APAKAH KAU SUAMIKU

Menjadi seorang wanita yang single parent sangatlah tidak mengenakan hatiku. Sungguh, tapi ketika melihat putriku Maurin beranjak besar dari usia balita betapa bahagianya aku menjadi seorang ibu meskipun aku tidak memiliki suami. Aku juga sudah menjadi anak yatim piatu sejak usia ku sebesar Maurin putriku. Sepintas lalu aku membayangkan, betapa bahagianya aku saat masih kanak kanak. Ayah ibuku meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat terbang. Beruntunglah aku ,Tuhan tidak mencabut nyawaku kala itu. Mungkin Tuhan masih ingin melihatku menjalani sandiwara hidup hingga detik ini. Bibi Lana adalah adik ayahku yang disekolahkan di Belanda untuk menjadi seorang dokter cantik. Dan suaminya adalah seorang pelukis terkenal keturunan Bali dan Jawa. Namanya Gusti. Paman dan bibi tidak memiliki seorang anak, maka ketika kecelakaan melanda orangtuaku mereka menganggap ini adalah anugerah ataupun hikmah dibalik sebuah bencana besar yang melanda keluargaku. Paman dan bibi sudah menganggapku sebagai anak sendiri,dan Maurin sebagai cucu mereka sendiri. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan, aku masih diberi cinta dari orang yang sangat mencintaiku. Tak lelahnya aku selalu berucap syukur Alhamdulillah.

Tahun 2005 aku menikah dengan seorang dokter. Aku mengenalnya ketika aku menemani bibi Lana ke Jakarta untuk menghadiri acara symposium para dokter yang tergabung dalam ikatan dokter Indonesia IDI. Pria yang kukenal saat itu bernama Ibrahim. Pertama kali bertemu tahun 2002 disebuah lobby hotel Indonesia. Pertemuan tanpa sengaja itu berakhir dengan perkenalan diri saat jam makan siang. Aku menemani Bibi makan siang disebuah restaurant barat. Nampaknya selain paman Gusti, sepertinya bibi telah menunggu seseorang. Ketika aku menanyakan siapakah orang yang dimaksud itu. Bibi hanya bilang dia calon dokter hebat, semoga kalian berjodoh. Astaga, ternyata bibi dan paman berniat mencarikan aku jodoh. Sebenarnya aku cukup kaget meskipun harus aku akui, aku terkesan dengan orang tua angkatku itu. Setengah jam lamanya kami menunggu kehadiran pria itu,tapi tak kunjung hadir. Paman dan bibi hanya mengobrol pelan tanpa bisa kudengarkan sedikitpun. Akupun pura pura cuek meskipun aku sebenarnya sangat penasaran dengan topik mereka. Saat itu aku menyibukkan diri dengan novel Sidney Sheldon yang baru saja kubeli semalam di gramedia, kedua telingaku sibuk mendengarkan lagu di play list mp3-ku. Sepuluh menit kemudian di depanku sudah berdiri pria tampan yang mengenakan kacamata tanpa segment. Baju yang dia kenakan sangatlah menunjang penampilannya. Betapa terkejutnya aku ketika menyadari pria tersebut, yah benar, dia adalah pria yang tadi pagi aku temui di Lobby lounge.  Dia tersenyum, mungkin rasa terkejutnya tidak sebesar yang aku alami. Maklum saja noda kuning yang ada di bajunya adalah noda jus jeruk yang tanpa sengaja aku tumpahkan di seragamnya. Aku sudah meminta maaf, dan sepertinya dia juga sudah memafkanku. Meskipun begitu aku masih saja merasa sedikit malu atas sikapku.
“Lea, kenalkan ini Ibrahim, oh ya Ibrahim kenalkan dia anakku Lea! Cantik bukan ?” astaga betapa malunya aku ketika mendengar bibi memujiku didepan pria itu. Secepat kilat tangan Ibrahim menjabat tanganku dengan erat dan hangat. Kami saling berpandangan dan tersenyum. Sekilas aku melihat pamanku tersenyum dan mengedipkan mata kearah Ibrahim. Tampaknya Ibrahim sama malunya denganku. “mau pesan apa?” tanya paman. Bibi memberikan buku menu ke arahnya. “oh, Dokter Lana kenapa tidak makan diatas saja ?” tanyanya penasaran sambil membalik beberapa menu minuman. “menu buffet-nya tidak cocok, kalau belum bertemu tenderloin dan t-bone ala hotel Indonesia!” jelas paman sambil tersenyum. “oh saya kira,ada  yang lain?”jawabnya. “apanya yang lain!”sahut bibi. “maaf Dok, saya pikir karena ada Profesor!” ketiga orang didepanku tertawa dengan riang dan kerasnya sehingga ikut memaksaku untuk tersenyum. “apa yang anda pesan?” tanya Ibrahim padaku. “saya pesan pizza calzone!” jawabku singkat tanpa mengulang meskipun kedengarannya dia kurang jelas. “sangat enak kedengarannya ya Dok?” tanyanya pada bibi. “tentu, selera Lea luar biasa,maklum saja masa kecilnya dihabiskan tiga tahun di belanda!” sahut bibi. Aku masih saja tersenyum menutupi rasa kegelisahanku. Ibrahim memesan menu yang sama denganku. Sejak saat itu kami sering bertemu dengan berbagai alasan yang simple. Meskipun pada mulanya kami bertemu hanya karena dia berkunjung kerumah untuk menemui bibi-ku. Karena urusan ilmu kedokteran ataupun hal kesehatan baru yang belum dia pahami betul. Sesekali kami ngobrol diruang tamu berdua, ataupun di taman belakang ketika dia melihatku berenang. Dan pertama kali kami pergi berdua saat dia menemaniku pergi untuk mencari CD lagu. Berikutnya dia lebih sering mengajakku ke bioskop ataupun shopping ataupun sekedar berolah raga disebuah pusat kebugaran. Satu tahun kemudian keluarganya datang untuk melamarku dan menentukan tanggal pernikahan kami. 5 mei 2005 adalah tanggal pernikahan kami. Sebagai kado pernikahan papa-nya  memberiku sebuah tiket bulan madu ke paris. Mama-nya memberiku seperangkat perhiasan cantik dan anggun dari baru berlian. Paman dan bibiku memberikan kami sebuah rumah dan mobil lengkap dengan perabotan rumah tangga. Sungguh kado yang luar biasa mewahnya kami terima. Pernikahan kami hanya sederhana saja,hanya beberapa kerabat dan kolega dari kedua belah pihak dan beberapa teman kecilku yang masih akrab. Tapi sepertinya sudah dua tahun menikah kami tak kunjung dikaruniai keturunan, tak ada tanda tanda kehamilan menyertaiku. Aku bersyukur, kedua belah pihak keluarga tak terburu buru meminta cucu dari kami. Ibrahim juga suami yang tidak banyak tuntutan. Dia baik,bahkan lebih baik saat dia menjadi suamiku, penuh pengertian dan selalu membantu mengerjakan pekerjaan rumah,meskipun dirumah sudah ada seorang pembantu menemaniku. Dua tahu masa pernikahan kami lewati dengan bulan madu yang kedua di bali. Seminggu kami menikmati udara segar disana. Dibali tanpa sengaja kami mengenal seorang gadis bernama Niluh, dia adalah keponakan dari paman Gusti yang lama tinggal di Canada bersama suaminya. Karena bercerai diapun kembali ke tanah air seorang diri. Meskipun dia keponakan paman, aku tak pernah mengenalnya secara langsung. Tentang niluh hanya kudengar ceritanya lewat beberapa keluarga dekat paman di Denpasar. Sosoknya cantik dan sangat luar biasa sexy-nya. Senang sekali melihat keindahan body Niluh yang sangat mempesona. Senang sekali melihat tingkah laku Ibrahim yang tak pernah memandangnya sedikitpun, semua biasa saja. Meskipun aku menangkap sinyal khusus kalau Niluh berusaha menggoda suamiku. Aku santai, karena Ibrahim sangat mencintaiku. Lagipula orang tua Niluh sangat menghormati keluarga paman Gusti. Suatu hari saat kami masih menjalani bulan madu yang kedua di Nusa Dua, Niluh dating mengunjungi kami di hotel hanya seorang diri dengan alasan dating untuk mengunjungiku dan menerima undangan makan siang dari mantan suaminya. Tak sedikitpun aku curiga tentangnya. Justru Ibrahim yang risih melihat penampilan Niluh yang sungguh luar biasa beraninya dating kehotel dengan memakai bikini dan selembar kain pantai yang menutupi pinggulnya yang cantik itu. “mana kak Lea?”tanya-nya pada suamiku. Ibrahim tersenyum saat membukakan pintu kamar hotel untuknya. Dari dalam kamar mandi aku berteriak “siapa sayang?”. Niluh sudah datang menghampiriku “aku sist,Niluh!aku ingin mengajakmu berenang!” diketik pelan pintu kamar mandi. Dan aku hanya mengiyakan saja. Saat itu Ibrahim keberatan ketika aku menerima undangan Niluh. Aku berusaha keras memberinya beberapa pengertian dan bersyukur pada akhirnya dia bisa menerima undangan Niluh. “kau tahu Niluh,ini acara bulan madu kami, so sepertinya kau tidak di izinkan untuk menculik salah satu dari kami dengan alasan apapun!” itulah yang dia katakanya. Tapi Niluh hanya cengar cengir seperti orang bodoh yang cuek. Sebenarnya aku juga sependapat dengan Ibrahim, tapi karena dia keponakan paman Gusti, aku jadi tidak enak bila harus sering menolaknya. Semakin lama kuperhatikan dengan berjalannya waktu, aku mengambil kesimpulan kalau Niluh mencoba unutk menggoda Ibrahim. Tapi sayang, aku tak pernah berani mengatakan hal ini pada paman dan bibi. Aku merasa tidak enak bila aku salah penilaian. Mereka sudah kuanggap orang tuaku sendiri. Aku hanya berani mengatakan pada Ibrahim disuatu malam saat kami mengobrol diatas ranjang.
“kau tidak tidur sayang!”
“iya sebentar lagi, kurang sepuluh halaman saja?” jawabku sambil membalik satu halaman berikutnya. Aku tahu Ibrahim tidak suka melihatku terus menerus membaca novel ketika dia sedang akan mengajakku untuk bercinta. Bibirnya sibuk menciumi leherku, tanganya sibuk membelai rambut dan kulit lenganku. Sayangnya aku tidak tergoda karena keasyikan novel ini. Karena rasa kesal dan tidak sabar diapun menarik novel yang sedang kubaca,lalu menjatuhkan aku diatas bantal.
“kau ini!”teriakku pelan setengah geli karena tangannya sibuk membiusku. Senyumnya manis sekali siap unutk melelehkan hatiku. Matanya yang tajam siap memenjarakanku didalam kekuasaannya.
“aku menginginkannya malam ini sayang!..please” rengeknya
“sebentar lagi,biarkan aku melanjutkan lima halam lagi, setelah itu kau boleh puaskan hasratmu!”
“Lea…Lea…ayolah sayang, kau tidak sedang sengaja menyiksakukan!”
“tentu tidak”
“oke lima menit lagi, setelah lima menit selesai ataupun tidak, kau harus menaruh novel itu dan melayani suamimu ini. Oke…oke sayang…oke Lea!”
Aku tersenyum melihatnya memeohon. Hanya satu anggukan kepala yang aku berikan untuknya. Tapi sayangnya lima menit tak bisa memberiku waktu unutk menyelesaikan bacaanku. Akupun pasrah dengan perjanjian ini. Ibrahim tersenyum penuh dengan kemenangan.
“puas!” tanyaku kesal. Dia hanya tertawa saat melihatku kesal. Lalu dia bangkit dari ranjang ke meja riasku, saat membuka laci diseperti kaget lantas tersenyum.
“apa kau belum melihatnya?” tanyanya padaku tanpa menunjukkan sesuatu dalam laci tersebut. Dan aku hanya menggeleng.
“tutup matamu,dan jangan kau buka sebelum aku memintanya untuk kau buka!”. Aku hanya patuh dengan permintannya. Aku tahu dia akan memberiku kejutan. Tapi apa, aku sendiri tdiak mengetahuinya.
“harusnya,kau tahu tentang ini sayang,karena aku sudah menaruhnya sejak sehari yang lalu!” katanya sambil berdecak aneh. Aku diam sambil berdebar. Walaupun sebenarnya aku kesal juga,karena dia sama sekali tidak mengucapkan kalimat sayangnya di ulang tahunku sejak semalam. Akupun hanya pura pura tak menyadari hari special ini. Kini langkahnya semakin mendekati ranjang tidurku. Hanya dalam hitungan detik, Ibrahim sudah samapai dibelakang punggungku dengan mengalukan sesuatu dileherku. Astaga ,aku berteriak dalam hati,ternyata dia tidak lupa akan ulang tahunku.
“happy birthday!” ucapnya sambil mencium kedua pipiku lalu melumat bibirku.
“terima kasih” kujawab dengan manis. “cantik sekali kalungnya, warna batunya pun menarik.
“terimakasih kau sudah menyukainya, tapi aku masih punya satu lagi, bukalah sendiri!” jawabnya sambil memberiku sekotak kecil lagi. Aku menebaknya itu adalah sekotak permen coklat yang dibungkusnya rapi dan cantik
“pelan saja, jangan terburu buru” dia mengatakannya sambil pergi meninggalkan aku seorang diri “tunggu sebentar,aku sepertinya kehausan setelah mencium mu mesra. Kubuka pelan pelan, kotaknya terbuat dari kain beludru berwarna hitam. Di dalamnya ternyata ada sebuah cincin dari emas putih dengan batu berwarna hitam sama seperti batu liontin yang dia pasangkan untukku. Oh indahnya, teriakku dalam hati. Menari kegirangan. Karena sudah lama sekali aku menginginkan batu perhiasan berwarna hitam. Saat dia kembali dengan sebuah kue Tiramisu, aku berlari hendak untuk menubruknya lalu memeluknya dan menghujaninya dnegan ciuman. Karena ketidak seimbanganku kami terjatuh diatas sofa yang terletak disebelah pintu kamar. Nasib beruntung adalah kue itu tak ikut jatuh bersama kami. Kami jatuh bersama lalu tertawa dan dia kembali memelukku dan mencium kedua pipiku.
“terimakasih kau sudah memberiku ucapan dank ado yang sangat luar biasa indahnya. Ini adalah kualitas waktu yang sangat aku impikan disetiap acara ulagng tahunku.”. dia tersenyum lalu menyuapkan sesendok kue ke mulutku,tanpa memotong kue tersebut menjadi beberapa bagian. “kau tahu sayang, aku sangat menyayangimu, jadi kumohon kau tak perlu sungkan untuk menerima semua ini!”. Aku senang saat mendengarnya, saat dia memujaku, saat hanya aku saja wanita yang dicintainya didunia ini selain mamanya yang masih cantik itu. Aku kembali untuk menyuapinya beberapa sendok kue. “kau suka?” tanyaku , diapun menganggguk sambil menciumku walaupun mulutnya masih penuh dengat suapan coklat. “bagaimana Niluh!”tanyaku penasaran. Tidak tahu kenapa, aku tiba tiba memberanikan diriku menyakan hal tersebut. “apa hubungannya!” tanyanya kembali padaku.”dia cantik…sexi..pintar!”jawabku singkat tanpa berpikir panjang. Aku hanya mengutarakan sifat dan sosok Niluh yang tertanam jelas dalam otakku. “tidak. Dia bukan seleraku, apalagi dia janda!” jawabnya sambil melirik. “berarti kalu dia perawan, kau mencintainya!”. Aku diam tanpa melanjutkan pembicaraanku, sedetik kemudian aku menjadi cemburu dengan jawabannya yang jelas itu. “ayolah sayang, kau ini istriku, dan aku suamimu. Kau tahu dari awal kita bertemu aku sudah jatuh hati padamu. Jadi tak ada alasan untuk wanita lain untuk mencintaiku. Karena sudah jelas dan pasti aku akan menolak mereka. Sudah jelas sayang, belum puaskah dengan jawabanku sayang!” dia memelukku erat. Erat sekali hatikus enag meskipun tidak sepenuhnya senang. “maaf kalau aku menanyakan hal yang tidak jelas!” aku menjadi merasa bersalah telah menanyakan tentang perasaannya kepada Niluh. Betapa bodohnya, tentu saja Ibrahim akan selalu mencintaiku. Aku dan Niluh punya kiblat dan cara hidup yang berbeda, meskipun aku pernah tinggal di Eropa, aku tak pernah melupakan budaya timur-ku. “kau tahu sayang, sebenarnya aku tidak suka dengan wanita itu, bahkan boleh kau bilang kalau aku cukup dikatakan risih bila berdua dengannya dengan alasan apapun. Aku tidak menyukai caranya dia berbusana, caranya dia memandang dan caranya dia…. Ahhhh apalah itu aku tetap tidak suka. Dan kupastikan dia bukan seleraku. Satu hal lagi yang harus aku tegaskan padamu sayang, kalo dia bukan keponakan ayah angkatmu, pastinya aku tidak akan pernah mau berbicara atau mengobrol sedikitpun dengannya. Apapun itu alasannya. Kau mengerti sayang?” tanya Ibrahim padaku dengan jelasnya. Aku hanya mengangguk lega.  Sejak malam itu aku tak lagi menaruh rasa cemburu atapun curiga yang berlebihan. Bibi Lana-pun sudah mencium keanehan Niluh, hingga bibi sendirilah yang membicarakannya pada paman, lalu paman menegur orang tua Niluh. Secara resmi orang tua Niluh datang ke Surabaya unutk meminta maaf secara langsung padaku dan juga Ibrahim.  Sempat juga Ibrahim marah meskipun dnegan cara halus, tapi aku tahu kalau dia berbuat seperti itu pasti dia sudah merasa sangat tidak nyaman. Dan sejak saat itu juga Niluh tak lagi pernah berkujung ke Surabaya untuk menengok paman. Dan kudengar Niluh juga sudah mempunyai kekasih baru berkebangsaan Irlandia. Rumah tanggaku kembali berjalan normal seperti sediakala. Tuhan menganugerahi kehamilanku, wahh… sungguh sennag sekali melihat kandunganku berjalan baik,meskipun aku terlambat mengetahuinya. Orang tua kami sennag sekali mendengar calon cucu mereka yang pertama. Mereka tak pernah membahas jenis kelamin janin-ku, yang mereka minta hanyalah kesehatanku dan janinku. Ibrahim sangat perhatian sekali padaku.luar biasa semua terdengar dan terlihat sempurna. Aku banyak menerima ucapan selamat dari beberapa keluarga dan rekan keluarga kami. Banyak seklai yang memberikan saran harus bagaimana bila masih hamil muda, semua asupan gizi-ku sudah diperhatikan, dan yang paling cerewet adalah Bibi Lana,maklum saja dia mamaku. Sebulan kemudian ketika hendak mengadakan acara tiga bulanan usia kandungan, aku pergi menengok makam mama dan papa. Aku dating ditemani Ibrahim. Disana aku menangis bahagia saat mengatakan pada mama bahwa Tuhan sudah memberikan kehamilan untukku. Aku berharap mama dan papa bisa senang melihat kehamilanku kelak. Aku mencium batu nisan mama lalu mencium kembali batu nisan papa. Aku sedih melihat kondisiku,karena aku hamil saat mama dan papa tidak berada disisiku. Ibrahim memelukku erat dan mengusap air mata yang berlinangan di pipiku. Sepulang dari makam aku langsung berenang, aku suka sekali berenang, terlebih setelah mendapat informasi kalau ibu hamil bagus bila megikuti olah raga renang. Ibrahim menemaniku, sengaja bolos hanya untuk menemaniku yang sedang mengalami sensitive tingkat tinggi.
