Rasa pesimistis mulai datang menggelayuti jiwaku. Aku merasa rapuh, walau sudah mencoba untuk selalu tegar. Sepuluh tahun sudah aku merana setiap melukiskan wajahnya. Carut marut selalu kurasakan, usai membayangkan wajahnya. Satu bulan sudah dia tidak hadir dalam mimpiku. YAH! Aku benci itu. Dan ternyata, aku masih mencintainya. Sorot mata itu begitu melekat, senyumnya bagaikan sihir. Aku masih suka menyesali kesalahan yang pernah aku perbuat. Karena kebodohan itulah aku kehilangan Juliet-ku. Mengingat itu semua…, membuat dadaku semakin terasa sesak. Dadaku serasa bergemuruh. Ingin rasanya kucabik cabik mawar ini. Tapi kubatalkan… mawar ini untuk Eva. Malam ini adalah hari jadi kami yang memasuki tahun ke dua berkencan. Tapi sepertinya Eva tidak bisa membuatku melupakan wajahnya. Aku mengakui, penampilan sempurnaku malam ini hanya untuk Eva. Begitu juga untuk mawar ini. Aku tahu, Eva akan terlambat satu jam untuk datang ketempat ini. Meskipun begitu, aku tetap datang tepat waktu. Aku cuti. Aku hanya mencoba untuk lebih mencintainya tapi tidak berhasil. Sudah sejak satu jam yang lalu aku santai menikmati suasana malam tapi tetap juga tidak bisa berhasil. Sudah dua gelas wine aku nikmati kemewahannya, tetap saja tidak bisa membuatku nyaman menikmati setiap tetesnya. Aku tidak mendapati ketenangan. Suhu malam membuatku terasa beda, rasa cemas dan gugup membuatku bermandikan keringat dingin. Aku tidak lagi berkonsentrasi dengan irama jazz yang ada. Semua terasa tidak seperti biasanya. Yang ingin aku lakukan adalah mengobral emosiku. Kapasitasnya sudah penuh dan aku tidak lagi kuat untuk menampung volumenya. Mata ini kembali mengawasi tiap sudut jalan di penjuru obyek yang tertangkap oleh lensa mataku. Berharap juliat-ku tiba tiba saja muncul dari suatu sudut jalan, datang dan menghampiriku untuk menyapa penuh senyum. PASTILAH! Saat itu tiba aku tidak akan menyia-nyiakannya sedetikpun. YA AMPUN! Sepertinya aku mulai gila dengan halusinasiku, sosoknya sangat MENGGANGU. Adrenalinku meningkat, datang begitu saja, meskipun dorongan biologis tidak kurasakan dengan sempurna. Aku jenuh dengan tempat ini. Bosan melihat rutinitas lalu lalang sekitar, pelayan sibuk dengan guest mereka. Guest sibuk dengan menu mereka. Semua sedang memadu kasih. Sungguh aku iri dengan kebahagian mereka, semua terlihat sempurna. Senang rasanya bila aku melihat anak kecil yang lalu lalang sibuk bermain menjauhi orang tua mereka yang sibuk berkencan. Ada juga mereka yang bermanja manja pada orang tua mereka. Aku mulai tertawa sendiri tanpa rasa malu meskipun ada beberapa pasang mata yang sibuk mengawasiku….hehhe hanya tersenyum tipis. Mungkin mereka takut aku membuat keonaran dengan anak mereka. Tidak….tentu saja tidak. Bodoh!! Aku tidak mau mencemarkan nama baikku sendiri. Dasar tolol….akan terlihat tolol bila aku melakukannya. Gerah bila melihat aksi mereka yang berlebihan membuatku muntah. Hanya melonggarkan dasi sedikit kebawah membuatku sedikit nyaman, begitu juga dengan kancing jas. Potongan baju eropa terkadang membuatku sedikit tidak nyaman di suasana saat menunggu seperti ini. Membuatku semakin gerah dan ingin membanting sesuatu. Aku menatap kembali arah mata yang tadi sepertinya terus mengamatiku, sengaja lebih kutajamkan pandanganku hingga membuat mereka kembali tertunduk dan menghapus pikiran mereka untuk memandangiku dengan tatapan aneh. Seorang pria kembali tersenyum padaku sambil mengangkat gelas anggurnya untuk bersulang. Yahhh…aku terima! Aku melakukan hal yang sama. Disaat yang sama aku mendengar beberapa ketukan sepatu khas Eva, semakin lama semakin mendekatiku, aroma parfumnya sudah tercium terbawa angin memasuki rongga hidungku membius secara impulsive dalam darahku. Sudah terlambat bila aku membalikkan punggungku untuk menatap wajahnya, karena kedua tangannya yang halus putih pucat sudah melingkar di bahuku. Bibirnya yang lembut sudah mendarat di pipi kananku dengan mesra rasanya sangat….sangat lembut selembut ice cream. Aku percaya noda lipsticknya tidak akan membekas, dia mengenakan colour stay dari salah satu product milik kosmetik amerika. Uuughh..dia memang cantik gayanya bak model, orang tidak akan menyangka bila dia seorang dokter anak ahli paru. Khusus untuk malam ini aku berpenampilan seperti pangeran yang kehilangan kerajaan. Duduk manis dengan busana ala eropa, potongan baju sedikit tuxedo. Malam ini dia berpenampilan cantik..yah bahkan terlihat lebih cantik dari biasanya. Senyumnya yang selalu menawan siap menebar pesona dan membius mata yang berani menatapnya. Dijamin pasti akan bertekuk lutut. Wanita cantik ini menghujaniku dengan ciuman mesra yang sangat membuatku malu dan risih. Hingga tanpa sadar gigi gerahamku berbunyi cukup untuk menghentikan tingkahnya dan membuatnya untuk melepasakan tangan. Kini hanya senyuman yang bisa kupersembahkan. Matanya melirik pada buket bunga yang ada di sebelahku. Aku paham apa maksudnya.
“selamat malam sayang…emmm apa itu untukku?”
“tentu..!” aku menyerahkan begitu saja pada pemiliknya yang sudah tidak sabar. Raut mukanya merona mencium wangi bunga itu.
“terimakasih…maafkan aku bila telah membuatmu lama menunggu malam ini adalah giliranku jaga!” dengan gaya tersenyum sedikit kecut matanya menatapku yang sedang berwajah datar. Sejujurnya aku tidak lagi sedang marah atas keterlambatannya. Sungguh bukan itu masalahnya. Ada hal lain yang mengganjal di hatiku ada sesuatu hal yang menjadi pikiranku beberapa hari terakhir ini. Yah… tapi bukan tentang Eva!
“Mayong… Mayong …hallo ada orang disana? aku sedang berbicara denganmu sayang!”
“yahh…tentu…aku mendengarmu!”
“TIDAK! Kau tidak mendengarkan aku. Kau marah padaku” aku menjadi bingung melihat dia kebingungan karena sikapku, terus menerus menjelaskan penyesalannya atas sikapku
“aku mohon sayang, maafkan aku …. Please, aku harap kau bisa mengerti!”
“Eva..EV AKU TIDAK MARAH” Aku mencoba menekankan intonasi suaraku agar dia mengerti bahwa aku tidak marah karenanya. Bibir eva mengerucut beberapa derajat. Lalu tersenyum
“maafkan aku Mayong, sudah ku katakan padamukan dua hari yang lalu bahkan tadi pagi juga kembali aku katakan. Aku memintamu agar kau bisa menunda satu jam tapi kau tidak merespon. Bahkan kau datang lebih awal dariku dan itu bukan kehendakku. Dia pasien darurat lalu aku panik…panik sekali padahal aku sudah berdandan dengan baju pestaku”
Aku tidak lagi mendengarkan celotehan dan omelannya, aku pusing bukan karena dia. Masalah diantara kami malam ini tidak menjadi soal bagi aku. Kalaupun Eva tidak bisa datang aku akan merasa lebih senang, jadi aku tidak perlu memakai topeng untuk menghibur hatinya. Seminggu terakhir aku dibuat pusing dengan kabar burung yang sampai di telingaku. Sayangnya aku belum bisa membuktikan kebenarannya. Aku terkejut ketika melihat Eva berdiri didepanku sedikit histeris….
“Mayong…!”
Aku menatap wajahnya, matanya mulai berkaca kaca, sepertinya dia salah menilaiku. Aku mengulurkan tangan kananku dan tangannya menjawab.
“percayalah, aku tidak sedang marah denganmu sayang!” aku merasa senang ketika melihatnya tersenyum seperti biasa.
“sorry!”
“Ev..va berhentilah meminta maaf!”
“tapi kau marah dan itu pasti karena aku!”
“sayang, berhentilah meminta maaf, maka aku akan memaafkanmu!”
“DUDE!...I LOVE YOU that’s way I’m crazy about you”
Eva berhasil membuat aku tertawa kecil, dan sepertinya kami kembali bisa mengakrabkan diri. Dengan terpaksa aku sedikit membual meskipun itulah kenyataannya. Aku risih ketika hendak mengatakannya, tapi aku mencoba unutk membuatnya nyaman meskipun aku sendiri tidak nyaman karena itu.
“Va…kau tampak cantik malam ini, meskipun kau masih mengenakan baju almamatermu”
“terimakasih Mayong atas pujiannya aku serasa melayang dan pikiranku sedikit dangkal” kedua tangannya yang indah menutupi wajahnya. Entah kenapa dia menjadi malu. Pujian yang aku berikan sesuai dengan kenyataannya. Aku tersenyum saat berniat mengajaknya berdansa seperti pasangan yang lain. Eva tampak terlihat senang dengan ajakanku. Aku merasakan gairah asmaranya mulai bergejolak. Tapi itu tidak terjadi padaku. Jujur saja, aku sedikit risih malam ini dan aku tidak sedang siap menangani gaya erotisnya. Aku juga sedang tidak ingin menciumi leher dan bahunya. Aku hanya ingin sekali buru buru pulang. Aku ingin menelephone seseorang. Aku ingin memburu informasi dengannya tentang seseorang. Bayangan wajahnya kembali terlintas, caranya memandang, berjalan, berbicara dan tersenyum kini semakin kuat mengejarku…..OH TUHAN. Kalau saja semua pengalaman yang menggetarkan itu bisa terulang lagi!!
Kini dua…tiga lagu tidak lagi mampu aku lewati bersama Eva. Aku menolak ajakannya untuk melanjutkan berdansa. Hanya alasan aku merasa lapar, dia baru berhenti memaksa…yah dia mau berhenti. “SUPER” gumamnya, mungkin dia merasa malam ini tidaklah sesempurna yang dia bayangkan. Kami kembali ke meja dan memesan main food. Kami menikmati hidangan dengan cepat tanpa perlu mengunyah tigapuluh enam kali sesuai anjuran dokter. Itu mungkin karena Eva mengimbangi kecepatan caraku menghabiskan makanan. Eva curiga!! Aku tidak perduli. Aku akan sangat senang bila karena ini semua, Eva akan meminta putus dariku. Sungguh itu kabar baik yang sangat ingin aku dengar sekarang juga. Hingga akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan tempat ini dan kembali pulang kerumah setelah mengantarkannya kembali kerumah sakit. Pada kenyataanya Eva sangat keberatan dengan permintaanku, alasannya karena dia belum menikmati secara utuh kebersamaan kami. Aku menggandengnya, aku membantu membawakan candy bag-nya. Dengan bibirnya yangmengerucut dan muka sedikit masam, dia berjalan mengikuti langkahku dengan membawa buket bunga pemberianku. Sambil berjalan lambat dan terseok seok. Mungkin kakinya terasa berat, kepalanya direbahkan diatas bahu kananku. Oh Tuhan sungguh berat rasanya korban perasaan. Malam ini tidak ada yang bisa membuatku tersenyum puas. Ini semua membuatku menderita. Aku tidak punya kesempatan untuk meluapkan emosiku, maka aku ingin sekali melajukan Peugeot-ku dengan kecepatan yang cukup untuk membelah jalan. Sayangnya aku tidak melakukan sesuai keinginanku, aku tidak sampai hati membuat Eva kembali kecewa. Suasana terasa hening meskipun kepala Eva kembali bersandar dibahuku. Sedetik kemudia Eva sibuk membuka topik untuk memecahkan keheningan antara kami, aku merasa jauh dengan topik itu, akupun tidak menyadari dan nyaris tidak mendengar dengan topi yang sedang dia bicarakan. Konsentrasiku pecah, suaranya hanya terdengar samar ditelingaku. Aku sibuk memperhatikan jalan. Aku disibukkan memikirkan kebenaran berita burung yang aku denger beberapa hari yang lalu. Kabar burung yang menceritakan secuil berita tentangnya. Aku merindukannya oleh karena itu aku siap untuk dipenjarakan seumur hidupku dalam dunianya. Tiba tiba saja….
“kau dingin sekali malam ini?”
Suara itu menarikku dari dunia fantasi ke dunia nyata. Dia berhasil membuat aku menjadi pucat
“ahh…perasaanmu saja! Aku hanya memperhatikan jalan.mungkin karena suhu, biar aku nyalakan pemanasnya” aku tidak melihat apa yang sedang dia bicarakan, aku hanya mendengar dia sedikit menggerutu. Konsentrasiku buyar, kepadatan jalanan kota mulai ramai dan di sisi yang aku lewati terasa sedikit merayap karena terlalu padatnya arus kendaraan. Tapi tidak disisi kanan, lengkaplah sudah rasa kesalku ketika sebuah Porsche melewati Peugeot-ku dengan kecepatan yang maximal “DAMN IT,SUCK!” teriakku. “kau baik saja Eva?” Eva hanya diam sambil memegang dadanya, kurasa dia juga terkejut sama seperti aku “I’m okey! Just a little shock” setelah aku mengamati wajahnya yang berubah pucat, dia sedikit sumringah. “Va…are you okey?” dia hanya melirik “bernafaslah dalam dalam, atur nafasmu!” aku berusaha mengendalikan pikirannya yang berubah pucat pasi dan sedikit mengejang karena Porsche gila itu. “kencangkan sabuk pengamanmu!” nadaku terdengar memerintah sedangkan Eva marah karena tahu maksudku terlebih saat dia melihat aku menekan gas dengan emosi dan melajukan dengan kencang lalu menghampirinya mengeluarkannya dan menghajarnya. Ide gila itu muncul begitu saja dalam otakku meskipun aku merasakan tidak pernah seemosi ini. Aku terus berlari kencang hingga tanpa sadar aku membuat Eva bergidik. Mata Eva terus memlototiku tapi itu tidak bisa mencegahku bahkan ide gila untuk menghabisi mobil itu semakin kuat. Mataku kembali menyipit ketika tangan Eva menarik lenganku dengan cepat “cukup! Biarkan saja dia lewat!” lanjutnya dengan emosi, pada akhirnya aku berhenti untuk menyudahinya. Ini semua kulakukan demi Eva meskipun aku tidak terlalu mencintainya. Aku berusaha keras untuk mengendalikan emosi dan di saat yang sama semua wajah kembali nampak nyata seperti mengatakan sesuatu dengan bibir indahnya tanpa bersuara “ itu jauh lebih baik!” sekejap mata bayangan itu kembali menghilang dan menyisakan kekecewaan untukku. Yang bisa aku lakukan hanyalah memejamkan mataku agar aku sedikit tenang lalu kukatakan dalam hati AKU SANGAT MERINDUKANMU. Eva memelukku, matanya yang sayu mengamatiku tanpa berbicara sedikitpun. Andai saja Eva tahu tentang isi hatiku, aku menjamin dia tidak akan lagi sudi mencintaiku sebesar ini dengan kesabaran yang sungguh luar biasa. Aku meraih tangannya sambil kucium keningnya. Entah apa yang ada di kepalaku, yang jelas untuk malam ini pikiranku tidak terlalu sehat. Eva begitu manja, membuatku semakin merasa berdosa memainkan sifat burukku. Oohh…Eva kenapa kau sangat mencintaiku?...kau tau kalau aku tidak terlalu menyukaimu.kuberanikan diri menatap matanya lalu membelai rambutnya. Hatiku ingin menjerit saat dia mengatakan “aku sangat mencintaimu Mayong” pengakuan Eva kembali membuatku merasa lelah, diam membisu itu lebih baik dan memutuskan untuk tetap berpura pura senang dengan senyuman palsu sambil mengepalkan telapak tangan kiriku. Ingin sekali aku katakan padanya EVA CARILAH PRIA LAIN JANGAN HABISKAN WAKTUMU UNTUK MENCINTAIKU SAMPAI KIAMATPUN HANYA TERBENTUK UNTUKNYA.
Ketika kami berdua melanjutkan perjalanan di tengah kota , kami kembali mendapati kemacetan dan kali ini benar benar total. Awalnya aku berfikir karena traffic light mati atau bisa saja karena event maklum saja ini jumat malam pasti banyak hiburan yang membuat kemacetan. Ternyata aku salah…..
Kami berdua kembali mendengar ledakan yang cukup keras. Tadinya suara ledakan itu terdengar cukup keras dan dari jarak pandang seratus meter, kami melihat sebuah api yang menyambar dan memunculkan kepulan asap. Suara gaduh di jalanan mulai bergejolak. Sebagian dari mereka tampak penasaran, sehingga banyak diantara mereka mengerumuni sesuatu. Sebagian lagi menjauhi tempat kejadian, takut tersambar api. Tidak ada wajah ceria diantara kerumunan orang yang aku dapati. Ekspresi mereka dari yang aku amati hanyalah kengerian dan kesedihan yang penuh dengan kekhawatiran. Kepanikan dimana mana. Mereka membuat kami penasaran. Aku terpaksa mengehentikan mobilku ditepian jalan. Aku melepaskan sabuk pengaman. Ada sesuatu yang sepertinya telah berbicara padaku meskipun tidak terdengar jelas. Ada sesuatu yang menarikku disekitar lingkaran kerumunan orang orang. “hei…kemana kau akan pergi!” Eva berusaha menghalangiku, kali ini aku tidak terlalu menghiraukannya “tunggulah disini!” bentakku dengan nada yang tinggi dan kesal. Aku tidak menyadari perlakuanku cukup terdengar kasar saat membanting pintu mobil “mayong!” rasa penasaran ini kuat sekali mempengaruhiku. Bahkan cukup kuat untuk menghunus sebuah pedang. Aku terus berlari menuju kerumunan mobil. Dan kini mobil yang terbakar itu kembali meledak, dari kejauhan samara-samar aku mendengar suara sirine pemadam kebakaran. Aku yakin salah satu dari mereka telah menghubungi mereka. Suara hatiku sepertinya masih membimbingku menuju di suatu kerumunan yang padat melingkar. Debar jantungku berdegup lebih cepat, darahku mengalir deras. Tiba-tiba saja rasa takut menyelimutiku, sayup-sayup di tengah keramaian aku mendengar seorang bocah laki-laki menangis histeris memanggil orangtuanya. Perasaan ini mengatakan kalau anak tersebut pastilah yang mengalami kecelakaan barusan dan mereka adalah orangtua anak itu. Rasa iba kembali mempengaruhiku, aku menoleh kearah belakangku, ternyata Eva sudah berada di ujung mobilku, duduk diatas kap mobil depan dengan menggigit jarinya. Tentulah dia khawatir. Tanpa memperdulikan Eva, aku terus menerobos masuk kedalam kerumunan itu. Dugaanku ternyata benar, anak lelaki itu adalah korban dari kecelakaan. Dua orang wanita muda berusaha menenangkan anak itu, sayangnya mereka terlihat seperti kesusahan. Dan ketika aku mendekatinya, isakan tangisnya mulai terdengar memelan. Aku mengamati bocah itu dari atas kebawah lalu dari bawah kembali keatas hingga beberepa kali. Sepertinya dia anak keturunan Indonesia , semakin dekat bila kuamati wajah bocahnya itu kembali mengingatkan aku pada seseorang. Semakin aku mendekat dia semakin tenang, tanpa aku sadari tangan kanannya meraih tanganku untuk mendekati tubuh wanita muda yang tergeletak di punggung jalan sambil merengek dan duduk dihadapan wanita itu. “mommy…mommy..bangun” sosok itu seperti aku kenal, hanya saja wajahnya tidak teralalu jelas untuk aku amati. Jantung ini kembali berpacu kencang, yah aku mengenalnya, wajah ini membuat aku terkejut hingga pucat, keringat dingin membanjiri tubuhku yang melemas membuatku takut saat menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Hanya sekedar untuk lebih meyakinkan intuisi. Anak itu mengawasiku. Mata kami bertemu lalu tertumbuk pada wanita yanga ada dihadapan kami. Rasanya bagaikan disambar petir. Tubuhnya yang lunglai tergeletak,kusambar begitu saja, tanpa berpikir panjang lagi aku menggendongnya. Ketika semuanya memperhatikan aku.
