Setelah berbulan bulan dan berhari hari, akhirnya kuputuskan juga merealisasikan rencanaku untuk menemuinya, menjelaskan semua hal lalu mengajaknya berkencan. Itupun kalo dia berkenan. Rasa rinduku tidak bisa kubendung lagi lebih lama. Semakin kupendam semakin pula memusingkan kepalaku. Semakin kutahan semakin juga aku mencintainya. Aku memang egois, hanya saja aku tidak mau terlihat buruk dimatanya. Setiap malam kucurahkan semua isi hatiku pada lembaran diaryku, hanya itulah yang bisa kulakukan. Bahkan lama sekali aku dan dia tidak saling bertukar kabar. Hanya saja sejak tiga bulan yang lalu, tiba tiba saja dia menjawab semua emailku yang kukirim setahun yang lalu. Awalnya aku sedih, karena tidak ada satu emalkupun yang mau dia jawab. Entah apa alasannya, tapi kupikir mungkin dia sudah memilki kekasih baru. Tentunya itu hanyalah intuisi priaku saja. Setelah semuanya membaik, aku tergugah untuk dating menemuinya. Dan itu berrati aku harus cuti dari semua aktifitas kampusku, itupun berarti aku harus mengarungi benua asia untuk melihat wajahnya. Hingga ditanggal satu November 2002 aku benar benar memutuskan untuk membulatkan rencana-ku. Kutekankan secara verbal pada diary-ku dihalaman berikutnya dengan goresan parker hitam
For the first time , I really think about her
Can’t be tamed
Aku jadi teringat pada pesan salah satu guru yang mengajarkan aku hidup “ DIG A WELL BEFORE YOU BECOME THIRSTY “. Kiasan itu seolah olah membuatku kembali semangat untuk memikirkan cintaku. Smile is the shortest distance beetwen two people
Seminggu kemudian…..
Ini pertama kalinya ku pijakkan kakiku kembali ke Indonesia setelah dua tahun aku meninggalkan semuanya untuk mengejar impianku dan kebangganku kelak. Semuanya aku tinggalkan, termasuk dia. Dia yang aku sayangi. Sosok yang kukenal sejak kecil hingga kami dewasa, aku paham benar bagaimana dia. Aku bersyukur karena aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri.
Tidak ada seorangpun aku beritahu tentang kedatanganku, termasuk dia. Awalnya aku memburunya ke sebuah hotel dimana dia sedang bekerja dan menyelesaikan tugas akhir kampusnya. Disana lama sekali aku duduk sambil menikmati hidangan menu yang sudah menjadi favoritku, aku suka tempat ini, aku suka semua yang disajikan oleh restoran ini. Bangunannya kuno, angkuh tapi masih sangat megah dan kokoh dengan pugaran disana sini. Bukan main gejolak hatiku membayangkan betapa bahagianya aku yang akan bertemu dengannya. Jantungku terpacu lebih kencang, darahku mengalir deras, keringat dingin melumuri kulitku. Sungguh luar biasa . disini aku bertemu dengan seseorang yang sudah kukenal lama, dia salah satu pegawai hotel sekelas manager. Dia menyapaku, menanyakan kabarku. Sapaannya ramah, sehingga membuatku senang untuk menjawab semua pertanyaannya. Dari dirinya juga aku tahu bahwa gadis yang sedang kucari tidak sedang bekerja. Off hari ini, begitulah katanya. Tak mau piker panjang, akupun segera meninggalkan restoran hotel dengan menselipkan dua lembar ratusan yang telah ada dalam tagihan bill. Salah seorang waiter memanggilku untuk memberikan kembalian uangku, “ambillah!” ucapku yang membuatnya senang karena menerima sejumlah tips dariku. Karena aku tidak membawa mobil, akhirnya aku putuskan untuk mampir ke sebuah café. Disini aku memilih starbuck. Hatiku telah memilih tempat ini. Entah mengapa, disini aku merasa seperti hidup mungkin karena banyak kenangan bersamanya disini. Aku masih memesan menu yang sama seperti dulu saat bersamanya. Hanya saja aku tidak berani menduduki table yang biasanya kami pesan berdua. Walaupun saat ini bangku itu kosong. Aku mencoba menenangkan diri ditempat ini, tapi ini tidak terlalu membantu. Pikiranku masih saja melayang jauh saat saat bersamanya. Dia sungguh hidup dalam pikiranku walaupun aku pernah mencoba untuk membunuhnya dalam mimpiku. Aku menyesal karena menjadi seorang pengecut. Ntah apa arti cinta yang sesungguhnya, tapi bagiku cinta adalah sebuah luapan perasaan terhadap suatu obyek yang mempunyai impuls dan rangsangan dalam perbuatan yang berakibat menjadi sarana pemicu energi dan pikiranku untuk melakukan sebuah bentuk ekspresi padanya. Masih tergambar jelas dalam otakku, bagaimana caranya dia mengajakku mengobrol, caranya dia memperhatikanku, caranya dia mencoba menyembunyikan hatinya untukku. Betapa tololnya aku yang menjadi orang pasif menunggu dia mengngungkapkannya terlebih dahulu. Kucoba untuk menengkan diri sebelum nantinya aku bertemu dengannya. Aku mencoba menelphone rumahnya, tapi tak kudengar suaranya. Hanya suara seorang wanita yang biasa dia panggil ibu, mengatakan bahwa putrinya sedang ada keperluan interview dishangrilla. Kabar yang kuterima beberap minggu yang lalu lewat email, dia memang pernah mengatakan padaku kalo dirinya mendapat tawaran kerja di hotel itu, tapi tawaran itu gugur secara personal. Jadi mana mungkin dia masih melanjutkan interview itu. Tak ada yang bisa kulakukan selain merenung dan berfikir sebentar. Mencoba menghirup nafas dalam dalam, kuaduk aduk caramel macchiatoku. Kulihat table 22 yang masih kosong itu. Dulu kami selalu duduk dimeja itu, seringkali. Ntah mengapa tapi kupikir mungkin karena dia lebih menyukai view-nya. Aku masih mengingat caranya tersenyum, caranya berbicara, aku mencium aroma rambutnya yang khas. Saat saat yang membuatku tumbuh menjadi seorang pria yang mengenal cinta. Dia mengerti aku walaupun aku pria yang tidak bisa banyak bicara, aku bukan orang yang ramah, aku tidak banyak teman aku tidak suka bersosialisasi. Aku intropet, hanya dia yang mengerti aku selain Rizal sahabatku. Dan tiba tiba saja aku mengingat ketika pertama kali aku memberanikan diri mengantarnya pulang sekolah, itupun tanpa sengaja. Sungguh membuatku malu,mengenang semuanya. Aku hanay bisa terkekeh dalam hati beginikah rasanya pria jatuh cinta pada wanita. Beginikah rasanya cinta yang selalu membuat galau hatiku bila bertemu dengannya. Sungguh luar biasa. Kusapa dia pelan merekahkan senyum. Diapun menyapaku kembali, senyumnya begitu manis. Gadis pribumi yang mengesankan. Hampir saja aku ingin membiarkannya, tapi sungguh dorongan hatiku cukup besar untuk bersamanya. Kubulatkan tekadku mengantarnya pulang, dengan malu malunya diapun mengiyakanku. Kukayuhkan sepedaku, lalu kubonceng dia di depan, teriknya matahari tidak bisa menggoyahkan jiwaku untuk bersamanya. Sepanjang perjalanan kami terdiam, tak ada yang berani berbicara, begitu juga aku. Aku hanya tersenyum kalo dia tersenyum, hatiku berdebar saat itu, aku nyaris tidak bisa berfikir jernih. Sejak itu kami tidak pernah lagi bertemu lama, hingga suatu saat ketika kami bertemu disebuah museum empu tantular tanpa sengaja. Kami bertemu didepan sebuah galeri mata uang Indonesia pra sejarah dan sejarah. Dari awal sebenarnya aku sudah memperhatikan dia yang tidak kunjung sadar akan keberadaanku. Dia seorang diri begitu juga aku, bersyukurlah aku kala itu. Kumantapkan langkahku menyapanya, kuamati dia begitu kaget senang gugup dan apalah itu jenisnya. Aku senang melihat reaksinya tentangku, ingin rasanya kupeluk. Hanya saja itu bukan diriku, kami duduk dan mengobrol sambil melihat koleksi galeri diseluruh ruangan. Lama tidak betemu dengannya saat itu, entah sudah berapa tahun. Tapi dia semakin dewasa, semakin cantik dan semakin ramah. Fantasiku saat itu, dia adalah kekasihku. Sayangnya belum. Itu hanay nyanyian hati yang berupa kidungan cintaku. Malu rasanya diriku menatap matanya yang tajam dibalik kacamatanya yang biru. Hatiku bergetar seperti dawai, jantungku berdegup kencang, tapi aku beruntung tanganku tidak sedingin tanganya saat kujabat. Aku bertanya pada Tuhan dalam hati, mengapa aku kembali bertemu dengannya, padahal tekadku sudah bulat untuk tidak jatuh cinta pada wanita siapapun sebelum aku sukses dengan impianku. Seandaikata aku memiliki mama yang bisa kuajak berbagi, andai aku punya kakak yang biasa kuajak berdebat. Aku tidak memiliki figure itu. Aku lama terdiam saat duduk disampingnya. Aku nyaris tidak bisa berkonsentrasi, suaranya membuatku gugup, aku takut gemuruh hatiku terdengar ditelinganya. Nyaris hilanglah sudah rasa percaya diriku saat itu. Aku tidak ingin takluk dengan wanita manapun, tidak juga dia. “aku senang bertemu denganmu” katanya saat itu. Jujur sekali, sangatlah mudah untuknya, dan mengapa aku begitu sulit mengekspresikannya. “bagaimana kalo kita mencari makan siang dan tempat yang enak untuk mengobrol!” pintaku dengan rasa percaya diri yang tidak sepenuhnya benar, dia menerimanya dengan anggukan. Sungguh luar biasa akibat dari anggukannya itu. Aku nyaris oleng saat berdiri dan berjalan, seperti kapas yang tertiup angin. Kami keluar dari museum menuju tempat motorku tinggalkan. Tiger yang selalu setia menemaniku selama aku duduk dibangku sma. Aku bersyukur dia mendahuluiku berjalan, sehingga aku punya kesempatan menghirup udara, tapi mata tak bisa menutup melihat dia berjalan, melihat rambutnya tertiup angina dan mencambuk wajahku. Rambutnya serasa bisa berbicara “kenapa kau pengecut!” aku hanya diam tanpa menjawab. kunaiki motorku “naiklah!” pintaku halus nyaris tidak terdengar. Tapi telinganya cukup tajam pikirku yang semakin membuatku takut berbicara dalam hati. Sungguh membuatku tersenyum penuh harapan apakah dia mencintaiku. Kulajukan motorku sekencang mungkin, agar dia memeluk punggungku. Betapa memalukannya aku, berharap hal yang tidak mungkin dia lakukan. Dia begitu santun, begitu sangat membuatku terkesan, penampilannya sederhana tapi membuatku terpesona. Rambutnya yang hitam adalah mahkotanya yang paling bisa membuatku bertekuk lutut. Dia tetap tidak memindahkan tangannya ke pinggulku. Dia hanya berpegangan kuat pad besi belakang motorku. Aku tersenyum melihat spion, ekspresiny atidak kentara jelas tentangku. Hatiku bertanya apakah dia sudah memiliki kekasih, apakah dia sendiri, apakah dia mencintai orang lain, apakah dia juga sepertiku, tidak mau berurusan dalam cinta. Rasa ingin tahuku kuat. Sampailah kami disebuah restoran junk food disebuah plaza di jantung kota. Kami hanya memsan burger dan friench fries dengan soft drink yang ditambahkan sesendok ice cream olehnya. Rasanya beda, ntah perbedaan apa yang dia lemparkan untukku. Apakah karena minuman ini, ataukah karena hatiku bertaut dengan hatinya. Apakah secepat itu ?. tentu tidak pikirku. Aku mengantarnya pulang untuk kedua kalinya sejak aku mengantarkannya pulang sekolah beberapa tahun yang lalu dengan sepeda federalku. Sesampainya didepan rumah, dia memintaku untuk mampir tapi aku menolak ajakannya tapi aku telah berjanji bahwa lain waktu aku akan mengunjunginya. Betaapa menyesalnya aku melihat kemurungannya , aku tidak tahu bagaimana cara untuk menghiburnya. Insisiatifku saat itu adalah mengeluarkan secarik kertas berwarna krem yang kutulis dengan boxy biru “kalo diizinkan aku ingin tau emailmu,nomer telpmu atau apasaja yang bisa membuat kita berbincang”. Kuberikan tapa senyuman, tapi dia menerima dan memberiku senyum indah terkuncilah mataku saat melihatnya membaca, sihir apa yang dia berikan untukku sehingga membuatku nyaris tidak bisa bergerak hanya duduk dalam motor. Aku bimbang menanti hingga dia mengatakan sesuatu, tak lama penantianku terjawab “5462470” itulah gerak bibirnya yang tanpa suara. “thanks!” lalu kupergi meninggalkannya . memori yang sangat hidup untukku, mungkin sampai aku mati. Begitu sadar akan lamunanku akupun kembali menikmati hidangan yang sudah kupesan sambil kubuka buka kembali jurnalku. Deretan kalimat kusapu bersih hingga lima halaman kulewati. Aku masih merasa tidak bisa beronsentrasi, demi dialah aku datang menginjak kota ini. Tak sadar kuhabiskan waktu sejam duduk delam kenangan masalaluku. Tiap orang yang lalu lalang selalu kuperhatikan kuamati. Hingga mataku terkunci pada seseorang yang telah duduk disebuah table. Secercah senyum diwajahkupun mulai merekah, melihat sosok itu serasa seperti obat yang bisa menghilangkan sesak nafasku. Jantungku terus berdetak kencang, enggan rasanya kalo aku harus terlebih dahulu menyapanya, tapi hatiku terus bergejolak karena keterpakuanku. Lakukanlah sesuatu kata hatiku. Tapi tubuhku diam terpaku, lidahku kaku mulutku terkunci. Darahku terus mengalir deras, ototku terasa mengejang. Tapi kuputuskan untuk sementara waktu aku- hanya mengamatinya.
Dia berambut panjang hitam yang menarik, rambutnya tergerai, blasernya dilepas dan digantungkan pada punggung kursi. Ada satu novel disebelah kirinya. Datang dengan satu pesanan kue dan dua gelas coffee, apakah dia menunggu seseorang ? ntahlah aku tidak tahu, disana dia termenung dan sesekali menengok jam tangannya. Sesekali melempar pandangan di luar jendela, dan sesekali dia melihat lihat pintu masuk restoran. Hatiku semakin bertanya-tanya apakah dia sedang menunggu seseorang? Tapi siapa?. Pikiranku tidak karuan, perasaanku menjadi campur aduk. Ingin sekali aku dating menyapanya. Ingin sekali aku memiliki kesempatan menemuinya. Tapi - , kuurungkan semuanya, aku tidak ingin menganggunya. Apakah dia tidak mengenalku? Mungkin dia lupa! Atau bahkan dia sudah tidak lagi – ahh sudahlah itu bukan tujuanku, aku dating hanya untuk mengatakan seseuatu pada gadisku. Bukan yang lain.
Dua jam sudah dia termenung disana, seperti memikirkan sesuatu yang tidak jelas, ingin rasanya aku bertanya – tentang perihal apa yang sudah membuatnya risau. Tapi itu tidak mungkin, kai sudah lama tidak bertemu, tentunya aku akan dicap lancang bila menanyakannya. Buku tebal yang ada didepannya kini disentuhnya, selembar kemudian dia balikkan menyusuri beberapa halaman berikutnya. Aku tersenyum menatapnya, nyaris aku benar benar ingin menghampiri dan menepuk bahunya dan berkata D- HALO!. Tidak…tentu saja tidak, aku menggaglkan usahaku sendiri. Aku memutar langkahku ketika aku hamper saja melaluinya. Aku ini kenapa tanyaku dalam hati , aku mencuci wajahku menatap dalam dalam diriku didalam cermin. Tanganku meninju dinding bukan kaca yang ada didepanku, aku ingin teriak tapi suaraku tidak mau keluar. Crazy you still me around!!! Setiap aku melihatnya jantungku terasa ingin meloncat. Membayangkannya saja itu sangat membuatku gila. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku bukan orang yang bisa mengekspresikan sesuatu. Hufftt- berat sekali nafasku well done I need to talk with her! Must be!. Kubanting pintu toilet, untung saja atapnya tidak runtuh dan untung saja pintunya sudah terpasangi knok down-nya. Kumantapkan kakiku untuk menyapanya, langkah demi langkah kukayuhkan, darah mengalir deras , jantung berdegup kencang, kini aku akan segera membuatnya terkesan dengan kejutan. Tapi sayangnya justru aku yang terkejut dan menyesal, betapa tidak bila seseorang yang ingin aku temui justru sudah lenyap dari tablenya, hanya sisa mealsnya saja yang masih ada diatas meja. Gelasnya yang dingin masih mengembun, kue yang dia pesan pun masih ada dua potong, mengapa dia tidak menghabiskannya. Akupun segera meninggalkan tempat ini, pergi pulang menemui keluargaku yang sudah menungguku. Sebuah taxi siap mengantarkanku kerumah, tapi aku tidak ingin buru buru pulang. Meskipun papa dan tante juga adikku menelphoneku. Sedih sebenarnya kalo aku harus membohongi mereka, terlebih lagi bila mereka mempercayai kebohonganku. Taxi mengantarkanku disebuah tempat museum yang saat itu hammpir saja tutup. Aku dating hanya sekedar mengenang semua yang sudah pernah terjadi. Aku hanya duduk di sebuah ruangan. Diam dan diam sesekali aku tersenyum dengan beberapa koleksi benda antic yang dipajang. Aku kembali jalan memutari area hingga aku memutuskan untuk keluar museum setelah seseorang penjaga museum megngatakan bahwa tempat ini sudah berakhir jam bukanya untuk hari ini. Lalu dengan santunnya pria itu pergi meninggalkanku setelah berhasil mengusirku secara halus dengan keahllian bahasanya. Ponselkupun kembali berdering. Dia adikku yang hendak menjemputku, aku tidak bisa membohonginya, hanya dialah yang susah untuk aku bohongi. Dengan terpaksa aku menyetujuinya agar dia menjemputku. Taxi yang sudah menungguiku dengan setia itu sudah kuminta untuk meninggalkanku. Aku diam berdiri diatas trotoar sambil mengamati patung sura dan buaya yang seolah olah telah bertarung dalam posenya mereka saling mencakar dan menggigit. Untunglah bawaanku tidak terlalu banyak, meskipun jepang Indonesia sangatlah jauh. Penerbangan kali ini serasa membuatku kembali hidup dari kehampaan. Terdengar suara klakson mobil, aku mengenal mobil ini, tentu saja karena itu mobil volvoku. “cepat sekali kau dating”sapaku ketika salah satu jendela mobil terbuka. “naiklah kak, aku antar kau menemui gadis itu. Sebelum kau mati tergantung kaku!” gelak tawanya menyerupai raksasa yang terkekeh. Aku hanya tersenyum tanpa tersinggung. Aku kenal dia, dan begitulah caranya dia menghiburku bila aku sedang merindukan gadis itu. Adikkupun keluar mobil, dan membantuku menaruh barang barangku kegarasi belakang. Lalu kami berpelukan karena rasa rindu. Sejak dua tahun yang lalu kami tidak pernah bertemu. Tubuhnya semakin berotot, penampilannyapun semakin dewasa, gayanya masih saja slank. Tapi aku mencintainya walaupun aku membenci ibunya. “kau lama menungguku!” tanyanya “tidak – sudah! Biar aku saja yang meneyetir” sergahku saat dia hendak duduk dibelakang kemudi setir. “oke!”jawabnya. ini mobilku, aku masih merasa nyaman pada mobil ini, adikku nampaknya benar benar mendengar apa kataku. “thanks – kau sudah merawatnya!” jawabku singkat dan dia hanya tersenyum lalu menepuk nepuk bahuku, mencoba menggangguku saat menyetir. Sengaja kulajukan mobilku dengan cepat, kota ini benar benar membuatku hidup sangat sangat hidup. Aku terus tersenyum saat menyusuri jalanan yang dulu selalu kita lewati.”kau belum gilakan selama berjauhan dengannya!”tangannya meninju lenganku, dan aku hanay meringis – mengeleng lalu tersenyum. Kamipun lantas tertawa. Alu sungguh sungguh merindukan semuanya. “damn it! Ternyata kau benar benar mencintainya!” lanjutnya sambil melirikku. Aku hanay menoleh dan tersenyum. “kuantar kau pulang!” jawabku dan sepertinya diapun mengerti apa maksudku, karena itu dia hanya mengangguk “jangan lupa mampir kayun, belikan dia sebuket bunga!”jawabnya. hamper saja aku lupa tentang yang satu itu. “yah!”jawabku “sekarang kau sudah sampai, jadi turuhlah, samapaikan salamku buat papa, sory aku buru buru!” . adikku turun dari mobil membawa dua koperku lalu meninggalkanku masuk kedalam rumah. Kupacu kencang mobilku, dari kaca spion sempat kulihat, papa sedang memanggilu, begitu juga tante, tapi sepertinya mereka paham ketika Yogi menjelasakan sesuatu pada mereka tentangku. Hanay asap mobil yang kutinggalkan untuk mereka.
Dadaku kembali bergejolak ketika aku telah sampai didepan pagar rumahnya. Rumah ini sepi, andai pagar ini bisa bicara ingin sekali kutanyai apakah gadisku sudah memiliki kekasih!. Kuberanikan memencet bel, lalu kubunyikan pagarnya dengan engsel yang menempel di pagar. Sang tuan rumah tidak mendengar, mungkin karena suara musiknya terlalu keras. Aku diam untuk sesaat, samara samara aku mendengar suaranya menirukan lagu yang diputar. Bon jovi – itulah band rock favoritnya, kuputuskan untuk- mencari ponselku dibalik blaserku kutekan beberapa tombol angka hingga tersambung. Lama sekali nada sambungku tidak terangkat, aku harus sabar deminya. Mungkin mereka sibuk, maklum saja kalo jam tiga sore seingatku adalah tugasnya membersihkan rumah. Ku dial-up kembali nomernya, nada sambungnya terdengar hingga diluar rumah tempatku berdiri didepan pagarnya. Tapi tak kunjung juga ada seseorang mengangkat telphoneku, sabar kunanti dengan sabarnya juga aku menekan kembali dial up untuk yang ketiga kalinya, hingga- terdengar suara halo dan yang bisa kulakukan adalah diam dan diam untuk sesaat baru aku menyadari ternyata itu adalah suaranya. Terdengar letih dan terengah engah, relax relax kataku dalam hati, lidahku masih saja kaku untuk berucap – hingga kuputuskan
“halo..D,…. Berisik sekali rumahmu” ucapku datar – walaupun begitu cukup untuk membuatnya terkejut
“heii Hyo,pakabar???”
“surprise…surprise…baumu tidak enak ya sepertinya kau sibuk sekali?”
“ya benar, maklum sedang membersihkan lantai jadinya mandi keringat juga”
“tidakpapa.itu sehat. Aku juga letih perjalanan jauh!” spontanitas ,tanpa bisa kutahan lagi tentang kondisi keberadaanku
Aku hanya tertawa kecil, tapi diapun tersenyum
“D…apa kau bisa menemuiku sekarang?”
“yah kalo kau ke Indonesia aku akan siap menemanimu, kapan kau hendak kesini”
“ahhh surprise…surprise!!kau pake kaos oblongkan tentunya”
“yah benar…benar sekali dugaanmu!!!”
Saat itu aku tertawa mendengar kalimatnya yang lugas seperti tanpa dosa. Ntah apakah aku harus sedih atau senang ketika hingga detik terakhir belum juga dia menyadari keberadaanku yang cukup dekat dengannya
“sebentar Hyo…ada orang depan rumahku, cuma aku tidak tau dia mencari siapa kok wajahnya tidak menghadapa kea rah rumah?”
“oh ya,…apa kau tidak bisa memperhatikannya lebih dekat?” pintaku penuh harap, aku merasa mulai berdebar melihat tampilan wajahnya yang terbaru setelah dua tahun silam aku meninggalkannya
“entahlah, aku tidak tau,mungkin tamu depan rumah!”
“benarkah?” sedihnya aku “temui saja sebentar, aku akan sabar menunggumu disini!”
“untuk apa?”
“yah untuk melihatnya tentunya?”
“malas aku, kalo dia butuh pasti dia akan memencet bel rumah”
Aku hanay tertawa kecil melihat kekonyolan ini, aku gugup memanjakan doa agar aku terlihat tenang. Tuhan tolong bantulah hambamu ini pintaku lirih dalam hati. Sekali lagi aku memncet bel rumah agar dia keluar melihat tamunya. Bunga mawar yang aku bawa kusembunyikan dibelakang punggungku, aku tidak ingin bunga ini rusak sebelum sampai ditangannya. Kusandarkan bahuku dibelakang tembok samping untuk sesaat, kupejamkan mata sebentar bismillah. Kutempelkan kembali ponselku ditelinga
“nah nampanya pria yang kau ceritakan sudah memencet bel rumahmu?”
“bagaimana kau bisa dengar Hyo, sedangkan suara Bonjovi terlalu keras ditelingaku?”
“yah tentunya karena tingkat sensitivitasmu amatlah rendah D. bukalah pintunya sana. Dia bisa mati kecapekan menunggu tuan rumah membukakan pintu pagar”
“yah,…kau tunggu sebentar,aku akan melihatnya. Atau mungkin kau bisa tutup dulu telphonemu biar tidak banyak menghabiskan pulsa ponselmu”
“ahhh bukan masalah,pergilah…temuilah tamumu itu”
“apa kamu tidak apa apa?”
“tidak, segeralah keluar. Aku akan menunggumu”
“baik!!”
Aku menyesal telah membentaknya tapi aku juga kesal melihatnya yang tidak kunjung membukakan pintu untukku. Datanglah datanglah padaku sayang . jantungku kian berdegup, rasanya tak sanggup lagi kutahan rasa rinduku ini yang sudah mengarat. Kadar cintaku kian terus bertambah. Cantik sekali kau bisikku dalam hati nyaris tidak bisa kupercaya, dia kini berjalan pelan menuju ke arahku, pipinya sedikit memerah. Akupun tak percaya ini nyata, apakah ini mimpi ? tentu saja tidak, karena aku merasakan keletihan yang luar biasa untuk menunggu moments ini. Tuhan bantulah aku lebih hidup lagi dengannya pikirku. Kini langkahnya semakin dekat bahkan gerakan tangannya kini semakin tergopoh gopoh membuka grendel pagarnya untukku. Kami terdiam kaku, kulangkahkan tiga kaki untuk memeluknya tanpa sungkan. Kini aku sudah melebur bersama, kucium rambutnya, tanganku memeluknya erat, otakku seperti mengejang seakan tak mau melepaskan tubuhnya dari pelukanku. Lama lama sekali kami berpelukan dengan sadar, aku sungguh merindukannya. Kini dia berusaha melepaskan pelukan eratku, dengan ihklas kuregangkan tanganku karena aku tidak ingin membuatnya mati kehabisan nafas. Dia senang menerima buket bunga, tapi dia marah ketika melihat kedatnganku yang mendadak tanpa berita. Aku prihatin melihatnya, dia memintaku masuk lalu ibunya menemuiku dan mengobrol denganku untuk sesaat. Sebelum akhirnya meninggalkanku sendiri di ruang tamu, mataku menyebar mengamati tiap dinding, cat temboknya kini berwarna hijau dan tidak lagi putih, dindingnya da beberapa lukisan dan kaligrafi baru, untuk design ruangan semuanya masih sama seperti sebelum aku meninggalkannya dua tahun yang lalu. Kuamati novel lama milik Marga T yang sepertinya baru saja dibelinya dan belum sempat dibacanya hingga tuntas, tapi aku yakin, tanpa membacanyapun dia sudah hal alur ceritanya mulai klimaks hingga anti klimaksnya pada diri setiap pemerannya. Yang kutahu, Karmila adalah novel favoritnya. Kubolak balik tiap halamannya, jujur saja sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan cerita ini, aku kasian kepada Edo, pria baik yang harus mengalami siksa bathin karena tunangannya telah dirampas dengan paksa oleh seorang bajingan. Tanganku tiba tiba saja mengepal, sesaat kemudia kusadarkan diriku bahwa ini hanyalah cerita, bukanlah kisah nyata atapun kisahku. Tentu saja aku tidak mau mengalami hal bodoh seperti Edo. Kini dia kembali menemuiku sambil membawa minuman segar. Bila boleh kukatakan kalo minuman ini tidak sesegar orangnya.
“MARGA T?” kutunjukkan novel ini padanya. Diapun hanya mengangguk “minumlah!” pintanya. “tentu” kuturuti saja apa katanya. Kami diam beberapa waktu tanpa bisa memualai obrolan, ntah apa yang sama sama kami rasakan, aku tidak yakin sama, aku melihatnya gugup dan untungnya meskipuna ku gugup tapi aku masih bisa tenang, aku hanya berfikir tidak lucu saja bila aku seorang pria yang gugup dan konyol ketika menemui pujaannya. Sungguh itu hal konyol yang tidak mau kulakukan. “aku tinggal sebentar ya, aku mau mandi! Baca saja kalo kau mau membacanya. Karmila juga DOKTER mungkin kalian bisa cocok?”katanya yang seolah olah sibuk meyakinkan aku kalo isi novel itu bagus. “yah aku tau, aku pernah membacanya, aku tidak mau menjadi Edo, dia hanya tunangan saja, bukanlah menjadi suami seperti Faizal!”. “yah namanya juga novel!” jawabnya sedikit mendesahkan nafas meninggalkanku untuk menaiki anak tangga. Kunikmati saja kepergiannya, hanya saja kali ini aku tidak sabar kalo harus menunggunya selama kemarin. Sebenarnya aku enggan membaca novel ini, hanya saja mataku berontak bila ada sebuah buku atau Koran yang tidak kubaca. Aku merasaseperti orang gila, aku hanya bisa harap semuanya masih sama dan tidak ada perubahan sedikitpun sehingga aku tidak perlu untuk memksakan kehendakku padanya agar dia kembali merasa nyaman bersamaku. Aku memang letih, mungkin karena perjalan ini, tapi beruntunglah aku tidak melakukan perjalanan panjang antar benua sehingga tidak terlalu membuatku terlalu letih berkepanjangan. Kuluruskan sesaat kakiku dibawah meja, ohh sungguh ini snagat menciptakan kenyamanan yang luar biasa hingga tanpa sadar aku sudah menunggunya selama satu jam. Ntah harus berapa lama lagi aku harus menunggunya, dia benar benars edang melatih atau bahkan menguras kesabaranku dengan ekstra hingga aku mendengar langkah kaki yang menuju ke arahku dengan langkah yang penuh percaya diri kali. “hai!” sapanya mematahkan keheningan ruangan, “maaf lama menunggu,kupikir kau sudah pulang karena terlalu lama”. Betapa anggunnya dia menuruni tangga, aku menyukai baju yang ia kenakan, warnanya kusuka, apakah dia sengaja mengenakan warna itu untukku?. Lama kuperhatikan , aku merasa kini dia bisa lebih berpenampilan dewesa jauh sebelumnya seperti gadis yang pernah kukenal, tanpa piker panjang akupun mengajaknya keluar makan malam, sejak malam itu kami lebih dekat. Akupun merasa hidupku lebih hidup. Selama tinggal di jepang aku merasa sangat monoton, aktifitas dari hari kehari hanya berhubungan dengan diktat diktat kampus. Sebenarnya kau menyukai aktifitasku sebelumnya, tapu sungguh aktifitas barukku bersamanya lebih membuatku bergairah. Aku sering mengantarnya atau menjemputnya ditempat kerja, jam berapapun dia pulang aku selalu menjemputnya dan jam berapapun dia berangkat kerja akupun pergi mengantarnya. Sebenarnya dalam lubuk hatiku saat itu aku ingin sekali mengajaknya berkencan, karena memang itulah tujuanku sebelumnya. Itulah agendaku karena memang aku dating kesini untuk menghiburnya. Dan akupun selalu meyakini apapun yang dia lakukan selalu bisa membuatku semakin menyayanginya, apapun yang dia lakukan selalu nampak indah dan baik dimataku. Kedatanganku kesini, mulai kembali lagi mengguha memori lamaku bersama dia, kami memiliki ide untuk napak tilas di beberapa tempat yang pernah kami kunjungi. Aku menyetujui idenya, tapi aku lebih memeliki ide hebat lagi disbanding hanya sekedar napak tilas, jadi kupilih bulan Desember sebagai waktu yang tepat unutk kami sebelum aku kembali meninggalkannya. Jadi semua agenda selama satu bulan aku susun, mulai dari transportasi, hotel, financial dan membangun mentalku lebih kuat lagi untuk semuai ini agar berjalan sempurna tanpa cacat.
