiam tanpa menangis, matanya kembali tenang, meskipun masih ada keraguan yang menyelimuti bayangannya. “Aida, sejak awal aku bertemu denganmu di pulau itu, aku sudah jatuh hati padamu, aku terkejut saat kau diperkenalkan sebagai tunangan Michael. Tapi aku masih bertahan, saat itu aku memang masih dibayangi masa laluku bersama Utari yang belum pernah juga mendapatkan penjelasan kenapa dia meninggalkan aku dan menikah dengan adikku. Aku bersemangat untuk melupakan Utari ketika aku mendekatimu dikalimantan. Aku sengaja membeli sebuah tempat tinggal yang gaya bangunanya sangat kau inginkan. Karena alasan rumah itulah aku tidak pernah mengajak Utari, Arjuna dan Drew untuk berlibur. Segala alasan aku ungkapkan agar mereka tidak menginginkan liburan ditempat itu. bagiku rumah tua itu seperti kastil buatku saat bersamamu. Dan malam itu aku memang sengaja menghindarimu untuk sesaat hanya untuk memastikan apa yang sebenarnya menghantuiku, Karena aku berfikir bahwa cintaku akan kembali bertepuk sebelah tangan. Karena kau sibuk bersama Michael. Dan saat kau ingin ke bali aku sudah sedang bersiap untuk menemuimu dikalimantan. Sayangnya sore itu ibuku menelphone dan mengatakan kalau Bayu sedang dalam keadaan koma. Bayu mengidap penyakit jantung dan kanker, karena itulah Aida aku tidak bisa menemuimu. Sungguh aku ingin bertemu saat itu denganmu”
Wajahnya terlihat terkejut mendengar penjelasanku yang belum selesai. Wajahnya masih mengamatiku untuk mendapat banyak penjelasan yang dia butuhkan. Aku mulai merasa sangat lega karena semuanya sudah terkuak meskipun sangat sangat terlambat dan menyakitkan untuk sebuah penjelasan.
“ditengah krisis itu, aku memang sedikit lupa denganmu, tapi aku selalu menyempatkan waktu untuk melihat beberapa twitter dan timelinemu, juga beberapa koleksi foto di instagrammu. Hanya untuk mengobati rasa rinduku padamu”
“harusanya kau mengatakan semuanya, saat itu aku juga menelphonemu, aku juga mengirimkan pesan, tapi tidak satupun terjawab”
“saat itu benar benar tidak ada waktu untuk memikirkan banyak hal selain menyelamatkan Bayu”
“tapi kalian menikmati kebersamaan itu” nadanya terdengar menyindir dan mencibir
“kalau yang kau maksud dengan kalian itu adalah aku dan Utari, kau salah”
“ah.. sayangnya kenapa aku tidak terkejut kalau aku salah”
“Aida… aida dengarkan dulu”
“aku tahu aku salah menempatkan waktu, aku terbawa emosi. Dan aku salah memilih waktu dengan orang yang tidak seharusnya aku pikirkan. Aku sudah mencoba menjawab panggilanmu saat itu tapi yang aku dapat adalah aku justru selalu mendapatkan nada sibuk setiap saat”
“kau bohong”
“selama aku dekat denganmu aku tidak pernah bohong sama sekali Aida, meskipun banyak hal yang aku sembunyikan. Tapi itu bukan berarti bentuk kebohongan seperti yang kau bicarakan. Aku menikahi Utari karena permintaan Bayu. Jujur aku memang masih mencintainya”
“bagus..bagus sekali penjelasanmu…kau tahu itu seperti busur panah yang membuatku lebih sekarat menemui ajal”
“dengarkan aku Aida, bila kau mengatakannnya kalau kau juga mencintaiku saat itu, maka aku tidak mungkin mau menikahi Utari, aku lebih memilihmu”
“kau bohong! Pembohong besar!”
“tidak Aida, aku tidak berbohong, sekali lagi aku memang sangat mencintaimu saat itu melebihi rasa cintaku pada Utari, hanya saja saat itu aku berfikir kalau kau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu. Apa salahnya aku berubah menjadi pria baik baik ketika takdirku bersama Utari kembali”
“baik … aku mengerti, aku cukup tahu diri” kini satu langkah bergerak meninggalkan aku, tapi justru aku menariknya kembali jatuh dalam pelukanku.
“aku mencintaimu Aida…aku tidak bisa melupakanmu”
“tapi kau menikahi wanita lain”
“iya…dan aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua. Andai ada kesempatan Aida untuk bersamamu, maka akupun rela mengemis mendapatkan cintamu kembali.”
Aida hanya terdiam dan melemparkan tanganku begitu saja,mencampakkan aku. Dia terus berjalan dan berjalan tanpa menoleh ke belakang. Aku tidak mungkin lagi mengejarnya. Kesetiaan ini hanya milik Utari, aku tidak mungkin mengkhianatinya. Setelah semua pengorbanan yang dia berikan pada Bayu dan juga aku. Aku berhutang nyawa dan sebuah pengorbanan cinta dan harga diri. Oh tuhan kenapa semuanya semakin bertambah sulit untuk aku selesaikan. Sungguh aku mencintai keduanya, tapi aku benar benar menyadari bahwa keberadaan Aida jauh lebih aku rindukan. Bukan karena aku lama tidak bertemu dengannya. Tapi karena Aku merindukan keakraban yang pernah kami lewati bersama. Kalimantan menyisakan banyak cerita yang belum terselesaikan. Aku termenung lama memikirkan semuanya. Kembali ke masa lalu terasa sangat menyesakkan. Terlebih bila semua yang terjadi tidak sesuai dengan rencana. Apa yang harus aku jelaskan pada Aida, apa yang harus aku selesaikan agar hubungan kami tidak seburuk ini. tapi semuanya tidak mungkin. Tidak mungkin ada makan malam ataupun sebuket bunga tanda permintaan maaf. Tidak mungkin ada sekotak coklat ataupun sepucuk surat lengkap dengan kalimat kalimat romantis yang membius sukma. Kini aku adalah seorang ayah aku juga seorang suami. Tidak mungkin aku melakukan itu pada wanita lain selain Utari. Aku memiliki arjuna yang tampan siap membelaku disaat kalah, aku juga memiliki Druphadi yang siap menghiburku saat aku sedih, dan aku mempunyai Dewi Utari yang selalu siap dimanapun aku berada dan ditakdirkan dalam kehidupan suka maupun duka. Diam bukanlah hal yang baik untuk terus aku lakukan. Aku mencoba bangkit dan meninggalkan tempat ini meskipun bajuku belum sepenuhnya mengering. Sesampainya aku didepan pintu poolside restaurant aku sudah mendapati Utari yang tengah berdiri menatapku dengan penuh pertanyaan. Apakah mungkin dia mendengar atau bahkan melihat semua yang sudah terjadi. Hanya sekedar pura pura tidak dalam situasi yang runyam, aku menggandeng Utari tanpa pura pura terkejut.
“kau merindukan aku sayang?” tanyaku sambil menciumnya tanpa perlu mengkhawatirkan perasaan banyak orang yang mengamatiku. Utari tidak menjawab satu kalimatpun, wajahnya terlihat datar tanpa bersuara. Tanganya sedikit bergemetar…aku mencari Druphady dan Arjuna, utari tidak membawa mereka..
“dimana anak anak sayang? Kau sakit?”
“sayang, sepertinya aku hamil lagi, aku mencarimu kemana mana hanya untuk menunjukkan hasil ini” tangan kanannya menggenggam alat pendeteksi kehamilan. Aku terkejut dan tersenyum bangga. Tiba tiba rasa khawatir yang membuatku penat musnah begitu saja. aku bangga dan memeluknya. Dan dia berkata “apa kau tidak akan marah”
“wow…kenapa aku harus marah, kau tahu aku senang mendengar kabar baik ini!”
“benarkah?” tanyanya penuh keraguan. Dan aku hanya mengangguk dan mencium keningnya. Aku menggendongnya sepanjang jalan menuju kamar hotel. semua mata memandang ke arah kami berjalan. Rasanya aku bangga sekali.
“apa kau tidak malu?” suara Utari setengah berbisik
“kenapa aku harus malu sayang, kau istriku,kau cantik. Yang aku pikirkan adalah semua pria iri padaku karena aku memiliki wanita cantik yang hebat seperti dirimu!”
“aku mencintaimu sayang” suaranya sangat manja “aku tidak mau kehilanganmu”
“kau tidak akan kehilangan aku, aku akan selalu bersamamu”
“benarkah? Kau janji!” aku hanya bisa mengangguk di saat hatiku benar benar kacau tanpa bisa berfikir. Aku akan memiliki seorang anak lagi. Mungkin sekaranglah aku harus belajar benar benar untuk melupakan Aida lebih serius lagi demi keluargaku.
Dua hari kemudian aku sengaja mengunjungi resepsionis untuk menanyakan apakah dia masih tinggal dihotel ini. seorang wanita muda yang cantik menyapaku dengan ramah, rambutnya terikat rapi dengan model rambut cepol, lehernya mengenakan scraft berwarna orange dipadu dengan uniform berwana kuning muda.