“wanita ini adikku!” beruntung, mereka percaya begitu saja dengan penjelasanku
“KIDS!....bantu aku mengemasi tas milik mommymu” bocah itu mengangguk
“ohh Elaine bangun…bangunlah sayang, ayo KIDS kau ikut denganku”
“baik,…bawa mommyku kerumah sakit!”
“tentu sayang,tentu…tentu saja. Siapa namamu?”
“Yusuf!”
“baiklah Yusuf, pegang ujung bajuku ya! Jangan kau lepas, kita harus berjalan terus menerobos cepat, oke!”
Kurasa dia mengerti karena mengangguk. Aku berlari kecil sambil sempoyongan menggendong Elaine. Sungguh aku tidak percaya bahwa Tuhan memepertemukan kami malam ini. Meskipun tidak dalam kondisi dan suasana yang baik. Eva berlari menjemputku sambil menggandeng tangan Yusuf.
“kau kenal mereka?” aku hanya mengangguk “namamu siapa sayang”lanjutnya pada Yusuf
“Yusuf, Dokter!”
“oohhh dear bagaimana kau tahu kalau aku dokter?”
“jacketmu!”
“Eva cepatlah, aku ingin membawanya kerumah sakit!” pintaku ”bertahanlah kumohon bertahanlah!”
Aku tahu Eva sedang kebingungan memperhatikan kami. Tapi sungguh aku tidak perduli dengan apa yang ada dalam pikirannya
“aku yang menyetir dan bila kau tidak keberatan…tolong temani dia dibelakang aku takut akan terjadi apa apa dengan Elaine!”
“Elaine?”
“yah Elaine…!!!”
“baiklah”
“thanks! Yusuf, kau mau duduk didepan bersamaku!” dia mengangguk.
“apa mommy akan kembali tersenyum!”
“tentu sayang. Bersabar dan berdoalah!”
“baiklah. Aku akan meminta kesembuhan mommy pada Tuhan, tapi bagaimana dengan Daddy-ku?”
Pertanyaan bocah ini membuatkui lemas. Aku tidak yakin dengan jawabannya
“aku sudah menelephone ambulans untuk ayahmu!” sahut Eva yang mencoba membantuku memberi jawaban
“thanks Eva!”
Tidak ada lagi seuntai senyumku untuk Eva, meskipun dia sudah membantuku. Aku hanya mengkhawatirkan kondisi Elaine. Aku tidak ingin kehilangan dia. Tidak juga ingin melihatnya membujur kaku seperti mayat.
“Mayong…mayong, cepatlah..jantungnya mulai melemah!”
“oh tidak…tidak…tidak Tuhan, selamatkan dia Tuhan, selamatkan dia!” secepat mungkin aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan penuh, beruntung jalan tidak macet bahkan cenderung sepi.
Sesampainya di rumah sakit, Andreas dan timnya siap memberikan perawatan pada Elaine. Kami berlari kencang menuju emergency room, Yusuf ketakutan melihat Ibunya dilarikan kencang. Dia melihat kepanikan tim medis. Aku berusaha memeluknya meskipun eva sudah menggendongnya.
“sayang, kami semua dokter. Mommy-mu akan sembuh. Jadi tetaplah untuk tenang…oke buddy!”
“berjanjilah kau akan menyembuhkannya!”jari kelinkingnya ditempelkan ke jari kelingkingku sembari tersenyum, turun dari gendongan Eva.
“aku akan membawanya keruanganku!”
“terimakasih” aku berusaha dengan hangat untuk mengecup kedua pipinya sebelum mereka berdua meninggalkan aku di depan sebuah pintu emergency room. Seorang perawat memberiku uniform dan beberapa keperluanku seperti sarung tangan, masker stetoskop. Aku bergegas masuk ke ruangan. Andreas sudah memberinya infuse, jantung Elaine masih terlihat lemah, meskipun tim medis sudah memacu jantungnya. Andreas memberiku sebuh gunting tajam
“aku pikir kau yang pantas untuk menggunting bajunya. Tolong jangan katakan padaku bahwa dia gadis indonesiamu. Karena dia adalah istri duta besar Indonesia untuk Australia !”
“kau tidak salah!”
“ya Tuhan, sepertinya dia hamil!” matanya mengawasi sebuah bayangan yang bergerak dalam layer, sembari menggerakkan alat sensor unutk mengecek kondisi Elaine.
“benarkah?”
“kurasa kehamilannya memasuki bulan kelima, akan aku berikan hasil USG-nya nanti”
Aku lemas mendengar penjelasan Andreas, kabar burung itu ternyata benar. Rasa cemburu mulai mempengaruhiku, jujur saja aku tidak sanggup memegang gunting ini, tanganku bergetar. Guntingnya kuberikan begitu saja pada seorang suster, kutarik dan kujambak rambutku sendiri. Pusing sekali kepalaku. Aku terdiam sebentar di sebuah kursi sudut. Aku merasakan penyesalan yang sangat terlambat ketika menemuikannya. Hingga dia memiliki Yusuf. Eva menghubungiku dengan sebuah pesan singkat.
“sayang….sepertinya Yusuf lebih membutuhkanmu!” seketika itu juga aku berlari keluar ruangan untuk menemui mereka. Aku masih melihat Andreas sibuk mempersiapkan sesuatu untuk Elaine, aku berjalan menghapirinya membisikkan “Drea….tolong selamatkan dia untukku!” hanya mengangguk, tangannya menepuk bahuku. Kurasa dia sangat mengerti kegelisahanku. “aku bekerja dengan bantuan Tuhan, mintalah padanya!”. Ketika aku berlari, pintu ruangan menutup sendiri tanpa mengeluarkan suara. Terus melangkahkan kakiku untuk menemui Yusuf di ruangan Eva.
“heiii…KIDS!” sapaanku terjawab dengan cara dia turun dari pangkuan Eva berlari kencang untuk memelukku. “woouw kenapa spiderman menangis?”tanyaku. aku hanya menebak kalau dirinya sangat mengidolakan spiderman. Jam tangan dan kaosnya bermotif spiderman dengan warna merah dan biru. Eva dan Yusuf tersenyum tipis menatapku. Aku merasa iba melihatnya murung dengan mata merah dan basah karena air mata. Kami berdua mengalami kesedihan yang sama karena orang yang kami cintai, terkecuali Eva.
“aku ingin sekali menemui mommy dan daddy!” dia meminta dengan pelan dan sedikit kesulitan ketika mengatakannya, merengek dipangkuanku yang masih berlutut diatas lantai dengan satu kaki.
“oh boy, sepertinya kau harus bersabar, sayangnya belum bisa untuk menemui mereka malam ini!” aku mencoba untuk mengungkapkan yang sejujurnya tapi aku tidak yakin anak seusia Yusuf bisa mengerti bahasa kesehatan serumit itu.
“oh ya Mayong, kantor kedutaan ingin menemuimu satu jam lagi?” sahut Eva yang menghampiri kami dan membelai rambut Yusuf. Ahhh aku merasa kesal mendengar pesan Eva, aku kesal sekali bila aku berurusan dengan orang orang aristocrat pemerintahan.
“damn it….!!!apa tidak bisa ditunda?”
“aku tidak tahu, aku hanya menyampaikan pesan!”
“Yusuf akan ikut bersamaku, dia terlihat letih dan sangat shock! Yah kurasa”
“apa kau ingin obat penenang untuknya?”
“apa itu baik untuknya? Baiklah! Tolong berikan dosis yang paling rendah”
“Yusuf…apa kau percaya padaku?” Eva menyuntiknya pelan di bagian bokong
“tentu!” matanya menyipit, bibirnya sedikit mengerucut ”ouwww!” yah kurasa dia memang sedikit menahan rasa sakit akibat jarum suntik.
“apa itu sakit?” tanyaku penasaran
“sakit?” Eva kembali mengulang pertanyaanku.
Yusuf hanya mengangguk dan meraba raba bokong bekas suntikan jarum Eva. Sebuah kapas dengan alcohol kutempelkan dan kutahan pada lukanya
“semoga ini mengurangi rasa sakitmu!”
“aku sudah tidak sakit lagi!”jawabnya
kami tersenyum bangga, yah ternyata dia anak yang kuat menahan rasa sakit.
“baiklah, tinggalah bersamaku! Kau percayakan padaku?” Yusuf mengangguk, aku menggendongnya dan memunguti beberapa barang milik Yusuf dan Elaine. Aku tidak tahu apa isinya. Kusambar begitu saja dari meja.
“upss…Eva! Sepertinya aku malas bila aku harus menunggu satu jam lagi untuk menemui mereka. Dan bila mereka membutuhkan aku pasti mereka akan menghubungi aku kembali! Benarkan?”
Eva hanya mengangkat bahunya tanpa berkomentar apapun. Sedikit tersenyum mengamati kami yang mulai akrab, tapi sayang pola senyumnya berbeda. Kesannya kali ini terlihat palsu. Bukan masalah untuk aku. Aku tidak perlu merisaukannya.
“oke…bye, malam!” aku berpamitan tanpa mencium kedua pipi meronanya seperti biasa. Kami berlalu begitu saja berjalan lurus menuju area parker mobil.tidak tahu kenapa aku merasa sangat iba dan sayang pada Yusuf. Sorat mata bocah itu mengingatkan aku pada Elaine. Aku tersenyum sendiri menyadari kekagumanku padanya. Yusuf sepertinya senang saat aku menggendongnya. Tubuhnya terasa berat sekali meskipun dia tidak terlihat gemuk, kepalanya bersandar dibahuku. Sepertinya rasa kantuknya tidak bisa dia kuasai lagi. Pasti ini efek dari obat penenang. Aku menidurkannya di jok sampingku dengan sabuk pengaman yang sudah aku kencangkan, aku tidak ingin saat aku menekan rem kepalanya terbentur dashboard mobil, pasti akan meringis kesakitan bahkan mungkin dia akan menangis. Ooohhh aku tidak akan senang bila itu terjadi. Sepanjang perjalanan kelopak matanya tertutup rapat. Meskipun sudah dengan sengaja aku menginjak gas rem secara mendadak ataupun sengaja melewati jalan yang sedikit berlubang. Tetap saja Yusuf tertidur pulas. Karena itu juga aku tiba tiba saja menjadi paranoid, aku takut hal buruk terjadi begitu saja. Hanya sekedar menghilangkan rasa keraguanku, kutempelkan dua jariku ke arah lubang hidungnya, memastikan bahwa Yusuf masih bernafas. Ya Tuhan betapa bodohnya aku,….terkekeh seperti orang gila karena reaksiku sendiri. Rasa geli ingin tertawa dan kembali aku mengamati struktur tubuh Yusuf serta beberapa karakter yang aku ketahui. Menurutku dia anak yang cerdas dan punya nyali, jiwanya kuat. Yah aku merasa sangat dekat sekali dengan Yusuf, entahlah aku tidak tahu kenapa. Apa mungkin karena dia anak Elaine atau apa? Jauh dalam lubuk hatiku aku ingin sekali mendengar dan melihat kalau suaminya meninggal dalam kecelakaan tadi, apa saja penyebabnya aku tidak perduli. Kedengarannya sangat kejam dengan doa yang aku panjatkan ini. Aku ingin sekali mendengar suaminya meninggal…sangat ingin, dan bila itu benar terjadi maka aku akan punya kesempatan yang lebih banyak dan lebih mudah bagiku untuk mendekati dan mencintai Elaine begitu juga Yusuf. Meslipun aku bukan ayah biologisnya. Tersenyum puas walaupun hanya sekedar membayangkan imajinasi liarku. Meskipun ini belum terjadi. Jujur saja aku sangat mengharapkan itu terjadi tapi sebagian hatiku berkata lain, aku tidak ingin Yusuf menjadi anak yatim. Kedengarannya ini begitu pelik. Kepalaku terasa pusing memikirkan semua hala tentang Elaine. Sepintas bayangan lama mulai merefleksikan kebentuk yang hampir mirip seperti film yang diputar di bioskop. Bayangan lama yang penuh dengan kenangan menyedihkan menghampiriku begitu saja dan siap mengisi kekosongan. Yah aku masih ingat semuanya, dimana dulu untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Elaine. Sosoknya yang anggun, cantik dan begitu sederhana danbagiku semua yang dilakukan selalu bersifat magnet yang siap menarik perhatianku. Oh Tuhan…aku masih sangat mencintainya, aku ingin selalu dekat disekitarnya. Dan mengapa Tuhan, kau mempertemukan kami kembali ketika aku mencoba untuk belajar mencintai wanita lain…kumohon Tuhan bila kau mempertemukan kami kembali janganlah pernah engkau pisahkan kami kembali. Karena aku tidak akan sanggup membayangkan kegilaanku.
Sesampainya di depan rumah, aku kembali menggendong Yusuf dari mobil ke kamar. Sedikit kesulitan saat aku harus membuka pintu rumahku. Maklum saja aku bukan seorang arsitek yang bisa mendesign rumahku dengan semudah kita menekan remote, mirip rumah orang kaya ala Beverly . Meskipun begitu Yusuf masih terlihat nyaman tidur dalam gendonganku. Aku senang melihat dia begitu pulas, aku merasa nyaman bila anak ini nyaman bersamaku meskipun kami baru kenal beberapa jam yang lalu. Apa begini rasanya menjadi seorang ayah, beginikah rasanya memiliki seorang anak?. Oh Yusuf seharusnya kau menjadi anakku sejak dulu.tubuhku terasa letih tidak dengan jiwaku. Aku merasa lebih sedikit bahagia, rasa rinduku sedikit terobati. Meski Elaine belum menyadari kedekatan kami. Sengaja aku membaringkan Yusuf di ranjangku agar aku selalu dekat dengan anak ini. Aku mengkhawatirkan kesehatannya terutama mentalnya. Anak seumur dia harus mengalami guncangan yang seberat ini tepat didepan matanya sendiri, entah apa yang akan terjadi berikutnya dengan anak ini. Aku mengkhawatirkan saat dia bangun nanti. Aku hanya bisa mendoakan agar semuanya bisa tetap membuatnya bersikap tenang. Semoga dia tetap tabah apapun yang akan terjadi dan sabar menjalani perannya kelak. Kulepas sepatunya satu persatu dan kaos kakinya masih terlihat bersih dan harum. Aku mencium aroma kesegarannya. Jacket dan topi aku lepas aku ingin dia merasa nyaman saat tidur tanpa ada yang bisa mengganggunya. Aku mengamati di setiap detail gayanya, secarik tissue basah kuraih untuk membersihkan telapak tangan dan kakinya. Sensasi yang kualami sungguh luar biasa aku semakin merasa senang merawat anak ini. Setelah semua yang kurasakan bersih maka giliranku untuk membersihkan anggota tubuhku sendiri. Aku terbiasa membersihkan diri setiap kali aku selesai beraktifitas dari luar. Aku meninggalkannya sebentar , suhu ruangan kamarku masih terasa sejuk dengan kumpulan ion yang ada di system air conditioner, selimut yang aku pasangkan juga hangat bahkan cukup hangat, lampu kamar aku matikan hanya satu lampu meja yang sengaja aku nyalakan untuk memberikan sedikit cahaya.
Berdiri dibawah shower dengan air yang cukup dingin membuatku terasa sedikit nyaman, membasahi kepalaku yang terasa panas sangat panas. Aku tidak ingin mengalami vertigo. aku kembali mengkhawatirkan keadaan Elaine. Aku juga mengkhawatirkan kondisi janinnya, aku harap mereka masih bisa terselamatkan. Aku tidak ingin kehilangan Elaine, aku tidak ingin dia mengalami depresi karena kejadian ini. Dan ini sangat menggangguku.
Mencoba aku tenangkan diriku kembali, hanya mengenakan piyama tanpa mengeringkan tubuhku yang masih basah, aku duduk di sebuah kursi yang menurutku biasanya terasa nyaman. Tapi tidak kali ini. Pikiranku menjadi keruh memikirkan mereka, aku mencoba menghubungi Andreas. Sialnya…berulang ulang aku mencobanya selalu aku gagal. Aku sama sekali tidak bisa, mungkin ponselnya memang sengaja dia matikan agar aku tidak berusaha untuk mengganggunya. Bagaimana dengan Eva? Yah lewat Eva! Tidak..tidak mungkin. Aku enggan menanyakan hal ini padanya.meskipun aku sangat yakin dia pasti akan membantuku mencarikan informasi yang aku butuhkan. Berdiam diri disini menunggu kabar bukanlah hal yang baik. Tapi aku Gila bila aku meninggalkan Yusuf sendirian dirumah. DAMN IT!! Ternyata tidak ada jalan lain selain menunggu. Hanya bisa berharap agar Andreas si gila itu bisa menghubungi aku secepatnya sebelum aku mati penasaran. Dan aku juga berharap bahwa Andreas tidak benar-benar sengaja membuatku menjadi gila tentang Elaine. Mengambil nafas panjang adalah ide yang bagus dan murah untuk aku lakukan saat ini. Tuhan memberikan udara secara gratis sebanyak apapun aku mengambil oksigen ciptaanya. Terus mencoba menenangkan diri itulah yang terus aku lakukan. Baru aku bisa pergi ke dapur memasak ataupun mencari sesuatu yang bisa mengisi lambungku. Yah kali ini aku membutuhkan banyak serotonin,kromium dan magnesium. Kubuka lemari es, baru aku bisa menemukan apa yang aku inginkan. Akhirnya aku sedikit senang bisa mendapatkan yang aku mau dan sangat aku butuhkan saat ini. Secangkir coklat panas dengan beberapa rotibakar isi selai apricot yang masih dingin baru kuambil dari lemari es. kubawa saja semua ke kamar, kupastikan kompor gasku dalam keadaan mati setelah aku pakai, begitu juga dengan pemanggang rotiku. Aku tidak suka bila harus meninggalkan Yusuf terlalu lama. Dan ketika melihatnya masih tidur pulas seperti itu membuatku senang. Aku tidak pernah melihat anak kecil seperti Yusuf. Senyumnya manis sekali semanis Elaine. Pikiranku kembali tegang, melihat jam tanganku sudah menunjukkan tepat jam dua pagi. Benar…aku tidak bisa tidur. Aku malas menikmati hidangan yang baru saja aku buat. Aku mengkhawatirkan Elaine terus menerus. Sangat…sangat khawatir. Mencoba terus bersabar dan berbaring disamping Yusuf setelah aku keletihan mondar mandir mengelilingi kamarku. Tidak ada suara selain jantung Yusuf yang terus berdetak. Dan kini semua lampu kamar telah aku matikan agar aku bisa sedikit merasa tenang dan bisa istirahat. Hanya sinar langit cahaya malam yang menerobos masuk lewat kaca jendela kamar. Aku membiarkannya menerobos dengan tirai yang sengaja aku buka. Kubelai rambut Yusuf yang hitam dan lemas itu benar benar lembut. Aku mencium keningnya. Rasanya aneh sungguh sangat aneh. Seperti ada aliran listrik mengalir dalam darahku. Aku terkejut,apa arti semua ini. Pengalaman aneh itu membuatku menjadi gila, rasanya aku seperti mencium Elaine….dan aku tersentak begitu saja. Aku tidak siap dengan ini semua.