Hari hari bersamanya selalu tersa menarik, tak ada satupun permintaannya yang bisa kutolak, dan beruntungnya tak ada satupun undangan dan ajakanku yang pernah dia tolak. Kusadari kini pesonanya lebih kuat memacu adrenalinku, dia lebih aktif,ceria dan sangat luar biasa menarik mata pria selain mataku. Banyakk orang sekelilingnya yang kuamati dan sadar kalo beberapa diantara mereka adalah rivalku. Tapi aku yakin aku masih unggul. Aku memang diam tapi aku tidak pernah untuk tidak mengamati semuanya. Karena semua yang melekat padanya membuatku gila dan benar benar gila. Bagaimana aku tidak gila, bila aku harus meninggalkan KEIO UNIVERSITY untuk cuti sementara hanya sekedar menemuinya, itu hal baru yang harus kupertimbangkan berulang ulang kali dan itu punya kensekuensi berat karena semester depan aku harus tetap tinggal disemester yang sama. Aku harus bekerja keras untuk mengejar mata kuliahnya, aku tidak mau kalo almarhum ibuku menertawakan aku bila aku gagal dengan gelar dokter hanya karena perempuan. Sungguh aku tidak mau. Karena pertimbangan inilah aku kembali menyusun agenda baru bersamanya, akupun mulai menghubungi beberapa teman teman lama yang mau mengizinkanku mengamen di tempat tempat semacam hotel, restoran ataupun plaza yang menampilakan live music piano. Aku tidak ingin kantonku kosong tanpa ada tambahan isi beberapa lembar uang. Dan beruntunglah aku, mereka mengijinkan aku kembali unutk mengamen lagi. Jadi aku memiliki penghasilan yang lumayan untuk merealisasikan misiku bersamanya. Harapan terakhirku adalah agar dia tidak menolak agenda liburan yang aku ajukan. Persaan cintaku padanya nyaris tak pernah padam walaupun sempat sbelumnya kubunuh perasaa ini. Aku tidak tahu, mengapa aku bisa begini. Seringkali ketika kami mengobrol berdua, dia mengatakan bahwa aku ini adalah orang yang beruntung, apapun yang aku inginkan selalu bisa aku terima dan bila aku pusing itu karena ulahku sendiri yang menjadikan otakku pusing. Benarkah ? aku sendiri meragukannya selama ini, mungkin saja dewi fortuna masih berpihak padaku. disuatu malam ketika kami duduk manis menikmati menu makan, aku mencoba menanyakan sesuatu hal yang sangat mendasar. Nyali ini sudah kubulatkan agar hubungan diantara kami lebih jelas, aku menyadari kalo diapun sebenarnya mencintaiku itulah yang aku mengerti.
kuingat dia begitu sedih dan menangis ketika dia mengantarku dibandara soekarno hatta dua tahun yang lalu. Dia tidak bisa membohongiku, itulah yang sangat aku yakini, semuanya terlalu kentara dan jelas terlukis diwajah dan sikapnya, dia begitu perhatian, begitu kuat karakternya itulah yang aku suka darinya. Dia tidak mudah terpengaruh, hanya saja aku kecewa dengannya ketika dia tidak benar benar memilih studynya di dunia penelitian purbakala. Aku kecewa – aku lebih kecewa karena alsannya adalah agar dia bis adekat dengan mantan kekasihnya yang kini sudah meninggalkannya menikahi wanita lain dengan perbuatan tercelanya. Itu sungguh menjijikkan. Pertama tama aku marah kecewa tapi kini aku sudah mulai melihat sisi baiknya. Tapi aku masih menyesal karena rencanaku tidak mulus. Dulu aku bercita cita kalo seandainya kami dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan maka kami akan sama sama memiliki profesi yang bisa mengangkat nama Negara Indonesia. Dia berciita cita menjadi seorang arkheolog yang ingin menemukan ataupun memugar kerajaan majapahit yang sangat dia kagumi kehebatannya. Tapi sekejap semuanya musnah , karena pria brengsek yang pernah dia kencani setelah kepergianku. Yah sudahlah semuanya sudah terjadi, mungkin itu adalah sesi cerita hidup yang harus dia jalani. “Hyo…halo-halo ada orang?” tanyanya yang tiba tiba menyadarkan lamunanku, aku kaget dan mencoba merekahkan senyum dadakan untuknya “apa yang ingin kau tanyakan!” lanjutnya dengan rasa penasaran. Terang terangan akupun mengajaknya berkencan, kukatakan padanya kalo desember tahun ini aku benar benar ingin memiliki moments yang luar biasa bersamanya, aku mengatakan padanya bahwa sebenarnya ku memang benar benar sedang jatuh hati padanya sejak lama, hanya saja semuanya susah untuk aku katakan secara terang terangan. Aku hanya mampu menunjukkan dengan karakter dan beberapa perhatian lebih untuknya. Lama sekali kami terdiam setelah pengakukanku, hingga aku mengambil nafas panjang untuk kembali berbicara, aku senang dia masih sabar menunggu penjelasanku hingga akhir, walaupun aku belum juga untuk pergi menjelasakan sesuatu. Tatapannya tidak bisa membuatku berkonsentrasi, dia masih saja mengawasiku dengan rasa penasarannya yang menarik perhatianku. Aku ragu unutk mengatakanya, aku takut dia menolaknya “hyo –jangan buat aku mati penasaran!” desaknya penuh kecemasan, dan sungguh aku malah asyik menikmati kepanikannya. Dia menatap lekat lekat, “kau tidak dungukan!” yah aku tersenyum kembali dengan sedikit batuk batuk kecil menutupi rasa hilangnya percaya diriku. Pertama tama kucari bahasa simple dan lugas pemilihan katanya agar dia tidak mengartikan ganda ataupun kebingungan dengan ajakanku. Aku yakin dia takkan sanggup menolak, tapi entah kenapa aku gugup mengatakannya. “D setlah kau tahu kalo aku mencintaimu, apkah kau mau menerima ajkanku bila aku ingin mengajakmu lebih dekat, emm – maksudku aku ingin sekali mengajakmu mengenal beberapa tempat yang sangat aku gemari. Aku ingin desember ku kali ini benar benar hidup seperti matahari.” Aku membuatnya diam tidak berbicara, entah apa yang dia pikirkan, aku berusaha mengamati lukisan wajahnya yang berubah ubah penampilan “bagaimana? Kau setuju bila kuajak keluar jawa!” tanyaku ulang “aku ingin kita ke yogyakarta, bali dan Jakarta, hanya dibulan ini, kau tahu aku tidak punya banyak waktu, kau tahu aku-..!”lanjutku, lalu jari telunjuknya menempel dibibirku sshuttt! Isyarat saja. “apa yang akan kita lakukan” jawabnya penuh keraguan yang tidak mustahil lagi , apa maksudnya tanyaku dalam hati “apa yang kaupikirkan tentangku!” lanjutku menyelidiki arti pertanyaanya. “yah maksudku, aku belum pernah pergi dengan laki laki yang bukan saudaraku hanya berdua saja, maksudku apa
yang hendak kita lakukan selama satu bulan itu!” sungguh pertanyaan itu semakin emmbuatku tidak nyaman, aku tahu apa maksudnya “apa kau pikir aku akan…!” sahutku lantang sedikit geram. “tentu- tentus aja tidak, aku hanya belum mendapat gambaran jelas!” dia kebingungan menjelaskan pemikirannya padaku yang sempat dia tutupi. “dengar Des aku akan mengajakmu seminggu awal kita stay di Surabaya seperti keadaan kita yang masih tidur dirumah masing masing, kau pahamkan!” dia hanya mengangguk mendengar penjelasanku”dan kemudia kita ke Jakarta seminggu, disana aku akan memesan sebuah hotel dengan dua kamar yang kebetulan aku sudah memesannya walaupun untuk satu hari, hanya sekedar darurat takut kalo kau tidak menyukai tempatnya, dijakarta kebetulan ada ferstival java jazz, dan ada beberapa pameran lukisan caliber internasional. Disana kita melihat beberapa koleksi antar museum yang tidak sebanyak di Surabaya. Seminggu berikutny aku ingin mengajakmu ke Yogakarta, disana banyak tempat yang bisa kita kunjungi mulai dari candi, disana kita bisa tinggal dirumah eyang Putriku, aku punya beberapa kamar kosong disana. Dan m inggu terakhir sampai sisa akhir desember hingga awal tahun kita bisa stay di bali, kita nikmati pantai yang lebih kental nilai eksotisnya, disana ada pameran kerajianan kebudayaan ASEAN yang memiliki para tamu undangan dari eropa ! – jadi tolong katakan padaku kalo kau menyetujuinya please!” tanpa sadar aku seperti pria dungu yang memohon pada seorang ratu kerajaan. Dia menggabungkan alis dan menggembungkan pipi, dia ragu, aku menjadi pucat pasi mendengar jawabannya. Seolah olah kalimat itu akan menjadi azimat yang berduri. Tanganku masih saja memohon penuh harap secercah senyum mulai merekah dari bibirnya, tapi itu tidak cukup membuatku untuk menjadi tenang, tidak cukup membuat gejolak hatiku berhenti. Semua masih samara antara setuju atau menolak – pusing kalo aku harus membayangkan kegagalan yang hendak menghampiriku. Serasa akan ada sebilah pedang yang siap menusuk hatiku. “hyo!”sapanya yang membuatku mengejang dalam kebisuan. Tak sanggup kujawab sapaan itu, hanya kulihat saja pandangannya “baiklah aku setuju, kebetulan aku butuh hiburan dari kepenatan kerjaku, setahun terakhir aku sibuk dengan dunia perhotelan yang nyaris membuat rutinitas hidupku berjalan tidak normal!” dia tersenyum geli ketika melihat perubahan wajahku yang kembali normal. Bukan main sennagnya hatiku mendengarnya, aku tidak perduli dengan semua hal karena yang kuperdulikan adalah jadwal agenda acaraku bersamanya akan segera dimulai. Terhitung dari sekarang berrati akan ada empat hari lagi. “sure D – I’m here for your entertainments!” jawabku singkat. Tapi tidak kunjung mendapatkan respons senyuman. Aku hanya berfikir kalo dia mulai pelit senyum padaku. “hyo, tabungaku mungkin tidak cukup untuk liburan kita, kalo kau memesan kamar hotel berbintang!” spontan aku marah aku tidak suka dengannya yang meremehkanku, tentunya dia gadis polos yang entahlah sebutan apa yang pantas untuknya.”Desy, aku tidak mengajakmu untuk meikul berat semuanya, aku hanya mengajakmu untuk menghidupkan waktu di bulan desember, aku tidak memintamu unutk menyumbangkan sebagian hartamu
diacara kita nanti. Kau paham! Itu semua tugasku tanggung jawabku, dan tidak akan kubiarkan kau memikul sesenpun!” dia diam melihat ekspresi kemarhanku, aku tidak ingin membuatnya tidak naman jadi kupoles bibirku agar mau tersenyum manis untuknya. Setelah semua clear, aku kembali menyusun acara kami agar lebih nyaman, sudah kususun beberapa list tempat tempat yang menarik dan eksotif dilihat dari sisi kebudayaan, kupesan beberapa tiket pesawat dan kereta untuk perjalanan berikutnya, tentu agar tidak terlalu makan waktu bila aku menyusunnya mulai dari sekarang. Malam itu adalah awal dari kebahagian waktuyang akan kami lewati berikutnya, kamipun semakin percaya diri untuk mengutarakan isi hati kami yang sesungguhnya, akupun semakin percaya diri bila sedang menggandengnya disuatu acara dan harus bertemu dengan beberapa teman ataupun saudara. Tentulah jawabanku saat itu penuh percaya diri ketika mereka menanyakan tentang siapa gadis yang sedang kugandeng tangannya. Keluargaku mendengar cerita pengakuanku tentangnya dan isi hatiku. Aku malu melihat reaksi mereka yang sedang mengolok-olokku. Bahkan adikku sangat kentara sekali menertawaiku yang sudah bertekuk lutut dengan seorang perempuan “jauh jauh sekolah ke jepang ternyata dapat adik kelas SD!” spontan saja batalan kursi yang kupeluk kulempar kearah wajahnya. Dan dia hanya bisa meringis kesakitan. Tante Lasmi istri papa sepertinya ikut bahagia untukku, senyumnya begitu murni hanya saja aku enggan mengakui keberadaan wanita itu meskipun aku sangat menyayangi anaknya. Aku menolak senyumnya, yang kontan membuatnya sedih. Tapi sungguh aku tidak perdulu walaupun harus kuakui aku hamper saja senang melihatnya bahagia untukku. “pa, aku baru kali ini melihat kakakku jatuh cinta pada perempuan, apa kira kira wanita jepang tidak bisa membuat hatinya meleleh sekuat Desy ya?”lanjutnya ngobrol pada papa yang tentu saja sebenarnya itu diperuntukkan untukku.”Yogi –yog- jaga mulutnya, ini soal perasaan, tapi jujur Yoga tante suka kau mulai membuka diri” gayanya seperti membelaku, tapi entahlah aku tidak lagi bisa mempercayainya dengan utuh, seperti dia sebelumnya walalupun sebagian air susunya pernah dia berikan untukku semasa aku kecil setelah mama Aida meninggalkanku!. Papa meninggalkan kami bertiga, lalu tante menyusulnya. Aku dan adikku masih ngobrol asyik didepan acara serial tv beverlly hills 90210. “ah dari dulu aku tahu kalo kau suka!”lanjutnya kembali mengajak berdebat “hanya saja kalian sama sama aneh , heranku kenapa sih sama sama cinta tapi kalian menutupinya!” aku diam mendengarnya berceloteh, mataku masih melihat acara tv hingga ketika aku sudah tidak lagi sabar mendengar kallimat panjang yang terus menerus dia lontarkan untukku “maksudmu kami munafik!” tanyaku – spontan kami salng berpandangan dan dia hanya mengangkat bahu. Tapis ebelum kami kembali berdebat. Papa memberikus ebuah vouchet makan , voucher penginapan. Dan beberapa voucher belanja, tentu saja kali ini aku tidak sanggup menolak, karena aku memang butuh dan ini bisa membuat nuansa desemberku semakin menyenangkan. Tuhan terimakasih untuk semuanya yang sudah kuterima. Aku bangkit memeluk papa, dan inilah pertama kalinya aku menerima jabatan tangan Tante Laksmi setelah sekian lamanya aku membencinya. Tangan wanita ini halus seolah olah dia bahagia sekali ketika jabatan tangannya kuraih dia pun maju selangkah serasa ingin memelukku. Tapi sayang sekuat tenaga aku berusaha menolak keramah tamahan hatinya, sebnarnya aku tidak tega menolaknya hanya saja aku belum mau kalah dengan wanita ini, setiap melihat wajahnya aku selalu terbayang bagaimana dia merusak lukisan mamaku. Sejak itu pula rasa simpati kepadanya sebagai anak tirinya lenyap sekaligus. Aku bersyukur papa dan adikku yang juga anak wanita itu, saling mengerti tingkat emosional dan pemahamanku yang masih bersebrangan mengenai tante Laksmi. Yogipun sangat mengerti, dan selalu menjadi penengah dan selalu tidak mau ikut campur untuk urusanku bersama ibu kandungnya. Papa yang tahu duduk pernmasalahn dan arah hati serta pemikirankupun selalu mencoba memaklumiku meskipun terkadang dia begitu harus berat memilih antara anak dan istrinya yang selalu berselisih.
Tepat di akhir November aku mencoba menghubunginya, hanay sekedar memastikan, bahwa dia tidak sedang berubah pikiran. Rasa syukur yang kupanjatkan tidak pernah habis habisnya,sepertinyabesok pagi pagi aku akan memluai kencan satu minggu di Surabaya. Dia hanya mengatakan bahwa untuk tiga minggu kedepan dia sudah memiliki alasan untuk berpamitan pada orangtuanya, kalo dia hendak dipindahkan sementara di Jakarta oleh manager hotelnya. Sebenarnya aku ikut sedih kenapa kami harus berbohong, tapi bagaimana lagi, orantuanya pasti tidak akan memberikan izin bila anak gadisnya tinggal berdua dengan pria yang belum menjadi suaminya. Aku paham dengan semua itu. Aku menerimanya saja, dan itu bukan hal berat yang sangat mengganggu jiwaku. Terlebih sejak awal bulan desember dia sudah resmi resign dari hotel tempat dia bekerja. Jadi hal itu secara tidak langsung memudahkan bagi kami untuk berlibur tanpa mengundang kecurigaan orangtuanya.
Selama berkencan di Surabaya, semuanya masih biasa seperti sebelumnya, tidak ada yang berbeda. Hanya saja kita menghabiskan waktu seharian, hamper seharian, mulai pagi hingga malam. Sesekali kubawa dia mengunjungi daerah dekat Surabaya seperti mojokerto,pasuruan,malang,mbatu dan gresik. Tanpa harus menginap disebuah penginapan, kami hanya membawa beberapa keperluan baju pengganti saja, bila kami akan mengahabiskan banyak waktu di pantai, tanjung, atau pegunungan macam gunung Bromo dan air terjun Madakalipura dan tempat wisata lainnya. Aku selalu pergi dengan membawa sebuah handicam dan kamera analog, aku tidak ingin kehilangan setiap moments kebersamaan kami. Meskipun aku tahu dia bukanlah gadis yang suka menyimpan foto pria yang telah menjadi kekasihnya. Aku merasa kami sama sama bahagianya dengan keadaan kami saat ini, perasaankupun semakin dalam meskipun terkadang aku takut gagal dengan beberap hal yang membayangi otakku. Ketika senyumnya mekar rasa takutku kembal menyusut, seolah olah aku semakin tidak ingin pergi lagi meninggalkannya. Kencan kami di kota Surabaya sukses dan sangat ekspresif.
Menginjak malam minggu kedua aku kembali menghubunginya lewat telephone, tapi kali ini dia sudah cerdas. menjawab pertanyaanku seblum aku sempat menanyakannya “aku siap, dan tidak ada perubahan rencana untuk pergi berdua ke Jakarta !” jawabnya sedikit terkekeh kekeh. Aku senang dengan jawabannya, tentunya semakin membuat keputusanku semakin jelas, kedatangankupun tidak sia sia. Pacuan adrenalinku semakin bertambah berpacu seiring waktu yang sudah dan akan kujalani. Hidupku semakin berwarna. Saat aku menunggu kedatangannya dibandara Juanda, hatiku penuh gejolak. Sungguh tidak sabar rsanya bila aku mennati kedatangannya, aku hanya takut dia membuayarkan semua rencana yang sudah kususun rapi. Sabar dan penuh ketekunan aku menunggunya dia pintu utama, sengaja aku memang dating lebih awal dua jam dari jadwal penerbangan pesawat. Kali ini aku tidak berani menghubungi rumahnya. Aku takut kegabahanku bisa merusak semuanya. Aku mengambil duduk dan mencoba tenang, meskipun jari kananku sudah mengepal keras dan jari kiriku meremas kalebng soft drink yang mulai tidak berbentuk. Berulang kali aku duduk dan mondar mandir menunggunya. Berulang kali juga kuintip jarum jam hugoku. Sering sekali dia menguras kesabaranku. Oh tuhan – mahkluk apa dia ini, begitu mudahnya dia membolak balikkan hatiku. Nampaknya aku terlalu sibuk memikirkan keberadaannya. Aku hanya mencoba terus mengingat ngingat semua kalimat yang dikatakannya kemarin malam –dan seingatku dia berjanji menemuiku di bandara ini. Lama sekali aku duduk manis di kursi tunggu, rasanya sangat tidak nyaman, walaupun terasa empuk. Mungki karena suasana hatiku saja. Satu jam kemudia wajahnya baru nampak persis didepanku dengan tatapan dan senyuman yang menawan, berjalan semampai, mengenakan celana jeans, kaos ketat biru dengan balutan blaser berwarna hitam kain beludru. Sangat sexi ditambah dengan sepatu high hillsnya yah meskipun hanya lima senti, tapi sungguh itu semakin membuat penampilannya semakin menawan. “lama sekali?”tanyaku dengan nada sombong tanpa bisa kutahan lagi. Sayangnya dia hanya tersenyum. Membuat leleh kemarahanku, lalu kuraih tanganya lalu kubawa kopernya “taxi yang kunaiki mengalami kemacetan di ahmad yani! Katanya pelan. “bukan maalah!” ujarku sambil berbohong. Hatiku mulai tenang, kini dia sudah duduk bersandar dibahuku. Sungguh bukan main hebatnya perasaan ini mempengaruhiku. Seorang pramugari menawari kami segelas minuman, aku menerimanya begitu juga dia, ntah kenapa seusai itu perasaanku semakin tidak karuan rasanya ingin sekali rasanya kukecup bibirnya, setelah sekian lama aku tidak melakukannya secara resmi sejak dua tahun yang lalu. Sengaja kuminum air yang gelasnya baru saja dia minum. Ujung bibir gelas masih menempel lukisan bibirnya yang berwarna natural mate. Melihatnya saja hatiku bertambah bergelora, ntah mengapa aku tiba tiba saja berfantasi yang tidak tidak, aku ingin sekali menciumnya. Jantungku semakin berdebar ketika kontan wajahnya menatapku. Serasa kontak matanya memberi isyarat bahwa lampu hijau itu untukku. Aku ragu dan masih ragu hingga – saat aku mendekatkan bibirku beberapa secenti dari bibirnya , nampaknya tidak ada penolakan. Walhasil kudekatkan juga, kulebur hasrat kami menjadi satu hingga tanpa sadar kami sudah melakukannya. Kami mulai tersadar ketika salah seorang pramugari menyela dan berkata “tolong kenakan seat belt” astaga betapa malunya kami, tapi aku pura pura tenang dan tanpa empati sedikitpun pada pramugari yang mengganguku, menikmati bibirnya. Kami hanya membisu, akupun tak pandai mencari obrolan. Rasa malu ini masih saja menggelayuti kami hingga penerbangan berakhir. Sesampainya di Jakarta kami langsung saja menuju hotel Mandarin oriental yang sudah aku pesan beberapa minggu yang lalu. Tentunya ini akan menjadi minggu keduaku yang sangat-sangat-sangat-sangattt besarrr. Disinilah permulaan kehidupan cintaku. Aku memesan connecting room, tentunya itu memudahkanku untuk menjaganya dari segi keamanan, aku bertanggung jawab besar pada orang tuanya meskipun mereka tidak mengetahui pasti. Aku meninggalkannya dimarnya menuju kamarku, meskipun aku bisa menggunakan pintu penghubung kamar, tapi sepertinya aku belum ingin mempergunakannya. Siang ini aku ingin sekali mengajaknya menikmati area hotel. Aku hanya tidak ingin dia merasa keletihan dan terlalu capek. Meskipun diab tidak keberatan bila langsung kuajak berkencan keliling menikmati Jakarta siang bolong. Kurebahkan badanku diatas ranjang, hotel ini cukup nyaman, ini untuk pertama kalinya aku mengunjungi tempat ini, lalu telfon kamarku berbunyi “apa boleh aku kekamarmu, atau kalo tidak kita bisa ketemu di lobby hotel, kudengar mereka sedang ada pameran lukisan gallery di ballroom!” suaranya merdu, tanpa menyahut dan hanya ku anggukan kepalaku saja. “oke aku tunggu di lobby hotel!”lanjutnya tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab diapun memutuskan percakapan. Huffttt sungguh tidak sopan. Secepat mungkin kuganti kemejaku yang belum sempat kurapikan dari travel bag-ku. Kusambar saja yang ada pada posisi teratas, warna putih kukenakan sweater warna merah burgundy. Kurapikan tatanan rambutku, lalu kutinggalkan kamarku menemuinya di lobby hotel. Disana sudah kulihat dia suduh duduk manis dengan sebuah novel ditemani segelas fruit punch. Kali ini dia masih mengenakan baju yang sama hanya saja mengenakan syal biru muda sebagai ganti blasernya. Masih tetap cantik dimataku, kudekati meskipun dia tidak sedang menyadari kedatanganku. “kau pesan satu?” tanyaku dan dia hanya menggeleng. Salah satu waiter lobby mendekati kami dengan membawa sepiring kecil kue sacher dan opera lalu ditambah segelas cocktail untukku. Lalu waiterpun meninggalkan kami berdua tanpa mengusik keasyikan kami. Dia melempar senyum “cantikan dia?” tanyanya padaku yang membuatku terkejut.”dia?” matanay kembali mengikuti arah waiter itu berjalan. Baru kusadar dengan siapa yang dia maksud cantik “bukan dia tapi kau!” jawabku dengan tatapan tajam. Ekspresi wajahnya biasa saja mendengarku berbicara. “kau tidak sedang dengan sengajakan mengahbiskan novel setebal ini bersamaku di lobby?”tanyaku seperti lelaki tolol yang ingin diperhatikan. Kembali lagi dia tersenyum lalu menutuup novel LABARKA-nya. “thanks!” jawabku. “habiskan cocoktailmu, setengah jam lagi kuajak kau menikmati pameran! Perintahnya saat pergi mendekatkan kursinya didekat kursiku. Reaksinya memicu jantungku berdetak keras, aku ini calon dokter, kenapa aku tidak bisa menguasai lawanku, apa aku sakit? Tanyaku dalam hati. Aku merasa tidak karuan dibuatnya, pesonanya begitu melekat kuat melebihi sesuatu yang pernah kukenal. Dia kini berubah, dia lebih bisa berpenampilan dewasa dan sangat luar biasa menggodaku. Aku memaksa diriku untuk sadar keluar dari lamunan, ini nyata kenapa aku masih tidak percaya. Dia ada dan nyata didepanku. Yang kini memotong kue opera dan sacher menjadi beberapa bagian. “nikmatilah, kau tinggal tusuk lalu jejalkan kemulutmu, kunyah pelan dan nikmati sensasi rasanya!”. Kupatuhi saja sarannya, kam melakukan hal yang serupa , dna menghentikannya tiba tiba ketika salah seorang pria bule dengan uniform ala chef menghampiri meja kami. Kontan aku kaget melihat bule itu menyebut namanya hingga membuatnya bangkit dari kursi untuk menjabat tangan pria itu, chef itu tidak berhenti begitu saja saat dijabat tangannyam diapun pergi memeluk kekasihku. Sungguh aku ingin melerai mereka, tapi kuarasa tak perlu saat kulihat bahwa dia berusaha kerasa melepaskan tubuhnya dari pelukan pria itu. Syukurlah kalo sadar gerutuku saat itu. Aku tidak suka kalo dia membuatku cemburu, aku tidak bisa menahan agar tidak terlihat, aku hanya bisa merefleksikan saja kebentuk yang semakin jelas, chef-nya pun menjabat tangaku dengan terpaksa aku meraih jabatannya dan memaksakan diri untuk tersenyum dan pura pura nyaman dengan pembicaraan mereka. Tak lama kemudian chef itu meninggalkan kami. Kutangkap dari pembicaraan mereka sudah lama saling mengenal satu sama lain, dari pembicaraan mereka ada satu kalimat yang membuatku tersenyum saat dia memperkenalkan aku pada chef itu sebagai kekasihnya. “dia dari Italia – emm namanya Mitille , dia kekasihnya temanku “ terangnya dengan senyum “dia bekerja disini, dia suka memanggilku dessy duck yah mungkin terinspirasi dari walt Disney!” tambahnya. Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya, sekedar tidak rela kalo chef itu memanggilnya dengan sebutan dessy duck. Kami kembali melanjutkan acara untuk mendatangi pameran lukisan yang ada di hotel ini. Semuanya bagus, ingin sekali aku membeli salah satu dari yang mereka pamerkan, hanya saja ku enggan untuk kerepotan membawanya. Karena aku masih tidak ingin mengacaukan semua rencanaku. “berdirilah disana , bergayalah natural karena aku ingin mengambil fotomu dengan background lukisan ini!” sambil kutunjukkan salah satu lukisan yang tadinya ingin aku beli. Ini hanyalah sebuah lukisan kuda hitam yang berjalan disekitar pesisir pantai tanpa ada yang menghalangi. “oke! Aku suka kuda” jawabnya singkat sambil bergaya serasa seperti siap kuambil kecantikannya. “perfect . one more time please! Smile smile ready! Good girls!” kini dia mendaangiku dan kembali menyuruhku untuk berpose seperti yang kuperintahkan padanya. “pilih lah back groundnya sendiri!” katanya sambil menggandeng tangku berjalan mengelilingi galeri. Kami berhenti disebuah patung angel didekat air mancur disekitar luar ballroom.”bagaimana kalo disini!” tanyaku padanya. Dia hanya mengacungkan dua jempol tangannya. “oke. Tunggu sebentar!” tanyaku. Lalu aku pergi menemui seorang pengunjung untuk kumintai bantuannya agar bisa mengambil foto kami. Namanya Lukas, aku berterima kasih padanya karena dia bersedia membantuku. Meskipun kekasihku sempat terkejut saat kusambar tangannya diapun jatuh dipelukanku. Ekspresinya begitu natural , menambah nilai seni yang kuburu. “kau sengaja ya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk lalu dia menyudutkan sikunya kea rah perutku hingga aku meringis kesakitan. Hari hari selanjutnya kami lewati dengan lebih menarik, mulai dengan keliling museum kegemarn kami, hingga memburu beberapa kerajinan perak, diner romantis, mancing di ancol, bahkan kami berdansa sesusai menikmati festival java jazz yang kebetulan sedang digelar kala itu di Jakarta. Hari ke empat kami pindah ke hotel Mulia yang letaknya tepat dijantung kota Jakarta. Kali ini aku menggunakan voucher yang Papa berikan sebagai hadiah. Hotelnya lebih besar megah menarik dan sangat luar biasa indahnya. Sengaja menjadi pilihan ku yang kedua dengan alasan aku ingin merayakan ulang tahunnya berdua disini. Kudengar tempat ini cukup romantis unutk pasangan yang lagi tergiur asmara, dan begitulah kondisiku saat ini. Ntah sengaja atau tidak voucher ini hanya bisa digunakan sebagai pasangan dalam arti voucher itu hanya memiliki satu kamar dengan satu tempat tidur berukuran besar. Oh Tuhan hal gila apa lagi ini. “sudahlah tidak masalah, disitukan pasti ada sofa yang nanti bisa kita funsikan, lagipula kau tau ini long vocation jadwala semua hotel pasti penuh!” ujarnya sembari menarik lenganku di depan reception – yang sempat kulirik kalo mereka tersenyum saat mengawasi kami. Akupun hanya diam sedikit ekspresi bingung. “sudahlah! Kalo kau tidak nyaman kita cari tempat lain?” lanjutnya. Oh bodoh kataku dalam hati tentu saja aku terlalus enang sehingga aku bingung kalo kaulah yang akan menolaknya – tapi bila ekspresimu seperti ini tentunya aku akan senang mengatakan YA YA YA aku setuju. Aku mencoba tersenyum santai –“bagaimana?” tanyanya “oke!” jawabku. Kembali ku baca dan ku isi beberapa formulir yang mereka ajukan, lalu kukeluarkan beberapa lembar seratus ribu untuk syarat deposit. “satu juta kami terima ya Pak Yoga?” kata Reception itu, dan dia tersenyum menyapa kami berdua, aku hanya mengangguk mencoba tidak menghiraukan mereka. Karena senangnya aku melihatnya tidak menolak sedikitpun untuk sekamar denganku. “baik pak semua sudah beres, ini kunci kamar nomer 9014 dengan view yang bapak inginkan. Selamat beristirahat semoga bulan madu anda menyenangkan!” lanjutnya yang sempat bikin kami berdua menoleh bersamaan, aku tersenyum ketika dia mengatakan “thanks!” sambil lalu pada reception itu. Dia mendahului langkahku dan berjalan beriringan dengan seorang bellboy yang membantu membawakan bawaan kami kekamar 9014. dia mungkin tidak sadar bila aku memperhatikan langkahnya yang begitu cepat, gaya inilah yang membuatku tergila gila padanya. Dia wanita yang tidak pernah dengan sengaja menarik hati dan pandangan lawan jenisnya. Buatku ini luar biasa.ketika sampai dikamar 9014 bellboy yang membantu kamipun segera meninggalkan kami setelah menjelaskan area kamar dengan detail dan fungsinya. Sejak detik langkah terakhir bellboy itu meninggalkan kami, tiba tiba saja aku menjadi gugup dan tidak tenang ada saja yang ingin aku lakukan tanpa aku bisa berkonsentrasi sedkitpun. Kini dia berdiri didepan lemari baju dan menggantungkan baju baju kami menjadi satu, lalu pergi membuatkan sepoci the panas yang sudah tersedia di room paintry, lalu pergi melihat koleksi mini bar yang disediakan pihak hotel. Sedangkan aku , hanya diam duduk di sofa tamu tanpa melakukan apa apa, hanya mengotak ngatik ponsel saja – sekedar menghilangkan kegugupan. Kami sama sama diam tanpa ada