“kau cuti?” tanyaku padanya saat menyadari keberadaanya dalam kolam. Dan dia hanya tersenyum manis lalu mengangguk.aku suka denagn perhatiannya kali ini. Sungguh aku suka. Aku mengajaknya berlomba, meskipun awalnya dia menolak. Tapi ketika aku mengatakan kalau ini adalah kemauan bayi yang aku kandung, maka diapun bergegas menurutiku. Walapun aku tahu dia berpura pura lambat agar aku menang. Aku meringis geli, saat membayangkan mengatakan bahwa ini adalah kemauan bayinya. Rasanya tawaku ingin meledak. Betapa bodohnya dokter satu ini untuk aku bodohi, kepintaranku tak sebanding dengan IQ dan  EQ-nya. Enak juga ternyata menjadi wanita hamil,karena semua keinginanku dituruti tanpa penolakan. Terlebih Bibi dan paman yang selalu membawakan aku berbagai macam makanan dan buah. Sungguh seperti seorang ratu. Siang itu, Ibrahim memberitahu aku kalau orangtuanya mau ke Surabaya berkunjung kerumah orang tuaku. Secepat mungkin aku pergi kerumah paman dan bibi. Aku takut kalau terlambat menemui mereka. Dua jam kemudian kami berdua sudah sampai kerumah bibi Lana. Ternyata ada  acara kecil untuk mendoakan kandunganku. Astaga,ternyata Ibrahim adalah dalang dibalik ini semua. Aku terkejut dan bahagia sekali, orang disekitarku memperhatikan kondisiku. Ada tasyakuran kecil untuk janinku. Dalam agama islam, ketika kandungan berumur tiga bulan maka Allah telah meniupkan ruh dan menuliskan tentang takdir,kematian,kelahiram,jodoh dan rezeky. Maka akan ada acara membaca kitab suci alquran di rumah bibi. Malam itu banyak tamu yang berkunjung unutk acara ini. Senang sekali, tapi entah mengapa malam ini aku merasa gerah dan udara cukup panas. Hingga aku harus meminta izin pada para tamu untuk beristirahat sebentar. Bibi dan mama mertuaku menemaniku ke lantai atas. Untuk sekedar berisitirahat. Mama mengambilkanku segelas teh hangat, dan bibi membuatkan aku sepiring salad buah. Aku mencoba untuk relax, tapi tidak tahu kenapa aku seperti merasa kepayahan dan suhu badanku terasa panas. Awalnya aku hanya mengira karena banyaknya orang yang ada didalam rumah. Tapi ternyata tidak, di balkon atas akupun masih terasa panas,meskipun angin bertiup sedikit lebih kencang dari malam sebelumnya. Mama terlihat khawatir melihatku yang lalu lalang, sedangkan bibi berusaha untuk tenang, walaupun kulihat wajahnya sedikit mengkhawatirkan aku. Dering telephone berbunyi,bibi segera mengangkatnya agar tidak terlalu berisik.
“yah, istrimu diatas sedang beristirahat!” jawabnya, kupikir dia itu Ibrahim. Yang sedang mencariku. “yah,naiklah! Mamamu bersama kami!” setelah itu bibi menaruh gagang telephone begitu saja. Semakin lama aku semakin merasa keletihan. Keringat membasahiku,perutku terasa mulas sekali,sakit sekali. Rasanya aku ingin buang air besar. Kucoba untuk kekamar mandi, aku memcuci muka lalu mencoba unutk duduk tenang diatas toilet. Tapi rasa sakit dan mulas terus menyerangku… oh tuhan aku takut sekali, aku takut …yah aku takut.aku berteriak sekeras mungkin.
“Ibraaaa….ibrahim….ibraaaaa” aku berteriak semakin keras ketika tidak ada orang yang dating menemuiku. Aku mulai tegang dan menangis. Pelan pelan aku rapikan kancing celanaku. aku bersihkan semuanya “Ibraaa….bibiiii…Bibi Lanaaaa,mamammaaaa….aku kenapaaaa!kenapaaa,” aku menangis sekeras mungkin, dan bibi Lana menemuiku sambil menutup mulutnya,dia menangis kebingungan melihatku
“kamu kenapa sayang,kenapa!kam jatuh!” bibi menolongku unutk berdiri,kakiku terasa lemas,aku kembali terjatuh di lantai, bibi berteriak keras keluar kekamar mandi
“papaaa…papapaaa….naiklah keatas,kenapa anakmu ini!”teriaknya sambil terisak tangis.
Ibrahim datang mendahului paman,mama menolongku meskipun sambil menangis kebingungan. Tapi tangan mama terhalang Ibrahim yang langsung menggendongku dan hendak menidurkanku ke kamar lamaku. Aku hanya mengisak tangis. Aku tahu apa ini namanya. Aku tahu aku sedang mengalami keguguran. Aku tahu aku telah mengecewakan semua harapanku. Mendadak aku pinsan ketika masuk ke dalam kamar, rasa sakit yang luar biasa tak lagi aku alami, aku seperti mati rasa, aku tak bisa merespon mereka, mereka semua melingkariku dan bingung menatapku. Aku bisa jelas melihat mereka,sangat jelas. Paman Gusti sibuk berdoa dengan tasbihnya,bibi dan suamiku memeriksa denyut jantungku. Mama hanya menangis. Sedangkan papa berusaha unutk memanggil ambulans. Setengah jam kemudian sebuah ambulan pergi membawaku. Entah sudah berapa lama aku berbaring di ruma sakit, Ibrahim memegangi tanganku sambil memegangi stetoskop, bibi lana dan paman Gusti duduk disofa depan, aku hanya melihat papa, dimana mama? Aku tidak melihatnya. Saat aku sadar bibi sudah menghampiriku sambil tersenyum lalu mencium keningku dengan hangat. Aku tak berani menanyakan apapun. Begitu juga dengan bibi yang tidak berani menceritakan hasil pemeriksaanku. Aku menitikkan air mata, hingga tanpa sadar aku membangunkan Ibrahim. Dia tampak kaget, rasa senang kembali menghiasi wajahnya.
“syukurlah sayang, kau sudah sehat! Aku senang kau melihatmu tersenyum” sapa Ibrahim.
“iya, sayang aku juga merasakan hal yang sama, apa kau masih merasakan nyeri?” tanya bibi peuh khawatir. Jelas nampak terlihat, karena bibir bawahnya digigit kuat kuat. Aku hanya mengangguk. Tak lama kemudian.paman dan papa mendatangiku.
“syukurlah kau sadar,paman khawatir sekali melihatmu tertidur cantik diatas ranjang putih!”
“yah sayang,mamamu khawatir,hingga mama tidak kuat kalau harus menengokmu kembali!” jawab papa. Aku bingung apa maksud papa dengan kata kembali. Apa aku pingsan lagi.
“yah, kami menunggumu bergantian sejak dua hari ini. Jantungmu lemah saat aku memeriksanya begitu juga kata dokter victor”. Mendengarnya mengatakan itu aku merasakan kesedihan yang luar biasa.aku merasakan ada sesuatu yang terenggut dari jiwaku. Ibrahim dan yang lainnya mencoba memberikan senyum termanis mereka unutkku. Bibi Lana masih kulihat senyumnya yang cantik,meskipun saat kuamati dia menggigit bibirnya dengan kuat.menggenggam tangannya dengan erat. Apa maksud bibi? Aku tidak tahu. Paman dan papa meninggalkan kami bertiga setelah mereka mencium keningku. Semakin lama aku semakin merasa tidak enak. Sedetik kemudian, aku kembali mengigat kejadian terakhirku. Dimana rasa sakit yang aku alami,hingga aku bleeding di ruang kamar mandi.setelah pintu kamar tertutup oleh paman, bibi berjalan beberapa langkah menuju kearahku. Lalu diam, hanya tersenyum dan mencium tanganku. Ibrahim tak berbicara lagi padaku. Ibrahim seperti menahan gejolak kesedihannya. Aku bingung,meskipun aku tahu sedikit tentang jawabannya. Hanya saja mulutku tak berani mengungkapkan kebenaran ini. Aku tidak bisa…..air mataku jatuh. Bibi semakin terisak-isak. Ibrahim mencoba memeluknya dari samping.
“bibi kenapa pucat! Aku yang sakit kenapa bibi yang sedih!” aku mencoba menghibur diriku sendiri. Membohongi semua agar mereka tidak sedih unutukku. Ibrahim membelai rambutku meskipun dia masih memeluk bibi Lana.
“sayang!.....bibi tidak sakit. Bi…bibi hanya…!”dibungkam mulutnya yang cantik itu dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepala. Mencoba untuk mengumpulkan tenaga dan mengambil nafas dalam. Yah aku tahu, dan aku benar. Aku mencoba untuk duduk, mencoba mencari sisa udara segar. Mencoba mengamati orang yang kucintai di depanku. Yang kini sedang berdiri tertunduk tanpa mengatakan semuanya untukku…ingin rasanya ku ukir senyum yang indah tapi aku tidak bisa untuk memulainya satu gerakanpun. Kulentangkan tanganku lebar lebar,dan bibi beranjak mendekatiku dan memelukku. Air matanya jatuh membasaki pundakku. Begitu juga air mataku yang jatuh  di pipiku. ..tangisanku tak bersuara tapi akupun tak bisa menghentikan air mata ku sendiri.
“I do not wanna be afraid…!” aku mengatakannya begitu lugas pada wanita yang sudah kuanggap mamaku sendiri”aku tidak ingin menangis bibi, aku menunggunya sudah lama,kenapa Tuhan mengambil janinku?” Sontak aku menjadi tidak terima dengan kejadian ini. Kenapa Tuhan mengambilnya, kenapa Tuhan tidak mempercayakannya padaku. “bibi,apakah aku bisa hamil lagi!”teriakku, membuat Ibrahim memelukku erat saat bibi melepaskan pelukannya dariku. Mereka hanya mengangguk, tapi sayang aku tidak puas dengan jawaban mereka. “ are you still love me Ibra?”aku mengucapkannya dengan pelan tanpa menahan isak tangisku. Membuat bibi semakin merasa pilu,hingga akhirnya dia meninggalkan kami berdua menghambur keluar ruanganku.
“aku akan selalu mencintaimu Lea,bagaimanapun kondisimu sehat atauppun tidak, meskipun kau akan menjadi tua,meskipun nantinya kau akan menjadi gemuk, meskipun nantinya rambutmu akan menjadi putih beruban aku tetap akan mencintaimu. Jangan pernah sangsikan cintaku ini sampai ajal menjemput. Dengar apapun bagaimanapun,siapapun engkau kelak aku akan selalu mencintaimu menyayangimu. Aku siap menjadi apapun yang engkau inginkan. Jangan pernah sangsikan cintaku Lea…tolong….tolong jangan pernah lakukan itu untukku apapun itu kondisinya. Karena aku tidak akan pernah bisa menerima semuanya” ucapannya begitu menenangkanku seperti seorang penyihir yang mengungkapkan mantranya. Mantra itu begitu melekat kuat saat menyihir mataku. Terimakasih Tuhan kau berikan aku seorang imam yang sangat luar biasa jiwanya.
“tapi aku keguguran, dan aku tidak bisa untuk…..! jari telunjuknya mengunci bibirku, kalimatku tidak terselesaikan. dia menciumku pelan sebelum dia kembali memelukku kembali.
“ingat sayang, ini semuanya hanyalah ujian semata, kita akan naik ke level berikutnya. Tentunya hidup kita akan selalu di uji oleh Tuhan, karena Tuhan menyayangi kita. Percayalah kau dan aku sehat secara fisik, dan InsyaAllah engkau bisa hamil lagi.  Dirimu hanya kecapekan saja, oke so jangan dipikirkan terlalu berat. Kau tahukan, aku akan mencintaimu! Selalu sayang….selalu”
“tapi kau menginginkan anak?”
“yah..kau benar! Tapi aku tidak se egois itu, kau akan bisa hamil lagi. Kau subur sayang”
“benarkah?
“benar…100 persen benar, victor dokter kandungan yang paling the best dikota ini. Jadi kumohon kau jangan khawatir?”
“bagaimana kalo kata Victor berbeda dengan kata Tuhan?”
“Lea…please, berfikirlah positif!”
“yah…tapi aku ingin mendengarnya dari mulutmu langsung! Jadi katakanlah kumohon!”
“kau akan hamil lagi sayang, kau bisa!”
“jawab saja pertanyaanku?”
“baiklah!”
“aku siap!”
“ini semua hanya ujian, dan  kau bisa hamil lagi?”
“itu bukan jawaban. Aku ingin definisi dan penjelasan yang lebih lengkap tanpa adanya interupsi!”
“Lea aku memang menginginkan seorang anak. Jujur aku memang mengharapkannya. Tapi seandaikata memang Tuhan tidak memberikannya, akupun tidak akan memaksamu sayang. Tanpa anak atau tidak dari rahimmu nanti. Aku akan selalu mencintaimu hingga sampai batas usiaku di dunia fana ini. Jadi kumohon sayang tolong jangan pernah terlalu keras untuk berfikir tentang masalah kecil ini…nanti kau bisa stress!”
“apa kau akan mencari rahim lain?”
“Lea!” tiba tiba dia sedikit membentakk”sorry sayang aku tidak bermaksud kasar, hanya saja aku tidak suka dengan kalimatmu itu. Dia kembali memelukku.. percakapan terakhir kami membuatku semakin yakin bahwa dia maih sangat mencintaiku dengan perasaan yang lebih dalam.
Dua hari kemudian, aku bisa kembali pulang kerumah ku sendiri. Hari kami berikutnya semakin intens,meskipun terkadang aku masih suka melamun tentang berbagai hal yang sudah kualami. Orang tuanya semakin sering mengunjungiku. Meskipun bibi dan paman mengunjungiku setiap hari. Hari hari bibi tak lagi disibukkan dengan jadwal prakteknya. Bibi juga sudah pensiun. Hanya paman saja yang masih suka sibuk dengan karya lukisnya yang baru. Semuanya semakin terasa seperti keluarga yang hangat. Maklum saja aku dan Ibrahim tak memiliki saudara kandung. Karena kami masing masing adalah anak semata wayang keluarga. Tiga bulan setelah itu, suamiku punya jadwal yang sibuk sekali, kami semakin jarang ketemu. Hingga tak jarang paman dan bibi bergantian tidur menemaniku bersama orang tuanya. Kata bibi,maklum saja Ibrahim sedang mengambil sekolah spesialisnya jadi untuk beberap tahu kedepan dia akan semakin tampak sibuk. Aku tahu, dan dari awal aku sudah mempersiapkan unutk semua ini. Bahkan aku siap bila nantinya pemerintah akan memindahkan tempat dinasnya ke kota, ataupun daerah kepulauan lainnya diluar pulau jawa. Kesibukanku hanya menata rumah, atapun mempelajari bebrapa resep kue atau masakan baru bersama bibi. Maklum saja aku bukanlah wanita karier yang bekerja dikantoran. Aku hanya seorang freelance. Aku hanyalah seorang penulis cerpen, dan novelis. Aku baru bisa menerbitkan dua buah buku novel tentang roman meskipun ceritanya sedikit picisan. Tapi aku puas dengan hasilku yang sekarang. Untuk saat ini aku hanya ingin kalau Tuhan akn kembali memberikan aku kepercayaan untuk membesarkan seorang anak. Apapun itu kondisinya aku akan siap untuk mendaptkan seorang anak. Tak pernah lelah aku memanjatkan doa unutk hal yang satu itu, tak pernah kuminta dari jenis kelamin bayiku kelak, yang kuinginkan hanya seorang bayi yang normal. Dan setiap aku menemani bibi mengunjungi panti asuhan aku selalu meminta doa pada mereka agar Tuhan segera melimpahkan rahmatnya unutkku dengan seorang bayi yang lucu. Setiap mengatakan hal ini, mataku selalu berlinang,hatiku selalu sesak,maklum saja aku selalu merasa iri melihat wanita muda yang sedang berjalan di mall bersama anak anak mereka. Aku iri melihat mereka bergandengan dengan ceria, dan aku merasa sakit hati bila melihat ibu muda yang menampar atau mencubit anaknya saat anak mereka bertingkah sedikit menggemaskan. Tubuhku merasakan sakit ditempat yang sama saat mereka menyakiti anggota badan anak tersebut. Beberapa bulan berikutnya aku mendengar kabar kalau suamiku akan mengikuti simposium bersama parakumpulan dokter se-indonesia. Pasti itu akan memakan waktu beberapa lama yang tidak jelas masa akhirnya. Dan pastinya aku tidak akan bisa menemaninya. Karena bibi melarangku bepergian jauh atauppun bepergian sendiri. Bibi tidak ingin aku mengalami hal serupa beberap bulan yang lalu. Seorang sopir akan selalu siap mengantarkanku kemanapun aku pergi. Bahkan bibi selalu mengecek baterai galaxy note-ku bila aku terlupa untuk mengechargenya. Menurutku itu berlebihan, tapi sudahlah, aku tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Lagipula bibi tidak pernah berusaha unutk membacanya, bibi Lana hanya mengecek, itupun karena bibi sangat mencintaiku. Aku tak akan pernah bisa membalas jasanya sampai kapanpun. aku tak pernah bisa menolak setiap apa yang hendak dia berikan ataupun yang dia minta dariku. Akupun sangat mencintai mereka, mereka orangtuaku juga. Saat Ibrahim sibuk dengan symposium, kami hany berhubungan lewat ponsel, setiap waktu meskipun itu hanya mengirim sebuah pesan gambar dari aktifitas kami saja. Tapi hal itu sudah cukup untuk mengobati rindu kami. Meskipun diakhir waktu yang cukup lama bagiku, aku mulai tidak bisa menahan rinduku unutk pergi menemuinya di Denpasar. Aku ingin membuat kejutan tanpa mengatakannya pada siapapun termasuk keluargaku. Bahkan akupun tak mengatakannya pada Ibrahim. Aku mencoba unutk menyusun jadwal kkeberangkatanku,mulai darimemsan dan membeli tiket,member hadiah kejutan dan menyiapkan beberapa potong baju yang hendak aku pakai disana. Akupun tak lupa membeli lingerikoleksi Victoria secreat yang sexy untuk tidur bersamanya nanti. Aku mulai melamunkan hal yang sangat liar luar biasa. Aku mulai tersenyum sendiri seperti orang gila. Bahkan aku punya beberapa ide unutk novel baruku nanti. Setelah semuanya aku susun rapi, aku meninggalkan sepucuk surat untuk Paman Gusti dan Bibi Lana.

“paman dan bibi aku akan pergi ke denpasar menemui Ibrahim, kumohon jangan terlalu mengkhawatirkanku, aku tahu kalian kecewa, tapi aku mohon agar kalian mengerti aku betapa rinduku pada suamiku…..dan satu lagi kumohon tolong jangan beritahu Ibrahim tentang keberangkatanku ini, aku ingin dia surprise. I love you so much mom and dad. From your daughter… Lea”

Kutempelkan begutu saja suratku dengan magnit yang menempel pada lemari es. Kuharap mereka bisa memahamiku. Bali dan Surabaya tidak akan memakan waktu lama. Sopir sudah mengantarkanku hingga bandara Juanda. Jadi tak ada hal yang bisa membuatku susah. Aku tersenyum lega saat aku sudah dalam kabin pesawat. Imajinasiku mulai kurajut, pastinya aku tidak akan membuang waktuku disana. Aku anggap ini adalah bulan maduku yang ketiga. Maklum saja besok adalah hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Yah benar, aku tidak lupa meskiupun sepertinya dia melupakan hari bahagia kami. Itu bukan masalah besar,karena yang kutahu beberapa bulan terakhir jadwal aktifitasnya begitu padat. Sudah kusengaja juga, kalau aku sudah lima kali tidak menjawab pesannya, ataupun membalas sapaannya di situs social. Aku hanya diam dengan tersenyum lalu menjawab lisan dalam hati, bila dia menanyakan kabarku saat itu.