Lamunanku buyar saat I-phone4s milikku bergetar. Rasa senang dan juga khawatir membuat jantungku berdebar ngeri nyaris mendekati rasa takut yang sedikit berlebihan semuanya bercampur jadi satu.
“sudah hampir jam tiga pagi dan kau belum juga tidur, gila!!”
“diam! Bagaimana Elaine? Tolong ceritakan yang jelas ceritakan semuanya padaku tanpa satupun yang terlewatkan!” aku membentaknya saat aku berusaha menjauhi Yusuf agar tidak terbangun dari nyenyak tidurnya karena kau juga takut dia bisa terbangun oleh pembicaraan kami.
“dengar Mayong. Emmm…ada dua kabar yang ingin aku sampaikan padamu. Tentunya untuk kesenangan dan kesedihan!” suaranya terkekeh tapi berubah menjadi serius
“setan, apa maksudmu?”
“tenang dokter, tenang!”
“ayolah…”aku muak mendengar tertawanya yang lantang “cepat katakan padaku Andreas atau aku akan membunuhmu tanpa ada darah yang keluar dari tubuhmu?” tawa Andreas semakin menjadi-jadi sakit sekali saat mendengarnya tertawa lepas
“oke..oke…cukup!”
“baik mulailah langsung dari sekarang!” bentakku
“well…jantung kekasihmu mulai membaik yah meskipun belum dalam ritme normal, tapi untuk janin yang ada didalam perutnya terus menerus melemah aku mengkhawatirkan kesehatan mereka berdua. Tentu saja kau tahu maksudku”
“tolong selamatkan Elaine bila salah satu dari mereka harus terpaksa dikorbankan! Kumohon tolong aku Andreas…kumohon”
“dengar bodoh,… tanpa kau mintapun sudah pasti aku akan menyelamatkan nyawa pasien. Oohh.. satu lagi Mayong, kami tidak bisa menyelamatkan Zarkasih suaminya”
Aku sama sekali diam tidak bisa menjawab. Otakku sibuk memikirkan sesuatu begitu juga hatiku yang sibuk memikirkan….entahlah aku sudah terlalu bingung saat hendak mengatakan pada Andreas. Tapi yang jelas dan pasti aku sedikit senang mendengarkan kabar yang dia sampaikan untukku. Hatiku senang mendengar berita kematian pria itu. Sedikit tersenyum cukup membuatku merasa menang.
“hei…mayong! Apa kau juga mati!apa kau masih bisa mendengarku?”
“ouu…yeah …he eh…emmm aku akan datang besok secepatnya ke rumah sakit setelah aku selesai merawat yusuf tentunya”
“apa dia anak yang kau bawa kemarin?”
“yupe…aku perlu memberinya beberapa potong bajub dan mainan sekedar untuk membuat hatinya sedikit terhibur. Hanya untuk membuatnya ceria dan meninggalkan kesedihan. Kau tahukan pengalamanku soal anak kecil masih nol besar apalagi memainkan peran menjadi ayah meskipun hanya untuk satu hari. Bagiku itu sulit”
“tapi sepertinya kau sudah expert! justru yang aku takutkan kalau Eva cemburu
“apa? Eva? Oh Tuhan kurasa aku baru saja melupakannya!”
“kau gila! Sungguh gila!”
Sungguh rasanya enggan sekali membuka topic tentang Eva. Nyaris aku melupakan nama itu bila bukan Andreas yang menyebutkan namanya untuk mengingatkan aku bahwa dia kekasihku. Sepertinya semua hal mengenai Eva memang harus aku sisihkan terlebih dahulu. Aku tidak ingin salah langkah. Apalagi sampai kembali kehilangan Elaine untuk kedua kalinya. Karena bagiku Elaine adalah segalanya. Meskipun sejuta pertanyaan menyerangku dan pertanyaan yang paling basic adalah APAKAH ELAINE MASIH MENCINTAIKU? Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang pernah aku lakukan dulu padanya.mungkin…bila aku berada diposisinya pasti aku juga akan berbuat hal yang sama. Bahkan aku sangat membenci sikapku dengan teramat sangat. Lama terdiam, aku jadi tidak bisa berkonsentrasi kuputuskan begitu saja untuk mengakhiri pembicaraanku dengan Andreas tanpa mengucapkan kata penutup yang pantas dengan ucapan thanks.hatiku mulai sedikit tenang mendengar kabar yang disampaikan Andreas. Kini rasa kantuk mulai menyerangku dan sangat menguasai pikiran. Kurebahkan tubuhku kembali disebelah kanan Yusuf yang masih tertidur pulas. Kulitnya halus kucium lagi keningnya yang membuatku terasa nyaman aku ingin sekali memeluknya erat, dan itu sangat mudah untuk aku lakukan. Aku merasakan benar benar ada hubungan special antara kami berdua.
Tepat pukul sembilann pagi, ketika sinar matahari mulai menerobos masuk jendela kamar hingga membuat mataku menjadi silau. Aku terbangun. Ahh rasanya malas menginjakkan kakiku dilantai. Tangan Yusuf beralih memelukku. Sensasi senyumannya luar biasa mempengaruhi mataku mampu membuatku tersenyum dipagi hari yang biasanya tidak pernah aku lakukan. Bocah ini tertidur pulas tanpa memikirkan kondisi yang menimpa kedua orang tuanya. Mungkin dia bermimpi indah. Mata terpejam tapi mampu mengurai senyum yang indah. Aku merasa terhormat bila dia mau mengangkatku sebagai ayah tirinya. Beberapa menit kemudian bocah itu terbangun dari tidurnya, wajahnya sedikit murung, tanpa senyuman manis dia lama terdiam . tatapan matanya tajam siap untuk membunuhku. Memberi senyuman untuknya kuharap bisa membantu melemahkan ketegangan yang di alaminya. Aku tahu apa yang membuatnya menangis.
“hei…buddy, aku harap kau bisa tersenyum untukku, yah sedikit saja” aku merengek seperti seorang pecandu yang membutuhkan beberapa gram morfin “come on buddy, kita akan shopping dan membeli bunga untuk mommy. Katakan padaku kau setuju!” yah berhasil… dia tersenyum
“tentu, aku rindu mommy!”
“bagus!”
Sayangnya Yusuf kembali terdiam lama dan melamun, aku rasa dia sibuk memikirkan sesuatu. Tangannya sibuk memainkan tali guling. Pandangannya kosong. Nyaris tidak berkedip. Lima menit kemudian dia mulai tersadar dari lamunan. Aku mendekatinya dengan membawakan segelas susu. Saat aku menyentuh dahinya terasa sedikit hangat. Matanya kembali menatapku. Dan aku hanya mengernyitkan dahi. Ya Tuhan, aku bingung sekali untuk mencari cara agar Yusuf bisa lebih sedikit santai, kurasa dia tipikal pemikir.
“hallo, ada orang disana?” dengan tersenyum dia mengangguk
“aku mau mandi!” jawabannya terdengar kaku
“aku sudah menyiapkan keperluanmu, dikamar mandi! Itu handuk baru dude”
Satu jam kemudian, kami meninggalkan rumah sesuai dengan rencana awal yang kami susun semalam saat di rumah sakit. Aku mengajaknya ke sebuah department store khusus untuk anak seusianya. Tentu saja, itu sedikit menghibur dirinya yang secara tidak langsung mulai berhamburan ketika melihat beberapa koleksi spiderman terbaru. Kami terpisah di sudut yang berbeda, sudah kukatakan padanya dia bebas membeli apa saja yang dia inginkan tanpa terkecuali. Aku punya anggaran khusus untuknya. Tentu saja itu masuk didalam anggaran tidak terduga. Kaos ,sepatu ,celana ,jacket ,kaos kaki, topi, jam tangan atau apapun yang dia suka, Yusuf tinggal mengambilnya dan kasir cantik itu tinggal menghitung berapa uang yang harus aku keluarkan untuknya. Asal dia senang itu sudah memberiku kepuasan tersendiri. Aku merasa kami ada ikatan bathin yang belum bisa untuk diuangkap, mata kami sering mengatakan itu. Dan sedikit banyak aku mulai mengenalnya lebih dalam dibanding semalam. Pola pikirnya yang rasional lebih terlihat matang dibanding dengan usianya. Gayanya berpakaian terkesan modis, kurasa dia mewakili Elaine-ku yang sederhana tapi details. Sekilas senyumnya mulai terukir untukku ketika aku mengamatinya saat mencoba sepatu cickers warna coklat tanah. Aku mengangguk…
“mbak tolong hitung semuanya?” saat mendengarku dia menoleh ke arahku mukanya seperti terkejut. Dan seorang kasir dengan ketrampilan menghitung kini mulai sibuk dengan barang yang dipilih Yusuf
“tolong sisakan satu stel sesuai selera anak saya!” salah satu teman kasir itu membantu untuk memasukkan barang-barang yang sudah mereka hitung. Yusuf masih sibuk memilih baju yang mana yang akan dia kenakan langsung. “yang mana, bagaimana kalau kau memakai yang biru bergaris putih itu sebagai mantel dan kaos merah bisa kau kenakan didalamnya, pasti kau akan terlihat cool. warnanya juga cocok dengan jam tangan yang kau punya!” aku mencoba memberikan saran, yah..meskipun aku tidak terlalu yakin dengan itu.Tangannya menunjuk ke sebuah celana jeans berlabel cickers dengan kaos yang bermerek sama, sesuai dengan yang aku usulkan.
“kau mau aku membantumu?” dia hanya menggelengkan kepala dan berjalan lurus tanpa menoleh masuk ke kamat ganti. Dan saat dia meninggalkan aku, pikiranku mulai kacau sesaat. Bayangan Elaine terus mempengaruhi. Aku butuh waktu untuk menyusun struktur kalimat. Aku butuh mempersiapkan nyali dan membanguh kepercayaan diri yang optimal. Bingung dan bingung itulah yang melandaku saat ini. Aku mencintainya, rasa takut untuk mengakuinya terus menggelayuti siap meruntuhkan segalanya. Aku takut dengan ekspresinya nanti, apakah yang akan terjadi antara kami. Apakah dia marah? senang!kesal! atau bahkan membenciku?. Terus memainkan jari hanya untuk menghilangkan rasa gugup, sekeras mungkin kukepalkan tanganku serasa siap menghajar puluhan tentara yang menghadang. “tolol!tolol!...tolol!” sebenarnya kata kata ini pas sekali untukku tapi sepertinya dia salah….yusuf salah mendengar, dia mengira…
“benarkah?”
“tentu tidak buddy, kau tampak hebat. Hanya saja pria arah jam empat yang mengajak kekasihnya itu terlihat tolol, aku rasa! Ceweknya cantik dud,…sayang sekali prianya terlihat terlalu tua, gemuk, kulitnya menggelambir, dan jelek walaupun kulitnya tidak terlalu hitam!” yah berhasil, aku berhasil mendengar tawanya yang renyah seperti krupuk. Tentu saja aku berbohong. Seorang kasir kembali menghampiri kami dengan menyerahkan kartu kreditku dan minta tanda tanganku di beberapa sales draft yang dia sisipkan diantara nota. Barulah Yusuf menerima sekantung plastic besar penuh dengan barang yang dia pilih.
“terimakasih!”
“terimakasih kembali pak! Putranya tampan sekali. Pasti ibunya cantik”
Jelas Elaine sangat cantik, banyak pria yang dibuatnya patah hati. Aku hanya mampu tersenyum tanpa bisa mengintrupsikan kebenarannya.
Kami meninggalkan outlet tersebut mencari beberapa restaurant atau kedai yang bisa menawarkan kami menu dengan nafsu yang luar biasa untuk kami santap. Sayangnya kami sama sekali tidak berselera untuk menelan atau bahkan membayangkan kenikmatan masakan mereka. Terpaksa kami membeli dua buah burger dengan dua botol sparkling water lalu kami keluar dari kawasan tersebut, untuk menghampiri toko bunga milik nyonya Angela. Wanita setengah baya itu baik sekali padaku. Katanya, aku orang asia yang cukup romantis. Aku tidak tau apa maksudnya melontarkan kalimat tersebut. Benar tidaknya aku tidak perduli. Nyonya Angela, sangat menyukai penampilan Eva. Bila aku datang membeli bunga bersamanya pasti harganya lebih murah. Eva? Astaga! Aku lupa tentangnya. Aku mengehentikan mobilku persis didepan pintu masuk toko bunga Angela. Matanya terus mengamati kami, mungkin terlihat aneh, karena aku datang bersama Yusuf. Aku menebak, pasti dia diburu rasa penasaran yang luar biasa….
“oh,,,dokterrr! Siapa yang datang bersamamu ini, wajahnya tampan seperti malaikat. Mawar yang anda butuhkan akan segera Gil siapkan!” Gil tanpa komentar langsung berhambur ketaman. “ooohh halo tampan! Siapa namamu!”
“Yusuf!”
“Yoshep?”
“Yusuf…YU..SUF!”
“OOO…YU SEV?
“YELLOW…UNIFORM…SERA…UNIFORM…FANTA!” OOOUUU suaranya terdengar kesal
“I see…, maaf aku sulit mengikuti accentmu!”
Kami berdua tertawa, dan aku buru buru menghentikannya, ketika matanya melirik ke arahku.
“maaf nyonya, kali ini bukan mawar merah yang saya butuhkan!”
“kenapa?”
“tolong rangkaikan beberapa bunga krisan putih, dan deasy berwarna maroon, dan kalau boleh aku request saya menginginkan pita berwarna putih gading, atau ivory”
“oh tentu…tentu saja, baiklah Gil bawakan pesanan dokter Mayong!” teriaknya pada Gil di taman yang hampir selesai merangkai bunganya untukku.
“dia pantas jadi anakmu?” lanjutnya
“benarkah!”aku jadi penasaran,sayang Mrs angela hanya tersenyum sambil memberikan bunga yang aku minta, aku yakin dia sengaja membuatku penasaran.
“terimakasih!” aku berikan sejumlah uang, dan dia memberiku dua kuntum mawar “GRATIS!” bibirnya tersenyum dengan mengedipkan mata topas-nya lalu melambaikan tangan pada Yusuf. Sayang Yusuf tidak menghiraukannya dan pura pura tidak memperhatikan wanita itu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, anak ini terus menatap dan memperhatikan aku. Saat aku merenspon tatapannya, justru dia malah menolak bahkan lebih dulu menghindariku. bibirnya sedikit bergetar saat melihat buket bunga untuk ibunya. Aku berfikir sendiri, apakah ada yang salah dari buket itu? Atau bahkan aku sudah melakukan sesuatu hal yang menyinggungnya tanpa sengaja? Kuarasa tidak!. Serasa ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku. Satu hingga dua menit aku menunggu, tiga hingga lima menit selanjutnya aku masih menunggu bahkan. Aku sabar menunggu bahkan hingga lima belas menit sudah aku menunggu tanpa hasil ‘NOL’. Hanya sekilas pandang dan beradu senyum palsu. Aku mengerti apa yang dia pikirkan, dan sepertinya dia juga tahu kalau salah satu orangtuanya tidak bisa kami selamatkan. Aku rasa nalurinya yang berbicara. Sayang sekali aku merasakan kesenangan yang luar biasa bila Zarkasih yang meninggal. IRONIS! Aku mencintai jandanya. Sayangnya aku tidak terlalu menikmati kebahagianku, terlebih saat melihat Yusuf yang terlewat sedih mengekspresikan suasana hatinya. Benar seperti dugaanku.
