Sebuah Syal

 

Duduk di bangku kelas dua SMU membuatku harus lebih matang menentukan pilihan jurusan untuk kelas tigaku nanti, apakah ilmu pasti, ilmu social atau ilmu bahasa. Semua murid harus punya pilihan jurusan sesuai dengan kemapuan atau keinginan. Nantinya, pihak sekolah akan mengikutkan semua murid kelas dua untuk mengikuti psikotest penentuan jurusan. Tapi itu masih lama. Masih satu semester lagi. Yang pasti aku akan memilih jurusan bahasa apapun hasil psikotestku. Siang ini sangat membuat aku bosan mendengarkan guru bahasa Indonesia-ku. Hampir semua siswa dikelas ini tidak menyukainya. Maklum saja gayanya tidak
patut disebut seorang guru. Bagaimana tidak, cara dia berpakaian, terlalu berlebihan, bicara-nya kurang santun untuk ukuran seorang guru kelas bahasa. Semoga aku tidak bertemu guru gila ini di kelas jurusanku tahun depan. Dia suka sekali menggoda siswi yang dinilainya cukup menarik, entah dari segi wajah maupun fisik. Dan itu membuatku risih, suka sekali dia mencuri pandang beberapa siswi, ada saja tugas aneh yang dia berikan pada kami, tiada hari tanpa tugas pekerjaan rumah. Terlalu suka teori, itu yang semakin membuat kita muak. Kami harus menahan rasa jengkel kami selama jam pelajaran miliknya berlangsung, bahkan jam akan selalu terasa lama bila dia yang mengajar. Gaya rambutnya selalu kelihatan mengkilat ala model supermen di film film, rambut di sekitar jidatnya dibentuk menyerupai huruf  ‘S’. rambutnya tidak pernah rusak oleh tiupan angin, kira kira hanya angin topan saja yang bisa merusak modelnya. Kebiasaan yang aku benci lagi adalah, dia selalu menyisir rambutnya dahulu didepan pintu kelas ketika akan masuk kelas. Tidak lupa lagi dua semprot parfum yang biasa dia kantongi di saku celana. kami punya julukan buat dia, ‘nunu’ …..hahahhaha. semua kelas sudah akrab dengan julukan yang kami berikan untuknya. Hahahhaha selalu akan ada yang tertawa lepas bila kamu menyebut julukannya. Sepak terjangnya sudah terkenal luas, bahkan ada beberapa guru senior yang kita jadikan tempat curhat. Bu Asri hanya bilang “aduh,….maklum saja ya dia kan masih muda siapa tahu dia cari kekasih hati” semua murid yang mendengar malah tertawa lebih lantang lagi dari yang sudah sudah. “gila apa mau sama dia bu! Richard saja masih tampan!” kata salah satu siswi yang tampaknya ngefans dengan Richard anak ibu yayasan sekolah.semuanya saling berebut suara, begitu juga dengan anak laki laki, semua pada eneg lihat gayanya yang sok keren saat mengajar. Sayangnya kami tidak bisa meminta guru pengganti selain dia, wali kelas kami tidak mengizinkan adanya pergantian guru di mata pelajaran apapun. Hari ini kami ada jam pelajarannya selama dua jam di jam pelajaran terakhir. Setengah jam lagi pelajaran seni musik akan berakhir, maka jam berikutnya kami akan bertemu Nunu. Aku dan empat orangku berpindah dikursi yang paling belakang dan pojok dekat jendela kelas, Pak Rudi guru seni musik sudah tahu tentang alasan kami berpindah tempat, dia hanya tersenyum saat melirik kami berebut kursi yang paling pojok. Kami tidak perlu sungkan padanya. Beberapa siswa yang lain ada juga yang berpindah tempat seperti kami, yah walaupun tidak se extrim kami. Suasana kelas sedikit menjadi gaduh karena anak anak yang mulai berebut kursi di lima belas menit terakhir jam pelajaran seni. “kalian ini, ramai sekali sih, jangan lupa ya tugas musiknya saya minta minggu depan, jangan ada yang tidak mengumpulkan!” serunya sambil memukulka penghapus kayu di papan tulis untuk meminta perhatian dari muridnya. Semua kelas menjawab”yaaaaa…..pak! siap” bersamaan, aku tidak terlalu mendengar jelas apa pesan Pak Rudi, tapi yang aku tahu, memang ada tugas untuk minggu depan. Aku , cory, andiena dan evy berebut kursi hingga aku hamper saja tersungkur di atas meja”sial!” teriakku, dan mereka hanya tertawa “syukurin!”kata Roni yang sudah siap di bangku sebelahku. Aku hanya mencibirnya. Dari arah pintu masuk kelas , Rendra berteriak tanpa suara, hanya penggaris kayu besar yang dia pukulkan pada meja guru yang kosong “si nunu lagi perjalanan dari kelas 2.3” kita semua diam sesaat,lalu menutup pintu kelas dengan sengaja. Kami hanya ingin membuatnya sedikit mengulur waktu, pasti dia akan berfikir kalau kelas kami belum kosong dan amsih ada maa pelajaran lain yang menyita jam pelajarannya. Semua siswa kompak terlihat sibuk agar nunu menganggap kami masih ada guru yang memberikan pelajaran, dua kali sudah dari arah pintu dia berbalik menuju ruang guru, beberap anak yang melihat kelakuannya langsung tertawa mengundang pertanyaan bagi siswa yang lain. Sehingga kita kembali tertawa keras bersama hingga perut terasa sakit karena tidak kuat menahan perut yang kram. “husssh!” Dini memasang jarinya didepan mulut “nunu datang,…sshhh!” semuanya langsung diam. Dan ketika dia masuk , mukanya seperti habis ditekuk tekuk, sepertinya dia kesal karena  siswanya yang kurang ajar, setumpuk buku ditaruhnya diatas meja dengan setengah dibanting bruukk “buka lembar kerja siswa halaman 89! Kerjakan tanpa suara!” perintahnya, dan tidak ada yang berani berceloteh, matanya mulai menebar pandangan ke seluruh ruangan. Kini giliran matanay menatap tiap siswa yang duduk di pojok kelas itu berarti aku yang duduk di ujung sebelah kiri dan Prio ada disebelahpojok kanan belakang. “kalian tahu, biasanya siswa putri tidak suka duduk disudut tembok paling belakang!” kedengarannya dia menyindirku, tapi aku pura pura tidak mendengarnya. Andina yang duduk disebelahku menginjak kakiku, dan membuatku meringis kesakitan. “ya Dev!” katanya, tapi aku pura pura konsentrasi dengan bukuku.”persetan”kataku pelan pada teman sebangkuku. Dia memutar tiap sudut ruangan,hingga sudut yang aku tempati. “apa sudah selesai tugas proposalmu?” dia menatapku, seperti orang yang hendak mau marah, karena aku tahu dia marah