Sesampainya di bali aku sengaja menunggunya disebuah restaurant western yang ada di dalam Nusa dua. Satu jam aku duduk sendiri didalam restaurant dengan sebelumnya aku mencari informasi ke recpcionist. Sicantik itu mengizinkan aku mengunjungi kamar suamiku yang menginap dikamar nomer 555, walaupun sebelumnya dia keberatan dan memintaku unutk bersabar menunggu Ibrahim di Lobby lounge. Yah aku tahu mereka selalu menjaga pelayanan privasi para Guest. Tapi ketika aku mengatakan bahwa aku adalah istri dari Dr Ibrahim Darmawan, maka dengan mudah dia meminta kartu Id-ku lalu menunjukkan jalan mudah untukku menuju kamar tersebut dengan bantuan seorang dari mereka. Aku menolak tawaran itu,bukan maksud aku menyinggung. Tapi sepertinya aku memnag sudah hafal dengan lay out hotel iini. Jadi itu sangat mudah bagiku unutk mencari kamarnya. Barang yang aku bawa tidak lah terlalu banyak, sehingga inipun tidak menyulitkanku saat berjalan. Pelan pelan tapi pasti aku menaiku lift dan saat mendekati lantai lima, aku merasa guguo dan bergetar. Rasanya aku seperti hendak menemui seseorang yang sangat hebat. Aku merasa geli membayangkan diriku sendiri, mengapa aku jadi pemalu saat akn menemui suamiku sendiri. Aku merasa seperti seorang gadis yang sedang membuat janji dengan cara backstreat. Aku tertawa kecil hingga mengundang perhatian satu pelayan hotel yang membawa satu troly penuh dengan pring kotor. Aku yaki suamiku sedang dikamarnya untuk beristirahat. Karena ini sudah jam tujuh malam, maka nanti aku akan segera mengajaknya unutk makan malam bersama di jimbaran. Langkah kakiku semakin pasti, jantungku semakin berdegup ketika aku berdiri persis didepan kamar bernomor 555. Aku berdiri membisu, dengan getaran listrik yang mengalir dalam tubuhku, darahku mengalir deras, jantungku berpacu lebih cepat. Aku tertawa geli ketika membaca “DO NOT DISTURB” yang menempel pada handle hand pintu kamar hotel. Wah betapa seriusnya suamiku kalau sedang belajar, sampai sampai dia tidak mengizinkan satu orang pun mengganggunya. Satu orang itu apakah termasuk diriku. Istrinya sendiri. Tentu tidak aku pastilah tidak masuk dalam daftar list do not disturb. Pelan pelan kupegang handle hands pintu, ketika kupastikan itu tidak terkunci,maka akupun membuka daun pintunya tanpa bersuara. Selangkah kaki aku bergerak maju kedalam ruangan. Tak kudengar suara berisik apapun. Dua langkah kakiku bergerak kedalam, dengan pelan aku tutup kembali daun pintunya, kuletakkan begitu saja trolly bag-ku diatas lantai, sambil membawa tas tanganku yang berisi kado kecil,akupun berjalan dengan pelan, telingaku mendengar dengan tajam beberapa obrolan kecil yang kuyakini kalo itu adalah pemcicaraan seorang perempuan. Berusaha kutangkap jelas peccakapan mereka,walaupun aku belum mendengar ucapan sang lelaki. Aku tidak yakin dengan semua ini. Jantungku berdegup kencang, aku mendengar satu kalimat kecil pria tersebut, yang sungguh pembicaraannya tidak bisa kudengar. Aku semakin penasaran, aku  melangkah enam kaki memasuki ruangan tempat tidur dengan naluri wanitaku yang mulai bekerja keras. Aku ingin tahu siapa yang sedang berbicara didalam kamar hotel, serahasia apa sampai sampai diluar pintu mereka menaruh keterangan do not disturb. Apakah ini rahasia?tentang apa? Rasa ingin tahuku semakin kuat ketika sang pria yang aku kenal suaranya itu mengatakan sesuatu dengan nada yang sedikit mesra, menurutku. Kini semakin jelas antara mereka saling mengobrol, dan ketika aku melangkah masuk ke ruang tidur, betapa terkejutnya aku melihat apa yang telah aku lihat. Aku tak percaya tapi inilah nyatanya. Inilah yang aku dapat. Dan dialah orang yang aku cinta. Ibrahim suamiku sedang diatas ranjang dengan seorang wanita yang sangat aku kenal. Mereka belum menyadari kedatanganku, rasa amarahku sudah kurasakan luar biasa ingin meledak, tapi mulutku tak mampu bicara ketika melihat wanita itu mencium suamiku dan duduk manis dengan pandangan mesra diatas pangkuan Ibrahim. Jantungku terpompa lebih cepat, darahku mengalir deras. Tas tanganku jatuh hingga berbunyi rantainya diatas lantai, gelas minum yang ada disebelahku tak sengaja aku jatuhkan. Tubuhku gemetar, dan saat Ibrahim melihatku,maka dengan kasarnya dia menjatuhkan wanita yang aku kenal. Betapa beraninya Niluh mengambil suamiku, dan betapa kurang ajarnya Ibrahim kepadaku, kakiku mundur perlahan lahan menjauhi mereka, sang wanita berteriak ketika melihat Ibrahim lari mengejarku, aku terus lari tanpa kupedulikan lagi trolly bag yang aku tinggalkan di dekat sofa tamu, aku hanya memungut tas tanganku yang tadi terjatuh dilantai. Ibrahim terus mengejarku dan berteriak di sepanjang koridor hotel, aku berlari kencang menuju lift, hingga dirinya tak lagi bisa meraihku. Entah mengapa dia tidak lagi mengejarku. Apa karena dia mengenakan celana dan kaos pendek, ataukah dia memang sudah tidak lagi perduli padaku. Aku tidak lagi mau tahu meskipun jauh dalam lubuk hatiku merasakan kesakitan yang luar biasa ketika Ibrahim tak lagi mengejarku. Perasaanku bercampur aduk, aku kehilangan kendali, aku berlari menuju lobby hotel, dan langsung masuk ke dalam taxi yang baru saja aku lihat telah mengeluarkan pelanggannya….”tolong antarkan saya ke Ngurah Rai!” teriakku pada sopir taxi, aku menyesal telah membentaknya, aku tahu sopir itu tidak bersalah dan aku hanya emosi. Aku memberikan uang lebih unutk mengobati keksalannya atas sikapku. Meskipun dia bersikeras ingin mengembalikan uangku. Aku memeksakan senyum meskipun aku tidak lagi berminat unutk mengekspresikan senyum manisku. Tapi ini beda, ini keharusan. Saat itu juga Ibrahim berulang ulang menghubungiku, mengirim pesan unutkku, apapun itu aku tak menjawabnya, aku hanya membaca pesan yang dia kirim tanpa aku menjawab panggilannya. Sebagian kecil dalam hatiku senang saat dia menghubungiku, tapi ketika anganku kembali menampilkan adegan mesranya aku sangat membenci mereka. Kenapa mereka tega melakukan padaku. Selama ini aku percaya dengan Ibrahim, tapi ternyata aku salah. Malam ini aku menginap dekat hotel transit yang ada disekitar bandara. Aku tidak tahu apa kelas hotel ini. Disana aku menangis dengan kerasnya. Paman dan bibi mungkin belum tahu dengan apa yang akub alami. Mereka hanya megirimkan pesan “semoga kau dan Ibrahim bisa berbulan madu kembali, aku mencintaimu, lana!” itulah pesan yang ditulisnya. Tangisku semakin meledak ledak. Aku bingung,harus kemana aku pulang, aku juga bingung apa yang harus aku ceritakan pada mereka, aku tidak ingin menyakiti mereka. Bibi Lana sangat mencintai Ibrahim, aku takut bila aku menceritakan ini dia tidak akan menerimanya. Aku juga tidak mungkin bercerita pada paman, karena paman tidak akan mempercayaiku, Niluh adalah keponakannya. Kepada siapa aku harus bercerita. Apakah aku harus menceritakannya pada mama dan papanya! Oh tidak, Ibrahim anak mereka, mana mungkin mama mempercayai menantunya. Tangisku semakin meledak keras. Pagi setelah aku sarapan, aku mendatangi bandara unutk membeli tiket penerbangan ke Surabaya jadwal yang pertama, berapapun harganya aku akan beli, dan apapun pesawatnya akan aku gunakan.syukurku luar biasa pada Tuhan ketika aku mendapatkan pesawat yang bagus dengan fasilitas yang lux, dan jadwal penerbangan pertama. Tidak ada satu jam, aku sudah sampai di bandara Juanda, tak ada yang aku beritahu. Paman dan bibi menghubungiku dengan meninggalkan lima belas pesan dan dua puluh lima missed call. Aku baru menyadarinya ketika program flight mode ku non aktifkan. Begitu juga dengan Ibrahim, dia sudah menghubungiku sejak semalam, ada seratus dua puluh satu panggilan yang tidak kuangkat. Air mataku kembali keluar, aku malu saat sopir taxi mennayakan kondisiku, aku hanya mengatakan kalau aku merindukan mamaku. Parahnya, sopir itu mempercayaiku begitu saja. Aku minta dia unutk berjalan pelan, karena aku butuh waktu untuk berfikir, mengumpulkan nyali, menguatkan perasaanku, dan membulatkan tekad. Yah aku sudah punya keputusan, apapun itu penjelasannya aku menginginkannya sesuai kehendakku. Dia yang menyakitiku, dan aku tidak petnah menginginkan untuk kedua kalinya. Apapun resikonya, aku akan menangunggnya. Air mataku kembali meleleh. Sopir taxi terus mengawasiku lewat kaca spionnya, aku tahu dia memperhatikan aku. Aku tidak perduli. Aku harus kuat, saat ini tepat unutkku membuat keputusan tentang masa depanku tanpa meminta pertimbangan orang yang ada disekitarku. Aku tidak ingin jadi wanita cengeng, aku ingin dia melihatku dengan tegar,bukan dengan keterpurukanku. Dia bukan pria yang baik untuk terus aku cintai. Cintaku sudah berhenti cukup sampai disini.
Saat taxi berhenti tepat didepan rumahku, hatiku kembali berdegup. Paman dan bibi sudah berdiri didepan teras rumah, begitu juga dengan Ibrahim. Aku yakin mereka sudah banyak mengobrol, dan dia pasti sudah banyak mengumbar penjelasannya unutk menngumpulkan pendukung, dan tentunya mengalahkanku. Menyalahkan apa yang aku lihat bahwa itu bukanlah yang sebenarnya, alibinya pasti hebat, karena dia dokter yang hebat. Bibi berlari memelukku, paman membantu membawakan tas tanganku. Mereka tidak berbicara. Ibrahim menyusulku, dan saat itu juga bibi melepaskan pelukannya dariku. Secepat kilat aku menghndarinya, aku tidak butuh basa basi seorang pecundang. Didalam kulihat mama dan papa duduk manis dengan mata memerah, dating memelukku. Aku masih punya hati pada mereka,meskipun anak mereka telah mengkhinati cintaku.
“kita harus bicara!” sapanya pelan, penuh antusiasme.
“silahkan!” jawabku tegas.
Orang tua kami memberikan ruang pada kami berdua agar kami bisa membicarakannya dengan baik penuh akal sehat. Tapi tidak bagiku. Apapun penjelasan mereka aku sudah punya keputusan. Aku berjalan menuju kamarku dan menutup pintu, tak lama kemudian Ibrahim menyusulku dan mengunci pintu rapat hingga bunyi click dua kali.
“Leaa… aku ingin menjelasakan semua dengan apa yang kamu lihat! Semuanya tidak terlihat seperti apa yang sudah kamu lihat!”
“silahkan, kuberi kamu waktu lima menit.mulailah dari sekarang! Aku tidak punya banyak waktu untukmu lagi!”
“please Lea!”
“mulai saja, atau kau bisa keluar dari kamarku!”
“baiklah. Dengarkan aku Lea, aku tidak mencintai Niluh. Malam itu sudah malam yang kelima dia mengunjungiku, sebelumnya aku tolak. Dan kebetulan malam itu aku memang menerimanya. Dia mengatakan bahwa dia butuh bantuanku untuk menggugurkan kandungannya dengan kekasihnya. Dan aku piker itu ide gila. Lebih Baik Niluh meminta dinikahi lelakinya daripada dia harus menggugurkan kandungannya. Aku tidak menciumnya, dialah yang menciumku, dan maaf aku memang Khilaf, setan merasukiku. Pikiranku kalut!”
Saat pembicaraannya mulai berapi api, aku tak lagi menginginkan penjelsan lebih banyak, aku mulai membuang muka.
“maafkan aku Lea, aku tahu aku salah but please is till love you more than my life than anyone else. Listen to me sweat heart, this isn’t time to make hard and fast decisions…please forgive me darling. I can’t sleep. I know yoo look so angry. But please accept my apologize please.!”
Hatiku tak lagi membuka pintu maaf, aku sakit sekali, meskipun dia sudah l;am berlutut didepanku, aku tidak lagi perduli.
“you right, this isn’t time to make so hard and fast decisions, so what do you think about this is the time to make a mistakes like you both for me!”
“Lea, accepted please, I love you, I still love you what ever we done!”
“I don’t care anything about you since you kissed her from my back, you lie…yua lie…lie…lie to me!...i’m done. My love for you is done. I just need to be widower”
“Lea, tutup mulutmu, please sayang jangan katakan itu unutkku, aku mencintaimu.”
Dia terus berteriak, dan aku tak sanggup lagi mendengar apa yang dia ucapakan, aku tak lagi sanggup berfikir. Sekujur tubuhku gemetar, aku merasa kekurangan oksigen, hingga aku jatuh pingsan.untuk beberapa lama. Saat aku sadar, bibi sudah menemaniku, dia memberiku beberapa teguk air putih yang hangat. Dan mulai memeriksa jantungku dengan stetoskop. Aku tidak lagi menangis, rasa benciku ingin sekali kuteruskan dimeja pengadilan. Aku ingin menuntutnya unutk bercerai.
“jaga kesehatan sayang, jangan terlalu dipikirkan dan semoga kita bisa ditunjukkan jalan keluar yang baik!”
“bibi, aku ingin menggugatnya cerai!”
“apa sayang?”
“aku ingin bercerai,besok akan aku daftarkan ke pengadilan!”
“sayang…!”
Aku tahu bibi akan menyelaku. Tapi aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun.
“aku hanya ingin bercerai, bibi. Tolong jangan rubah keputusanku!”
“baiklah jika memang itu sudah kau pikirkan semuanya. Bibi mendukung keputusanmu sayang!”
“terimakasih”

Ke esokan harinya, paman dan bibi menemaniku ke pengadilan agama unutk mecatat gugatan cerai ku atas Ibrahim. Aku tahu dia sudah menyewa pengacara atas kasus yang aku adukan. Apapun penawarannya aku tidak lagi mau serumah dengan Ibrahim dan aku ngotot unutk bercerai. Setiap persidangan yang aku lewati, Ibrahim selalu memberikan alasan keberatannya pada hakim. Tapi aku sudah tak mau terima. Aku terus mengajukan perceraian. Dan ketika palu hakim sudah dipukul dan aku resmi bercerai dari Ibrahim, maka dia tak lagi punya kuasa atas aku sebagai istrinya. Aku tahu dia terpukul, tapi rasa sakit itu tidak seimbang dengan apa yang aku alami. Seminggu setelah perceraian, mama Ibrahim menelphonku, dan mengatakan kalo anaknya mulai dengan kebiasaan baru yang buruk, dia mangkir dari jadwal kerjanya, dia juga suka pulang pagi dengan mabuk mabukan. Aku tidak mau tahu soal itu, dan sepertinya mama menerima penolakanku. Dua minggu kemudian,aku membaca berita dikoran, kalo ada kecelakaan tunggal menimpa seorang dokter yang bekerja disebuah rumah sakit swasta tempat Ibrahim bekerja. Jantungku seakan berdegup kencang, Dr Victor sahabatnya, menyambangi rumah ku dan mengatakan pada bibi, kalau Ibrahim tidak sadarkan diri, mungkin Victor berharap agar aku mau melihat Ibrahim. Tentu saja tidak aku tidak sudi melihat pria yang sudah mengkhianatiku. Meskipun bibi dan paman berangkat untuk melihat kondisi mantan menantunya. Aku tetap pada pendirianku. Mungkin hatiku sudah keras menjadi batu, aku tidak lagi memeperdulikannya,meskipun aku masih sedikit mencintainya. Yang kulakukan hanyalah menangis dan meminta pada Tuhan atas kesembuhannya. Berhari hari aku mencoba mencuri informasi tentang Ibrahim, dan yang kudapati hanyalah aku semakins edih mendengar keadaanya yang masihh tidak sadarkan diri. Setiap hari aku menangis, aku menjadi wanita yang terlalu sensitive, smeu atentang Ibrahim masih melekat kuat pada jiwaku, aku sellau merasa Roh-nya terus membayangiku. Dan aku masih merasa kalau perselingkuhan yang dia lakukan baru terjadi tadi malam. Dua hari kemudian kudengar kabar nyawa Ibrahim tidak tertolong. Sontak saat mendengar kabar itu aku menangis sekeras mungkin. Paman dan bibi hanya bisa mencoba untuk menenagkanku. Entah mengapa mereka berdua tidak mengajakku pergi ke pemakaman mantan suamiku, padahal aku sangat berharap agar mereka mengajakku untuk memberi penghormatan terakhir kalinya. Aku semakin sering pingsan setelah itu,meskipun aku tidak pernah pingsan lebih dari lima menit, bibi mulai memeriksaku dengan alat kedokterannya, lalu mencoba memriksa urinku ataupun faecesku. Hanya sekedar memastikan apa yang ada dalam pikirannya. Meskpun dia tiddak langsung memberi tahuku. Bibi mencoba memastikannya dengan lewat tes lab, dan ternyata benar sesuai dugaannya. Siang itu ketika aku sedang santai di teras atas, bibi membawakan aku sepiring salad dan segelas yoghurt yang sudah dicampur dengan susu segar.
“wah ,terimakasih!” hiburku
“makanlah, habiskan semuanya. Dan jaga kesehatanmu sayang”
”bibi ada apa? Apa ada masalah dengan sesuatu?”
“entahlah sayang?” suaranya terdengar ragu,mulat terkatup rapat. Meskipun sesekali lidah memberontak.
“tolong katakana saja bibi, aku siap bahkan apapun itu aku akan mencoba unutk siap meskipun aku awalnya belum siap menghadapinya”
Bibi mendatangiku,dan memelukku,lalu memebelai rambutku.
“katakana saja bibi, tolong jangan buat aku mati berdiri!”
“menurut…tes lab…kau mengandung anak Ibrahim sayang!”
Bibi berdiri didepanku persis siap unutk menopangku kalo tiba tiba saja aku hilang kesemibangan dan pingsan!.