yang bisa memluai pembicaraan, apakah dia juga gugup? Entahlah aku tidak tahu pasti, yang kulilhat dia lebih tenang daripada aku. Saat dia melepaskan high hillsnya, dia mendatangiku dengan membawa sepoci teh dan beberapa kue muffin yang dibelinya semalam. “buku yang kau bawa banyak sekali?” memulai menyapaku, aku diam dan hany tersenyum seperti biasa sembari mencoba meraih dua cangkir keramik lalu mengisinya satu persatu dengan teh buatannya. “harum baunya?” hanya sekedar basa basi saat melihat dia membolak balikkan beberapa diktat kedokteranku. “oh – ya, kurasa itu crysantemum milik twinings! Kebanyakan hotel memakai jenis itu!” jelasanya dengan nada santai tanpa menatapku “mandilah dulu sudah kuisi bathtub nya dengan air hangat, kalo tidak salah aku juga membawa aroma terapi, kalo kau mau biar aku keluarkan sekarang?” aku hanya menggeleng lalu meninggalkannya. Aku berusaha sekuat tenaga menguasai hasrat dan luapan emosiku yang sudah lama terpendam, aku tidak mau dia mencapku sebagai cowok brengsek – tidak aku tidak suka itu. Aku tidak ingin karakter buruk menempel dan manjadikannya gelar untukku. Akupun sebisa mungkin mandi, sesantai mungkin menghadapi pesonanya yang tidak pernah terlewat sedetikpun olehku. “hyo , Yogi menelphonemu- tapi tenanglah aku belum mengangkatnya” katanya sembari berteriak tanpa mau mendekat sedikitpun kearahku. Mungkin karena tempat ini sedikit transparan, jadi dia sedikit jengah mendekati ruangan ini. “angkat saja, bukan masalah besar, Tanya saja apa perlunya!” teriakku kembali. Dan sepertinya dia mengangkat panggilan itu. Ternyata Yogi hanya menggodai kami takut kalau kalo moralku sudah merosot. Kulihat dia tertawa mendengar kometr Yogi, yah aku tahu apa yang mereka perbincangkan. Andai aku bisa seperti yang Yogi pikirkan, tapi aku tahu ini dosa bila kami belum menikah. Malam ini aku berencana mengajaknya pergi kelantai dansa, aku ingin sekali melakukannya berdua dengannya. Setelah semua urusanku kamar mandiku selesai, kutemui dia sedang asyik membaca novel dengan kacamata birunya, tubuhnya membujur santai diatas bantal dengan penuh konsentrasi yang luar biasa saat bersentuhan dengan halaman halaman novel. Yah Tuhan betapa sexi-nya dia diatas ranjang dengan rambut terurai, kaki membujur serasa seperti seekor domba yang tengah pasrah akan terkaman harimau. Tak sedikitpun dia menyadari kedatanganku, tentu saja tidak sadar, bila kedua telinganya tertutupi handset boom monster dengan pemutar cd yang diputarnya. Jadi terpaksa tanganku menyentuh bahunya untuk menyuruhnya mandi. “mandilah, aku ingin kita makan malam restoran atas!” sapaku lembut tanpa mengurangi kesan tegas. “baiklah! Kupikir kau belums elesai, mandimu lama sekali soalnya!” novelnya diletakkan begitu saja diatas tempat tidur- bangkit sambil memegang lenganku yang seperti kesetrum. Akupun meninggalkan ruangan itu, akupun ngeri bila harus melihat bayangan tubuhnya tergambar didinding kaca kamar mandi yang eksotis itu. “aku tidak punya baju pesta!” katanya sambil membuka isi lemari, “tenanglah, aku punya gaun untukmu!” jawabku setenang mungkin “mandilah dulu nanti biar kusiapkan yang mana yang akan kau pilih?” kembali kunikmati teh yang tadi sempat kutinggalkan bersamanya, semua ini adalah awal dari kisah asmaraku yang semakin memuncak setiap waktunya, aku selalu ingin menghabiskan waktui bersamanya. Pabila ini mimpi tentunya aku tidak akan ingin bangun agar aku tidak kehilangannya. Kusempatkan diri mengisi buku diary-ku sedetail mungki tentang tempat dan tanggal waktu kami bersama. Aku mendengarnya bahagia menyanyi dalam kamar mandi meskipun aku tidak terlalu menyukai lagu milik Five- until the time is through. Kubuka satu travel bag-ku yang berwarna biru, isi travel ini sebagian besar adalah hadiah yang akan sengaja kuberikan padanya sebagai souvenir kebersamaan kami, meskipun terkadang aku masih menilainya kurang. Karena malam ini special jadi kupilih satu baju berwarna merah maroon dengan potongan sexdress dengan lengan pendek dan beberapa bordir berwarna hitam disekeliling leher yang akan melilitnya. Harapku hanya -semoga dia menyukainya. Kuletakkan baju itu didalam sebuah kotak hitam tanpa kupasang penutupnya lalu kuletakan diatas meja rias. Lalu aku nergegas mennggalkannya begitu saja karena kupikir dia akan mengerti maksudku. Dan saat kudengar langkahnya berjalan mengambil kotak itu, aku masih saja berpura pura cuek tanpa ekspresi, meskipun mulutku ingin sekali mengatakan semoga kau menyukainya tapi itu tidak sampai terlontar dari ujung lidahku. Perintah hatiku adalah ingin membalikkan badanku pergi mengamati penampilannya, tapi sayang ego-ku membiarkannya begitu saja. Aku hanya bersiap siap merapikan stelan busana malamku. Dan ketika aku kembali untuk mengambil jam tanganku, betapa aku begitu terpesona dengannya saat melihat penampilan yang sederhana tapi berubah elegan. Wajahnya terias rapi, rambutnya tercepol rapi dengan sedikit semprotan spray yang dihias dengan penjepit rambut pesta. “kau cantik!” sapaku hangat dari balik punggungnya yang tertangkap cermin. Dari balik dia berkata “mungkin karena gaunnya yang cantik, jadi aku terbantu!” lanjutnya “ thanks, ukurannya pas dengan tubuhku, desain dan warnanyapun aku suka?”- kami tersenyum dalam cermin ,”syukurlah kalo kau menyukainya! Kau tampak cantik dengan warna maroon, ditambah dengan kalungmu itu sangat sempurna! Dan kalo kau siap kita bisa pergi sekarang”. Kami bergegas pergi kesebuah restoran mengahabiskan malam berdua. Aku merasa sangat luar biasa bila dia berada didekatku. Tangan kananya kukunci dengan tangan kiriku, kami berjalan setenang mungkin seperti sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Beberapa orang yang kami lewati beberapa diantaranya menyapa kami dan berbasa basi mengucapkan selamat meskpun kami tidak saling mengenal. “aku suka malam ini!” kontan aku menoleh dan berkata “aku mencintaimu D ! semoga kaupun mengerti” diapun tersenyum “I LOVE YOU TOO”. Malam itu begitu indah kami menghabiskan malam menikmati beberapa hidangan malam dengan segelas wine sebagai pelengkapnya. Dia memang tidak pandai berdansa tapi dia pintar menyesuaikan diri dengan gerakanku. Ya tuhan aku ingin sekali kelak dia menjadi istriku karena aku sangat teramat sangat mencintainya sepenuh hatiku. Belum pernah aku merasakan cinta yang luar biasa sebelumnya. Malam itu kami pergi ke tempat hiburan lain yang lebih hidup bagi kami. Yah kami pergi menikmati teathrikal di taman Izmail Marzuki. Kugenggam tangannya sepanjang malam tanpa kulepaskan sedetikpun. Kupeluknya erat bila ada kesempatan, kucium pipinya, diapun membalas ciumanku dengan mesra, matanya sedikit sipit malam itu mungkin rasa kantuknya yang timbul. “I’m feeling blue!” lontarnya saat megecup bibirku- aku tersenyum sembari mencium tangannya “i don’t wanna lose you!”. Kami berpandangan meskipun diriuhnya para penonton yang sedang bertepuk tangan untuk penampilan para actor pemain teater. Meskipun tontonan teater sudah berakhir kamipun masih duduk dibangku yang sama , yah hanya kami berdua saat itu. Dia menidurkan kepalanya dibahu kiriku, kami mengobrol seperti orang yang sedang akan melangsungkan pernikahan. Kami membahas mulai dari hal terkecil hingga kami berdua menjadi tua renta nantinya. Semua itu terasa manis – manis sekali, hingga aku tidak tega bila aku harus mengakhiri Desemberku. Tapi aku harus membuat pilihan untuk masa depan, aku harus mengorbankan salah satunya terlebih dahulu unutk mendapatkan semuanya. Rasa cintaku padanya tidak bisa terbendung, tapi cita citaku sangat penting untk janjiku pada mama. Semua adalah pilihan sulit untukku, aku tidak ingin impian mamaku hilang, yah mereka adalah dua wanita yang sangat kucintai di bumi ini selama aku hidup. Mungkin rasa cintaku ini akan habis bila aku sudah mati. Dan meskipun mati nama mereka pasti masih ada dalam hatiku – Tuhan tau itu. Kami kembali ke hotel dengan taxi sesampainya disana jam tangan kami sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena wine yang kuminum tadi. “kau bisa jalankan?”tanyanya saat turun dari taxi.”yah- yah tentu! Aku bisa!” kakiku masih bisa menapaki lantai meskipun kepalaku sedikit pusing, lain waktu tidak akn ku ulangi meminum wine langsung tiga gelas. Niat ku tadi hanya sekedar untuk menghilangkan rasa gugupku bersamanya. Dan itu berhasil meskipun sedikit konyol karena aku sedikit mabuk. Di pagi harinya saat aku bangun pukul delapan pagi, nampaknya justru dilah yang tertidur di sofa. Aku menjadi prihatin karena ulahku semalam, kenapa bukan aku yang menjaganya tapi kenapa justru dia yang menjagaku, aku terbangun dan masih saja terdiam di ranjang memandanginya yang masih tertidur pulas di sofa meskipun sudah jam delapan pagi. Kuabadikan posenya yang tertidur itu dengan beberapa jepretan kamera Nikon-ku. Dia masih cantik meskipun dalam kondisi tidur. Tiba tiba ada telephone dari pihak hotel yang menanyakan apakah kami akan sarapan di retoran yang meraka tawarkan ataukah menu sarapan kami harus diantar di kamar. Aku hanya buat keputusan kalo aku akan dating saja kerostoran untuk mengambil sendiri jatah sarapan pagi tanpa memfungsikan room service. Sebelum aku membangunkannya aku bergegas mandi. Dan setelah mandiku selesai ternyata dia sudah bangun lalu pergi merapikan ranjang yang semalam aku tiduri. Aku melarangnya merapikan itu untukku “D- jangan kau rapikan, nantikan ada room service yang bertugas saat kita pergi!” aku sedikit marah tapi sepertinya dia tidak menghiraukannya “pergilah mandi ini sudah jam sembilan kurang, bisa bisa kita kehabisan menu sarapan pagi, cepatlah aku tunggu kau disini!”. Tak lama kemudia kampun sudah siap mengambil menu sarapan pagi. Kami duduk direstoran yang berdekatan dengan jendela yang bertirai, disampingnya ada piano, sebelum aku memainkannya akupun meminta izin pada salah satu staf untuk mengantongi izin. Aku menyayikan lagu kesukaannya, dan itu membuatnya tersenyum pagi ini, sengaja kulakukan ini, karena tepat jam dua belas malam nanti adalah ulang tahunnya. Beberapa tamu menepukkan tangan mereka untukku, bahkan ada beberapa orang yang mengira kalo akulah yang sedang bertugas menghibur mereka. Aku tersenyum mendengar permintaan maaf mereka. “Hyo, kau selalu membuatku tersenyum! Terimaksih untuk semuanya!”sapanya saat kami hendak mengunjungi gym untuk fitness berdua. “tentunya karena aku mencintaimu!”. “bagaimana kalau kita balapan renang?” jawabku mengalihkan pembicaraannya yang mulai membuatku gugup. “aku pasti kalah, bagaimana kalo kita balapan berjalan cepat!” jawabnya. “bagaimana kalo keduanya!”lanjutku sambil menceburkannya dalam kolam renang. Tawaku terbahak bahak melihatnya yan jatuh tanpa persiapan, tapi tina tiba tawaku berhemti ketika melihat dia yang tidak kunjung muncul muncul kepermukaan kolam selama semenit. Aku kebingungan “oh tidak –tidak- tidak-D-Des, ayolah kau tidak berguraukan!” aku bergeges masuk kolam dan mengambil tubuhnya yang tenggelam untuk kutarik permukaan,aku panik saat matanya terpejam. Tubuhnya terbujur dilantai dengan warna pucat, kuraba hidungnya yang masih bernafas , detaknyanyapun masih berdetak meskipun tidak kencang, aku mencoba memberikan nafas buatan, perutnya ku tekan tekan lalu keberikan kembali nafas buatan. Aku masih bingung kenapa matanya tak kunjung terbelalak, aku takut tubuhnya menjadi kaku, lalu kuambil baju kimononya untuk kupasangkan di badannya,kutekan tekan kembali perutnya agar air yang tertelan bisa dimuntahkan lewat bibirnya. Kuberikan kembali nafas buatan. Tiba tiba saja jantungku terpacu lebih cepat saat menyadari bibirku telah tergigit olehnya, dengan mesranya tangannya menarik kepalaku lebih dekat kewajahnya. Rasa dingin yang awalnya menyerang kami kini beruibah menjadi kehangatan yang siap melelhkan hasrat kami. Sungguh malang kenapa aku bisa terperdaya olehnya , saat aku benar benar menikmati ciumannya tiba tiba sja kaki kirinya menendangku hingga kau terjatuh ke kolam sepertinya tadi. Kini berganti dia yang menertawaiku habis habisan. “kau curang!”teriaknya yang menarik perhatian tamu hotel. Tapi kontan merekapun mengikutinya untuk menertawaiku. “sorry!ulurkan tanganmu” jawabku sedikit mal malu saat aku mulai menyadari tidak ada seorangpun yang membelaku seperti mereka membelanya. Tangannyapun terulur dan kali ini aku kembali sengaja menariknya agar dia kembali jatuh dikolam bersamaku. Ternyata aku berhasil. Kini kami kembali di dalam air meskpun hanya sekedar untuk bercengkrama sambil meminum brandy bersama para tamu yang lain disekitar poolside. Otakku bekerja keras unutk merayakan ulang tahunnya nanti malam dan besok pagi. Aku ingin semuanya special. Aku ingin dia selalu bernahagia bersamaku, aku ingin hanya aku saja yang bisa membuatnya sebahagia ini. Aku benar benar ingin berjodh dengannya.”hei- apa yang kau pikirkan?” tanyanya padaku sembari mengambil daun yang menguning jatuh tepat diatas kepalaku. “besok adalah ulang tahunmu, co katakana padaku apa yang kau inginkan!”tanganku pergi menjelelajahi rambutnya yang panjang dan masih harum itu. Dia hany terdiam sesaat melayangkan pandangan keats langit sembari memjamkan mata. Akupun hanya menikmati lukisan wajahnya “aku hanya ingin agar kau terus mencintaiku! Ntah mengapa aku benar benar jatuh cinta padamu, entah mengapa aku sellalu merasa terikat olehmu! Tanpa perlu ada syarat”jawabannya membuatku membisu tanpa berani kujawab satu hurufpun, aku tidak berani mengungkapakan apa yang ada di otakku. “kau tahu aku mencintaimu!” jawabku singkat. “yah!”lanjutnya beranang meninggalkanku, saat itu aku merasa dia sedih dengan kalimatnya sendiri tepatnya dengan jawabanku. Aku sangat mencintainya apa itu belum cukup untuknya, akupun sangat cemburu ketika dia mengencani seorang pria yang telah meninggalkannya dan merubah impiannya itu. Hatiku ikut sakit ketika pria brengsek itu meninggalkannya tanpa penjelasan karena mengawini perempuan lain. Tahukah dia bahwa bila jauh darinya akupun merasa tersiksa. Tidak- dia tidak akan tahu penderitaanku. Aku melakukan ini semua untuknya, aku hanya meminta dia untuk bersabar untuk beberapa tahun kedepan. Aku berenang mengejarnya lalu memeluknya. “percayalah padaku, aku sangat mencintaimu!”ujarku yang semakin membuat matanya berkaca kaca.”katakan padaku, apa yang kau inginkan diacara ulang tahunmu besok, ak ingin kau menerima kebahagiaan yang setimpal tanpa bisa kaulupakan selama hidupmu!”jawabku. kini dia tersenyum lalu pergi meninggalkanku sendiri di kolam renang bersama yang lain “kau mau kemana?”tanyaku pelan meratapi kepergiannya. “aku dingin Hyo,sepertinya kita sudah lama berendam!”lanjutnya, lalu aku berusaha mengikuti bayangannya kembali. Kami berbincang bincang lama tentang impian impian yang ingin kami arungi kelak. Impiannya sangatlah simple dia hanya menginginkan menjadi ibu rumah tangga dengan seorang anak lelaki dan seorang anak perempuanyang menemaninya kelak. “kenapa kau tidak ingin menjadi arkheolog lagi!” tanyaku. Hanya tersenyum sembari menarik bnafas dalam dalam, “entahlah, sepertinya Indonesia tidak terlalu menghargai nilai sejarah leluhur mereka!”jawabnya”sehingga membuatku enggan untuk terjun di bidang itu!”. Aku tidak percaya pemikirannya”benarkah? Apa bukan karena gaji PNS yang tidak menjanjikan untuk obyek itu ya!” aku terkekeh, diapun mengikutiku.”tidak tentu saja bukan karena gaji, tapi sepertinya aku sudah terkontaminasi olehdepartemen perhotelan yang kugeluti akhir akhir ini!”. Kami diam sejenak dan saling berpandngan lalu mengecup bibir masing masing. “kalau kau mau, ikutlah denganku ke jepang, atau mungkin kau mau menungguku menghabiskan masa studiku hingga aku mengambil jurusan spesialis penyakit dalam di jerman. Kalo kau mau kta bisa hidup disana?” lanjutku berusaha menarik perhatiannya.”kau tahukan aku ingins ekali menjadi dokter, disana kau bisa mengambil sekolah arkheolog, siapa tahu kau bisa meraih impianmu bersamaku di eropa kelak. Yang kutau orang eropa lebih bisa menghargai kebudayaan leluhur mereka. Ikutlah bersamaku. Kaupun pernah memepelajari bahasa dan kebudayaan jepang. So kau tidak akan terlalu susah, kaupun bisa belajar gratis tentang budaya jepang dikota Toyota- seperti yang kulakukan dua tahun yang lalu” dia hanya diam menerima penjelasanku, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Andai dia bersedia aku akan sangat berterima kasih pada Tuhan tentang ini. “aku belum siap untuk itu!”jawabnya singkat. Aku muram mendengar penjelasannya yang sangat pendek itu, sangat tidak imbang dengan panjangnya penjelasanku tentang tawaranku untuknya. “Hyo aku ingin sekali besok kita bisa makan malam berdua, dengan lampu hias kecil dimeja bersamamu lalu mendengar sayup sayup lagu kegemaran kita sampai pagi hari!”aku tersenyum memegang tangannya lalu mencium punggungnya yang terbuka dan halus itu. “hanya itu!”jawabku. dia hanya mengangguk tanpa mengatakan sesuatu. Aku mencoba meluluskan keinginanya, aku mencoba mencari informasi tempat paling romantis di Jakarta, aku berusaha mendapatkan beberapa desain meja yang memiliki kesan romantis lengkap dengan penampilan minumannya. Aku mencoba mebuka GOOGLE mencari beberapa tips dan saran saran jitu. Kuhubungi seorang reception di hotel Mulia hanya sekedar untuk meminta bantuan tentang keinginanku sebagai tamu hotel. Pihak hotel memberikan beberapa tawaran mulai dari tempat ataupun pemesanan untuk acaraku nanti. Pagi hari itu sebagai awalnya aku hanya menucapkan selamat ulang tahun saat dia bangun pagi nanti, aku tidak ingin mengajaknya begadang semalaman lagi setelah aku pusing berat karena wine di malam sebelumnya. Aku meninggalkannya sekotak opera cake dengan satu hadiah jam tangan yang disukainya. Kubungkus rapi dengan kertas kado warna ungu kesukaannya, sengaja kutaruh di meja samping ranjang lengkap dengan sebuket mawar merah yang segar dan harum. Aku meninggalkannya sendirian dikamar dengan segaja. Karena pagi ini aku sibuk sekali mempersiapkan special acara untuknya nanti malam. Aku berpesan pada room service agar mereka mengantarkan menu sarapan pagi ke kamar saja lewat door knob menu. Aku berusaha menghubungi RIzalyang kutahu pamannya memiliki beberapa kapal boat pribadi di wilayah ancol barangkali saja aku bisa menyewanya sehari saja untuknya. Tapi susah sekali aku menghubungi ponselnya. Hingga aku harus menghubungi Silvi pacarnya. Meskipuna ku sangat enggan sekali menghubungi Silvi, tai demi Dia aku melakukan ini. Baru lewat Sivi aku berhasil menghubungi Rizal, yang ternyata ponselnya memang sedang tidak diaktifkan karena Rizal sedang menginap di rumah Silvi. Saat aku sibuk mondar mandir mempersiapkan untuknya, aku baru sadar kalo dia sama sekali belum kucek apakah dia sudah menyempatkan diri untuk sarapan, jadi kuputuskan untuk kembali menghubunginya di Hotel. “kau dimana?” tanyanya sedikit kalut, sungguh aku suka bila dia perhatian padaku seperti ini. “happy birthday my sweat heart hope you always and always cant stop to fall in love with me.” Nada senyumnya terdengar olehku.”aku akan segera kembali dua jam lagi!”lanjutku. “kau dimana? Untuk nanti malam kau tidak perlu pusing, kita bisa makan disini berdua sambil nonton tv kabel, atau kita bisa jalan jalan malam disekitar monas!pulanglah aku khawatir aku juga tidak mau sarapan kalo kau tidak segera kembali!”ancamnya lalu menutup telphoneku. terkadang susah memahaminya, tapi aku sadar aku mencintainya dengan segala yang dimilikinya. Aku tidak ingin ancamannya menggagalkan indah Desember yang sudah aku susun sekian lama. Aku membayar orang untuk menata desain perahu boat ini. Kata Rizal orang ini adalah pegawai pamannya yang terpercaya jadi akupun mempercayai saja apa katanya, saat kuamatipun seleranya cukup bagus saat memberikan saran, diapun menawarkan diri untuk menjamu kami nanti malam. Aku tersenyum, aku hanya mengatakan padanya kalo ak akan datang ketempat ini tepat pukul tujuh nanti malam, aku meminta bantuannya untuk mempersiapkan beberapa kebutuhan yang aku butuhkan nanti malam, “pak Zainal, mungkin nanti ada beberapa orang yang membawa pesanan saya ke kapal ini, Bapak bisa tata sesuai dengan lay out yang saya gambarkan tadi. Terimaksih seblumnya atas kebaikan Bapak. Dia kekasih saya dan saya sangat ingin membuat kenangan yang paling manis seumur hidupnya. Saya hanya memohon bantuan bapak!”.Kujabat tangannya dengan memberikan beberapa lembar uang sebagai tipsnya. “Iya den bagus, biar saya persiapkan semampu saya? Jangan khawatir”tangnnya menolak pemberianku, tapi aku memkasanya dan tetap saja dia menolak. Dia memleukku seperti anak saja. Aku mennggalkannya, pergi menghubungi Rizal, kata Rizal dia kurang suka dikasih Tips. Orangnya memang total bila ingin membantu orang. Kini kembali kucek listku tentang apa saja yang aku butuhkan. Semuanya sudah kucoret karena sudah kupesan dan kubayar. Kini aku tenang kembali ke hotel untuk menemuinya, jarak dari toko yang baru saja aku kunjungi jadi kuputuskan untuk jalan kaki saja. Nafasku terengah engah ketika memasuki area lobby. Aku tidak percaya diri ketika mencium bau tubuhku yang tidak nyaman, maklum saja aku baru saja berjalan di jalan raya yang penuh asap dan teriknya matahari yang menyengat. Aku mampir sebentar ke toko bakery untuk memesan kue sacher dan opera lagi dan kuminta mereka untuk mengirim ke ancol menemui Pak Zainal dengan alamat dan nomer hanphone yang memudahkan mereka bertemu. Aku pergi membawa satu kotak permen coklat sebagai hadiah kecilku hari ini. Sesampainya dikamar 9014 dia membukan pintu untukku dengan cemberut dan muka tertekuk tekuk. Aku tidak suka itu, jadi kusambar saja pinggullnya lalu kuciumi bibirnya tanpa bisa dia berteriak meminta pertolongan. Lalu kupeluknya”happy birthday!” kulepaskan pelukanku kutuntun dia ke sofa yang kuamati masih rapi dengan menu makanan yang belum tersentuh sama sekali.”kau belum sarapan?”tanyaku penuh khawatir.dia menggeleng”memangnya kamu sudah sarapan?tanyanya kembali mengintrogasiku.”ayolah kita sarapan sekalian saja, aku tahu kau pastinya belum menelan apa apa pagi ini!”selidiknya. aku senang dia memperhatikanku. Kami keluar menghirup udara lewat balkon berpelukan sambil mengobrol, aku suka sekali suasana ini, yang semakin membuatku tidak tega meninggalkan Desember. Kenapa aku merasakan cepat sekali waktu berlalu,aku takut kehilangannya karena aku semakin mencintainya. Aku semakin sayang padanya, “kau sudah membuka kotak ungu itu?” tanyaku “aku mau membukanya saat kamu berada didekatku!”dia memancingku untuk tersenyum lalu aku mengangguk dan diapun segera membukanya pelan pelan”bukalah sesukamu, jangan perdulikan pembungkusnya!”saranku. diapun mengikutinya hingga terkejut dengan rasa bahagia yang meluap luap karena ku tahu sejak awal dia menyukainya.”kau suka?”tanyaku.”bagaimana kau bisa tahu?”jawabnya. “ekspresimu saat melihat Hugo Boss itu sangat sangat jelas bahwa kau sangat menginginkannya!”jawabku seraya memluknya lalu memasangkan jam tangan itu ditangan kirinya.”thanks! aku suka, I love you tapi bukan karena pemberianmu selama ini!”jelasnya yang membuatku prihatin mendengar penjelasannya yang membuatku prihatin” aku kenal kau sudah lama, jadi aku tidak mengkhawatirkan sedikitpun tentang pola pikirmu untuk mencintaiku. Jujur D aku sangat sangat mencintaimu, ikutlah denganku bila aku di jerman nanti!”. Dia tersenyum hanya tersenyum lalu menangis dipelukanku “kenapa kau tidak mengatakannya sejak dulu Hyo!”tanyanya. aku terdiam meyakinkan diriku sendiri mengapa pertanyaannya tidak bisa kujawab. Padahal aku memang sudah mencintainya sejak lama. Aku hanya bisa menjawabnya dengan lebih mengeratkan pelukanku, lalu mencium pipinya. “aku tidak akan melupakan Desember ini Hyo!”suaranya terdengar parau.”begitu juga aku D, aku ingin akan ada Desember berikutnya yang bisa menyatukan Kita, aku harap kau mengerti dan memahamiku!” jawabku sedikit terbata bata.
Tepat pukul tujuh malam kami sudah sampai di ancol tepat diatas perahu boat yang sudah kupesan. Aku senang dengan bantuan Pak Zainal, begitu juga dia “indah sekali!” tukasnya saat mengitari kapal.”kita habiskan malam ini dikapal!” sapaku. Malam romantis ingin selalu kuciptakan untuk menghangatkannya dan mendekatkan pikirannya masuk kedalam jiwaku. Dia begitu cantik dengan balutan gaun pesta tosca yang kuberikan siang tadi, mataku tak sanggup berpaling sedikitpun padanya. Jiwaku semakin menggelora, aku tidak ingin terhanyut berlebihan menikmati kebebsan kami. Aku tetap ingin selalu menjaga jiwa raganya utuh dimata Tuhan. She’s drive me crazy all this time, always easy to see when my heart jumpin’.always on my mood
“berdansalah denganku bersama musik Dave Koz the Dance!”ajakku meraih tangannya sembari kucium punggung tangannya. “aku tidak bisa!”jawabnya. “ayolah D- aku tidak sedang mengajakmu dengan irama tango atau salsa, atau breakdance! Ayolah sayang, please jangan kacaukan Desember-ku!” aku memohon penuh harap lalu kutatap matanya dalam dalam. Kamipun berdansa hingga beberap lagu terputar. “satu lagu tidak pernah cukup, bila aku menginginkan berdansa denganmu!- kau tahu , kau sudah seperti candu bagiku sejak dibandara Soekarno –Hatta dua tahun yang lalu!” terangku saat berdua menikmati malam disekitar ancol. Angin malam menyapu wajah kami hingga dingin”I love you!”dia hanya tersenyum mendengar kata itu meskipun sudah ku ulang berulang ulang kali. “yah aku juga! I love you too, remember me – I’m always be there when you need me!” jawabnya menirukan gayaku saat dulu aku hendak meninggalkannya. Malam itu semakin terasa membuat kami melayang, kami hanya menghabiskan malam dengan mengobrol diluar kabin. Ketika dia tidur dipangkuanku aku kembali mengamati wajahnya, kusibakkan rambutnya, kucium bibirnya. aku bukanlah orang yang pandai berbicara seperti pria lain yang sedang dilanda asmara, hanya Diary ini yang juga menjadi jurnal goresan kehidupan cintaku. Disini kutulis semua yang sudah aku alami dan kurasakan sejak aku mengenalnya. Ternyata aku sudah lama sekali jatuh cinta padanya tanpa berani mengatakannya dari dulu she’s my beautiful ones. Aku ingin suatu saat nanti dia bisa lebih mengerti aku luar dalam. Kutatap langit malam yang bertaburan bintang dan bermandikan cahaya rembulan sungguh betapa cantiknya hidup ini. Ketika aku asyik menikmati malam, tak sengaja aku telah membangunkannya. Wajahnya bermandikan cahaya rembulan, suarany merdu menyapu gendang telingaku”sepertinya aku tertidur lama?” tangannya yang halus menyapu rambutku hingga membelai pipiku, ingin sekali kurenggut bibirnya yang manis unutk membasahi dahagaku. Tapi sudahlah aku tidak mau terlalu sronok dengan hal seperti itu. “tidak- kau hanya terlelap sebentar saja, mungkin karena tiupan angina. D- ?” kuterdiam sedetik. “yah “jawabnya. Lalu dia bangkit dari pangkuanku dan berdiri diujung kapal lalu aku berjalan mendekatinya dan kembali memeluknya, rambutnya yang panjang menampar wajahku betapa malu aku dibuatnya. Aku merasa semua ikan laut telah memperhatikan kita berdua yang sedang bermain teater diatas panggung.dia tersenyum membalikkan tubuh menatap wajahku lekat lekat. Kini ditambah tangannya melingkar dileherku serasa jari jemarinya siap mencekikku “ katakan saja aku selalu siap untuk semuanya. Bahkan bila kau ingin pu -!” aku benci kalimatnya, terdengar sinis hingga kubungkam saja mulutnya yang kecil itu agar diam tas meneruskan susunan kalimatnya. Sepertinya dia sadar”maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk itu!” matanya mulai sayu saat memohon. Akupun memeluknya,”aku ingin sekali kita bisa menikah suatu saat nanti bersama mu, aku ingin bercinta lalu kita membina keluarga dan memilliki anak – D aku ingin kau menjadi istriku!”kami lama terdiam dan hanya berpelukan. Aku sedih kenapa aku tidak bisa meredam ambisiku. “hold me don’t ever let me go!”dia mendengarkan da berkata “say it again!”sambil kembali mencium bibirku “hold me don’t ever let me go, coz I love you!”lanjutku. aku kembali mengingatkannya untuk meniup lilin. Kami mengobrol dengan menghabiskan banyak makanan hingga kami benar benar tidak kuat dengan hidangan yang sudah aku pesan, kami saling bergantian pose didepan kamera dan handycam. Kala itu kami berjanji untuk selalu mengisi hidup kami meskipun jika nantinya kami bukanlah sepsang kekasih yang berjodoh “I’ll take you up to the stars!” jawabku dan diapun menarik lenganku lalu mendekatkan bibirnya diujung hidungku” wherever we’re I feel it too!coz you always make me dizzy” terangnya. Kontan aku malu karena dia selalu bisa membuatku bergairah dengan semua kepribadiannya. Kami begadang seharian hingga fajar menyingsing. Kucoba untuk menjadi nahkoda dadakan, kubawa dia berkeliling lautan ancol. Betapa bahagiannya kami berdua tak ada lagi kesedihan menghampiri kami dan aku selalu merasa siap untuk hidup bersamanya hingga seribu tahun meskipun itu mustahil. Hari itu adalah liburan terakhir kami di Jakarta, karena hari berikutnya kami sudah harus mengunjungi Denpasar Bali.