maka aku pura pura berkata sedikit manja padanya”emmm,sudah pak. Ini ?”kucari proposal tersebut, siap kuserahku untuk jadi tugas kerja kelompok. “okeee,!”jawabnya sambil tersenyum. “wah kamu hebat, bisa membuatnya lembek!” kata visa temanku.”sial!”jawabku dengan nada setengah jijik membayangkan guru sialan itu. Dia kembali ke tempat duduknya setelah mengambil semua tugas kelompok di meja siswa yang sudah dia tunjuk. “tolong kerjakan tugas halaman 89 sampai selesai ya “kalian jangan ramai karena saya lagi ada siswa di ruang guru, kerjakan sampai selesai, saya minta hari ini!” jelasnya sebelum meninggalkan kelas. Wah jelas, kami semua senang, tugas bukan masalah bagi kami, yang menjadi masalah adalah guru itu sendiri. “ayo buruan,nanti kita tidak bisa pulang lagi!” kata cory, evy dan andina serius sekali mengerjakan, nyaris bekerja tanpa suara. Maklum saja lembar kerja ini penuh dengan pemahaman cerita dan beberapa rangkuman untuk membentuk karangan synopsis. “heh…ayo kerjakan, jangan nglamun nunu!” kata Roni. “setan!” jawabku. Andina langsung melihat tugask setelah dia menyadari lembar kerjaku sudah terisi semua. “hehhhh,….selesai gak ngomong ngomong!” kata Andina teman sebangkuku, langsung saja lima orang nimbrung lihat lembar kerjaku. “dapat jawaban darimana!” kata Cory , aku tersenyum sambil menjentikkan jariku dengan urutan 2.3 “saudaramu ya!” katanya dan aku mengangguk membenarkan jawabannya. Karena aku sudah tidak ada lagi kerjaan, aku hanay memeperhatikan beberapa siswa yang lalu lalang lewat depan kelasku, siapa saja yang lewat aku amati. Ada saja yang menarik buat aku dari penampilan mereka. Kalau ada cowok tampan aku pasti langsung bersiul, dan ketika cowok itu mencariku, maka akupun langsung menundukkan kepalaku dibawah jendela kelas. Agar tidak terlihat. Kebiasaanku ini berkelanjutan setiap ada jam kosong aku pasti pindah bangku dengan teman sebangkuku. Hingga satu kelas pada hafal dengan kebiasaan kami. Dan bila ada yang menduduki bangku itu, kami suka marah marah mengusir mereka. Sok kuasa! Tapi tidak bukan itu yang terjadi, hanya saja aku benar benar tidak suka tempat lain bil ada pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan Nunu, aku tidak suka kelakuannya yang sok keren, mempromosikan diri sendiri sebagai guru yang tampan dan punya intelektualitas, sok romantis gak jelas. Risih sekali.hari ini, besok dan hari hari berikutnya, masih sama seperti biasa, hingga ada perubahan kecil ketika aku menggoda anak cowok yang aku tidak tahu apa warna celana yang dia kenakan. Biru muda untuk SMA, biru tua untuk SMP, merah untuk SD. Ketika melihat anak tampan, yang sepertinya keren kami sepakat untuk menggodanya dengan panggilan cowok..cowok ganteng deh kamu. Anak itu menoleh padaku yang tertangkap basah bersiul saat dia lewat. Dia berhenti persis didepan jendela kacaku. Kami amati wajahnya lumayan tampan, rapi, dan keren itu yang jelas, penampilannya selalu tampak mencolok dibanding temannya. Kami pikir dia siswa baru yang baru saja mengikuti aktifitas sekolah, karena wajahnya belum kami kenal. “tampan ya!”kataku pada Andiena “keren bokk gayanya!”. Tapi anak itu benar benar kelihatan lebih muda dari kami, mungkin dia adik kelas. Hari berikutnya setiap hari senin dan kamis dia selalu berasa di ruang laboratorium  kimia. Dan kebetulan jam pratikumnya selalu bersamaan jam bahasa kami dengan nunu, sehinga ada waktu khusus unutk menggodanya. Wah dia memang keren sekali, tapi setelah kami tahu kalau dia anak kelas enam SD baru kami tertawa terbahak bahak, hamper sebagian kelas menggoda kami karena sudah menjaili anak kecil. Astaga aku kaget saat temanku ada yang memberitahu dia anak kelas enam. Maklum saja, kami tidak pernah bisa melihat warna celana yang dia kenakan. Yang kami tahu hanya warna seragam kemejanya saja. Malu rasanya. Tapi bukan masalah, itu juga termasuk hiburan kami.

Sebulan kemudian ketika aku dan beberapa orang temanku  beristirahat di kantin dia menatapi kami satu persatu, seperti hendak mau menghafal nama kami masing masing. Aku tidak terlalu memikirkan itu, tapi ketika andina “sepertinya ada orang yang diperhatikan, anak itu!” aku mencoba mengamatinya, tapi seprtinya aku tidak melihat pandangan dengan obyek yang sama, yang aku tahu hanyalah sekumpulan anak sekolah dasar yang mengobrol dan bergerombol menunggu kelas kosong. Aku diam dan tak lagi memperhatikan. Dua menit kemudian bel jam istirahat usai, kami berjalan meninggalkan kantins ekolah menuju kelas, anak lelaki itu menununggu kami persis didepan teras kelas, gayanya yang keren membuat kami tertawa, kami tak lagi suka menggodanya, maklum saja kami tidak lagi tertarik dengannya setelah mengetahui usianya. Satu persatu temanku berebut masuk, hanya aku dan Cory juga Andina berjalan santai, tidak ada lagi siswa dibelakang kami, hingga kamipun tidak terlalu meributkan siapa yang dia tunggu, dan ketika andina mendahului aku masuk, Tangannya menarik tanganku, Cory menoleh ke arahku dengan wajah serius, sedangkan andina kembali keluar bersama Evi menemui kami. Aku terhalang masuk oleh tangannya, aku tersenyum kebingungan dengan apa yang dia mau. Dia tersenyum manis…bahkan sangat manis, kulitnya yang putih bersih,bibirnya yang merah dan pipinya yang merona seperti bayi yang baru lahir. Aku mencoba menangkis tangannya, tapi susah. Dia kuat memegang pergelangan tanganku, Cory hanya memperhatikan kami. Kini anak lelaki itu berdiri persis didepanku, tinggi kami hampir sama, meskipun dia masih kelas enam dan aku SMU kelas dua.
“kau salah kelas?” tanyaku serius, menyudahi senyumku,
“namaku ilmi! Kamu siapa?”
“devi! Sepertinya aku harus masuk ilmi, lain waktu kita sambung!”
“aku tunggu!” secepat langkah, dia menghilang dariku, aku dan Cory hanya saling memandang lalu tertawa kecil. Kulihat dia mulai masuk ke kelas computernya.