“selamat pagi Bapak, ada yang bisa kami Bantu?” sapanya dengan ramah sambil mengucapkan salam dengan menggabungkan dua tangannya.
“semalam saya bertemu dengan kawan lama, tapi sayang saya lupa dengan nomer kamarnya. Apa boleh saya meminta nomer kamarnya?” wanita cantik itu tersenyum simpul
“maaf bapak, bisa saya tahu siapa nama teman anda”
“Aida Soedirman”
“bisa di speling pak, supaya benar dengan yang anda maksud” wajahnya kembali menatapku dan ketika aku menyebutkan spelingnya, jarinya mengetik sangat cepat hingga menimbulkan suara berisik diatas keybordnya.
“alfa India delta alfa, siera oscar echo delta India roma mama alfa nancy”
“apa benar atas nama Ibu Aida bekerja untuk departemen kebudayaan Indonesia?”
“iya…. Benar kebudayaan material”
“ibu Aida Soedirman menginap dikamar superior nomer 714”
“thanks cantik!”
Aku mengambil langkah seribu menuju kamar 714. menaiki lift terdekat yang ada di dekat lobby dan kebetulan pintunya sedang terbuka saat seorang bellboy masuk bersama tamu hotel yang akan menuju kamar. Sangat mudah untuk menemukan kamarnya. Dan sekarang aku sudah siap mengetuk pintu kamarnya. Sepertinya dia tidak terlihat terkejut saat mengetahui aku yang mengetuk pintu kamarnya. Aida mengenakan celana jins pendek yang belel dengan kaos berwarna kuning polos dengan model kancing yang besar seperti mata sapi.
“bolehkan aku masuk” tanpa izin pemilik kamar, aku menerobos begitu saja melewatkan lengannya yang Indah itu. sepertinya dia sangat sibuk, beberapa file tercecer dimeja menutupi laptop dan ponselnya yang tergeletak sembarangan. Sayup sayup terdengar suara lagu milik celine dion. Tidak ada komentar, saat aku duduk melemparkan tubuhku begitu saja di sofa yang panjang. Kini dia melangkah masuk setelah menutup pintu kamar, pergi berjalan ke meja bar mengambilkan dua kaleng diet coke. Keduanya sudah terbuka, dan satu kaleng untukku dia berikan langsung. Aku menerimanya dengan sengaja menyentuh tangannya yang halus. Sebenarnya aku juga bingung harus berkata apa. Karena aku hanya ingin bertemu mesipun tidak ada obrolan yang menarik untuk kami jadikan topik.
“kemana anak istrimu pergi?”
“masih tinggal satu hotel dengan kita! Kau sepertinya sibuk sekali, padahal ini adalah waktu liburanmu”
“yah..memang aku sibuk sekali, jadi kalau kau tidak ada urusan penting dengan aku, kau bisa pergi sekarang juga!” suaranya terdengar ketus dan menjengkelkan seperti biasanya.tapi kali ini dia benar benar menjengkelkan. Selama aku mengenalnya dia tidak pernah bersikap seperti itu. “oh ya aku lupa, kalau kau bukan tipe pria yang suka di usir!”
“kau mengusirku?”
“bagaimana menurutmu, apakah intonasi dan gaya bicaraku kurang jelas kalau itu suatu bentuk perintah pengusiran?”
“kau masih marah padaku?”
“apa bisa aku melakukan itu?”
Dia terus bebicara tanpa berani membalas tatapan mataku. Wajahnya terus tertuduk mengamati banyak kertas yang berceceran diatas mejanya. Karena rasa jengkelku aku menarik kertas yang ada ditangan kirinya.
“kau ini kenapa, ini berkas Negara kau tidak boleh menyentuhnya. Aku tidak suka bila berkas berkas milikku terlihat kusut”
“sorry, aku tidak bermaksud membuatmu jengkel. Kedatanganku kemari cuman…emm, karena aku merindukanmu” kini wajahnya tertunduk. Lalu pergi menghindariku mendekati kaca besar yang sengaja dipasang pemilik hotel itu untuk menangkap pemandangan yang bagus disekitar pantai. “maafkan aku Aida” aku datang dan mendekatinya lalu memeluknya dari belakang. Ingin sekali aku menggendongnya memeluknya atau bahkan melumat bibirnya seperti yang aku lakukan kemarin. Aku tahu Aida masih sangat mencintaiku. Begitupun denganku. Tapi keadaan kini telah berubah, dan tidak mungkin bila kami kembali mendulang nostalgia masa lalu. Tapi hatiku sukar sekali untuk menolak agar aku mau menjauhinya. Semuanya terasa sulit untuk aku lakukan. Dan aku hanya bisa bertahan dua hari untuk tidak melihatnya. Setelah itu kegagalanlah yang terjadi padaku pagi ini.”aku sangat merindukanmu Aida!” dia masih terdiam tanpa menolak pelukanku. Mungkin dia tidak marah atas tindakanku. Tapi sepertinya juga dia mulai menagis setelah aku sadar saat air matanya membasahi lengan kemejaku. Aku membalikkan punggunya lalu aku memeluknya erat dan kuat. “aku tidak suka melihat wanita menangis, aku tahu kesalahanku terlalu besar dan aku tidak yakin kalau kamu mau memaafkan semuanya. Dengar Aida bila kau ingin membalaskan amarahmu padaku..maka lakukanlah. Aku akan rela menerima semuanya. Tapi tolong Aida. Jangan pernah kau membisu padaku. Itu hukuman yang sangat berat”air matanya terus terjatuh dan menetes di pipinya lagi dan lagi. “bicaralah Aida!”
“aku sangat mencintaimu Damar! Susah bagiku untuk memahami jalan pikiranku. Susah juga aku melupakanmu”
“aku tidak mau kehilanganmu Aida!” berat dan kesal sekali aku mengatakan itu… aku semakin merasa bersalah dengans etiap langkah yang aku ambil
“saat melihatmu menggendongnya,itu terlihat menyakitkan. Aku iri padanya”
“dia sedang sakit, jadi aku memapahnya!”
“kenapa kau beri aku alasan seperti itu, itu hakmu, dia istrimu. Dan itu wajar. Bodohnya aku saja kenapa merasa sakit melihat sang suami menggendong istrinya sendiri. Dari awal bertemu hingga sekarang aku bukan siapa siapa”
“tidak…kau berarti bagiku!hanya saja sekarang bukan saatnya yang tepat untuk mengulang” sepertinya aku salah bicara, air mata itu kembali menetes. Aku terus memeluknya erat dan membelai rambutnya. Kini tangannya melingkar dibahuku.
“bila malam itu kita terus berbicara dan bercanda maka semua yang terjadi adalah keinginan kita bersama. Aku telah salah menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya”
“tidak Aida, akulah yang paling bersalah”
Hingga akhirnya aku terpaksa menceritakan semuanya pada Aida, awal pertama aku bertemu dengan Utari hingga aku berkancan dengan Utari lalu Bayu menikahi Utari. Dan memiliki arjuna. Semua itu karena Ibu yang memaksa kami berperan sesuai dengan skenarionya. Hingga aku berteman akrab dengan paula. Dan menikahi Utari setelah satu tahun kematian Bayu. Ketika aku menceritakan kapan aku jatuh hati padanya itu sangat membuatnya tertarik, senyumnya kembali datang. Seperti itulah senyum Indah itu dulu. Harus aku akui dengan jantan. Setiap aku bersama dengan Utari aku selalu memikirkannya. Tapi ketika aku bersama Aida saat ini tidak ada satupun yang bisa aku pikirkan selain menyebut namanya. Otakku kosong.
“curilah waktumu untuk bersamaku, aku akan selalu menunggumu!” jiwaku terasa melayang mendengar kalimat itu. susah bagiku untuk benar benar menjawabnya dengan kata ‘IYA’. Sebenarnya aku tidak ingin mengkhianti Utari. Kedatangnku kesini sebenarnya hanya untuk mengatakan kalau kami harus memupus semua mimpi dan harapan yang pernah terlintas dalam benak kami. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah tega untuk mengatakan itu semuanya. Kini aku milik utari dan dua anakku tercinta. Sekedar tersenyum tipis untuk meredakan kegelisahan Aida. Hingga beberapa waktu kemudian. Aku kembali meninggalkannya untuk menemui keluargaku. Hari itu juga aku mengatakan padanya kalau aku dan keluargaku akan kembali ke Jakarta esok hari.
Kembali saat rutinitas aktifitasku berjalan, aku kembali tergoda untuk menghubungi Aida hanya sekedar mengatakan ‘HALLO APAKABAR’ maka kamipun pergi untuk membuat janji makan siang di keesokan harinya. Kini aku tidak lagi menerima kalimat kalimat sindiran atau semacamnya keluar dari mulut Aida. Aku meminta Aida agar mau tinggal disalah satu apartemen milikku yang ada disekitar area hotel,dimana ada jalan penghubung yang jarang dilintasi orang. Terowongan itru sengaja aku buat untuk berjaga jaga dalam banyak hal dalma melarikan diri ataupun bersembunyi. dan itu memudahkan kami untuk bertemu setiap saat ketika kami sedang ada waktu bebas. Tentu saja kami bertemu secara rahasia, tanpa Utari ataupun yang lain perlu tahu. Kunci rahasia kami ada pada Benny sekertarisku. Tidak…ini bukan selingkuh. Hanya pertemuan sahabat lama saja. aku dan Aida saling menjaga jarak agar kami tidak terlalu terlihat intim. Berbulan bulan keakraban kami terus berjalan hingga suatu saat aku terpaksa meninggalkannya seorang diri. Saat Utari dan anak anakku membutuhkan waktu ekstra. Utari melahirkan bayi kami yang ketiga. Bayi tampan itu lahir dengan sehat dan selamat. Betapa bahagianya Arjuna dan Druphady melihat adik kecilnya telah lahir kedunia.