“semalam, aku bermimpi…eemmm daddy pergi bersama Alice , calon adikku. Daddy bilang. ‘tolong jaga mommy untuk daddy dan Alice, sayangnya mommy diam saja” seketika itu tangisnya meledak, membuatku menghentikan laju mobil dengan tiba tiba begitu saja di dekat sebuah taman bermain. Hatiku perih..perih sekali mendengarnya. Aku memeluknya erat, rambutnya yang halus dan hitam kubelai dengan lembut lalu kebesarkan hatinya yang sedikit rapuh “dengarkan aku spider boy , sepertinya Tuhan sangat mencintaimu sehingga kau harus menerima beberapa ujian dalam waktu yang sama karena Tuhan mempercayakan tanggung jawab yang begitu mulai. Semua yang engkau alami saat ini pasti akan menjadikanmu kelak sebagai orang yang dewasa penuh keariefan dan tanggung jawab. percayalah aku selalu bersamamu dude!” hati kecilku berkata tentang sesuatu yang tidak bisa aku tuangkan dalam bentuk bahasa. Aku trenyuh ketika mendengarkan curahan hatinya, sedih mendengarkan ini semua, bila Tuhan mengizinkan aku boleh mengambil kesedihannya pasti sudah kulakukan. Tertahan di lidahku saat ingin aku sampaikan bahwa sesungguhnya apa yang dia rasakan adalah sebuah bentuk firasat. Mungkin aku tidak setegar dirinya bila aku mengalami situsai dan masalah yang sama diusia yang semuda ini. Rasa sesak kembali aku rasakan, nyaris ada batu setinggi gunung yang menyesakkan. Yusuf menatapku lalu menangis tanpa suara hanya untuk beberapa detik kedua tangannya menghapus sisa air mata yang ada di pipinya “uncle, lanjutkan saja!” suaranya terdengar parau saat memerintah. “tidak,…sampai air matamu mengering” mungkin dia tidak mendengar jawabanku karena sengaja nada suaranya aku pelankan. “boleh aku bertanya sesuatu? Emm..tentang mimpimu!” matanya melirik ke arahku tentunya sebelum dia membuang wajhnya yang manis itu. Kini kepalanya tertunduk, matanya menyipit, bibirnya mengerucut. Tiga detik kemudian bibirnya yang terkunci mulai menjulurkan lidah hendak mengatakan sesuatu yang begitu berat meskipun fungsi lidahnya hanya untuk membasahi kedua bibirnya. Baru aku sadari mungkin pertanyaan yang aku ajukan padanya terlalu berat sehingga dia merasa kesulitan saat hendak menjawab “ohh…DUDE…tidak masalah bila kau tidak menjawab,oke! Anggap saja aku tidak pernah menanyakan masalah ini padamu!”sedikit menoleh dan mengusap kepalanya dengan lembut. Sayang tanganku dibuang begitu saja. Sorot matanya tajam, walaupun kelopak matanya terlihat sembab. Kami saling membuang muka menikmati pandangan jauh ke samping, kami sama sekali tidak tahu apa yang kami cari, tidak ada obyek yang bisa dikatakan menarik secara visualisasi. “bila Tuhan menginginkan aku kehilangan salah satu kedua orangtuaku,…” lama terdiam, aku menyesal menanyakan hal yang konyol seharusanya aku tahu bahwa itu sangat pribadi. “pasti aku akan memilih mommy untuk menemaniku tetap bersamaku! Mommy lebih menyayangiku!” telingaku merasa janggal mendengar penjelasannya. Seratus pertanyaan menyerang dan menyambar ke impuls sarafku, begitu cepat tersusun beberapa list membentuk sebuah folder di otak berlabel ‘?’ big question. Ada apa dengan mereka? “kau membenci ayahmu?” kupelankan suaraku sepelan mungkin dan memasang muka setenang mungkin hanya untuk memberikan pertanyaan tanpa meninggalkan high temper. Tangan kanannya memberikan sinyal agar aku menyalakan mesin mobilku. Rasa patuhku membuat Yusuf bermurah hati untuk memberiku sebuah senyuman. Kami kembali melewati jalan yang sepi bebas hambatan dan masih bebas polusi padat. Matanya masih menerawang jauh kedunia lain tanpa suara, aku tidak ada kuasa untuk menariknya kembali ke alam nyata. Terus mencari cara untuk membuatnya tersadar. Bahkan saat aku mencoba akan menabarak sebuah pohon, tetap saja itu membuatku geli. Bagaimana tidak? Aku yang terkenal cuek dengan sekitar tapi justru aku terkecoh dengan anak kecil yang duduk disampingku. Aku takut meskipun hanya menatap kaca spion. Hanya sekedar tidak ingin terlihat konyol. Menenangkan diri dan meningkatkan konsentrasi aku mulai terhibur saat Victor mengirimku sebuah pesan
Dokter, Elaine sudah membaik. Datanglah untuk menciumnya
Tentu saja kalimat itu merupakan sihir yang bisa membangkitkan gairah jiwaku. Segera mungkin aku memacu mobilku dengan kencang
”tentang mommy?” aku mengangguk
Sepuluh menit kemudian kami sudah sampai di kamar 091, sengaja tidak mengetuk pintu lalu masuk begitu saja. Yusuf yang tidak sabar sudah berhambur masuk mendahuluiku. Lari memburu Elaine yang masih terbaring dan tertidur. Wajah itu masih terlihat pucat dan selang infuse masih menempel di tangannya. Terlihat lemas tak berdaya. Victor mendekati Yusuf dan meminta seorang perawat menenangkannya. Sebenarnya Yusuf hanya terdiam saat menatap Elaine. Pipinya terus ditempelkan pada pipi Elaine. Kami sedih melihat drama seperti itu. Perawat cantik itu membujuknya dengan sebuah coklat putih yang masih terkemas rapi yang dikeluarkan dari kantong kanannya. Yusuf masih terdiam terpaku memegang tangan Elaine. Diciumnya tangan indah itu berulang ulang. Victor menatapku. Matanya seperti berkata “bujuk dia Mayong!” lalu aku bergegas menghampirinya.
“Yusuf percayalah mommy akan sembuh!”
Anak itu mengangguk ketika aku berlutut didekatnya. Aku mencium pipinyasebelum aku mengikutinya untuk mencium tanga Elaine. Aku tau Yusuf terkejut melihat reaksiku., matanya menatapku meskipun tidak dengan tajam. Tapi sungguh aku sudah tidak bisa menahan rasa rinduku yang sudah menggunung. Nyawa Elaine juga harapanku.
“sorry! Aku mengenal mommy-mu! Emm kita teman” Yusuf tersenyum sambil memelukku.
“jadi..kita juga temankan?” aku mengangguk “bagus!” sahutnya lantang.
“baiklah sahabat…izinkanlah aku sebagai dokter dan sahabatmu untuk memeriksa mommy! Bagaimana kalau kau menunggu di kursi sudut putih yang nyaman itu” kutunjuk sebuah sofa yang ada diujung kamar Elaine didekat jendela. Yusuf berjalan dengan patuh dan tertib, meskipun langkahnya terlihat pelan saat mundur menjauhi kekasihku. Seorang perawat membimbingnya untuk santai dari rasa frustasi yang mencengkram otaknya. Hanya aku dan Victor yang saling menatap saat melihat reaksinya.
“bagaimana dia?”
“kau mencintainyakan? Hatiku bisa melihatnya!”
“Aku menanyakan kondisinya?”
“andreas mengatakannya semalam, kau nyaris gila katanya!”
“ayolah dud…serius!”
“kau ini dokter. jadi tidak mungkin kau tidak tau apa yang dia alami!”
Kalimat terakhirnya membuatku terdiam. Tapi tidak dengan Victor. Bibirnya menyunggingkan senyum siap untuk membuatku meledak ledak.
“so…. Apa yang ada di otakmu Mayong?” lanjutnya menyadarkan aku. “atau kau ingin aku membedah otakmu dan mencari tahu sendiri!”
“kapan kita mengeluarkan janinnya?”
“aku menunggu tekanan darah dan jantungnya kembali normal dan …juga stabil! Karena aku takut dia masih mengalami guncangan”
Aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Victor. Hari ini kami belum mendapatkan hasil hingga malam hari. Aku dan Yusuf bersabar menunggu Elaine kembali sadar. Bersyukur rasa kekhawatiran tidak lagi terlalu menghimpit kami berdua. Tekanan darah Elaine dan jantungnya kini mulai normal. Karena senangnya kami lupa dengan rasa lapar yang menuntut perut kami hingga bergemuruh. Sadar akan rasa lapar, aku membuka beberapa kantung makanan yang ada didepan Yusuf.
“burgermu masih utuh?”
“aku malas untuk makan! Aku sedih!”
“aku tahu!”
“tidak..kau tidak tahu!” nadanya terdengar membentak
“percayalah!”
“aku sendiri!”
“kau memiliki aku, aku sangat menyayangimu…kau tahu itu!”
“besok adalah hari pemakaman daddy, sedangkan mommy…mommy belum juga sadar dan belum juga bangun dari tidurnya. Kenapa Tuhan jahat padaku!”
“ssstt… aku tidak suka kalimatmu. Jangan pernah engkau mengatakan Tuhan telah jahat padamu. Justru dia sayang padamu…nak!”
“ini ulang tahunku, tapi Tuhan justru memberiku bencana”
Astaga aku tidak percaya… tidak tahu harus berbuat apa. Aku peluk tubuhnya erat. Kuguncangkan tubuhnya yang kecil itu sedikit keras sebelum aku kembali memeluknya dan menciumnya.
“selamat ulang tahun sayang! Aku berjanji membuatkanmu satu pesta kecil dengan sepuluh permintaan yang sangat kau inginkan, apapun…apapun”
“apapun?”
“apapun…asal aku tidak kau minta untuk menghidupkan orang yang sudah mati” yah aku hanya berjaga jaga bila dia meminta sesuatu yang mustahil,terlebih menghidupkan Zarkasih
“baiklah, antarkan aku menemui daddy untuk menciumnya terakhir kali sebelum daddy didalam tanah”
“oh Tuhan…!” aku mengeluh pelan nyaris tak terdengar.
Tentu saja dengan berat hati aku mengantarnya dengan sejuta perasaan yang bercampur aduk menyesak di dada. Langkahku terasa berat. Tangannya menggandeng tanganku kami berjalan beriringan hingga tiga menit kemudian kami sampai di sebuah bangsal khusus. Yah…tempat terkumpulnya mayat. Disamping ruangan itu ada sebuah kamar khusus yang dijaga oleh beberapa orang polisi Australia dan beberapa orang dari kedutaan Indonesia . Empat orang polisi berdiri di ambang pintu bangsal. Seorang pria yang mengenakan baju duka serba hitam menyapa kami lalu menggendong Yusuf dan mengulurkan tangannya
“Dokter Mayong?”
“yah benar, maaf soal semalam saya tidak sempat menemui anda”
“oh bukan masalah, Dr Eva sudah memberikan penjelasannya
“eva? Yah…yah syukurlah anda mengerti”
“saya Hamid Dokter, emmm ini Bapak Thamrin duta besar yang baru saja menggantikan tugas Pak Zarkasih untuk Australia ”
“secepat itu?”
“tidak tentu saja tidak, sebenarnya Pak Zarkasih akan bertugas di Canada awal bulan depan. Sayangnya sebelum pelantikan, Tuhan sudah berkehendak lain. Sedangkan Bu Elaine, sepertinya akan melewatkan pemakaman Bapak. Besok hari”
“sepertinya begitu,…oh senang sekali bisa mengenal anda Pak Thamrin”
“saya juga Dok!”
Yusuf memaksakan dirinya untuk turun dari gendongan Hamid. Orang kepercayaan Zarkasih. Hamid menemani kami saat menyambangi jasad Zarkasih. Ketika memasuki pintu, aku takut membayangkan reaksi Yusuf menjadi histeris. Aku takut dia akan menjerit ataupun menangis ataupun pinsan. Yang lebih kutakutkan adalah guncangan mental. Dan ketika aku mencoba untuk membujuknya
“tidak masalah, bila kau takut!”
“kata siapa aku takut”
“kau siap?”
“tentu, besok daddy akan tidur dalam tanah jadi biarkan aku mencium dan memeluknya”
“Tapi fisiknya! Tidak seperti yang kau lihat?” aku menahan tubuhnya ketika dia hendak melangkah maju satu kaki
“aku tahu, aku siap, aku kuat. Jadi izinkan aku membuka petinya”
Menghirup nafas dalam sepertinya membuatku menghirup oksigen untuk otakku. Jantungku mengeras dan sedikit mengejang saat mendampingi Yusuf. Ingin sekali aku melarangnya. Hanya doa yang kupanjatkan. Jasad Zarkasih terbujur kaku terbungkus kain putih didalam peti. Langkahnya semakin mendekati tangan kanannya siap membuka selembar kain putih yang melindungi jasadnya. Sungguh luar biasa, ketika apa yang aku khawatirkan sama sekali tidak terjadi. Yusuf berdiri tegar mengurai senyum “I LOVE YOU DAD…LOVE YOU MORE. Aku akan selalu berdoa untukmu, meminta surga yang paling indah untukmu dan menjaga Mommy baik baik. Aku akan menjadi anak yang penurut tidak nakal aku akan bekerja keras membahagiakan mommy untukmu” kalimatnya terdengar parau dan khidmat, sungguh pilu menyayat. Umurnya masih kecil tapi pola pikirnya begitu dewasa. Kata Victor Zarkasih mengalami luka bakar yang sudah sangat serius, wajahnya sedikit rusak karena terbakar walaupun memang masih bisa dikenali. Sayangnya jantungnya mengalami guncangan hebat ketika tubuhnya terpental. Kukatakan dalam hati dan semoga dia dan malaikat jibril mendengarkan apa yang aku katakan padanya dan semoga malaikat Izrail sang pencabut nyawa juga ikut mendengarkan.
ZAR…AKU TURUT BERDUKA SEDALAM DALAMNYA UNTUKMU, DEMI TUHAN RASA KESAL INI SUDAH LENYAP TANPA BEKAS BERSAMA KECELAKAAN YANG KAU ALAMI. AKU BERJANJI PADAMU SEBAGAI SEORANG SAHABAT. AKU AKAN MENJAGA KELUARGAMU SECARA UTUH AGAR KAU TENANG. AKU MENCINTAI MEREKA. SEMOGA KAU MEMAHAMI SEDALAM APA RASA CINTRAKU YANG SESUNGGUHNYA PADA ELAINE DAN YUSUF. YUSUF SUDAH KUANGGAP SEBAGAI ANAKKU, IZINKAN AKU MENCINTAI ELAINE.
Aku merunduk seperti orang yang mengucapkan doa. Mayatnya terbungkus kafan seperti pocong layaknya mayat adat orang muslim. Kami berjamaah melakukan sholat ghaib. Tidak ada air mata jatuh membasahi pipinya. Bibirnya terus mengucapkan doa untuk ayahnya yang nyaris tidak terdengar bahkan hanya bisa didengar oleh seekor semut. Senyum untuk zarkasih seperti abadi, semoga zarkasih merasakan kebanggaan memiliki putra seperti dia. Dan semoga zarkasih tidak mengutuk keinginanku untuk menikahi jandanya. Kembali…. Rasa percaya diriku hilang begitu saja musnah bersama angin. Terbayang keputusanku masa lalu ke egoisan yang luar biasa
Aku meninggalkan Elaine hanya untuk karierku. Saat itu aku lama sekali tidak memberinya kabar tanpa surat , email, kartu pos, puisi. Zaman kami berkencan belum ada blackberry, twitter, timeline tidak ada social network selain friendster. Aku menggantung cintanya selama tiga tahun. Saat itu aku berfikir kalau dia akan mudah melupakan aku dan meninggalkan aku begitu saja. Memberikan respon yang sama. Aku tidak berpikir terlalu jauh. Yah hingga suatu hari setelah sekian lamanya aku baru mengetahui bahwa dia mengabadikan cinta sucinya untukku. Dan saat mendengar kesetiannya aku begitu malu pada diriku sendiri. Aku marah pada diriku sendiri, aku kecewa. Betapa bodohnya aku. Dia bunga kampus. Gadis yang selalu di inginkan para pria. Aku memiliki banyak rival yang cukup tangguh. Dan justru karena kekuranganku Elaine mencintaiku. Aku suka memahami tentang bagaimana caranya dia mencintaiku. Yah…tidak salah bila aku terlambat menyadari kesalahan yang sudah aku lakukan. Sepulang dari los angeles aku kembali ingin menenmuinya dan datang kerumahnya. Rumahnya ternyata kosong. Kata seorang seorang security mengatakan kalau keluarga Iskandar sedang menghelat pesta perkawinan anak gadisnya. Seketika itu jantungku serasa berhenti berdetak aku telah berfikir kalau sang malikat pencabut nyawa telah mengambil nyawaku, menarik arwah dari jasadku. Lidahku kaku aliran darahku seperti berhenti berputar, tubuhku menggigil. Benar benar bagai disambar petir. jelas aku tahu siapa anak gadis keluarga Iskandar yang dia maksud. Tapi terlambat untuk sebuah penyesalan. Aku melewatkan banyak hal tentang Elaine hingga aku kembali sadar bahwa dia sangat berarti bagiku begitu berarti saat aku benar benar telah kehilangan sosoknya. Bagaimana bentuk rasa sakit yang begitu hebat. Kini aku membutuhkan banyak informasi tanpa berani menuntut dari Mail sang security. Katanya pesta pernkahan itu dilaksanakan di sebuah ballroom shangrilla hotel. Pesta itu pasti meriah bisikku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku bergegas mencari Elaine dengan sedikit harapan bahwa nantinya dia masih mau menenmuiku, masih sudi melihat batang hidungku. Aku tidak berani mengharapkan yang lebih. Otakku terasa panas, ingin sekali pecah dan darahku sepertinya sudah mendidih. Aku ingin sekali menangis seperti wanita. Tapi aku gagal menenteskan air mata meskipun hanya setetes. Bahkan hujan yang deras sama sekali tidak membuatku terasa dingin. Suasana hatiku begitu kalut. Aku kembali berjalan dengan kemelut perasaan yang berkecamuk, sebuah taxi melintas didepanku dan bersedia mengantarku ke sebuah hotel. Rasa takut mulai menjalar, kuat bagaikan akar dalam tanah. Keraguan untuk menemuinya membayangiku. Aku terus berjalan memutar area lobby hingga setengah jam lamanya. Begitu letih dan tidak berdaya untuk memutuskan dan membayangankan sesuatu hal yang ada didepanku. Apa boleh buat, aku harus mengambil keputusan. Hingga bulat tekadku untuk meninggalkan hotel penuh kemantapan. Hujan deras yang terus mengguyur bumi tidak aku hiraukan. Hingga basah kuyub tubuhku. Kelihatan tampak begitu tolol berjalan sempoyongan tanpa tujuan. Kulihat sekitar para tamu undangan masih terus berdatangan tanpa mengenal hujan, mobil lalu lalang membunyikan klacson. Tidak ada seorangpun yang mengenaliku. Jalan yang tadi kurasakan mantap kini kembali gamang. Aku kembali berputar balik masuk ke area lobby hingga menaiki lift menuju area ballroom. Sungguh aku tidak perduli dengan semuanya, baju yang kukenakan kini menjadi basah kuyub saat melewati taman, terus kulanjutkan langkahku menembus kerumpulan para tamu yang sudah berkelompok. Aku melihat sebuah lukisan besar terpajang diantara dua pintu masuk. Yah…! Dia Elaine, gaunnya begitu cantik dipenuhi brokat. Begitu terlihat elegan saat melekat ditubuhnya. Dan pria beruntung yang disebelahnya itu adalah Zarkasih. Aku mengetahui namanya tercantum disudut bawah lukisan. Aku begitu cemburu, benar…benar terbakar cemburu. Tapi salah bila aku bersikap bodoh lebih dari ini. Mereka mengamatiku, tentu…tentu saja. Karena aku seperti orang bodoh yang terlihat begitu konyol. Semua mata serasa siap dengan pandangan membunuh. Aku yakin Elaine melihatku. Ketika semua tertawa melihat kekonyolanku hanya dia saja yang begitu haru. Matanya yang tajam siap untuk membunuhku pelan pe;an. Zarkasih melepaskan pelukannya. Entah apa yang sedang mereka berdua pikirkan tentangku. Aku tidak perduli, persetan dengan semuanya. Elaine berjalan menemuiku. Ingin rasanya aku berlari memeluknya tapi aku malah berusaha untuk Manahan diri sekuatnya. Aku mencoba menahan diri. Semua mata memandang. Justru Zarkasih berusaha mencari perhatian para tamu dengan mengajak berdansa “baiklah, para tamu mari kita lanjutkan!” dia bertepuk tangan, entah untuk siapa dia melakukan hal tersebut. mungkin maksudnya hanya untuk memberikan kami berdua kesempatan dengan memberikan sedikit waktu. Aku berusaha menjelaskan semuanya dengan sesingkat mungkin…..hingga satu ciuman cukup untuk mengobati rasa rinduku.
“uncle,….uncle. Mayong!”teriakan itu membuatku kaget. Baru aku sadar kalau aku telah lama melamun.