Itulah hari pertama kami mengobrol, matanya tajam sekali saat mengajak bicara, dia seperti seorang anak kelas enam secara fisik, tapi menurutku dia jauh lebih dewasa dan matang. Saat jam kelasku usai, dia menunggu kami didepan pagar sekolah, aku mencoba mangkir dari janjiku, aku menghindarinya. Aku melewati pintu keluar dari gerbang sekolah yang berbeda, aku malas unutk melanjutkan obrolan dengan anak kecil. Tapi keesokan harinya dia kembali menghadangku didepan pintu pagar masuk. Dia rapi sekali, tentu saja baunya harum dan segar karena masih pagi, jadi belum ada aktifitas yang membuatnya berkeringat.
“aku menunggumu kemarin” sapanya sedikit murung, aku pura pura sedih
“maaf aku lupa, kupikir kamu tidak serius menungguku!”
“aku sudah berjanji padamu kemarin, aku pasti akan menepatinya!” kami berjalan beriringan, semakin langkah aku percepat, maka diapun akan mengimbangi kecepatan langkahku.
“aku mau masuk dulu ya!” dia tersenyum ketika aku menjumpai guru Fisika ku. Dan dia hanya melambaikan tangannya padaku. Ketika aku masuk semua kelas sudah apada ramai membicarakan aku dengannya. Sebagian tertawa kecil, sebagian lagi bersorak, apa maksudnya mereka aku tidak tahu. Hingga akhirnya Evi menjelaskan kalau  saat aku berjalan dengan Ilmi,mreka mengamati keseriusan anak lelaki itu. “astaga kalian terlalu!” jawabku keras, tapi justru itu semakin mengundang tawa dan membuatku meringis.  Hari hari berikutnya dia suka membuntuti aku, tapi aku pura pura tidak menyadari keberadaanya. Aku suka sekali beristirahat di ruang perpustakaan, bukan berarti aku seorang kutu buku. Aku hanya gemar membaca, beberapa koleksi novel ataupun synopsis dari beberapa roman dari luar negeri maupun koleksi satrawan Indonesia. Ada beberapa koleksi buku yang sangat menjadi favoritku, selama aku bersekolah di  SRIWIJAYA aku sudah meminjam koleksi novel Marga T Karmila sebanyak dua belas kali. Dan cerita itu belum juga membuatku puas. Suatu hari ketika perpustakaan tidak terlalu banyak pengunjung, aku emilih duduk di ruangan yang paling dalam dibelakang rak yang tersususn koleksi ensiklopedia tentang ilmu prasejarah dan sejarah perang dunia. Seseorang dari arah belakangku, menepuk bahuku dengan pelan, lalu menggeser sebuah kursi disebelahku, dan saat aku mengamati wajahnya, dia sudah siap dengan senyum manisnya. “mau apa kamu kesini, bukannya perpustakaan kelasmu ada di ujung barat!” tanyaku padanya, aku mulai heran dengan tingkah lakuknya. “aku bosan, kau tidak keberatan kan Dev, kalau aku kesini. Toh ibu penjaga perpustakaan tidak melarangku masuk!” katanya tanpa memperhatikan wajahku. Satu buku ensiklopedia dasar berbahas jepang dibukanya. Aku hanya tersenyum. “aku bisa membacanya? Kau ragu!” dia menangkap keherannku. Aku sungguh tidak sedang memikirkan hal itu. “budaya jepang snagat menarik, turki juga sangat menarik!” lanjutnya sambil membaca beberapa kalimat yang kurasa itu penucapan dalam bentuk bahasa jepang. Kami diam beberapa lama, kami sibuk membaca urutan kalimat yang tersususn dalam bacaan kami. Mungkin karena aku berkonsentrasi dengan bukuku maka diapun tidak menggangguku. Setengah jam kemudian, bunyi bele memanggilku untuk kembali ke kelas. “aku duluan ilmi!” sapaku, kuambil buku ku, saat itu dia menarik buku yang hendak aku kembalikan di susunan raknya. “biar aku saja yang mengembalikannya?” matanya tajam menatapku, dan aku hanya tersenyum, mendadak senyumnya mulai menyusut, saat melihatku meninggalkannya. Aku tidak perduli akan hal itu. Tingkah lakunya semakin lama semakin aneh, tapi aku tidak berani menebaknya, beberap waktu kemudian, saat aku pulang bersama seorang teman priaku dia mendadak bertingkah aneh, dan saat kami bertemu di lapangan basket dia “kau punya pacar, aku kecewa!” dia mnegatakan itu saja lalu pergi meninggalkan aku, aku dan beberapa temanku saling memandang lalau tertawa sekeras mungkin saat Ilmi sudah kami pastikan keluar dari lapangan basket. “sepertinya dia suka dev, sama kamu!” kata Nova, Roni dan Heri langsung bertepuk tangan dan batuk kecil, “kau gila, dia SD dan kita SMU!”jawabku. “dia dewasa belum waktunya!”sahut Roni. “mungkin!”jawab yang lain dan saling bersahutan. “dia seperti buah yang dipaksa matang seblum umurnya oleh petani!”. Yah sejak kejadian itu, dia tidak lagi menemuiku secara teratur. Aku juga tidak perduli dengan itu semua. Menurutku itu tidak normal. Dan aku tidak perlu mengurusa pikiranku unutk hal yang tidak penting. Aku lebih ingin mempersiapkan jadawal ujian tes semesterku. Bulan depan akan dimulai. Kami mengejar waktu, berlatih dengan quiz masing masing, menjawab bersama. Bulan ini akan penuh dengan banyak ujian tes. Waktuku tidak lagi mengunjungi perpustakaan. Aku malah lebih sering mengunjungi kantin untuk mengobrol dengan temanku yang tidak satu kelas. Kami bertukar materi yang diajarkan oleh guru kami masing masing,beberapa ilmu essac coba aku amati, mayoritas topic materinya nyaris tidak ada perbedaan, bahkan quiznya sama. Jawabannyapun sama. Sejauh ini belum ada kesulitan yang terlalu sulit. Sehingga saat benar benar menjalani ujian semester kami semua benar benar siap. Selama ujian para sisiwi selau mencari tumpangan gratis. Termasuk aku. Hero sering sekali mengantarku pulang, terkadang malah suka menjemputku. Jadi itu snagat membantuku menghemat saku transportku. Pada akhir ujian aku kembali bertemu dengan Ilmi dia diam menatapku dari arah sebrang, tanganya membawa buku novel yang biasa aku pinjam diperpustakaan. Matanya terkesan menyapa, tanganya melambai padaku. Aku hanya tersenyum tidak ada kelanjutan senyumku, lalu aku pergi meninggalkannya, kareno Hero dan teman temanku sudah siap untuk meghabiskan waktu dengan mencari hiburan. Maklum saja kami penat sekali dengan ujian semester sepuluh hari terakhir. Ketika aku menoleh kembali, Ilmi sudah menghilang. Dia tidak lagi berdiri di terasnya. Aku tersenyum.

Dua minggu kemudian setelah kami usai liburan semester, aku kembali lagi bertemu dengan Ilmi, dia menungguku di perpustakaan , di meja dan kusri yang biasanya aku gunakan untuk tempat membaca. Sepertnya dia sudah lama menungguku. Meskipun aku tidak tahu kalau dia sedang berusaha mencariku
“hei…kau cerah sekali!”