“halo…halo..halo” sapa Drew “ini kakak …adik siapa namanya”sahut Arjuna. Aku dan Utari hanya tersenyum. Aku memeluknya erat, erat sekali. Aku baru saja melihatnya bertaruh nyawa saat melahirkan putra kami yang ketiga. Kali ini dia mengeluarkan banyak darah dibanding persalinanya yang dulu. Namun senyum Indah masih bisa terukir diwajahnya yang pucat. Sungguh aku tidak pantas menerima senyuman itu. karena aku telah memduakan kesetiannya.
“kakak mau kasih nama apa buat adiknya?” Tanya Utari pada anak kami.
“leon” jawab arjuna “kenzo…kayla atau fara!” teriak drew yang tidak mau kalah dengan adiknya hingga mereka saling ribut “itu nama cewek!”sahut arjuna.
“ssttt kakak..adik…gak boleh marah, adiknya nangis. Coba kita cari nama lain selain leon dan kenzo,Kayla dan fara!” aku mencoba melerai mereka.
“bagaimana kalau Krishna!” sahut Utari sambil menahan rasa sakitnya.
“kau kenapa sayang?” aku sangat mengkhawatirkannya. Dia terlihat pucat. Aku meminta agar anak anak bersikap tenang, dan aku menaruh Krishna kedalam box bayi yang ada didekat Utari. Sekejap mata Utari kembali terjatuh dan lunglai. Ketika aku mebuka kain yang menyelimuti tubuhnya, aku terkejut karena kakinya sudah berlumuran darah segar. Secepat kilat dokter yang menanganinya masuk dan memeriksanya. Dokter itu memintaku untuk keluar menemani anak anak. Dan seorang suster datang lalu membawa Khrisna ke tempat yang steril. Sepuluh menit kemudian dokter memeriksanya kembali. Entah ada apa dengan Utari. Dokter belum juga mau bicara denganku. Darahnya terus menerus keluar membuat semuanya panik. Drew terus menangis melihat ibunya yang berbaring bersimbah darah.”ibu..ibu ayah..ayah ibu,aku takut ibu kenapa ayah,kenapa….” Arjuna terlihat tegang dan menggigit kuku jarinya hingga patah dan berdarah. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Aku meminta Benny untuk datang menemani anak anak. Hari ini keadaan cukup menegangkan. Aku mengatakan pada Aida kalau Utari sedang ada du ruang ICU. Aida menawarkan bantuan agar diizinkan untuk merawat anak anak selama Utari dirumah sakit. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Karena aku tidak yakin kalau Drew mau dititipkan oleh orang yang belum pernah dia kenal.
“aku akan menjemput anakmu, bila kau mengizinkannya”
“maaf Aida, aku tidak tahu. Tapi semua terserah, aku bingung Aida. Sampai sekarang Utari belum juga sadar”
“baiklah, sekarang aku akan kesana. Tolong pertemukan aku dengan anak anak, biarkan kami saling berkenalan. Maaf aku hanya bisa membantu seperti itu”
“akan aku coba berbicara dengan anak anak!aku akan mencari mereka, karena Benny menemani mereka berdua di taman”
Aku menutup percakapan kami ketika seorang dokter keluar dari kamar ICU.
“bagaimana keadaan istri saya Dok!”
“sabar ya Pak Damar, istri anda memang sedang mengalami pendarahan yang cukup hebat. Begitu juga dengan tekanan darahnya yang belum juga stabil. Kami akan terus berusaha untuk menyembuhkan pasien. Berdoalah meminta bantuan Tuhan. Dan biarkan tangan kami bekerja sesuai dengan bimbingan Tuhan” tidak ada lagi yang perlu aku tanyakan pada dokter itu. semua jawabannya hanya mengambang. Tentu saja aku akan berdoa meminta keselamatan istriku. Itu bukan jawaban yang aku inginkan. Rasa kesal kembali datang menghantamku. Aku terus berjaga untuk menemani Utari meskipun aku tidak bisa mendampinginya diruang ICU. Saat Aida datang bersama anak anak, aku sangat terkejut melihat keakraban mereka. Mereka bertiga sudah terlihat akrab. Sungguh luar biasa. Padahal Drew bukan tipikal anak yang mudah menyesuaikan diri bila bertemu dengan orang asing. Mereka mengajak Aida untuk melihat Khrisna.
“drew…hari ini ayah tidak bisa menemanimu tidur! Ibu sangat membutuhkan ayah!apa Drew mau tinggal sementara waktu bersama tante Aida?bagaimana denganmu Arjuna sayang”
“aku tidak masalah dengan siapa saja aku mau ayah? sebenarnya aku juga ingin menjaga Ibu dan khrisna, kita bisa bergantian menjaga mereka!”
“Arjuna harus sekolah, arjuna juga butuh belajar dan istirahat,membantu Drew saat kesusahan membuat pekerjaan rumah”
“tapi ayah sendiri!”
“ayah tidak akan apa apa! Ayah bisa jaga diri. Percayalah!”
“ayah…. aku mau tidur sama tante Aida saja selama ibu sakit!” jawab Drew dengan manja.sambil memegang baju Aida
“tentu sayang, tante suka. Tante akan menemanimu apapun yang mau kamu lakukan!” jawab Aida dengan haru
“besok tolong antarkan aku les balet ya!karena bulan depan aku ada kontes” Aida mengangguk saat Drew memintanya untuk menuruti semua kemauannya
“terimakasih Aida”
“bukan masalah, kau tahu aku suka anak anak, anak anakmu menyenangkan dan sikap mereka sangat manis dan ramah”
“saya akan mengantarkan Arjuna sesuai schedulenya ,Pak” sahut Benny
“sepertinya tidak perlu Ben, tapi terimakasih. Tolong bawakan aku beberapa potong baju ganti, karena aku akan menginap beberapa hari hingga Utari benar benar sembuh”
Ingin sekali aku memleuk Aida saat dia mengatakan I LOVE YOU dengan gerakan bibir. Maklum itu sangat mustahil untuk memeluk wanita lain didepan anak anak. Tentu aku akan menerima banyak protes pertanyaan dari Drew yang selalu penuh selidik dan Arjuna yang sangat protektif. Aida hanya tersenyum ketika menyadari kelemahanku didepan anak anak. Dia benar aku bukan Damar yang dulu, bukan Damar yang selalu menghamburkan kata cinta dan bukan lagi penggila kinky party. Benny meminta izin mengantarkan mereka ke apartemen Aida dan sekalian mengambil beberapa keperluan baju yang sudah dipersiapkan oleh orang rumah.
“besok saja Ben,kau mengantarkannya!”
“baik pak”
“terimakasih Ben, kau banyak membantu!”
Tinggalah aku sendiri disini. Hingga beberapa hari kondisi Utari masih saja belum membaik. Aku semakin khawatir, sedangkan Khrisna seharusnya sudah mendapatkan asi yang eksklusif dari ibunya. Sayang sekali dia harus minum susu formula. Aku jadi merasa trenyuh ketika menimang Khrisna. Oh anakku, kenapa kau tidak bisa mendapatkan pelukan dan asi dari ibumu, doakan ya sayang ibu akan segera sadar. Kau pasti akan bermandikan kasih sayang yang luar biasa. Khrisna hanya diam tangannya hanya meraba raba pipiku, matanya masih terpejam.saat lidahnya keluar betapa lucunya anakku ini. aku mencintaimu nak, kau akan menjadi orang hebat seperti kakak kakakmu. Drew akan memilihkan baju yang bagus untukmu, dan Arjuna akan mengajarimu karate yang hebat. Oh sayang, ayah sangat mencintaimu. Saat botol susunya aku dekatkan ke mulutnya, betapa cepatnya lidah itu menghisap susu dalam botol,betapa leganya saat dia meminum susu itu.
Seorang suster menghampiriku dan meminta bayiku untuk dimandikan.
“saatnya Khrisna mandi Pak, tolong bapak temui Dokter Zainal, beliau punya kabar baik tentang istri anda!”
“silahkan…emm baiklah, nanti saya masih bisa bertemu Khrisna kan sus?”