“hamil?...apa benar!”
“yah sayang kau hamil, bibi tidak tahu apakah ini kabar bahagian atau buruk untuk kita semua!” bibi Lana menggenggam tanganku erat. Aku tersenyum menitikkan air mata. Ini luar biasa, pikirku. Tuhan mengizinkan aku hamil. Aku diam termangu. Dan bib mulai memelukku kembali.
“tidak bibi. Kupastikan ini kabar bahagia unutk kita semua! Meskipun bayiku akan lahir tanpa ayah! Aku akan menelphone mama Ibrahim,aku ingin memberikan informasi bahagia ini!”
“maaf sayang, bibi tidak tahu kabar mereka terakhir kali, dan bibi belum tahu alamat mereka yang baru!”
“mereka pindah?”
“yah…mereka pergi ke swiss, kabar terakhir yang bibi tahu dari mantan mertuamu. Mereka tak sanggup mengenang memori tentang banyak hala mengenai kalian berdua, terutama anaknya.”
Aku bingung mendengarkan penjelasan bibi. Tapi aku punya tekad akan membesarkan anak yang sudah Tuhan titipkan lewat rahimku, tanpa alasan apapun.
Sembilan bulan persis aku mengandung dan melahirkan seorang anak perempuan yang cantik dan normal, semua seperti mimpi, wajahnya mengingatkanku pada Ibrahim, hidung dan matanya mewarisi Ibrahim. Aku jatuh cinta setengah mati pada anak ini. Aku memberi nama Maurin Lea Putri Ibrahim Darmawan. Tanggal lahior putriku sama persis seperti tanggal lahir ayahnya tepat di tanggal 14 Februari. Semuanya sangat menyentuh. Maurin tumbuh dengan cepat dan pintar. Dia sangat cantik dan lucu. Bagiku dia adalah malaikat kecilku, sering aku menangis tanpa sengaja saat Maurin tertidur pulas. Wajahnya selalu mengingatkanku pada Ibrahim. Aku memang sedang merindukan matan suamiku itu, aku sudah memafkannya. Dan aku menyesal telah membuatnya terpisah dari putri kami.

Maurin mengahampiriku halaman depan, saat aku sibuk mengenang kembali masa indah dan sedihku bersama almarhum ayahnya, meskipun sejak aku tahu kalau diriku hamil dan mengandung anak Ibrahim, kau tidak lagi menempati rumah lama, dimana rumah yang memberi tempat unutk cinta kami bergelora. Paman dan bibi memberiku sebuah villa di daerah mojokerto dekat permandian air panas pacet. Rumah itu sangat segar dan indah,jauh dari kepenatan kota. Dia berjalan terhuyung membawa sekotak pensil warna dan dua buku mewarnai, dia lari sambil berteriak teriak saat kakeknya mengejarnya dengan terkekeh. Bibi dan aku hanya berlomba mengulurkan tangan untuknya. Tentu saja gadisku memilih untuk aku peluk, dan Neneknya hanya bisa meringis.
“mommy help me…help… grandpa nakal!” larinya kencang dan hamper terjatuh saat sampai kepelukanku”
“grandpa stop…stping grand!” teriak grandma. Kami tidak tega kalo melihat maurin yang cantik menangis. Grandpa pun langsung berhenti mengejarnya sambil memberikan es krim kesukaan cucu mereka. Sesendok dua sendok gadis kecil itu menyuapkan sendiri kedalam mulutnya, lalu bergantian secara teratur ke mulutku lalu ke bibi dan paman, kami semua tersenyum, tertawa bersama. Oh Tuhan terimakasih unutk semua hala yang sudah kau berikan unutkku. Meskipun terkadang aku belum merasa puas dengan satu hala.
“oh ya, Lea….sepertinya novel yang baru kau terbitkan, akan segera meraih penghargaan, dan kudengar dari media elektronik, novelmu akan direbutkan para sutradara penggarap film layer lebar! Paman bangga Lea!”
“ah paman, terimakasih…tapi sepertinya itu tidak akan pernah terwujud bila paman dan bibi tidak mensupportku” kilahku.
“sayang, sebenarnya kalau boleh minggu depan paman dan bibi akan pergi umroh,seperti yang pernah bibi ceritakan padamu, kalau kau mau kau bisa bergabung dengan kamu, tentu Maurin kita bawa serta!”
Aku tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Aku hanya menggeleng.
“iya silahkan, paman dan bibi sesekali waktu harus juga berlibur, jangan terlalu pikirkan Maurin. Kan dia sudah besar. Kapan bibi berangkat?”
“paman mengatakan minggu depan, jadi kami akan segera mengiyakan bila kau memberi izin pada paman”
“tentu paman dan bibi bisa berangkat, miggu depan. Dan kupastikan tanpa halangan sedikitpun, iyakan Maurin?” tanyaku meminta dukungan Maurin yang hanya bisa mengangguk. Aku melihat wajah mereka berdua menjadi riang,maklum saja, sejak mereka mempunyai Maurin, waktu yang mereka miliki disita semua oleh kegiatan Maurin. Sehari tidak bertemu cucu, pasti mereka kalag seperti orang yang kerasukan setan. Aku tahu, aku dan Maurin adalah anak mereka yang selalu mereka jaga sampai mati.

Seminggu saat mereka berangkat, aku menemaninya pergi ke bandara juanda, tentunya dengan bantuan sopir, karena mereka tidak akan pernah membiarkanku pergi bersama Maurin seorang diri. Kami berpisah unutk beberapa waktu, dan kami berjanji kami akan berhubungan selama mereka tidak sedang beribadah di mekah.
Lama tidak mengunjungi pusat perbelanjaan di Surabaya, aku jadi seperti merasa old style, terlebih saat mengunjungi pusat mall yang sangat terkenal sejak dulu, aku mengunjungi beberapa otutlet bersama Maurin, aku belanja sepuasnya, berbagai keperluan yang Maurin perlukan aku beli,meskipun itu bukan kebutuhan darurat. Tapi aku suka, aku terhibur, dulu….dulu sekali aku sering shoping bersama ayahnya. Maurin pun seperti kalap ketika melihat boneka cantik yang dipajang di gerai outlet yang khusus menjual keperluan seputar gadis,wanita dan anak kecil berjenis perempuan. Jepit rambut, bando, scraft, tas, sepatu, semua kami beli. Setiap warna merah dan pink yang lucu sellau aku beli unutk putriku. Dan dia senang sekali, hingga menjadi bahan obrolan para pengunjung yang melihat keseriusannya saat mencoba aksesories rambut lalu berputar didepan kaca besar. Yah Maurin sangat lucu dan cantik.
“Mom,belikan ini ya mom,…ini juga, aku juga mau yang itu, yang itu juga cantik mom,please!” matanya sibuk mencari barang yang dia sukai, pipinya mereha setiap aku meluluskan keinginannya.
“sure beuty!”
Setelah cukup dengan semua kebutuhan kami, maka kamipun bergegas mencari makan, Pak Rudi sengaja kusuruh untuk berputar putar sendiri dengan kubekali uang dua ratus ribu untuk makan siang ataupun jajannya. Asal, saat aku memintanya unutk menjemput kami, diapun harus bergegas kemari.
“mom, aku lapar! Aku mau es krim, aku mau cake mom!” pintanya sambil merengek. Akupun memepercepat langkahnya.
“mom, gendong aku capek,letih,pusing , lapar mom!”
Maka akupun menggendongnya meskipun sedikit berat, terlebih cukup repot saat menggendong sambil membawa barang belanjaan yang cukup banyak. Hingga kuputuskan untuk berhenti ke sebuah restaurant bakery yang terdekat dengan arah kami saat itu. Hatiku berdebar saat memasuki pintunya, aku teringat saat kulihat sebuat meja kosong bernomer lima masih tertata rapi seperti dulu. Yah dulu aku dan ayahnya selalu memesan tempat duduk itu. Kini semua hanya kenangan yang cukup untuk membuat mataku berair.
“are you okey mom!”
“sure dear!”
“strobery milk shake mom, banana split mom with vanilla!”
“sure dear, ada yang lain?”
“no thanks?”
Pelayan menulis pesanan kami dengan cepat, dan membawa orderan kami dengan cepat pula, walaupun kondisi disini nampaknya tidak lagi sepi pengunjung. Kami habiskan waktu yang lama sekitar dua jam bersantai direstaurant itu. Hingga maurin tidur di atas pangkuanku. Entah bagaimana caranya aku bisa membopong gadisku, bersama barang belanjaanku. Kucoba menghubungi Pak Rudi, lalu sepuluh ment kemudian dia sudah berdiri di depan kami, tersenyum menyapaku,lalu mengamati Maurin.
“biar saya yang gendong non! Mobilnya saya parkir dekat pintu mall yang bersebelahan dengan hotel”mudahnya dia mengangkat Maurin seperti mengangkat bantal tidur. Aku mengemasi belanjaanku dan menjadikannya agar terlihat rapi.
“bapak tidak minum dulu?”
“sudah non! Tolong bawakan kunci mobilnya saja ya non, kalau tidak keberatan!”
“okelah!”
Kami berjalan berdampingan,seorang pelayan membukakan pintu untuk kami. Rudi berjalan cepat jauh meninggalkanku, maklum saja aku letih sekali habis shopping, apalagi aku memakai high hills yang siap untuk membuat kakiku terkilir.
“pelan saja non, nanti jatuh!”
“gakpapa, saya jalan duluan ya” sengaja aku mendahuluinya unutk membukakan pintu mobil. Kakiku melangkah lebih cepat, dan berlari kecil melewati beberapa koridor yang membawaku melewati jalan pintas keluar dari area mall. Tepat didepan pintu, kaki kiriku terkilir,dan aku teriak pelan menahan rasa sakitnya. Hamper saja aku tersungkur.beruntung ada seorang pria yang berhasil menangkapku dengan cekatan, kembali membantu mencarikanku keseimbangan. Astaga tampan sekali teriakku, tapi tidak! Aku buru buru memutuskan kontak panca inderaku dengan pikiranku.
“terimakasih, maaf sudah mengejutkan anda!”
“bukan masalah besar!”
“non…non, gakpapa?” rudi berlari menghampiriku sambil menggendong maurin yang masih tertidur pulas”
“oh tidak papa” sahutku pada Rudi yang sangat mengkhawatirkanku. “terimaksih tuan, maaf saya permisi, aku terus berlari mengejar rudi dengan menahan rasa sakit. Dan jauh meninggalkan pria yang sempat menolongku baru saja. Tampak dia mengejarku, tapi aku tidak lagi memperdulikannya. Lalu kubuka pintu mobil untuk Rudi yang nampak mulai kelelahan mengendong Maurin.
“nona masuk dulu saja! Biar nona maurin menyusul!”
Aku turuti saja kemauannya. Kami terburu buru meninggalkan area parkir, karena mobil lain menyusul, saat roda mobil menggelinding ke jalanan, sepintas lalu aku melihat sosok pria yang wajahnya mirip sekali dengan wajah Victor, hanya saja ku tidak berani menyapanya, lagipula, dia pasti sudah lupa tentang aku, apalagi kami lama sekali tidak bertemu semenjak aku menuntut sahabatnya untuk bercerai.
“ada yang kenal non?” Tanya Rudi, tapi aku hanya menggeleng. “kita langsung pulang non atau mau mampir dulu?”
“langsung saja pak, kakiku terkilir!”

Sesampainya dirumah, Maurin baru saja bangun dari lelap tidurnya. Bangun lalu tersenyum
“yahhhh, sudah dirumah ya mom, kok cepat!” rengeknya, aduh. Aku jadi pusing. Wati sudah menunggu kami didepan pintu pagar,menggendong Maurin.
“capek aku Bi wait, mommy ngajak aku jalan jalan shoping, aku punya baju buat bibi ma pak Rudy!” celotehnya sudah kemana mana siap memberikan informasi tanpa diminta. Aku sibuk membawa masuk semua tas belanjaku. Kubawa langsung ke kamar, kecuali yang kubeli khusus untuk Rudy dan wait istrinya. Mereka senang menerima pemberianku.  Dan betapa kagetnya ketika aku sama sekali tidak dapat menemukan dompetku
“astaga!” teriakku yang membuat kaget Maurin saat dia sibuk menata mainan barunya dia atas meja belajarnya.
“kenapa mom!”
“dompet mommy hilang! Maurin tunggu disini saja ya, biar mommy cari di mobil!”
“aku Bantu ya mom!” Maurin berkata pelan dan sayangnya Aku tidak memperdulikannya. Aku terus berjalan lebih kencang ke arah garasi mobil. Aku memutari rumahku sebanyak empat kali hanya unutk mencari dompetku. Rudy membantu, tapi saat dia pusing lalu berhenti memegang sebuah gelas.
“Non, apa tadi dompetnya jatuh waktu Nona jatuh?”. Benar sekali pikirku. Tapi aku tidak yakin apa itu benar. Mampus aku kalu itu benar, karena banyak surat surat penting disana, termasuk kartu kredit, kartu atm, kartu npwp, kartu identitas, kartu sim.
“astaga, mati aku!”
“coba untuk sementara semua kartu atm dan kartu kreditnya nona blokir dulu!” aku mengangguk dan secepatnya mencari ponselku, tapi astaga, ponselku juga tidak kutemukan, yah tentu saja aku meletakkannya didalam dompet itu juga. Hanya ponsel cdma-ku saja yang masih ada dalam kantong bajuku. Ini sudah malam dan aku harus menghubungi beberapa kantor bank unutk memblokir semua kartu kredit dan atm ku. Semoga yang menemukan tidak memakai uangku. Dan bila dia memakai uangku, semoga nominalnya tidak terlalu banyak. Dan semoga tagihanku bulan ini tidak mengalami pembengkakan global. Malam itu aku tidak bisa menelphone bibi hingga ke esokan harinya. Seminggu kemudian, Pagi pukul tujuh setelah aku mengantar anakku pergi ke sekolah, aku mmapir ke kantor polisi terdekat, hanya sekedar unutk melaporkan dompetku yang hilang lenggkapa dengan semua barang yang aku letakkan dalam dompet itu. Yang lebih penting adalah kartu identias kewarganegaraanku dan kartu ijin mengemudiku. Setelah semua laporan beres, aku pergi  kembali ke sebuah showroom mobile yang dekat dengan daerahku. Maklum saja aku malas sekali mau pergi ke kota hanya untuk membeli sebuah ponsel seperti yang aku miliki sebelumnya. Akupun memutuskan untuk tidak membelinya, tak ada satupun desain dan merek yang cocok dengan seleraku. Aku akan menghubungi bibi dan paman lewat telephone rumah saja. Akupun segera bergegas menjemput Maurin, aku tidak ingin dia menungguku terlalu lama,aku sudah terlambat lima menit, dan aku butuh waktu setengah jam lagi unutk sampai di sekolahnya. Aku membayangkan dia sedang duduk dengan muka cemberut didepan pintu gerbang sekolahnya. Aku menyetir mobil dengan kencangnya, meskipun jalan didini sedikit naik turun. Maklum saja aku tidak tinggal dikota besar yang jalannya cukup mulus dan rata. Aku tinggal di daerah pegunungan yang datarannya cukup tinggi. Beruntunglah, aku sudah hafal dengan arah tikungan disetiap lintasan yang aku lalui. Sesampainya disekolah Maurin, aku tidak melihat anakku berdiri di depan gergang sekolah. Melainkan dia sedang berdiri di depan sebuah kantin minum es the dan makan roti penekuk. Yang aku bawakan unutk bekalnya. Seorang pria yang mengenakan seragam olah raga duduk manis disamping kanannya. Dari kejauhan Dia sudah berdiri menyapa kedatanganku. Sayangnya Maurin hanya diam tanpa menatapku sambil tersenyum. Yah tentu, pastilah dia marah atas keterlambatanku.
“selamat siang Bu?” sapa pria itu ramah sekali, saat menjabat tanganku terasa hangat menempel dikulit. Aku baru sadar kalau pria ini adalah Guru olah raga putriku. Dan kalau tidak salah dia adalah anak pemilik sekolahan ini.
“siang, maaf saya terlambat menjemput, agak macet dijalan. Terimakasih banyak Bapak mau menemani putrid saya?” aahhh, aku sedikit malau saat ketahuan berbohong. Bagaimana tidak, disini tidaklah seperti dikota besar yang selalu macet dijalan utamanya. Inikan desa. Mana mungkin? Gerutuku dala hati. Aku memangggilnya bapak, karena jelas aku sama sekali belum pernah mengetahui namanya. Jadi kuputuskan panggilan umum saja untuk menyapanya.
“Tommy, kebetulan saya tidak repot! Nah Maurin mama sudah datang jadi Maurin segera pulang ya. Oh ya belajar yang pintar ya sayang!” astaga, dia baik sekali terhadap murid. Apakah semua muridnya mendapat perlakuan yang sama? Atau hanya Maurin saja!. Sudahlah. Aku tidak perlu sibuk memekirkan hal itu. Kini maurin mendekatiku,pergi mencium tangan gurunya, lalu menggandeng tanganku.
“mommy, ayo pulang, aku mau lihat televisi di rumah!” tidak lagi wajahnya itu cemberut saat menatapku. Maurin tersenyum cerah,manis menyapa gurunya yang melambaikan tangan pada kami. Entah alasan apa dia mengantar kami lalu membukakan pintu untuk Maurin saat dia mengetahui aku menombol remote mobil.
“hati hati ya Bu!” sahutnya dengan senyum. Aku hanya tersenyum balik, dan membunyikan klakson mobil dua kali.  Saat berjalan keluar area sekolah, aku tersenyum sendiri, bagaimana tidak, aku hanya merasa sedikit mengingatnya dengan senyum. Aku bertemu dengannya beberapa kali saat disekolah, tapi unutk hari ini, dia lebih ramah saat menyapaku, semua terdengar hangat di telingaku. Atau ini semua hanya perasaanku saja. Maurin diam hanya tersenyum sendiri saat melihatku tersenyum, aku tidak tahu apakah gadis itu tahu apa yang aku pikrkan. Sering sekali dia menceritakan aktifitas temannya disekolah bersama orang tua mereka. Aku merasa sedih bila dia menanyakan daddy. Aku harus jawab apa. Ibrahim sudah meninggal, Maurin tahu, meskipun aku tidak pernah mengajaknya pergi ke pusara daddy. Apakah itu tanda bahwa anakku merindukan figure seorang ayah?. Tapi dia punya grandpa yang selalu menyayanginya tanpa terbagi. Apakah itu belum cukup. Astaga kenapa aku jadi pusing tujuh keliling. Apasih yang Maurin mau? Kenapa dia begitu dekat dengan Tommy! Apakah sudah lama?. Ah sudahlah. Dan swesampainya dirumah. Seperti biasa, Maurin langsung mengganti baju sekolahnya lalu mencuci tangan dan kakinya sebelum dia menghampiri meja makan unutk mencari sesuatu yang akan dimasukkan keperutnya. Segelas jus yang dia minta pagi hari, selalu sudah kusiapkan saat dia hendak pulang, dan bila aku tidak sempat,maka bibi dan wait yang menyiapkan untuknya. Khusus unutk seminggu terakhir dia selalu menginginkan segelas jus stowberry dengan dua gelas slocky penuh dengan susu segar dan sedikit tetesan coklat diatasnya. Siang ini aku menemaninya menonton tv kabel acara avatar milik nickelodeon. Sambil menyuapinya untuk makan siang dengan sepiring soto ayam khas kota lamongan. Wati pintar sekali masak, masakannya sangat enak. Kami sekaluarga cocok sekali dengan olahan tangannya. Semua terasa nikmat. Dan Maurin sangat lapars ekali sepertinya, sambil bermain boneka dia emnonton acara tv dengan senangnya, seolah tidak merasakan deritaku yang kehilangan dompet. Akupun hanya tersenyum lalu meringis sendiri sambil berfikir menunggu jawaban apa akan ada orang yang mau mengembalikan dompetku. Aku malas sekali bila harus mengurus semua surat  wajib itu. Pasti akan memakan waktu yang cukup lama.