“benarkah!”
“bagaimana ujianmu!”
“perfect, kamu sendiri bagaimana!”
“bulan depan aku harus mempersiapkan untuk ujian praktek,lalu beberap quiz sebelum ujian nasional!” jawabnya serius.
“sukses ya Ilmi!” dia tersenyum, gayanya memang tidak pada umurnya. Dia benar benar dewasa. Mungkin aku tidak akan menyadari usianya masih kelas enam. Kalau aku tidak melihat sendiri warna baju seragam yang dia pakai.
“aku pergi dulu ya!” jawabnya, dan aku mengangguk.
Aku senang sekali dia meninggalkanku lebih dulu, karena aku sering merasa risih bila dia sedang mengajakku mengobrol dengan tatapan yang tidak biasa.  Hari hari berikutnya kami sering bertemu saat berpapasan saja, mungkin karena dia memang sibuk dengan pelajarannya. Dia akan menjalani ujian nasional empat bulan lagi. Ada dia atau tidak ada dia bukanlah masalah untukku. Aku sudah mempunyai kekasih hati meskipun kami berkencan dengan terpisahnya samudra meskipun kami masih satu benua. Saat aku merindukannya aku hanay bisa berkirim surata ataupun berkirim email. Itu lebih murah daripada kami saling menguunakan telephone yang biaya interlokalnya cukup mahal sekali. Maklum saja kami masih sekolah, dan belum bekerja. Sosok Ilmi tidak bisa kusamakan kelasnya dengan kekasihku, dia jauh lebih muda dari kami pemikirannyapun masih terkesan childish meskipun dia terlihat lebih dewasa darpada kami. Sedangkan, pria yang aku cintai, umurnya lebih dewasa dariku, pmeikirannya lebih tennag dan jauh lebih bisa formal dan logis kteika mengeluarkan pendapat di setiap perbincangan kami. Aku pernah menceritakan sosok Ilmi padanya, dan dia hanay biasa saat menanggapinya “biarkan aja, dia belajar menginjak remaja, kematangan berpikirnya sedang terproses, lagipula mencintaimu itu adalah haknya, jadi tidak perlu kita khawatirkan. Aku hanya khawatir bila dia itu seuisiaku pasti pemikiran kami tenangmu akan berbeda dari pemikirannya yang sekarang!” kupikir pendapatnya benar. Jadi tidak perlu aku kembali terusik dengan anak seusianya. Pendapat ni berjalan hanya beberapa waktu saja, dua minggu kemudian.  Saat pelajaran Kimia, kami sedang mempelajari materi baru tentang percampuran kimiawi. Semua siswa berkonsentrasi di papan tulis, Bu Mamik sibuk menjelaskan perubahan campuran dan sifatnya. Semua tidak ada yang berani ngobrol. Karena materi ini pasti akan dijadikan pertanyaan kembali saat dia mengetest kami dengan soal soal quiz. Andina yang duduk sebangku denganku, tiba tiba saja menyudutkan sikunya kea rah lengaku, “dev…dev..dev..! lihatlah kesamping atas arah jama dua belas persis diatas..cepat lihat!”aku endiamkan saja, sama sekali aku tidak memperhatikan apa yang dia katakana, kini kembali Cory yang duduknya ada dibelakangku, “dev,..dev, lihat saja ke atas!” kakinya ditempelkan dibelakang bokongku, membuat kursiku sedikit maju kedepan. “ada apasih!” bisikku dengan nada marah.”liat saja diatas!” jawabnya,. Dedi dan Roni yang bersebelahn bangku dengaku tiiba tiba saja tertawa. Dan keika aku menoleh. Ke arah yang mereka tunjukkan, bukan maen aku terkejutnya, aku benar bvenar tidak yakin dengan apa yang aku lihat. Sebuah kertas karon tebal berwarna putih membujur ditangannya bertuliskan DEVI I LOVE YOU tulisan itu cukup jelas terbaca, spidol berwarna merah dia gunakan untuk membuat isi hatinya terbaca. Aku pura pura tidak melihatnya lagi, sebagian temanku yang sduah menyadarinya. Menahan untk tertawa, entah dengan cara menutup mulut, ataupun tertunduk. Sayangnya. Suara Ilmi kembali berteriak dan meneriakkan namaku dengan kalimat yang sama seperti yang dia tulis, suaranya keras. Sangat keras. “I love you, I LO VE YOU… LO VE.. LOVE YOU DEVI, YOU HEAR THAT” ya ampun, aku terpaksa menoleh ke lubang fentilasi udara, dimana kami bisa melihat satu dengan yang lainnya. Tapi sayangnya sepertinya Bu Mamik, merasaaku elah membua onar dalam kelasnya, dia memanggilku dan memintaku untk mengerjakan soalnya. “aduh!” aku meresahkan, kalau aku tidak bisa jawab,pastinya aku akan dighukum berdiri didepan kelas samapi mata pelajarannya berakhir.”Ilmi sialan!” desisku. “maju saja,nanti aku ajari!” kata Roni. Saat aku maju, beruntunglah aku tidak kesulitan dengan soalnya. Maka akupun dipersilahkan untuk kembali ke mejaku. “kalian pacaran” sapa Bu Mamik padaku. Astaga dan itu malah membuat seisi kelas pada tertawa gggrrrrrr….. bahkan ada yang memukul mukul bangku karena menahan rasa tawa yang luar biasa. Aku hanay diam menahan rasa malu, Andina hanya ikut menertawaiku. “bukanlah Bu!” sahutku sedikit kesal. “oh aku piker kau suka sekali daun muda!”. Kelakuan Ilmi semakin hari semakin tidak jelas. Bahkan kelakuaknnya sudah mulai tersebar rata dikalangan kelas dua. Bagaimana tidak. Sahabatku Gita dan Anna menanyakan langsung ketika pulang sekolah. Mereka melihat atraksi Ilmi yang berteriak persis didepan kelas kami. Semuanya mengira kalau aku berkencan dengan anak sekolah dasar. Tentu saja itu membuatku kesal, sejak itu aku menghindari rutinitas dan eksitensiku di perpustakaan hingga aku benar benar kembali dengan rutinitasku saat aku duduk dikelas Tiga Bahasa. Karena aku piker aku tidak lagi menjumpai Ilmi. Karena dia sudah Lulus dari kelasnya. Pastinya dia akan sekolah di tempat lain. Tapi aku salah,

Hari pertamaku di kelas bahasa sangat kunikmati, semuanya berjalan seperti yang aku harapkan. Mata pelajaran favoritku adalah sejarah dunia dan budaya ditambah lagi waktu lebih untuk pelajaran sastra inggris ataupun sastra Indonesia. Porsi lebihnya sangat aku nikmati, ada dua mata pelajaran tambahan yakni satra jepang dan sastra arab melayu, itulah yang sedikit butuh perhatian ekstra. Terutama jepang, semua siswa mempelajarinya unutk pertama kali. Kami belajar menulis dan membaca seperti anak taman kanak kanak. Beberapa huruf Hiragana dan Katakana menjadi huruf wajib bagi kami, begitu juga dengan tulisan kanji jepang. Kata bu ending guru jepang kami “kalian harusnya belajar lebih keras, karena adik kelas kalian di sekolah dasar sudah pandai menulis huruf jepang! Satu hal lagi, kalian tidak perlu malu untk mengeja setiap huruf , lagi pula huruf kanji jepang tidak memiliki jenis sebanyak kanji Negara China! Jadi tetaplah semangat mempelajari bahasa baru!” kalimat itu sering sekali diucapkannya didepan kelas. Lambat laun kami siap tidak siap, suka tidak suka pastinya kami harus mempelajari jepang. Meskipun terkadang mengeluh. Bahkan ada teman sekelas kami bernama Edo, dia ketua kelas kami yang sangat punya selera humor tinggi, pintar berbahasa inggris tapi bila ada jam pelajaran bahas jepang, maka yang dia rasakan adalah tingkat stress yang sangat tinnggi, rasa percaya dirinya seperti hilang, bahkan suhu darahnya pasti akan naik selama mata pelajaran tersebut berlangsung. Awal mulany kami tidak menyadari semua itu, tapi ketika ada tes tulis huruf jepang, pastilah dia mendapat nilai yang terburuk diantara para siswa lainnya. Begitu juga saat ada test membaca cepat, ataupun tes percakapan, pastilah Edo akan sering dikamar mandi selama beberapa jam hingga jam pelajaran usai, semua terasa geli oleh kelakukannya. Yah mau bagaimana lagi. Tapi itulah kenyataanya. Hal itu akan sangat Ironis bila kami sedang belajar sastra inggris, maka dialah siswa yang paling aktif, dan selalu menawarkan diri menjadi seorang moderator. Bahkan gaya bahasa ingrisnya benar benar british. Diapun mengikuti perkumpulan British council yang ada dikotaku.