“tentu, Khrisna akan segera pindah ke kamar ibunya yang dulu! tubuhnya sudah tidak menguning, dia sudah aman. Dan bila ibu Utari sudah sadar maka Khrisna akan lebih sehat saat mendapatkan asi dari ibunya”
“baiklah, saya permisi dulu”
Aku meninggalkan suster itu bersama Khrisna. Pergi menemui Dokter Zainal.Aku bersyukur sekali setelah beberapa hari Utari mulai membaik dan keluar dari kamar ICU. Ketika kembali kekamar aku sudah menjumpai Utari dalam keadaan tertidur dengan satu slang infuse yang masih tergantung. Kata dokter itu hanya cairan biasa saja. beberapa jam lagi Utari akan sadar karena reaksi obat penenangnya akan habis. Perasaanku jauh lebih tenang,ketika mereka meninggalkan kami berdua di kamar. Oh Utari, kau kenapa seperti ini. aku ingin sekali melihatmu tersenyum, aku ingin melihat kau menyusui Khrisna, dia tampan Utari!, matanya Indah seperti punyamu. Tangisannya begitu keras, bangunlah sayang, anak anak sudah merindukanmu. Akupun begitu. Aku ini lelaki, tapi mengapa aku bisa menangis, aku merasa sedih. Melihat utari terbaring lama, aku merasa semakin terpuruk. Harus bagaimana aku menceritakan pada Utari tentang Aida. Drew pasti akan senang menceritakan pengalaman barunya dengan orang baru yang dia jumpai.
Ketika aku bangun, jam dinding sudah menunjukkan jam 9pagi, sepertinya aku tertidur lama, tangan Utari sudah ada diatas kepalaku sambil membelai rambutku.
“kau sudah bangun sayang?” sapanya dengan nada suara yang masih lemas
“maafkan aku” aku terkejut dan karena rasa senangku yang berlebihan aku mencium keningnya ”terimakasih kau sudah bangun dari tidurmu. Aku mengkhawatirkanmu sayang!” mulutnya terkunci tanpa mengatakan banyak hal. Tidak sedikitpun dia menanyakan anak anak, atau bahkan bayi kami yang baru lahir. “apa kau baik saja?” dia hanya tersenyum lemas saat aku menanyakan keadaanya. Ada semangkuk bubur yang memang sudah dipersiapkan suster tadi pagi. aku ingin menyuapkan beberapa sendok kemulutnya agar tubuhnya mendapat energi tambahan. Tapi tidak terlalu banyak makanan yang dia telan. Tidak ada pembicaraan yang terlalu banyak. Akupun enggan untuk menceritakan keberadaan anak anak.seorang suster datang membawa Khrisna. Utari langsung memintanya dengan semangat. Aku membantu membetulkan bantalan agar Utari nyaman saat menyusui Khrisna. Ibu dan anak saling memandang dan berbicara dengan bahasa kalbu yang sama sekali aku tidak bisa memahami ataupun mendengar. Utari tidak lagi memperhatikan aku. Seolah olah dia menganggap aku tidak ada. Berulang kali aku mencoba untuk mencuri perhatiannya tapi gagal. Satu jam kemudian ketika aku baru saja menutup pembicaraan dengan Benny, barulah mulutnya terbuka untuk bertanya.
“selama aku tidak sadarkan diri, siapa yang membantu merawat anak anak?” sontak wajahku serasa seperti ditampar. “kau hafalkan jadwal kegiatan mereka, sabtu minggu Arjuna harus berlatih karate, senin sampai rabu dia ada kelas bahasa perancis dan kamis dia ada belajar bahasa china. Kau tidak lupakan” aku menggeleng “drew selasa rabu jumat ada les balet, senin kamis dia ada latihan melukis. Kau juga tidak lupakan!” aku menggeleng. “Sekarang jadwalnya mereka pulang sekolah siapa yang akan menjemput mereka? Apa selama ini kau menjemput mereka?”
“tidak”
“lalu dengan siapa mereka selama ini?” suaranya terdengar lantang. Dan aku mulai terpancing dengan pertanyaan yang sedikit mengecoh. Aku tidak tahu benar arti dan tujuan dari pertanyaannya.
“benny akan membawa mereka kemari?” dengan cepat aku meminta benny untuk menjemput anak anakku dan meminta Aida agar dia tidak ikut mengantarkan anak anak ke rumah sakit. Aku juga mengatakan pada Aida kalau Utari sudah mulai sadar dan membaik. Aku hanya mengkhawatirkan kalau Drew akan mengatakan dengan siapa selama ini dia tinggal. Karena selama ini aku hanya tidur menjaga Utari, tanpa mengerti kegiatan anak anakku. “sebentar lagi mereka akan datang!”. Aku mencoba sabar dengan sikap Utari yang mulai tidak biasa.seingatku sebelum dia melahirkan khrisna,kami tidak memiliki masalah, semua baik baik saja. mungkin ini hanya reaksi emosinal dari pengaruh obat ataupun dia sedang mengalami babby blues. Ketika suara anak anak mulai gaduh dan ribut, barulah Utari terlihat tertawa,ketika Drew hampir saja jatuh tersungkur ke lantai karena berlari kencang menghampiri ibunya yang menggendong Khrisna. Arjuna juga tidak mau kalah hebat membawakan Utari sekuntum mawar putih untuk ibunya dengan pita berwarna emas.
“oh terimakasih arjunaku, harum sekali bunganya?” sahut Utari dengan melirik ke arahku. Mereka berpelukan penuh ekspresi bahagia. Kenapa Utari tidak memelukku seperti itu. apa karena dia sedang merindukan bayu, aku tidak tahu lagi. Ahh..itu gila kenapa aku harus cemburu dengan anakku sendiri. Mana mungkin! Mustahil!.
“kapan ibu pulang?” arjuna merengek di paha ibunya
“kalau sudah sembuh ibu akan segera pulang”sahutku sambil mengelus elus rambut arjuna.
“mungkin besok atau lusa ibu akan segera pulang sayang!”
“asyikk…asyik..hore aku bisa bermain dengan Khrisna!”drew berteriak kencang dengan melompat diranjang lalu meminta agar aku menangkapnya saat dia melompat ke arahku
“anak ayah sudah besar ya, tambah cantik!”
“ibu kalah cantik ya ayah! hahahha!”Drew membandingkan kecantikannya dengan Utari,aku jadi ingin menggoda Utari agar dia terlihat kesal. Tapi sepertinya dia hanya datar. Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulutnya. Sesungguhnya aku bingung kenapa dia dingin seperti itu.karena anak anak saja,aku berusaha menjaga gaya bicaraku agar tidak terlihat kesal. Meskipun sebenarnya aku sangat ingin bertanya banyak hal pada Istriku. Hingga dua hari berlalu sikapnya tidak berubah padaku, masih saja dingin dan sedikit bicara.
Hari pertama saat kami sampai dirumah, Utari lebih tidak mau menunjukkan perhatiannya padaku, semua serba cuek. Hanya padaku saja. ketika aku mencoba untuk bertanya dia hanya menjawab seperlunya saja, dengan detail alasan kalau Khrisna butuh perhatian ekstra. Baiklah kalau begitu mungkin aku saja yang terlalu sensitive dengan perasaanku sendiri. sejak itulah aku tidak pernah bertemu dengan Aida. Aku mencoba menghindarinya beberapa hari. Aku mengatakan pada Benny kalau aku sedang sibuk bersama keluargaku. Sedih sebenarnya harus mengatakan alasan seperti itu. tapi bagaimana lagi, tidak ada alasan lain yang bisa menahan Aida untuk bertemu denganku. Kemauannya cukup kuat. Ketika hanya ada aku dan Utari dirumah dengan Khrisna, aku berkesempatan untuk bertanya lebih jelas perihal apa yang membuat Utari tidak seperti biasanya. dan aku sengaja bangun siang saat dia sudah terbangun menyiapkan kebutuhan anak anak. Cahaya matahari menerobos masuk melewati jendela yang cukup besar, kaca itu memantulkan cahaya yang cukup terang dan sedikit panas, tirai tipis yang melindungi jendela tidak lagi mampu untuk menahan hawa panas. Utari menyiapkan kopi panas di meja kecil dekat ranjangku. Padahal biasanya bila aku tidak bangun sesudah dia membangunkan aku. Maka akan terdengar Suara musik yang sengaja diputarnya keras keras. Tapi kali ini tidak. Dia hanya membuka teras depan sambil duduk membaca majalah vogue. Khrisna masih tidur terlelap diatas ranjang tidurnya. karena aku merasa dibiarkan, maka aku menghampirinya.tidak ada ucapan selamat pagi ataupun ciuman pagi yang mesra dan hangat. Aku tidak pernah mendapatkan sambutan seperti itu sejak Khrisna lahir.
“kau tidak kerja?” sapanya memulai percakapan, tanpa memandang wajahku
“aku ingin menemanimu, aku ingin kita berlibur lagi untuk beberapa hari, kepalaku penat!”
“atur saja, biasanya kita semua yang menyesuaikan dengan schedule kerjamu. Bukan sebaliknya. Kemungkinan besar aku dan Khrisna tidak bisa ikut. Sayang sekali kalau Khrisna yang masih kecil itu sudah dibawa berkeliling”
“kalau begitu kita tunda saja, kita berlibur saja dalam kota, atau hanya sekedar makan malam saja direstaurant!”