“lapar sekali aku mom! Padahal pak Tommy sudah memberiku sebuah coklat. Dan sudah kuhabiskan semuanya tadi”
Aku hanya melihatnya sedikit terheran, ohhh jadi tadi bukan hanya the botol saja ya. Ada coklat juga ya. Aku tersenyum mendengar celotehannya
“dia baik mom, ganteng lagi! Daddy setampan pak Tommy tidak mom?”
Betapa kagetnya aku mendengar pertanyaan Maurin. Sekilas aku teringat dengan wajah Ibrahim. Yah aku merindukan sosoknya.meskipun aku masih membencinya. Aku tidak yakin bila aku benar benar membencinya, ataukah masih mencintainya. Karena beberapa alasan itulah. Aku tidak pernah mau menjalin hubungan special dengan pria manapun, meskipun paman dan bibi selalu membukakan pintu rumahnya untuk pria manapun yang mencintaiku.
“mom…mom…mommy..halooo!” teriak Maurin yang mendadak membuatku kaget
“yah sweaty! Aku disini”
“aku sedang berbicara mom, apa kau punya jawaban atas pertanyaan yang aku ajukan?” cukup retoris unutk anak seumur dia.
“daddy lebih tampan!” jawabku singkat dan tidak yakin.
“ohhh..pantas mommy menikah sama daddy! Berarti paka Tommy jelek ya mom?”
“ohh sayang, tidak juga!”
“berarti mommy suka?”
“sayang,bisa tidak kita membicarakan sesuatu yang lain selain guru olah ragamu, please mommy mohon!”
“baiklah, tapi aku ingins eperti temanku yang punya ayah mom! Bisa tidak kau carikan satuuu saja untukku!”
“ohhh sweatheart, itu tidak mudah sayang, butuh campur tangan Tuhan. Semua tidak mudah seperti kau menginginkan sebuah boneka sayang!”
“benarkah? Aku akan selalu berdoa mom untuk daddy! Aku merindukannya mom!”
Aku hanya mengangguk mendengar ocehan anak perempuanku. Aku pusing mendengarnya. Mendadak ingatanku kembali saat Ibrahim selalu ada bersamaku. Dan seperti biasanya aku selalu kembali mengingat kejadian dikamar hotel malam itu. Percuma aku membenci orang yang sudah mati. Itu pasti akann membuatku semakin berdosa. Aku mencoba memaafkan Ibrahim suamiku. Dan semoga itu benar benar tulus. Karena aku sama seklai tidak bisa mengatakan tentang hal yang satu itu. Pengampunan untuknya selalu terkesan samara dariku, meskipun Ibrahim sudah meninggalkan warisan yang sangat mewah unutkku. Gadis kecil yang cantik dan pintar. Semoga dia atas sana kau bisa melihatnya Ibrahim, aku merindukanmu. Aku sadar ketika aku mulai menangis.maka buru buru kuhapus air mataku dnegan tissue makan milik Maurin. Gadis itu asyik dalam dunianya. Dan sama seklai tidka menyadari kegalauanku atas pertanyaan yang dia ajukan. Aku meninggalkannya sendiri di kamar saat makan siangnya selesai, aku berdiri di atas balkon sambil merefleksikan diriku. Hanya sebuah novel milik Marah Rusli karangan lama yang aku suka. Siti Nurbaya, karyanya yang paling besar dalam dunia sastra Indonesia. Dan aku menyukainya dengan sangat. Dari atas aku melihat wait sedang menyapu halaman sambil menanam bunga baru, yang baru saja dibelinya di pasar bunga tadi pagi. Dan Rudy sedang asyik mencuci mobil samapai mengkilat. Dari kejauhan, mataku melihat bentangan tempak siring yang sangat hijau penuh dengan tanaman padi yang menghampar bagaikan permadani zamrud. Meskipun siang tapi udara disini masih cukup dingin menusuk tulang. Kabut tak lagi menyelimuti persawahan. Aku hanya melihat mobil dan motor yang lalu lalang, mungkin mereka hendak mengunjungi area permandian air hangat, atau hanya untuk membeli jagung bakar dipuncak. Pasangan muda mudi berjalan bergantian melintasi depan rumahku. Mereka tentu pasangan kekasih yang hendak memadu kasih. Aku tersenyum membayangkan mereka, aku masih saja mengingat bagaimana cara Ibrahim dulu mengajakku berkencan. Akuhanya sanggup tersenyum, meskipun terkadang ditengah malam, tanpa ada yang mengawasiku aku memutar video pernikahan kami, ataupun video bulan madu kami. Tiap aku melihat video itu akupun tak pernah bisa berhenti untuk menangis. Aku benar benar rindu padanya. Bagiku tidak ada pria yang bisa menggantikan posisinya dalam hatiku. Meskipun dia pernah mengkhianatiku.  Kucicipi kue buatan Wati, rasanya benar sangat lezat tak kalah buatan took roti yang ada di kota besar. Saat ayik menikmati kopi dan kue buatan wait, aku terperanjat berdiri lalu berteriak, karena sebuah sedan menabrak sebuah motor. Sedan itu lari kencang meninggalkan pria itu. Wati dan Rudy serta beberapa orang yang ada disitu sibuk mendatangi pria yang terjatuh, akupun sekencang mungkin mendatangi Pria itu, aku berlari melewati tangga hingga nyaris terpeleset. Jantungku berpacu kencang, tanganku gemetar, saat aku melihatnya pria itu sepertinya pingsan, tidak sadarkan diri, ada beberap luka yang berdarah, dan beberapa lebam disekitar siku tangan, bajunya sobek, celananyapun juga sobek. Aku takut sekali, Rudy menggotong pria itu masuk kedalam ruang tamuku, dibantu dengan empat orang warga, Wati mengambil segelas air putih untuknya. Aku bersyukur karena pria ini tidak sedang benar benar pingsan. Aku mengamati wajahnya, mencoba ku ingat ingat. Tapi belum kudapatkan ingatan itu. Pria itu bersikeras agar para warga tidak perlu mengkhawatirkan kondisinya. Beberapa diantara mereka meninggalkan Pria itu, tapi tidak dengan Rudy dan Pak Hari tetanggaku. Mereka berdua mengawasi pria asing itu, aku dan Wati pergi mencari P3K untuk mengobatinya, aku juga membawa seember air bersih unutk mencuci lukanya. Aku emang bukan dokter tapi orang disekitarku banyak yang berurusan dengan medis, jadi sedikit banyak aku bias memepelajari ilmu mereka.
“apa anda bisa berjalan?” tanyaku menyapanya tanpa meminta keterangan siapa dia. Aku prihatin melihat lukanya. Dia mengangguk bisa, meskipun sedikit tertatih tatih saat berjalan, dan Rudi membantunya dengan memegangi lengan kanannya. pria itu berjinjit sambil menahan rasa sakitnya. Maurin turun dan menyapanya
“daddy!” kami melongok melihatnya, sungguh aneh, dia ini pria sing bagaimana mungkin sebutan itu pantas untuk Pria ini. Diapun tersenyum mendengar sebutan itu, mungkin dia sadar kalau anak perempuanku memanggil namanya dengan sebutan yang tidak lumrah.
“Maurin darling, he isn’t your daddy sweatheart!” sapaku malu, entah aku takut saja membayangkan pria itu akan marah mendengar panggilannya.
“bukan!” jawab Maurin. Gadisku mendekati pria itu, saat dirinya mendapati senyum manisnya. Mereka duduk bersebelahan, seperti oaring yang akrab dan lama sekali tidak berjumpa. Kubuyarkan semua lamunanku. Suaranya hamper mirip dengan almarhum suamiku. Tapi tentu saja itu bukan. Dan mungkin hanyalah kebetulan.
“berbaringlah!” perintahku sedikit ketus, aku tiba tiba saja iri dengan ke akraban mereka.
“iya dokter! Baiklah. Sebentar ya cantik aku beristirahat dulu!” sapanya lembut pada maurin tapi tegas padaku. Membuatku semakin kesal.kuperhatikan pria itu mengenakan cincin kawin. Jadi kupastikan dia sudah emmpunyai pasangan. Rambutnya rapi, badannya tinggi tegap hamper sama dengan bentuk tubuh Ibrahim, rambutnya terpangkas rapi.
“saya hanya membersihkan luka anda dengan cairan antiseptik, lalu mengobatinya sedikit dengan cairan alcohol sebelum saya menaruh betadine pada luka anda. Lalu menjahit sedikit luka anda. Tapi maaf saya bukan dokter. Jadi mohon anda tidak kecewa. Tapi saya jamin saya bisa rapi menjahit luka anda!”
“oooww!” dia hanya menaikkan bahu lalu mengangguk dan tersenyum pada Maurin
“it’s hurt!” Tanya Maurin dengan gaya bahasa perhatian dan manja. Mimik wajahnya sedikit ngeri melihat kulit pria asing itu menjahit. “mom it’s hurt. Do not hurt him mom! Kasihan dia!”. Aku tersenyum saja, begitu juga pria itu
“siapa namamu cantik, aku I..bra! maksudku adam! Kau gadis tercantik yang pernah aku temui sayang!” aku kaget saat dia menyebutkan namanya pertama kali, tapi sebelum aku sempat menanyakan nama itu, Maurin sudah memeotong pembicaraanku.
“Maurin, uncle!”
“great…! Namamu secantik wajahmu sayang, boleh uncle tanya nama mommy mu!”
“sure! Tells your name... mom,  uncle menanyakan namamu!”
“Lea!” ujarku singkat
“waooo…singa!”
Mendadak mereka berdua menertawakanku. Lalu memaksaku tersenyum saat melihat Maurin tertawa terpingkal pingkal. Sial….
“non, nyonya Lana menelphone!” Wati membawa masuk telephone itu untukku. Karena mereka berdua sedang asyik bergurau maka aku memaksakan diriku unutk mencari ruangan lain yang bisa leluasa untuk mengobrol. Bibi menelphone dan sekedar menanyakan apakah besok aku bisa menjemput mereka di bandara Juanda. Dan aku bilang aku bisa, hanya saja disini ada pria asing yang baru saja aku tolong karena mengalami kecelakaan didepan rumah. Tapi bibi sama sekali tidak terkejut. Sebenarnya ingin kukatakan padanya kalau sosok suaranya mengingatkan aku pada ayah Maurin. Tapi kuurungkan niatku. Setelah mendengar penjelasanku bibi, tidak memaksaku untuk menjemputku, dia hanya meminta tolong agar besok Rudy menjemput mereka dibandara tepat pukul tujuh malam. Aku memastikan kedatangan Rudy unutk esok hari. Dari ruang sebelah, aku mencoba menangkap pembicaraan mereka, aurin cukup akrab dengan Adam meskipun mereka baru saja bertemu beberapa jam yang lalu. Mungkin karena anakku gadis yang ramah, dan pria itu orang yang menyenangkan. Senang sekali melihat mereka akrab. Tapi itu tidak baik untuk Maurin, karena kami belum lama mengenal pria itu. Aku meminta Wati untuk menyiapkan kamar kosong untuknya,karena aku tidak tega menyuruhnya pulang,melihat kondisi motornya yang rusak parah dan berasap.lagi pula aku tidak memiliki baju pria. Jadi kuputuskan unutuk mencari beberapa baju lama milik Ibrahim yang masih kusimpan dalam lemari bajunya. Saat membuka lemari itu, hatiku tiba tiba saja sedih, bergemetar, dan sangat menguras emosiku. Yah aku yakin pada diriku sendiri kalau aku amsih menyukainya, meskpun dia sudah tiada.kuambilkan satu potong baju dan celana serta satu piyama yang bisa dia kenakan untuk sementara. Aku membawanya ke kamar rawat menemuinya sambil membawa satu stel baju dan piyama. Aku melangkakan kaki menuju ruangan itu, aku mengintip sedikit unutk melihat suasana mereka berdua. Sayangnya Maurin tidak lagi berada bersamanya. Kuketuk pintu itu dua kali, meskipun aku memasuki ruangan yang ada dirumahku sendiri.
“masuk !” sapanya
“maaf kalau saya mengganggu, dimana Maurin?” tanyaku penasaran. Aku sama sekali tidak melihat jejaknya.
“kurasa pengasuhnya membawa putrimu nonton acara menariknya!”. Aku hanya diam dan mengangguk “kalau anda tidak keberatan, saya mau bertanya dimana ada hotel yang bisa saya kunjungi dan tidak terlalu jauh agar saya, tidak kesakitan melangkah!”
Aku terkejut mendengar pembicaraannya. Aku sedih , tidak tahu mengapa. Perasaan ini berbeda, intonasi dan gaya bicaranya hamper menyerupai Ibrahim.
“saya belum selesai menjahit luka anda, dan setelah saya selesai dengan tugas saya, cobalah pakaian ini. Maaf kalau kondisi bajunya sudah kusam!” aku menyerahkan, dan dia menerimanya dengan senyum. Sungguh tampan sekali, lebih tampan dibanding Tommy guru olah raga Maurin. Tangannya menyentuh kulitku, seperti aliran magnit yang menyentakku.
“maaf saya tidak sengaja!” nampaknya dia juga terkejut melihat reaksiku yang mundur satu langkah.
“tidak masalah!”
“anak anda cantik, pasti suami anda tampan, karena anda sendiri cantik seperti putri anda!”
“oh terimakasih, tapi dia sudah menjadi anak yatim sebelum dia lahir!” kerongkonganku seperti tersekat saat mengatakannya. Sedih susah bercampur aduk.
“maaf, bukan maksud saya mengingatkan pada pengalaman anda! Akan saya pakai, baju ini masih nampak baru, nyaris saya tidak tahu kalau ini bukan baju baru bila anda tidak mengatakannya tadi!”
Aku tersenyum melihatnya, sambil kuteruskan menjahit lukanya dengan jarum yang ada ditanganku. Sesekali dia meringis kesakitan. Aku sennag membantunya membersihkan luka. Hatiku terasa tenang. Sama sekali aku tidak takut dengannya.
“anda bisa beristirahat di ruang tamu, Wati sudah mempersiapkan kamar kosong untuk anda!” jawabku  berusaha menenangkannya dan menghalangi niatnya unutk pergi dari rumahku. “mobil anda akan diambil besok pagi oleh tukang service langganan kami!”
“anda tidak perlu repot, sebenarnya saya kesini karena memang ingin menenmui anda!”
Aku menoleh dan menatapnya tajam…kuhentikan jahitanku sebentar. Kuselidiki apa maksud pembicaraan itu.
“apa ,maksudmu?”
“tadi anda sekarang mu? Apa kita sudah lebih dekat!” tanyanya dengan senyum. Lagi lagi suaranya mempunyai cengkok gaya yang sama dengan Ibrahim. “ tolong ambilkan tas punggung saya yang ada di meja belakang anda, maaf kaki saya sedikit sakit unut berdiri, sepertinya otot saya belum pulih benar. Bodohnya aku mengambil dan menuruti perintahnya. Aku memberikannya dengan sedikit tidak sopan, tapi pria itu hanya tersenyum. Sepertinya dia mencari sesuatu untuk aku. Astaga !
“apa ini milik anda?” tanyanya datar, sambil memberikan dompet itu padaku “tolong periksalah semuanya?”
“yah  benar? Anda menenmukannya dimana?” saat aku cek semuanya masih unuth tak hilang satu sen pun, hanya saja ponselku mati. “terimakasih!”
“your welcome! Apa anda sama sekali tidak mengingat saya, atau mungkin anda….!” Aku memotong pembicaraanya begitu saja!”
“apakah anda pria yang menolong saya di mall satu minggu yang lalu? Pantas saja saya seperti pernah melihat anda. Hanya saja saya tidak mengingatnya dimana!” aku tersenyum tipis ,malu membayangkan kesombonganku. “maaf kalau saya kasar!”
“tidak  masalah, apa anda sudah mengecek semuanya! Maksudku isi dompet anda. Tapi berani saya pastikan, tidak ada satu lembarpun yang hilang. Tapi untuk ponsel anda saya tidak mengecharge batterainya. Maklum saja saya tidak punya charger yang cocok dengan ponsel mahal anda!”
Kami bertatap muka dan melempar senyum ramah. Aku kembali menereuskan tugasku menjahit lukanya.
“besok bibi saya datang dan anda pasti akan diperiksa ulang, bibi saya dokter, jadi dia pasti lebih bisa menyarankan anda untuk pengobatan yang baik!” dia mengangguk. Setelah saya selesai dengan tugasku, maka akupun meninggalkannya, tapi sebelum aku benar benar meninggalkannya
“maaf, apa saya tidur disini!”
“tentu saja tidak, maria saya antar kekamar anda!”
Kami berjalan, ada Wati yang baru saja akan keluar dari kamar itu, setelah selesai membereskan kamar tamu. Maurin berlari dari ruang keluarga menenmi kami, berlari hingga boneka kelincinya terjatuh. Dan ditinggalkannya begitu saja dilantai. Menggelayuti tanganku, lalu melempar senyum padanya. Mereka saling tersenyum. Anehny aaku merasa sedikit akrab dengan kebiasaan baru mereka.
“kau menginap di rumahku uncle?”
“tentu cantik, kalau dirimu mengizinkannya!”
“tentu saja, besok kita bisa bermain monopoli bertiga ya di balkon atas, dank au bisa berlomba renang bersamaku!”
“darling!...no….nononono
“yes mom!” dia memlototiku saat aku melarangnya.
“doakan uncle segera sembuh ya, biar mommy-mu mengizinkan kita berlomba!”
Maurin mengangguk, lalu kembali menghampiriku.
“mandilah,dan gantilah bajumu! Kami menunggu-mu makan malam,jika kau tidak keberatan!”
“tidak pake lama ya, uncle!”
Kami tersenyum, dan tangannya mengacak ngacak rambut Maurin. Gadis itu hanya diam tanpa protes, padahal dia tidak suka bila Grandpa mengacak acak rambutnya. Kami meninggalkan dia begitu saja, lalu menunggunya di ruang makan. Satu jam kemudian, dia menghampiri kami dan bergabung untuk makan malam. Melihat dia memakai baju Ibrahim, jantungku serasa mau lompat,
“apa aku pantas!”
Aku mengangguk, karena aku tidak sanggup mengatakan sesuatu apapun yang berbentuk suara, aku menahan emosi rinduku. Tidak tahu kenapa semua s erasa melekat kuat pada diri Adam, walaupun jelas dia bukan suamiku, dan Ibrahim sudah meninggalkanku hampir tujuh tahun yang lalu. Jantungku berdebar saat dia duduk persis di depanku. Dia meminta air putih yang hangat unutk pendamping minumnya. Dan tidak tahu kenapa Wati memasak soto khas lamongan kesukaannya. Tak ada percakapan khusus antara kami, Diapun tidak berusaha membuka topic dneganku, dia hanya cenderung menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Maurin. Ingin sekali aku buru buru masuk ke kamar dan berteriak. Tapi sayangnya, Maurin masih belum menginginkan jam tidurnya. Aku berusaha merayunya, tapi tidak berhasil
“ayo kita kerjakan tugas rumahmu!”