Kini aku kembali lagi dengan aktifitas lamaku, aku suka mengunjungi perpustakaan sekolah dengan membaca beberapa koleksi novel kuno karya milik pujangga baru ataupun pujangga lama, aku suka dengan karya mereka. Aku pikir karya anak bangsa kami tidak jauh bagusnya dibanding satrawan eropa. Ketika aku masuk hanya beberapa siswa saja yang berkonsentrasi dengan bacaan mereka, ada juga yang mengobrol diujung dengan beberapa kelompok. Sepertinya mereka sedang mengerjakan tugas kelompok Biologi, ada juga yang berkencan dnegan pasangannya, saling menggambarkan isi hati mereka lewat bacaan puisi milik shakespare. Tapi mereka bukan siswa bahasa. Kali ini aku dating bukan untuk menikmati novel, aku dating unutk menikmati satu koleksi sejarah budaya kota spanyol, aku membaca perbedaan keyakinan, aku membaca geografi mereka. Aku jatuh hai dengan budayanya yang masih kental menggambarkan sejarah budaya kuno. Karena aku merasa Sejarah budaya Indonesia tidak terlalu terjaga kelestariannya disbanding peninggalan sejarah milik Negara lain. Aku membaca begitu asyik, tidak ada siswa yang membaca di meja yang aku tempatai, hingga beberapa menit kemudian dia datang, sudah lama sepertinya dia berdiri didepaku, beberapa menit tanpa bersuara. Sayangnya aku tidak menyadari keberadaanya, hingga dia memutuskan untuk menyapaku.
“hallo…apakabar dev!”
Aku mengangkat kepalaku,lalu memperhatikan penampilannya.
“bagaimana menurutmu!” aku masih juga belum sadar siapa orang didepanku,meskipun aku sudah menduganya kalau dia Ilmi.
“kau lupa?” dia bertanya dengan penuh keraguann, aku memaksakan diri untuk tersenyum,dan seblum aku memintanya duduk dia sudah terlebih dahulu menarik punggung kursi hingga b unyi geseran kayu di atas lantai
“kau sekolah lagi disini!” pertanyaan retorisku cukup membuatnya kesal
“yah, karena kau aku sekolah disini!”
“benarkah?”
“kau tidak percaya, kelihatannya. Aku harap ini tidak mengecewakanmu!” aku tidak mengerti jawaban apa yang pantas unutk pertanyaannya. Aku hanya bingung, karena dia dan aku sangatlah tidak cocok bila kami harus mengatakan rasa suka. Meskipun ku akaui aku tidak menyukainya secara special. Bahkan aku merasa enggan bila dia berada disekitarku.
“halo…kau disana?” dia kembali memngejutkanku. Dan aku hanya tersenyum. Dia bangkit dari kursinya pergi mendekati,lalu menarik punggung kursi yang ada disebalah kananku.
“aku menyukaimu, dan aku belum mendapat jawaban darimu atas pertanyaan yang aku ajukan tiga bulan yang lalu!” kalimatnya mmebuatku terperangah, belum ada teman priaku yang menyatakan cintanya kepadaku selantang itu. Sungguh dia membuatku gila. Aku tidak bisa bicara, bukan berrati karena aku terpukau dengan wajahnya. Aku juga masih setia dengan kekasihku meskipun kami sedang berhubungan jarak jauh da sudah setahun lebih tidak bertemu. Tapi sungguh, Ilmi sangat membuatku menjadi gadis yang terlihat tolol,
“mulutmu masih bisa difungsikan bukan?”
“aku hanya tidak mengerti apa maksudmu!”
“kurasa kau leboh bisa memahami kalimatku, yang kutahu kau adalah siswi kelas bahasa, jadi … kau seharusnya paham apa maksudku meskipun aku tidak banyak menjabarkan kalimat panjang!”
“oohhh….Ilmi, kumohon. Jangan bertele tele. Katakan saja!”
“aku menyukai kakak kelasku yang cantik, dan kamulah orangnya!”
Dia membuatku malu, karena aku sudah punya jawaban yang pantas atas pertanyaan yang dia katakana, akupun ingin meninggalkan ruangan ini. Aku mundurkan kursiku beberapa sentimeter, hingga aku bisa secepatnya kabur, tapi sayang meskipun usianya masih dibawahku. Tapi tangannya kuats ekali menarik lenganku.
“lepaskan Ilmi! Kita bicarakan lain waktu, sepertinya aku lupa kalau ada tugas sastra yang belum  terselesaikan!” diapun melepaskan aku. Nafasku kembali teratur saat aku jauh darinya. Aku berjalan sedikit kencang dari biasanya, aku tidak berani menoleh kea rah belakang aku takut sekali kalau Ilmi memperhatikan langkahku. Dan saat aku lewat depan toilet wanita, aku bertabrakan dengan Cory, aduh sakit sekali kepalaku di ngomel tidak karuan, maklum saja habis kutabrak dia terpelanting terbentur tembok. Dan kurasa itu membuatnya marah padaku. Meskipun akhirnya dia tersenyum. Entah apa yang dia perhatikan dari arah belakangku.