Agar tidak makan waktu lama, kami melakukan penerbangan dengan Garuda Indonesia untuk sampai Ngurah Rai. Dan sesampainya disana kami langsung menuju daerah kuta disana ada beberapa hotel, dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memilih Grand Istana Rama persis didepan kuta Bali. Sempat aku ingin memilih Hard Rock Bali, hanya saja dia sedikit keberatan dengan alasan agar kantongku tidak terkuras habis. Dan kurasa itu benar, jadi akupun menyutujuinya meskipun awalnya aku kurang suka dengan hotel pilihannya. Selama liburan di bali kami jarang menggunakan transpotasi umum, kami cenderung menyewa dua sepeda untuk berkeliling kota. Bahkan kami lebih menyukai liburan dengan berjalan kaki agar terkesan santai. Udara di Bali lebih segar dan sedikit rendah polusinya dibanding Jakarta dan Surabaya. “Hyo , sebaiknya kalo Disini, kita ambil breakfast aja, lunch dan dinner kita diluar saja makannya kali aja kamu bisa lebih berhemat!” aku hanya mendengarkan ocehannya tanpa kupandang wajahnya, aku mencoba menelaahnya sedikit tapi setelah kupertimbangkan beberapa menit bvaru kujawab “baiklah, kalo maumu begitu!” diapun tersenyum. Kami banyak sekali menghabiskan waktu di beberapa taman Nasional dan beberapa pasar tradisonal untuk sekedar menghabiskan waktu berdua bersama. Suatu malam kami mengunjungi hard Rock café sekedar clubbing. Menikmati life music adalah kegemaran kami meskipun jujur saja aku kurang suka dengan segmen music yang mereka tampilkan. Terkesan bukan aliran music yang bisa didengar enak di telingaku, tapi karena alasan berdua bersamanyalah yang bisa kuterima. Dimanapun dia berada aku akan menikmati hidupku. Disana kami bertemu dengan temannya beberapa orang. Aku diperkenalkan sebagai kekasihnya, nampaknya itu kalimat yang sangat aku sukai bila dia mengatakan kenalkan ini Yoga kekasihku. Serasa mendengarnya aku seperti akan melayang bagaikan kapas tertiup angin. Mereka ngobrol tampak akrab hingga aku sedikit cemburu pada mereka, hanya aku tidak ingin memperlihatkan padanya. Aku bersyukur Tuhan mendengar doaku, dan tak lama dia meminta izin pada temannya untuk meninggalkan café karena ingin mengambil udara bebas disekitar jimbaran. “mereka semua temanmu?” tanyaku saat berjalan arah keluar meninggalkan hard rock. Tangannya langsung menggandeng tanganku. “yah mereka temanku, waktu aku masih kerja di hotel Westyn, hanya tidak terlalu akrab, dan salah satu dari mereka adalah teman sekampusku di jurusan yang sama. Satu diantaranya lagi adalah seorang Bos Butcher yang menawariku pekerjaan di Departemennya –emm tapi kutolak, kau taukan aku muntah kalo melihat daging merah!” jelasnya sambil menggenggam erat tanganku, aku hanya masih menduga kalo salah seorang dari mereka memiliki perasaa khusus padanya. Karena cara pandang pria yang kutatp tadi terkesan seperti ada api dimatanya. “kau tahu yang namanya Cahyo tadi?” lanjutnya, dan aku menoleh “ehheee, why?”sahutku penasaran. “dia menyukaiku, tapi karena dia playboy aku enggan menerima tawarannya menjadi asisten pastry di departemennya”. Ternyata benar dugaanku. Sorot mata pria itu terlampau jelas menampilkan kesan cemburu.”kenapa tidak kau katakana padaku tadi!”sahutku kesal.”memang mau kau apakan dia?” jawabnya tegas menoleh dan menghentikan langkahku. “yah, apa salahnya kalo aku menciummu didepan dia!”sahutku lugas.”seperti ini”lanjutku, kutarik lengan kirinya hingga mau terjatuh karena tidak keseimbangn tubuhnya, aku pergi mencari bibirnya untuk kembali kunikmati. “aku benci berpura pura unutk tidak mencintaimu!”dia membisu mendengarku, hanya pandangan khusus saat menatap wajahku serta merta bibirnya bergerak”jangan lakukan itu, aku suka bila kau selalu bersamaku. Karena disini bersamamu aku seperti tidak membutuhkan apa apa lagi”. Malam yang indah itu kami nikmati disekitar pantai kuta sembari makan coklat dan beberapa kacang mete kesukaanku. Kami duduk disekitar batu karang. Banyak pasangan muda dan Tua yang masih saja memadu kasih seperti kami. Semua terasa indah bermandikan cahaya Bulan dengan suara gagahnya deburan ombak. Kini aku semakin ragu untuk meninggalkannya sendiri. Aku berharap matahari akan selalu terbit di timur sampai aku punya kesempatan unutk menikahinya nanti. Aku memang mencintainya, akupun ingin menikahinya tapi tidak scepat ini tidak tahun ini atau tahun depan. Karena yang aku inginkan saat ini adalah aku ingin mendapatkan gelar kedokteranku terlebih dahulu dan untuk urusan wanita itu urusan ketiga setelah izin praktek siap aku kantongi. Perasaanku semakin tidak terbendung lagi unutk menikahinya. Tapi saat aku menatapi langit sebagian dari jiwaku selalu berkata if we can’t focus we can lose everything. Ketika kalimat itu terpatri dalam jiwaku serasa ada seseorang yang kembali untuk menampar pipiku keras keras agar aku tidak larut dalam perasaan lembek. Aku mendengar langkah kaki bergerak dibelakang punggungku, jari jemarinya bergerak diatasnya lalu berkata “apa yang kau pikrkan?” tanyanya manja hingga menusuk relung hatiku. “tidak ada – emm aku hanya ?” kuterdiam beberapa saat untuk mencoba berfikir sebentar. “tidak usah kau jawab kalo kau tidak ingin mengatakannya!”. Kamipun terdiam, “besok pagi aku ingin sekali mencoba bunge jumping seperti yang kulihat di tv tv!”dia tersenyum menatpku, aku hanya mengangguk tanpa berkata apa apa karena aku sudah berjanji dalam hati bahwa aku akan menuruti semuanya selama dia bisa bahagia.”kaupun harus menemaniku bermain banana boat?”lanjutku. “baik – siapp! ayo kita pulang “ jawabnya , aku tahu maksudnya. Tapi aku hanya pura pura bodoh saja menjawabnya “Surabaya?” tanyaku. “oke,s ekarang kita ke Surabaya!” lanjutnya. “ayolah aku cumin bercanda!” dia berlari meninggalkanku, lalu ak mengejarnya hingga kami berdua terjatuh dan tersungkur di sekitar pasir pantai “ohhh! Kau ini!” teriknya. Kami tertawa bersama saat kembali jatuh tersungkur untuk yang kedua kalinya. Lalu dia pergi berlari setelah merampas kamera analogku dan memotret wajahku sambil menertawaiku. Semakin kukejar langkahnya semakin dipercepat hingga terengah engah saat kami berada didepan halaman Istana Rama. Seorang bellboy menyapa kami tapi kami berdua hanya tersenyum pada mereka, bahakan hampir saja aku nyaris tidak menggubrisnya, kami berjalanmenuju lift sambil bercanda seperti anak kecil yang baru saja menang undian kolas. Aku tersenyum terkekeh, hingga aku baru tersadar saat ponselku kembali bergetar, dan ternyata Papa menghubungiku kembali setelah meninggalkan duapuluh satu kali missed called dan lima pesan. Aku menunjukkan ponselku padanya, lalu kami tertawa. Sambil menelphone papa di jam tiga pagi, aku mengantarnya pergi ke kamarnya unutk beristirahat. “masuklah sebentar!” pintanya saat menarik lenganku ketika aku hanay berdiri diepan daun pintunya. Akupun menurut dia mengambilkanku segelas orange juice yang disimpannya dalam mini bar. Saat aku masih mengobrol dengan papa dia hanya duduk disebelahku sambil menyalakan tv kabel mencari cari channel yang sesuai hatinya.sesaat dia mengikuti logat bicaraku dengan papa tanpa suara dan itu membuatku tidak berkonsentrasi, nampaknya papa tidak bisa kubohongi kalo aku berada dikamar sendirian. Kata papa jaga diri nak-jangan samapai setan hidup diantara kalian. “Pak Mogzar?” tanyanya, aku menggeleng “bukan – papa mertuamu ?” aku tertawa kecil, dan dia tersenyum manis sekali “papa bilang agar aku bisa jaga diri dan jangan sampai setan menemani hidup kita! Tapi kukatakan pada papa setannya cantik pa – aku tak kuasa kalo terus menerus menjaga diri!” jawabku terus terang sambil terkekeh dan hamper tersedak ketika meminum juz. Diapun menonjokkan tangan kananya pada lengan kiriku. “lebih baik besok kita tinggal satu kamar saja!” katanya tiba tiba mengejutkanku, aku bertanya dalam hati kenapa “kupikir kitakan sering menghabiskan waktu diluar hotel, jadi agar lebih hemat, kita tidur satu kamar saja, toh kamar ini luas dan ada satu kursi sofa panjang yang bisa kita fungsikan, kita juga bisa tidur bergantian antara di ranjang dan di sofa!” terangnya dengan bijak. Aku diam berfikir. “aku masih ada dan uangku masih cukup!” jawabku mencoba untuk menghilangkan kekhawatirannya. Tangannya menggenggam tanganku sambil menatap mataku “dengar hyo- aku percaya kau mampu secara financial, tapi alngkah baiknya kalo kita bisa menghemat. Aku percaya padamu – aku percaya kalo kau bukanlah pria yang mau memmanfaatkan semua situasi untuk merefleksikan nafsumu – dan karena aku tahu akupun percaya!” kami terdiam, tanpa kuberani tatap matanya yang sudah menatapku terlebih dahulu. “kau bisa pilih kamar mana yang akan kamu tutup, atau kita bisa cari losmen saja!” lanjutnya yang membuatku kaget. “Desy, aku tidak mencari losmen. Baiklah besok kita cek out, kalo kau memnag tidak masalah kita satu kamar, maka biarkan aku memilih dan mengatur hotelnya untu penginapan kita – kau hanya ikut apa kataku saja selama itu benar kau jangan protes!” dia terdiam mendengarkan ucapanku, kukecup keningnya “pergilah mandi lalu beristirahatlah, aku tidak ingin kau sakit “pesanku saat akan meninggalkan kamarnya. Aku memang letih, tapi keletihan ini selalu ada penwarnya, dialah obat penawar sakitku. Aku tidak ingin fisikku drop, kemanapun aku pergi aku selalu membawa vitamin yang biasa ku konsumsi. Aku tidak bisa tidur, meskpun capek, aku sibuk dengan kebahagian ini hingga tak jarang bila aku ingin beristirahat aku teropaksa harus menela sebutir obat tidur untuk merelexkan otak ku. Kubaringkan tubuhku diatas ranjang yang mepuk ini. Kubuka buka halam diaryku, kembali lagi kubaca apa saja yang pernah kutulis hingga akhirnya aku terbawa emosi saat membaca tulisanku sendiri. Aku tertawa, tertawa dan tertawa hingga akhirnya aku kembali bersedih saat aku mencoba menghindarinya agar aku tidak lagi mencintainya lebih dari sekarang. Hati dan pikiranku berlawanan tanpa bisa kulerai sedetikpun. Aku melayangkan pikiran ku jauh kedepan dan berkata dalam hati suatu saat aku akan menikahinya dan mengajaknya hidup dinegara manapun yang dia suka lalu berdua kami membesarkan anak anak kami. Alangkah bahagianya aku saat itu. Menjadi dokter adalah cita citaku dan menjadikannya istriku adalah impianku tanpa syarat. Hanya saja tidak sekarang . tanpa sengaja aku menitikkan air mataku dan menahan sesaknya dadaku. Kembali otak syarafku tersambar kalimat yang terus menancap kuat di otakku if we can’t focus we can lose everything. Aku berteriak keras tanpa takut bisa membangunkan semua tamu yang menginap. Aku bangun mengambil air untuk kubasuh mukaku. Didepan cermin kupandangi wajah pecundangku sambil kukatakan kuat kuat pada cermin don’t be stress don’t be stress don’t be stress.rasa kantukku tak kunjung muncul hingga aku kembali lagi menelan obat tidur. Untuk yang kedua kalinya malam itu. Siang harinya saat aku terbangun dia sudah duduk manis diatas sofa “selamat siang?”sapanya manis , mataku dibuatnya silau saat dia menyibakkan kelambu selebar lebarnya. “kenapa kau ini?” tanyaku sedikit kesal, tapi dia mengacuhkanku. Tangan kirinya dilentangkan didepan mataku, aku melihatnya mengenakan jam tangan Hugo yang kuberikan padanya sebagai ulang tahunnya di Jakarta minggu lalu. “yah aku tau itu kadoku!” jawabku ketus menahan silau menembus kornea mataku. Dia marah melototiku “lihatlah jarumnya!” sahutnya melebihi kemarahanku. “astaga?- aku belum sholat subuh” aku langsung bangkit begitu saja. Sial ocehku “kau sudah sarapan?” tanyaku khawatir dan dia menggeleng persis sesuai dugaanku. Aku lebih merasa berdosa telah membawa lari anak orang tanpa kuberi sarapan pagi. “kau boleh duluan turun ke restoran ambil makan? Atau mungkin kau bisa suruh mereka unutk mengantarkan sarapan ke kamar!”teriakku dari kamar mandi “sorry D aku buru buru belum sholat subuh?” lanjutku. Kudengar dia mengomel “Hyo sholat Dhuha-pun kau sudah terlambat klarena ini sudah masuk waktu dhuhur!” teriakya. Aku hanya bisa mumukul kepalaku dan menyiram kepalaku dengan air shower. “aku sudah menyuruh mereka mengantarkan sarapan pagi kita ke kamarku satu jam yang lalu!” aku senang mendengarnya mengatakan itu. Minimal itu membuatku tenang meskipun untuk sarapan pagi saja dia harus menungguku bangun tidur. Sekilas dari kamar mandi kulihat dia sibuk mondar mandir dari arah ranjang kea rah ruang tamu. Setelah ku selesai mandi baru aku tahu kalo dia sibuk menyiapkan sesuatu untukku aku mendekatinnya. Aku tak sadar bahawa aku masih mengenakan kimono nyaris setengah telanjan. Dan kontan dia menyuruhku untuk menjauh agar aku kembali mendekatinya dengan busan apria yang lengkap. Betapa malunya aku saat itu. Lalu aku kembali bersamanya unutk sarapan pagi menjelang siang. “kau mau kemana hari ini?” tanyaku – “bukankah semalam kau katakana kalao kau akan menemaniku buggy jump- kau juga bilang kalau kau mau menaiki banana boat?”tukasnya. aku lupa, kutelan ludahku membasahi kerongkongan, kenapa aku bisa lupa dengan semua rencanaku awal. “sorry sepertinya aku kurang istirahat saja” jawabku sesederhana mungkin. “baiklah kita tunda saja , aku tidka mau kau jatuh sakit, karena liburan kita kan masih lama. Jagalah kesehatan, kau kutemani ya dikamar saja, atau munkin kau mau lebh sedikit privasi mungkin jadi kubarkan saja kau sendiri di ruangan!” aku benci dia mengatakan itu.”nanti siang kita akan cek out, dan kita pindah ke Hard Rock saja ya?” jawabku membungkam mulutnya. “terserah!” jawabnya”kau susah sekali diajak berhemat, mungkin karena kau tidak pernah susah!”celetuknya. hingga aku menoleh baru mulutnya terbungkam. “aku tidak suka kau mengatakan itu. Kau masih ingatkan – aku hanya ingin membuat Desember tahun ini lebih bereksan samapai kapanpun!” lanjutku. Aku menjadi tidak selera makan setelah bahasan ini. Aku muram dan aku meninggalkannya di sofa. Aku duduk dibelakang meja kerja sembari membuka laptopku untuk mengecek inbox-ku. Lama sekali aku tidak mengecek emailku. Dan sudah ada lima puluh empat pesan dari teman sekampusku, Sathomi, Michael, Orlando dan katsuya. “aku balik dulu! Sorry” katanya sembari meninggalkan kamar setelah setengah jam aku biarkan sendiri karena rasa jengkelku. Aku diam saja tak menyahut, hingga dia benar benar akan emmbuka daun pintu kamar, aku mulai melangkah mengejarnya, dan pergi menahannya hingga kau hamper tersungkur di lantai.”pleas jangan marah, aku tidak ingin kau marah!” dia tersenyum membelai pipiku “kau kena – akukan Cuma pura pura saja!” dia terkekeh sambil menarik tanganku lalu menutup kembali pintu kamarku “aku sudah packing rapi semua barangku, kalo kau mau cek outs ekarang aku akan membantumu mengemasi semua barangmu!”. Aku menolak bantuannya, aku hanya menyuruhnya bersantai saja tanpa perlu membantuku. Toh ini tak akan makan waktu lama pikirku. Sambil berbenah akupun menghubungi Reception Hard rock untuk menanyakan beberapa kamar yang masih kosong. “bagaimana kalo tidak ada yang kosong?” teriaknya dari arah sofa memandangku. Aku masih memesan kamar beserta beberapa hal yang penting untuk aku tanyakan hingga semua selesai dan beres aku siap cek out dari hotel ini. “kenapa kau pilih hard rock?” tanyanya “karena kau dan aku menyukainya?” jawabku singkat. Du jam kemudia kami sampai di hard rock dengan berbagi kamar berdua. Disini lebih luas, dan lebih sedikit moderen dan minimalis. Semua terkesan lebih eksclusive khas budaya barat yang kental menghiasi interior designnya.”bagaimana menurutmu”tanyaku sekedar meminta pendapat kalo pilihanku tidak salah.”nice…. seperti menginap di hyatt regency!” lanjutnnya”mirip”. Aku senang dia suka. Hari ini kami hanya berkeliling hotel menikmati fasilitas yang ada, sengaja kami berdiam dalam satu gedung bangunan, kami menghindari luar, karena aku sedikit terasa lelah, diapun keberatan ketika kuajak bersepeda mengelilingi kintamani. Malam harinya kami sengaja beristirahat lebih awal setelah kami bermain catur dalam ruangan, sambil makan malam, semuanya terasa beda, setelah sekian lama kami tidak bermain catur. “besok aku ingin mengajakmu candle light diner di NUSA DUA, papa memberiku voucher makan disana “ jelasku dan berharap agar dia tidak keberatan untuk kuajak makan malam romantis .” aku suka!” jawabnya singkat. “tenanglah aku sudah membelikan yang kamu butuhkan!” lanjutku. “hyo sebenarnya aku membawa beberapa baju malam untuk kukenakan bila kau mengajakku ketempat yang formal, jadi kau bi-!” .”des berapa kali kubilang jangan perkarakan soal uang ataupun yang lain, jadi kumohon sekali lagi please jangan kau bahas ini!” terangku sambil menggertakan gerahamku. Aku hanya terus berfikir kenapa dia selalu saja membuatku kesal dengan topic yang sama, sudah kubilang berulang kali agar dia tidak terus menerus membahas hal yang sama. Ini semua ideku, dan aku sudah mempertimbangkan semua masak masak jadi ini semua tanggung jawabku. Sesaat kemudia aku kecewa karena sudah membuatnya tidak nyaman, jadi kuputuskan untuk mengajaknya menghirup udara bebas. “maaf kalo aku membuatmu marah. Aku hanya tidak mau membuatmu terbebani!”ujarnya saat aku berdiri dari sofa sambil mengambil sweater. “stop! Sorry – lupakan saja. Yang terpenting untukku saat ini adalah kau masih nyaman bersamaku – titik - tidak kurang apapun!” jawabku seraya memeluknya dan memaksa kepalanya untuk jatuh pada bahuku. Beruntunglah sejak kejadian itu kami berdua tak lagi membahasnya. Hingga malam malam berikutnya. Dari hari ke hari aku merasa dia kini semakin dekat denganku. Aku suka hal itu,serasa dia adalah belahan jiwaku yang tak pernah putus. Bila bukan aku yang memutuskannya. Sepanjang pagi kami bersepeda, disiang hingga sore hari kami berkelana di sepanjang jalanan Denpasar. Dan dimalam hari kami rutin mengunjungi jimbaran dan beberapa sajian live music. Semua terasa indah semua menyenangkan semua menggugah jiwaku agar terus membuatnya semakin memncintaiku. Kini tak ada lagi novel yang biasa dibawanya kemana mana, tak ada lagi waktu untuk membaca sendiri. Dalam diri kami hanya kamilah yang ada di planet ini, tak ada yang kami pikirkan selain Tuhan yang punya kuasa atas hubungan kami. Aku selalu ingin menjadi kunci bila dia menjadi pintu, aku ingin sellau menjadi tinta bila dia selmbar kertas. Tanpanya aku seperti raga yang tidak memiliki jiwa, tanpanya aku seperti bayi yang ditinggalkan sang ibu dan tanpanya juga aku seperti orang yang dilahirkan tanpa nama hingga tidak ada yang bisa memanggilku selain dia. Tak pernah dia kubiarkan berada di luar jangkauanku, aku selalu menjaganya setiap saat dan sekonsisten mungkin. Aku ingin selalu tertib seperti matahari yang tanpa letih menyinari bumi. Aku ingin seperti tata surya dalam galaxy yang selalu berputar pada rotasinya. Ya tuhan pintaku satu izinkan kami saling mencintai apapun kondisi dan bentuk kami hingga Izrail mencabut nyawa kami hingga Ridwan kembali mempertemukan kami di pintu Surga-Mu. Semua yang kulamunkan dan kupikarkan hanyalah dia seorang dan Engkau tau itu. Entah mengapa hati ini tidak pernah bisa berhenti untuk tidak memfikirkannya meskipun dia pernah meninggalkanku.
Tepat jam dua belasa malam di hari minggu dia berjalan pelan mendatangiku sembari membawakan sesuatu untukku. Hanya sepiring dessert kecil yang berisikan kue Opera dengan satu lilin merah diatasnya, diatasnya tertulis happy birthday Hyo berwarna biru velvet dengan satu cerry merah yang diletakkan disisi kanan. Manis sekali, ternyata dua jam yang lalu dia meghilang hanya untuk membuatkanku satu kejutan kecil disekitar poolside hotel. “selamat ulang tahun” katanya seraya memelukku lalu mengecup kedua pipiku,karena kurasa ada satu kecupan yang kurang, maka kutarik kembali lengannya dan kukecup bibir kecilnya yang manis itu “thanks” ujarku. Kulepaskan tangannya yang halus dan dia seperti merasa malu karena telah kucium. Tangan kirinya mengambil tas batik yang pernah kuhadiahkan beberapa tahun yang lalu. Entah apa yang dia cari, mungkin lipstick. Karena kilaunyatak lagi nampak, pikirku saat itu. Tapi ternyata aku salah, tangan kanannya mengeluarkan satu kotak terbungkus biru velvet dengan pita berwarna hitam untuk dia sodorkan padaku. Aku tersenyum melihat senyumnya yang murni. “semoga kau menyukainya” dia tersenyum dan tersenyum nyaris membuatku kikuk. “eitss – tunggu dulu, pejamkan matamu dan tiup lilin ini hanya sebagai symbol saja, baru kau boleh buka kadonya!”. “baiklah!”kataku seraya maju selangkah mengambil kue itu lalu kutip setelah kupejamka mataku saat berdoa. Hanay beberapa detik saja karena yang kuminta sudah kurangkum dalam satu kalimat sepadat mungkin “cepat sekali!”katanya .”apa yang kau minta?”tanyanya ulang. “sudahlah nanti kau akan tau, tapi tidak sekarang, so rahasia!”jawabku sengaja membuatnya penasaran. “ayolaahh- sedikit saja!”rengeknnya.”nanti-nantilah!”sahutku cuek. Kusuapkan satus endok pertama untuknya. Aku tahu dia suka opera sama sepertiku, bagi kami opera dan sacher adalah kue kebangsaan kami yang nikmatnya tiada duanya. “hyo-..! dia memanggil dengan mulut yang masih menguyah, kutempelkan jariku pada mulutnya agar terbungkam. Nyatanya dia tidak menghiraukanku.”yah tenang saja, aku pasti menghabiskan kue ini, sayangkan !” jawabku dengan gaya menirukannya bila sedang kesal padaku. “heh- bukan itu, maksudku apa yang kau minta tadi?”. Rasa penasarannya belum padam sepertinya, hingga harus kembali kutegaskan. “Des- kalau kuceritakan sekarang- kepadamu – tentulah bukan rahasia lagi sayang. Kau tahukan apa arti dari maksud RA HA SI A?”tekanku padanya agar dia bisa memendam rasa penasarannya. Aku sengaja melakukan itu, hanya untuk sekedar ingin berlama lama dengannya. Kami ngobrol dengan topik lain, hingga minuman yang kami pesan habis dan harus kembali memesannya lagi. “juz apel”jawabnya saat waiter mencatat pesanan kami,”kau pesan apa?”tanyanya padaku. Aku masih mencari mix juice yang tepat untuk kunikmati. “bagaimana kalo wotel di mix dengan semangka dan tomat!”sarannya untukku.”done! carrot mix tomato plus water melon!”terangku pada waiter tersebut. “two bottle sparkling water please!”lanjutnya. tak lama kemudia pesanan kami datang. Kamipun kembali menikmati opera yang dia belikan untukku. Kembali kuawasi kodo biru velvet itu, kuambil dan kubuka perlahan lahan pita hitam yang mengikatnya, lalu kusobek kertas kado yang cantik itu, hingga aku bisa melihat benda apa yang diberikan. Astaga – betapa terkejutnya aku. Aku tersenyum melihatnya saat mengawasiku, mengapa dia bisa luput dariku, kapan dia membelikan ini untukku? Apakah ini kebetulan ataukah sengaja ?. “yah yah- aku tau kau bingung. Tapi yang jelas kita membeli ditempat yang sama meskipun tidak dengan cara yang sama!” aku bingung mendengar penjelasannya, aku masih tidak percaya kalo jam tangan yang dia berikan bentuk merek dan warnanya adalah setype dengan jam tangan yang aku berikan padanya seminggu yang lalu. Bila dijadikan satu jam tangan yang kami beli sebenarnya adalah sepasang. “kau suka?” tanyanya. Aku tidak sadar saat dia mengatakan itu hingga dia kembali harus mengulangi kalimat pertanyaan yang sama.” Hello…anybody there?” tanyanya sambil menabuhkan sendok dessert ke piringnya. “yup..i’m here and I love it. So much – it’s pretty! Ohh awesome”jawabku setengah berdecak kagum dan sedikit kebingungan. Aku mencoba mengingat semua kejadian malam itu ada sebuah pameran jam tangan import di Mulia Hotel Jakarta, seingatku saat itu kami tidak membeli satu barangpun. Yang kutahu kami memang sama sama menyukainya dan sangat ingin membelinya, hanya saja saat itu aku berfikir untuk membeli yang Hugo ladys daripada Hugo yang gentlemen, hanya dikarenakan aku tidak ingin boros unutk diriku sendiri. Dan karena dia menginginkannya maka kuhadiahkan desaign jam itu untuknya. Terhitung design yang baru saja mejadi new arrival di pasaran Asia dan hanya di singapura saja yang memiliki kantor sebagai pemasaran dan service Hugo Boss watch saat itu. Hingga aku harus pura pura blik kamar hotel dengan alasan aku capek agar dia mau kembali. Satu jam setelah itu aku baru bali kepameran unutk membeli jam tangan itu. Setelah kusadar, aku kembali tersenyum”kapan kau membelikannya untukku?” tanyaku padanya, dia hanya menutupi wajahnya sambil menahan tawa. Menggeleng gelenngkan kepala lalu memegangi perutnya yang ramping itu. “ayolah katakana padaku – please! Kapan kau emmbelikannya untukku.”tanyaku ulang. Kutennagkan diriku sebisa mungkin, dan diaturnya nafasnya perlahan lahan hingga tertata benar. “baiklah, aku ceritakan , aku tahu kau menyukai jam tangan itu- aku tahu itu, saat itu aku memnag sudah akan membelinya untukmu, tapi karena kau terburu buru aku jadi tak bisa mengambil keputusan dengan baik. Dan walhasil akupun mengantarkanmu pulang karena aku melihat kau sedikit pucat, aku pikir karena kau kecapekan siangnya saat kita pergi ke museum nasional di Medan merdeka. Jadi secepat mungkin setelah aku mengantarkanmu ke kamar hotel aku bergegas kembali mencari jam tangan itu. Bersyukur karena aku bisa mendapatkannya.-hehhe … perlu kau tahu aku senang sekali ketika kau membelikannya yang ladys untukku. karena aku bisa mendapakannya” jawabnya penuh antusias dengan ekspresi yang luar biasa seperti orang yang baru memenangkan lotre saja. “hehhh – jadi sekarang aku baru tahu, kalo wanita yang dimaksud oleh penjualnya adalah kamu” aku tertawa terbahak bahak, bukan main penipuan yang kami lakukan saat itu, ternyata hanya untu membahagiakan satu sama lainnya.”kau tahu D- aku sangat sedih waktu itu karena aku tidak bisa mendapatkannya sepasang..-butt! Sekarang aku senang, karena kau memberikannya untukku tepat dia ulang tahunku” jawabku. “apakah ini terlalu teatrikal?”tanyanya padaku “tentu tidak, ini awal yang baik untuk persamaan hati kita!”. Aku puas dengan semua yang aku dapatkan. Aku tahu berapa harga yang dibelikan untukku, aku tahu dia pasti sudah menguras kantong sebagian untukku. tentunya jam tangan ini akan aku jadikan symbol rasa sayang yang dia berikan untukku sampai nanti. Kami memiliki sepsang meskipun tidak membeli sepasang. Aku hanya berpikir, bahwa jiwa dan selera kami sebenarnya sama hanya saja kami tidak terbiasa mengatakannya. “maaf aku tidak membuatkan pesta untukkmu malam ini, tidak semewah epsta yang kau berikan untukku malam itu!” sahutnya mematahkan kebahagianku.”bukana masalah yang besar bila hanya itu yang kau pikirkan, karena sebenarnya, keberadaanmulah yang paling bisa menghidupkan malam kelahiranku!”jawabku apa adanya. Aku memeluknya erat dan erat sekali, seolah olah aku tidak ingin melepaskannya kembali. Kusibak rambut yang menutupi wajahnya, tanpa rasa malu diapun menjatuhkan kepalanya pada bahuku sera berkata “apa kau masih mencintaiku?” . kenapa dia pertanyakan ini, apakah dia tahu yang aku kalutkan “iya aku masih dan sangat mencintaimu?”. Dia tersenyum kecil tanpa memandangku.”kenapa hanya sebatas desember?” sontak pertanyaan itu kembali menggangguku, dan aku hanya memelknya erat lebih erat dari sebelumnya “D – bukan maksudku untuk emmpermainkanmu, tapi ini semua dmei kebaikan kita, percayalah aku sangat mencintaimu. Hanya saja aku tidak bisa membelenggumu dalam hubungan jarak jauh yang mengganggu keselarasan hidp kita masing masing. Percayalah suatu hari nanti akan kubuktikan semuanya yang telah kubicarakan. Namamu seperti prasasti yang terukir dalam hatiku” aku diam membenamkan diri tanpa berani mengucapka kalmat lebihnya. Aku tidak bis amembual seprti pria lain, aku tahu aku menyakiti hatinya, tapi ini demi kebaikan kelak. Aku tidak mau teganggu dalam mengejar cita citaku. Kedengarannya emmang egois, tapi aku harus bisa memilih mana yang terpenting. Untukku setelah Desember – gelr dokterlah yang ingin kuraih, bukan wanita atau yang lainnya. Kutatap matanya yang meredup itu masih mendung, dan sepertinya kelopak mata itu sudah tak sanggup lagi membendung tanggul air mata yang mau mledak. Kupeluk erat dari belkang punggungnya, kucium rambutnya yang panjang dan halus, kukecup mesra bahunya. Sayangnya ini tidak berpengaruh.”trust me D – trust me what you saw before it’s just a beginning for our future. My love will show you everything. I love you you love me take this gift and don’t ever ask Why?”. Pikirku dalam hati betapa egoisnya aku ini, mencampakkan gadis yang sangat aku cintai. Tapi sungguh aku terpaksa, aku bukanlah pria yang suka berpikir secara bercabang, aku tidak pernah bisa imbang dalam membagi cinta dan citaku. Jadi kuputuskan kuletkkan nomer satu pada citaku dan nomer dua padanya cintaku untuknya seorang. Kunyalakan play listku dengan suara piano dan flute smooth jazz by Dave kozz kuajaknya untuk berdansa meskipin akmi terlihats eperti orang aneh yang gila sedang bergoyang disekitar kolam renang jam dua pagi.”berdansalah denganku- kumohon” kuraih tangan kanannya kuletakkan pada tengkuk leherku, kulingkarkan kedua tanganku pada pinggulnyayang ramping. “blue session?” serrgahnya saat membaringkan kepalnya pada dadaku.”yah!” jawabku singkat. Oh dunia…. Kenapa cintanya tidak bisa kubunuh dalam hidupku, apakah aku memang tercipta dari rusuknya?. Sejak saat itu aku berjanjipada diriku sendiri kalo aku akan selalu mencintainya, aku tidak akan hidup berfoya foya tanpanya.pagi harinya aku nyaris tidak bisa tidur bila tidak dengan bantuan obat. Kepalaku pusing sekali sehingga harus kutelan beberapa kali aspirin hari itu. Semua rasa bersalahku telah kutuangkan dalam diary-ku , tak ada tempat curahan hatiku selain pada Tuhan dan diary tempat kuluapkan emosiku. Kenapa hidupku seperti ini, kenapa harga diriku sendiri tak pernah bisa kutawar, kenapa aku memusuhi istri papaku, kenapa – kenapa? Kenapa?. Gara gara dia aku harus meninggalkan semua kebahagianku, gara gara dia kutinggikan harga diriku. Berdosakah aku Tuhan? Tentu aku berdosa, aku tahu, tapi aku tidak bisa menahan kecewa bila samapi akau gagal, aku tak sanggup mendengarkan kebahagiannya yang menertawai kekalahan dan kekuranganku. Maaf Des kalo harus kukorbankan perasaan ini, tapi percayalah aku sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri, aku tak pernah sanggup menahan rasa rinduuk bila jauh darimu, semoga kau mengerti suatu hari nanti dnegan apa yang telah kulakukan dan kuperjuangkan saat ini. Diary-ku… biarkan suatu hari nanti kau terbaca olehnya .