“Mom, aku sudah selesai!”
“ayo kta belajar! Mommy tidak mau melihatmu punya angka merah di rapor!”
“mom aku sudah belajar!”
Aku hanya menarik lengannya, tapi dia sepertinya menempel di kusri makan. Aku sedih mendengar penolakannya. Dia mengamati kami, dan tersenyum melihat bibirku yang mengerucut mau marah tapii tidak bisa.
“bagaimana kalau aku yang membantu tugas rumahmu?”
“benarkah! Tapi semua sudah kuselesaikan”
“bagaimana kalau kau memintaku untuk mendengarmu membaca soal ataupun membaca cerita!”
“pasti menarik!”
Mereka meninggalkanku, berdua di ruang tengah seperti mau menonton TV. Tapi aktifitas mereka adalah membaca. Jadi kuputuskan saja memberi mereka waktu luang untuk berdua, Maurin sepertinya banyak mengobrol, dan mengajukan beberapa pertanyaan. Dan aitu membuatku tersenyum geli. Saat melihatnya kesusahan dalam menjawab. Kusita waktuku dengan melanjutkan karya tulisku, Karena aku punya kontrak dengan penerbit, dan mereka menuntutku minimal dengan satu novel selama setahun. Seminggu ini aku tidak menulis sama sekali, karena aku belum punya kelanjutan ide cerita. Tapi malam ini, semua ide seperti tertuang begitu saja pada otakku, hingga aku mudah sekali saat menulisnya di layar laptop-ku. Tak sadar sudah tiga jam, aku duduk di depan layar, dan saat kutengok Maurin sudah tidak lagi secerewet tadi. Kuhampiri dia, dan rasa kantuk sudah menyelimuti matanya. Sehingga dengan mudah ajakanku terwujud tanpa penolakan. Aku mengantarnya ke kamar tidur,meskipun terkadang dia tidur bersamaku. Setelah kupastikan dia tertidur maka akupun meninggalkannya pergi keluar kamar dan meneruskan kembali pekerjaanku. Tapi dia sudah berdiri manis didepan meja kerjaku.
“anda penulis?”
Aku hanya tersenyum, aku hanya menduga kalau dia sedikit kaget.
“karya cerita anda bagus? Apa anda Lea Darmawan si Novelis itu?”
“yah! Ini buku saya yang ke lima, bila cerita ini diterbitkan”
“beruntung sekali saya bertemu dengan sang Novelis”
“apa anda pembaca novel!”
“maaf…tidak, tapi saya hanya membacanya lewat internet!”
“apa anda sudah menikah? Dan punya anak?”
“apa ini sebuah pertanyaan special dan perlu jawaban yang cukup mendesak?”
“anggap saja anda tidak mendengarnya, maaf saya mau istirahat. Selamat malam!”
Aku meninggalkannya begitu saja, kesal mendengar penolakan jawaban. Apakah pertanyaanku terlalu komplek dan  pribadi. Astaga kenapa aku marah. Ak tidak mengerti, aku merasa seperti anak kecil. Semoga dia tidak sedang menertawakanku. Malam itu aku tidak bisa tidur, aku hanya menemani putriku tidur, dengan membaca novel. Sayangnya aku tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun. Aku sibuk mengingat apa yang sudah ku alami seminggu terakhir ini, terlebih kejadian hari ini. Tidak ada yang bisa kuajak berbincang bincang. Kupaksa agar aku tertidur tapi susah sekali. Hingga akhirnya aku benar benar tertidur pulas di samping anakku.

Pagi ini bangunku kesiangan, astaga satu jam lagi Maurin sudah harus pergi ke sekolah, dan aku belum juga mandi, kubangunkan Maurin,lalu pergi mengajaknya mandi bersama, tidak banyak aktifitas mandi yang biasa kami lakukan berdua. Aku terburu buru merapikan dan mendandaninya. Aku tidak sempat berdandan seperti biasa. Setelah Maurin siap dengan seragamnnya, aku hanya mengenakan baju santai lalu pergi menyiapkan bekalnya.
“kamu sudah sarapan Maurin?” dan dia hanya menggeleng ketika aku menanyakannya. “ayolah,nanti kau terlambat, bekal makanan dan minumanmu sudah mommy siapkan di tas!”
“bye uncle!” dia menyapa adam yang sedang melatih ototnya di teras.
“bye darling! Apa anda butuh teman unutk mengantarnya?”
“no thanks! Sarapan anda sudah siap, silahkan duluan, jangan lupa minum obat yang semalam saya siapkan dikamar anda” dia hanya mengacungkan jempol lalu melambaikan tangan pada kami. Sengaja unutk hari ini aku menunggu aktifitas Maurin, hingga dia selesai dengan pelajarannya. Aku ingin menebus,kekecewaannya kemarin siang. Dan pagi ini aku kembali lagi bertemu dengan Tommy. Kami hanya mengucapkan selamat pagi saja, aku menunggu anakku di ruang perpustakaan sekolah, aku membaca beberapa buku ensiklopedia khusus untuk anak sekolah dasar. Seorang kepala perpustakaan menyapaku, sebelum dia mengizinkana ku untuk menempati salah satu kusrsi kosong yang ada di ruangan itu.  Aku kembali menemui Maurin saat bel istirahatnya berbunyi.  Dia senang sekali melihatku. Berlari untuk menyambutku, lalu memelukku erat.
“mommy! Aku senang kau berada disini, aku ingin di suapin!”
“pasti sayang!”
“mommy, aku suka sama uncle, aku merasa dia itu daddy!”
“maurin, hi isn’t your daddy sweatheart, pilihkan dia untukku mom!”
“darling ini sulit!”
“buatlah ini menjadi mudah untukku mom!”
“sayang dia sudah berkeluarga?”
“apa itu!”
“dia sudah memiliki istri pendamping hidup, dan anak yang akan memanggilnya daddy, seperti kau memanggil daddy-mu. Lagipula sayang, daddy sudah meninggal!”
Dia mterdiam, dan aku kecewa membuatnya berubah menjdai tidak semangat. Dari kejauhan sepertinya aku memperhatikan Tommy sedang memperhatikan kami. Aku pura pura tidak melihatnya. Aku tidak ingin menyapanya.
“kau marah sayang?”
Yah aku tahu dia marah padaku, meskipun dia menggeleng untukku. Ya uhan kenapa semua menjadi seperti ini. Bukankah dia orang asing. Apakah kau mengirimnya untuk kami!. Aku berteriak dalam hati menggemakan pertanyan bodoh itu. Saat bel berbunyi, maurin terburu buru meninggalkanku, dan satu jam lagi dia akan kembali keluar saat jam pelajaran usai, aku emngemasi bekalnya, saat melihat Tommy hendak menghampiriku, aku terburu buru masuk di mobil. Aku sungguh tidak sedang menginginkan berbicara dengan siapapun. Kenapa bayanganku tentang Ibrahim semakin sering mengingatkanku. Kenapa suara pria itu mirip sekali dengannya. Kenapa Maurin sangat dekat dan tiba tiba saja mengingkan Ayah. Air mata menetes di pipiku, yang aku tahu besok adalah ulang tahun anakku, dan itu berarti Ulang tahun Ibrahim, bila dia masih hidup. Kepaluku terasa pusing, berat untuk ku sanggah. Cincin yang diberikan Ibrahim dulu, sekarang aku kenakan lagi sejak semalam, sejak aku menyadari bahwa suara mereka sangatlah mirip. Cincin ini adalah cincin pernikahan kami sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah tidak memakainya sejak kami resmi bercerai, dan sejak aku melihat kejadian di hotel saat itu. Tidak tahu kenapa dorongan unutk memakainya kembali menguat. Aku tidak tahu apa alasanku. Dan ketika aku memakainya, aku seperti merasa nyaman. Lama sekali aku terdiam dalam mobil, dan baru sadar ketika Maurin mengetuk kaca candela mobilku. Kubuka pintu untuknya dengan senyum dan dia memberikan senyum yang lebih menawan untukku sebelum dia mengatakan. “cepat pulang mom, I miss him!”. Aku menoleh. Dan mengangkat alisku tinggi tinggi sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, yang kemudian kuurungkan. Sesampainya dirumah aku melihat pintu pagar terbuka olehnya, maurin terburu buru saat melihat siapa yang membukakan pintu untuk kami.
“lihat mom, siapa yang membukakan pintu!”
“yeah I Know. His your boy friend right?”
“bukan mom, his my daddy!”
“oh my God!” kupegang kepalaku sambil kubanting setir. Kalau dia bukan anakku, pasti sudah kusuruh keluar dari mobilku. Maurin berlari mendapatkannya. Diapun merentangkan tangannya dengan lebar. Dia merasa kesakitan ketika Maurin tidak sengaja menyentuh lengannya yang aku jahit semalam.
“ooouuwwww….!”
“sakit uncle? Sorry! Mom dia kesakitan, ambilkan obat penghilang anti sakit mom!” ahhh lagi  lagi dia memperhatikan itu. Aku terpaksa menghampirinya, saat Maurin pergi meninggalkan kami, aku hanay menebak pasti anakku sedang mencari kotak P3K.
“kau tahu..aku suka sekali dengannya?”
“apa urusanku!” jawabku sambil lalu dengan kesal, lebih kesal lagi saat aku mendengar tertawanya yang menjengkelkan itu. Anehnya aku pun ikut tertawa beberapa detik kemudian. Kami mengobrol dan makan siang bersama saat itu,kami kembali mengobrol saat Maurin tidur dipangkuanku. Dia menghampiriku sambil menggerak gerakkan siku tangannya yang masih lebam. Dia mengawasi gaya tidur Maurin,lalu menatapku unutk beberapa detik. Aku pura pura tidak melihatnya, meskipun akhirnya mata kami saling tertumbuk.  Aku berusaha unutk membuka obrolan. Tapi aku tidak punya topik pembuka.
“terima kasih kau sudah membantu mengobati lukaku, maaf kalau terlalu merepotkan semua orang yang ada disini!”
“yah, bukan masalah, kau juga sudah mengembalikan dompetku, meskipun kau bisa saja tidak ingin mengembalikannya!”
“ohh soal itu, biasa saja. Aku hanya ingin menjawab pertanyaan yang kau ajukan tadi malam, tapi berjanjilah kau akan menjawab apa yang hendak aku tanyakan!”
“lupakan saja soal kemarin! Aku tidak sedang membutuhkan informasi tentang siapa anda!”
“aku Adam, aku sudah bercerai dengan istriku beberapa tahun silam! Aku tidak memiliki seorang anak,meskipun kami pernah mengharapkan seorang anak!”
“maaf, kalau pertanyaan yang saya ajukan sangat privasi!”
“saya maklum, tapi sungguh saya sangat menyukai putrimu, dia cantik ,pintar dan lincah, sayang keakraban itu tidak saya temukan dalam diri anda. Atau mungkin karena anda bertemu dengan orang asing seperti saya!”
“maaf bukan maksud saya, bersikap kasar!”
“tunggu, saya tidak mengatakan anda kasar, yang saya katakana adalah putri anda sangat ramah dan saya belum meumeukan keramah tamahan itu pada pribadi anda tadi malam. Tapi saya mengakui pribadi anda sangat menarik. Apa foto yang terpampang itu adalah foto orang tua anda?”
“yah….dia paman dan bibi saya yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri! Saya yatim piatu ketika saya berusia sebesar Maurin!”
“maaf, saya….”
“tidak masalah, dimana anda tinggal?”
“saya?,berpindah pindah…. Beberapa tahun yang lalu saya tinggal di eropa, dan dua tahun terakhir saya tinggal antara Surabaya dan Jakarta. Hari pertama saya menemukan anda seminggu yang lalu adalah hari pertama saya menentap di Surabaya?”
“ooohh, boleh saya tahu apa profesi anda!”
“ooohhh saya… saya hanya general practitioner !”
Kami diam sesaat, tanpa ada yang memulai pembicaraan lagi. Aku mencoba untuk tersenyum, kuperhatikan dan kuakaui dia memang ramah, dan tampan tentunya.
“lain waktu bolehkah saya meminta tanda tangan anda?” pertanyaan itu tiba tiba mengejutkanku. Dan aku hanya mengangguk. Diapun tersenyum. Entah mengapa ketika aku berbicara dengannya, wajah Ibrahim tidak pernah muncul dalam anganku. Kami menonton televisi, tapi aku sadar kami tidak sedang benar benar menonton acara yang kami lihat bersama. Dia berdiri mendekatiku, jantungku serasa seperti mau copot.
“biar kutidurkan gadis cantik ini dikamarnya?”
“jangan, jahitanmu bisa luka nanti, Maurin berat sekali?”
“sudahlah biar kucoba!”
Karena dia bersikeras, maka akupun membiarkannya membawa putriku kekamarnya.  Aku tidak mengikuti mereka, justru aku pergi menemui Wati yang sibuk didapur, aku menanyakan apa dia sudah memesan paket bingkisan unutk ulang tahun anakku besok, aku ingin tahu apa semua masakan sudah siap dipesan. Soal kue aku menjami siap karena aku sendiri yang memesannya. Akupun sudah  membelikan kado khusus beberapa hari yang lalu lewat internet. Dan kemarin aku sudah mendapat barangnya lewat kuris. Ketika semua sudah siap maka yang aku butuhkan hanyalah menelphone wali kelasnya, untuk sekedar minta sedikit waktu saat pulang sekolah besok. Aku terbiasa merayakannya di sekolahnya dan pesta kecil yang karab antara keluarga. Itu sudah cukup unutukku, serta beberapa bingkisan kecil dan makanan untuk yayasan panti asuhan yang dekat dengan rumah kami. Ketika diteras, aku kembali menemuinya,bersantai membaca karya novelku. Dia sepertinya asyik, atau pura pura asyik akupun tidak tahu, saat aku membiarkannya embaca, diapun meletakkan buku itu. Berjalan mendekatiku, terus mendekati hingga dia melewatiku, lalu berhenti persis didepan piano.
“boleh aku pinjam?”
“silahkan!” jawabku, aku penasara melihat actionnya. Apakah dias ehebat yang aku pikirkan. Dia tersenyum ke arahku,memencet beberapa tuts piano, sebelum dia benar benar memainkan beberapa buah lagu. Aku memperhatikannya dengan seksama walaupun pada akhirnya dia benar benar bisa memaksaku untuk memperhatikannya. Woow….permainanya. dia menyanyikan sebuah lagi milik eric Clapton change the world, sungguh menghibur. Lalu dia menyanyikan lagu milik Rick Price nothing can’t stop us now. Pelan pelan aku mengikuti musiknya sambil menyanyikan potongan syair yang aku ingat. Kutepukkan tangan yang meriah untuknya, dan dia tersenyum
“maaf, kalau saya salah memainkan nadanya!”
“tidak , semuanya benar! Anda hebat! Apa anda guru piano!”
“oh tidak, saya hanya pemain asal, hanya unutk menghibur diri. Konon Mozart mengatakan bila kita susah mengucapkan atau mengekspresikan sesuatu, hendaknya kita akan mudah mengutarakannya dengan musik!”
Secepat kilat aku kembali menatapnya tajam, aku berusaha menggingat ketika Ibrahim sering mengatakannya padaku, bila aku susah sekali untuk diajak mengobrol. Jantungku berdegup kencang, seperti bergemuruh dengan luar biasa. Tubuhku seperti terkena aliran listrik bertenanga tinggi. Aku mengejang kaku, mungkin aku pucat, tapi aku berusaha unutk menghirup nafas panjang. Aku mencoba berpikir luas kalau kalimat yang di ucapkan Mozart, sudahlah merupakan topic umum dikalangan masyarakat yang mencintaia piano.
“music is universal!” kami mengatakannya bersamaan, lalu kami saling berpandangan dan berhenti menatap sambil membuang muka. Lalu tertawa bersama.
“izinkan saya melihat permainan anda?” suaranya terdenagra menantang
“oke!” kumainkan beberapa karya dari soundtrack film st elmos fire. Dia terpukai melihatku, dan sungguh itu membuatku sedikit besar kepala. Lalu kumainkan beberapa karya milik choppin. Beberapa saat kemudian, dia kembali memainkan karya milik Mozart.
“kau bisa bermain duet?” tanyanya kembali menantang
“bisa! Apa kau sudah memilih lagunya?” tanyaku menjawab tantanganya.
“bagaimana kalau karya milik david foster?”
“tidak kusangka semudah itu, judulnya terserah aku ya!” kami duduk berdua bersama, memainkan nada bergantian, aku tidaqk menyebutkan judul lagunya. Tapi dengan mudah dia bisa melanjutkan intonasi berikutnya, kini aku bisa mendengarkan suaranya, telingaku mendengarnya dengan serius. Jantungku berdegup kencang, aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan saat ini, tapi ini semua terasa jelas. Suara mereka mirip, apakah di dunia ini selalu ada yang mempunya kesamaan secara fisik? Mungkin iya! Entahlah. Kembali lagi jari kulitku tersentuh oleh jarinya, aku tidak lagi bisa berkonsentrasi pada nada. Aku mulai mengawasi gerakan jarinya yang begitu cepat, suaranya begitu sangat mempengaruhi konsentrasiku. Dia sangat antusias sekali memainkan lagu ini. John tesh! Astaga apa yang aku alami!. Oh Tuhan mana mungkin aku jatuh cinta pada orang yang belum kukenal dalam waktu kurang dari delapan puluh empat jam?. Oh tidak ! ini tidak mungkin. Ini hanyalah sementara. Karena rasa gugupku, aku tidak lagi mengikuti urutan nadanya. Mataku hanya tertumbuk pada cincin emas yang melingkari jarinya! Bentuknya hamper sama seperti milik kami dulu. Aku mengamatinya dengan milikku, tapi aku masih menganggap itu hanyalah kebetulan. Aku tidak tahu dimana keberadaan cincin kawin kami yang ada di jari almarhum suamiku. Tiba tiba saja dia menghentikan permainanya.
“aku akan membuatkanmu jus! Tunggulah, dan sepertinya putriku memanggilku!” aku segera pergi menemui Maurin, dan saat kuhampiri kamarnya, dia sudah memintaku unutk menggendongnya. Kucium pipinya, rambutnya masih harum “kau mau jus?” dan dia hanya mengangguk. Baiklah kubawa dia ke dapur, dia membantuku mengambil strawberry yang ada di kulkas, dan satu kaleng whipped cream lengkap dengan coklat dan daun mintnya. “tolong ambilkan tiga gelas sayang?” pintaku lembut, diapun segera berlari mengambil dua gelas, lalu kembali dengan satu gelas lagi. “let me help you mom!” pintanya “aku ingin menghias gelasnya?” aku menoleh,hanya sekedar menanyakan gelas siapa yang dia maksud?. Maurin tersenyum ”uncle. My daddy!” . “oh my” gerutuku. Tangannya dengan lincah menuangkan jus sama rata di dalam gelas lalu dihiasnya dengan whipped cream untuk toppingnya, dengan parutan coklat,lalu dua daun mint diletakkan didekat stirrer dan strow-nya, agar lebih cantik,aku mengambil tiga buah strowbery yang utuh dan sedikit aku belah di bagian tengahnya,lalu kuletakkan begitu saja dimulut gelasnya. Masing masing gelas diberinya satu tissue untuk alasnya. Astaga cantik sekali jadinya, aku berharap pria itu tidak akan besar kepala melihat Maurin sangat memanjakannya. Aku membawa nampan dan Maurin berjalan mendahuluiku lalu menghampirinya dan mengagetkannya “dooorrr!” gadis itu berteriak lalu tertawa, Adam pura pura kaget lalu memluknya erat. “enak tidurmu? Kau mimpi apa?”tanyanya. Maurin tersenyum malu, sambil melirikku dia mengatakan “aku mimpi belajar bersepeda dengan daddy!”.  Aku kaget bukan main mendengar ucapannya. Aku tidak berusaha sedikitpun untuk berteriak melarangnya berbicara, justru aku tertarik unutk mengikuti ceritanya.