“sorry…sorry, aku terburu buru!”
“habis kencan ya! Uhuiii….wooo, ternyata kalian jadian juga ya. Tidak kusangka kau suka sama daun muda, anak kecil!”
“sialan kau, dia yang menguntitku terus terusan!”
“ayo balik buruan, ceritakan nanti di kelas!”
Kamipun berlari kencang setelah mendengar bel berbunyi, kuceritakan semua. Tentang apa yang dikatan Ilmi. Dan sungguh itu menjadi perhatian sahabatku yang mayoritas perempuan. Bagaimana tidak. Ukuran kami Ilmi hanyalah anak kecil, dan masih sangat kecil. Tapi cara pemikiran dan gaya bahasanya serta perasaannya serasa seperti siswa seumur kami. Dan saat ada jam pelajaran kosong, aku dan beberapa orang temanku berkumpul melingkar disekitar bangku kelas
“mungkin itu obsesi!” kata Evi
“kurasa memang kau cinta pertamanya!” kata Nova
“aku tidak menyukainya” jawabku sedikit kesal
“tapi sungguh, menurutku dia memang tampan, romantis dan sangat jantan!”
Kami tertawa, dan saat kami tertawa membicarakannya, Ilmi lewat depan kelasku dengan seorang temannya, matanya tajam menatapku dari jauh meskipun tidak terlalu bergaya ekspresi seperti biasanya
“benarkan kataku kalau dia tampan!”
“aku setuju!”
Aku hanya diam mendengar obrolan teman temanku. Semua yang dia katakana padaku tidak ada yang salah. Aku pribadi mengakui kalau anak ingusan itu memanglah sangat tampan, dan terlihat cerdas. Mungkin kalau usianya dia di atasku aku bisa jatuh hati padanya. Dan sudahlah pasti aku akan menerima cintanya tanpa malu. Sayangnya semua yang terjadi sangatlah bersifat ironis dari yang aku pikirkan.
“apa kekasihmu sudah menjawab suratmu minggu lalu!”
“yah, aku senang, dank arena itulah aku snagat percaya diri, aku sudah memnceritakan juga tentang Ilmi beberapa bulan yang lalu. Tapi sepertinya dia biasa saja mennaggapinya!”
“baguslah, bagaimana kalau cibntanya Ilmi kamu terima saja!”
“yah terima saja, kalau tidak salah dia naknya penjabat angkatan Udara, siapa tahu uang sakunya istimewa, dan yang kutahu, mobil yang digunakan unutk mengantarnya adalah mobil built up. Yah hitung hitung daripada kau naik Bus!”
“gila kau” sahutku sambil tertawa mengibaskan rambut. Kami semua tertawa.

Hari hariku berikutnya dipenuhi dengan pertemuan bersama Ilmi walapun aku sering menghindarinya, tapi serasa dia lebih pintar karena begitu mudahnya dia bisa menemuiku. Bahkan beberapa bulan yang lalu kata Ibuku, ada anak bernama Ilmi menelpghoneku sore hari saat aku keluar dengan teman temanku. Hal ini tidak berani kuceritakan pada temanku. Maklum saja aku malas kalau mereka menggodaku habis habisan dengan Ilmi.
Pernah suatau hari ketika aku hendak pulang sendiri naik Bis kota, tiba tiba saja dia duduk dibangku kosong sebelahku, entah darimana asal dia naik, aku sendiri tidak tahu.yang jelas tiba tiba saja dia sudah duduk manis tersenyum disebelahku. Aku terkejut sekali, aku hanya berfikir bagaimana bisa cara berfikirnya seperti ini. Bagaimana mungkin dia menyukai gadis yang umurnya jauh dia tasanya. Dan yang aku tahu anak usia smp dan smu sangatlah berbeda dalam hal pola piker. Apalagi dia masih duduk dikelas tujuh, pastilah masih suka bermain. Sangat berbeda dengan anak usia kelas dua belas seperti aku, pastilah kami mulai tertari lawan jenis. Itu lumrah. Dia memberikan uang pada sopir seribu rupiah unutk membayar empat duduk kami. Dan ekteika sopir memberikan kembaliaannya, maka Ilmi menolak. Dia bersikeras membayar kursiku, dan bersikeras menolak uang kembalian yang diberikan kondektur Bis. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi menurutku dia memang berbeda dari anak lelaki se usianya.
“akau pulang kau mau kemna” tanyaku penasaran, dan dia hanya tersenyum
“aku ingin mengantarmu, tapi aku belum bisa naik mobil, jadi kupikir apa salahnya kalau aku mengantarmu dengan duduk bersama di dalam Bis!”
“kau pernah naik bis!” tapi dia hanya menggeleng ketika aku menanyakannya.
Astaga, jawabannya membuatku merasi simpati. Dia diam tanpa menatapku. Ini wajah innoncentnya mulai kembali muncul. Aku hanya diam menahan kekonyolanku. Aku takut bila aku memperlihatkannya, maka dia akan merasa tersingnggung
“terimakasih!” jawabku singkat. Dia tersenyum, aku kembali terkejut ketik adia menggenggam tanganku sebntar lalu melepaskannya lagi. Tangan itu terasa hangat, hangat sekali menyentuh kulitku. Aku ingin melayang karenanya. Aku nyaris tidak bisa berfikir jernih, aku bingung cara nmemperlakukan anak lelaki seusianya. Yang jelas aku masih sadar kalau aku sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama seprti yang dia katakan padaku. Ketika itu aku tidak mengizinkannya untuk turun dari bis, mengantarkanku pulang. Begitu mudah melarangnnya. Diapun menuruti apa yang aku perintahkan. Aku lega mendengarnya. “bye!see you soon tomorrow” aku tersenyum dan hanya melambaikan tangan padanya.