Sehari kemudian aku membantunya unutk memacking beberapa keperluannya yang belum sempat diantarkan pihak laundry room service.”biar kutelphone departemen mereka?” hingga terdengar suara panggilan room service akupun pergi membukakan pintu saat dia masih sibuk berbenah perhiasan yang dia bawa.”masuk, biar saya cek terlebih dahulu?” terangku pada karyawan hotel.”silahkan pak!”dia menanti dengar sabar ketika aku meneliti barangnya.”oke! thanks”sahutku sembari kutitipkan uang sebagai tips saat kujabat tangannya saat dia hendak menutup pintu kamar. Wajhnay tersenyum saat dia melihatku membawa baju yang baru saja diantarkan room service. “syukurlah!”disahutnya baju itu lalu dilipatnya dalam satu travel bag. “tidak usah buru buru,- kita masih punya lima jam untuk samapi bandara, lagipula Bali tidak sepadat Surabaya dan Jakarta.”dia menoleh sedikit, lalu diambilnya baju hemku yang kemarin kutaruh begitu saja dilantai tanpa sempat melipat kembali. “ohhh- kau atau room service yang membetulkannya?” tanyaku menggodanya, pastinyalah aku tahu kalo dia yang memasangkan beberapa kancingku yang terlepas. Pagi buta dia menjahitnya untukku, hanya karena tidak ingin mengganggu tidurku, diapun menjahit bajuku hanya dengan lampu tidur yang minim pencahayaannya, hingga jainya berulang kali tertusuk jarum akibat itu. “iya”sahutnya sewot tanpa mau menjelaskan apa yang sebenarnya dia lakukan. Dia sengaja membiarkanku untuk membenarkan ucapanku. “bodoh”desisku pelan. “kenapa jarimu?”tanyaku kesal,meskipun aku sudah tahu apa penyebabnya. Aku bertanya karena sampai detik terakhirpun dia tidak mau menceritakan padaku semua yang terjadi. Sepertinya dia senang dan puas melihatku jengkel, wanita memang susah dipahami. Harus kuakui meskipun terkadang dia menjengkelkan tapi dia selalu bisa membuat irama jantungku lebih berdegup, serasa hidupku lebih merasa luar biasa disbanding hidup tanpanya. Kami masih didalam kamar duduk bersama dan mengambil nafas bersama. Sofa yang panjang ini memangku kami hingga kami benar benar merasa nyaman. Duduk tanpa obrolan serasa terkesan kaku seperti orang yang sedang ribut. Tapi tidak buat kami, dia tahu kalo aku pendiam, jadi itu bukan masalah besar, diapun kurang suka pria cerewet. Aku tersenyum membayangkan hal itu. Kupejamkan mataku , seakan melayang diudara terbang tinggu hingga aku berhenti disuatu tempat. Dimana ketika itu, aku bersamanya menempati sebuah rumah dan menjadi sepasang suami istri dengan satu dua orang anak laki laki dan perempuan,anak anak kami mewarisi bibirnya yang kecil,matanya yang menyipit, sedangkan yang lain mewarisi ciri khas-ku. Aku menjadi dokter terkenal,sedangkan dia menjadi seorang novelis yang hebat. Sungguh luar biasa…. Hingga aku dikejutkan suaranya “hallo! Ada orang disana!”. Wajahnya kini menempel dipipiku, siap untuk mendaratkan bibirnya dikulitku. Aku tersenyum , tanpa menghindarinya se-inchi-pun. Justru akulah yang memberanikan nyaliku untuk melumat bibirnya yang halus dan glossy. “apa yang kau pikirkan?” tanyanya lembut saat membelai rambutku. Aku terdiam sesaat berkelana menyelami hatinya, “apa kau mendengarkanku?” aku masih terdiam sesaat lalu kusentuh jarinya yang lembut, kutuntun pelan mendarat hingga dipangkal bibirku. Dia tersenyum malu hingga terdiam tanpa bisa berkedip,bibirnya terkatup lalu membisu. “ when a hearts finds another, what a cloud more or les in the sky? By wolf and page. Sure! If you know that” entah mengapa aku ingin mengatakan kalimat itu, yang kuingat kalimat itu pernah kubaca disalah satu article cerpen romantis. “absolutely!” sahutnya, aku yakin dia tahu maksudku. Hatiku memang senang, tapi sebagian kecil akupun mulai merasakan kesedihan. Bulan desember sudah mulai akan berlalu,dan hanya tinggal beberapa hari saja untuk bisa kami nikmati bersama. “I love you”tuturnya berbisik mesra ditelingaku. “I still!” jawabku. Hatiku miris dengan jawabanku sendiri, aku merasakan apa yang sangat berat untuk dia rasakan. Aku tahu dia sangat mencintaiku,dan seandainya diapun tahu akupun merasakan hal yang sama. Hanya saja aku enggan mengatakan lebih terang lagi. Seolah olah menyembunyikan kesedihannya tentangku, diapun menggenggam erat tanganku lalu dilemparkannya tinggi tinggi hingga dia pergi meninggalkanku,pergi mengambil secarik tissue yang ada di tas-nya. Kini disubal telinganya dengan earphone walkman-nya, satu kaset milik the best of bon jovi menghiburnya dengan setia. Lalu pergi begitu saja melewatiku sembari menarik travel bag-nya. Kuraih pergelangan tangannya, langkahnya terhenti sesaat “sorry!” ucapku. Hanya dengan sambil lalu ketika berjalan meneruskan langkah bibirnya berucap “ I know what you are?”. Aku terdiam,lalu kususl langkahnya membawa sisa travel bag yang masih tertinggal. Hanay sekedar ingin mendapatkan produksi udara segar dari otakku, kuraih segelas air mineral yang masih terkemas dalam botolnya. Kuminum sambil berjalan, kusambar begitu saja Nikon-ku diatas meja dekat pintu, aku tahu dia marah dan aku sangat tahu dia menyadari kekecewaannya itu salah. Kami berdua hanya berkomitmen bahwa desember tahun ini tidak perlu ada penjelasan terlalu panjang dikemudian hari, kami hanya menikmatinya saja…
Ponselku bergetar saat dia mengirimkan pesan tunggulah aku di lobby, aku butuh waktu sebentar. Aku berjalan meninggalkan kamar sebelum aku mengucapkan selamat tinggal pada ruangan ini good bye. Aku menunggunya di lobby bar and lounge,kupesan dua gelas bloody marry. Kuistirahatkan ragaku sesaat. Kucari diary-ku dari dalam ranselku. Hingga kutemukan dia tertata rapi dengan parker yang membisu.
Aku sangat menyesal dengan apa yang sudah kuucapkan padanya hari ini. Hanya saja aku tidak bisa unutk menjelaskan secara details, aku takut dengan ukiran takdir tentang kami
I love you and really need you D
Setengah jam sudah dia meninggalkan ku sendiri hingga dia kembali menemukanku duduk manis saat menunggunya di area lobby. Kini wajahnya sudah kembali cerah tanpa terhalangi mendung. Langkahnya yang lincah sudah terpancar, senyumnya lebih manis, matanya tak lagi merah. Tangannya menyapu bahuku mampu membuatku merinding berdecak kagum. Kuat kuat kutahan gejolakku hingga sapanya yang mesra melelehkan senyumku yang tak lagi pucat pasi. “berangkat sekaang Hyo ? maaf lama kubuat kau menungguku!” jelasnya. Dia kembali dengan mengganti semua baju yang tadi dia kenakan. Entah apa sengaja atau tidak, dia mengenakan setelan baju berwarna biru velvet yang senada dengan hem-ku. “bagaimana penampilanku?” tanyanya. Tentu saja dia sangat menarik,sexi,anggun dan sangat sangat menantang. Sorot matanya tajam siap meluncurkan panah tepat di jantung hatiku. Persis pada porosnya. Diraihnya segelas bloddy marry, sepertinya dia sudah lebih dulu mabok ringan sebelum dia meminum setetes minuman itu. Lalu duduk tenang dengan menggantungkan kaki kanannya yang bertumpu pada kaki kirinya, skirt hitam yang diakenakan menutupi lututnya, dijauhkan bibir gelas dari bibirnya. Seperti ingin mengucapkan sesuatu. Tapi sepertinya dia menggalkannya sendiri. Kali ini aku hanya mengambil nafas dalam dalam sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. “hmmmm… menarik!”, diraihnya gelas itu kembali, kini matanya tidak lagi tajam menatapku, sedikit kubuang mukaku. Agar rasa malu ini tidak menghampiriku kembali. Sungguh hal yang sulit bila aku harus pura pura membuang muka darinya. Aku mendahuluinya berdiri saat kulihat isi gelasnya kosong. Kurapikan pakaianku, mungkin dia sudah hafal dengan kode gerakanku. Hingga diapun mengikutiku berdiri. “sekarang?” tanyanya dengan senyum menggoda. Aku tersenyum”apa kau masih mau lebih lama lagi?”tanyaku penuh selidik. Dalam lubuk hatiku, penuh harap agar dia menjawab pertanyaanku dengan kata YA penuh antusias. Sayangnya dia tidak mau menjawabnya, hanay senyum simpul yang dia lukiskan untuk lalu berjalan sambil lalu mendahuluiku. Seorang bellboy menghampirinya dan menyapanya, sayang dia terlalu angkuh untuk pura pura tidak menghiraukan pria itu. Kini giliran bellboy itu menghampirku , membantu membawakan bawaan kami menuju taxi yang sepertinya sudah siap mengantarkan kami ke bandara Ngurah Rai.
Kupegang erat tangannya, rasanya tak ingin kulepaskan walau untuk sedetikpun. Tidak untuk saat ini, pikiranku mendadak kembali keruh memikirkannya. Penuh kecemasan, susah unutk kujabarkan. Rasa cintaku padanya tidak bisa kupadamkan, semakin lama yang kurasakan hanya luapan kebahagian yang tak pernah habis. Nyaris aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku sama sekali tidak memperhatikannya ketika dia sedang menikmati perjalanan kami, tak kudengar suara lain selain suaranya, hingga aku tersadar kalau dirinya sedang mengajakku berbicara.
“menikmati alam bali?” tanyanya penuh keyakinan tanpa melihat kedalam mataku
“apakah itu menurutmu?” tanyaku dengan sedikit berkilah
Kami saling tersenyum, saling mengontak mata dan saling memepererat genggaman tangan kami. Seperti terkena aliran listrik saja, tanganku mengejang, darahku membeku, “ I like that!” celetuknya penuh senyum. Matanya tajam menusukku. Sungguh rasanya ingin kuraih bibirnya lalu kucium, tapi tidak… itu bukanlah aku. Aku bukan pria yang haus dengan nafsu. Yang kulakukan hanyalah menyentuh pipinya yang memerah itu. Kini berganti dia terbakar malu,memerah seperti kepiting rebus.
Ketika kuperhatikan dari kaca, sang sopir itu melirik, memperhatikan kami sedikit. Hanya mencuri pandang saja. Tapi tak kuhiraukan, tidaklah penting untukku dalam sesi ini. Kupejamkan mataku unutk beberapa detik, hanya sekedar mencari ilham dengan apa yang harus kembali kupersembahkan untuknya. Desemberku tidak boleh kacau, tidak untuk sedetikpun. Satu detik kacau akan berpengaruh pada menit dan kemudian jam hingga hari bahkan bulan, dan aku tidak ingin master desemberku musnah begitu saja. “I can’t keep my eyes of you!”lanjutnya. “I gotta feeling to jumping!.. I want you. Everytime I look at you my heart is jumping”.berusaha kupaparkan sejelas mungkin padanya. Dan itu sangat berhasil mengurangi beban perasaanku padanya. Kembali kuamati wajahnya, baru kusadari dibalik kacamata birunya, bola mata itu kini mendung dan sedikit akan hujan. Kuraih bahunya segera munkin untuk kupeluk dan kucium rambutnya “everything its gone be alraight!”.
Taxi yang kami naiki kini telah berhenti didepan bandara, “sudah sampai tujuan pak!”celetuknya. dia melepaskan pelukanku. Aku menyesal, “yah. Terimakasih sudah membantu kami!” kuulurkan uang untuk membayar tagihan argonya. Sopir itupun mendahului kami keluar dari taxi-nya, membukankan pintu untuk kekasihku. Lalu membantu mengeluarkan barang bawaan kami, yang memang tidak terlalu banyak”biarkan saja, kami bisa membawanya sendiri!”diapun segera menjauh dengan senyum penuh kesopanan lalu pergi meninggalkan kami.
Berdua kami berjalan beriringan, hanya diam membisu tanpa satu patah katapun terlontar. Hanya menebar pandangan pada orang sekitar saja. Terus berjalan dan berjalan mempercepat langkah. Kini dia mendahului langkahku dengan gerak cepat. Kubiarkan saja dia mendahuluiku. Meskipun aku merasa sedikit tidak nyaman bila dia tidak berjalan disisiku bersamaan. “apa kau pilot-nya?” tanyaku dengan gemas dengan nada sedikit berteriak. Dia menoleh kearahku”apa kau tetap mau terbang dengan pilot sepertiku?” tanyanya balik dengan senyum. Aku senang melihat senyumnya, terus kukejar langkahnya tanpa ragu “apapun profesimu, aku akan melakukan apa yang kau perintahkan meskipun nyawa taruhannya!” jawabku serius. Sayangnya dia justru tertawa terpingkal pingkal, menoleh ke arahku dengan membalikkan tubuhnya. Lalu menghentikan langkahnya, menungguku menghampirinya lalu berkata” percuma papamu menyekolahkanmu jauh jauh ke Nippon bila kalimat konyolmu tadi!”. Kata kata itu menusukku , memang secara langsung dia tidak mengataiku tolol, bodoh, bebal atau kalimat lain yang artinya senada. Tapi aku tahu apa maksudnya, meskipun dia tidak mau menyadari secara langsung apa arti dari kalimat yang sudah kuucapkan. “sudahlah tidak usah lagi kita bahas, pesawat sudah menunggu kita!” lanjutku dengan ketus. Tapi dia tetap saja tertawa dan tersenyum seperti monyet yang baru saja mendapatkan pisang dari pengunjung kebun binatang. “damn it!”celetukku. aku memang sedikit marah dengannya, tapi sungguh aku tidak bisa mengekspresikannya. “need ice cube!”lanjutnya, “no… thanks!”jawabku singkat.kini kami kembali terdiam saat memasuki kabin pesawat. Dia memilih duduk didekat candela peswat tanpa menutup kacanya, membiarkan matanya menatapi kepulan awan dan teriknya mentari. Kupasang kaca mata hitamku, enggan rasanya untuk melarangnya, tapi mataku silau dibuatnya. Sepertinya dia sengaja membuatku tidak nyaman kali ini. Tujuan kami berikutnya adalah bandara Adi Sucipta Yogyakarta. Tangannya kembali kuraih, dia sama sekali tidak bergerak. Dan ternyata ketika kuperhatikan matanya sudah terpejam. Rasa kantuk mempengaruhinya, entah apa itu kantuknya ataukah dia tertidur karena bloody marry-nya. Kucium pipinya, kurasakan hal yang luar biasa bila kusentuh kuliatnya beberapa inchi. Naluriku sebagai pria cukup kuat mempengaruhiku, berjuta rasa berkecamuk dalam dadaku melihatnya yang tertidur pulas. Kepalaku serasa mendidih jiwa ini bergelora. Tidak- aku tidak mau membiarkan nafsuku kalah begitu saja. Aku masih punya moral meskipun bukan malaikat, aku tidak mau menjadi manusia yang belumuran dosa meskipun kusadari aku tidak sesuci itu. Kacamat hitamku sangat membantu menangkap sorot matanya agar tidak tembus dalam rohku yang sangat memujanya, tapi sayang saat dia terbangun dia tersenyum dan menoleh ke arahku. Sorot mata itu tajam nyaris bisa mengahncurkan lapisan kacamataku. Cahaya itu begitu kuat cukup untuk bekerja menghancurkan hantiku. Kukir senyum indah untuknya”tidurlah, kita belum sampai. Akan kubangunkan bila sudah sampai bandara!” saranku sedikit berkilah saat malu menatapnya. Ahhh… dia tau ternyata bagaimana caranya membuatku semakin nervous. Kini kepalanya bersandar di bahu kananku cukup untuk membuatku terkena serangan jantung mendadak. Aku terdiam duduk mematung, walaupun aku masih diberi nyawa oleh Tuhan. “aku hanya sedikit pusing, mungkin karena minuman tadi?” terangnya yang tetap saja tidak bisa membuatku mencairkan darahku yang membeku. Dipegang lehernyalalu digerak gerakkan kekanan dan kekiri. Ketika kusentuh tengkuknya, ototnya serasa kaku”sepertinya kau terlalu letih dengan perjalanan ini?” sahutku. Dia hanya menggeleng tidak ingin mengecewakanku. Tak sanggup mataku melihat tengkuk lehernya yang dirambati dengan rambut halusnya. Cukup sexi dan membuatku bergidik. Oh tuhan ujian besar apa lagi yang akan kau berikan untukku. Dia lebih terlihat sexi ketika rambutnya yang panjang tergelung lalu dicepolnya begitu saja. Simple tapi sexi menurutku. Rambutnya yang hitam dan mengkilat itu serasa menyihirku lebih berani,lebih menuntut untuk kubelai mesra. Kuulurkan tanganku sedekit keatas untuk kembali meraih tengkuk lehernya, tapi kubatalkan. “kenapa kau memakai kacamata hitam?” tanyanya. “aku silau!”jawabku. secepat kilat ditutuplah candela pesawat itu dengan sekatnya.”maaf kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?” tanyanya penasaran.”karena kau tidak menanyaiku!”. Jawabku padat.
Sesampainya dibandara Adi Sucipta kami tidak langsung mencari taxi, ataupun menelphoku keluarga-ku, kami pergi ke sebuah restoran yang ada didekat bandara, mengobrol dan sekedar untuk mencari udara bebas. Sengaja kami memilih meja yang dekat dengan candela. Tak ada makanan berat yang kami pesan, hanya dua cangkir kopi double ekspresso. Kuletakkan kacamataku di meja persisi di sebelah kanan. Kembali terdiam adalah kebiasaan kami saat ini. Hingga ponselku kembali berbunyi. Tanganku sibuk mencarinya disekitar kantong blaserku. Dia memberikan kebebasan ketika melihatku tak kunjung menjawab telephone.
“aku ke toilet sebentar?” jawabnya sambil meninggalkan meja kami berjalan menuju ujung bangunan restoran
Ponselku yang berhenti kini kembali memanggilku unutk yang kedua kalinya. Enggan rasanya aku menerima , jadi kubiarkan saja rasa sebal menghantuinya. Tiga kali telephone, empat kali telephone. Sama sekali tak kugubris. Layarnya kembali kuperhatikan saat nada ringtones yang berbunyi itu berganti nada.
“Hyo, ini papa… kenapa kau tidak segera mengangkatnya!”
“yang tadi nomer orang lain, bukan nomer papa?” jawabku, karena memang tadi adalah nomer istrinya.
“apa kalian sudah samapai Yogya?”
“yah,setengah jam yang lalu?”
“apa kau akan membawanya kerumah eyang putrid?”
“ntahlah, aku belum menanyakan, apakah dia akan menyetujuinya atau tidak, tapi aku sudah siapa dengan memesan hotel bila dia tidak berkenan!”
“ya sudah, papa hanya ingin memastikan bahwa kalian selamat samapi tujuan, kabari papa bila kalian sudah memutuskan hendak kemana, karena Laksmi tidak tenang, dengan perjalanan kalian!”
Aku risih mendengar kaliamat papa menyebut namanya,aku tidak suka bila dia berpura pura memperhatikanku, aku bukan anaknya, dan tidak seharusnya wanita itu berlebihan. Aku tidak butuh perhatian darinya sama sekali. Aku terdiam lama meskipun papa masih saja berbicara. Kini dia kembali mendatangiku, kuamati langkahnya, senyum menawannya hingga sampai persis duduk didepanku.
“oke papa, nanti akan kuhubungi!”
Pembicaraan kami kututup begitu saja, tanpa ba bi bu. Kuraih cangkir kopi-ku,kelempar rasa sebalku jauh darinya.
“papamu?” tanyanya penuh penasaran
“ya, dia hanya menyakan apakah aku sudah membawamu sampai dengan selamat !” unkapku tanpa mendeskripsikan terlalu banyak
“ohh!- ternyata papamu menyukaiku?”
“tentu saja, tidak akan ada yang berani menolakku untuk membawamu!”
Dia terdiam, hanya menatapku , membujurkan kakinya lalu mengulurkan tangannya untuk meraih tangaku yang siap diatas meja.
“apakah dia akan menerimaku?” pertanyaannya penuh keraguan dan kepastian jawaban. Aku tersenyum, aku tahu dia takut unutk bertemu dengan wanita tua yang sudah kupanggil eyang putri itu.
“tentu, aku sudah menceritakan semua hal padanya tentangmu. Percayalah semua sudah kuatur masak masak, tidak ada yangperlu kau ragukan. Sudah kubilangkan sejak awal. Semua sudah kuatur semua sudah kupesan, aku hanya butuh persetujuanmu saja. Dan yang lain bukalah masalah!” terangku setegas munkin, takut kalo dirinya sudah lupa dengan apa saja yang pernah ku utarakan.
“baiklah, aku bersedia kau bawa kerumah eyangmu!” jawabnya dnegan senyum dan rasa percaya diri yang membuatku semakin jatuh hati padanya.
Aku hanay mengirim pesan pada papa bahwa kami akan menginap dirumah eyang putri. Sastropun sudah mengirimkan pesan padaku, agar kami menunggunya didepan bandara, setengah jam lagi dia akan dating menjemput kami.
“kau tahu, eyang putrid akan menyukaimu pastinya, rambutmu yang hitam dan panjang itu akan menyihir keramahannya, satu nilai plus lagi. Kau sedang memakai warna biru yang juga sangat disukainya. Terlebih pakaian yang kita kenakan ini warnanya senada. Jadi kesan romantis akan menempel !” jelasku penuh senyum bermakana. Lehernya berputar reflek menoleh ke arahku kembali setelah sempat membuang muka. Astaga aku nyaris takut kalo kepalanya akan putus, karena dia begitu cepatnya memutar engsel kepala. “astaga!”pekiknya kencang “akau sama sekal tidak menyadari kalo baju kita sama! Sungguh, aku tidak menyadarinya?” jelasnya kontan. Kutarik nafas dalam dalam tanpa memperhatikan kontak matanya.”kau memang tidak bisa bersimpati sedikitpun!” ujar ku. Diapun mencubit tanganku yang mengepal gemas akan ucapannya. Dia tahu akau sedang marah kecil. Tapi pada akhirnya dia selalu bisa membuatku untuk tersenyum kembali. “ini adalah dua kalinya aku dating ke yogya?” celetuknya. Senyumku kembali mengembang mendengarnya “sejak SD?” sahutku. “benar!” dihirupnya udara bersih ini dalam dalam. Mukanya sangat berseri, rambut yang tadi tercepol kini kembali digerainya. aku merasakan kenyamanan, saat dia meutupi tengkuk lehernya yang sexi itu. Aku tak lagi terperanjat dibuatnya. “apa kita dijemput?” tanyanya. “sastro akan menjemput kita!sebentar lagi”.kuraih kembali double ekpresoku. “aku tidak bisa menghabiskannya?” jelasanya saat mataku mengamati cangkirnya yang masih penuh. Wajahnya sedikit pucat , aku kuatir dia keletihan jadi kutarik saja cangkir ekspresonya agar dia tidak memaksakan diri unutk meneguknya kembali. Sungguh bukan masalah besar untukku bila dia tidak meminumnya. Tapi hal ini sepertinya berarti kebalikan baginya, dia merasa aku akan sedih bila dia tidak menghabiskan apa yang sudah aku pesankan. “jangan diminum, aku tidak ingin kau sakit? Jangan kacaukan desember kita! please” aku memintanya penuh harap. Dan diapun mengerti bagaimana cara bersikap padaku.