“nikmatilah jus buatan putriku!” aku menaruhnya begitu saja di meja yang luas, dan kuambil bagianku yang sedikit dengan taburan coklat. Maurin berjalan bersamanya,lalu mengambilkannya satu gelas untuknya sambil duduk diapangkuannya. Kurasa pria itu kesakitan saat Maurin tak sengaja menyentuh lututnya. “enak?” pertanyaannya simple, tapi anakku menuntut jawaban yang cukup memuaskan hatinya. “itu buatanku!”. Adam tersenyum sambil mengacungkan dua jempol tangannya. Dan Maurin puas akan jawabannya. “bagus!” jawabku.

Aku dan yang lainnya berkumpul di ruang tamu unutk menyambut kedatangan paman dan bibiku, tadi sore bibi ssempat mengatakan kalau dia dan paman ingin berkenalan dengan pria yang bernama adam. Akupun seudah menyampaikannya pada adam, dan kurasa diapun sudah siap menemui orangtuaku. Dua jam sudah aku menunggu kedatangan mereka, sekarang mobilnya sudah samapi didepan teras rumah. Maurin berlari kencang menemui mereka, mungkin anak itu sudah sangat merindukan mereka berdua. Wati pun menemuinya, dan membawakan beberapa tas ke dalam rumah. Aku menemui mereka, dan tidak sengaja, aku menggandeng tangannya begitu saja, aku tidak sadar, dan benar benar tidak sedang dalam keadaan sadar seratus persen, dia hanya tersenyum. Dan begitu kesadaranku kembali akupun langsung melepaskan tanganku darinya. “astaga!” teriakku, dan dia tersenyum”tidak masalah kalau lain waktu kau ingin mengulangnya!”. Aku meninggalkannya begitu saja, pergi memeluk paman dan bibiku. Diapun merapat ke arahku unutk memeprkenalkan dirinya pada orangtuaku.
“hai son!” Tanya paman sambil menjabat tanganku. Aku tersenyum melihat mereka berjabat tangan. Aku bersyukur,karena pada awalnya aku berpikir kalau paman akan memerahiku, karena aku telah mengizinkan orang asing tinggal di villa ini.
“adam, pak…bu! Maaf saya merepotkan putri anda, sennag seklai bisa bertemu dengan keluarga seperti ini!”
“your welcome boys, bagaimana kalau kita sambaing di dalam ruangan saja! Sepertinya aku sangat lelah!” bantah bibi, sambil menggendong cucunya masuk.
Kami bercakap lebih hangat, bahkan sangat hangat. Aku merasa seperti mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Meskipun aku tahu kalau ini baru saja terjadi. Mungkin mereka semua termasuk dalam tipikal orang yang ramah jadi antara satu dan yang lainnya mudah untuk saling mengenal dari hati.
Ke esokan harinya, bibi mengajaknya ke ruang prakteknya, untuk mengecek kondisi lukanya, bersama Maurin. Aku tidak tahu kenapa, Maurin sama sekali tidak mau lepas dari pria itu, aku takut ini firasat buruk untukku. Aku menyibukkan diri di ruang baca untuk menulis novelku. Sayangnya aku tidak bisa untuk berkonsentrasi, lalu aku mencari aktifitas lain untuk mencarikan pria itu baju lagi milik Ibrahim, kucari beberap potong baju yang masik layak pakai,meskipin satu lemari baju milik Ibrahim semuanya masih sangat bisa dikatakan layak pakai, bahkan terlihat baru. Setiap aku membuka lemarinya aku sellau merasakan sesuatu yang sangat mengingatkan aku padanya, terutama kenangan saat aku menyiapkan baju yang akan dipakainya, satu agenda kecil terjatuh dari lipatan baju, kubuka beberapa lembar satu ke lembar berikutnya, hingga aku terhenti saat membaca sebuah kalimat yang ditulisnya dengan model tulisan yang lebih tebal daripada tulisan lainnya “Konon Mozart mengatakan bila kita susah mengucapkan atau mengekspresikan sesuatu, hendaknya kita akan mudah mengutarakannya dengan musik!”. Sepintas lalu ingatanku kembali pada adam, mereka mengucapkan satu kalimat yang sama dengan keahlian musik dan selera yang hampir sama . tapi aku tidak ingin mendebatnya unutk sementara waktu. Aku bergegas merapikan lemarinya, lalu kuambil agenda itu untuk kembali kubaca nanti malam, aku minta agar Wati memberikan baju ini pada Adam. Dan dia mengangguk. Aku berdiam lama mengamati wajahku didepan cermin, aku menangis tanpa alasan, aku merindukan orang yang sudah lama mati, aku merindukan orang yang sudah mengkhianatiku. Tiba tiba hati kecilku bertanya. Apakah aku tidak bisa memaafkannya? Yang kulakukan hanyalah menggeleng kepala, tiba tiba saja kau kembali mengingat kejadian malam itu, dimana Niluh menciumnya diatas pangkuan Ibrahim. Lama sekali aku termenung disana, jujur aku akui, aku merindukannya, kuputar video pernikahan kami, air  mataku kembali menetes di pipiku. Tetep saja aku menonton kenangan itu,meskipun air mataku terus berderai. Hingga tak sadar bibi Lana sudah berada dibelakangku siap memelukku. Diabelainya rambutku
“kau merindukannya sayang?”
“iya, aku sangat merindukannya! Sangat , apalagi suaranya mirip sekali dengan Ibra!”
“aku tahu! Cobalah buka hatimu, jangan terlalu egois, sepertinya dia pria baik!”
Aku diam tidak mengatakan apapaun.
Dan pembicaraan malam itu terdengar bahwa mereka mendukungku untuk melulluskan keinginan Maurin mendapatkan figure seorang ayah. Tapi aku masih belum yakin dnegan ini semua. Setelah satu minggu sejak adam jatuh di depan rumah kami, dia meminta izin untuk berpamitan, sayangnya Maurin saja yang tidak mengizinkan dia pergi. Kami berusaha mebujuk Maurin, lalu mengatakan padanya. Bahwa Uncle harus bekerja unutk mencari makan. Lambat laun setelah negosiasi selama lima jam dengan putriku, berhasill juga Adam pergi. Namun dia berjanji pada Maurin untukk sering menemuinya bila dia punya waktu libur. Dia memastikan unttuk tidak mengkhianati anakku. Dia menaiki motor yang pernah jatuh denganmya seminggu yang lalu. Maurin menangis meskipun tidak merengek, aku bingung sekali untuk menghiburnya, bahkan ada satu baju milik Adam yang tidak diizinkan untuk dicuci Wati. Ternyata baju itu dekenakan Maurin saat dia akan tidur malam. Astaga kami sedih sekali melihat ini semua, hatioku merasa terhimpit, tidak kusangka anakku sangat menyukai sosok adam daripada Tommy guru olah raganya yang pernah dia jodohkan unutk menjadi pacarku. Malam pertama saat Adam tidak dalam rumah, aku merasa ada sesuatu kebahagian yang hilang dari kami. Ak merasakan hal lain yang lebih special. Apakah ini yang dirasakan Maurin putriku. Tapi apa iya pria itu merasakan apa yang kami rasakan. Ke esokan harinya saat Maurin akan berangkat sekolah,  adam menelphoneku untuk sekedar menanyakan kabar Maurin.
“selamat pagi Lea!”
“pagi! Apa kabarnya dirimu, apa kau sudah mulai bekerja?”
“yah, boleh aku minta waktu berbicara pada Maurin?”
“oohhh… sure! There it is!” Maurin langsung menyambar ponselku. Entah apa yang mereka bicarakan, karena Maurin pergi menjahuhiku, dan dia tidak sedang berada dalam jangkauan telingaku. Tapi kuarasa Adam menceritakan sesuatu yang lucu unutk putriku. Setengah jam sudah mereka mengobrol, dan aku harus memotong pembicaraan mereka dengan tegas, bukan karena aku cemburu, tapi karena aku tidak ingin anakku terlambat karena orang asing.
Setiap pagi utriku sellau mendapat sambutan selamat pagi dari paman barunya yang selalu dinantikannya, itu berjalan rutin hingga kami kembali bertemu di hari ketujuh. Dia kembali menginap dirumah kami meskipun hanya satu malam, kejadian seperti ini terus berjalan rutin hingga dua bulan, dan dibulan ketiga Adam tidak menyambangi putriku, dia mengataka kalau dia ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, tapi untuk rutinitas menelphone aka tetap dilakukannya setiap hari,meskipun nantinya kan terlambat dari jam biasanya. Sebenarny aku kecewa, tapi aku tidak bisa menuntut. Dia bukan orang yang bisa unutk aku atur, hubungan kami hanyalah teman baru, meskipunj aku tahu anakku sanagt berharap akan keterlibatannya disetiap aktifitas yang dilakukan oleh Maurin. Terkadang aku merasa dengan adanya Adam beban untuk mendidik Maurin terasa sedikit lebih ringan, apa yang dikatakan Adam, Maurin selalu menurut tanpa alasan. Itulah baiknya dari sisi yang lain. Aku memang mulai menyukainya, tapi itu bukan berrati aku mencintainya. Meskipu aku tahu paman dan bibi sering memberikan tanda baik ke arah hubungan yang lebih serius. Aku belum mengenal Adam secara luas, tapi dulu aku juga belum mengenal Ibrahim secara luas. Yang aku tahu, karena bibi dan paman lebih mengenal dirinya dibanding diriku. Di bulan kelima, Adam mengunjungi kami di villa, dia membawa mainan untuj Maurin, sepertinya dia tahu apa yang disukai anak gadisku. Lalu kami bertiga mengunjungi permandian air panas dengan berjalan kaki, kebetulan saat itu tidak banyak pengunjung jadinya, tidak terlalu ramai. Sehingga kita bebas untuk berenang ataupun berendam. Tak lama pama dan bibi menyusul kami di permandian. Maurin memeng tidak bisa berpisah dari Adam, mereka seperti anak ayah yang saling mencintai, itu yang mulai membuat hatiku berfikir beberap kali unutk menerima adam bila dia mengatakan cinta padaku. Sungguh aku tidak ingin menutup hatiku lebih lama lagi, aku tahu cintaku pada Ibrahim tidak pernah mati. Tapi benar kata paman dan bibi, hidup harus terus berjalan, dan hidupku bukan hanya untukku tapi juga untuk anak gadisku. Aku mencoba mencuri waktu unutk sekedar mengobrol dengannya, saat Maurin belajar berennag dengan mereka dikolam lain, aku meninggalkannya  hanya sekedar untuk memancingnya agar dia mencariku. Tepat dengan dugaanku. Saat aku berendam dalam air panas yang mengandung belerang, beberapa menit kemudian Adam menjemputku, satu dua langkah kakinya menuruni tangga kolam, berdiri dalam rendaman persisi didepan mataku, jarak antara kami hanya satu setengah meter, dan bersandar pada dinding dibelakang punggung kami. Yang kurasakan saat itu adalah jantungku yang berdegup lebih kencang, aliran listrik yan siap mencairkan suhu panasku, darahku mengalir deras, tapi aku berusaha mengolah emosiku, agar tidak terlalu terlihat seperti wanita tolol.
“terima kasih kau sudah mau menemani kami berlibur!” dia mengatakannya tanpa terbata bata. Bagus , kataku dalam hati. Aku hanya tersenyum tanpa jawaban.
“kudengar novel yang anda tulis terakhir kemarin, sudah diterbitkan! Kau tahu Lea!” aku memandangnya tanpa berkedip lalu menatap senyumnya “aku sudah membacanya, tapi sepertinya anda akan memberi kelanjutan cerita pada setiap tokohnya, karena kupikir cerita itu belum benar benar selesai!” aku mendengarnya, dan sepertinya dia sangat memahami apa yang aku tulis, aku takut kalau dia akan mengerti siapa aku dibalik cerita itu.
“kau membacanya?”
“yah…dan itu sangat menarikku! Rasanya tidak sabar menunggu lanjutan ceritanya! Dan mengira ngira apa yang akan terjadi pada tokoh pria itu?” intonasi suaranya terdengar seperti pisau yang tajam siap menghunusku bila dia tidak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan hatinya.
“tunggu saja, yang jelas aku belum mendapatkan ide untuk kelanjutan ceritanya!”
Dan dia hanya tersenyum,lalu mendekatiku. Otakku berpikir keras, dengan apa yang hendak dia lakukan padaku saat dia mendekatiku. Astaga, aku ingin berlari rasanya, tapi sepertinya kakiku ada yang mengikat di dalam air. Dia tersenyum saat menyadari kekhawatiranku.
“aku menyukaimu Lea! Menyukaimu dalam arti yang sesungguhnya!” dia menatapku tajam, lalu menaruh kedua tangannya dia tas bahuku. Aku terdiam, tapi mataku menyapu semua daratan yang tidak dilihat oleh orang. Maklum saja, aku takut bila ada yang mengawasi, terutama Putriku.
“kau belum,mengenalku!”
“sudah!” jawabnya singkat, dan itu semakin membuatku untuk gemetar disekujur tubuhku.
“kau tidak perlu menjawabku hari ini, kau boleh memikirkanya matang matang, dank au boleh mempertimbangkannya, waktumu tidak terbatas, dan aku snaggup menunggu waktu itu meskipun tanpa batas!”
Aku terdiam, aku sebenarnya mulai menyukainya, tapi aku belum yakin dengan ini, aku harus mempertimbangkannya banyak hala, aku belum ahu latar belakangnya. Ataupun yang lain
“tapi aku janda!”
“aku juga duda!”
“tapi aku punya anak?”
“dia juga akan jadi anakku!”
“berikan aku waktu!”
“tentu!”
Percakapan pribadi kami berhenti, dan aku meninggalkannya. Aku senag saat mendengar pengakuannya, tapi aku juga pusing mencari jawabannya. Aku tahu Maurin pasti akan bahagia,bila aku menikah dengan adam. Pernah aku tanyakan pada putriku, kenapa dia menyukai Adam. Dan kenapa dia memanggil daddy!. Perlahan lahan pertanyaanku terjawab beberapa hari yang lalu. “mommy, aku sering memimpikan daddy, dan wajah daddy persis seperti uncle, dimimpiku, mommy juga memanggilnya daddy” mendengar penjelasannya saat itu, aku nyaris tidak bisa tidur selama dua hari, aku berusaha untuk mengingat dan mencari semua kesamaan dengan mereka. Meskipun aku tahu, daddynya sudah meninggal sebelum dia lahir. Tapi aku juga tidak pernah tahu dengan kondisi jasad Ibrahim saat dia kecelakaan, berita terakhir yang kudengar adalah mertuaku pindah ke swiss unutk melupakan semua kenangan yang membuat mamanya  sering jatuh pingsan. Terlintas di otakku, apakah Ibrahim benar benar sudah meninggal?. Tentu saja sudah bisa jadi belum. Hatiku terus memperdebatkannya.
Sejak adam mengatakan semau isi hatinya, aku kembali untuk lebih lunak padanya, dan semakin memberi kebebasan pada putriku unutk bersamanya. Paman dan bibi selalu mendukungku. Mereka menerima bila aku akan menikah lagi, bahkan mereka akan mencari informasi tentang keluarga Ibrahim, hanya sekedar memberitahu bahwa mantan menantunya akn menikah kembali. Awal mula kupikir kalau berita itu akan menyakiti hati mereka. Tapi ternyata tidak, mami da papi ternyata ikut bahagia mendengar berita itu, meskipun aku belum menceritakan pada mantan mertuaku kalau, mereka memiliki cucu dari anaknya Ibrahim. Sebulan kemudian saat kenaikan sekolah anakku, paman dan bibi mengajakku unutk kembali tinggal di Surabaya setelah sekian tahun, menempati rumah paman yang masih dirawat. Aku setuju dengans aran mereka, asal mereka tidak mengajakku unutk tinggal dirumah yang pernah aku tinggali bersama Ibrahim, rumah itu memang kosong, tapi paman selalu minta orang untuk membersihkan rumah itu seminggu sekali,paman juga mengecek kondisi rumah itu. Adam sangat membantu sat kami mengangkut barang barang yang kami anggap penting, meskipun tidak semuanya, ford ranger-nya siap membawa ku dan maurin serta beberapa barang wajib milik Maurin. Aku merasa semakin merasa dekat dengan ke akraban mereka, bahkan saat sudah berada di Surabaya, Maurin selalu berangkat sekolah bersama Adam, tanpa terkecuali saat Maurin hendak les balet ataupun renang. Aku semakin terharu dan akan merasa bersalah bila aku ingin memutuskan mereka. Tiap malam aku minta pada Tuhan, agar dia memberiku jalan,dan menunjukkan ada apa dengan ini semua, aku memintanya dengan tulus, hingga suatu hari secara pelan semuanya terbuka…. Jelas, meskipun…

Pagi itu aku menonton bersama Maurin dan Adam disebuah bioskop XX1, kami menonton,lalu mengunjungi toko buku, hingga makan malam. Kami makan disebuah restaurant yang kebetulan didalamnya sedang ada acara pesta ulang tahun anak seorang dokter. Aku tidak mengenal anak yang cantik itu. Wajhnya bersih meskipun dia lebih kecil dari Maurin. Seorang pria yang mengenakan celana jins berwarna navy blue dengan kemeja berwarna hitam memanggilny dengan sebutan Ibra! Ibra? Aku tidak salah, dan benar benar itu sangat jelas, setelah aku menoleh kebelakang, aku baru sadar kalau aku juga mengenal pria itu
“hallo lea” tangannya menjabatku, dan mukanya merah meradang
“hallo vistor, senang sekali bisa bertemu dengan sahabat lama”
“kemana saja kamu…. Hei tunggu, siap gadis kecil yang cantik ini! Halo adam!”
“kalian sudah kenal? Tanyaku penuh selidik. Adam seperti memberi kode pada Victor, sedangkan Victor pura pura saja sibuk merayu Maurin unutk bergabung di acara pesta putrinya Maia.
“join with us sweaty, enjoy your both guys! Aku culik anak kalian ya, bergabung dipetanya Maia!”
“mom…boleh ya?”
“tentu sayang!” aku membiarkannya bergabung pesta dan memberinya topi dan topeng pesta ala mickey mouse “adam kenapa kau tidak mengatakan kalau disini ada pesta?”
“mana aku tahu Lea?” gerutunya sedikit emosi. “lagi pula kalau tahu disini ada pesta tentunya aku tidak mengajak kalian dating, bila kau keberatan seperti ini!”
“oh…sorry aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu!” jawabku.