Aku susah sekali menghindarinya, jadi kubiakan saja pa yang akan dia lakukan padaku, akupun tidak bisa melarangnya untuk tidak jatuh cinta padaku, akupun tidak bisa memintanay unutk pergi bersekolah ketempat lain. Aku hanya bisa berlapang dada memaklumi kelakukannya. Meskipun beberapa orang temanku suka sekali menggoda kami saat kami tertangkapa basah sedang duduk berdua di suatu tempat. Meskipun kebanyakan temanku tahu kalau antara aku dan Ilmi bukannya sedang menjjalin kasih. Rasa cinta yang ada diantara kami bertepuk sebelah tangan. Tidak ada yang lebih. Dan aku biasa saja dalam hubungan ini. Tida ada yang istimewa menurutku. Meskipun Ilmi sangat mengharapkan keistimewaan terjalin antara kami. Aku sebnarnya merasa tidak enak membuatnya banyak berharap. Tapi jujur saja aku tidak bisa memberikan perasaan khusus seperti yang dia minta. Aku mengakui bahkan aku sangat menghoramatinya. Tapi aku benar benar tidak bisa membuatnya bahagia sesuai dengan keinginan hatinya. Meskipun, aku sangat tidak tega melihatnya sedih atas kekecewaanya. Aku sudah menceritakan pada Ilmi. Bahwa jauh sebelum dia hadir di hidupku, aku sudah memiliki someone special selama dua tahun. Kupikir setelah aku menceritakan hal tersebut, Ilmi bisa mengambil keputusan untuk mundur teratur. Meninggalkan perasaanya, dan mencari someone special yang lebih pantas. Semua yang aku lakukan tidak pernah bsia mengubah perasaannya. Bahkan aku terkesan seperti gadis yang jahat. Jadi semua kuhentikan. Aku hanya tidak terlalu mematuhinya. Aku sering mengingkari janji, bahakan aku sering tidak lagi menghampiri perpustakaan untuk pengisi waktu. Hanya karena aku tidak mau bertemu dengannya. Aku idak lagi mau mengganggu pikirannya, meskipun aku tidak ada niatan unutk mengganggunya. Aku tidak ingin lebih jauh menyakitinya lagi. Aku sebnarnya sanagt merasa kasihan dengannya. Aku berusaha unutk menawarkan persahabatan yang tulus. Tapi sepertinya dia tidak menyukai penawaran itu. Ilmi menolaknya. Baiklah kalau itu keputusannya, maka aku hanya bisa berpangku tangan. Aku hanya tidak mau dia menyalahkan aku dikemudian hari. Karena sudah berulang kali aku mengatakan tentang penolakanku. Kami serasa seperti sedang perang dingin. Setiap kami berpapasan tanbpa sengaja, dia tidak lagi mau menyapaku, meskipun kedengarannya itu berita bagus untukku, aku juga tidak terlalu pusing soal itu. Kondisi seperti ini hamper dua bulan menyerangku. Tapi aku nyaris tidak pusing soal dia. Bahkan aku ikut senang ketika melihatnya sedang duduk berdua dengan teman sekelasnya. Kelihatannya dia memang sengaja memamerkan kekasih barunya padaku secra tidak langsung.aku merasa prihatin, tapi sudaglah itu bukan urusanku sama sekali. Mungkin karena dia menyadari kesenanganku, maka diapun kembali berperilaku seperti semula. Dia kembali mendekatiku, kembali menyapaku ramah dan kembali menungguku di kantin ataupun diperpustakaan sekolah, bahkan pernah dengan sengaja dia pernah menungguku di ruangan teather sekolah hingga jam pelajaran usai.
“halo, senang sekali bisa kembali melihatmu tersenyum!” aku kaget sekali mendnegarnya mengatakan itu.
“kau mengejutkanku!” aku marah sekali, dan dia murung mengerucutkan mulutnya
“maaf, aku hanya merasa sangat senang bila melihatmu”
“ada perlu? Karena aku akan segera pulang sebelum petang!”
“aku hanya ingin memberikan ini!” sepucuk surat berwarna kuning bunga matahari diberikannya padaku, satu coklat dihias dengan pita merah diberikannya juga unutkku. Aku menerimanya dengan sennag hati, walaupun ada sebagian hatiku menolak pemberiannya. Aku tidak ingin menyakitinya. Kami berjalan bersama dan berpisah sampai pagar sekolah. Dia menemaniku mendapatkan bis untuk mengantarku pulang, sedangkan dibelakangnya. Sudah berdiri seorang supir dengan mobil Honda accordnya, siap unutk mengantarkan dia pulang dengan selamat. Karena hari ini aku pulang sendiri, maka aku berkesempatan membaca surat Ilmi dalam bis, sambil menikmati coklat pemberiannya. Ku amati da sosok yang menyukai apa adanya, bahkan unutk mengungkapakan perasaannya, dia tidak terlalu sennag memakai keindahan kalimat. Dalam suratnya hanya tertulis aku menyukaimu dan aku sangat merindukanmu. Yah…isinya snagatsederhana, tapi makananya luar biasa dalam. Sayangnya kalimat itu tidak bisa menggetarkan hatiku seperti kalimat yang biasa diucapkan kekasihku. Tapi aku percaya, Ilmi akan jadi pria yang benar benar gallant dan romantis di mata para gadis. Surat itu tidak kusimpan dan tidak kujawab, aku meninggalkannya di kursi bis kota. Aku tidak punya maksud apa apa untuk hal itu. Ak juga tidak ingin menyimpannya, karena bukan hal yang special yang perlu disimpan , menurutku. Keesokan harinya kau kembali menghindarinya, dan sukses menjauhinya selama satu minggu. Tepat di hari yang sama, dia menungguku didepan pintu gerbang sekolah. Dan ketika aku menghafal sosoknya yang tegap, maka aku mengambil langkah seribu, untuk melewati gerbang belakang sekolah. Hanya agar aku bisa masuk kelas tanpa sepengetahuan Ilmi. Kurasa hari ini sukses. Tapi tidak untuk esok harinya, meskipun aku berhasil datang ke sekolah lebih awal tanpa bertemu dengan dia. Pagi itu guru sastra inggrisku terlambat untuk datang, tapi kami sudah siap dengan materi yang sudah dia samapaikan pada wali kelas kami. Meskipun di dalam kelas tidak ada satu gurupun yang mengawasi kami. Tapi kami tertib. Meskipun kami saling mengobrol pelan dengan mengerjakan tugas membuat puisi romantis yang nantinya akan diperagakan di depan kelas. Satu jam sudah kami memutar otak mencari rangkaian kalimat romantis, tapi ssangat susah itu bagiku, maklum saja aku bukan golongan wnaita romantis yang mengumbar kalimat bernilai estetika yang tinggi. Teman sebangkuku juga sibuk sekali sama sepertiku, tapi Cory
“Ilmi mencarimu sepertinya?” dia menarik rambutku, dan aku langsung menoleh ke arahnya lalu melihat Ilmi. Anak itu sepertinya mengatakan sesuatu , tapi sayang aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Aku tidak menghiraukan. Dan dia sepertinya kesal, lalau pergi meninggalkan tempat dimana dia tadi berdiri berjarak sepuluh meter dari depan kelasku. Semenit kemudian guru sastra inggrisku datang
“good morning children!”
“morning mom!” jawab semua siswa bersamaan.
“have you finished!”
“not yet mom” bersamaaan.
Dia pun emmberikan kami waktu satu jam lagi dengan bahas isyarat tangan. Kamipun kembali menunduk dan memikirkan sususan lanjutan kalimat puisinya. Beberapa menit kemudian, Ilmi mengetuk pintu kelasku tiga kali, dan Bu Betty menolehkan mukanya kea rah pintu masuk, beberapa orang temanku sudah melirik ke arahku, yang bisa kuucupkan pelan sambil emnunduk adalah oh my God are you kidding me. Fitri tersenyum ambil menginjak kakiku.
“excusme mom, I’m looking for my friend!”
“yes… may I help you”
“thank you, but I need to give this book for her”
Tanpa perintah, dia pun langsung mendatangi bangkuku,memberikan aku sebuah buku, tidak tahu kenapa dadaku tiba tiba saja berdebar, saat dia mendekatiku.