“aku sudah selesai dengan daddy, dan besok aku akan menghadiri pemakamannya. Emm aku ingin bertemu mommy!” anak itu keluar mendahuluiku dan ketika aku menyusulnya. Langkah Yusuf menjadi semakin cepat berjalan lebih awal dua meter dari langkahku. Tidak lama kami berdua berada di kamar Elaine. Kami ingin melihatnya segera tersadar. Menunggu dengan sabar meskipun tidak cukup hanya sekedar dengan rasa sabar. Hingga pria kecil itu tertidur disofa meskipun aku masih saja tetap terjaga. Kepalaku rasanya mau pecah. Besok pagi Elaine akan di operasi. Victor akan mengeluarkan janin tersebut dari rahimnya. Pelan pelan aku memberanikan diri duduk menedekatinya. Duduk disampingnya membuatku bergetar dengan suhu dingin yang bisa membuatkku kaku dan hilang pikiran, rasanya ini cukup untuk membuatku mati sendiri. Seharusnya aku tidak perlu takut duduk disampinya terlebih saat dia koma. Jadi pasti dia tidak akan bereaksi dengan setiap kalimat yang aku ucapkan. Kugenggam erat tangannya sebelum aku mencium bibir dan dahinya.
“Elaine, aku masih mencintaimu. Kuharap kau masih merasakan hal yang sama” bibirku menjadi kaku dan semakin mengejang ketika sebuah tangan yang putih selembut sutra dengan jari yang cantik berhiaskan cincin mutiara hitam yang aku berikan semalam saat kami makan malam, kini mendarat tepat dibahu kiriku.
“benar apa yang kau katakan Mayong?” aku hafal suara itu
“EVA?” aku menyesal membuatnya kecewa. Aku menyesal dia mengetahui tanpa persiapan.
“aku bisa membaca pikiranmu! sejak lama” suaranya terdengar sedih dan begitu berduka “hanya saja rasa cintaku yang begitu besar padamu selalu bisa membuatku bertahan dan terus mencoba untuk membuatmu mecintaiku. Menghilangkan kegundahanku sendiri sekuat tenaga agar aku terus meyakinimu bahkan sampai detik ini rasa cintaku padamu masih begitu besar” lalu dia meninggalkanku, berjalan pelan menjauhiku sebelum dia berlari kencang saat keluar dari pintu kamar. Dia hanya meninggalakan sebuah balckforest berukuran sedang bertuliskan YUSUF HAPPY BIRTHDAY dengan sedikit senyum saat menoleh melihat Yusuf yang tiba tiba saja terbangun, dia mengahampirinya lalu menciumnya dan membelai rambut Yusuf saat dia memeluknya erat, entah apa yang mereka berdua bicarakan,mereka sama sekali tidak melibatkan aku di dalamnya. Aku tidak tahu darimana dia mengetahui kalau Yusuf sedang berulang tahun. Itu tidak penting untukku. Separuh hatiku merasa kelegaan yang begitu membuatku sedikit nyaman. Akhirnya Eva tahu siapa cinta sejatiku. Mataku meleleh ketika mengenang beberapa detik yang lalu saat eva mencium kedua pipi Yusuf dengan penuh kasih sayang. Hatinya begitu baik, cukup untuk membuatku sakit saat tanpa sengaja aku menyakiti hatinya. Sungguh aku tidak tega bila harus memutuskan hubungan kami. Tidak untuk Eva atau wanita lain. Ya Tuhan…kenapa aku melakukannya lagi. Kesalahanku pada Elaine selama ini belum bisa aku tebus, tapi justru aku kembali melakukannya lagi pada Eva.
Berhari hari aku memikirkan hal ini. Dan ini semakin membuatku gila bahkan sangat gila. Sudah tiga malam ini Yusuf tidur bersamaku. Elaine masih dirawat dirumah sakit tempat aku bekerja. Dia dalam pengawasan Victor. Ada kabar baik tentangnya dua jam yang lalu yang mengatakan bahwa dia sudah siuman. Secara medis, kesehatannya sudah pulih. Kata Victor, Elaine sudah bisa menerima tentang dua kabar buruk yang menimpanya. Elaine ihklas dan rela tentang kematian suaminya begitu juga tentang janinnya. Masih kata Victor, kematian yang paling membuatnya sedih adalah kematian janin yang ada dalam kandungannya. Aku memberitahu kabar ini pada Yusuf, wajahnya berubah begitu saja dipenuhi kegembiraan yang berseri seri, seperti langit cerah berhiaskan pelangi. Aku senang melihatnya. Ironisnya aku justru mengalami rasa ketakutan yang kembali menghimpit begitu luar biasa. Apakah aku sanggup menatap sorotan mata yang bagaikan panah itu? Apakah aku siap mendapat cambukan kalimatnya? Aku seperti dihujani rasa bersalah, rasa malu yang membanjiri hatiku. Tapi aku sudah berjanji untuk mengantarkan Yusuf menemuinya. Yahh…besok pagi! Besok pagi juga aku menemui malaikatku. Ketika Yusuf tidur aku tidak bisa tidur lelap sepertinya. Bayangan Elaine terus membayangiku, berulang kali aku mencoba kembali membayangkan Eva. Tapi gagal! Bayangan Elaine terus menerus muncul dengan tatapan yang meredup. Astaga hukuman macam apa yang akan aku terima besok?. Aku tidak pernah merokok, tapi tidak untuk kali ini. Kepulan asap rokok menemaniku bersama sebotol brandy. Semakin membuatku pusing. Aku berusaha merokok ditempat yang aman tanpa Yusuf melihatku. Agar anak manis itu tidak melihat kebejatanku. Kuhabiskan malam ini dengan penuh kepenatan hawa dingin tidak membuatku mengantuk, tubuhku terasa panas. Empat gelas brandy semakin membuatku….ahhh entahlah aku tidak bisa menjelaskannya. Pikiranku kacau meskipun aku mencoba untuk duduk santai menikmati tampilan Samsung tablet. Mencari beberapa artikel dan beberap video terbaru di YOU TUBE. Semua tidak menghibur. Semua tidak berhasil melupakan aku darinya. Tubuhku memang disini tapi tidak jiwaku. Seperti orang sekarat yang butuh super oksigen untuk tetap hidup. Aku merasa kesal tapi bingung dengan apa yang sesungguhnya aku sesalkan. Eva? Elaine? Elaine? Eva? Tentu saja Elaine! Yah, sudah pasti Elaine. Empat jam hidup seperti orang dungu membuat otakku terasa bebal. Aku melangkah meninggalkan ruangan yang penuh asap dan aroma alcohol. Berjalan gontai menuju kamar mandi membasahi rambut, wajah dan kepalaku yang begitu panas. Air shower jatuh membasahi rambut, rasanya seperti dipijat. Kepala dan bahuku terasa sedikit rileks, otot ini tidak terlalu menegang. Semua terasa segar saat membasahi. Sebagian jiwaku terasa cukup segar, meskipun sebagian lagi tidak puas dengan kerja shower. Menggosok gigi hingga tiga kali belum cukup untuk menghilangkan aroma tembakau dimulutku, baunya tidak sedap, lidahku terasa kecut. Lima gelas takar mouthwash belum juga membantu menghilangkan aroma. Cara terakhir adalah aku mengunyah semangkuk kecil daun mint yang biasa aku gunakan sebagai hiasan minuman. Baru aku merasa segar. Santai sejenak dan diam menyendiri di ruang tamu, kubuka beberap jurnal hingga aku mengantuk. Entah sudah berapa lamanya aku tertidur, ketika terbangun Yusuf sudah ada di sofa depanku. Dengan sebuah jus jeruk dengan sepiring toast dengan selai nanas. Yah aku terkejut melihatnya, wajahnya datar, matanya berkedip mengamati. Mencoba tersenyum, salah tingkah. Melihatku bingung, senyumnyapun merekah. Dan ketika aku benar benar terbangun dari semuanya….
“kenapa tidur disini? Apa tidurku mengganggumu? Apakah….”
“tidak…tidak-tidak!tidak sama sekali”
Senyumnya mengembang mekar seperti bunga di musim semi
“semoga kau menyukainya?” lanjutnya
Arah matanya bergerak menyapu isi meja diantara kami. Aku tahu maksudnya. Jujur aku suka
“yah…tentu saja! Terimakasih sayang! seharusnya aku yang membuatkannya untukmu. Eemmm dan bukan sebaliknya!”
“sama saja…kan kita sahabat!”
Kami tertawa bersama lalu aku pergi mendekatinya. Hanya sekedar ingin bertanya tentang jadwal kami pagi ini. Meskipun aku tahu, acaranya tidak mungkin batal.
“mau aku suapi?” dia mengangguk. Walaupun pagi ini aku tidak terlalu lapar, aku tetap lahap menikmati hidangannya. Tapi aku suka membohonginya dengan berpura-pura lapar. Kedua mataku sedang mengamati gerak bibirnya yang serasa memberiku signal untuk mengatakan sesuatu. Hanya saja aku menangkap keraguan dari Yusuf.
“apa kau membutuhkan sesuatu atau mungkin ada yang ingin kau bicarakan?” tanyaku penasaran
“emmm apa mommy temanmu? emmm…maksudku apa kalian bersahabat seperti kita sekarang?emmm….maksudku apa kalian special?”
Kontan aku dibuat terkejut, terdiam , tenggorakanku mengering serasa aku telah berdiri lama tepat dibawah matahari.
“kenapa foto mommy ada di dalam jurnal dan I-MAC milikmu?”
Ya tuhan ingin rasanya aku berteriak dan mengguncangkan tubuhku kecil yang ada didepanku. Aku berteriak dalam hati DAMN! Anak ini begitu cerdas dan cermat. Usianya masih kecil tapi pemikirannya begitu jauh. Penjelasan seperti apa yang harus aku berikan untuk anak seumurnya. Agar dia memahami hubungan kami.
“jawab saja iya atau tidak?” pertanyaan itu terdengar menuntut “kalau kau tidak bisa menjelaskan, bukan masalah bagiku. Ya atau tidak! Itu saja”
“ya”
“kapan….dimana? apa kau juga mengenal daddy?”
“ya…oh tidak. Hanya sekedar tahu. Sesungguhnya aku tidak mengenalnya secara resmi. Tapi aku adalah sahabat mommy-mu!”
Matanya seperti panah yang siap meluncur menembus dadaku hingga lubang. Siap membidik jantungku tepat ditengah. Nyaliku menciut, aku pura pura berdiri mencari sesuatu, tapi sayang dia menghentikanku.
“tunggu!”
Suaranya terdengar masih tegas, untuk mengehentikan langkah pertamaku
“kau membohongiku? Marilah kita bicarakan masalah ini secara jantan. Bukannya aku juga seorang pria! Jadi marilah kita bicarakan!”
“oke, tapi apa maksudmu mengatakan kalau aku membohongimu?”
“kau mencintai ibuku…kau….kau kekasihnya!”
“darimana kau berfikir seperti itu?”
“apa masalah untukmu darimana caraku mengetahui hubungan kalian?”
“tentu, jelaskan”aku kembali menuntutnya
Aku begitu kaget, itulah reaksiku. Tidak ada kalimat yang bisa aku persiapkan secepat itu untuk menjawab pertanyan seorang anak kecil dengan masalah orang dewasa. Sungguh mereka dua manusia yang berhasil membuatku gila dan mati penasaran. Seratus persen Yusuf berhasil membuatku penasaran melebihi yang lainnya.
Terdengar dia sedang memebersihkan kerongkongannya, sebelum bibirnya terbuka saat lidahnya kembali bergerak. Aku masih diam terpaku penuh kecemasan akan penjelasannya.
“aku penah melihat foto kalian didalam sebuah kotak kumpulan surat dan beberapa kartu ucapan milik mommy disebuah kardus coklat besar didalam ruang gudang. Aku menemukannya tanpa sengaja. Saat aku mencari kotak kardus coklat penuh dengan isi mainanku. Yah kotak kami terlihat sama , hanya saja aku tidak teliti saat membaca tulisan yang tertera dalam kardus.yah itu terjadi satu tahun yang lalu. Sepertinya aku memang salah membuka kardus. Diwaktu yang sama daddy juga sedang sibuk mencari buku filosofinya. Kami saling membantu. Tanpa sengaja kami juga melihat foto yang sama” mulutnya terdiam beberapa detik, hingga empat puluh detik kemudian Yusuf kembali melanjutkan penjelasannya. Aku masih sabar menunggu, semakin lama aku semakin diburu rasa penasaran yang kuat.
“dan ketika itu muka daddy berubah. Saat kami mendengar suara mommy menuju gudang, daddy sepertinya terburu buru menutup kardus yang sudah kami buka dan menyembunyikan foto kalian di dalam kardus yang lain, tepat didalam kardus buku milik daddy. Matanya mengisyaratkan agar aku tidak menceritakan kejadian tersebut pada mommy. Jari telunjukknya dia tempelkan di mulutku. Foto kalian diselipkan disebuh buku yang berjudul RIWAYAT HIDUP BONAPARTE”
Kami sama-sama mengambil nafas panjang, jantungku berdegup keras. Menunggu hasil akhir ceritanya.
“beberapa bulan yang lalu, daddy jarang pulang kerumah hingga tanpa sadar membuat mommy sedih. Sejujurnya aku tidak pernah tahu ada masalah apa dengan orang tuaku. Mommy adalah mommy yang baik, dia selalu ada diantara kami, saat kami membutuhkan kehadirannya. Tidak ada hal buruk tentang mommy dimataku. Aku merasa sedih ketika mendengar kabar kalau orangtua aku sedang dalam proses perceraian. Sejak saat itu aku selalu melihat mommy menangis, tanpa tahu penyebab yang sesungguhnya. Hatiku seperti tersayat ketika melihat air matanya terjatuh. Dan sejak saat itu. Daddy dan mommy selalu terdiam saat bertemu di ruang makan menemaniku. Ada saja alas an mereka untuk saling menghindari satu sama lain. Aku bingung tapi aku tidak tahu kemana harus menceritakan ini semua, hingga suatu hari aku memainkan peranku seperti detektif conan. Lima hari pencarian membuatku semakin yakin kalau daddy sebenarnya cemburu pada mommy. Sebuah puisi karya mommy yang berjudul the last kiss at my wedding itulah yang memancing kecemburuannya. Puisi itu ditulisnya dibalik sebuah foto yang mengabadikan masa lalu kalian. Emm..foto dengan gambar yang sama yang terselip di dalam jurnal milikmu”
Kami terdiam untuk beberapa detik, hingga aku benar benar terperangah..
“YA Tuhan!” dan berteriak memegang kepalaku, aku tidak percaya
“yah itu kalimat pertama yang pernah keluar dari mulutku. Ketika aku melihatnya”
“Yusuf…!”
“tenang, aku tidak berfikir jelek tentang kalian, anda bukanlah iblis yang kejam…begitu juga dengan mommy. Dia juga bukan seorang beautiful monster”
“cinta tidak pernah bisa diprediksikan”
“itu masalah orang dewasa”
Kepalanya merunduk ke lantai dan aku yakin seratus persen dia adalah anak yang sangat luar biasa. Aku takjub. Aku ingin segala menjadi muridnya. Skeptis
“apakah kau mencintainya?”
“jangan pernah kau tanyakan sebesar apa cintaku pada ibumu. Tidak ada sesuatu yang bisa aku ibaratkan untuk menjelasakan secara gamblang bentuk ketulusan ini! Suaranya selalu menggema…senyumnya seperti ilham untukku”
“aku sangat mencintai ibu-ku paman…tolong jangan sakiti hatinya lagi”
Kami kembali terdiam, hingga mulutnya kembali berkata tanpa memandangku
“selama ini aku tidak pernah tahu kalau hatinya sangat rapuh tentu saja dibalik senyumnya yang mengkilat dan menawan”
“aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Elaine. Percayalah…”
“Demi Tuhan aku tidak pernah rela bila ada yang menyakiti mommy”
Dua jam berikutnya kami berdua mengumbar senyum, lebih sedikit bisa merasakan kedamaian dan ketenangan. Karena Yusuf, rasa percaya diriku mulai tumbuh subur dan aku sungguh siap bertemu Elaine. Rasa tenang terus tumbuh setelah Yusuf menceritakan semuanya. Sedikit banyak mommy-nya juga sudah mengetahui tentang aku yang sekarang.
Pertama, bertemu Elaine sungguh terasa kaku dan garing, kaki terasa berat saat akan mendekatinya, berat penuh dengan dosa itu sudah pasti. Meski tangan Yusuf menarikku dengan kencang masih terasa susah saat aku gerakkan. Lidahpun serasa tebujur kaku, mati rasa. Terus membujur kaku dan tidak mau tertekuk lemas. Jantungku seperti tertumbuk batu sebesar gunung….yah serasa aku ingin sekali berlari jauh menghindari mantranya. Sorot mata itu terus memandang dan mengunciku didalam. Mataku tidak berkutik. Rasa siap dan tidak siap terdengar seperti irama lagu yang dimainkan oleh jantung, terdengar seperti music acapela. Cocok dijadikan irama music kematianku. DAMN IT! Aku seperti domba tolol yang takut menatap singa yang siap menelanku bulat bulat tanpa perlu merobek jantungku. Aku benar benar seperti orang sekarat yang hanya menunggu ajal dalam hitungan detik. Sebodoh inikah aku. Justru aku menangkap pandangan yang berbeda dengannya. Dia begitu tenang hingga tangannya direntangkan untuk memeluk Yusuf yang berlari memeluknya, larinya begitu kencang lalu secepat kilat melompat keranjang ibunya. Senang sekali melihat mereka bahagia. Aku berharap…andai saja pelukan hangat itu juga untukku pasti aku tidak akan menolak. Antara kami berdua hanya saling melempar senyum tanpa ada yang berani mendahului menyapa.
Sebagai laki laki, aku terpaksa memulainya, karena aku tidak mau bila dia menganggapku seperti tembok. Aku tahu siapa dia, aku mengenalnya. Elaine tidak akan pernah mendahului berbicara ataupun menegur seseorang yang pernah salah dimatanya. Aku sadar, dia sangat terkejut saat pertama kali kami berdua datang beberapa menit yang lalu. arah pandangannya langsung tertuju pada bola mataku. Bola mata yang bersinar itu tidak menyimpan dendam. Tidak seperti yang aku bayangkan tentang kebencian yang begitu melanda hebat. Justru rasa rindu yang menggelora membakar diantara kami. Tapi tunggu…apa itu hanya fantasi atau delusi semata. Dari fragmen yang aku bayangkan. dari arah sepuluh langkah aku tidak bisa mendengar percakapan yang mereka bicarakan. Anginpun membisu tidak mau membocorkan rahasia mereka padaku. Mungkin itu terlalu rahasia. Rasa penasaran mulai merasuki, perlahan dan pasti membimbingku untuk mendekati mereka. Intuisi semata. Rasa rindu inilah yang sebenarnya lebih mengganggu, mencoba berusaha mencari sesuatu yang lebih agar aku bisa memeluknya. Rasa ini juga yang pernah memberiku keberanian untuk terus mendekat lalu mengulurkan tangan. Betapa aku kembali dipenuhi percaya diri yang membuatku kembali tenang ketika tangan yang hangat dan halus menjabat tanganku dengan erat, siap mengalirkan aliran listrik.
“hei…hello!”
Terasa aneh dan kaku suara itu, mereka tersenyum padaku. Yusuf memeluknya dari belakang, mengalungkan kedua tangannya di leher yang indah itu. Elaine…oh sayang, aku seperti bermimpi, tunjukkan suaramu sayang, gendang telingaku merindukan suaramu.
“halo juga dokter, apa kabar?’