Ketika aku yakin akan kedatangan Sastro, segera mungkin aku mengajaknya pergi dari restoran. Kali ini jalannya sedikit lamban dan tidak secepat biasanya. Aku mengkhawatirkannya, telapak tangannya dingin. Aku memperhatikannya hingga tak sadar bibirku sedikit mengkerucut. “tenanglah, aku sehat! Hanya sedikit nerfous saja!” jelasnya dengan senyum. Itu sedikit membuatku tenang, kekhawatiran tidak lagi menyelimutiku. “den..den..den bagus!” entah darimana asal panggilan itu, aku merasa ada seseorang memanggilku dan aku mengenal suara khas dan intonasi cengkoknya. “den…den bagus.ini sastro den sastro. Disini den disini loh!” ujar pria itu. “apa namanya sastro?” tanyanya dan aku hanya mengangguk sambil mengamati sekeliling bandara mencari wajah sastro. Diapun membantuku, meskipun hanya mengira ngira rupa Sastro yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Dia menarik narik tanganku sambil menunjukkan satu arah dimana suara yang aku cari mempunyai figure yang sama dengan obyek yang dia tunjukkan “mungkin bapak itu bernama Satro yang kamu cari sekarang?”jelasnya, aku menoleh lalu segera menariknya. Sastropun mendekat kearah kami ketika mata kami saling tertumbuk. Sastro berlari mendekati kami, hingga hamper saja terjatuh karena licinnya lantai. “aduhhh…!”keluhnya. kami berdua tertawa ringin walaupun spontan dia mengatakan “astaghfirllah!”. Aku tersenyum menoleh mencari matanya,kembali kucium pipinya yang bisa kuraih cepat. Meskipun bereaksi terkejut, pada akhirnya diapun tersenyum pasrah menerima ciumanku. “monggo den,…saya Bantu.mobilnya saya parkir tidak jauh dari depan bandara kok. Monggo …monggo den,monggo den ayu?”ajak Sastro pada kami. Aku terbiasa dengan panggilan den yang berarti raden. Tapi sepertinya D tidak biasa ketika dirinya dipanggil Den Ayu oleh sastro, raut wajahnya sedikit terkejut dan risih. Aku hanya berusaha menciptakan kenyamanan dengan sentuhan lembut dipenggungnya. Dia mengernyitkan dahi padaku, hanya senyum yang bisa kuutarakan. Lagkah kami berlomba mngejar kaki satro yang lebih dulu berjalan cepat mendahului kami, mungkin Sastro sendiri tidak nyaman bila berjalan menemaniku, takut kalau aku merasa terganggu. Aku menyukai ide Sastro kali ini, biasanya dia akn terus berjalan disisik seperti hendak meneta bayi yang baru belajar berjalan, hanay sekedar berjaga jaga takut kalo aku akan jatuh dan merasa susuah bila hendak bangun. Sepanjang langkah kuiringi dengan senyum kemenangan. Karena delapan puluh persen dari planingku sudah berjalan sempurna dan kini aku hanya perlu menghantar dua puluh persen lagi ke finishing touch-nya. Dan endingnya kami pasti akan bahagia, hingga samapi kapanpun kenangan ini akan terpatri dalam lubuk hati kami masing masing. Seperti halnya batu zamrud yang berkilau dengan pahatan hiasan emas kuning yang murni. Sungguh tiddak sabar aku menikmati masa endingnya. Meskpun harus kuakui rasa sedih mulai menggelayuti-ku . karena masa kencan kami hendak usai beberapa hari lagi. “tuh den mobilnya?” jelas Sastro yang menoleh kearah belakang sambil menunjukkan tangannya sekedar memberi tanda pada kami, bahwa mobil yang akan mengantarkan kami sangat nyaman. Iya eyang meminjamkan Volvo putih mengkilatnya untuk menjemputku. Aku tersenyum melihat sambutan kecil ini, karena eyang putridbelum pernah membiarkan Volvo putihnya dibawa sastro ke bandara seorang diri. “kemana Tejo?” tanyaku “Tejo, masuk angina den, muntah muntah,ronda semalam nangkap maling ayam!”jelas Sastro tertawa cekikikan. D hanya terdiam mendengarkan pembicaraan kami, hanya sesekali saja dia tersenyum meskipun akhirnya dia ikut tertawa mendengar tejo menangkap maling ayam. Yah aku tahu maklum saja dia Surabaya tidak ada maling ayam, yang ada maling perangkat keras. “Ndoro Putri, penjenengan suka kalo mau dijemput pake Volvo daripada pake mobil lain meskipun marcedes. Jadi Ndoro putrid tega tegaan melepaskan Volvo-nya buat saya setir den. Tapi ya gitu, Ndoro terus banyak wejangan, maklum den kapan lalu saya baru nabrakin sedannya Ndoro. Maklum den kaki saya ndak panjang buat nekan rem-nya!” jelas Sastro yang menggebu gebu. D tersenyum bahkan tawanya mulai meledak ketika melihatku tertawa keras begitu saja tanpa sungkan. “maaf den ayu,saya jadi malu!” jelas Sastro yang ikut tersenyum. “maaf pak saya tidak punya niatan buruk?” jelasnya. “waduh den,matur nopo niku kulo mboten paham, saestu!”Sastro sepertinya pura pura tidak paham dengan apa yang dia katakana. Dan sepertinya D merasa lega mendengarnya. Kini Sastro membuka bagasi mobil memasukkan bawaan kami satu persatu. Kubukakan pintu mobil untuknya, agar terik matahari tidak lagi mencairkan keringatnya. “masuklah dulu, aku mau menemani Sastro!” jelasku, dia paham dan mengangguk. Kulirik dia segera membuka tasnya unutk mengambil kembali novel yang baru saja dibacanya semalam. Sekedar tersenyum lega, bahwa semuanya masih terkontrol. “sudah den bagus masuk saja temeni den ayu! Saya masih kuat buat ngakat tas ini!”jelasnya dengan bohong. Mataku menangkap bahwa tangan kirinya sibuk memegangi pinggulnya sambil meringis mengangkat beban berat. Tanpa bicara kubantu saja mengangkat trolly bag ini. Isinya memang berat karena ada laptop , diktat kedokteranku serta beberapa jurnal kesehatan milik kampus. Sastro merasa senang ketika aku nekad membantunya. Mungkin dia mengerti kalo aku tidak mempan dia bohongi. “wah Raden ini dokter hebat, bisa ngerti sakitnya saya meski belum diperiksa!” kilahnya menyambung kalimat. “saya belum Dokter, masih pelajar!”jelasku. kini dia berjalan memutar mendahuluiku lalu membukakan pintu mobil untukku. Aku hanya menggeleng dan tersenyum biasa saja. Ketika Sastro masuk dan memegang kendali setir tanpa kuperintahkan arahnya, pastinya dia sudah tau kemana tujuan pertamaku sebelum sampai ke kediaman Eyang putri. Dia masih saja tidak menghiraukan kehadiranku. Itulah keburukannya bila sudah bercinta denggan bait bait kumpulan novel. Dunia yang dia ciptakan tak pernah bisa diganggu. Tapi tidak untuk kali ini,karena aku sudah bertekad menarik bukunya lalu memaksanya kembali menikmati keramah tamahanku. Aku pasang muka dengan penuh senyum saat dia marah ketika novelnya kutarik begitu saja. Kecongkakannya pun tercipta, hanya nafas berat yang berhasil kukeluarkan. Bibirnya mengerucut tajam bak seperti tempat khas penanak nasi orang desa zaman dahulu, “ayolah!”bujukku agar dia tidak terlalu marah. “aku hanya ingin kita menikmati sisa waktu tanpa membuang waktu yang sudah ada. That’s all!”. Bukan main manis senyumnya bila sudha dia rekahkan, hatiku lulu lantak nyaris tidak berbekas seperti debu yang tertiup angin kencang. Tangannya yang halus meraih pipi kiriku, kami saling tersenyum penuh makna saling mengerti tanpa dusta sedikitpun. Kuraih bahunya, kupeluk erat. Nyaris hilang kewibawaanku dimatanya. Api dalam tubuhnya siap membakar ketangguhanku. Logika-ku seperti hilang sesaat. Ohhh….betapa berat bila berdekatan dengannya saat aku mengenakan topeng keangkuhanku. Lutut kaki-ku seperti mengejang,urat syarafku serasa nyaris terputus. Saat matanya menyorot tajam. Angina serasa berbisik agar aku bisa lebih mengobarkan api kegairahan khas kaum Adam, tapi tidak..tidak aku tidak bisa. Teriak-ku dalam hati. “hmmm,… aku haus sekali!” ujarku saat leherku mulai tersekat rasa malu dan gairah yang tak terbendung. Tangannya segera menggeledah tas prada yang ditentengnya. Sebotol sparkling water diberikannya untukku. Kuamati di ujung botol menempel garis bibirnya yang berwarna pink romantic auntumn. Mataku semakin tergiur,pikiranku menerawang jauh lebih nakal. Oh Tuhan, godaan apalagi ini. This is the test of limit pekikku dalam hati yang nyaris terucap pelan. “apa katamu?’ tanyanya bernada kaget. Aku hanya diam dan menggeleng menyadari kecerobohanku. Mobil yang kami tumpangi masih berjalan sedikit cepat ,wajahnya kini bepaling dariku mengawasi tiap jalan,sesekali dia tersenyum. Hanya saja aku tidak tau apa arti dari senyumnya. Apa yang dia gambarkan dan apa yang dia bayangkan. Ngeri rasanya membayangkan bila dia menertawaiku habis habisan. Kami kembali terdiam, kembali kuraih catatanku
diary
Harus kuakui, aku memang pria egois. Aku akui aku memang sangat terpesona dengan ciptaan Tuhan yang kini duduk disebelahku.
Aku tidak tau harus berbuat apalagi. Pikirank buntu. Cintanya menyihirku
Tapi pendidikan menuntutku, sebagai seorang pria ilmu adalah keutamaan dasar untuk mencari popularitas, perekonomian.
Ada yang hilang bila dia tidak disisiku
Can’t life without her….
“apa yang kau tulis?” tanyanya tiba tiba, benar benar mengagetkanku meskipun aku tidak terlalu terperangah berlebihan.
“tidak, hanya catatan harian biasa saja? Apa kau juga memilikinya?”
“diary? Tidak!”
“kenapa? Yah aku tahu, aktifitasmu tidak akan cukup bila ditulis setiap harinya, butuh banyak waktu. Bisa bisa jarimu terlepas dari rusuknya!”
Kami tertawa, tangannya menggenggam lalu ditonjokkan kepalan itu mengenai lambungku. Tapi tidak terlalu sakit, karena senyumnya adalah obat dari rasa sakitku. Kembali kusarungkan catatanku dalam tas laptopku. Sastro menghentikan mobil yang kami tumpangi disebuah butik bunga langganan keluarga kami. Kuminta Sastro agar menemaninya dalam mobil saja. “tunggulah disini, aku tidak akan lama?” aku meninggalkannya bersama Sastro, sendiri berjalan akupun memasuki butik tersebut. Kubaca papan nama butik itu kembang ayu ,ternyata namanya masih sama,dari balik pintu kaca ada seorang lelaki paruh baya menyapaku dengan senyum, membukakan daun pintunya untukku. Aku tidak mengenalnya, mungkin dia baru. Butik ini ternyata banyak renofasinya, lantainya disulap menjadi lantai kayu berwarna kayu mahony, dindingnya bercatkan warna putih gading, berbagai macam jenis bunga kian menghiasi butik ini. Lebih cantik dari yang sudah sudah.semakin kulangkahkan kaki memasuki ruanga dalam,koleksi bunganya semakin banyak, aroma harum bertebaran memenuhi ruang udara. Seorang wanita muda yang luwes kini menyapaku “sugeng rawuh!” sapanya lembut yang bearti selamat dating. Aku tersenyum, lalu menebar pandang disetiap sudut, hingga tal sadar wanita tua yang mengenakan kebaya sedang duduk didepan meja kasir ikut mengamatiku seperti wanita muda yag barus aja menyapaku. Sengaja aku tidak memperhatikan mereka meskipun mereka memperhatikanku. Mungkin mereka tidak mengenalku, tapi aku tahu nama mereka masing masing. Aku mengambil setangkai anggrek lalu kuserahkan pada wanita bernama Murni “mbak Murni tolong saya dirangkaikan sebuket mawar putih yang mekar dan menguncup ditambah dengan beberapa tangkai anggrek seperti ini!”. Wanita itu sepertinya kaget ketika aku memanggil namanya, diapun tersenyum lebih lebar tanda hatinya sedang senang. Begitulah kira kira. Dia mengajakku keluar dari butik memasuki sebuah taman yang cantik dengan berbagai vas gentong besar penuh dengan berbagai koleksi jeni anggrek. “kembangnya untuk siapa Mas?” tanyanya. “saya membutuhkan tiga buket bunga untuk tiga orang wanita. Tolong pilihkan buat saya. Sebuket penuh mawar warna putih mekar dan kuncup,tolong kombinasikan dengan anggrek warna ungu untuk almarhum mama saya berikan warna putih untuk tali pengikatnya….hemmmm… Satu buket lagi tolong sebuket anggrek ,jangan terlalu banyak,karena dia tidak suka. Yang satu itu tolong kasih pita ungu ya warna favorite yang putri saya. Dan satu buket lagi unutk kekasih saya yang sekarang sedang duduk dimobil. Unutk dia satu buket mawar warna merah dengan pita warna merah. Saya akan menunggu di ruang depan sambil melihat lihat!”. Aku meninggalkannya begitu saja, tidak banyak yang bis akuperhatikan selain bunga. Hingga aku memaksakan diri untuk duduk ditengah taman sambil membaca Koran yang disiapkan di tempat Koran.aku tidak sabar menunggu rangkaian bunga Murni. Tapi aku harus sabar.
Dia memngirim pesan untukku.
Apa kau masih lama? Kalo boleh aku mau menemanimu didalam
Aku membacanya dengan tersenyum kau memang jelas mencintaiku ocehku. Ku iyakan dia untuk menemaniku. Taklama diapun dating menemuiku tanpa kesulitan sedikitpun. “apa kau langsung mau kepusara?” tanyanya saat mengambil duduk disebellahku dan menarik Koran yang sedang kubaca. Dilipatnya Koran itu mejadi empat bagian.diletakkannya dibangku kosong yang ada disebelahnya. “ya! Api aku akan mengantarmu terlebih dulu untuk istirahat!” sahutku. Disisir rambutnya dengan jari jemarinya. Tiupan angin menyapu rambutnya kearah wajahku. Baunya masih harum khas shampoo yang biasa dia kenakan. “apa kau akan melarangku bila aku ikut!” tanyanya penuh ragu. Pertanyaannya terdengar sangat skeptis, takut bila aku berfikir tidak seirama dengannya. “tentu saja tidak. Aku sangat menghargai itu, terimakasih!”. Aku senang mendengarnya.”tunggulah disini, aku akan menghampirinya,sepertinya dia sudah selesai mengerjakannya!” kulangkahkan kaki menemui Murni yang sudah siap dengan tiga buket bunga. Satu nota panjang diserahkan untukku. Menuntut aku agar segera membayar upahnya sesuai dengan agihan yang ada di nota. “disebelah sini Mas tanda tangannya!” telunjuknya mengarahkan mataku untuk membubuhkan tanda tangan ditempat yang benar. Sang kasirpun tersenyum menatapku. “den bagus ini cucunya Ndoro ayu Paramitha?” tanyanya halus dengan intonasi khas orang yogya. “yah,bu benar saya cucunya yang ada di Surabaya!”jawabku. dia tertawa sambil menepuk nepuk bahu kiriku,lalu meremas remas lenganku. “oalahhh nggerrr,….. sudah besar ya!kata Ndoro ayu. Aden sekolah di jepang. Apa sudah lulus to den?”tanyanya penasaran. Aku tersenyum, tidak menyangka bila eyang putri banyak cerita dan sedekat ini padanya. “ohhh…. Belum Bu, masih sekolah.hanya saja saya lagi liburan kabngen sama eyang!”. Dia semakin tertawa renyah memanggil manggil Murni agar mau menyalamiku. Yang baru kutahu kalo Murni adalah anaknya dan pria tua yang membukakan pintu untukku adalah suaminya. Membosankan sekali aku terjebak disuasan yang seperti ini,ingin segera kuakhiri. Tapi sayang dia nrocos terus seperti laju kereta api.”maaf loh den bagus, monggo ini dibawa bill-nya, tuh den ayu sudah ndak sabar sepertinya menunggu!” matanaya melirik D yang tengah duduk ditaman menengadahkan wajah yang bersandar pada punggung kursi, rambutnya yang panjang menjuntai kearah rumput. Dia seperti kelelahan duduk. “yah,bu kami baru saja liburan dari Bali, jadi maaf saya sedang terburu buru!” sahutku. Diapun mempersilahkan aku pergi menemuinya dengan beberapa buket bunga.kembali kuulurkan tangan untuk menjabat mereka semua. Kini aku kembali menemuinya yang telah memejamkan mata. Kelopak matanya sedikit menghitam. Sedikit trenyuh kubiarkan dia sendiri. Kutempelkan buket mawarnya ke pipinya. Tampak terlihat kaget walaupun akhirnya tersenyum “untukku!’tanyanya. “tentu, secantik dirimu? Aku sudah selesai,kita bisa istirahat sekarang”jawabku. Diperhatikan buket bunga yang kubawa.”tenagn saja anggrek ini milik eyang, dan mawar ini untuk mama. Kita kepusara nanti saja sebelum ashar. Tempatnya dekat kok. Dan untuk bunganya bisa kutaruh di dalam chiller”. Sepertinya dia tersenyum lega mendengarkan penjelasanku. Diciumnya berulang ulang bunga yang telah kuberikan. Kini kami kembali melakukan perjalanan. “Sas…tolong besarkan pendinginnya, aku khawatir bunganya layu sebelum sampai pada pemiliknya!” perintahku pada Sastro yang langsung menyalakan pendingin mobil. Lima belas menit kemudian kami samapi di kediaman eyang. Pagarnya sudah terbuka sebelum kami dating, sosok wanita tua yang masih cantik sudah menunggu kami lengkap dengan busana adat jawanya. Satu kipas lipat bercorak batik terlipat ditangan kanannya. Ketika pintu mobil kami terbuka, eyang sudah tersenyum lebar menatap kami. Langkahnya yang menuruni tangga teras serasa tergopoh gopoh sambil menjinjing sedikit sewek yang dia kenakan. “oalah nggerrr… lama sekali datangnya!” teriaknya padaku yang langsung memelukku erat, aku sungguh merindukannya. Aku seperti melihat lukisan wajah mama menempel pada sosoknya.pelukannya erat hamper menghentikan gerakan jantungku. “sastro tolong bawakan tasnya kedalam kamar, biar bisa langsung istirahat, suruh istri parmin nyiapin dhahar-nya, tolong air hangatnya sekalian ya, minta juga buat kemari sebentar. Nihh lohh ada cucu-cucuku dating!” ujarnya pada Sastro yang lebih dulu tahu akan kedatangan kami.”Inggih ndoro…inggih. Den bagus tambah ganteng tambah putih tambah koyok londo, den ayu cantik ya Ndoro!” jelas Sastro yang meluap luap membuat eyang menoleh dan kembali memperhatikan D yang masih tertunduk dan tersenyum. Ohh … wajahnya malu mendengar pujian Sastro. “dia gadis yang saya ceritakan sebulan yang lalu eyang!” bisikku pelan.”ayu bocaheee”sahut eyang pelan sambil mencium anggrek yang aku berikan untukknya,menuruti anak tangga mendekatinya.kini wajah mereka saling bertatap muka.dia hanya diam meskipun dirinya tahu kalo sosoknya telah diamati eyang. Spontan tangannya meraihj tangan eyang untuk dikecupnya “desy-kan?” Tanya eyang basa basi.”benarr- Buu!”sahutnya sedikit kagok. “panggil saja eyang sama seperti masmu!”sahut eyang. Astaga seumur umur belum pernah dia memanggilku seperti itu. Pasti lidahnya akan langsung tertekuk saat memanggil sebutan itu. “ayo masuk cah ayu, ayo ngger masuk”ajak eyang pada kami dengan pelukan ramahnya. Kami melangkah bertiga memasuki rumah utama. Rumah ini kuno, tapi aku suka,mungkin diapun lebih suka. Dia gadis yang menyukai keunikan khas orang zaman dulu. Mata kami bertemu dibelakang punggung eyang, saling tersenyum memberi keteduhan hati. Kami duduk dan ngobrol di rumah jogl teras dalam. Ini tempat biasa keluarga bertemu dan bersantai, eyang benar benar sudah memeprsiapkan kedatangan kami. Kutengok diatas meja sudah ada beberapa dua edisi terakhir majalah cosmopolitan kesukaan D. Disampng majalah itu, ada satu Koran Tribune dan media Indonesia kesukaanku. Eyang tersenyum,mengerti dengan apa yang kulihat. Sengaja mereka berdua kutinggalkan unutk mengobrol lebih bebas. Aku berpura pura hendak mengambil tas laptop dimobil. Yang memang sengaja kutinggalkan untuk beberapa hal sebagai alasan. Seperti kondisi saat ini. Akupun langsung mencari kamarku setelah semua urusan beres. Kamarnya sudah tertata rapi. Bau ambipur lavender sudah tersembur menyatu bersama udara. Kutengok jendela besar yang ada di ujung kamar. Satu kamar besar yang belum pernah terbuka unutk siapapun kini sudah bersih ditiap sudutnya. Aku mengamati dengan teliti,kuperhatikan tiap gerakan Yati istri Parmin, aku tahu untuk siapa kamar itu dihias. Kulangkahkan kakiku menuju kamar tersebut. Letaknya memang sedikit agak jauh sekitar dua belas meter dari sebrang kamarku. Hanya kolam renang yang memisahkan letak kamar kami. Eyang memang tahu benar apa mauku. Ketika aku masuk kedalam kmar yang berdesain joglo itu sangatlah kental seni jawanya. Pinttunya terbuat dari kayu jati yang utuh. Begitu juga dengan pilar pilarnya. Dua jendela besar yang mengapit satu pintu berdaun dua,tertutup satu sisi kirinya. Ketika masuk yati sudah menyapaku terlebih dahulu “sugeng rawung den bagus!”sapanya saat menghentikan pekerjaanya. Aku tersenyum “kenapa eyang memeberikan kamar mama untuknya!” tanyaku penuh selidik. “ndak tau den. Saya cumin diperintahkan sejak seminggu yang lalu bersih bersih. Tapi insyaallah kamarnya ndak angker kok den!”ejlasnya penuh khawatir. “bukan itu yang saya maksud!- karena papa dan istrinya tidak boleh tidur dikamar ini sejak mereka berdua menikah!”.kami terdiam, akupun mengawasi setiap sudut kamar menebar pandangan. “Yati tolong ganti bunga ini dengan mawar baru ya, airnya jangan terlalu banyak biar tidak bususk, olong tambahkan satu blanket yang tidak bercorak batik dan kalo bisa warna ungu atau biru,atau perpaduan juga boleh”. Yati menoleh dan mengangguk alu keluar meninggalkan kamar. Kuperiksa kamar mandi-nya yang sekarang sudah diganti dengan bath tub dan shower warna biru muda. Handuk dan kimononya juga berwarna biru tergantung bersih didalam kamar mandi. Lima menit kemudia yati sudah kembali dengan semua yang aku perintahkan. Aku membantunya mengatur blanket. “mana remote ac-nya?”tanyaku pada Yati. Saat membalikkan tubuh seusai membuka laci meja tv,lalu memberikannya padaku.”ini den !”jawabnya. “sudah tinggalkan aku disini, dan tolong bawakan satu water jug air mineral!” sahutku. Tapi anehnya dia masih terbengong sendirian disudut pintu, dan ketika aku menoleh dia merunduk. “ada apa Yati?” tanyaku penasaran, takut kalau aku sudah berbuat kasar tanpa sengaja. Eyang bisa marah besar padaku. “ngapunten den, sanjang nopo wau, kulo mboten mireng?”. Ahhh aku tau maksudnya, pastinya dia tidak paham dengan kalimatku. Salahku adalah salah dalam pemilihan kata bila berbicara seperti orang macam Yati. “ohh maksudku tologng bawakan satu ceret kaca minuman bersih dan matang dari dapur lengkap dengan satu gelas berkaki”. Sepertinya dia tahu aku sedang kesal, maka diapun langsung pergi tanpa ada pertanyaan baru. Susah bila harus berbicara dengan orang yang tidak pintar, selalu butuh banyak penjabaran agar dia bisa memahaminya. Kenapa juga mereka lama sekali di teras, apa saja yang mereka obrolkan. Tidahkan eyang tahu bahwa kelopak matanya sudah menghitam. Gerutuku sendiri. Sama sekali tdak kudengar langkah kaki menuju kamar tapi dia dan eyang putrid sudah berdiri di ambang pintu memperhatikan aku yang telah memrapikan ranjang. “mana Yati? Kok kamu yang bersihin!” Tanya eyang penasaran sebelum dirinya pergi meninggalkan kamar. “kamar ini besar sekali?”tanyanya seperti keheranan.”apa aku sendiri tidur disini?’ tanyanya kembali. Yang kontan membuatkupenasaran dan memutar kepalaku secepat mungkin memaksa untuk berfikir cepat. Apa dia memintaku unutk menemaninya? Tanyaku dalam hati. “apa maksudmu?”tanyaku penasaran. Dia diam menyadari kekeliruannya.”ehmmm…tidak maksudku, kamar ini terlalu besar untukku, dan aku takut sendiri diruangan yang belum pernah aku kenal.”aku prihatin mendengarnya yang kini duduk seperti membawa beban berat. “mandilah dulu, air hangat sudah kusiapkan di dalam bath tub, pergilah membersihkan diri, aku hanya takut tubuhnya tertempel siluman leak “. Dilepasnya satu persatu sepatu flatnya. Dibuka juga satu persatu kancing bajunya didepanku tanpa sungkan, hanya tinggal satu kancing atas saja yang belum terbuka. Astaga dia seperti menggoda. Rambutnya yang menjuntai kini diikatnya kuat hingga tercepol. “tenang aku tidak akan telanjang didepanmu, aku masih mengenakan tank top dan satu hot pants!” jelasnya, yang sepertinya heran melihatku terheran heran. Diambil satu setelan baju kedalam kamar mandi lengkap dengan underware yang sempat jatuh didepan mataku persis. Aku tidak mendengar jelas apa yang dia nyanyikan dikamr mandi, hanya samar samara yang aku tahu. Yati-pun sudah mengantar satu water jug bersama satu water goblet dan dua gelas stroberry jus. Kepalaku pusing sekali, sebenarnya aku sedikit lapar, tapi tak ada nafsu untuk mengisi perutku. “kau tidak mandi Hyo?”teriaknya dari dalam. “apa kau mengajakku mandi berdua?” tanyaku lugas tanpa harapan meskipun penuh tuntutan. Yang kudengar hanyalah tawanya yang keras. “aku keluar D, kutunggu kau dimeja makan satu jam lagi. “oke!”jawabnya. setelah kupastikan dia aman bersama ruangan ini, maka kulangkahka kaki kembali kekamarku. Eyang sudah menungguku dimeja makan, tapi aku pura pura berjalan tanpa memperhatikannya.
Kubaringkan sesaat tubuhku diatas ranjang, letih sekali rasanya. Kuambil satu tablet aspirin lalu kuteguk satu gelas air putih. Aku nyaman unutk beberapa menit. Tapi tidak untuk lima belas menit terkhir. Tubuhku terasa lengket dengan keringat. Maku kulonggarkan ikat pinggangku, tapi masih belum membuatku nyaman. Hal terakhir yang aku lakukan adalah pergi mengenggelamkan tubuhku didalam bath tub full berisi air hangat, yang sudah kucampuri dengan setengah botol kecil minyak kayu putih lengkap dengan aroma terapi sandal wood yang dia belikan untukku sewaktu di Jakarta. Aku menyukai aroma ini, hangat sekali. Kumatikan cahaya lampu, hanya kumanfaatkan cahaya matahari yang menerobos masuk lewat angin angin udara. Reaksi aspirin mulai membuatku nyaman. Kucoba merelaksasikan tubuhku sebisa mungkin. Pikiranku berat. Terkirim sudah pesan untuk papa, kalau aku sudah sampai sejak dua jam yang lalu. Papa akan terbang menemuiku sekitar empat hari lagi. Itu berarti aku akan bertemu dengan Laksmi. Dan sungguh itu membuatku muak. Kulempar begitu saja ponselku diatas tumpukan baju yang sengaja kuletakkan diatas lantai. Kupejamkan mataku hanya sekedar belajar untuk tenang. Kutenggelamkan kepalaku kedalam air. Tak ada suara yang kudengar selain suara central music dirumah ini. Kini giliran lagu milik Michael boulton how am I supposed to life without you. Bayanganku menerawang jauh tentangnya, mempertimbangkan banyak hal tentangnya. Pikiranku keruh bila sudah memikirkan hal ini. Keegoisanku masih saja merajaiku. Tapi cintanya sanggup menguasaiku sepenuhnya. Apapun aku lakukan untuk memilikinya, hanya saja sebelum aku berhasil dengan cita citaku, aku enggan unutk menunjukkan terlalu jauh. Bisakah dia menungguku. Bisakah dia mencintaiku. Sejujurnya saat ini dan sampai kapanpun aku yakin dengan pilihanku atasnya meskipun langit ini runtuh. Tiba tiba saja aku menggigil kedinginan membayangkan sesuatu yang tidak bisa kuraih alangkah merananya aku nanti. Aku langsung terbangun dari dalam air, mengambil nafas panjang, mencari buku yang kuletakkan diatas kursi.
Aku senang nenekku menerima kehadirannya, itu berrati dia merestui wanita pilihanku.
Aku mencintainya,menyayanginya merindukannya. Boleh dibilang
Meskipun langit runtuh , lautan mongering, badai menghantam. Rohku akan selalu bersamanya
Dia akan berntung nanti bila dia memilihku sebagai suami
Karena aku tulus,
Aku mencintainya tanpa pamrih
Aku tidak hanya mencintai jasadnya
Tapi ruhnya, jiwanya dan hatinya serta pikirannya
Aku ingin kelak dia bisa membaca setiap buku harian yan aku tulis tentangnya
Aku ingin dia memahami dan mengerti sebasar apa cintaku padanya
Tuhan tau, bagaimana aku…
Every dark light is followed by a light morning.
Love you D
24 DESEMBER 2002
Ketika sudah kurasa cukup, akupun keluar dari bath tub, kutaruh begitu saja catatanku diatas baju bersama ponsel dibawahnya. Kunyalakan shower, membersihkan busa yang menempel dikulitku. Aku sungguh lebih bisa merasa nyaman dengan ini. Sudah kutumpahkan semua yang ada pada selembar halaman buku.
Entah siapa yang mengetuk kamarku, aku hanya bilang “masuk!”teriakku dari dalam kamar mandi. “aku hyo? Jadi rapilah kalau kau keluar dari sana?”teriaknya. aku sudah mengenal siapa dia. Aku hanya tersenyum membayangkan dia bila aku keluar tanpa busana, pastilah dia menjerit. Jadi kuputuskan saja mengenakan selembar handuk. Meskpun aku tidak membawa satu lembar bajupun “ya aku tau etika!” teriakku kesal. Dia tertawa, aku tidak menghiraukannya. Ketika aku keluar dia sudah berdiri dengan mengambilkan setelan baju untuk aku kenakan. Aku diam meperhatikannya”aku akan keluar, aku menunggumu didepan kolam. Aku masih saja terdiam tidak percaya dengan yang aku lihat. Rambutnya yang basah emmbuatnya terlihat sexi meskipun tanpa make up. Kuintip dari balik jendela, dia sedang duduk dipinggir kolam. Memainkan kakinya dengan air kolam. I love you bisikku dalam hati. Kukenakan baju yang sudah dipilihnya,kami sama sama mengenakan celana putih dengan atasan yang beda.
“ayo kita menemui eyang, besok saja kita jalan?” ajakku
“yeahh,…!”
Kami bertiga ngobrol dihalaman tengah dekat kolam, aku sennag karena dia bisa meleburkan diri dengan adapt orang kuo seperti eyang. Ternyata dia juga lumayan pintar berbahasa kromo inggil. Kami makan dan mengobrol kesana kemari, sesekali eyang melemparkan senyum kepuasan padaku tentangnya, sesekali juga aku melihat senyumnya yang menawan. Hatiku ingin menjerit bila menyadari semakin menipisnya waktu kami bersama. Haruskah kuperpanjang masanya, haruskah kunikahinya sekarang? Akan kuberi makan apa dia? Bagaimana bila aku tidak bisa membahagiakan dia? Cinta saja tidaklah cukup? Pekikku dalam hati
“sepertinya kalian letih, bersitirahatlah,besok saja kita lanjutkan obrolan- oh ya Yati tolong bawakan beberapa kue ke kamare mereka yo… ojo lali loh, biar bisa nyemil, ben wetenge ora kosong yo!” pesannya sambil melangkah pergi meninggalkan kami. Yatipun mengikutinya hingga sampai kekamar eyang.
“ayo kuantar kekamar?” ajakku “atau kau mau kugendong?” dia menggeleng sambil berusaha tersenyum lemas menahan rasa kantuknya. “kau ngantuk berat sepertinya?” tanyaku sekedar memastikan. Kuantarkan dia kekamar, tanpa basa basi diapun langsung berbaring di ranjang dengan pulas. Kutarik selimut tebal, sekedar untuk menghangatkan tidurnya. “good night, sweat dream!” akupun langsung meninggalkan kamarnya. Rasa kantukpun menylimutiku, tak butuh waktu lama untuk menenggelamkan jiwaku ke alam mimpi hinga terik matahari.
Pagi pagi buta aku terbangun, entah apa yang membangunkanku. Tapi yang jelas, aku memimpikannya bahwa dia menolakku saat aku mengatakan cinta untuknya, aku pedih ketika melihat ada seorang anak kecil mendatangiku dan mengatakan apa Om teman-nya Bunda?. Mataku terus membelalak. Kuteguk beberapa gelas air putih , kuteguk juga beberapa sloky sake yang kubawa dari jepang. Kutenangkan diriku setengan mungkin. Aku diam unutuk beberapa saat, memandangi jendela kamarnya tanpa menyalakan lampu. Kamar itu masih tenang belum ada suara apapun,meskipun tampak yati sudah membersihkan halaman depannya. Kuraih kembali catatanku, kunyalakan laptopku, tidak ada pencahayaan lampu yang kunyalakan.
i am here for you, stay for you… only for your entertainment
I am crazy over you
my love is deep like oceans, I don’t have a ship when you leave me
I can’t breathing when you done with me.
You can changes me, my heart is blind without you
You always gonna be my part
I just want you beside me unutil my hair get white colours
And hold you in my arms ,never let you go
Without surrender
Did you wanna there with me , when I need you
Just do like I do
Cos I always gonna there when you need me
I’m promises
What ever it takes
I love you till I’m dying
Yoyakarta
25desember’2002
Hatiku belum tenang dengan semua ini, meskipun sudah kutumpahkan semua perasaanku pada lembaran ini. Aku ingin mendapatkan kesegaran lebih dah aku tahau apa itu.
Kujeburkan saja tubuhku dalam kolam, hingga yati menjerit, dan parmin menghampirinya. Tak kuacuhka sama sekali mereka. Meskipun jeburanku membasahi lantai yang mongering “ bikin kaget saja den?” teriak Parmin. Sambil menenangkan istrinya yang tengah panik. “kau ini kenapa?” teriaknya padaku. Aku langsung menepi ketiga mendengarnya . dia kini jongkok diatas wajahku menatapku dengan sayu, kelopak matanya terlihat mendung, apakah dia merasaka apa yang aku rasakan. Apakah dia memimpikan hala yang sama. Entahlah aku tidak tahu. Aku hanya terus menatap wajahnya. “kau kenapa?” tanyanya yang sungguh prihatin. “aku sedang berenang pagi!” kilahku tanpa berani emnatap wajahnya, akupun menjauhi satu meter. “tidak, kau mengenakan busana lengkap, jadi tidak mungkin bila kau berniat untukk…!”. Aku diam lalu kembali mendapatkannya. “ada apa? Please katakana padaku?” tanyanya kembali. “why you look so stubborn?” tanyanya kembali. Dan kini dia melangkah pergi meninggalkank masuk dalam kamar tanpa menghiraukanku. Aku merasa sedikit sakit hati, terlebih ketika dia meninggalkanku sembari membanting pintu. aku tidak menghirakannya, kubenamkan diriku dalam kolam memutari kolam. Hingga putaran yang kelima, aku keluar dan menemuinya dikamar. Basah kuyub tanpa handuk. Kudapati dia sedang menitikkan air mata untukku, basah kuyun ketika aku berusaha memeluknya, tubuhnya menghangatkanku.
“apa kau-..kau…iii-ingin kita putus sekarang?” tanyanya terbata bata
“tentu saja tidak, kita masih punya waktu, dan aku masih sangat mencintaimu?”
“kau kenapa pagi ini?”