“aku hanya ingin memberikan ini,bacalah dan aku menunggu jawabnnya sesegera mungkin, samapai ketemu di ruang perpustakaan!” diapun pergi dari depanku, melewati guruku sambil mengatakan
“I’m sorry mom disturbing you, thank you very much!” lalu dia pergi dengan terarur meninggalkan ruang kelas, berjalan seperti robot tanpa menoleh kebelekang sedetikpun. Semua menahan tawa. Dan hanya Bu Betty saja yang terheran heran melihat kami semua
“why is it you all laugh… the boy is really polite with her sister. Without that book, you can’t learn right!” matanya melirik ke arahku, tapi aku hanya bisa diam tanpa senyum
“yes mam!” aku hanya sekedar menjawab. Semua siswa malah tertawa keras
“sorry mom, the boy was obsessed with Devi, so he’s really ecxcited with her like truly admire!” kata Edo ketua kelas kami
“really! Oh you should be love with the boy like him even he just like your brother” Betty tersenyum, mengimbangi para siswa, sungguh Ilmi bebnarbenar membuatku malu atas sikapnya. Tapi9 sudahlah, semua temanku tahu apa yang sesungguhnya terjadi, semua tidak berjalan atas kehendakku, semua hanya perasaan Ilmi.
“okey class….time is up, give it to me  about your poem! I’ll choose one to reading your poem at class!”
“right mam!”
Hingga jam pelajaran usai barulah aku membaca isi suratnya.

Dev
Kenapa kau tidak menjawab perasaanku, apapakah itu suatu bentuk pertanyaan yang sulit. Butuh berapa lama untukmu menjawabnya. Apa hanay karena aku ini berumur empat tahun dibawahmu, hingga hal itu sangat membatmu malu unutk menyukaiku. Aku sanagt menyukaimu.
Ilmi

Aku dan Fitri membaca hanay tersenyum”sepertinya dia serius!” mungkin. Aku menjawabnya dengan surat dan amplop yang sama saat dia berikan padaku tadi. Dibawahnya kutulis

ILMI
KAU BENAR AKU MALU BILA MENYUKAIMU, DAN YANG SEPERTI PERNAH AKU KATAKAN AKU SUDAH MEMPUNYA ORANG SPESIAL DIATASKU EMPAT TAHUN. DAN AKU SANGAT MENYUKAINYA SPENUH HATIKU. KUHARAPSEMUA INI ADALAH JAWABAN YANG BISA MEMBUATMU PUAS DAN TIDAK LAGI MENANYKAN HAL AYANG SAMA KEMBALI PADAKU.
THANKS
YOUR SISTER
DEVI

Aku menepati janji untuk kembali menemuinya di ruang perpustakaan, aku hanay berkewajiban memberikan jawaban atas suratnya. Lalu meninggalkannya. Dia kecewa karena aku tidak menemaninya beberap amenit di perpustkaan, tapi sekali lagi itu bukanlah urusanku jadi aku tidak menghiraukannya.

Sejak kejadian terakhir itu, sepertinya membuatnya lebih dewasa dalam proses alamiah. Dia tidak lagi menggangguku terlalu banyak, meskipun dia masih ramah saat menyapaku, atau sekedar memperhatikanku sedikit lebih lama, tapi itu tidak terlalu mengganggu seperti pada awalnya. Akupun tidak lagi pusingmenghindarinya, semua normal. Hanya saja ada beberapa gayanya yang berbeda, dia jauh lebih berdandan dewasa dari penampilan awalnya. Gayanya hampir sama dnegan anak SMU sepertiku, model rambutnya semakin rapi, tapi dia masih suka menelphoneku di rumah dalam hitungan satu bulan sekali, hanya sekedar untuk mengobrol biasa tanpa ada sisipan kata kata cinta. Dan saat aku merayakan hari kelulusan kami, dia mendekatiku sambil mengucapkan selamat atas kelulusanku, dia memberiku sebuh kenang kenangan yang dibungkus sangat rapii dengan kertas kado bermotif batik berwarna birub dengan hiasan bunga mawar plastikberwarna biru.
“halo Dev… terimakasih kau sudah mau menemuiku di perpustakaan! Aku senang sekali” dia tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tanganku.
“terimakasih untu ucapannya, semoga kau juga segera lulus dari sini dengan nilai yang fantastis!” ku terima uluran tangannya sebagai ucapan selamat. Lalu dia memberiku sebuah kotak dengan ukuran mini box berukuran dua puluh sentimeter.dia memberinya dengan senyum.
“apa ini!”
“buka saja dirumah, semoga kau suka”
“wahh,pasti cantik sekali!” itu hanya dugaanku, aku tidak tahu apa isinya, tapi tidak ada kalimat lain yang melewati otakku, jadi aku hanya bisa mengatakan itu saja.
“yah…kau pasti akan terlihat cantik saat memakainya, kau jadikan kuliah di ilmu pariwisata?” dia bertanya dan aku hanya mengangguk. “baiklah, itu akan kau butuhkan unutk menunjang penampilan cantikmu” dia tersenyum
“terimakasih, tapi maaf aku tidak punya satu souvenirpun untukmu!”
“bukan masalah untukku, senyumu yang indah itu sudah bisa membuatku lebih tenang daripada  
Sebuah benda mahal seklaipun, bolehj aku minta sesuatu?”
“apa, bila ku bisa berikan akan aku berikan!”
“mudah kok!”
“baiklah katakan saja!”
“dua hal yang ingin kuminta, tolong jangan pernah lupakan sosokku. Aku Ilmi yang pernah dan akan sellau menyayangimu hingga kau dewasa nanti. Bisa kukatakan kalau selama ini aku serius meskipun aku masih anak muda lebih muda darimu. Dan satu hal lagi!” wajahnya serius sekali, hingga membuatku terpesona menikmati wajahnya yang tampan.
“yah.. aku pastikan tidak akan melupakanmu” kami saling tersenyum, dia kembali menjabat tanganku, dan langsung menarik bahuku, berheni memelukku dengan cepat dan kuat, lalu dia mencium pipi kiriku. Aku terkejut, tapi aku trepaksa membiarkannya.
“thanks, I love you karena kau benar benar cinta pertamaku Dev”
Kami saling tersenyum,meskipun aku terkejut sekali dengan apa yang sudah dilakukannya. Aku bisa memahami dan memaklumi apa yang dia lakukan. Hal itu indah menurutku. Dia memang pria unik yang sangat berani dengan isi hatinya, dia tidak malau mengungkapkannya meskipun orang disekitar kami menertawainya. Kuharap nantinya dia bisa jadi orang yang hebat. Hari itulah terakhir kali kami bertemu dan tidak pernah lagi bertemu hingga sekarang aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak lelaki yang tampan. Isi kado yang Ilmi berikan adalah sebuah syal Biru terbuat dari rajutan wol berwarna biru bertuliskan namaku dalam tulisan Hiragana. Dibaliknya bertuliskan Ilmimu dalam tulisan Katakana.
Previous Post Next Post

نموذج الاتصال