“aku malas keluar rumah, tubuhku belum seramping dulu”
“sayang, aku tidak pernah memintamu untuk mengecilkan badan. Aku hanya memintamu untuk menjaga kesehatan dan menghindari stress!itu saja. kalau kau mau spa, ratus atau yang lain kau bisa lakukan sekarang juga. Dengan senang hati aku akan mejaga anak anak”
“lain waktu akan aku pertimbangkan tawaranmu!”
“silahkan!”wajahnya terus menerus memandangi gambar yang ada didalam vogue. Tidak sedetikpun dia menoleh menatap mataku. “setelah Khrisna lahir kau sedikit berbeda, kau lain, kau…aku merasa kau berbeda itu saja!”
“tidak sepantasanya kau cemburu dengan anakmu sendiri, kau tahukan anak kita sudah tiga jadi aku harus pintar membagi waktuku dengan kalian semua!”
“bukan itu yang aku maksudkan!aku tidak cemburu hanya saja kau memang berbeda” aku terpaksa menarik majalahnya hingga dia benar benar menatapku. “apa kau marah denganku!”
“tidak!kenapa aku harus melakukan itu” dia kembali bertanya hal yang sama
“tapi sikapmu berbeda, jujurlah Utari. Katakan saja!”
“baiklah, tapi apakah kau siap menjawab bila aku menanyakan sesuatu padamu!”aku terdiam. Lalu aku kembali mendekatinya. Aku sedikit mengerutkan dahiku,memutar otakku dan memerasnya agar aku bisa mengingat suatu bentuk kesalahan. Tapi sungguh aku tidak menemukannya. Hingga pada akhirnya aku hanya bisa pasrah mengembalikan pertanyaan
“silahkan, bertanyalah! Apa yang ingin kau ketahui!”
“tentang AIDA!”
Aku tersentak dan Kami saling terdiam, aku tidak tahu kenapa dia tiba tiba menanyakan hal itu.
“ada apa dengan dia!” jawabku
“harusnya aku yang bertanya tentang hubungan kalian! Sejauh mana semuanya berlangsung! Kau terus menerus menemui diakan. Bahkan kalian sering bertemu setiap waktu. Apa yang sesungguhnya kamu sembunyikan dariku!” ingin rasanya aku melompat ke jurang. Aku benar benar terkejut kenapa dia menyembunyikan hal itu sekian lama. Berarti selama ini Utari menyimpannya seorang diri. “katakan padaku Damar, aku masih istrimukan?”
“kenapa kau berkata begitu, kita masih suami istri Utari, dan aku sama sekali tidak ada niat untuk meninggalkanmu. Apa itu yang selama ini kau pikirkan. Seharusnya kau menceritakan padaku sejak awal!dan …a hufftt”
“jawab saja, jangan bertele tele!”
“baiklah apa yang ingin kau tanyakan tentang Aida?”
“semuanya” nadanya terdengar tinggi, wajahnya memerah. Kau bingung harus seperti apa menceritakan mengenai Aida. “apa kau sudah lama mengenalnya?” mulutnya kembali mengatakan sesuatu.
“dengarkan aku Utari, sebelum kau bertanya banyak hal mengenai dia, aku harus mengatakan dan menjelaskan sesuatu yang harus kita jaga sampai ajal menjemput. Sampai kapanpun aku tidak akan menikahi wanita lain selain dirimu. Pernikahan kita akan selalu utuh hingga maut menjemput kita”
“aku berbicara soal hati bukan soal pernikahan kita! Selama ini aku berfikir hanya aku saja yang menghiasi hatimu, tapi ternyata tidak. Dan aku salah…Aida juga ada didalam hatimu! Betapa terkejutnya ketika aku menyadari cintamu tidaklah sedalam cintaku. Betapa sakitnya aku ketika aku melihat suamiku mencium wanita lain didepan mataku lalu berenang bersama dengan wanita lain begitu mesra…apa itu namanya?. Dihotel yang sama dimana anak dan istrinya juga tinggal disana” bukan main aku terkejut saat itu nyaris aku tidak percaya, sakit untuk mengingat semuanya”. Jadi saat dia gemetar dulu saat dia mengatakan bahwa dirinya hamil itu hanyalah sebuah alasan untuk menutupi kekecewaannya. Sungguh aku sangat berdosa menyakiti hati istriku. Aku tidak bisa amenjawab,aku bingung. Kepalaku rasanya mengalami kram. Mendadak jantungku ingin berhenti berdetak.
“sayang apa yang kau lihat tidak terjadi seperti yang ada dalam pikiranmu”
“entahlah,sejak itu aku tidak bisa berfikir jernih tentang dirimu!apakah kalian berselingkuh atau hanya berteman, bedanya terlalu tipis”
“Utari, percayalah padaku aku dan dia tidak ada hubungan spesial, kami tidak pernah berkencan. Katakanlah … kami ini hanya sahabat. Dan sejujurnya kami belum pernah berkencan secara resmi sama sekali dari dulu. Dia bukan mantan kekasihku karena memang dia tidak pernah menjadi kekasihku”
“dulu..untuk mendekati wanita, bukannya kamu memang tidak pernah terikat hubungan. Kau biasa dengan hubungan bebas”
“dulu memang iya… tapi tidak setelah kita menikah”
“lalu apa penjelasanmu tentang yang pernaha ku lihat! Taukah kamu, sejak kejadian itu aku nyaris tidak bisa tidur meskipun mataku terpejam.pernah terlintas olehku untuk mengakhiri hidup…”
“kau gila!” aku menyahut dan cepat memotong pembicaraannya.
“kau yang membuatku gila!”
“maafkan aku Utari…semuanya terjadi begitu saja, dan aku tidak tahu kenapa. Memang sebaiknya aku harus menceritakan semuanya padamu. Siapa Aida, kemana dan kenapa harus Aida!”
Utari masih terdiam dan tidak menghiraukan pejelasanku. Hingga pada akhirnya aku memantabkan diriku untuk menceritakan semuanya dari awal, hampir sama seperti apa yang aku ceritakan pada Aida beberapa bulan yang lalu. Pada awalnya Utari merasa sedih dengan apa yang aku ceritakan. Tapi pada akhirnya dia merasakan kekecewaan yang begitu berat. Aku tidak bisa bohong padanya. Aku memang terpaksa mengatakan pada Utari kalau akau memang masih mencintai Aida. Dan mungkin kalau kami tidak pernah bertemu lagi, maka kemungkinan besar aku akan menikahi Aida. Tapi aku tidak menyesal kalau sekarang aku mendapatkan takdir yang berbeda dari yang aku inginkan.
“aku tidak menyesali semua ini Utari, sungguh aku tidak menyesal. Aku mencintaimu dari dulu. Aku memiliki kesempatan untuk mengakhiri hidupku denganmu dan menghabiskan waktu bersama keluargaku itu jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan daripada aku terus mengingat ingat cinta dan masa laluku”
“baru saja kau mengatakan kalau kau masih mencintainya!”
“memang, ini soal hati utari, bisakah kita memerintahkan hati kita sesuai kehendak dan pikiran kita. Tidak Utari…tidak akan pernah bisa. Hati bukan lah sebuah kertas atau lembaran buku yang mudah kita sobek bila kita tidak mengnginkan halaman yang tidak kita suka”
Aku terdiam lalu tertunduk, Utari masih terus meneteskan air matanya, aku berusaha kerasa untuk mendapatkan maafnya. Hingga aku berjanji dengan apapun padanya agar dia memberiku kembali kepercayaan.
“aku tidak akan lagi pernah menemui Aida!”Barulah Utari mau memelukku. “aku mencintaimu sayang, berilah aku waktu untuk belajar melupakan wanita itu…bisakan sayang?”.
Kepalanya mengangguk, kini dia kembali seperti yang dulu, mungkin selama ini berat sekali. Aku memeluknya erat, menciumnya. Jauh dalam lubuk hatiku berteriak kencang, aku belum sepenuhnya bisa melupakan Aida. Hatiku berteriak keras dan berkata kencang kalau Aida akan selamanya dalam ingatanku. Meskipun otak kepalaku ini terbelah, nama Aida tetap akan teringat.
Sejak kejadian itu keluargaku kembali utuh. Tidak ada lagi beban berat yang aku pikirkan selain pekerjaan. Hanya saja kini aku memiliki masalah baru. Aku harus berurusan dengan Aida. Berjuta alasan selalu aku lemparkan agar dia tidak menghampiriku seperti biasanya. lewat benny sering aku katakan kalau aku sedang ada acara keluarga atau bahkan ada urusan penting bersama kolega. Hingga suatu hari Benny terpaksa menerobos ke ruang meeting untuk mengatakan sesuatu hal yang awalnya tidak aku anggap penting. Dan karena aku menggebrak meja kerjaku, beberapa orang yang ada di ruang meeting memandang langsung ke arahku secara bersamaan.
“ada apa lagi ben?” rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk menahan emosi.
“maaf, maaf sekali… saya harus menyampaikan berita penting” dia berlari kecil ke mejaku dan membisikkan sesuatu padaku. Membuatku shock dan ingin berlari secepat mungkin. Aku tidak habis pikir Aida senekad itu. aku terpaksa meninggalkan ruang meeting tanpa berkata apa apa. Benny mengambil alih dan berusaha menjelaskan beberapa hal yang harus menunda acara meeting hari ini….