“buruk!emmm sepertinya kau sudah cukup terlihat sehat”
“oh…emm yah, tentu berkat Tuhan dan tim medis anda”
”syukurlah….maaf, aku ikut berduka cita atas semua yang terjadi. Sekali lagi…maaf aku turut bersedih untuk almarhum suamimu dan juga janin yang ada dikandunganmu!”
“thanks,…terimakasih juga karena mau merawat Yusuf selama aku koma, aku..aku tidak bisa mengucapkan banyak hal selain thanks!”
“sudahlah aku tidak suka membicarakan itu. Kau tahu aku tidak mempermasalahkan itu, justru…emm. Sudahlah lupakan saja!”
Tidak ada yang berbicara diantara kami. Ruangan kembali tenang ketika suara haru menyelimuti. Elaine muilai menagis hingga membuat Yusuf menyeka air matanya yang membasahi pipi. Aku hanya bisa mendekatinya, duduk disebelahnya lalu menggenggam tangannya tanpa berani memeluknya. Meskipun sesungguhnya aku sangat ingin melakukannya.
“may..yong!”
“iya,El…” jawabku pelan
Kepalanya hanya menggeleng,menunduk. Oh Tuhan hatiku tersayat melihatnya menagis, sayangnya aku ragu saat ingin menebak sesuatu yang ditangisinya
“sudahlah El, hentikan tangisanmu. Aku tidak sanggup melihatnya. Kumohon!”
“maaf..”
Tubuh Elaine terlihat lemas, lalu kepalanya jatuh dibahuku kembali tidak sadarkan diri. Aku mulai menegang dan ketakutan. Yusuf mengalami hal yang serupa. Kami berteriak
“Elaine…el…elaine, bangun sayang…bangun” kuguncangkan badannya berulang ulang
“mom…mommmy…mom!”
“turunlah sayang kalau kau mau membantuku, tolong kau hubungi extension 208, katakan dokter Mayong butuh bantuan, “ aku menekan tombol yang ada diatas kepala ranjangnya
“baik” tangannya begitu lincah menekan tombol telephone yang ada disebelahnya
“bangun sayang, ayolah bangun,please kumohon,…bangun El…bangun”
Sulit sekali aku menenangkan diri, tapi ketika aku menemukan denyut nadi yang masih berdenyut itu cukup membuatku tenang. Aku mencoba memeriksanya lebih teliti, kukira dia hanya mengalami depresi. Jadi kubaringkan saja. Yusuf kembali menutup gagang telephone dan kembali menagis tanpa suara.
“oh boy,…. Mommy hanya pinsan, mungkin dia letih!”
Tangannya memeluk pingganggku erat, beberapa menit kemudia Victor datang bersama seorang perawat. Lehernya dikalungi stetoskop, berjalan lambat dan sangat santai. Tangannya yang dingin menepuk bahu kananku, kulihat sedetik kemudian tangannya memberi Yusuf sekotak coklat putih.
“hei, kau apakan pasienku, aku harap dia pinsan bukan karena kau mengajaknya kawin!”
“tutup mulutmu, ada Yusuf” aku memutar badanku untuk mengawasi anak itu
“tidakkk, anakmu aman bersama suster!” ujar Victor tanpa bereaksi apapun
Sikunya membuatku merintih kesakitan ketika memndarat di perutku. Aku hanya bisa meringis kesakitan saat melihatnya tersenyum penuh kepuasaan.
“dengar…hhmmm, aku salut pada kalian. Cinta kalian sepertinya belum mati. Yah aku berharap ada kebahagian di akhir cerita”
“apa maksudmu?” aku menaikkan alis dan itu semakin membuatnya menggigil
“aku pikir kau bukan orang bodoh, so let see it!”
“katakan saja, ayolah…!”desakku
“aku akan mengatakannya. Waktu yang lama membuat kalian menahan rasa. Kalian berdua berjalan di arah yang sama, tujuan yang sama meskipun jalan yang kalian tempuh berbeda”
Tangan Victor kembali menepuk bahu kananku sambil berbisik dan melirik Elaine yang masih pinsan diatas ranjangnya.
“aku siap menunggu bom yang siap meledak. Detonatornya hanya menunggu waktu. Bom itu sudah lama kalian pendam” lalu dia berjalan meninggalkan kami. Kini hanya kami berdua. Aku bebas mengamati wajahnya, menciumi tangannya, membelai rambutnya. Sesungguhnya aku tahu jelas apa yang dimaksud Victor. Hanya saja aku takut bila salah mengartikannya padangan pertama Elaine padaku beberapa menit yang lalu. Meskipun gambaran yang Yusuf berikan tentang ibunya begitu jelas dan masih terekam di memori otakku. Cerita anak itu begitu menyempurnakan pemikiranku selama ini. Hanya saja aku masih butuh pengakuan seorang Elaine dengan jelas, tanpa memberiku pengertian ganda akan sesbuah pemikiran yang menguras emosi diantara kami. Refleksi yang sesungguhnya tentang cinta kami yang masih tersimpan. Yang kurasakan tentang reflesksi cintaku padanya semakin begitu jelas dan aku mulai membunuh rasa cintaku yang mulai tumbuh sebesar biji jagung pada Eva sejak beberapa tahun yang lalu. Cinta ini semakin menyamarkan wajah Eva yang yang begitu cantik, perasaan ini terkesan palsu saat aku mengatakan cinta pada Eva. Semuanya membunuh rasa cintaku pada Eva, sekali lagi semua itu berhasil membunuh dengan sukses. Berjalannya detik waktu hingga satu jam berlalu, Elaine mulai membuka matanya. Aku tersenyum menyapa meskipun tidak ada balasan dari mulutnya. Sebenarnya secara fisik dia mulai terlihat membaik hanya saja mungkin pikirannya masih berat.
“relaks…cobalah. Kau boleh pulang sore ini”
“benarkah?”
“aku akan mengantarmu!”
Dia terdiam seperti kebingungan, aku menjadi khawatir
“kemana? Yusuf dimana?”
“Yusuf bersama Victor makan siang, tunggu! Apa maksudmu kemana?”
Kembali lagi Elaine membisu , membuatku semakin penasaran
“apa maksudmu kemana? Apa Elaine!” aku mengulangnya, barangkali dia tidak mendengar pertanyaanku.
“mayong, apa kau sudah menikah?”
“tidak Elaine…belum. Kau pasti tahu alasannya. Tapi tolong jangan bermain teka teki. Apa maksudmu dimana?”
“aku sudah bercerai dengan Zarkasih. Aku tidak punya rumah di Sydney dan semua surat suratku dan passport sepertinya ikut terbakar dimobilnya. Karena malam itu kami berjanji bertemu untuk makan malam dan dia ingin menyerahkan semua surat penting milikku dan beberapa surat lainnya untukku dan Yusuf. Dia berencana untuk membelikan kami rumah! Tepi semuanya…”
“astaga…ya Tuhan Elaine” mendadak aku berani memeluknya erat, begitu juga dengannya yang seperti merasakan kenyamanan tanpa menolak.
“tinggalah bersamaku! Sesuka hatimu. Dengar! Aku tidak akan memberatkanmu sedikitpun, Yusuf aman bersamaku. Aku tidak akan melarang kalian tentang apapun yang ingin kamu lakukan. Jadi..percayalah padaku. Izinkan aku menebus dosaku dimasa lalu…”
Elaine terdiam di saat aku berharap agar dia bisa menerima tawaranku. sepertinya dia merasa enggan dan sedikit canggung. Aku bersusah payah untuk membujuk dan merayunya. Syarat apapun yang dia berikan pasti akan aku terima.
“tapi mayong…apa kata orang nanti”
“oh my God, Elaine kamu tinggal di Sydney sayang, budaya timur tidak akan mengolok olok kita”
“apa tidak akan menjadi masalah bagimu”
“tentu saja tidak!” dengan suara tegas
“emm maksudku, kau memungut seorang janda dengan seorang anak, dan kau single. Itu maksudku!”
“demi tuhan Elaine aku tidak akan berbuat hal buruk pada kalian. Jadi aku mohon katakan kau bersedia. Dan aku harap kau…emmm jangan berfikir yang tidak tidak, kau mengenalku, bukan!”
“yah…maafkan aku!”
“aku memaafkanmu sebagai ucapan bahwa kau menerima saranku. Baiklah semua sudah kita tangani. Jadi biarkan giliranku untuk menyelesaikannya”
Aku meninggalkan Elaine sebentar, ketika Yusuf datang menenmuinya bersama dua orang suster. Aku merasa bahagia, dibalik kesedihannya. Aku berharap semua yang dikatakan Victor adalah benar. Semoga ada keajaiban dari bantuan tangan Tuhan. Aku cukup untuk tidak sabar melewatkan hari hari berikutnya. Rasanya sungguh luar biasa. Ketika aku mengurus semua administrasi, pihak cashier sudah terlebih dahulu membereskannya dan memberiku bukti pembayaran berupa kwitansi. Mereka tersenyum, sedangkan aku kebingungan, apa maksudnya. Dan ketika aku menanyakan
“apa anda salah memproses data?”
“tidak dokter, sama sekali tidak. Kamar 091 atas nama Mrs Elaine Bhaskoro sudah masuk tagihan yang terbayar oleh pihak kedutaan KBRI, semuanya sudah beres. Begitu juga dengan biaya perawatan atas nama Mr Zarkasih Bhaskoro”
“emmmm!”
“oh ya Dok, mereka menitipkan ini untuk anda!” perawat itu memberiku sebuah amplop coklat bertuliskan korps KBRI yang tercantum dengan tulisan bermodel times new roman dengan huruf capital yang di bold. Baguslah kataku dalam hati
“apa ini?”
“entahlah Dok, mereka tidak menjelaskannya. Oh ya ini satu lagi!” dia kembali memberiku sebuah amplop yang berwarna lain padaku. Warna coklat tua yang tebal itu untuk disampaikan pada Elaine. Kurasa isinya adalah beberapa lembang uang, yah kurasa begitu dari bentuknya yang tebal sekali. Satu amplop berwarna putih yang terlampir korps surat begitu tipis. Kusobek begitu saja pada ujungnya, karena memang surat itu ditujukan untukku. Intinya mengesalkan. Pihak KBRI mengucapkan terimakasih atas bantuanku menyelamatkan keluarga Zarkasih duta besar mereka, kalimat selanjutnya, mereka mengatakan akan bekerja sama untuk membantu mantan istri Zarkasih bila mendapatkan kesulitan. Merakapun mengatakan telah mentransfer sejumlah uang ratusan jutapada rekening pribadi milik Elaine sebagai tanda bela sungkawa dari Negara. Sedangkan kalimat terakhir ditegasakan kembali untuk Elaine agar tidak kembali menempati rumah dinas. Karena rumah tersebut sudah ditempati oleh pejabat kedutaan yang baru. Terlebih karena Elaine adalah janda mendiang Zarkasih yang sudah resmi bercerai dua minggu yang lalu.
“oke thanks!” aku meninggalkan mereka begitu saja
Aku tidak perlu mengkhawatirkan sedikitpun tentang isi surat ini. Aku rasa Elaine sudah cukup mengerti dan tidak perlu ikut pusing memikirkan semua isinya.aku yakin dia paham dengan status barunya dan konsekuensinya. Aku juga tidak ingin dia berfikir bahwa perceraiannya dengan Zarkasih bisa membuat dunianya memnjadi sempit. Oh tidak, itu tidak akan pernah terjadi selama aku masih hidup. Sore itu aku memboyong mereka ke rumah. Karena aku tinggal sendiri, maka aku perlu waktu untuk membereskan kamar untuk mereka. Perlu menyiapkan sesuatu agar terlihat lebih nyaman. Karena aku ingin sekali membuat mereka nyaman agar lebih betah lama tinggal menemaniku. Tentunya dengan harapan suatu saat agar mereka bisa tinggal selamanya denganku sebagai keluarga yang semestinya. Harapan yang sesungguhnya agar Elaine yang masih mencintaiku sudi menerima ajakanku untuk menikah. Dan Yusufpun sudi mencintaiku sebagai ayahnya. Aku sudah siap menjadi ayah dan suami yang penuh pengabdian dan ketulusan cinta.
“mommy…”
“ya sayang!”
“kemarilah, aku tunjukkan kamarku selama aku tidur disini, coba lihatlah disekitar kita… semua berwarna seperti warna favoritmu!”
“oh maaf… aku mengganggu kalian. Kamarmu sudah siap Elaine!” aku datang tanpa permisi ketika mereka sedang asyik mengobrol dengan bahasan yang tidar terlalu jelas menurutku.
“emmm, kau masih mendesign setiap ruangan seperti yang kita rencanakan lay outnya dulu. Lay out draft yang pernah aku minta…dulu” kalimatnya terdengar semakin memelan
“iya kau benar, terimaksih kau mengingatnya”
“hmm,kau benar. Terimakasih kau masih mengingatnya juga!”
Suara ini terdengar seperti menyiksanya, matanya mulai berair meskipun tidak menetes. Dia berjalan membelakangiku, mencoba mengalihkan pembicaraan pada Yusuf yang sedang asyik meloncat diatas ranjang.
“oh sweatheart…turunlah sayang, kau tidak sopan. Berhentilah seperti anak kecil. Ayolah sayang!” bujuknya
“biarkan saja dia juga masih kecil” bantahku
“tidak!”
“iya mom! Nada Yusuf terdengar patuh penuh penyesalan. Menuruti apa katanya
Ahh aku tidak tega melihat Yusuf dia memarahi anaknya. Apa boleh buat aku tidak punya andil dalam masalah ini. Elaine terlihat kaku sekali. Padahal baru hari ini aku melihat Yusuf ceria. Senang sekali melihatnya tertawa lepas, dan baru juga aku sadari bahwa hidiupku terasa lebih berrati dari sebelumnya. Anak itu terus berlari dengan riangnya, mereka saling mengejar hingga ke ruangan lain dan bersembunyi satu sama lain. Bahkan ketika aku sedang berduaan dengan ibunya, dia suka meledek dan mengejutkan kami berdua dengan tingkahnya yang jail. Terutama saat kami terlihat serius.
“rumahmu bagus, terlalu besar untuk ditinggali seorang diri! Harusnya kau sudah menikah”
Tentu saja benar, aku hanya tersenyum penuh harapan agar dia mengerti arti senyumku, sayang sekali dia buru buru membuang muka.
“mari, kutunjukkan kamarmu”
Kami berjalan beriringan dan sedikit membuat aku gugup, beginikah rasanya bila orang dilanda asmara yang saling mencintai dan sudah terlalu lama tidak bertemu. Mulut terkunci,kaki melangkah pelan menapaki satu persatu kotak lantai. Membisu dan berjalan sepelan mungkin, tidak ada obrolan yang tidak penting untuk kami bicarakan walaupun hanya sekedar basa basi. Hanya untuk menghidupkan suasana malam ini dia memintaku untuk mengantarnya membeli beberapa potong baju dengan underware. Maklum saja, semua baju milik mereka ikut terbakar. Yah tentu saja aku senang dengan permintaanya, aku juga punya kesempatan untuk mengajak mereka makan malam.
“oke” aku tinggalkan dia di dalam kamar yang aku siapkan. Aku terpaksa memberinya satu stel baju milik mendiang ibu-ku yang sudah usang dan sangat kuno. Maklum saja beda usia mereka terpaut jauh, apalagi ibuku bukanlah orang yang semodis Elaine.
“maaf yang aku punya hanya ini, semoga cukup dibadanmu!” konyol kedengarannya, tapi itu sementara sampai dia mendapati potongan baju baru yang sesuai selera.
“wah…terimakasih, eemm awalnya aku takut kalau harus memakai kemejamu!” matanya mengedip sedikit menggoda, yah itu bagiku. Tentu saja artinya akan berbeda bila dia yang menafsirkan. Kami tertawa renyah. Cukup lama kami tidak saling tertawa seperti barusan.
“bagaimana kalau kita keluar besok pagi saja? Aku takut kondisimu. Kumohon jangan salah mengerti”
“baiklah,…aku baru saja hendak akan mengatakannya. Tapi sebagai gantinya biarkan aku memasak untukmu”
“ehh..tidak, kita pesan saja di restaurant, makan malam dirumah. Tinggal kita hubungi mereka dan kita menunggu dengan santai. Bukan hal susah yang harus kita kerjakan”
“jangan khawatir, aku bisa memasak”
“aku tahu itu Elaine, sudahlah…rapikan saja dandananmu. Aku dan Yusuf akan menunggu dibawah!”
“oke, setengah jam lagi aku akan turun!”
Aku berlalu begitu saja setelah dia menutup pintu kamarnya. Yusuf sudah sibuk merangkai dan mengotak atik pesawatnya tentu saja dengan menonton transformer the dark of the moon. Aku ingin sekali membantunya tapi dia melarangku. Dia hanya menyuruhku untuk beristirahat.
“yah, baiklah!”
Senyumnya penuh kemenangan, aku hanya nyengir sambil membayangkan betapa bahagianya bila mereka mau mengdopsiku sebagai kepala rumah tangga yang sebenarnya. Pasti aku tidak akan menolak..tidak..tidak akan pernah. Menggeleng sepelan mungkin agar aku tidak menarik perhatian anak ini. Sekarang parasaan aku mulai berbeda, seperti ada aliran listrik yang mulai menyengat tubuhku saat Elaine datang menemui kami. Kini dia berada tepat didepan mataku, berdiri tenang. Aku terkesan dengan penampilannya, awalnya aku berfikir kalau baju kuno milik ibuku kurang pantas saat membalut kulitnya, kenyataanya baju itu cukup indah bahkan jauh lebih indah bila dia yang mengenakannya. Baju milik ibuku bisa dikatakan modelnya sudah tidak lagi exist dan trends. Tapi bila Elaine yang memakainya, terlihat seperti model yang sedang memamerkan busana rancangan designer terbaru. Rambutnya yang panjang kini tergerai, aroma sandalwood yang menenmpel di kulitnya kini tercium oleh hidungku. Mengingatkan aku pada beberapa tahu yang lalu ketika kami bertemu untuk yang pertama kalinya.
“kau cantik. Dan..emm baju itu tampak anggun saat menempel di tubuhmu”
Dia yang tadinya berkacak pinggang kini tampak tersipu malu, dan mencoba untuk menenangkan diri meskipun gagal total. Pipinya memerah
“ah sudahlah. Kau menggodaku!”
“tidak, aku tidak melakukannya”
Elaine duduk di sebelahku, ketika aku bergeser. Aku tahu dia gugup. Akupun mengalami hal yang serupa. Kontan, aku memberinya romote tv , jarinya memindah chanel tv yang tayangannya tidak terlalu menarik bagiku, mungkin dia merasakan yang sama. Maklum saja tayangan transformer sudah selesai. Jadi ada film lain yang sama sekali tidak menarik perhatian kami bertiga.
“kau suka CW TV?”
“yah aku menunggu vampire diaries season yang ke tiga”
“lima menit lagi dia diputar?”
“kau menyukainya? Kau hafal sekali jadwal tayangannya”
“nadamu penuh selidik, yah Eva. Bukan aku dan aku lebih suka HEROES!” sedikit nada aku tekankan pada kata judulnya.
“EVA! pacarmu?”
“antara iya dan tidak”
“oohh..”