Akhire malam itu menyisakan aku tanda Tanya yang cukup besar, aku belum punya pertanyaan yang cocok tentang panggilan Victor, dan Victorpu buru buru meninggalkan kami, sepertinya dia berusaha menghindariku setelah mengenalkan keluarganya. Sejak kejadia itu, Adam banyak diam. Entak apa itu hanya kebeutlan saja. Tapi sering juga aku melihat adam sedange mengobrol bertiga di ruangan khusus bersama paman dan bibi. Merekapuns egera mengganti topic pembicaraan mereka dengan topic umum bila aku mendadak memasuki ruang pembicaraan mereka. Aku semakin tandatanya dari hari kehari, dan ketika di bandara, kami menjemput mantan mertuaku yang sudah mengetahui bahwa Maurin adalah darah keturunannya, maka hubungan kami kembali terjalin akrab, untuk beberapa hari aku menawarkan agar mereka menempati rumah yang dulu aku tempat bersama Ibrahim, dan mereka menerima dengan senang. Mama memberiku beberapa kebutuhan wanita yang sangat menunjang penamplan mulai dari perhiasan, pakaian, tas, sepatu milik rumah mode Prada. Bahkan Maurin mendapat mantel yang cantik satu setel dengan sepatu dan topinya. Mami amsih menganggapku sebagai menantu sepertinya. Dan masih kuingat jelas, saat dibandara. Mama dan papa juga memeluk Adam secara erat seperti keluarga sama seperti ketika memeluk tubuhku, dan Maurin. Tentu saja dalam kasus ini aku tidak berani membiacrakan dengan siapapun bahkan pmana dan bibi ku, aku merasa ada yang mereka sembunyikan dariku. Beberapa hari kemudian ketika aku tidak kunjung menemukan jawabannya aku mencoba menemui Victor dirumah sakit miliknya, disana dia snagat terkejut ketika menemuiku, yang seblumnya aku sempat mengatakan pada secretarisnya bahwa aku adalah Ny Imelda Darmawan. Wanita itu diseberi pesan agar dia mengizinkan aku unutk menunggunya di ruang meeting para dokter. Dan ketika dia menyambangiku, wajhnya cukup terkejut, warna merahnya sama persis ketika kami bertemu direstaurant malam itu saat aku bersama Adam dan Maurin.
“Lea…?”
“hallo Victor, maaf mengejutkanmu, sepertinya kau tidak menduga ya! Kalau Ny Imelda adalah aku!”
“oohhh..biasa saja! Kenap juga kau harus berbohong, aku tetap akan menemuimu bila kau menegnakan nama Lea, bagaimana mungkin aku harus melewatkan waktu mengobrol dengan seorang Novelis!”
“please Victor, tell me about him?”
“apa maksudmu?”
“victor kuarasa kau tahu tentang semua, kaian bersahabat bukan. Please katakana yang sebenarnya padaku!” aku memohon agar diarinya mau mengatakan yang sesungguhnya. Aku snagat mengharapkan semua bisa terungkap dengan jelas.
“Lea, aku sudah bersumpah!”
“Victor apa kau tetap akan bersumpah bila kau mengetahu kebohongan, dan bersumpah membawa kebohongan itu samapai keliang kuburmu, please Victor, gadis cantik Itu adalah anaknya!” aku mengharap victor unutk menceritakan yang sesungguhnya, air mataku menetes. Mataku penuh membayangkan wajah Maurin.
“baiklah Lea, jagalah semua yang aku ceritakan hari ini, Karena aku tidak akan menutupi satu kejadianpun darimu. Berjanjilah kau tidak akan menceritakan pada seorangpun. Dan mengatakan kalau aku yang menceritakannya”
“ya… tentu!”
“semoga kau masih ingat bahwa Ibrahim saat mencintaimu, semua yang dia alami sellau diceritakan padaku, terutama pada saat kau melihat kebersamaanya dengan Niluh. Kau benar apa yang kau lihat memang benar ketik adia mencium wanita itu, tapi sungguh itu hanya naluri prianya yang tidak dalam pengawasan imannnya. Katan kalau itu hanyalah iklan. Dan perlu aku tekankan di awal bahwa Ibrahim cukup menyesal dengan api kecil malam itu. Niluh terus mendatanginya, dna membuatnya lelah untuk menolak. Hingga dia putuskan unutk menegtahu apa maksud gadis itu sebenarnya. Dan kau datang persis saat mereka sedang berciuman. Jadi kumohon Lea jangan kau putuskan penjelsanku sebelum aku bebnarbenar selesai menjelasakna banyak hal”
Aku berhenti untuk berusaha memotong penjelasannya, dan kami diam sesaat ketika ada seorang office boy yang masuk untuk sekedar mengantarkan secangikir teh dan sepiring kue sacher kesuakaanku.
“dia mencoba unutk menjelaskan semuanya padamu, tapi kau tidak mau lagi mentolerir semuanya, hingga kau mendaftarkannya pada kantor agama unutk menggugat cerai, dia benar benar frustasi saat itu, dia mencoba menjalani mediasi pernikahan dengan banyak hal, hanya saja kau selalu menolak bila diajak mediasi. Hingga benar benar hakim memutuskan tali perkawinan kalian. Seja malam itu dia selalu mabuk mabukan di bar, bahkan dari bar ke bar, suka meninggalkan jam kantor, maupun terlambat. Bahkan dia pernah tanpa sengaja membunuh pasien, yang sedang sekarat, beruntunglah pasien itu adalah seorang residivis yang sekarat karena peluru sipir penjara. Dan kami merahasiakannya dari labfor kepolisian. Kegalana yang membuatnya stress menjadikannya seorang pemabok yang hebat  dan buruk dalam berkendara. Malam itu dia tida mengajak salah satu dari kami untuk bepergian. Ya hingga kami dapat berita saat situs detik dot com melaporkan tentang kecelakaan tunggal didepan sebuah mall tepatnya disebelah trotoar yang mendekati traffic light. Kau tahu, prihatin bila kau melihatnya. Dia sama sekali tidak sadarkan diri, jantungnya sangat lemah dan terus melemah, wajahnya rusak, dia bermandikan darah, kebetulan saat itu dokter professor sedang tidak di Indonesia, dan saat mendengar kabar anak kesayangannya sekarat, dia meminta agar pihak rumah sakit segera mengirimnya ke swiss, dan sepertinya mama mertuamu juga mengalami tekanan darah tinggi dan kenaikan gula darah. Maka kami team medis mengirimnya ke swiss, dimana Profesor Lutner bertugas. Disana Ibrahim masih tidak sadarkan diri selama satu bulan. Mertuamu nyaris gila, aku tidak tahu kenapa mereka menginginkan berita kematian tentang anaknya untuk disampaikan pada keluargamu. Aku terus mengawasimu dan beberapa orang yang kusewa untk mengawasimu, semua kulakukan karena aku sangat prihatin terhadap sahabatku. Aku kecewa dengan keputusanmu, bahkan aku bertambah kecewa ketika kau menyembunyikan kehamilanmu pada kami. Setahun kemudian ketika bayimu berumur lima bulan, paman dan bibimu memberikan foto anakmu pada mertuamu, bersyukurlah Ibrahim saat itu yang masih belum sembuh secara total, dia bisa lekas pulih ketika mendengar bahwa Maurin adalah anak kalian, darah kalian. Dia senang karena nama keluarga Ibrahim masih kau satukan dalam nama anakmu. Sejak itu, Ibrahim yang menolak untuk operasi wajah, diapun segera melakukan dan menerima tawaran professor Lutner. Sayangnya dia menginginkan wajah orang lain. Lea, percayalah cintanya padamu tak perlu kau ragukan lagi, dan untuk dompetmu yang jatuh itu benar benar di luar naskah drama kami. Dan itu kejadian yang memberikan dampak Positif antara kalian yang terjalain alami. Bukan main gembiranya saat dia menemukan dompetmu, tubuhnya gemetars aat bertemu denganku siang itu, dia sendiri sebelumnya belum siap unutk bertemu dengan kalian walaupun dia sangat merindukan kalian. Dia tidak siap bila kau tahu dan lantas menolaknya.”
“aku paham!” jawbaku singkat. Aku tidak memikirkan hal terburuk menimpa Ibrahim karena ke egoisanku.
“please Lea!” dia mengkhawatirkan kebisuanku,
“dia mencintaimu Lea, sangat!”
“terimakasih untuk penjelasanmu!”
“lea…lea…lea…!”
Aku terus berlari keluar dan mengusap air mataku, aku tidak memperdulikannya, aku menyetir mobil dengan kencnag. Aku tidak habis pikir bila sudah selama ini mereka semua berbagi cerita dibelakangnku. Aku bingung apakah aku harus marah ataukah aku harus menerima semuanya. Apa akibanya bila aku kembalai dengan ke egoisanku. Bila itu kulakukan maka bukan Hanya Adam ataupun Ibrahim yang sakit hai, tapi putriku pasinya akan kecewa dan sangat membenciku. Aku menyakan bibi kemana Maurin pergi bersama Adam, bibi hanya menjawab bahwa dia sedang mengunjungi rumah lama kami. Rasa kecewa karena kebohongan yang terlalu lama membuatku muak membayangkan pertemuan dengan mereka semua. Tapi bagaimana Maurin bila tidak memihakku. Sebagian hati kecilku memintaku untuk melupakan kejadian itu, tapi sebagian hati kecil yang lain mengatakan aku menuntut penjelasan Ibrahim.
Mama dan papa menyapa kedatanganku, dan aku harus pura pura senyum. Aku menangis , aku tak bisa marah pada mereka, rasa sayang dan rinduku mengalahkan amarahku.
“kenapa mama membohongiku?”
“Lea sayang, maafkan kami semua, tapi kami menyangi kalian dan tidak bisa emilih antara kalian?” jawab papa
“kau pasti mendapatkan info in dari Victor! Tenangkan hatimu sayang, mama dan papa akan melakukan apapaun unutk menebus rasa bersalah kami selama ini”
Mereka memelukku, aku menangis dengan puas.
“mama aku menyanyangi kalian, papa!”
Mereka hanya mengangguk, “me too dear!”. Mama mengantarku kesbuah kamar di lantai atas, tempat dimana aku dan Ibrahim beristirahat. Ini adalah waktu pertama kali aku mengunjungi rumah ini sejak aku bercerai dengannya. Mama menuntutku pelan melintasi setiap anak tangga, semua masih menyelipkan kennagan ditiap sudut ruang, semua dinding seolah olah menanti kedatanganku. Menuggu waktu tepat untuk menyapa kebersamaan kami. Aku tidak kuat menahan sesak nafas, aku seperti kekurangan oksigen. Mama meninggalkan aku seorang diri setelah kami sampai di lantai atas. Mama memintaku maju beberapa langkah menemui mereka. Kulangkahkan kakiku pelan, aku tidak mendengar sama sekali teriakan mereka, obrolan mereka, ataupun keributan yang lain yang biasa mereka lakukan berdua. Setlah aku berdiri persis didepan kamarku, aku mencoba mengetuk pelan pintu yang sedikit terbuka. Kubuka daun pintu itu lebar lebar, astaga,pemandangan ini tak pernah kulihat. Mereka berdua tertidur sambil berpelukan, dengan tv yang masih menyala, aku memang mencintai mereka, aku mencintaimu sayang, aku masih mencintaimu, itulah alasanku kenapa aku tidak pernah mau menikah lagi dengan pria manapun. Aku tahu kalau kau suamiku,meskipun keraguan selalu menyelimutiku. Sungguh aku sudah memafkanmu, hanya saja aku enggan mengakuinya, aku enggan merendahkan diriku dihadapan kalian. Maafkan aku …maafkan aku sayang. Aku masuk ke bilik kamar lebih dalam, kumatikan televise, kuamati wajah mereka, Maurin tertidur dengan nyamannya dalam pelukan ayahnya. Dan Ibra juga tertidur dengan bahagianya bersama Maurin. Oh tuhan aku tidak mau menyakiti hati mereka,meskipun hatiku pernah dia sakiti. Aku memandangi terus lebih lama lukisan wajah mereka, aku mengambil ponselku. Lalu mengambil gambar wajah mereka hingga sepuluh kali gambar. Aku duduk menunggu mereka bangun, terdiam duduk  manis diatas kursi yang persis berada dibawah jendela. Setengah jam sudah aku menunggunya bangun. Dan ketika dia menyadari keberadaanku, matanyapun terbuka dengan lebar, tapi dia sepertinya sudah pasrah hendak mengakui sesuatu yang sudah dia lakukan selama ini. Tanganya yang tertindih oleh kepala Maurin, dipindahkannya pelan pelan. Lalu dia berdiri lantas mendekatiku. Matanya yang sayu menatap mataku yang penuh dengan air mata. Aku mengulurkan tanganku, dan dia menyambutku
“ I’m so sorry sweatheart!” tangannya memegang lututku yang bergetar, kami hanya berpandangan. Ingin sekali aku dipeluknya, aku tidak cukup sabar mennati pelukan itu. Tapi aku gengsi bila harus memeluainya terlebih dahulu. Air mata ini tidak sanggup lagi kutahan, kubiarkan saja dia bercucuran. Bibirnya yang terkatup mulai terbuka, wajhnya yang menunduk mulai menengadah, tajam menatap wajahku. Yah…. Disana masih ada tempat untukku, dia masih mencintaiku.
“why did you come here?” tanyaku terbata bata
“to find you dear!”
“how long”
“you never know how long I’m waiting for you, I love you sweat heart. I love you… I miss you!”
“I miss you so much darling!”
“married me!”
Kata kata itu membuatku membelalakkan mata, jantung seperti berhenti berdetak, hingga aku merasa kehabisan aliran oksigen pada otakku. Membuatku susah untuk berfikir
“kamu masih marah?” dia bertanya dan aku hanya menggeleng saja.
“so?...merried me! Please, I love you Lea. She’s need daddy!” mata kami saling berpandangan lalu kami sama sama menatap gadis cantik yang tertidur diatas ranjang yag bertirai. Kami mencintainya, gadis itu membutuhkan hubungan baik kami seperti dulu.
“merried me Lea! I still love you, aku sekarat tanpamu, dan aku akan lebih sekarat lagi melihat dia terbaring sakit memikirkan hubungan kita!” air mataku masih saja bercucuran, hatiku menginginkan dia kembali disisiku seperti dulu.
“it’s time of our new lives Lea, brand new day for us, you, me and her…!”kami kembali menatap Maurin, aku terdiam seribu bahasa. Aku menatapnya balik, seperti anak panah yang akan lepas dari busurnya. Kuperas otokku untuk berpikir sekeras mungkin
“just married me Lea! Please! For her, apapun syaratnya aku akan bersedia demi keutuhan kita. Please Lea”
Sakit sekali mendengarnya terus meminta, aku mencintainya, aku tahu aku juga mengharapkannya. Apa aku masih perlu untuk bersikap keras kepala. Tidak….tidak perlu…aku tidak perlu gengsi untuk semua ini, sangat tidak dibutuhkan kata kata gengsi saat ini teriakku dalam hati. Aku masih mendengar kalimat ulangan yang muncul dari mulutnya. Hatiku meleleh, hatiku tidak lagi membatu. Kuhiasi wajahku dengan senyuman manis yang kumiliki. Senyuman ini lama sekali tidak aku berikan kepada siapapun.
“married me!” saat dia mengulangnya kembali, aku menganggukkan kepala.
“thank you, thank you that very kinds of you!” kami tersenyum, lalu berpelukan..erat…sangat erat..erat sekali. “I miss you…I miss you so bad. Be still for me like this dear!” unutk pertama kalinya setelah sekian tahun, rasanya seperti mimpi ketemu malaikat. Rasa benciku terhapus dengan kebahagian yang sungguh luar biasa. Aku bisa meangis puas tanpa tertahan. Aku seperti rela mati tertembus sebuah bom ataupun granat untuk melindunginya lagi. Aku memeluknya erat, mencium cuping telinganya. “we have been inseperable emotions! Sorry….forgime me” aku mengucapkannya dengan tulus, karena aku sepertinya ikut andil dengan ini semua. Karena ke egoisanku, Maurin kehilangan figure ayah. Dan karena ke egoisanku, orang yang kucintai mengalami kecelakaan. “Ibra….. did you still love me?” dia tertawa mendengarkan pertanyaanku,lalu dia tersenyum. “apakah selama ini kau masih ragu?” aku malu saat mendengarnya. Pipiku merah dan tersenyum kembali erat memelukku. “pastinya kau sudah tau jawabanku, karena pipimu sudah memerah!”.
Siang itu adalah hari yang paling hebat seumur hidupku, rasa bahagia ku melebihi rasa bahagia saat menerima kontrak kerja dengan penerbit buku, ataupun saat menerima uang royalty. Dan unttuk pertama kalinya, kami tidur bertiga, tentunya setelah Ibrahim menggendongku dan meletakkanku di ranjang tempat Maurin tertidur pulas. Kami berdua berbagi cinta dan memeluk anak gadis kami. Ya Tuhan rasanya nikmat yang kau berikan ini sangat luar biasa. Maurin tidur di tengah kebahagian kami, lalu terbangun saat mendengar percakapan kami. Wajahnya yang cantik mengukir senyum yang indah. Wajahnya menampilkan bentuk kebahagian yang luar biasa.
“mommy…! Daddy…!” suara itu terdengar seperti nyanyian burung pipit yang bersiul dipagi hari.
“Maurin secantik dirimu Lea, wajah kalian mirip sekali, terimakasih kau sudah menjaganya untukku selama ini” kalimat itu membuat hatiku tersayat, tapi aku bahagia. Aku menyesal telah melakukan ini semua begitu lama.
“terimakasih,…..!” tidak ada kalimat lagi yang bisa kuucapkan saat ini. “apa kau akan melamarku!” tanyaku penasaran dengan mengusap air mata.
“kau menangis mom?”
“tidak sangat, mommy bahagia! Daddy akan membuatkan kita berdua pesta!”
“boleh aku memakai baju Cinderella-ku mom?”
“sure baby!”
Ibrahim tersenyum,mengusap air mataku dengan tangannya yang hangat. Kata I love you terucap dari bibirnya tanpa bersuara. Maurin menindih perutnya,lalu menciumnya habis habisan. Teriakan bahagia kami terdengar samapi dilantai bawah, semuanya terdengar kencang dan keras, mertuaku sepertinya senang dengan kekompakan kami bertiga. Siang itu adalah waktu yang benar benar super fantastis untuk kami.

Keesokan harinya, kami bertiga berbelanja semua kebutuhan pernikahan kami yang kedua, semuanya…semua…Hanya Maurin yang paling banyak ambil andil untuk semuanya. Dari A sampai Z, dia yang menentukan pilihan kami. Ibrahim terkesan dengan semuanya, dia senang melihat pertumbuhan Maurin. Maurin tumbu dengan kepercayaan diri yang sempurna, wajah yang mengegmaskan, rambut yang indah, sopan santunnya luar biasa, meskipun dia sangat manja, tapi dia cukup fashionable untuk ukuran anak gadis umur tujuh tahunan. Lima hari kemudian, Aku dan Ibrahim melangsungkan upacara pernikahan kami dengan sangat sederhana disebuah masjid agung terbesar dikota kami. Semua keluarga besar kami berkumpul, begitu juga para kolega kami. Aku merasa diselimuti kebahagian yang sungguh sangat luar bisa sekali. Semua mengesankan. Ada empat kalimat yang melekat dala otakku. Pertama Ibrahim masih hidup, dia adalah adam dan adam adalah Ibrahim. Kedua yang akutahu adalah kami masih sangat saling mencintai, kami saling merasakan penderitaan sepanjang perpisahan kami. Ketiga Maurin sangat bahagia dan benar benar bahagia dengan adanya Ibrahim disisinya. Ke empat yang sudah aku pastikan adalah, bahwa aku jatuh cinta pada diri Ibrahim, bukan Adam. Bagiku cinta adalah bahasa pemersatu. Tuhan terimakasih unutk semua yang sudah kau takdirkan dalam hidup kami….amien
Previous Post Next Post

نموذج الاتصال