Barulah benny menyusulku selang beberapa menit kemudian. Lalu kami meluncur ke rumah sakit tempat Aida di rawat. Bukan main aku bingungnya menunggu keterangan dari dokter. Maklum di Jakarta Aida hanya seorang diri. Dia sudah tidak lagi memiliki orang tua, ataupun saudara kandung. Seorang dokter keluar dari ruang emergency. Pria botak itu keluar dengan membawa satu kertas untuk ditandatangani.
“maaf, apa ada yang menjadi keluarga pasien”
“saya Dok!”
“oh..bapak! keadaan pasien cukup kritis. Dia butuh tambahan darah, sepertinya anda harus menandatangi beberapa persyaratan dibawah ini” tanpa membaca aku langsung membubuhkan tanda tanganku. Menurut dokter Aida dengan sengaja memutus nadinya untuk bunuh diri, tapi beruntung nadi itu tidak sampai putus. Hanya saja darah yang keluar dari pergelangan tangannya cukup deras. Membuatnya hampir mati kehabisan darah.tujuh jam kemudian Aida dipindahkan kekamar. Aku takut sekali kehilangan dirinya, perihal apa yang membuatnya senekad ini, apa karena aku sudah tidak pernah lagi mau bertemu dengannya. Semua jadi semkain rumit ketika satu masalah mulai mereda. Aku meminta benny untuk kembali kekantor, dan memberitahu operator agar mereka mengatakan aku sibuk meeting bila Utari atau Arjuna mencariku. Dengan begitu aku bisa tenang menunggu Aida hingga tersadar. Dan aku menunggunya hingga dia tersadar satu jam kemudian.
“hei…tunggu..tunggu biar kubetulkan sandaranmu?”aku terkejut saat dia mulai terbangun dengan mengernyitkan dahi. Mungkin dia mulai merasakan sakit sari lukanya. “syukurlah kau sudah sadar” lanjutku. Aku berusaha menciptakan suasana setenang mungkin. Tiba tiba saja air matanya menetes “sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku akan ada untukmu” lalu aku memeluknya erat dan mencium bibirnya. Aku meredam rasa ingin tahuku kenpa dia tega melukai tubuhnya sendiri. Aku ingin tahu banyak hal yang mendorongnya melakukan semua yang tidak masuk akal. Aida bukanlah orang yang gampang untuk menyerah. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang bagus untuk menanyakan banyak hal menyangkut kejadian ini. aku mengupas apel kesukaanya. Lalu membuatkannya salad buah yang paling dia sukai. Aku memang segaja meminta benny untuk membelikan bahan untuk membuat salad meskipun tidak terlalu banyak. Aida merasa senang ketika aku masih mengingat semua apa yang dia suka. Begitu juga denganku. Aku memang sangat merindukannya. Dengan kejadian ini sebenarnya aku sedikit senang. Karena aku punya alasan untuk menemuinya.
“makanlah!”
“aku tidak mau makan”
“sedikit saja, kau belum makan, atau kau mau makan yang lain!” dia hanya menggeleng. Karena dia bersikeras untuk tidak mau mencoba makan, hingga aku beranjak untuk meninggalkannya sendiri. Hanya sekedar berpura pura.
“jangan pergi!” dia bergegas menarik lenganku dengan cepat, hingga dia merasakan sakit yang luar biasa.
“aku cuman mau kekamar mandi!”
“ohh… !” aku terkekeh melihatnya
“aku akan menunggumu sampai besok pagi. siangnya aku akan datang kembali,aku belum pulang dari tadi” wajahnya tertekuk seperti roti. Kedengarannya dia tidak suka dengan apa yang baru saja aku katakan. “Aida..tolonglah mengerti posisiku!kau tahu ini semua sulit bagiku. Aku janji. Besok aku pasti datang lagi. Aku akan meminta Benny untuk menjagamu”
“tidak perlu, tidak usah repot repot”
“kau marah sayang?ayolah..mengertilah sedikit saja”
“aku capek dengan semua sikapmu, aku berusaha mengerti, sudah berapa tahun aku mencoba mengerti semuanya tentangmu. Justru kamu yang tidak pernah mau mengerti apa dan kenapa aku!” aku sengaja terdiam dengan semua yang dia katakan. Karena menurutku percuma aku menjelaskan berulang ulang kali. Ingin rasanya kuhentakkan tubuhnya, entah harus berapa kali lagi aku katakan kalau aku sangat mencintainya. Tapi hanya keadaan saja yang tidak bisa menyatukan kami dalam sebuah pernikahan, karena memang tidak mungkin aku menceraikan Utari. Sungguh itu tidak mungkin. Dan karena dia terus histeris, maka aku memanggil seorang suster. Agar bisa membuatnya tenang. Ssuter memberinya suntikan dengan obat penenang, paling tidak untuk sementara waktu aku bisa pulang sebelum reaksi obat itu habis aku akan datang kembali menemuinya. Benny menggantikan posisiku untuk menjaga Aida. Sesampainya dirumah Utari sudah menungguku karena aku pulang terlalu larut malam hingga menjelang pagi. aku hanya memberikan alasan kalau aku sedang menjamu seorang gubernur. Untunglah Utari percaya begitu saja.
“selamat ulang tahun sayang?” sebuah tas besar bertuliskan ROUL, Utari berikan padaku. “apa kau lupa ini hari ulang tahunmu? Sebenarnya tadi sore anak anak ingin mengajakmu makan malam. Tapi saat Arjuna menghubungimu dikantor, operatormu mengatakan kau sedang rapat, jadi mereka terpaksa menunggu lalu tertidur dikamar kita, cobalah kau lihat betapa mereka mengharapkan sebuah pesta kecil saat ayahnya berulang tahun”
“mereka masih teridur” tidur dengan menggunkan baju lengkap dengan sepatu yang belum terlepas,”kenapa kau tidak melepas sepatu dan kaos kaki mereka?” kedengarannya aneh kalau Utari membiarkan anaknya tidur tanpa menggunakan piama. Sekejap mata aku merasa seperti seorang pecundang. Betapa tidak, aku semakin merasa bersalah disatu sisi aku sangat menyayangi keluargaku, aku nyaris tidak bisa berfikir atau memilih antara keluargaku dan Aida. Andai aku bisa memiliki keduanya aku rela menukarnya dengan semua kekayaanku. Tapi aku tidak yakin Utari mau menuruti keinginanku, dia pasti lebih memilih untuk melahirkan anak segudang sesuai permintaanku sebelumnya. Malam ini aku hanya merayakan berdua dengan Utari di ruang keluarga. Minum coffee bersama dan meniup lilin, tak tega rasanya kalau aku membangunkan anak anak untuk meniup lilin bersama, meraka terlalu letih menungguku.
“potonglah kuenya, Drew yang memilihnya untukmu?”
“tidak, besok pagi saja,kita potong bersama? Terima kasih sayang untuk hadiahnya, untuk pesta kecilnya, terimakasih untuk waktunya dan semua kasih sayangmu kepada keluarga. Baktimu sungguh luar biasa. Aku minta maaf kalau aku terlambat pulang kerumah”dia tersenyum hanya bisa tersenyum dan menyahut”Happy..happy birthday sayang”
“aku mencintaimu sayang” hatiku merasa resah dan sedikit gelisah. Tidak tahu kenapa. Aku merasa canggung ketika bibir Indah istriku mendarat di bibirku. Pesona keanggunanya membuatku tidak bisa berhenti memikirkan kondisi Aida yang sempat histeris.. malam berlalu dengan cepat tanpa bisa kusadari apa yang sempat terjadi. Aku hanya sadar aku tertidur dikamar Drew yang memeang letaknya bersebelahan dengan kamar kami. Saat aku tersadar dan bangun. Aku sudah melihat tubuh kami tanpa mengenakan baju sama sekali. Hanya selembar selimut yang menutupi tubuh. Aku memungut piyama ku pergi keruang dapur membuat sepoci teh vanilla kesukaan Utari. Dua gelas susu kegemaran anak anak kami dan secangkir kopi lengkap dengan taburan kayu manis dan cengkeh untuk kunikmati. Ketika aku kembali kekamar Drew, Utari sudah menghilang. Kamar Drew kembali rapi dan bersih. Aku tertawa geli membayangkannya semalam. Utari benar benar energik dan memberiku sensasi yang luar biasa hebat.
“selamat pagi ayah, semalam aku dan Arjuna menunggu….selamat ulang tahun” bibirnya yang kecil dan manis itu menciumku. Spontan aku langsung menggendongnya dan melemparnya ke langit langit. Bukan main senangnya sambil berteriak kegirangan hingga membangunkan Arjuna
“putri ayah belum mandi ya?” lalu dia mengangguk sambil tersipu malu malu
“tapi aku sudah gosok gigi ayah. kapan potong kuenya. Aku lapar!” suaranya merengek hingga ku merasa kasihan dan menggendongnya dengan gaya pesawat terbang yang akan mendarat. Dari depan Arjuna menyusulku dan menarik narik piyamaku.