“kenapa kalian putus?”
“karena eva tahu aku mencintai oranglain. Mencintaimu selamanya” kutatap matanya, dan dia menunduk
“oohh Mayong, kenapa kau menyiksa dirimu sendiri”
“tidak! Justru aku menghibur diri hanya dengan merangkai bayanganmu!...kau mau kemana?”
Aku penasaran. Aku kecawa dia menghindariku. Dia hanya berjalan sambil lalu seolah olah tidak ada percakapan yang terjadi barusan. Terus berjalan tanpa menoleh ke arahku. Yah karena perbuatannya itulah memancingku untuk mengejarnya hingga ke dapur. Kau mau kemana pasti aku mengejarmu? Bisikku dalam hati sambil menggertakkan gigi gerahamku. Saat mendekat, aku melihat tangannya begitu cekatan mengatur beberapa tumpukan piring, gelas dan cutlerys. Beberapa soup bowl dan piring maincourse. Kini dia duduk tenang di meja makan sambil melipat lipat napkin, sesekali matanya melirik kearahku, langsung menunduk bila aku menangkap basah arah pandangannya. Biasanya aku hanya melipat napkin itu menjadi empat bagian saja tanpa bentuk macam macam. Tapi, napkin itu menjadi cantik ditangannya. Bukan hanya sepotong kain putih yang dipakai untuk membersihkan mulut yang terkena noda masakan saat kita makan. Tiga napkin itu sudah berubah menjadi lipatan bunga teratai yang cantik di atas piring. Aku hanya melihat tanpa bisa membantu, tidak ada yang bisa aku Bantu, peranku hanya menjadi penonton saja. Yusuf berlari memanggilku, nafasnya tersengal, alisku langsung naik saat melihatnya menggebu gebu. Serasa dia seperti baru saja dikejar setan
“ada apa buddy?”
“dude….sepertinya ada koki di depan”
“oh, pasti ada makanan buat kita, come on dude Bantu aku!” tangannya kutarik begitu saja, dia patuh tanpa ada penolakan. Kami meninggalkan Elaine di meja makan. Bergegas menemui pelayan restaurant tersebut. Tentunya setelah akupastikan bahwa kantong celanaku berisikan dompet dengan uang yang cukup. Tanganku meraba raba saku celana belakang, dan akhirnya aku lega. Pelayan itu datang dengan mobil khusus yang membawa box dibelakangnya. Penuh dengan pesanan. Tadi aku memesan lima menu dari salad, maincourse dan dessert. Elaine menyusul dan membantu kami untuk membawa beberapa bungkusan yang aku berikan. Tentu saja Yusuf bukan main girangnya, saat membaca salah satu menu favoritnya.
“emmm….”
“yah aku order kesukaanmu!” sahutku
“lapar mom…!lapar!sepertinya enak” sambil menelan ludah melihat rupa menu makanan itu.
“sabar” sahut Elaine “Bantu mommy sayang!” Elaine berusaha keras membuat anaknya agar tidak tampak terlihat lapar, sepertinya dia takut kalau aku marah. Sungguh itu bukan masalah buat aku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku tidak mau melewatkan kebahagian sedikitpun bersama mereka. Hingga aku tidak memperdulikan getaran ponselku yang bersembunyi didalam saku celana. Aku tidak ingin tahu siapa yang sedang menghubungiku. Seandainya dia seorang presidentpun aku tidak akan menggubrisnya.
“mom…cepat aku lapar!”
“biar aku Bantu!” sahutku, aku tidak tega melihat Elaine menyiapkan semua ini sendiri
“terimakasih! Banyak sekali yang kau pesan!”
“ah tidak juga, kau masih suka oysterkan?” sedikit penasaran, takut saja kalau dia sudah merubah selera makannya. Sambil mengangguk dia berkata
“tapi ini terlalu banyak, takut tidak habis saja, kan sayang”
“kalau tidak habis kita simpan di lemari es, dan kita tinggal panaskan di microwave besok pagi. Kan masih bisa digunakan untuk sarapan!” dia mengerti dengan penjelasanku.
“dan kare ikan, ini pasti favoritmu”
Aku takut pipiku memerah, astaga dia masih mengingatnya. Membuatku menjadi besar kepala. Senyum saja tidak cukup untuk sebuah bentuk ekspresi, karena malam ini hatiku teramat bahagia.
“spaghetti calamari with radicchio, spesial untuk my cute spider boy!” mataku melirik ke arah Yusuf yang sepertinya sudah menelan ludah. Gayanya menggaruk rambut semakin terlihat kalau air ludahnya sudah mengumpul dirongga mulut, siap menetes bila menu favoritnya tidak langsung segera ditaruh diatas piringnya.
“ohh,..senyummu menggemaskan! Benarkan kalau kau sedang menunggu yang satu ini!”
Yup,benar dia malu. Tangannya sudah siap dengan sendok dan garpu untuk digunakan menyantap habis spaghettinya tanpa menoleh sedikitpun saat aku meletakkan beberapa sendok ke dalam piringnya. Empat menu lainnya adalah selera kami. Oyster and spinach frittata, salad smoked trout and summer vegetable adalah menu favorit Elaine. Sebenarnya tadi aku ingin memesan salmon salad with lime dressing tapi sayangnya menu itu tidak ada dalam menu mereka. Padahal niatku memesan menu itu untuk menghidupkan masa lalu kami.
“wahhh….ini pasti lindt chocolate vaganza, eemmm swiss chocolate. Akan lebih baik bila disajikan di hot station. Benarkan? Dan ini pasti Mohr-im-hemd pudding chocolate terlezat hazelnut Austria ” itulah bentuk penjelasan Elaine kepadaku. Dan aku hanya bisa mengangkat dua jempol jari tangan
“yup…”
Aku tau dia pasti tau, apa jenis menu desset yang ada di depan matanya “fantastis” kata mereka bersamaan. Tertawa bertiga bersama. Makan malam kali ini terasa lebih lezat. Sangat sempurna. Terbayar sudah impianku selama ini. Yah meskipun belum semua nyata. Masih banyak harapan dan kesempatanku untuk mendulang kembali cinta kami turn around kataku dalam hati. Hatiku terasa mengembang terpompa kebahagian, aku semakin sadar Elaine adalah cinta sejatiku. Aku mencintainya sampai kapanpun walaupun tanpa garansi kepastian. Sejak malam ini aku merasa dicukupkan dengan banyak hal yang bersifat kejiwaan secara emosional. Meskipun semuanya berawal dari hal yang sangat sederhana. Aku tahu dengan pasti Elaine memang masih mencintaiku…meskipun dia masih suka malu untuk menunjukkan bentuk perhatiannya padaku. Kini rumahku terasa lebih hidup dengan cahaya yang menyinari jiwaku. Yusuf kuanggap seperti anakku sendiri meskipun belum ada ikatan resmi. Yang kuharapkan adalah Tuhan mengabulkan permintaanku. Aku sering berfikir sejak kejadian malam itu semuanya serasa berbeda tentang semua yang jauh didekatkan dan yang dekat dijauhkan. Hubunganku dengan eva semakin jauh, sangat jauh. Awalnya aku senang, karena pada akhirnya Eva tahu segalanya. Aku sudah membuatnya menangis, aku sangat menyesali yang satu itu. Yang aku tahu, hari ini aku akan menemuinya setelah beberapa hari kami tidak berkomunikasi. Tapi entahlah, seperti ada beban berat yang mengganjalku ketika aku ingin menemuinya, seperti ada batu besar yang menghambat perjalananku. Rasanya sungguh berbeda bila dibandingkan saat aku akan menemui Elaine. Apapun yang aku rasakan aku tetap harus menenmui Eva, Aku ingin memebenahi komunikasi kami agar tidak terputus, walaupun aku tidak berusaha untuk menjelaskan secara jelas. Akupun tidak ada niatan untuk kembali menerimanya dalam pelukanku seperti dulu. Yang aku rasakan hanyalah ketidak nyamanan hubungan kerja kami. aku bertemu dengan sisten Eva di rumah sakit persis disebuah lorong penghubung antara ruang bedah dengan bank darah. Wanita itu menyapaku dengan ramah, aku lupa siapa namanya.
“siang, dokter” kepalanya sedikit mengangguk
“yah, apa dokter eva ada di ruangannya!”
“ada dok!” sahutnya sambil mengangguk. Aku hanya memepercepat langkah menuju ruangan Eva. Kali ini bukan bunga mawar yang aku bawa seperti biasanya. Hanya parsel buah, itupun Elaine yanga merangkainya. Sebelum aku mengetuk pintu, eva sudah membukanya, rasa terkejut akan kehadiaranku jelas terlihat dimatanya.
“mayong”
“eh…hai,kau sibuk” tanyaku sedikit bingung
“tidak, tentu saja tidak. Justru aku akan pergi keruanganmu”
“baiklah. Ini untukmu?” kusodorkan parsel buah yang ada ditanganku. Eva terlihat kecewa karena bukan mawar yang aku bawa. Tapi apa boleh buat. Stock mawarku hanya untuk Elaine bukan dia lagi. Begitu jelas kalau mukanya terlihat masam.
“thanks,ohh…apa yang ingin kau katakan? Kau sepertinya menambah berat badanmu! Matanya sibuk mengawasi bentuk tubuhku yang mulai terlihat gemuk, maklum saja sejak ada Elaine dirumah, jadwal makanku tidak pernah telat, bahkan setiap menu yang dia sajikan selalu menggugah selera makanku.
“oh,benarkah..?aku pikir tidak, oh…aku hanya ingin menenmuimu” aku sengaja berbohong tentang semuanya aku tidak sampai hati mengatakannya. ”emmm apa kau keberatan aku menemuimu. Baiklah aku akan pergi!” aku memutar badanku, tapi sebelum aku benar benar berputar tangannya menarik bahuku dengan keras. Hampir saja parsel itu jatuh mengenai kakinya.
“ups” kami bersamaan saat mengatakannya. Tanpa sengaja tanganku menyentuh tangannya. sedetik kemudian, dia mempersilahkan aku masuk dan duduk didepan kursi pasien yang ada didepan meja kerjanya. Tangannya masih mengawasi tubuhku, bila saja aku tiba tiba ingin melarikan diri. Padahal aku akan sangat senang sekali bila dia benar benar menyuruhku pergi. Aku tidak perlu berbasa basi yang tidak penting dengannya.
“by the way mayong, apa nanti sore kau bisa mengantarku pulang” mulutnya kembali terbuka setelah beberapa menit kami terdiam dan saling pandang.
“yah! Kenapa tidak”jawabku, hanya mengantar pulang tentu bukanlah masalah buatku dan Elaine.
“Bagaimana kalau kita lanjut makan malam” lanjutnya kegirangan dan mendadak itu membuatku mendapat serangan jantung. Mataku melotot. Dan sepertinya hati kecilku berontak.
“bagaimana kalau lunch” sahutku
“oke” akhirnya dia menerima tawaranku tanpa protes seperti biasa yang dia lakukan.
“kita berangkat sekarang” sahutku
“baiklah, sepertinya kau sangat merindukanku”
Tangannya begitu cepat menyambar candy-bag miliknya. Yah seketika itu suaranya terdengar gembira. Suasana hatinya sangat cerah, berbeda dengan beberapa detik yang lalu. Kami pergi kesebuah restaurant milik Harvest. Aku hanya memesan secangkir kopi dan eva memesan cheese tart cake dengan aroma rum yang kuat ditambah dengan segelas bloody marry. Kami mengobrol layaknya kekasih. Keakrabannya begitu menyapaku. Bisa dikatakan aku bermandikan cintanya. Eva memang cantik seperti model, dia salah satu dokter yang sangat fashionable. Apa yang menjadi trend, itulah stylenya. Aku bersyukur tidak ada topik yang menjurus ke Elaine. Semuanya SAVE!. Sengaja aku membiarkan Eva menggelayuti pundakku, meskipun aku merasa risih. Hanya bisa bertahan sampai kapan waktu ini akan berakhir. Aku ingin sekali segera berganti peran. Dua jam bersamanya membuatku kehilangan oksigen. Sudah aku katakan kalau aku mempunyai banyak pasien dengan kondisi serius. Dia tidak menggubrisku, tetap saja tidak mau memperdulikan situasi pasien. Gayanya cuek seperti orang tuli, membuatku sebal dan kesal. Saat ponselku bergetar aku jadi mempunyai kesempatan untuk menghindar darinya. Kurasa Elaine yang menghubungiku.
“aku mau ke toilet”
“jangan terlalu lama” teriaknya sedikit mengawasi gerakanku. Tapi kurasa dia tidak tahu kalau aku menghindarinya hanya untuk menerima telephone
“halo…Mayoong…haloo!” teriaknya
“yah,kenapa sayang?” sahutku penasaran. Karena ini untuk pertama kalinya Elaine menghubungiku di ponsel.
“Mayong, aku dan Yusuf mau pergi ke kebun binatang. Aku hanya minta izin untuk pergi,…emmm maksudku,aku membawa kunci rumahmu!aku hanya takut kalau kau tiba tiba saja pulang” suaranya terdengar gugup
“oh yah silahkan, bawa saja audy-ku” aku ingin dia tenang dan menganggap semua yang ada dirumahku itu milik mereka berdua juga.
“tidak, tidak terimakasih, aku dan Yusuf naik taxi saja, jam berapa kau pulang?”
“belum tahu,tenang saja…bersenang senanglah. Santai saja”
“terimakasih, tolong kabari aku bila kau akan pulang!”
“santai saja, sampaikan cintaku pada Yusuf”
Aku dengar Yusuf berteriak memanggilku, oh anakku, rasanya suara itu membuatku ingin berlari secepat mungkin menemui mereka. Aku bergegeas ingin mengajak Eva pulang. Aku kembali menemuinya
“siapa?”tanyanya dengan nada penasaran
“victor!”ayo kita kembali, sudah aku bilangkan tadi! Ada pasien serius” aku menggerutu berpura pura dengan gaya yang serius
“astaga, maafkan aku. Aku hanya belum puas berdua bersamamu” ahhh suaranya terdengar menggoda dan merayu penuh tipuan maut. Aku mengirim pesan kepada Victor agar dia mau membantuku untuk membohongi Eva, aku juga ingin jujur kalu namanya baru saja aku pinjam sebagai alat membohongi Eva.
KATAKAN PADA EVA KALAU KAU BARU MENGHUBUNGIKU DUA MENIT YANG LALU. BILA EVA MENANYAKANNYA PADAMU. TX!
HAHAHHAHA….KAU MEMBAGI CINTA!!! WATCH OUT DUDE!
Aku tersenyum tipis saat membacanya mencoba mendeskripsikan mukanya dalam bayangan. Beruntung karena Eva tidak mempehatikan wajahku. Sesampainya di rumah sakit. Kami berjalan terpisah menuju ruangan berbeda, Eva menuju ke bangsal anak. Dan aku menuju ke bangsal penyakit dalam. Aku ingin menemui pasien spesialku dia penuh inspiratif. Seorang pasien yang masih sangat belia. Berumur tujuh belas tahun yang mengidap kanker ganas. Dia masih keturunan suku aborigin, wajahnya seperti orang pribumi Indonesia . Semangatnya untuk hidup masih menggelora sungguh luar biasa. Kelebihannya, dia pandai meramal orang. Kepribadianku tak luput juga dari ramalannya. Semua yang pernah dia katakan padaku dulu, kini telah aku alami sebagian. Aku sangat menyayanginya, aku bangga dengan semangatnya. Karena selalu apa yang dia katakan membuatku merasa malu bila aku tidak memliki semangat keras seperti yang dia miliki. Jujur saja kami seperti merasa punya ikatan emosional yang begitu kuat. Pola pikirnya selalu menarik perhatianku. Dia penggemar novel trilogy the lord of the rings, sosok Arwen adalah idolanya. Peri cantik yang mengorbankan diri untuk merubah wujud demi kekasih hatinya. Bahkan nyawapun rela dilepaskan.
Ponselku kembali bergetar,
“eva baru saja dari ruanganku, dan dia menanyakan seperti yang kau khawatirkan…emmm dan sekarang dia menanyakan Elaine?”
“katakan saja Elaine tinggal di apartemen milik suaminya!”
“fine, tapi bagaimana kalau dia mencari tahu. Yah…tentu kau lebih tahu bagaimana wujudnya bila dia sedang dikejar rasa penasaran”
“itu urusan nanti. Aku akan menyelesaikannya!”
“baiklah, sepertinya tiga menit dari sekarang, asistennya akan menemuimu. Aku tidak mendengar apa yang Eva katakan padanya tadi. Agaknya dia mulai stress!”
“sudahlah, aku lagi bersama pasien. Nanti aku keruanganmu”
“putuskan saja!aku bersedia merawat Eva” yah nadanya terdengar spontan bernada mengejek sambil tertawa dan aku masih ingat kalau dulu dia pernah mengharapkan cintanya.
“kau gila”
“justru kalian yang membuatku gila!”
Aku tertawa sedikit keras saat Victor mencoba mencelaku. Dan aku mulai kembali merindukan Elaine, aku seperti mencium aroma tubuhnya. Cukup untuk membuatku gila hingga darahku memadat. Dan bila aku tidak segera menemuinya. Bahasa yang bisa kugunakan untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini hanyalah LOST THE FOUND.aku tidak lagi sanggup untuk berkonsentrasi, aku malah takut bila kupaksakan untuk bekerja, maka justru aku akan lebih banyak membunuh pasien daripada menyembuhkan penyakit mereka. Tidak ada sesuatu hal yang membuatku terpancing selain memikirkan mereka berdua. Yusuf kini luar biasa cerianya, tidak lagi murung seperti awal aku menenmukannya. Elaine…yah dia masih tampak luar biasa dimataku masih seperti dulu. Aku sibuk memebayangkan mereka. Aku kembali sadar dengan ruangan yang masih menuntutku untuk bertugas meskipun aku sibuk menghitung detik waktu yang sepertinya terlihat lama menggerakkan jarum jam, suasana ruangan masih nampak hening. Aku merasa bosan dengan hanya membuka jurnal, membaca agenda terlebih untuk membaca ulang diktat lamaku. Sepintas lalu aku melihat bayangan Eva muncul dari arah luar ruangan, beruntungnya aku karena dia mengurungkan niatnya untuk menemuiku. Aku mulai risih dengan sesuatu yang berhubungan dengan Eva, yah aku sangat muak. Aku ingin sekali melepaskan peranku secara resmi, mengundurkan diri dari cintanya. Yang ingin aku lakukan saat ini, aku ingin menemui mereka, dan aku menghubungi Elaine, memastikan kalau mereka masih ditempat yang sama. Karena dengan memikirkan mereka aku semakin merasakan pengalaman hidup yang luar biasa.
“El…kalian dimana? Aku ingin menjemput kalian!”
“hei..oh, kami masih didalam Melbourne zoo, tapi sekarang Yusuf sudah berdiri didepan pintu gerbang arah keluar! Bagaimana?”
“oh baiklah aku akan segera menyusul!
“baik, kami tunggu ya didepan pintu keluar!”
“oh tidak,..tidak aku tidak suka kalian menunggu disana! Bagaimana kalau kalian menungguku di salah satu reastaurant. Tepatnya di Parkville hotel, kau tahu?”