“aku hanya mimpi buruk,percayalah aku mash bisa mengatasi semua ini, apa kau mau kebali lagi, saat tahun baru nanti?”
“aku menurut saja!”
“baiklah kita akan berangkat tanggal 30, atau kau ma kita kembali ke Jakarta?”
“terserah, kemana saja yang penting kita bersama!”
“thanks!”
“Gantilah bajumu, sepertinya ada satu baju kering yang nyampur dalam tasku satu stel, jangan sampai eyang menangkap ke anehan kita!”
Dia mengeluarkan setelan baju lengkap dengan pakaian dalamku. Kemungkinan itu baju terakhir yang kami laundry lewat room service sewaktu di Jakarta. Kubersihkan diriku dalam kamar mandinya, aroma teraphy sandal wood sama seperti yang kupakai semalam. Hatiku merasa tentram,mendapati aroma tubuhnya, ras kekhawatiranku tidak jelas, tak sadar hidungku mengeluarkan darah, aku merasa sedang mimisan. Kutengadahkan lalu kusandarkan kepalaku ke bath tub. Sekedar menahan darahnya agar tidak terlalu banyak keluar.. kuraih baju hemku, untuk menahan darahnya. Kutahan beberapa lama hingga tidak lagi keluar, maka akupun selesai dengan urusan kamar mandiku. Dan ketika aku keluar. “kau baik saja?” tanyanya. “yah!” jawabku singkat. “tidak…tentu saja tidak, karena darah dari bajumu bersal dari hidungmu!” jawabnya mendekatiku mengambil tissue yang ada dibelakangku. Dia menarikku tidur dia tas ranjangnya yang sudah rapi. “kau mimisan!” serunya sambil menempelkan kapas lalu menariknya pelan.”ini hanya minyak kayu putih murni!semoga darahnya segera berhenti!”serunya kembali.”tenangkan dirimu! Akan kuambilkan minum. Agar tidak dehidrasi”. Betapa bahagianya aku melihat perhatiannya yang sangat dekat. Ini merupakan obat mujarab bagiku yang telah terluka oleh bayanganku tentang dirinya. “janganlah berpikir macam macam. Bila kau memikirkan aku janganlah terlalu dalam. Percayalah aku akan mencintaimu bila kau juga mencintaiku, bla tidak maka kita masih bisa bersahabat seperti awal!” lanjutnya. Aku terdiam meskipun sedikit mengejang.
Sejak saat itu, aku semakin berusaha mengontrol diriku agar tidak terlalu lemah. Kami menjalani sisa waktu kebersamaan kami untuk lebih menyisakan kebahagiaan yang tidak terlupakan, seusai sarapan, aku langsung mengajaknya mengelilingi Yogyakarta, kami membawa satu stel baju masing masing, mengunjungi parangtritis,grojogan sewu,mengunjungi taman sari. Tak ada satu aksi yang tidak kami abadikan. Semuanya indah. Di hari kedua kamipun mengunjungi candi borobudur, disana kami lama mengobrol hingga tidur diatas rerumputan sekitar halaman candi, malamnya kami melewati keraton Yogya dengan mencoba melewati pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Banyak mitos tentang pohon itu, tapi aku tidak mempercayai hal tersebut secara utuh. Dia gagal melewati pohon itu, tapi aku senang aku berhasil melewatinya dengan amta tertutup. “kau hebat!”ujarnya sambil mencubit pipiku.”ahh…hanya kebetulan, cobalah lagi kau akan sukses, jangan menyerah. Thomas alfa Edison saja tidak menyerah menciptakan lampu!” sahutku menghiburnya.
Dia tersenyum”aku lapar!” tanyanya, “aku pingin bakso, sudah lama aku tidak makan bakso!tapi yang model solo ya,kan ada sayurnya”. Kamipun mencarinya disekitar area kampus UGM,betapa senangnya melihat dia menikmati makanannya.”kau seperti orang yang kelaparan!”aku tersenyum mengamatinya.”tentu, bagaimana tidak, ka uterus menerus mengajakku masakan bule, rasanya lidahku ini merindukan masakan nusantara!”jawabnya spontan dan lugas. “Desy sayang, rugi donk kita menginap dihotel five star, tapi masakan memilih selera nusantara. Lagipula bukannya kok juga sudah terbiasa dengan ala carte western!”sahutku. dia tersenyum”kau tahu hyo, hampir sebulan ini lidahku melintir dengan masakan berbumbu basil,tobasco,oregano,tyme,paprika!”. Sikunya ditonjokkan kearah perutku “sakittt D!”pekikku memelan, sengaja tidak kukatakan lantang.”marukk sekali, kau ini…!”. Dia hanya diam asyik menikmati bakso. Yah bakso, lama sekali aku juga tidak menikmatinya,sejak lama. Terakhir aku makan bakso adalah di jalan jawa bersamanya tiga tahun yang lalu. Aku lupa bagaimana rasanya pentol, gorengan, dan tahu, siomay. Aku senang melihatnya menikmati bakso, semua yang ditampilkan begitu polos. Betapa senangnya bila orang bisa membahagiakan orang yang kita cintai. Dunia ini serasa hangat penuh cinta. “cepatlah habiskan baksomu, antarkan aku ke pasar klewer habis ini, mau ya? Mau ya…maukan?”. Buru buru sekali dia, heran aku. Apa yang mau dbelinya dipasar itu. Jujur saja aku tidak terlalu nyaman bila berbelanja ditempat seperti itu. Bukan masalah pasarnya yang aku permasalahkan. Tapi banyaknya orang yang berjejalan disana. Itu sungguh menyesakkan.aku hanya diam, ntah dia tahu atau tidak. Yang jelas aku tidak sedang memperlihatkan ketidak nyamananku atas ajakannya. “kau bisakan?” tanyanya penuh selidik.aku mengangguk tanda setuju, sesekali kusuapkan kembali sendok baksoku. Dan meminum es kelapa mudaku. “aku pesan satu gelas lagi ya es-nya?”tanyanya merengek.”yah, lima gelas juga tidak masalah selama perut mu bisa menampung?”jawabku serasa tersenyum menunjukkan gigi putihku.”kau pikir aku tong sampah!”jawabnya setengah sewot. Hari ini kami bercanda sesering mungkin, semakin hari semakin dekat dengan perpisahan. Andai waktu bisa berhenti. Maukah dia terus bersamaku, lama sekali aku merenung. Hingga dua jam kemudian, kami keluar dari warung kaki lima. Kembali melakukan perjalanan. Perjalanan kali ini berbeda dengan rute kami sebelumnya, selalu mewah dengan fasilitas. Ntah sudah habis berapa banyak uangku, tapi sunguh sampai detik aku bernafas. Belum juga kurasakan sedikitpun rasa penyesalan dengan apa yang sudah kulakukan saat bersamanya.
Menikmati malam bersama serasa begitu fantastis dan sanggup menyemarakkan adrenalinku sebagai pria. Meskipun itu tidak terlalu jelas dimatanya. Rasa percaya diriku semakin bertambah bila dia bersamaku. Akankah semua selalu seperti ini, akankah rasa yang kami rasakan akan selalu tetap sama sampai kapanpun tanpa luntur sedkitpun. Uraiku dalam hati tanpa suara. Mobil kulajukan dengan kencang tapi penuh kewaspadaan, kutrobos gelapnya bersama sinarnya bintang. Hatiku kembali berdegup penuh harapan penuh impian…”kelakkah kita bisa bersama?” saat mendengar ucapku dia hanya menoleh dan menatapku lekat lekat nyaris seperti busur panah yang siap menuju sasaran pupil mataku. Nafas yang berat kembali keluar dari hidungnya, sungguh terasa berat rasanya saat dia mengatakan sesuatu. “ntahlah, kau selalu mengutamakan impianmu daripada cintamu?” jawaban ini begitu menyerangku, dan belum sempat kulontarkan jawaban baru, matanya kembali mengembun dari balik Rodenstock-nya yang biru. Aku menyesal telah menanyakan hal itu. Tapi sungguh tak bisa kupungkiri bila palung cintaku semakin dalam kurasakan bersamanya. Nyaris tiada jedah sedikitpun untuk berfikir sehat. “kau masih impianku!”jawabku pelan saat tiba tiba kuhentikan mobilku diujung trotoar disebuah jalan raya tengah kota Yogya. Kami berdua terdiam. “masih, untuk sekarang! Tapi untuk kedepan kau belum tentu merasakan hal yang sama!hanya perlu kutekankan sekali lagi, aku sangat mencintaimu…sangat..sangattt sekali,aku sendiri tidak tau sejak kapan aku merasakan hal seperti itu karena aku sendiri tidak yakin”. Uraian hatinya begitu dalam sampai ketelingaku hingga tanpa sadar dia sedikit melukai persaanku hingga otakku terasa seperti beban. “aku juga mencintaimu”jawabku bahkan sepertinya, rasa cintaku lebih dalam dibandingkan dengannya. Hanya saja aku bukan pria yang mudah mengutarakan cinta lalu menunjukkannya dengan cara berlebih. “terimakasih!” jawabnya. Jawaban itu terdengar datar tanpa penekanan emotional. “bagaimana kalo kita ke parangtritis!” usulnya saat mencoba mengubah suasana yang biru agar tidak terlalu lebih sendu lagi. “malam ini?”tanyaku sedikit kaget lalu kutatap wajahnya yang kini kembali cerah.”oke baiklah tuan putri” jawabku.
Kupacu kencang kembali laju mobilku, ke empat rodanya saling berkejaran dengan debu malam yang lembut dan daun kering yang berguguran. Indahnya malama yang kauberikan untukku malam ini. Taklama kamipun sampai di parangtritis, keluar dari mobil dan menikmati indahnya pantai, kata orang parangtritis berbau magis dan sangat terasa bila kami mengunjungi dimalam hari. Tapi itu tidak berlaku untukku. Hal magis yang kurasakan hanyalah senyumnya.disana kami mengobrol,bercanda dan sesekali aku menciumnya. Madu yang keluar dari bibirnya serasa seperti madu buatan taman firdaus. Begitu sempurna rasanya. Tak ada satupun yang lupa untuk kuabadikan. Kami bermandikan cahaya bulan dan percikan bintang, angin serasa berbisik bahwa dialah tempat pelabuhanku yang sesungguhnya. Karena angina aku bisa mencium aroma tubuhnya dank arena angin juga rambut panjang hitam itu mencambuk wajahku yang sudah kurang ajar menciumnya. Sungguh terasa geli membayangkan sesuatu hal yang diluar batas kemampuanku. Sungguh luar biasa atmosphere yang kami rasakan. Jantungku lebih berdebar kencang ketika dia kembali merebahkan kepalanya didadaku tepat dijantung hatiku. Nadiku terus bergetar, darahku terasa membeku. Meskipun angin laut malam memberikan kehangatan untuk kami. Entah mengapa aku merasa gagah seperti pangeran Hector , aku juga merasa setampan Nabi Yusuf. Benar benar luar biasa sempurna. Aku sadar aku sangat mencintainya. Aku tergila gila karenanya. Dan aku merasa dia begitu hidup saat menghidupkan jiwaku yang mati. Aku tidak perduli meskipun dia bukanlah seseorang yang penting didunia ini tapi dia adalah sesuatu yang terpenting diduniaku. Suara deburan ombak memberikan kesejukan yang biasa bagiku, tapi suaranya sungguh hebat seperti gemuruh angin tornado yang menghajar alam. Menggelorakan jiwa mudaku. Sedikit teringat olehku, menurut kabar angin setiap pasangan yang belum menikah akan putus setelah mengunjungi parangtritis. Tapi tidak kuutarakan padanya mengenai ini. Aku tidak ingin dia punya pemikiran yang berlawanan denganku apapun itu bentuknya.
Keesokan paginya kami sarapan bertiga bersama eyang putri, tidak ada yang terlalu istimewa selain menatap wajahnya yang bersinar penuh kebahagiann. Semua menu tidak ada yang menggugah selain sapaannya. Dia benar benar tahu bagaimana caranya unutk membuatku tersenyum, aku malu bila dia emnatapku tajam, begitu juga dia yang malu bila tiba tiba saja mendapatiku sedang tertangkap basah menatap geraknya. Sempurna seruku pelan, eyang langsung menyapaku ketika dia mengikuti Yati masuk dalam dapur untuk menyiapkan semangkuk soup. “nampaknya dia bagaikan penari serimpi yang siap membius sang raja dengan gerakannya!” begitu santainya kalimat itu terlontar hingga baru bisa kuserap setelah sepuluh detik kemudian “lohhh..benerkan apa kata eyang! Kowe memang ndak pernah beda sama mamimu! Cucu eyang benar benar mewarisi sifat dan karakter keangkuhannya ”. ujarnya kembali sembari mengunyah daun siri yang dioles oleskan ke mulutnya dengan memutar gerak berulang ulang. Aku hanya bisa tersenyum dan menahan rasa malu yang tiada terkira. Diam adalah hala terbaik yang harus kulakukan saat ini. Eyang sangat pintar menilai kejiwaan-ku. “byuh…byuh…kasmaran!”logatnya dalam bahasa jawanya yang kental.
Dua jam kemudian kami mengunjungi Yogya taman sari, menikmati pandnagan khas kedaton yang luar biasa indahnya kebudayaan jawa. Teruslah bergaya dan berpose.uraiku maka aku akan semakin dimanjakan oleh obyek dewiku bersama kamera analogku. Saat ini tidak ada yang bisa menggugah selera ku selain dia, “aku suka tempat ini?” ujarnya.seperti biasa aku hanya tersenyum dengan anggukan. Kami mengintari area taman, lalu duduk disebuah kursi bebatuan disana kami duduk berdekatan menyandarkan punggung pada sebuah sandaran batu, menggenggam tangannya adalah hala indah yang harus aku lakukan rutinitasnya. Aku tidak mau kehilang satu moment yang romantis bersamanya. Karena dia adalah ikon cinta dalam hidupku. Namanya seperti sebuah prasasti yang terpahat dalam jantungku. Aku hanya bisa berharap hal yang sama. “apa kau tidak ingin ke jepang?”tanyaku tiba tiba. Buka maen kagetnya mendengar pertanyaanku. “kenapa? Aku tidak punya passport, lagipula aku tidak punya keperluan berkunjung!” jawabnya terbata bata lalu menyembunyikan wajah dari tatapanku. “just for long vacation! With me…together!” jawabku serius, entah mengapa pertanyaan bodoh itu begitu saja meluncur dari mulutku. Jantungku berdegup serasa aku sedang menjalani ujian test kedokteran. Kami diam sesaat, hingga dia berdiri didepanku persis dengan tanngan melingkar dibahuku. Tatapan kami saling tajam melempar getaran, mulutnya sedikit menganga lalu”aku akan mengunjungimu kemanapun kau memanggilku,bila itu murni dari nuranimu!” jawaban itu begitu menamparku keras keras. Mulutku terkunci, lalu dia kembali meninggalkanku, kakiku seperti kesemutan dan nyaris tak bisa kugeser satu senti-pun hingga beberapa detik. Begitu sadar, akupun kembali mengejar bayangannya, “kau mau menungguku?”tanyaku penasaran. “tergantung?” geraknya begitu lincah. “apa?”aku benar benar diburu rasa penasaran. Tapi aku tidak pernah menerima jawaban itu hingga kini. Dia hanya tersenyum, betapa geramnya aku. Tapi aku tidak punya nyali untuk mengejar jawabannya. Karena setiap dia bertanya padaku, aku selalu menggantung jawabannya. Alasan itulah yang membuatku untuk memperhitungkan pertanyaanku kembali. Lagipula desember akan segera berakhir unutk beberapa hari, berakhirnya desember adalah akhir dari hubungan pertama kami menjadi kekasih. Betapa sedihnya bila aku merasakan waktu yang begitu cepat berlalu. Sulit untuk aku pahami semua ini. Kami mengunjungi grojogan sewu, untuk menikmati air terjun. Semua terasa sama, dimanapun dia berada unutk menemaniku. Maka hidupku akan berlangsung dengan indah penuh dengan kesempurnaan. Serasa aku seperti bisa menggenggam dunia, serasa aku begitu hidup bahagia bersamanya ditaman Firdaus. Taman gantung babylonia tidak akan membuatku senang bila hidup tanpanya. Semua karena magis yang dia miliki, dan semua yang melekat pada dirinya begitu mudah menyihirku. Hari ini adalah hari terakhir kami di Yogya, karena besok tujuan kami adalah Buleleng Bali atau mengunjungi taman Ismail Marzuki Jakarta untuk menikmati sebuah operet yang dia gemari. Tapi hingga detik ini kami belum juga memutuskan tujuan kami. Hingga…
“sebenarnya aku ingin sekali melihat theatrical di ismail Marzuki. Hanya saja- entah mengapa aku sepertinya ingin mengikutimu pergi ke Buleleng. Atau mungkin kau sudah punya keputusan akhir!”
“entahlah, aku lebih suka bila kau saja yang menjadi guide tournya!”
Kami berjalan menyusuri jalan penuh rerumputan lalu kembali duduk diatas rumput yang basah karena embun.
“aku bingung!”lanjutnya memelas
Diam dan berfikir itulah yang aku lakukan, kuambil laptopku mulai kucari beberapa tempat hiburan yang setipe dengan kami dimalam tahun baru nanti. Kepalaku buntu, tidak ada syaraf yang mau kuajak untuk berfikir. Tidak ada syndrome yang berkaitan untuk bekerja sama.
“googling saja?” begitu sarannya
Tanganku kembali mengetik, mencari hiburan di Bali dan Jakarta. Lalu beberapa website hiburan dan panoramanya. Tapis epertinya dia bingung dan menjadi snagat bingung untuk memilih.
“kau saja!”jawabku
Dia kembali diam, begitu juga aku. Tapi aku yakin kalo begini saja, sampai kiamatpun tidak ada yang mau memberi keputusan. Jujur saja aku ingin sekali ke Bali, tapi aku lebih menyukai bila dia yang memutuskannya. Tapi ini tidak mudah bagi kami dengan sempitnya waktu yang kami miliki. Keindahan ini akan segera berakhir dalam hitungan dua hari kedepan.
“bagaimana kalo kita suit!” usulnya sembari memamerkan giginya yang utuh.
“deal!” pikirku adil
Satu dua tiga kami menunjukkan jari yang sama, tidak ada yang beda
“suit sampai sepuluh!”sahutnya
Akhirnya tuhan memilihnya untuk menang mengalahkanku. aku tersenyum meskipun mulutnya mengerucut penuh penyesalan.
“putuskan sekarang?” sahutku
Dia mengangguk,mematuhiku
“kalo di Jakarta kita bisa menginap di Mulia, dana akan aku booking sekarang. dan bila kau menginginkan bali ,maka aku akan memesan Nusa Dua. agar kita tidak terlalu jauh dari Jimbaran, saat tahun baru. disana pantainya masih terlihat indah apalagi dimalam hari” saranku hanya sekedar untuk memberinya kamus tambahan
“baiklah, aku memilih Bali. Sisanya kamu yang atur. Sekarang juga kita bisa memesan tiket pesawat keberangkatan. Lebih cepat lebih baikkan.!”
hanya mengangguk setuju itulah aku. kami bergegas mendapatkan tiket penerbangan untuk besok pagi, lalu memesan kamar hotel di Nusa Dua untuk besok, setelah semua selesai, dia kembali mengajakku menikmati bakso solo yang ada dipnggiran jalan. tidak ada tenda disekitarnya. hanya sebuah gerobak bakso yang terparkir dipinggir trotoar. Dengan terpaksa kuparkir juga mobil dipinggir depan gerobak. dengan santainya dia keluar dari mobil dengan senyum riang tanpa dosa. memsan dua mangkuk bakso dengan jenis isi yang berebeda.
“makan dimana?’tanyaku bingung. dan dengan entengnya dia menjawab. “disini aja lebih seger?” jawabnya sembari duduk santai diatas trotoar jalan tanpa alas apapun.”dimana ?”tanyaku sembari menebak nebak. dia tersenyum sambil matanya melirikku agar akau duduk mendekatinya dengan membawa semangkuk bakso solo. persis sesuai dugaanku pastinya dia akan mengajakku makan dipinggir jalan. dia tersenyum, seprti memehami keberatanku. “kalo kau tidak mau kau bisa makan didalam Volvo putihmu”jawabnya lugas tanpa tatapan. Ide gila tapi aku suka. aku menyetujui saja, aku tidak mau menyakitinya, aku selalu ingin meluluskan semua permintaannya. “so sweat-kan!” jawabnya terkekeh. aku hanya tersenyum kecut dan itu kembali mengundang tawa.
Tepat jam tiga sore,kami sampai di Bali untuk yang kedua kalinya. kedatangan kami, untuk menyelesaikan dua hari terakhir dari Desember kami. sebenarnya kemarin eyang keberatan melepaskan kami untuk meninggalkannya. Tapi aku terus memaksanya. Aku berjanji akan mengunjunginya kembali setelah gelar kedokteran bisa aku kantongi. aku berkelakar aku akan datang memohon doa restunya untuk menikahi D. Eyang tersenyum lalu mencium kami berdua dan memelukku erat erat. Eyangpun tau kalo aku menghindari istri papa yang akan mengunjungi kami di Yogya. semua tahu kalo aku selalu berbeda pendapat dengan perempuan itu. dan aku sangat memebencinya, serasa musuh yang harus aku hindari. aku sangat tidak menyukainya bahkan aku sedikit membencinya.
Penerbangan kami berjalan lancar. tidak ada gangguan sedikitpun bahkan begitu sampai di Nusa Dua kamipun langsung berlomba renang. melepas lelah dengan air sangat menyenangkan. Rasa berat melepaskannya kembali membayangiku. candle light diner m,ala mini sangat beda dari yang sudah pernah kami lakukan. tak ada obrolan, hanya diam membisu itulah kami malam ini. menu makanan masih utuh, hanya steakyang sudah kami potong potong kecil. Ekspresi wajah kami nyaris tiada beda, bayangan perpisahan kembali menggelayutiku, tak lama dari selang waktu berjalan aku kembali tersenyum ketika membayangkan keberhasilanku mendapatkan gelar dokter dari Jepang, betapa senangnya aku bisikku dalam hati. dia tersenyum melihatku tersenyum. tak sanggup kami menjejalkan satu sendok makanan kemulut kami. “berdansalah denganku!”ajakku tenang. Kami berdansa hingga beberapa lagu terputar dari careless whisper – beauty and the beast – what a wonderful world. Sem,ua terdengar indah didalam hatiku “kau cantik malam ini” bisikku dilantai dansa “kau harum penuh pesona!” lanjutku. dia hanya diam tapi pelukannya kembali erat membalut tubuhku. Terasa begitu hangat, rasa sedih semakin terpatri dalam hatiku, kurasakan semua seperti teduh “something Blue inside myhead!”ujarnya, air matanya membasahi bahuku. maafkan aku telah menyakitimu, tapi percayalah kau akan selalu menjadi ratu dalam hatiku sampai gunung runtuh, air laut mongering, dan pintu langit terbuka. hanya ajal yang bisa membuatku berhenti mencintaimu ujarku dalam hati. akupun memeluknya erat, “aku mencintaimu!”bisikku pelan dan dia sama seklai tidak bergeming sedikitpun. Dadaku terasa sesak, aku berusaha membendung air mataku agar tidak keluar, tapi semakin kutahan aku semakn susah untuk bernafas. kami terus berepelukan tanpa banyak bicara. malam benar benar mengharukan. aku nyaris tidak bisa tidur, begitu juga dia. kami menghabiskan waktu bersama disekitar kuta. meskipun kami menyewa kamar, tetap saja siang malam kami berada dijalanan mengahabiskan kebersamaan. kunjungan terakhir kami pergi ke Buleleng. Hampir seharian kami menghabiskan waktu. semakin mendekati hari perpisahan tak satupun dari kami banyak bicara, tak satupun dari kami menceritakan satu cerita lucu dan tak satupun dari kami saling melarang dengan sesuatu yang biasanya kami benci. terlebih aku, aku semakin terdiam membisu, hanya dengan pelukan aku merasakan kenyamanan untuk penetralan energi jiwaku. meskipun kami berjalan bergandengan kami saling merasa seperti orang asing yang baru saja mengenal. Semua semakin menyulitkanku. Senyumnya tak lagi indah, tatapan matanya tak lagi tajam, keteguhan jiwaku serasa memudar terbawa angin. Keromantisan Buleleng yang aku bayangkan tidak sesmpurna yang pernah kami kunjungi seminggu yang lalu. ingin rasanya aku berteriak tapi aku sadar ini semua hasil karyaku. maka hanya aku saja yang bisa memutuskan semua akhirnya. aku hanyalah seorang sutradara yang menginginkan ceritaku berakhir dengan kesedihan. Aku menampilkan sisi gelap hidupku terus menerus dengan selimut kecongkakan.
Tepat ditanggal 31 Desember kami mengunjungi restoran unutk mengambil jatah sarapan pagi. aku memberinya sebuah kado kecil berisikan kerajinan perak khas dari Kalimantan didalamnya telah kutulis
Mylove D
I love what you are
I’m always getting dizzy when I’m thingking over you
just trust me I love you more than my self
I love you love you
I always hope that you can feel like what I feel
it’s hard to say goodbye
my tongue doesn’t speak
that’s really who I am
dear I just wan’t you ever forget me, don’t ever
my poor angel..trust me we can to be come one.. next year
just have me with your best looks
dear….
I can’t keep my eyes of you
your heart
Hyo
Bali 31 Desember 2002
Tak sanggup mataku membayangkan dengan semua yang akan aku lihat. pikiranku masih menerawang. rasa takut dan gambaran kekecewaan membuatku bergidik saat akan menyerahkan surat itu. Hingga kubulatkan untuk mengundurnya hingga nanti malam. Jadi hadiah itupun kuurungkan. “buffet?” tanyaku. Lalu dia mendekatiku “Yah, kan satu paket kitakan memesan service continental!” jawabnya tanpa senyum. Sungguh wanita yang angkuh pikirku. aku terus mengikutinya hingga dia kembali mengambil table yang dekat dengan jendela. semangkuk bubur ayam dengan banyak kuah itulah kegemarannya pagi hari. ”hanya omlet dan sosis serta baked potato saja!”tanyanya dengan senyum. “kau harusnya senyum dari tadi, agar aku tidak membeku?” jawabku kesal tapi sedikit lega. Senyumnya penuh mantra yang siap untuk menarikku seperti magnet. “ini sudah mengenyangkan!” jawabku singkat. “boleh aku minta omletmu sedikit?”tanyanya. dia memberiku jempol”habiskan kalau kau mau, aku bisa memesannya lagi. kan free charge to!” jawabku. dia terus memutar mutar penghalus merica. suka sekali pedas. “biar aku pesan sendiri, full Bombay paprika dan keju!” jawabnya sambil jalan mendatangi seorang chef yang sibuk menerima taking order dan melakukan cooking demo. Dengan senang hati chef tampan itu membuatkan orderannya. kini langkahnya kembali menyandingku, aku setia menunggunya hingga detik terakhir. masih kuperhatikan sang chef itu terus mengawasinya. aku tau apa yang dipikirkan pria sehat tentang postur tubuh dan wajahnya yang menarik khas wajah pribumi. semua sama, tentunya akan tertarik dengan keanggunannya. aku terus mengawasi sorot mata itu, hingga dirinya tersadar dengan siapa gadis yang mereka perhatikan duduk disebelahku… hari ini adalah hari terakhir kami menjadi sepasang kekasih. aku hanya berharap besok matahari masih terbit dari timur, meskipun kami sudah berpisah. “nanti malam kita makan malam ya di Jimbaran!” tanyaku sedikit khawatir, kalau kalau dia menolakku.”yah, pasti asyik !”jawabnya”emmm….tapi ..AHHH…tidak apapalah pasi menyenangkan!”. Heran saja mendengarnya bingung, kenapa kami berdua semakin merasa canggung. Ntahlah aku sendiri tidak tau. Aku selalu menghitung detik waktu berjalan. Semakin waktu bertambah maka aku merasa semakin sempit dan sesak nafas. Bahkan dia sedikit bicara, dan sering menghindariku. Rasa sakitku kian detik kian bertambah. Bahkan aku sering merasa , untuk hari ini saja dia seperti orang yang sedang terdoktrin dengan suatu dogma. Aku tidak suka itu. Aku hanya pasrah dengan semua, inilah yang harus kutanggung, tapi aku tidak terima bila dia harus merusaknya malam ini. Yah ini belum waktunya untuk berpisah, dn aku masih punya beberapa jam kedepan untuk mengumbar perhatian dan keromantisan untuk dijelajahi. Tapi semuanya tidak lagi semudah hari hari sebelumnya, terlebih untuk siang ini. Sejak kami dating ke Bali semuanya terasa beda. Kami seperti orang asing, D-pun tidak mau mendekat bila bukan aku yang memulai. Ketika kami kembali dikamar hotel akupun diam untuk sesaat memikirkan dan mempetimbangkan semua hal tentangnya. Kupandangi dia yang kini tengah duduk santai di sofa dengan satu novel. Cerita yang indah itulah yang aku tahu hanya saja cinta mereka tak bisa bersatu Hamid dan Zainab sepasang kekasih. Aku mendekatinya dan duduk di sofa depannya persis. Tak sedikitpun matanya bisa kutangkap. Dia hanya diam asyik tenggelam dengan dunianya. Kubawakan dua cangkir capucino lengkap dengan sacher cake kesukaannya, yang sebelumnya sudah kupesan dari room service. Secara normal hidungku bisa mencium keharumannya, dan biasanya hidungnya akan segera mencium aroma kopi lalu cepat cepat dia menyambarnya. Tapi, kali ini beda. Dia masih saja tetap mematung pura pura dungu dan buta tiba tiba.
“Dibawah Lindungan Ka’bah ? here we come….capucino lengkap dengan sacher cake special for you?”
Pelan pelan kepalanya mulai terlihat dari balik buku novelnya. Lalu melukiskan senyumnya yang indah untukku.
“kau suka?” tanyaku kembali dengan nada memelan dan mencoba untuk meningkatkan kesabaran yang penuh empati. Tapi dia masih saja datar
“yah!”
“nikmatilah, aku senang bila kau sudi menikmatinya”
Novel itu kini diletakkan diatas meja disamping nampan. Tangan kirinya mengambil mawar yang ada dinampan lalu menciumnya. Hidungnya pelan pelan mencium aroma wanginya lalu melepaskan nafasnya dengan ringan.
“besar sekali kuenya?”
“bukan masalah,ini ukuran S jadi tidak terlalu mahal untukku!”
“harum sekali kopinya, tapi sepertinya aku tidak bisa menghabiskan sacher cake itu separoh, jadi kau yang harus menghabiskan sisaku!”
“bukan masalah besar, tidak perlu kita habiskan! Kita nikmati saja?”
Kali ini aku yang memotongkan kue itu lalu meletakkan di plate-nya. Dia membantuku memotongkan bagianku. Tangan kami bersentuhan tanpa sengaja. Sungguh tidak sengaja, matanya tak berani menatapku. Justru akulah yang menatapnya lalu menarik tangannya hingga tanpa keseimbangan dia terjatuh didadaku. Wajahnya memucat, matanya berembun menahan mendung. Tak sadar diapun menitikkan air mata. Tanpa bicara aku memeluknya erat lalu mencium keningnya. Bukan main sakitnya hatiku. Aku menahan gejolak emosi. Dalam hati aku bicara D aku sangat mencintaimu kumohon kau percaya. Lidah ini tetap saja tidak bicara. Didalam mulut dia terkunci rapat. Tak ada satu huruf-pun yang keluar dari tenggorokanku. Kemanakah suaraku pergi. Perlahan kuhapus air matanya lalu kami kembali tersenyum
“maaf aku terbawa emosi”begitu urainya pelan
“aku juga! Tapi malam ini masih milik kita berdua bahkan sampai kita kembali ke Surabaya nanti”
Lalu dia meninggalkanku tanpa menyentuh kue itu sedikitpun. Dia pergi berdiri diatas teras. Diam termenung itulah yang dia lakukan. Kemudian kudatangi dan kupeluk erat dari belakang. Jantungku tak lagi berdegup kencang, semuanya datar. Hanya saja aku menahan emosi agar aku tidak terlihat seperti pria lemah yang kehilangan senjata. Aku tidak mau dia melihatku rapuh tidak siapapun. Angin meniup rambutnya, menutupi sebagian wajah cantiknya. “I still love you till this second…I’m yours . So please give me smille even to day our last day!”dia tersenyum tanpa makna. Aku tahu bahkan snagat tahu, semua terasa berat. Tapi alangkah sennagnya aku. Dengan ini semua aku bisa tahu bahwa sesungguhnya memang dia juga sangat mencintaiku. Ingin sekali aku mempercepat takdirku. Entah bagaimana caranya, hanay saja aku ingin tahu kepastiannya tentang kami berdua. Ke arah mana Tuhan akan membawa kami hidup. Dia masih membisu lalu menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Sungguh itu snagat menenangkan. Kami diam berdiri berepelukan sambil memandangi ketiuhan orang dibawah sana. Cerahnya langit tidak secerah hati kami. Lama sekali aku memeluknya. Kucium rambutnya, bahunya – pipinya – lalu kamipun segera memanas ketika aku segera melumat bibirnya. Lalu kuhentikan dengan terpaksa perlahan lahan.