“aku lelah menunggumu ayah, kata sekertarismu kau ada rapat. Kenapa kau tidak meminta mereka rapat saja kerumah lalu kita membuat acara pesta dadakan untukmu” suaranya terdengar marah dan menghakimi
“maafkan saya paduka pangeran, hamba sedang bertugas dan tidak bisa diwakilkan” aku menunduk dan meletakkan tanganku pada dada hingga Drew berteriak teriak dan memukul kepalaku
“aku geli ayah, aku geli…kau nakal kau nakal ayah…hentikan aku geli. Rambutmu membuatku geli” suaranya terdengar melengking.
“baiklah…baiklah…ayah berhenti…oh ya Kakak Arjuna tolong ambilkan kuenya di lemari es ya. Kita makan bersama di teras depan kamar ayah. lalu Drew Bantu ayah membawa madu ya. Dan biarkan ayah yang membawa nampan ini. dimana Ratu rumah ini dan pangeran muda?” tanyaku pada mereka
“ratu sedang sibuk memeberi minum pangeran muda” sahut Arjuna sambil menunjuk kearah kamarku. Kami menemui Utari sibuk menyusui Khrisna diatas ayunan pangkuannya. Jari manis Utari menempel pada bibirnya “ssttt!” Khrisna sempati terkejut saat mendengar Drew berteriak memanggil Ibunya.kontan Drew terdiam dan patuh mengamati adiknya yang kemali terlelap dalam pangkuan ibunya. Gadis kecil itu terlihat iri melihat adiknya yang terlalu dimanja. Utari mencium kening Drew dan pelan pelan menarik buah dadanya yang masih dihisap oleh Khrisna. Pelan pelan dan sangat pelan. Tanpa terasa Khrisna sudah kembali terlelap dalam boxnya. Kini drew bebas meminta gendong pada Utari. Kami menuju keteras dimana Arjuna sudah siap didepan cake ulang tahunku bersama lilin yang sudah dinyalakan dengan api. Kami duduk berempat dan mengucapkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT. Sudah memberikan kami semua kekayan kesehatan dan kebahagian yang melimpah dan penuh kehangatan cinta kasih. Betapa hatiku ingin menjerit rasanya. Melihat anak anakku dan istriku yang sangat tulus mencintai dan menyayangiku. Rasanya aku sangat berdosa dengan kejadian tadi malam. Aku ingin sekali segera mengakhiri semua ini. aku tidak ingin menyeret kebahagian keluargaku dengan semua ke egoisanku. Aku tidak ingin kehilangan kehangatan keluargaku. Selesai berdoa aku menerima banyak kecupan dari istri dan anak anakku lalu menerima kado dengan bungkusan kreasi yang unik dan lucu dari Drew dan Arjuna. Bahkan ada kado kecil yang terlihat dengan kemasan mengkilat dan mewah bertuliskan Khrisna
“itu dari Khrisna” sahut Drew yang memang terlihat selalu mengawasi gerak gerikku “bungkusnya dan pitanya aku yang memilih untuk Ayah, sengaja aku pilih pita berwarna kuning keemasan. Isinya ibu dan Arjuna yang memilihnya untuk ayah.hehhehe… sebenarnya tidak juga. Kami menunjukkan pada Khrisna. Dan pangeran ayah yang paling kecil itu menunjuk benda yang ada dikotak itu..yah begitulah ceritanya” drew senyum dengan giginya yang mulai terkikis dan berwarna kecoklat.
“kau terlalu banyak permen, awas ompong!”kami tertwa bersama hingga drew memukul bahuku beberapa kali karena gemas. Utari memandangku dengan senyum yang sangat mengagumkan. Seolah olah senyum itu sudah berhasil memenjarakan aku sumur hidup dalam hatinya.
Seminggu kemudian kami menyusun liburan bersama setelah anak anak berhasil dengan nilai yang mengagumkan dalam raport. Dan kali ini aku seorang diri yang datang mengunjungi sekolahan mereka bersama sama. Drew dan Arjuna bersokalah di yayasan yang sama. Jadi itu memudahkan kamu untuk mengantar dan menjemput mereka dengan bersamaan setiap harinya. meskipun saat pulang aku tidak pernah menjemput mereka. Mereka pulang dengan Utari, tapi sejak ada Khrisna mereka lebih sering pulang bersama sopir. Jelas terpancar rasa gembira dalam wajah mereka ketika aku menemani mereka. Sebuah bentuk perasaan yang sama terjadi padaku. Betapa lengkap kebahagiannku saat ini, jadi kenapa aku harus menyia-nyiakan mereka yang tulus mencintaiku. Arjuna tersenyum padaku, seolah olah dia mengucapkan terimakasih padaku. Kubelai rambutnya lalu kucium keningnya. Selama kami berlibur di karimun jawa, semua anak anak kubiarkan melakukan apa maunya mereka. Aku menyewa tiga orang khusus untuk meraka bertiga, tentu mereka kusewa sesuai dengan umur dan karakter anak anakku. Arjuna sibuk berlatih snockling dan diving sedangkan Dhrupady sibuk membuat istana pasirnya dibawah jilatan matahari. Khrisna hanya sibuk bermain diluar bersama baby sitternya, hanya sesekali saja Utari menjemputnya saat waktu pemberian asi. Benar benar liburan yang sempurna. Aku merasa seperti jatuh cinta kembali pada Utari seperti pertama kali kami bertemu. Astaga semuanya sungguh sempurna. Aku tidak lagi sibuk memikirkan Aida. Hanya sesekali saja aku menanyakan kabarnya pada Benny. Tidak ada yang darurat. Karena kurasa Aida masih bisa mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, atau mungkin karena dia belum tahu kalau aku berencana untuk menyudahi hubungan gelap kami. Aku memang benar benar akan menyudahi semuanya, apapun yang akan terjadi aku harus menyelamatkan keluargaku, bukan Aida.
Usai liburan aku mencoba untuk menemui Aida setelah sekian minggu kami tidak saling bertemu. Aku mengunjungi kamarnya. Tidak ada yang aku bawa saat akan menemui dia. Tidak ada pengawalan benny dan tidak ada percakapan yang lebih penting selain membicarakan perpisahan. Sudah aku persiapkan diriku untuk menemuinya, apapun yang akan terjadi setelah percakapan ini nantinya. aku tidak akan memeperdulikan semuanya. Semua harus segera aku akhiri…harus!!. Sesampainya didepan pintu suite room. Aku tidak sampai mengetuk pintu tiga kali, Aida sudah membukankan pintunya untukku. Aku tidak terkejut dengan apa yang aku lihat atau mungkin aku sudah mulai muak dengan semuanya. Tidak ada lagi rasa seperti dulu, tidak ada perbuatan yang memaksaku untuk memeluknya. Aku hanya pasrah ketika tiba tiba saja dia memelukku erat dan sangat erat tanpa mau terlepas. Seolah olah dia ingin berkata ‘jangan pernah tinggalkan aku lagi seperti ini’ aku hanya terdiam dan sedikit meregangkan pelukannya lalu memintanya untuk menemaniku masuk dalam ruangan. Aku tidak ingin ada karyawan ataupun tamu hotel melihat kami begitu dekat dan erat. Aida yang ada didepanku seperti orang asing dimataku. Aku hanya benar benar tidak lagi mau mengkhianati Utari ataupun menyiksa Aida. Aku ingin Aida menemukan pasangan yang jauh lebih baik dari aku. Karena aku sudah mulai menyadari bahwa jalinan ini akan banyak membuat kami merana dan lelah untuk saling mengerti dan memahami. Aida terlihat begitu kurus, rambutnya yang panjang tergerai tidak beraturan, wajahnya yang tyrus itu lebih terlihat pucat. Aku memaksakan diri untuk tersenyum walaupun sebenarnya aku sangat enggan. Aku hanya pergi untuk menjenguknya. Matanya berkaca kaca. Sungguh itu mengiris hatiku. Tapi aku sudah membulatkan tekad agar aku dan dia menyudahi semuanya, aku lelah dengan semuanya …..
“maaf aku baru bisa menemuimu, aku banyak kerjaan ditambah anak anak menuntut waktuku untuk menemani mereka berlibur!” sebelum aku selesai menjelaskan semuanya dia terdengar menjawab dengan suara ketus dan penuh rasa cemburu.
“yah,..tentu istrimu lebih membutuhkan dirimu. Saat itu kau berjanji akan kembali menengokku, tapi kau justru malah meminta perawat itu untuk memberiku obat penenang”
“kau membutuhkannya!” sahutku
“aku tidak membutuhkan banyak hal, aku hanya butuh kau…hanya kau!”
“maafkan aku Aida, keadaan yang membuat aku tidak bisa menemuimu. Jadi mengertilah!”
“kenapa aku harus terus mengerti sedangkan kau hanya menjanjikan kesemuan!”
“aida aku datang kemari bukan untuk bertengkar tapi hanya untuk menemuimu. Jadi tolong bersikaplah sedikit lembut dan tenang. Kau sudah makan” karena aku melihat sepiring makanan yang belum tersentuh dimeja makan. Aida hanya diam tanpa melihatku. Wajahnya terlihat memerah menahan emosi. Akupun tidak ingin berlama lama disini. “aida apa kita bisa berbicara, kalau kau sedang tidak ingin berbicara denganku aku akan segera meningglkan kamarmu. Maaf aku sudah mengganggu. Selamat siang!” aku segera memutar tubuhku pergi keluar. Tapi suaranya menahanku
“tunggu! Apa yang ingin kau bicarakan!” dia kembali duduk dikursi sofa seperti sediakala. Akupun memmutar tubuhku kembali dan duduk di sofa yang sama. “apa yang ingin kau bicarakan, mungkin aku terlalu kalut, pikiranku tidak lagi jernih! Maafkan aku” lanjutnya
“aku mengerti!”