“yah..yah baiklah”
Satu jam kemudian aku menenmui mereka di Parkville , senang sekali melihat mereka. Aku menghabiskan waktu dua jam bersama mereka. Rasanya berbeda, aku ingin sekali waktu berjalan lebih lambat, sayangnya Tuhan tidak mengabulkan permintaanku. yah walaupun kami hanya menikmati satu loyang pizza penuh dengan seefood dan keju parmesan. Tapi kini aku tidak lagi seberani semalam untuk menatap mata Elaine. Setiap aku memberanikan diri menatap mata ataupun wajahnya, jantungku serasa mau melompat keluar dan terlepas. Busur panah serasa tertancap dalm bila aku masih bersih keras mengulang. Yusuflah perantara kami, di saat suasana hati kami tidak lagi dalam kondisi normal. Ketika rasa malu kembali sering menghampiri kami. Tumbuh subur disaat kami berdua berbincang. Karena kami kehabisan topic, akupun mengajak mereka untuk pulang dan beristirahat. Dalam perjalanan pulang Yusuf tertidur dipangkuan Elaine, pulas sekali. Sepertinya mereka kelelahan. Elaine mencoba sekuat tenaga agar kelopak matanya tidak terpejam, meskipun matanya mulai terlihat mengantuk. Kami mencoba mengobrol hal yang sederhana. Tapi ketika aku mulai merasa asyik…
“yah,….kau tahu kan si Erna tidak pernah melupakan hello kitty-nya kemana saja dia pergi, bahkan yang aku dengar sekarang dia menjadi seorang ahli metafisika. Wah ironis kalau dia masih membawa hello kittynya kemana mana,hahahhahaha”
Dan ketika aku menoleh ternyata aku sedang berbicara pada diriku sendiri, karena Elaine juga mulai tertidur. Ya ampun! aku merentangkan tangan kananku untuk menyangga kepalanya yang sering terjatuh dan nyaris terbentur kaca, ahhh sedikit susah memang bila menyetir menggunakan tangan kanan, aku harus berkonsentrasi penuh. Hingga setengah jam baru tangaku terasa kesemutan. lenganku menjadi sedikit kaku. Tapi tidak masalah aku sudah terbiasa dan mulai membiasakan diri menyetir dengan satu tangan, yakni sebelah kiri. Dan sepuluh menit lagi aku akan segera sampai ke rumah. Elaine terbangun dengan sedikit malu.
“sorry El, mungkin kau tidak nyaman!” aku memindahkan tanganku, aku takut dia salah megerti. Ketika bangun matanya langsung menatap kebelakang , seperti terkejut
“ahh, seharusnya aku yang malu, sudah demikian!”
Yah syukurlah dia mengerti dan sadar. Tapi aku senang akhirnya aku punya kesempatan untuk lebih jauh. Semoga ini semua awal yang baik.
Sesampainya di halaman depan rumah, aku mendahului turun dan membukakan mobil untuk mereka, Yusuf belum juga bangun dari tidurnya, rasa kenyang dan lelah membiusnya untuk tidur lebih lama tanpa memperhatikan sekitar.
“berikan dia padaku, dan ambil kunci rumahnya!” aku mengulurkan tangan agar dia tidak kepayahan
“dia berat”
“aku sudah pernah menggendongnya, dan untung tanganku tidak pernah patah selama aku menggendongnya, kau percaya?”
“emmm…”
Kami berjalan hingga memasuki teras rumah, Elaine lama sekali membuka kunci rumah. Tentu saja dia belum hafal yang mana kunci rumah
“coba yang besar, bersimbol segitiga”
“oohh..yah kau benar!”
Dia mendahuluiku masuk tapi dia menahan pintu agar tidak tertutup angin.
“awas..emmm biarkan aku yang memasukkan mobilmu!” katanya. Dan aku hanya menggeleng, aku tau dia letih. Jadi aku melarangnya. “baiklah, kau cukup memanjakan kami!” dan kami hanya saling tersenyum.
Aku menyapu ruangan sekitar rumahku dengan satu pandangan yang sepertinya bukan kebiasaanku, menyalakan lampu kamar bila aku sedang tidak ada diruangan tersebut. Sepintas kecurigaanku hilang setelah aku menyadari bahwa sekarang aku tidak tinggal sendiri.
“untuk malam ini biarkan anakku tidur dikamarku ya? Aku merindukan dengkurannya!” sahut Elaine, baiklah aku menyetujuinya saja, meskipun sedikit kecewa. Aku meninggalkan ruanganku yang masih belum aku jumpai dalamnya. Aku naik ke kamar Elaine, dan Elaine menghamburkan diri ke dapur, mungkin dia ingin minum sesuatu. Aku tenang melihat Yusuf yang masih juga nyeyak. Aku merasa emotionalnya sudah mulai stabil. Tubuhnya kubaringkan dengan nyaman, kulepas semua atribut yang dia kenakan, hanya saja aku tidak bisa mengganti baju yang dia pakai dengan piyama barunya. Senang ternyata bila orang yang aku sayangi tampak terlihat nyaman secara bathin, itu sungguh membuatku lega tanpa keraguan. Ketika Elaine masuk kekamarku, dia terkejut melihatku, hampir segelas susu milik Yusuf terjatuh membasahi karpet.
“uuupss… aku pikir kau sudah turun, kulihat kamarmu sudah menyala!”
“kupikir kau yang menyalakan lampu kamarmu!”
“tidak, aku tidak masuk sejak kemarin, maaf aku tidak membersihkan kamarmu! besok pasti kubersihkan” nadanya terdengar ragu ,mungkin dia pikir aku marah karena itu
“tidak aku tidak marah soal itu sama sekali tidak, aku juga tidak suka kau membersihkan rumahku hingga punggungmu patah, sorry jangan terseinggung aku hanya tidak ingin kau letih. Aku biasa memanggil seseorang untuk membersihkan rumahku seminggu dua kali”
“ooohhh….tapi aku mendengar suara instrument jadi aku pikir kau tadi,…!” aku terkejut mendengarnya. Aku turun meninggalkan mereka begitu saja pergi kekamarku. Rasa penasaran membuatku untuk melihat langsung kondisi sesungguhnya. Elaine mengikutiku dengan cepat hingga tak sadar kami sudah berada tepat didepan kamar utama. Astaga bukan main kami berdua terkejutnya, mulut kami menganga begitu melihat pemandangan yang tidak pernah terlintas dalam otakku. Bahkan tidak dalam kondisi apapun. Aku juga tidak habis pikir kalau dia sudah senekat itu melakukan kegilaan. Elaine sembunyi di balik punggungku dengan tangan kanan yang begitu reflek menutup mulutnya yang seketika itu terkejut. “astaga!” kami bertiga berteriak hampir bersamaan.
“maaf, aku akan memberikan waktu agar kalian bisa berbicara secara pribadi” Elaine meninggalkan kami. Aku takut dia marah, tersinggung atau berfikir macam macam. Aku takut kalau dia menduga bila aku sering melakukannya. Aku marah, marah sekali. Aku lupa bila Eva masih memiliki satu kunci rumahku. Eva sama terkejutnya dengan kami, dia loncat dari ranjang begitu saja setelah menyadari bahwa dirumah ini bukan hanya ada aku dan dirinya, tapi ada Elaine didalam rumah ini. Jantungku nyaris lepas. Melihat eva berpose telanjang tidur diatas ranjang tanpa selimut, tanpa baju satu helai benangpun.
“kau gila” teriakku. Nadaku terdengar keras dan kaku
“kau ini kenapa! Kenapa kau tidak bilang bila perempuan itu ada dirumah! Aku pikir kalian orang timur tidak akan tinggal satu rumah tanpa ikatan perkawinan”
“kau yang gila, apa menurutmu! Untung saja Yusuf tidak melihatmu telanjang. Kau sinting. Bodoh”
“kasar sekali kau padaku, dengar mayong kalau aku tahu wanita itu ada disini tentu saja aku tidak melakukan tindakan seperti ini”
“jadi apa yang membuatmu senekad ini! Jelaskan padaku”
“dengar mayong, kau sudah sangat membuatku kecewa, kau merendahkan martabatku” suranya sekarang terdengar lebih keras, tapi aku tidak mau kalah
“apa kau tidak salah bicara, justru kau yang merendahkan dirimu sendiri, kau tahu itu” aku berbicara padanya tanpa aku melihat wajhnya sedikitpun, sepintas aku hanya melihatnya mengenakan baju dengan begitu cepat dan sangat terburu buru. Aku ingin menyelesaikan semuanya malam ini. Setelah eva mengenakan semua bajunya dengan tidak rapi, dia keluar dari kamarku dan aku mengikutinya begitu saja. Kami berdua kembali terkejut ketika mendapati Elaine duduk di ruang tamu dengan pandangan kosong. Aku tahu apa yang dia pikirkan ini buruk kataku dalam hati. Eva menghampirinya. Menatapnya begitu sinis. Aku tidak suka pemandangan seperti ini. Elaine pura pura tidak melihatnya. Tapi eva lebih tampak marah, aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentangku. Tapi aku tidak perduli soal apa yang dipikirkan eva tentang aku dan Elaine,
“kau, aku ingin berbicara denganmu!” wajahnya yang sinis menatap Elaine begitu tegang, sedang Elaine selalu mencoba untuk terlihat tenang, tapi aku tahu kalau dia sedang tidak dalam kondisi baik secara mental, jarinya sedikit menggetar, itu kebiasaannya sejak lama bila dia sedang dalam kondisi gugup.
“aku!”
“yah kau” sahut eva
“dengar aku tidak ingin kita ribut malam ini, anakku tidur diatas?” sahutku, aku begitu saja mengatakannya tanpa berfikir
“anak? Anak kau bilang!” bentak eva, Elaine hanya mentapa mataku lalu mberpaling memandang eva. Meskipun dia hanya terdiam.
“eva, kumohon kau bisa tenang, dan cepat angkat kaki dari sini!” aku sudah tidak sabar melihatnya angkat kaki dari sini!”
“kau…kau berani mengusirku! Kau lupa siapa aku, bukannya ku ini calon istrimu!”
“tidak, kau yang menggap itu, seingatku kita belum bertunangan”
“ooohhh… karena wanita ini!”
“eva…kumohon kau jangan salah sangka, aku …emmm dia, itu dulu…kami!” suara Elaine terdengar gugup
“diam!” bentaknya begitu keras”
“kau yang diam!” teriakku lebih keras. Eva mendekati aku dan melayangkan tangannya pada wajhku. Sayang itu meleset,karena tangaku menangkisnya dengan cepat.
Kami mencoba saling menenangkan diri, lalu duduk, aku mendekati Elaine. Eva duduk didepan kami. Mungkin pandangan ini begitu membuatnya muak. Tapi justru aku menyukainya. Aku ingin mata eva terbuka bahwa diantara kami berdua sudah tidak ada lagi yang special. Elaine terdiam seribu bahasa. Begitu juga dia. Hingga aku harus mengambil keputusan malam ini juga.
“dengar aku akan mengatakannya sekali saja tanpa aku ulang satu kalimatpun, dan kumohon kalian semua mengerti dan menerima ini semua. Aku mencintai Elaine…eva, aku mencintainya sejak dulu. Kau tahu” suaraku terdengar pelan, aku sengaja mengatur intonasinya agar terdengar tidak begitu sakit unutk eva, dan aku menyisipkan sura bahagia agar Elaine bangga mendengar pengakuanku. Aku mulai merasa kini cintanya mulai datang membelai relung hatiku. Aku terus menerus merasa tinggi seperti menari diangkasa dengannya. Aku sama sekali tidak memperdulikan perasaan Eva, ini semua tidak aku sengaja, rasa ini datang begitu saja tanpa permisi. Lagipula ini semua salah dia juga. Tidak seharusnya dia melakukan hal yang tidak punya nilai estetika. Maklum saja kebudayaan kami berseberangan. Meskipun sesungguhnya eva masih termasuk dalam kategori orang barat yang sangat sopan.
“kami sudah lama saling berusaha mengubur perasaan seperti ini, tapi kami akui ini bukanlah hal yang mudah. Dan tidak semudah kami membalikkan telapak tangan. Sekali lagi aku…”
“diam kau, dan kau Mayong kau chicken!” teriaknya.
Kami berdua terdiam saat eva bangkit dari kursinya dengan penuh amarah dan meninggalkan rumahku begitu saja dengan membanting pintu kaca, untung tidak pecah. Kami masih terdiam ketika suara mesin Eva mulai menderu hingga keempat mobil itu membawa kabur. Aku lega, tapi aku tidak yakin dengan suasan hati Elaine. Tubuhnya masih sedikit mengejang. Aku tidak pernah melihatnya berselisih dengan siapapun. Tapi kali ini, dia berusaha mempertahankan aku. Aku masih terdiam ketika dia bangkit dari kursi, secepatnya aku menarik tangannya hingga dia terjatuh tepat dipangkuanku.
“katakan sekali lagi kalau kau masih mencintaiku, atau langit akan runtuh bila kau bungkam!”
“yah Mayong…”
“katakan…aku siap menunggu”
“kurasa kau sudah mendengarnya” dia mulai mencoba memberontak kecil, untuk melepaskan tanganku.
“Elaine…please! Apa susahnya kalau kau mengatakannya sekali lagi” aku melepaskan begitu saja, dia berjalan mendekati jendela kaca, dan membuka tirai. Entah apa yang dia lihat. Atau dia hanya memastikan bahwa Eva tidak akan kembali lagi mengganggu kami. Aku mendekatinya, dan membalikkan tubuhnya untuk menatap wajahku.
“aku masih mencintaimu, kenapa kau tidak pernah menemuiku”
Secepat kilat aku memeluknya erat, mencium keningnya. Aku tidak menyadari kalau air mataku keluar begitu saja
“kenapa kau lama sekali?” sahutnya kembali. Dan aku masih belum dapat menjawab. Dadaku terasa sesak, lidahku kaku. Sebenarnya banyak hal yang ingin aku utarakan. Tapi sepertinya aku tidak mau terburu buru melepaskan pelukanku. Aku ingin menikmatinya secara utuh setelah sekian lamanya kami terpisah, terlebih itu karena kebodohanku.
“Elaine batapa bahagianya aku mendengar apa yang kau ucapkan, aku seperti mendapat angin segar. Engakau tidak akan pernah tahu bagaimana sakitnya aku menelan ini semua. Maafkan aku sayang. Sungguh aku sangat menyesal. Aku bodoh aku tahu itu. Selama ini aku seperti mati rasa. Aku hidup tanpa cinta yang sesungguhnya”
“aku tahu, aku merasakan hal yang sama! Cinta yang aku miliki bukanlah cinta yang bisa aku terima secara utuh. Semua hanya bersifat kewajiban yugas dari seorang istri kepada suami. Meskipun aku tidak ingin melukai hatinya. Tapi karena cintaku padamu inilah yang tidak sengaja membuat hatinya terluka”
“ssttttt!..” pintaku, aku tidak ingin dia meneruskan kalimat itu. Itu terlalu menyakitkan untuk kami dengar dan kami utarakan. Aku mengerti dan aku paham dengan ini semua.
“boleh aku menciumu?” tanyaku sedikit menuntut. Matanya hanya terpejam, aku mengganggap itu tanda bahwa dia menyetujui permintaanku. Yah tentu, aku melakukannya dengan pelan dan semanis mungkin, aku benar benar melayang merasakan madu yang keluar dari bibirnya. Itu merupakan zat anti virus yang kembali mengaktifkan hasratku sebagai manusia secara utuh.
“emmmm…thanks!” ketika aku mulai meregangkan pelukanku, justru dia yang kembali erat memelukku.
Sejak malam itu, kami berkomitmen untuk kembali merajut cinta kami yang usang, perlahan tapi pasti kami semakin memperbaiki komunikasi kami dahulu yang kurang baik, dan hasilnya mendekati kesempurnaan. Cinta kami mendapat restu dari Yusuf putra semata wayangnya. Dan aku diterima seratus persen menjadi ayahnya. Seminggu kemudian, Elaine dan Yusuf tinggal disalah satu apartement yang aku sewa hanya untuk beberapa bulan sampai kami benar benar resmi menjadi sepasang suami istri yang sah secara agama dan Negara. Dan sejak hari minggu pertama kami berpisah, Elaine mencoba mencari pekerjaan di sebuah museum sebagai administrasi. Gajinya memang tidak terlalu besar, tapi itu cukup untuk membuatnya nyaman tanpa bantuanku. Tentu saja dia tidak pernah mau bila aku terus menerus mengisi nomer rekeningnya dengan sejumlah uang sebelum dia resmi aku nikahi. Awal bulan kami bertiga menyusun atau tepatnya membuat sebuah list tentang beberapa kebutuhan sederhana untuk acara pernikahan kami awal tahun. Maklum kami sama sama tidak lagi memeliki orangtua. Jadi hanya beberapa kerabat dekat yang kami undang dalam acara perkawinan kami. Itupun dengan acara yang sangat sederhana. Awalnya dia tidak mengizinkan aku untuk menikahinya karena dia baru saja menjadi janda, dan sebagai gantinya aku hanya melamarnya sebagai tunanganku di depan Yusuf sebagai saksi kami, sungguh luar biasa kebahagian yang menyelimuti kami dikala itu. Aku melamarnya di salah satu tempat yang sangat istimewa menurut Yusuf, yah dia telah memilih sebuah restaurant PISETTA ITALIAN ICE CREAM dan PANCAKE PARLOR DI ITALIA, kami bertiga berlibur disana untuk beberap hari. Serasa bulan madu, walaupun tidak,ehhehehe. tapi aku terus mendesaknya dengan banyak factor yang terlihat logis dimatanya, akupun merasa tidak nyaman bila aku melihatnya banting tulang terus menerus untuk memenuhi kebutuhan Yusuf yang tidak bisa dikatakan murah. Maklum dia salah satu anak yang kurang bisa diajak hidup sedikit sederhana, setelah sekian lama mendiang ayahnya membiasakan kehidupan yang cukup bisa dikatakan mewah. Tapi aku tidak keberatan, aku merasa bisa dengan itu semua, terlebih sekarang aku punya side job. Dan Elaine juga membuka satu toko buku yang mulai memiliki banyak pengunjung, bisa dikatakan harganya relative murah dibanding toko buku yang ada. Tepat di awal tahun kami menikah disalah satu masjid di Sidney yakni masjid yang paling terkenal sibuk dengan banyak aktifitas para muslimin. MASJID Gallipoli di Auburn. Kami mengundang beberapa relasi mantan suaminya sebagai saksi, tentu saja bebrapa teman dekatku yakni Victor dan Andreas dengan pasangan mereka masing masing. Akupun mendapat ucapan selamat dari Eva lewat pembicaraan kami di ponsel, eva mengirim satu cincin khusus untuk Elaine yang dibelinya di London . Emas putih bermata batu sapphire dengan nama kami ‘ Mayong belongs Elaine forever’ Baru aku ketahui bahwa sejak kejadian itu dia melarikan diri ke London menjadi seorang foto model, tidak lagi dokter. Apapun itu, eva ikut senang dengan pernikahan kami, cinta kami begitu abadi tidak bisa dipisahkan kecuali kematian yang merenggut nyawa kami. Itulah kalimat terakhirnya.
Tags
short story