“aku ingin nanti malam kau masih sudi menenmaniku makan malam ditempat yang kita bicarakan tadi pagi!”uraiku. perlahan lahan kutuntun dia mennghindari sinar matahari. Mencari kenyaman bangunan hotel yang mewah. Lambat laun dengan menikmati kue kamipun bisa kembali mencari kehangatan dalam bentuk percakapan. Yah inilah D yang sesungguhnya aku tersenyum. Kami duduk dengan menyelonjorkan kaki, rambutnya kubelai, begitu tenangnya dia duduk didepanku lalu bersandar didadaku. Aku menyuapinya kue, meskipun dia sibuk membaca tapi aku yakin seratus persen dia tidak akan memahami apa yang dia baca. Karena sampai dua puluh menit tak satupun halaman itu dibaliknya. Geli sekali memikirkanya. Semakin sore hubungan kami semakin membaik,hingga dating waktu dinner. Dandanannya malam ini begitu casuel tapi masih saja tetap anggun. Hanya mengenakan jins belel dengan baju satin berwarna biru potongan V. sepatu flat warna hitam beleudu membuatnya semakin cantik. “aku suka penampilanmu!” kugandeng tangannya yang halus. Berjalan berdua keluar dari hotel “terimakasih1”. Sengaja kami meminta bantuan transportasi hotel. Dan seorang bellboy mengantarkan kami hingga tempat tujuan. Kupeluk erat sepanjang perjalanan. Penuh percaya diri itulah aku. Makan malam kami berjalan begitu hangat tanpa mengurangi keromantisan sedikitpun. Meskipun kami tidak sedang makan malam di tempat yang romantis. Tidak untuk malam ini. Akupun tidak lagi mengenakan setelan blaser yang resmi. Hanya kaos berkrah warna putih dengan setelan celana denim hugo. Kamipun mengenakan jam tangan sama, hugo boss yang kami beli seminggu yang lalu. I’ve good a feeling. Jimbaran malam ini penuh dengan turis mancanegara. Hanya beberapa turis domestik seperti kami saja yang berjumlah sedikit. Semua terlihat riuh dengan persiapan malam tahun baru. Banyak diantara mereka yang bersulang, bahkan sudah mabok disore hari. Ada yang siap membawa kembang api untuk dinyalakan jam dua tepat. “waoow..riuhnya?” suaranya nyaris tak kudengar, bising sekali disini.”apa?oh ya ya ya. Riuh emang!”. Malam ini kupesan sebotol cabarnet sauvignoun. “kau gila?” katanya setelah melihat botol yang kupesan. Pura pura bodoh saja “apa kau mau brandy? Atau mungkin champagne? Asal bukan irish ataupun scoth!” uraiku menegaskan bahawa harga bukan masalah untukku. Bagiku malam ini harus tetap berjalan romantis meskipun tidak seromantis sebelumnya. Semkain malam jimbaran semakin hidup, bahkan banyak diantara mereka menari dan berdendang lalu terjatuh ke lantai. Maklum saja mereka mabuk berat. Tua muda – pria wnaita semua sama. Hanya kami berdua saja yang seidkit menjaga jarak agar tidak ikut gaduh. Setengah jam lagi jarum jam akan tepat di jam dua belas malam. Kami berdua begitu asyik bergenggaman tangan, layaknya sepasang kekasih yang memadu kasih. Meskipun waktunya akan segera habis. “besok kita pulangkan?” tanyanya tiba tiba. Membuat aku sadar dari bayanganku. “ohh ya!” aku begitu gagap menjawab pertanyaannya. Aku sedih mengapa dia meminta secepat itu. “hanya bertanya?”ulangnya. kuusahakan terseyum untuk menutupi pilu. Entah apakah itu berhasil. Dia kembali tertawa ketika melihat seorang pria yang terjatuh ketika sedang berdansa dengan pasangannya. Kencang sekali suaranya. Aku senang mendengarnya, tapi aku juga sedih kenapa dia tidak sesedih aku. Dia begitu tegar, wajahnya kembali ceria,pipinya merona. Kini sudah dua gelas anggur dia teguk, tapi belum juga membuatnya pusing. “kau mabok?”tanyanya padaku penuh selidik “tidak, sepertinya kau yang mulai terlhat?” hanya sekedar menebak. Dia tersenyum. Tepat dipukul dua belas malam kami berteriak dan meniup terompat yang telah dibagikan seorang water pada setiap pengunjung restoran. Gendang telinga seperti mau pecah. Begitu riuh dan bisingnya. Wah ramai sekali. Dia mengisi lagi gelasnya yang kosong lalu kali ini dia kembali mengisi gelasku yang masih tersisa sedikit wine. “minumlah! Buatlah jiwamu ringan agar tidak terlalu beban dengan perpisahan kita. Kau tahu terkadang kupikir kau tampak begitu egois. Dan hanya memikirkan perasaanmu saja. Cinta nomer sekian untukmu. Belajarlah memahami perasaan orang lain. Mungkin kau belum tahu bila wanita yang tersakiti bisa tampak menjadi garang melebihi singa !” bicaranya mulai ngantur. Aku hanya diam dan menatapnya. Aku tahu dia mabok, tapi aku sedih mendengar perkataan itu. Tak lagi ad air mata yang mengalir di pipinya. Tidak ada lagi. Diambilnya botol wine itu lalu dituangnya kembali untuk yang ke empat kalinya. Diteguknya isi itu hingga habis. Lalu dituangnya kembali untuk yang kelima. Mukanya memerah. Mulutnya mengeluarkan bau alcohol. Bauya begitu melekat diudara yang dia keluarkan. Karbondioksidanya penuh dengan alcohol. Nyaris….”D stop. Please stop. You drunk!” tak kuijinkan dia menarik botol itu dari genggamanku. Tapi dia tidak bodoh. Begitu mudahnya dia menyambar gelasku yang utuh. Diteguknya cepat cepat wine itu “kau gila!”sergahku. cepat cepat kubuang wine yang masih tersisa didalam botol. Sangat membuatnya marah “bodoh,kau tahu tu harganya mahal!”sergahnya menjatuhkanku ke kursi. “D kamu lagi mabok. Jadi kumohon kau tenang, kau tidak gilakan untuk mempermalukan dirimu sendiri!” hanya untuk sesaat saja dia tenang lalu diam tak bergeming. Lalu beberapa menit kemudian “aku ingin istirahat!” pintanay sembari menggenggam kado kecil pemberianku. Lalu aku menelphone pihak hotel unutk menjemput kami, tapi kemudian dia melarangku. “aku ingin kita pergi ke kute!”. Aku mengiyakan begitu saja. Tak makan waktu lama kamipun sampai di kute. Kami hanya diam duduk diatas pasir putih, duduk tenang memandangi deburan ombak yang tidak terlalu kencang. Kute malam juga ramai,banyak sampah makanan dan akleng minuman berserakan. Banyak juga pemuda pemudi memadu kasih ,menyalakan kembang api menghiasi malam. Hanya kamilah sepsang kekasih yang duduk terdiam dan berpelukan. Kami berbicara tanpa menatap satu sama lain.
“aku pusing..pusing sekali!”
“kau mabok?”
“kau juga!”
“aku tidak mabok”
“yah…kau sedang mabok!”
“kapan kau akan kembali ke jepang?”
“tanggal tiga Januari 2003, pukul lima sore aku sudah harus sampai dibandara soekarno hatta?”
“kenapa tidak tanggal dua kau berangkat?”
“tiket sudah kupesan sekaligus. Dan kebetulan jadwal penerbangan yang kudapat adalah tanggal tiga! Apa kau keberatan bila aku masih di Indonesia? Lagipula sebenarnya aku masih punya kesempatan untuk mengantarmu dikantor baru nanti. Bukannya lusa kau sudah harus ngantor”
“yah!”
“apakah besok lusa aku bisa mengantarmu?”
“yah!”
“apakah nantinya aku masih boleh menemuimu? Maksudku kalau aku sedang di surabaya”
“yah!” dia lama seklai terdiam mengayun ayunkan kaki yang dipeluknya “semoga kau sukses dan menjadi dokter hebat!”
“terimakasih, kau doakan kau juga sukses dengan kehidupanmu!”
“thanks!”
“apakah kau akan menikah secepat mungkin?”
“ntahlah, otakku belum memikirkan itu. Apakah kau juga akan menikah setelah sekolahmu selesai?”
“ntahlah, pernikahan dan kekasih bukan hal utama untukku di awal tahun ini. Yang jelas. Aku harus mendapatkan gelar dokter paling tidak tiga tahun lagi! Aku juga ingin meneruskan ke jerman, dan mencoba mencari beasisiwa bila ada?”
“ooohhh…! Yah semoga yang kau inginkan segera kau dapatkan! Aku pasti akan mendoakanmu sukses hyo”
“trims D!”
“your welcome”
“apakah kita masih bisa berteman, bersahabat?”
“yah ..tentu…tentu saja?”
“thanks!”
“yah Hyo. Hyo apa aku boleh membicarakan sesuatu?”
“yah, katakan saja… semua masih akan tetap sama meskipun kita bukanlah sepsang kekasih lagi. Tapi waktuku akan ada untukmu. Semua tentangmu masih aku perhatikan!”
“seharusnya kita tidak usah putus seperti ini, dan tidak seharusnya ada ucapan selamat tinggal seperti yang kita lakukan saat ini. Maksudku kita berhubungan saja meskipun jara jauh. Aku berjanji tidak akan mengganggumu bila kau tidak menghubungiku.!”
“D….maafkan aku, aku tidak bis amenerima kesepakatan ini. Jadi kumohon hubungan ini tidak usah kita bicarakan kembali. Aku sudah senang dan sangat berterimakasih bahawa kau sudah bersedia menemaniku liburan. Percayalah D, aku mencintaimu dan aku tidak menyesalkan sedikitpun tentang liburan ini. Kau mengertikan maksudku?”
“yah sangat jelas sekali apa maksudmu!..thanks”
Aku menatap wajahnya yang pucat, tangannya bergetar begitu dingin. Matanya memerah… merah sekali,jantungnya berdegup kencang. Kulitnya sedingin es. Aku tahu apa yang membuatnya begitu. Mungkin kalimat terakhirku sudah mencambuk harga dirinya. “maafkan aku D” bisikku pelan. “aku tahu, jangan khawatir, aku mengerti. Aku menangis karena emosiku tak bisa kutahan. Dan air mataku sudah tak sanggup lagi kutampung sejak tadi!”. Aku diam mendengar uraiannya.”terimakasih unutk hadiahnya!”. Aku hanya tersenyum dan mengangguk lalu membelai wajahnya.”aku harap kau mau membukanya setelah sampai disurabaya nanti! ”. diapun mengangguk patuh.”apa kau mash pusing?”tanyaku.”tidak, wine tidak bisa membuatku mabuk berat!”. Kami melempar pandang lalu tersenyum”syukurlah, aku tidak perlu menggendongmu lama lama!”. Kami tertawa terbahak bahak, siku kirinya disudutkan begitu saja ke perutku. Aku membantunya berdiri,lalu menggendongnya
Malam itu, kami berjalan kaki berdua hingga sampai dihotel. Untung saja sang bellboy tidak mengusir kami yang sudah compang camping seperti gembel. Kami berjalan beriringan menuju pintu lift . Didalam sana kami kembali diam seribu bahasa, aku hanya bisa memandanginya dari belakang,rambutnya tergerai penuh sarang butiran pasir. Terlalu diamnya, hingga kami bisa saling mendengar dengkuran nafas. Kini giliranya “clearing of my thourt. Suaraku seperti hilang!”urainya sepintas lalu melihatku. “kau capek, kau mabuk!”tegasku. Kini dia hanya pergi mendahului setelah pintu lift terbuka. Menuju kamar kami lalu pergi membersihkan diri. Tak ada nyanyian di amar mandi seperti biasa yang sering kudengar. Tidak ada teriakan kalimat untukku. Hanya suara gemericik air shower yang kutangkap jernih. Karena tak ada aktifitas selain mendengarkan air, maka aku merapikan semua barangku termasuk baju, laptop,charger, jurnal-ku, dan beberapa diktat yang sangat jarang aku baca. Sebenarnya aku ingin merapikan peralatan make-up nya. Hanya saja, aku tidak tau mana benda yang masih dia butuhkan untuk melukis wajahnya. Setengah jama kemudian dia keluar dari kamar mandi lengkap dengan piama-nya. “mandilah, badanmu kotor!..bauu!” nadanya terdengar cuek. Matanya memperhatikan benda benda disekelilingku. Ntah apa yang dia pikirkan saat ini. Yang jelas matanya menyorotkan tanda keberatan. “jama berapa kita ke bandara besok?”tanyanya tanpa melihatku dengan suara datar sambil menombol remote TV dengan gaya berkacak pinggang. Rambutnya basah, disisirnya rambuh basah itu lalu dibungkusnya dengan handuk membentuk ice cream cone. “ jam empat sore. Jam dua kita cek out langsung ke bandara. Insya Allah sebelum jam enam sore aku sudah mengantarmu ke rumah!”. Dia tidak mendengarkan ucapanku sepertinya. Berat sekali ini unutkku. Aku tidak suka bila dia mengacuhkanku. Karena selama ini dia tidak pernah melakukan itu. Yah…aku tau apa alasannya. Matanya lurus memandangi tampilan layer tv flat itu. Dunianya sudah tertutup untukku sepertinya. Tak ingin lagi aku diacuhkannya. Akupun menerima sarannya untuk mandi. Dua jam kemudian, suasana hening sedikit berubah, dia memesan fruit punch seukuran water jug, ntah apa maunya. Diapun mempersiapkan sisa sacher cake yang kemarin aku beli. Dan ada satu lilin besar berwarna putih dia nyalakan.semua lampu dia padamkan. Meja tamu disulapnya sedemikian rupa agar terlihat cantik,meskipun sang fajar belum muncul, langit mulai terlihat kemerahan jingga. Azan shubuh belum terdengar olehku. Meja itu dihias dengan indah walaupun simple, ada dua plate kecil lengkapa dengan pisau pemotong dan garpu kue. Masing masing berisikan potongan sacher cake yang dihiasnya dengan potongan stowberry. Ditengah meja berdiri satu vas kristal yang dia ganti isinya penuh dengan bunga mawar pemberianku kemarin. Ditambah dengan cahaya lilin. Lalu sekotak catur magnet kecil disusunnya dan siap untuk dimainkan berdua. Saat aku memandangnya dengan keryitan dahi, diapun kembali menatapku, lalu mendongak kearah kursi untuk menarik tanganku agar mendekatinya. “dinner?” terkaku, tapi nyaris itu bukan karena hari sudah akan menjelang pagi. “bukan ini supper! Apa kau keberatan?”tanyannya penuh selidik dengan nada mengancam “atau kau su…?”. Buru buru saja dia menduga. Aku tidak suka itu,harusnya dia bisa membaca mataku.”tidak,….aku suka. Sangat suka!”sergahku. “thanks! Karena kupikir kau sudah tidak mau lagi makan berdua. Mungkin kau butuh pembelajaran khusus unutk menjauhiku, atau training atau apalah itu namanya!” jelasnya. Suara itu terdengar sengit. Aku bergegas duduk didepannya. “kita bisa bertemankan!”tanyaku berulang ulang”teman…yah teman!”. Kini tangannya sibuk menuangkan fruit punch kemasing masing goblet. “yah! Tentu saja, awalnya kita juga teman dan sampai kapanpun kita bisa berteman apapun caranya dan bagaimanapun kondisinya!” seulas senyum simpul diukirnya, dan sebelum aku sempat mengatakan sesuatu “benang yang putus tidak bisa disambung!”mulutnya-pun terkunci rapat. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Tapi yang jelas aku sendiri tidak mau menanyakan perihal apa yang dia maksud dalam pikirannya hingga terucap kalimat seperti itu. Malam itu aku menganggap acara supper sebagai pengganti dinner kami yang terakhir kali. Tanpa obrolan romantis, dan hanya membahas tentang gambaran hidup yang akan kami jalani masing masing. Perasaanku setelah ini semua mulai terasa ringan dan tidak berat. Saat ini akupun sudah rela melepaskannya dari genggamanku. Kami mulai enak lagi unutk membuka obrolan. Bahkan kami bermain catur hingga dua session hingga pagi hari. Pikiranku tak lagi kalut seperti semalam, begitu juga dirinya. Paling tidak itulah yang ditangkap oleh mataku. Saat sarapan pagi kamipun bisa duduk berdua berampingan meskipun tidak ada yang berani menggenggam tangan. Hanya berpandangan, sedikit mengobrol dan saling mencicipi menu kami masing masing. Tak ada lagi tangisan.perdebatan atraupun penjelasan konkrit tentang perasaan diantara kami. Hati kecilku masih menyimpan rasa untuknya, walaupuns esungguhnya aku masih merasa bahwa dia masih sangat mencintaiku. Sorot matanya belum berubah, aksen menyebut namaku-pun masih Hyo. Paling tidak aku senang mengenai hal tersebut. Begitulah yang terjadi antara kami hingga kami melakukan penerbangan pulang ke Surabaya.
Sesampainya di bandara juanda, kami berpelukan erat. Tubuhnya tak lagi menggigil kedinginan. Air matapun tak lagi meleleh. Aku senang dia mulai tegar. Aku senang karena sampai detik ini kami masih bisa berteman seperti sediakala. Kami berjalan beriringan membawa trolly kami masing masing menuju ke taxi masing masing. Awalnya aku ingin sekali mengantarnya pulang. Hanya saja dia tidak mengizinkan aku melakukan itu. Maka dengan berat hati aku menerimanya. Bahkan dia tidak mengizinkan aku untuk mengecup keningnya sedetikpun. Sopir taxi membantu kami memasukkan trolly kami masing masing. Lalu mendahului kami masuk ke mobilnya. Senyumnya kini hilang walaupun aku mendahuluinya untuk tersenyum. Senyum itu sakan musnah untukku. Kakinya terus melangkah menuju taxi-nya. Dan akupun masih mengikuti bayangannya. Kubukan pintu taxi untuknya. Saat dia masuk “thanks aku duluan ya!”ujarnya pelan nyaris tak terdengar oleh telingaku. Aku menggangguk”boleh besok aku mengantar dan menjemputmu dikantor baru?”tanyaku penasaran. Dia terdiam beberapa detik, hingga nada berat itu keluar”boleh, silahkan jam delapan tepat kau sudah harus sampai dirumahku!”. Tanpa melihatku lagi dia menutup pintu taxi dengan pelan. Aku hanya mengangguk dari kaca luar. Giliranku masuk ke taxi, sang sopirpun terus melajukan rodanya ke alamt rumahku, taxi kami berjalan berurutan keluar dari area bandara lalu kami berpisah dia perbatasan tol. Sopir taxinya memilih melintasi jalan umum, sedangkan sopirku memilih untuk melewati fasilitas jalan tol. Ntah apakah itu dia sengaja agar tidak mengikutiku. Apapun itu, bukanlah masalah untukku. Dan yang jelas aku dan dia sekarang hanyalah teman. Kubuka kembali jurnalku, kubaca satu halam terakhir . lalu kutuliskan halaman baru
Surabaya, 1 januari 2003
Y a Allah syukur alhamdulillah dan terimakasih kupanjatkan untukmu selalu. Kau mengizinkanku mengenalnya lebih dalam, kuakui aku masih mencintainya, dan yang pasti aku akan selalu merindukannya. Sepanjang perjalanan dia selalu bisa membuatku tersenyum. Dia seperti matahari yang bisa menerangi duniaku. Dikehidupanku kelak aku akan mengharapkan kehadirannya. Aku senang,bisa mengenalnya meskipun aku membutuhkan proses untuk mengutarakannya. Kelak aku akan membutuhkannya ,kelak aku akan kembali memburunya dengan penuh rasa percaya diri-ku. Aku akan selalu menetapkan hatiku untuknya, dan tidak bergeser satu kordinatpun darinya. Darahku penuh dengan cara untuk mencintainya, pikiranku akan selalu penuh untuk membahagiakannya, lisanku tak kan pernah letih memanggiil namanya. Bahkan jiwaku rela mati untuknya, umurku siap untuk menantinya. Bathinku siap untuk selalu mendoakaannya.
For my D
You are is the best my desember ever after
Taxi-ku terus melaju kencang, kututup lembaran ini, seulas senyum lega tergambar dari bayanganku tentang wajahnya. Pengalaman liburan kami sangat luar biasa. Sesampainya dirumah papa menyambutku dengan senang. Dan siap untuk mendengar ceritaku. Tapi sayangnya aku enggan berbagi dengan mereka. Meskipun papa terus mengikutiku hingga memasuki kamar. Aku tetap saja tidak menggubrisnya. Hingga dia bosen melihatku. Papa hanya bilang kalau dirinya siap kapan saja mendengar pengalaman kami.
Ke esokan harinya aku menjemputnya. Lalu mengantarnya kekantor barunya. Dia mengajakku masuk kesebuah showroom ponsel yang terkenal pada masanya. Brand-nya mendunia, NOKIA itulah kantor barunya. “keren!” begitu saja keluar dari mulutku,penuh spontanitas “kau juga cantik, blaser coklatmu bikin kau terlihat simple dan smart! Jam makan siang aku jemput nanti ya?”kali ini aku tidak membantunya membukakan pintu mobil. Dia sudah lebih dulu membukanya.”thanks, kau tidak mau masuk?” tanyanya ramah. “nanti saja saat makan siang? Aku akan mengantarmu pulang nanti”. Da mengangguk, lalu melambaikan tangan meninggalkanku. Mobil kupacu pelan dari area parkir. Kupacu mengelilingi jalanan kota,kubiarkan saja pikiranku berjalan, tak ada tempat yang ingin kuhampiri. Bahkanaku sudah dua kali melewati jalan Tol gempol lalu balik lagi ke arah Surabaya. Mungkin karena aku bingung. Aku mampir ke pasar bunga, membelikannya satu buket kecil bunga mawar putih mix dengan warna merah. Sengaja kupilih pita magenta tanpa kartu ucapan,seperti yang biasa kuselipkan di sela-nya. Tepat di jam satu siang, aku kembali. Setelah mobil kuparkir ditempat yang benar akupun menyegerakan diriku memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan orang yang sedang mengantri unutk membeli ataupun menservis ponsel dengan prodak merek yang sama. Sekeliling ruangan kuamati dan kuperhatikan seksama mulai dari para pengunjung, showcase, brosur, banner promo hingga customer service yang sedang bertugas. Yah diujung kanan bangunan aku menemukannya, sedang dduk manis, bergaya kaku, berbusana rapi dan begitu seriusnya dengan cutomer yang di depannya. Semua gallery yang terpampang begitu lengkap. Mulai dari koleksi terbaru hingga product terlama. Sengaja kupilih bangku kosong, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari jarak pandangnya. Ketika dia sadar akan kedatanganku, diapun tersenyum memandangku lalu memandangi buket bunga yang kubawakan untuknya, mulutnya mengatakan sesuatu. Tunggu sebentar, setelah ini begitulah gerak bibirnya berucap. Orang disekitarkupun banyak yang tersenyum padaku,ntah mengapa. Tapi mungkin itu karena bunga yang aku bawa ini. Ada seorang waniat muda melirik ke arahku,lalu mencari cari kea rah mana pandnagan mataku tertancap. Dan setelah dirinya menyadari, dipun tersenyum simpul lalu menoleh kea rah pria muda yang ada disebelahnya. Ntah apa yang dia bisikkan, aku tidak mendengarnya. Aku hanya kembali tersenyum pada sosoknya yang tertangkap basah sedang memperhatikanku. Setengah jam berlalu diapun sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kamipun segera menikmati makan siang disebuah disebuah restaurant junk food ditempat yang sama dimana dulu pertama kali aku mengajaknya lunch. Tak ada yang intens tentang obrolanku dengannya. Semua terkesan normal,layaknya teman lama yang baru bertemu. Jelas sedikit canggung. Akupun berjanji akan menemuinya dikantor sebelum aku meninggalkan Indonesia.
Hari ini adalah hari terakhirku menginjakkan kaki di kota ini, semalam aku nyaris tidak bisa tidur. Masih saja memikirkannya. Hari ini aku sibuk sekali menyiapkan semua bawaanku, aku hanya meluangkan waktu unutk menelphonenya sebentar. Melepas kerinduanku padanya. Rasanya ingin tertawa saja. Bagaimana tidak, belum kutinggalkan, tapi sudah kurindukan. Perasaan ini harus aku tekan sedemikian rupa, bagaimanapun bentuknya aku harus menahan semuanya. Setelah semua siap, akupun menyempatkan diriku untuk menemui keluargaku hanya sekedar untuk berpamitan. Berat sekali meninggalkan ini semua, tapi aku harus. Aku tidak mau merugikan diriku sendiri. Selama masih ada kesempatan pasti akan kukejar. Saat ini juga dan detik ini juga aku menghilangkan perasaan cintaku padanya sebisa mungkin, aku tidak ingin menggilainya lagi. Memang ini masih berpolemik dan cukup bergejolak dalam hati. Tapi aku yakin, waktu berikutnya aku akan bisa melupakannya.
Tepat jam makan siang, aku menyempatkan diri kembali dating mengunjunginya lalu mengajaknya makan siang. Tapi kali ini, aku tidak mengunjungi kantornya. Aku berjanji bertemu disebuah toko kaset yang ada disebelah kantornya persis. Yah disanalah kami bertemu. Dua kali sudah pesan kukirim, setengah jam menunggu baru dia bisa menemuiku. “sorry, customernya terlalu banyak, dan aku sedikit tidak enak bila harus beristirahat lebih awal” berdiri seperti orang yang sedang minta pengampunan dosa. Tangannya kutarik begitu saja lalu kucium kemudian kupeluk erat erat “aku akan merindukanmu D, selalu” tiba tiba saja dadaku kembali sesak susah bernafas. Badanku rasanya seperti menggigil saat mengatakannya. Hanya dua tangkai mawar putih aku berikan dengan tali berwarna burgundy. Dia hanya diam dalam pelukanku, dengan air mata menetes. Untungnya tidak ada sekeliling orang yang memandangi teatrikal kami. Hingga kuputuskan unutk membawanya pergi ketaman kota dekat museum. Disana kami mengobrol sedikit, dan melepaskan emosional. Disinilah aku menyadari seutuhnya. Bahwa aku masih sangat mencintainya. Masih terasa sakit melihatnya harus kulepas begitu saja. “I still love you hyo!you still my first love “ air matanya jatuh ditanganku, sekotak kecil kotak yang terbungkus indah dengan sampul berwarna biru, diberikannya untukku. Dia tidak mengatakan apa isinya. Tapi yang jelas itu akan sangat berharga untukku. “maaf ya, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara!” sahutnya. Aku tersenyum lalu kembali memeluknya. Aku nyaris tidak perduli walaupun seorang polisi memperhatikan kami, bahkan sebagian kecil orang yang bersantai ditaman saling berbisik emngenai kami. Ini bukan urusan mereka, dan itu juga bukan urusanku. “bukan masalah besar bila kau tdak bisa mengantarku, aku tahu kau masih karyawan baru yang masih tunduk pada peraturan perusahaan, tanpa bisa …!”. Dia menyahut begitu saja tanpa memandangku “bukan itu masalahnya, masalhnya adalah…pastinya akan sulit bagiku bila aku harus mengendalikan emosiku melihat kau meninggalkanku ke dua kali lagi ditempat yang sama dan diterminal bandara yang sama!” uraiannya semakin menyesakkanku. “semoga yang aku berikan bisa membuatmu nyaman, dan bisa kau fungsikan disana. Aku akan senang bila kau menyukainya!”. Kepalanya menunduk mengamati rumput yang diinjaknya. “pasti!”sahutku cepat. “kau tak usah mengantarku, sepertinya volvomu sudah sampai dan terparkir disana?” tangannya menunjuk kesebuah mobil hitam, ntah siap sopirnya. Tapi yang jelas itu memanglah mobilku. “taxi didepan sudah kupesan, jadi kau tak perlu repot mengantarku” kini da berdiri perssi didepanku lalu membungkuku mencium bibirku. Aku diam dan duduk tanpa ekspresi khusus. Membeku meskipun dibawahnya terik matahari. “kau hati hati!”pesanku”jangan lupakan desember kita, karena aku sama sekali tidak akan pernah melupak kejadiannya satu detikpun, karena aku begitu hidup dengan memory itu!”. Dia tersenyum mengamatiku lalu kembali mencium pipiku. “yah!”katanya, selangkah kaki diarahkan mundur melambaikan tangan lalu berlari kecil mendatangi taxinya. Ingin rasanya aku menghalangi langkah kakinya, tapi aku tak mau memperpanjang jam ini lagi. Aku membiarkannya begitu saja meninggalkanku. Oh tuhan apa yang sudah kulakukan dengan gadis seperti dia? Apa? Egois! Teriakku dalam hati mengepalkan tangan. Aku berlari kencang menyusulnya, lalu emnghalanginya masuk ke dalam taxi. Membalikkan tubuhnya begitu saja tanpa keseimbangan, aku menciumnya. Yah ternyata aku masih bisa bersikap hangat. Diapun membiarkan begitu saja agar ciumanku mendarat tepat disasaran yang aku inginkan. Aku melumat bibirnya,kucium keningnya unutk beberapa saat “I’m done!” jawabku. “aku tahu!” ucapnya sambil tersenyum dan membawa pergi bunga yang telah kuberikan. Bunga itu bermakana persahabatan yang kekal tanpa batas. Kini dia pergi bersam ataxinya. Aku tahu, dia pasti menagis,matanya pasti merah. Apa yang akan dia katakana bila temannya menanyakan perihal itu. Aku tidak tahu tidak tahu aku tidak tau dan aku tidak punya jawabannya. Aku masih duduk termenung ditaman ini dengan Yogi. Dia tidak banyak bicara, hanya emnungguku dengan penuh kebosanan. Karena itulah kedua telinganya tertutup oleh sebuah headset musik play listnya. Lama sekali aku diam tanpa obrolan. Aku bingung dengan ini. “minumlah dulu, agar kau mendapatkan asupan oksigen!” sarannya saat memberikan sebotol air oksigen yang masih tersegel. Tanpa mengatakan apapun, kubuka juga segel botol itu lalu kuhabiskan tanpa menyisakan satu tetespun. Lima menit berlalu ak mengajaknya pergi. “antarkan aku sekarang”. Dia mengangguk lalu dengan segera dipacunya volvoku sekencang mungkin. Bahkan aku sama sekali tidak membentaknya ketika dia menyetir dengan cara zig zag. Andai kata matipun aku siap.
Empat puluh delapan menit kemudian aku sampai juga di Juanda, yogi mengantarkanku sambil membantu membawakan sebagian barangku tanpa bantuan troly.”aku akan merindukanmu!”sahutnya, mencoba memecahkan keheninganku.”aku juga pasti merindukanmu!”sahutku. kupeluknya erat lalu kutepuk tepuk bahunya. Kucium pipinya. Dia adikku yang paling hebat, meskipun aku membenci ibunya. Tapi aku mencintai anaknya yang kini jadi adik tiriku. Kulambaikan tanganku dari jauh, melangkah dengan berat hati meninggalkan Surabaya. Meninggalkan semuanya, aku sangat sedih meninggalkannya. Perspisahan kali ini sangat menyakitkan untukku. Tidak seperti perpisahan sebelumnya. Dua tahu yang lalu. Kali ini semuanya terasa terpaksa dan harus kupaksakan, semoga aku tidak salah langkah. Penerbangan pertamaku adalah kembali mengunjungi bandara Soekarno-Hatta menuju Tokyo.
Tags
short story