“apa kau datang untuk menggali kuburanku?”
“kau bicara apa, apa maksudmu. Aida!”
“aku merasa kau bukan lagi Damar yang dulu! Kau berbeda… kau terlalu…entahlah aku tidak yakin, tapi firasatku mengatakan ini bukan berita baik untukku”
“mungkin kau benar, tapi apapun yang terjadi aku tetap akan menjaga semua hubungan kita dengan baik, aku akan menjaga semuanya yang pernah ada diantara kita”
“apa…?”
“aku tidak bisa melanjutkan kegilaan kita, aku tidak bisa menceraikan wanita yang sangat aku cintai sejak lama”
“aku tidak pernah meminta kau menceraikan Utari, aku tidak pernah meminta kau meninggalkan anak anakmu, anak anakmu adalah anak anakku juga, dan Utari adalah maduku juga. Jadi apa yang salah pada diriku. Aku mengerti dan menerima semua statusku dengan jelas, aku tidak akan pernah menuntut. Aku hanya ingin berbagi”
“tidak..tidak mungkin Aida”
“kenapa ?kau takut!, aku sendiri yang akan berbicara dengan Utari”
“aku tidak takut. Tapi aku tidak mau menduakan Utari dengan wanita siapapun”
“oohhh hohoho…kau lupa dengan semua yang pernah terjadi antara kita, kau melupakan cumbu rayuanmu, kau lupa..kau melupakan janjimu padaku Damar!”
“dengar Aida,….sungguh aku tidak lagi bisa mengenalmu. Kau berbeda dengan Aida yang pernah aku kenal. Kau sekarang terlihat bengis dan kasar”
“beginilah aku yang sesungguhnya, apa kau menyesal!”
“tidak ..tidak Aida aku tidak pernah menyesal pernah bertemu dengamu” aku mencoba merendahkan nada suaraku saat nadanya terdengar lebih tingi dan semakin meninggi. “maafkan aku Aida..sepertinya kita harus benar benar berpisah dan mengakhiri hubungan kita. Aku akan menjanjikan persahabatan yang lebih baik daripada cinta yang akan kita jalin tapi penuh pendustaan”
“tidak Damar..tidak tolong jangan pernah katakan perpisahan denganku, aku mencintaimu,sangat mencintaimu…apapun syaratnya akan aku terima, aku ..aku tidak bisa lagi hidup tanpamu Damar”
“aku tahu, aku tahu Aida…percayalah aku mengerti!”
“tidak..kau tidak bisa mengerti, hatiku sudah remuk redam…aku mohon jangan pernah tinggalkan aku”
“maafkan aku Aida, aku sangat mencintai keluargaku, aku sudah punya tiga orang anak..jadi aku mohon mengertilah. aKu tidak bisa menikahi wanita lain siapapun itu… tidak Aida, mengertilah?” aida berteriak teriak keras dia melemparkan semua perabotan ruangan kearah dinding, bahkan Aida menyiramku dengan soda dan bir yang ada didepan meja. Aku hanya terdiam. Aku sebenarnya berusaha menenangkan amarahnya. Tapi tidak berhasil. Dan ketika dia berteriak teriak kencang tanpa kendali, aku mencoba untuk meminta pertolongan bellboy dan seorang room service untuk datang kemari.
“aida…aida dengarkan aku sayang, tuhan tidak menjodohkan kita..kau akan mendapatkan pria lain yang lebih baik dari diriku, percayalah Aida, kau tidak menyimpan rasa sakit ini seorang diri. Akupun sakit Aida…” Aida terus menjerit jerit saat aku memelukanya dia terus menerus memukul dadaku dan menampar wajahku. Tidak sedetikpun aku membentak dan membalasanya. Meskipun aku merasakan sakit yang teramat sangat.
“kau mencintaiku…tapi kau menikahi wanita lain, kau memberikan aku mimpimu tapi kau mengarungi dunia dengan wnaita lain. Apa …apa salahku Damar apa…? Apa…kau bangsat…kau sialan…kau brengsek..kau munafik!”
“iya Aida…begitulah aku”
“tapi aku mencintaimu Damar, aku sangat mencintaimu?”
“tidak Aida…maafkan aku aku tidak bisa…sungguh maafkan aku, akupun tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri”
“setan sialan.pergi kau…pergi..pergi kau” saat dia mengusirku akupun segera keluar ruangan itu. meskipun pintu kamarnya tertutup rapat tapi aku masih mendengar jelas teriakan histerisnya, suara barang barang yang pecah. Entah jadi apa kamar itu. dua orang karyawanku menghampiriku.
“kalian berdua jangan kemana mana, jaga ruangan ini. bila ada suara teriakan keras atau diam yang terlalau lama tolong kabari aku, hubungi aku dimana saja tanpa rasa sungkan” aku meninggalkan mereka setelah mereka mengerti dan mengangguk dengan pesan yang aku minta. Jangan pernah tinggalkan tempat ini. aku masih mendengar teriakan Aida yang keras dan terus menerus mengumpat namaku. Aku menunggu hingga malam tiba tidak ada laporan dari karyawanku tentang keadaan darurat. Benny hanya mengatakan bahwa semua furniture kamar yang ditempati Aida sudah sangat rusak berat. Dan Aida keluar dari kamar itu dia hanya meninggalkan nomer rekening pada seorang recepsionist bila aku ataupun pihak management memintanya untuk bertanggung jawab atas semua kerusakan yang sudah dia lakukan. Aku masih kacau dengan permasalahan ini. aku bingung tapi aku sudah berjanji apapun yang akan terjadi setelah senin siang itu aku tidak akan lagi pernah datang untuk menemuinya.
seminggu kemudian aku mendengar kabar dari Benny kalau Aida membeli sebuah rumah dikawasan menteng, tapi sebulan setelah kabar itu aku kembali membaca disebuah berita kompas online kalau sesorang wanita cantik deputi departemen kebudayaan meninggal karena bunuh diri dengan memotong urat nadi pergelangan tangannya saat mandi dikamar mandi. Gambar gambar online yang mengupas kematiannya menampilkan fotonya yang sedang mandi dalam bath tub dengan berlumuran darah dan pecahan gelas champaigne. Aku begitu miris membaca dan melihat gambar gambar kematiannya. Aku merasa ingin mengatakan kepada semua khalayak bahwa akulah pria penyebab kematiannya. Utari melarangku untuk mengatakan semua yang ingin aku katakan pada media. Mengingat aku adalah aku seorang ayah dan seorang pemilik jaringan hotel international.
“sayang, aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi aku mohon janganlah gegabah, redamlah emosimu, kau adalah seorang ayah, kau seorang pemimpin perusahaan, apa yang akan terjadi pada kami semua bila kau salah langkah dan mengahancurkan reputasi perusahaan besar yang sudah membantu perekonomian ribuan kepala keluarga. Aku mohon dengan sangat sayang, tapi bila itu menurutmu yang terbaik maka lakukanlah. Aku percaya semua keputusanmu adalah baik!” caranya mengatakan itulah yang aku suka, belaiannya sangat membuatku merasa nyaman. Aku merasa Tuhan menurunkan satu malaikat berparas bidadari untuk menjadi istriku.
“oh Utari…baru sekarang benar benar aku menyadari kenapa aku sangat mencintaimu, caramulah yang selalu membuatku merasa nyaman saat bersamamu” Utari hanya tersenyum malu dan menundukkan wajahnya. Pipinya memerah, dan bibirnya tersenyum anggun. “dan aku bersumpah aku akan selalu mencintaimu…” tangannya yang lembut meraih tanganku lalu diciumnya dengan hangat dan penuh kasih. Dalam hatiku berkata ‘bodoh bila aku meninggalkan titipan Tuhan yang sangat berharga melebihi sukmaku sendiri, aku tidak akan menyulutkan api cintaku yang penuh nafsu pada setiap wanita’
“aku juga sangat mencintaimu, menikah denganmu adalah tujuan hidupku menggapai Surga Tuhan. Aku sanagat bahagia denganmu yang memberiku anak anak yang lucu dan pintar”
“maafkan aku sayang”
“sudahlah, jauh sebelum kau memintanya, maaf sudah kuberikan padamu tanpa batas. Sudah lumrah, manusia tempatnya dosa kita hanya butuh untuk mengerti dan memperbaiki dan memaafkan. Dengan cara itulah kita belajar lebih bermartabat” kami duduk dan saling berpelukan memandang langit. sepintas lalu aku melihat ibu dan Bayu memberikan senyum terindah mereka pada kami saat ini. Utari menyandarkan kepalanya pada bahuku, dan menggenggam erat tanganku. Lalu kami berciuman mesra penuh gairah.
Tags
short story
